facebooklogocolour

\Perjuangan kelas buruh membutuhkan landasan teori revolusioner yang tepat. Dengan melihat berbagai pengalaman dari perjuangannya banyak hal mendasar yang memerlukan kajian-kajian tersendiri, di antaranya bahwa perspektif perjuangan buruh bukan sekedar pengetahuan tentang menjalankan aksi untuk memenangkan tuntutan hak normatif. Perjuangan kelas buruh harus memiliki perspektif menumbangkan kapitalisme dan mendirikan negara buruh, dan setiap perjuangan untuk tuntutan sehari-hari atau normatif dilakukan dengan mempertimbangkan gol akhir tersebut.

Banyak pengalaman dari perjuangan buruh menemui kegagalan karena tanpa dilandasi sebuah teori yang kuat dan tepat. Berbicara teori di sini tidak lepas dari dua kategori yang berinteraksi secara langsung pada perjuangan kelas buruh. Pertama pemahaman teori hukum perburuhan yang umumnya berimplikasi pada keberhasilan perjuangan normatif. Kedua, teori perspektif atau ideologi perjuangan kelas yang akan memandu kelas buruh untuk menumbangkan kapitalisme dan menegakkan sosialisme .

Namun poin utama yang ingin saya tekankan dalam artikel pendek ini adalah bahwa teori perjuangan kelas berdiri secara dominan dan mensubordinasi teori hukum perburuhan ataupun hal-hal yang bersifat taktis dalam perjuangan. Benar, penting untuk menguasai hukum perburuhan agar buruh dalam berjuang mengetahui seluk beluk landasan hukumnya. Namun tidak sedikit kita telah saksikan, hukum dapat disetir oleh kekuatan uang dan koneksi, meski begitu mahirnya kita dalam menguasai segala aspek hukum yang berkaitan dengan perjuangan buruh. Teori perjuangan kelas sendiri memuat hal-hal yang bersifat prinsip, mendasar dan ideologis. Untuk itulah, bila buruh belajar untuk memahami bagaimana perjuangan kelas beserta teorinya, maka secara tidak langsung akan memandu pada keberhasilan perjuangan buruh secara tuntas.

Lalu apa saja teori perjuangan kelas itu sendiri? Singkat bisa saya katakan, memang tidak akan cukup memaparkannya secara lengkap hanya pada artikel ini. Memerlukan ratusan bahkan ribuan lembar untuk menjabarkan dan memberikan contoh pada setiap penjelasan, dan saya masih dalam tahap belajar untuk menuliskan itu semua. Tetapi, poin-poin penting yang bisa saya sebut antara lain: kenapa dan bagaimana buruh disebut sebagai kelas; kenapa buruh dianggap sebagai tenaga penggerak revolusi; bagaimana cara menyudahi ketimpangan sosial hari ini dan bagaimana menciptakan tatanan dunia baru dengan beraliansi antar kelas buruh dari seluruh dunia. Beberapa hal inilah yang kita pelajari dalam Marxisme, intisari dari ratusan tahun pengalaman perjuangan kelas yang akan menuntun kita menyudahi penindasan terhadap kelas buruh dan elemen masyarakat tertindas lainnya.  

Memahami teori Marxisme tentu merupakan tantangan yang harus dilewati oleh buruh. Memang gagasan ideologi perjuangan kelas bukanlah hal mudah yang bisa dipelajari secara instan. Dibutuhkan waktu lebih dalam proses memahaminya. Ketatnya jadwal kerja di perusahaan dan kerja-kerja dalam serikat buruh, belum lagi kewajiban rumah tangga sehari-hari agar dapur tetap bisa mengepul, telah menyita sebagian besar waktu kaum buruh. Ditambah lagi umumnya latar belakang buruh bukan dari golongan intelektual atau berpendidikan tinggi. Praktis, kesemua hal ini sering kali merupakan  hambatan besar yang dirasakan oleh seorang buruh dalam memahami ataupun mencari bahan-bahan bacaan dari teori tersebut. Tidak terbiasanya mereka menggeluti bahasa tulisan mengharuskan mereka menforsir kerja otak dua kali jauh lebih keras. Ini memang membutuhkan energi yang besar dalam implementasinya. Namun tidak sedikit pengalaman menunjukkan bagaimana selapisan kaum buruh belajar jauh lebih cepat karena realitas kehidupannya bersinggungan secara langsung dengan teori yang dipelajarinya.

Kerja keras dalam memahami Marxisme akan terbayar jauh lebih besar dari hasil yang diperoleh. Dengan memahami teori Marxis perjuangan seorang buruh dalam pergerakannya akan lebih taktis  dalam menghadapi berbagai permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Seorang buruh yang memiliki perspektif kelas takkan mudah menyerah bila dalam perjuangannya menemui kebuntuan.

Marxisme telah memberi kita banyak pelajaran yang berharga sebagai landasan ideologi perjuangan kelas buruh yang revolusioner. Dengan cara pandang materialisme dialektikanya, kita dapat menganalisa pergerakan dalam kontradiksi-kontradiksinya secara logis. Analisa Marxis yang bisa memprediksi pergerakan massa dalam lompatan-lompatan kualitatifnya ataupun kemunduran dari pergerakan itu sendiri tentu sangat berguna bagi pergerakan kelas buruh. Cara pandang yang berpijak pada materi mampu menunjukkan jalan keluar yang tepat dan efisien dari kontradiksi yang ada. Metode-metode dalam berinteraksi untuk mencapai persatuan kelas buruh adalah bukti bagaimana Marxisme berperan penting mendukung demi terciptanya kemandirian kelas buruh. Bukan sekedar pengolahan massa buruh, Marxisme mampu memberikan analisa fakta-fakta segala bentuk manuver tajam yang dilakukan oleh musuh klasik kelas buruh yaitu para kapitalis dan pemerintahan borjuisnya, yang nantinya berguna bagi keberlangsungan perjuangan kelas buruh dalam menggapai sebuah kemenangan.

Lebih dari itu, dengan memahami teori Marxis buruh mampu keluar dari jurang kelam kelasnya. Mereka bisa mendapatkan kembali bentuk kebanggaan tersendiri dari kelasnya. Mereka bukan lagi sebuah kelas yang harus tertunduk lesu di bawah bentuk penindasan-penindasan yang dilakukan oleh para kapitalis dan pemerintahan borjuisnya. Teori telah membawa mereka kepada bentuk kesadaran bahwa kelas buruhlah poros dari roda perekonomian dunia. Kelas inilah yang mampu untuk mengubah seluruh masyarakat dengan memperjuangkan sosialisme di dunia.

Inilah pentingnya bagi seorang buruh untuk belajar dan memahami sebuah teori yang akan menjadi landasan perspektif pergerakan kelasnya untuk lebih revolusioner. Dengan berpegangan pada teori perjuangan kelas, maka buruh tidak mudah terombang-ambing dengan kekuatan-kekuatan yang dapat melemahkan pergerakan itu sendiri. Jauh di dalam tubuhnya akan terbentuk suatu sinergi yang mampu membentengi diri seorang buruh agar tidak menyerah pada sebuah kondisi yang sangat sulit sekalipun. Teori Marxisme menjadi kekuatan penyemangat dalam kehidupannya ke depan, yang mendorongnya untuk terus menggali potensi yang ada di dalam dirinya, hingga menjadikan ia lebih berkualitas dalam segala aspek moralitas, intelektualitas dan integritas diri.

Sebagaimana kutipan dari Marx “Ketidaktahuan tidak pernah menolong siapapun”