facebooklogocolour

420147 10151190979970786 1282595180 nBerbicara mengenai kelas buruh, kita tahu bahwa kelas ini ada dan terbentuk dalam tatanan masyarakat kapitalis.Kelas buruh modern atau lebih tepatnya kelas pekerja upahan lahir kira-kira sejak Revolusi Industri pada abad ke-18. Semakin berkembang sistem kapitalisme maka berkembang pula kelas buruh. Hal ini disebabkan keterikatan antar keduanya dalam proses produksi.

Sistem kapitalisme dalam proses konsentrasi kapitalnya membawa serta kontradiksi di dalamnya. Dengan persaingan  dan monopoli pasar sebagai ruh dari berjalannya sistem ini, industri tidak berjalan atas dasar pemenuhan kebutuhan masyarakat, melainkan atas dasar kepentingan kapitalis untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Karena logika kapital adalah menumpuk laba, mereka mengekspansi besar-besaran komoditasnya ke penjuru dunia dan mengira bahwa pasar tidak terbatas, sehingga menyebabkan krisis berkepanjangan, yang disebabkan oleh overproduksi.

Pertentangan antara kapitalis dan kelas buruh adalah sesuatu yang tak terelakan dan tak terdamaikan, dimana para kapitalis terus menekan upah buruh serendah-rendahnya untuk mengurangi biaya produksi, sedangkan kelas buruh menginginkan upah yang besar demi tercapainya hidup sejahtera bagi keluarganya. Dua kepentingan kelas ini bertentangan semenjak kelahiran mereka.

Sejarah pergerakan buruh dimulai di Eropa, tempat kelahiran kapitalisme, dan sepak terjang gerakan buruh boleh dibilang dimulai sejak revolusi industri abad ke-18 di Inggris. Pergerakan yang ada awalnya bersifat primitif (perorangan, dalam bentuk Luddisme dimana buruh menyabot mesin-mesin yang menggantikan tenaga kerja mereka) sampai ke pembentukan serikat buruh (kolektif, dimana sekarang musuhnya bukan mesin tetapi majikan). Gerakan ini terus berkembang pada abad ke-19 dengan terbentuknya partai kelas buruh di berbagai wilayah Eropa. Dengan capaian ini, secara langsung terlihat keseriusan dan konsistensi pergerakan kelas buruh yang terus tumbuh dewasa. Mereka tidak lagi bergerak sebatas serikat buruh untuk tuntutan-tuntutan normatif, melainkan mulai masuk ke dalam gelanggang politik yang menentukan.

Lalu pada 1917, untuk pertama kalinya melalui serangkaian pemogokan kerja, dengan tuntutan berupa “perdamaian, roti dan tanah”, penolakan terhadap perang imperialis, krisis, dan kemiskinan, partai buruh di Rusia – atau Partai Bolshevik - melalui kerja-kerja partainya mampu membawa kemenangan bagi rakyat pekerja dalam perebutan kekuasaan. Untuk pertama kalinya pemerintahan buruh berdiri di Uni Soviet. Inilah wujud kemerdekaan sepenuhnya bagi kelas buruh, dimana mereka memegang kendali penuh atas nasib mereka – yakni dalam bentuk konkret memegang kendali penuh tuas-tuas ekonomi – untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup yang sejahtera bagi dirinya, keluarganya, dan seluruh masyarakat.

Pada perkembangannya, serangan kontra revolusi dari negeri-negeri kapitalis dan degenerasi birokratik memupus sepak terjang pemerintahan buruh yang masih muda ini untuk menuju sosialisme sedunia. Secara hina, kebobrokan elemen birokratis Stalinis membelokkan cita-cita sosialisme sedunia dan menggantinya dengan paham sosialisme dalam satu negeri, sebuah paham reaksioner yang gagal seperti yang telah kita lihat dengan runtuhnya Uni Soviet dan juga restorasi kapitalisme di Tiongkok. Meski pemerintahan buruh tidak berlangsung lama, kepemimpinan partai Bolsheviknya Lenin telah memberikan satu teladan penting bagi pergerakan kelas buruh dalam meraih kemerdekaannya, yaitu merebut kekuasaan ekonomi dan politik dari kelas-kelas penguasa untuk mendirikan pemerintahan buruh, dengan sistem sosialisme sebagai pijakan dan Marxisme sebagai ideologinya.

Di Indonesia sendiri pergerakan buruh memiliki sejarah yang panjang dan megah. Serikat buruh pertama dibentuk pada 1905 oleh para buruh kereta Belanda. Tetapi dalam waktu pendek buruh Indonesia mulai bergabung ke serikat dan menjadi anggota mayoritas. Berbagai pemogokan-pemogokan yang terjadi mendapatkan kemenangan demi kemenangan bagi kelas buruh.Banyak tuntutan buruh dipenuhi oleh para pengusaha karena aksi militan buruh. Seperti saudara-saudari kelasnya di Eropa, gerakan buruh Indonesia beranjak keluar dari gerbang pabrik ke gelanggang politik. Dalam konteks Indonesia pada saat itu, ini berarti memimpin perjuangan kemerdekaan melawan Belanda. Partai Komunis Indonesia lahir dan menjadi partai kelas buruh Indonesia, yakni partai politik pertama di Indonesia yang meluncurkan perjuangan kemerdekaan dan menyandingkannya dengan perjuangan sosialisme.

Aksi pemberontakan PKI melawan Belanda pada 1926 dipatahkan oleh pemerintahan kolonial. PKI dibubarkan dan serikat-serikat buruh direpresi. Hanya setelah kemerdekaan 1945, kelas buruh mulai bangkit kembali, dan begitu juga partainya, yakni Partai Komunis Indonesia. Kelas borjuasi nasional – yang dipimpin oleh Soekarno-Hatta – tidak memiliki ketegasan dalam memimpin gerakan kemerdekaan. Mereka dipenuhi keragu-raguan dan selalu mencoba bernegosiasi dengan Belanda dan kekuatan Sekutu. Sementara kekuatan proletariat dan tani – di bawah bendera Persatuan Perjuangan (PP, yang dipimpin Tan Malaka) dan juga PKI – gigih memperjuangkan kemerdekaan 100%, yakni kemerdekaan sepenuh-penuhnya bagi rakyat Indonesia tanpa konsesi sama sekali untuk Belanda, dimana seluruh tuas ekonomi ada di bawah kepemilikan dan kendali rakyat pekerja. Dalam kata lain, kemerdekaan di bawah sosialisme, dan bukan “kemerdekaan semu” di bawah kapitalisme. Pemerintahan borjuasi nasional Soekarno-Hatta menolak ini dan menumpas PKI pada 1948 dan PP pada 1949.

Tetapi perjuangan kemerdekaan yang sesungguhnya terus berlanjut, karena walaupun sudah merdeka secara formal pada kenyataannya Indonesia masih di bawah jempol dominasi imperialis. PKI yang sudah ditumpas pada 1948 bangkit kembali. Sayangnya, para pemimpin PKI mempercayakan kekuasaan kepada kelas borjuasi (Soekarno), dan bukannya mempercayai kemandirian kelas buruh untuk segera mengubah wajah revolusi ke arah revolusi sosialis. Hal ini tidaklah mengherankan karena perspektif kepemimpinan Partai Komunis saat itu cukup dipengaruhi oleh perspektif dua-tahap kaum Stalinis, yaitu melakukan revolusi borjuis demokratik terlebih dahulu untuk selanjutnya menuju ke revolusi sosialis sepenuhnya di hari depan. Ini berarti menunda perjuangan kelas. Pada akhirnya kesalahan ini harus dibayar mahal oleh kelas buruh.Mereka dipecundangi oleh kelas borjuasi melalui gerakan reaksioner dari militerisme. Ribuan anggota PKI menjadi tumbal keganasan reaksi di tahun 1965 dan gerakan kelas buruh dilumpuhkan sampai akar-akarnya oleh kediktatoran orde baru.

32 tahun masa “pembekuan” yang dilakukan oleh kediktatoran Orde Baru menyisakan kelumpuhan dan terputusnya tradisi pergerakan kelas buruh. Namun ketidakmampuan kapitalisme dalam mengatasi kontradiksi-kontradiksi yang dibawanya akan mendorong buruh kembali ke tradisi revolusioner yang telah lama dipisahkan darinya. Elemen revolusioner kelas buruh Indonesia terdepan saat ini akan belajar menemukan ritme pergerakannya hanya dengan berpegang pada teori Marxisme.

Marx menjelaskan ini mengenai kelas buruh. Kehidupan di bawah kapitalisme mempersiapkan kaum buruh dalam banyak cara untuk mengambil kontrol atas masyarakat. Kapitalisme membuat kaum buruh bekerja sama dalam produksi di dalam pabrik dan keterampilan kerjasama itu dapat berubah menjadi potensi melawan kapitalisme ketika kaum buruh mengorganisir diri ke dalam serikat-serikat buruh mereka. Berkembangnya alat komunikasi, alat transportasi dan media lainnya yang sekarang ini sudah diakses dan dipergunakan untuk berkomunikasi dan membangun jaringan di luar lokalitas atau industri mereka sendiri. Mereka dapat menggunakannya untuk mengorganisir kekuatan yang sifatnya nasional atau bahkan internasional.

Teori kritis yang ditulis Marx dalam mengekspos kebobrokan sistem kapitalisme tidaklah diperuntukkan bagi kaum intelektual, melainkan disajikan untuk dipahami oleh kelas buruh, karena kelas inilah yang nantinya mampu menjadi pelopor dalam membentuk tatanan masyarakat yang lebih baik pada saatnya nanti.

Sistem kapitalisme terus menerus melahirkan krisis ekonomi berkepanjangan. Buruh dan tani, serta lapisan rakyat tertindas lainnya, selalu menjadi korban dari krisis ekonomi ini. Melihat kondisi ini, bisa dikatakan masyarakat kita saat ini belumlah merasakan kemerdekaannya yang sesungguhnya. Karena pada dasarnya kapitalisme bukanlah sistem menuju kesejahteraan masyarakat luas, melainkan kebiadaban dari para kapitalis untuk memperoleh keuntungan pribadi dengan mempertaruhkan jutaan nasib umat manusia – kepentingan segelintir di atas kepentingan mayoritas – hanya karena kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi yang dimiliki oleh mereka.

Kini sudah saatnya kebobrokan sistem kapitalisme harus dibinasakan, demi terciptanya kesejahteraan bagi rakyat pekerja.  Kelas buruh yang merupakan elemen progresif  adalah satu-satunya yang mampu mengakhiri kegilaan yang terjadi dalam sistem kapitalisme,dan menjalankan roda perekonomian dunia secara kolektif melalui ekonomi terencana.

Tentu hal ini harus dilandasi dengan pemahaman teoritik yang matang untuk mewujudkan kesetaraan ekonomi melalui proses produksi yang terencana sesuai kebutuhan rakyat, bukan lagi kepentingan untuk mengejar keuntungan pribadi. Pemahaman teoritik ini hanya dapat tercapai melalui kerja partai kader yang menyisir elemen-elemen buruh terdepan, untuk ditempa secara teoritik dan ketat supaya memahami tugas kelas buruh ke depan dalam menumbangkan kapitalisme. Partai kader ini merupakan embrio awal dari pembentukan partai buruh massa revolusioner yang nantinya mampu membawa revolusi ke arah sosialisme sepenuhnya dan terciptanya pemerintahan buruh. Dengan demikian gerakan buruh tidak lagi berkutat sebatas aksi-aksi normatif di bawah sistem kapitalisme, tanpa kejelasan arah ke depannya, melainkan berjuang untuk perebutan kekuasaan ekonomi dan politik dari tangan kapitalis. Caranya adalah dengan menanamkan kembali semangat dan mental kerja Bolshevisme (baca buku Bolshevisme, Jalan Menuju Revolusi) dalam memimpin kelas buruh untuk membangun pemerintahan buruh menegakan panji-panji sosialisme. Hanya dengan cara ini, buruh mampu mendapatkan kemerdekaannya yang sesungguhnya!