|
Share Analisa dan perspektif Marxis untuk ekonomi dan politik
Indonesia masihlah cukup terbatas untuk sebuah bangsa yang berpopulasi keempat
terbesar di dunia, sebuah bangsa dengan jumlah penduduk Muslim terbesar, dan
yang paling dominan di Asia Tenggara. Kurangnya analisa semacam ini dapat
dirunut kembali ke kekalahan historis dari gerakan kelas pekerja Indonesia pada
tahun 1965, yang dapat dibilang sebesar kekalahan kelas pekerja Jerman ketika
Nazi berkuasa.
Dengan bangkitnya kembali Marxisme di Indonesia, sebuah
perspektif ekonomi dan politik dari lensa Marxis telah menjadi satu prioritas.
Dari sebuah perspektif yang tepat akan mengalir sebuah aksi yang tepat yang
mampu membawa emansipasi kelas pekerja Indonesia dan lapisan masyarakat
tertindas lainnya: kaum tani miskin, nelayan, dan kamu miskin kota. Dokumen ini
bukanlah sebuah usaha yang pertama untuk mengformulasikan perspektif semacam
itu, dan ia tidak akan menjadi yang terakhir, terutama dengan dunia penuh
gejolak yang sedang kita alami. Ia akan menjadi sebuah estimasi pertama
darimana kita bisa meraih pemahaman akan apa yang perlu dilakukan.
Terlebih lagi, seorang revolusioner yang serius
mendefinisikan tugasnya dari sudut pandang internasional, bukan karena nilai
internasionalisme yang sentimental tetapi karena kenyataan bahwa kapitalisme
adalah internasional. Walaupun untuk alasan-alasan praktikal kaum buruh harus
mengorganisir diri mereka sebagai sebuah kelas dengan negerinya sendiri sebagai
panggung perjuangan yang segera, isi sesungguhnya dari perjuangan kelas adalah
internasional. Oleh karena itu, dokumen ini harus dibaca bersamaan dengan
Dokumen Perspektif Dunia 2010, kalau tidak ia akan kehilangan nilainya sama
sekali. Kita hanya perlu melihat tulisan-tulisan politik Tan Malaka (Menuju
Republik Indonesia, Massa Aksi, Thesis, dll.) dimana dia selalu mulai dengan
analisa internasional sebelum terjun ke perspektif politik untuk revolusi
Indonesia.
Sejarah Massa Aksi
Sejarah Indonesia selalu menjadi aspek yang paling penting
di dalam gerakan. Penyelewengan sejarah oleh rejim Soeharto sebegitu penuhnya
sehingga aksi penting pertama dari gerakan Indonesia adalah untuk mengembalikan
sejarah “Massa Aksi”. 32 tahun reaksi di bawah Soeharto bukan hanya telah
menghancurkan gerakan kelas pekerja secara fisik, tetapi juga telah sepenuhnya
menghapus secara ideologis semua tradisi perjuangan kelas dari gerakan. “Massa
Mengambang”, inilah terminologi yang digunakan untuk masyarakat yang dibangun
oleh rejim Soeharto: depolitisasi, ahistoris, dan demobilisasi.
Oleh karena itu, bagi banyak kaum muda, sang pelopor
gerakan, mempelajari kembali tradisi “Massa Aksi” adalah sebuah aksi
revolusioner, dan masih tetap merupakan satu aksi revolusioner. Rejim Soeharto
sangatlah takut dengan sejarah Indonesia, dan dia patut takut karena sejarah
Indonesia adalah seuah negasi dari konsep “Massa Mengambang”. Satu karya yang
memiliki sebuah pengaruh yang kuat dalam proses ini adalah Tetralogi Buru
karangan Pramoedya Ananta Toer. Karyanya ini adalah sebanding dengan karya
Chernyshevsky What is to be Done?,
sebagian fiksi sebagian propaganda, sebuah karya yang mempengaruhi seluruh
generasi muda Rusia yang lalu menjadi Bolshevik dan memimpin Revolusi Oktober.
Tidak mengejutkan bahwa hanya setelah satu tahun penerbitan buku ini rejim
Soeharto segera melarangnya. Tetapi ini tidak menghentikan teredarnya buku-buku
ini yang dibaca oleh kaum muda di bawah tanah.
Sejarah Indonesia adalah satu sejarah yang penuh dengan
Massa Aksi. Semenjak bangkitnya nasionalisme, mobilisasi massa telah menjadi
karakter utama. Berkebalikan dengan apa yang coba digambarkan oleh rejim
Soeharto, perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak diperjuangkan hanya di medan militer.
Ia diperjuangkan di medan politik dengan mobilisasi massa. Bahkan ketika ia
diperjuangkan di medan militer, pasukan bersenjata mengambil bentuk milisi
rakyat yang kendalinya jatuh di tangan organisasi-organisasi massa.
Hingga tahun 1965, semua lapisan masyarakat Indonesia
termobilisasi secara politik. Politik merasuki semua aspek kehidupan. Ada
sebuah situasi perjuanga kelas yang tajam pada saat itu. 1960an adalah sebuah
periode revolusi (dan konter revolusi) di seluruh dunia. Insiden G30S menjungkirbalikan
semua ini dan Indonesia tidak pernah sama lagi.
Konter Revolusi 1965
Apa yang terjadi pada Partai Komunis Indonesia? Ini adalah
pertanyaan membara yang masih menjangkiti pikiran kaum revolusioner Indonesia.
Oleh karena kita harus mengunjungi permasalahan ini sebelum kita bisa berbicara
mengenai Reformasi 1998 dan kemudian prospek untuk revolusi mendatang.
Sebelum kehancurannya, PKI
mengklaim memiliki 3 juta anggota. PKI
juga memiliki banyak organisasi-organisasi massa afiliasi dan simpatisas. Pemuda
Rakyat dengan 1,5 juta anggota, SOBSI dengan 3,8 juta anggota (dari total 7
juta buruh terorganisir), Barisan Tani Indonesia dengan 5 juta anggota, dan
Gerwani dengan 750 ribu anggota.
Ini membuat PKI sebagai partai
komunis ketiga terbesar setelah Uni Soviet dan Tiongkok. Dengan satu pukulan,
dan tanpa perlawanan yang berarti, PKI
– dan dengannya seluruh gerakan buruh dan tani – dibabat habis oleh
jendral-jendral reaksioner di bawah panduan kekuatan-kekuatan imperialis
“demokratis”. 32 tahun reaksi menyusul. Tidak ada kekalahan yang lebih
mendemoralisasi daripada kekalahan tanpa perlawanan.
Keganasan kelas penguasa bukanlah sesuatu yang perlu membuat
kita terkejut. Semenjak usaha pertama revolusi proletar, yakni Komune Paris
pada tahun 1871, kelas penguasa sudah brutal dalam serangan balik mereka. Untuk
membandingkannya, kekalahan Komune Paris mengakibatkan dibantainya 80 ribu
orang di sebuah kota dengan populasi 1,8 juta orang. Populasi Indonesia pada
saat pembantaian 1965-66 adalah 90 juta. Penyebab kekalahan revolusi Indonesia
adalah lebih dalam daripada keganasan atau trik-trik kelas penguasa. Faktor
tersebut adalah sesuatu yang niscaya. Faktor yang penting bagi kita adalah
kebijakan politik PKI yang keliru. PKI adalah
partai massa buruh Indonesia. Namun ia mempunyai kemalangan tumbuh di bawah
panduan kaum Stalinis Rusia dan Tiongkok setelah kegagalan pemberontakan
1926-27. Ketika partai ini dibentuk kembali secara resmi pada tahun 1945,
seperti kebanyakan partai-partai komunis lainnya, ia telah menjadi alat
kebijakan luar negeri Moskow dan mengambil kebijakan yang keliru yang membawa
kehancuran gerakan kelas pekerja. Adalah penting untuk memisahkan niat luhur
para pemimpin ini (Aidit, Njoto, Lukman, Sudisman) dari kekeliruan politik
mereka. Kalau tidak kita tidak akan bisa maju kemana-mana.
Hingga tahun 1930an, Partai Komunis Uni Soviet sudah bukan
lagi partai yang sama yang memimpin Revolusi Oktober. Ia telah menjadi alat
birokrasi Soviet untuk mempertahankan privilesenya. Sudah bukan lagi kepentingan
mereka untuk berjuang demi sosialisme sedunia kendati retorika-retorika mereka.
Kaum birokrasi ingin hidup damai dengan kapitalisme dan oleh karenanya menjadi
sebuah rem aktif dalam perjuangan sosialis di seluruh dunia. Partai Komunis
Tiongkok dibangun berdasarkan gambaran PKUS, dan negara Tiongkok mulai darimana
Revolusi Rusia berakhir: sebagai sebuah negara buruh yang cacat. Kedua negara
ini memiliki pengaruh politik yang besar di dalam gerakan kelas pekerja untuk
seluruh periode.
Fakta sejarah ini menentukan nasib banyak partai-partai
komunis seluruh dunia. Kepemimpinan PKI
dididik di dalam “teori dua-tahap” Stalinis (yang sebenarnya adalah pengulangan
kebijakan Menshevik), yang di dalam esensinya mengatakan bahwa di negara
terbelakang seperti Indonesia tahapan pertama revolusi memiliki karakter
borjuis-demokratik guna menghapus feodalisme dan imperialisme. Oleh karena itu,
tugas kaum komunis di negeri seperti itu adalah untuk beraliansi dengan kaum
borjuis progresif, untuk mengsubordinasi perjuangan kelas di bawah perjuangan
nasional melawan feodalisme dan imperialisme. Hanya setelah ini sebuah pintu
akan terbuka untuk perjuangan kelas menuju sosialisme.
Dari “Masyarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia
(Masalah-Masalah Mendasar Revolusi Indonesia)”,
yang merupakan perspektif politik PKI
yang ditulis oleh D.N. Aidit, yakni “sebuah manual untuk digunakan dalam
sekolah partai di pusat dan di propinsi-propinsi dan disetujui oleh Plenum
Komite Pusat, Juli 1957”, kita akan melihat dengan dekat “teori dua-tahap”nya PKI dan kontradiksi-kontradiksi di dalam teori dan
kebijakan ini.
Dokumen ini dimulai dengan sebuah analisa masyarakat
Indonesia, yang diklaim adalah semi-feodal dan semi-kolonial. Dari ini mengalir
bahwa “musuh utama dari revolusi Indonesia pada saat ini adalah ...
imperialisme dan feodalisme.”
Ini adalah kesalahan yang pertama. Secara fundamental, masyarakat Indonesia saat itu sudah merupakan masyarakat kapitalis. Mode produksinya didominasi oleh mode
produksi kapitalis. Ekonomi
Indonesia telah terikat dengan kapitalisme semenjak kontak pertamanya dengan
kekuatan kolonial Belanda lebih dari 400 tahun yang lalu (baca Lampiran
“Sejarah Perkembangan Kapitalisme Indonesia”). Indonesia adalah semi-feodal hanya
dalam pengertian bahwa kaum borjuis nasional – seperti kaum borjuis nasional di
negera-negara belum berkembang lainnya – tidak pernah mampu melaksanakan tugas
historisnya dalam reforma agraria, tidak pada saat itu dan tidak sekarang.
Indonesia adalah semi-kolonial hanya dalam pengertian bahwa di dalam konteks
kapitalisme global dan perkembangan tidak-berimbang dari kapitalisme, seperti
negara-negara kapitalis kecil lainnya, Indonesia menjadi mangsa dari
negara-negara kapitalis yang lebih besar.
Dari kesalahan utama ini maka mengalir perspektif bahwa
tugas revolusi Indonesia adalah untuk menciptakan “pemerintahan rakyat” dan
bahwa “pemerintahan ini (Pemerintahan Rakyat Demokratis) bukanlah sebuah
pemerintahan kediktaturan proletariat tetapi sebuah pemerintah kediktaturan
rakyat.”
Marx dan Engels, dan kemudian Lenin, telah berjuang dengan
keras melawan konsep “negara atau pemerintahan rakyat”. Lenin di dalam Negara dan Revolusi menjelaskan ini
dengan jelas:
“ ‘Negara Rakyat bebas’ adalah suatu program tuntutan dan
suatu semboyan umum yang tersebar luas di kalangan kaum Sosial-Demokrat Jerman
dalam tahun 1870-an. Semboyan ini tidak mempunyai isi politik sama sekali
kecuali ia melukiskan pengertian tentang demokrasi dengan gaya filistin yang
muluk-muluk. Sejauh ia digunakan untuk, dengan jalan yang sah menurut
undang-undang, menunjukkan suatu republik demokratis, Engels bersedia untuk
‘membenarkan’ penggunaannya itu ‘untuk suatu waktu saja’ dipandang dari sudut
agitasional. Tetapi itu adalah semboyan
oportunis, karena ia tidak saja menyatakan pembagusan demokrasi borjuis, tetapi
juga gagal untuk memahami kritisisme sosialis terhadap Negara pada umumnya.
... Lebih jauh lagi, setiap Negara adalah suatu ‘kekuatan penindas khusus’
terhadap kelas tertindas. Maka dari itu, setiap Negara tidak
‘bebas’ dan bukan ‘negara Rakyat’. Marx dan Engels menjelaskan hal ini
berkali-kali kepada kawan-kawan separtainya selama tahun-tahun 70-an.” (Lenin, Negara dan Revolusi) [Penekanan
ditambahkan]
Pemerintahan Soekarno bukanlah sebuah kediktaturan militer.
Di bawah pemerintahannya, kaum komunis diberikan kebebasan; mereka menduduki
posisi-posisi kabinet dan parlemen. Engels siap memberikan semacam pembenaran
sementara untuk penggunaan slogan “pemerintahan rakyat” di Jerman pada tahun
1870an karena mereka pada saat itu hidup di bawah Kekaisaran Jerman, sebuah
otokrasi. Tetapi ini bukanlah kasusnya di Indonesia jaman Soekarno. Slogan
“pemerintahan rakyat”nya PKI
hanyalah sebuah kapitulasi program kelas pekerja terhadap borjuis nasional.
Guna membenarkan kebijakan dua-tahap, sebuah kelas borjuis
nasional yang progresif harus diciptakan. Maka dari itu, PKI memelintir karakter kelas borjuasi di
Indonesia: “Kelas borjuasi terdiri dari para komprador dan kaum borjuis
nasional. Kaum borjuis besar yang karakternya komprador melayani secara
langsung kepentingan kapitalis asing besar dan oleh karenanya digemukkan oleh
mereka ... Akan tetapi, kaum borjuis nasional mempunyai dua fitur. Sebagai
sebuah kelas yang juga tertindas oleh imperialisme dan seluruh perkembangannya
tercekik oleh feodalisme, kelas ini adalah anti-imperialis dan anti-feodal, dan
dalam hal ini ia adalah salah satu kekuatan revolusioner ... Kaum borjuis
nasional Indonesia, karena ia juga ditindas oleh imperialisme asing, dapat, di
situasi tertentu dan dalam batasan tertentu, mengambil bagian dalam perjuangan
melawan imperialisme. Dalam situasi seperti itu, kaum proletariat Indonesia harus membangun persatuan dengan kaum
borjuis nasional dan mempertahankan persatuan ini dengan seluruh kekuatannya.”
[Penekanan ditambahkan]
Ada kaum borjuis yang baik dan ada kaum borjuis yang jahat.
Tesis ini berlawanan dengan analisa kelas Marxis. Benar bahwa pada satu saat
tertentu bisa ada perpecahan di dalam kelas penguasa karena satu seksi mungkin
punya kepentingan ekonomi atau politik sekunder
yang berbeda dengan seksi-seksi lain. Akan tetapi, kepentingan primer dari
seluruh borjuasi tetap sama: penindasan kelas pekerja. Seluruh eksistensi dari
kelas ini adalah kekuasaannya di atas kelas proletariat.
Borjuasi nasional Indonesia lahir terlambat di dalam
sejarah. Sejak awal, keberadaannya terikat oleh imperialisme. Bahkan lebih
parah, tidak seperti kaum borjuasi nasional di negara-negara berkembang lainnya
(India dan Tiongkok misalnya) yang memainkan peran aktif dan dominan dalam
gerakan nasionalis, kelas borjuasi Indonesia tidak pernah memimpin gerakan
nasionalis.
Dengan penilaian mereka yang keliru mengenai kelas borjuasi
nasional, PKI lalu secara aktif
mencari aliansi dengan borjuasi progresif dengan cara mengsubordinasikan
perjuangan kelas di bawah perjuangan nasional, mengsubordinasikan kelas pekerja
di bawah kelas borjuis nasional, kendati layanan bibir mereka bahwa “revolusi
Indonesia tidak akan berhasil kalau ia tidak berada di bawah kepemimpinan kelas
proletar Indonesia.”
Sejarah tidaklah baik hati kepada mereka yang telah mencoba mencari borjuasi
nasional progresif karena sampai sekarang mereka belum ditemukan. Dimanakah
kelas borjuasi progresif ini ketika PKI
dihancurkan dan jutaan pendukungnya dibantai? Dimanakah kelas borjuasi
progresif selama kediktaturan militer Soeharto?
Ketidakkonsistenan teori PKI
mengenai watak kelas borjuasi nasional menjadi semakin vulgar:
“Dalam menghadapi karakter kebimbangan dari kelas borjuasi
nasional Indonesia, perhatian harus diberikan ke kenyataan bahwa justru karena mereka lemah secara politik
dan ekonomi maka tidaklah sulit untuk menarik kelas ini ke kiri guna
membuatnya berdiri teguh di sisi revolusi selama kekuatan progresif besar dan
taktik Partai Komunis tepat. Ini berarti bahwa elemen kebimbangan dari kelas
ini tidaklah fatal, ini dapat diatasi. Tetapi di pihak lain, bila kekuatan
progresif tidak besar dan taktik Partai Komunis tidak tepat, maka borjuasi
nasional yang lemah secara ekonomi dan politik ini akan mudah lari ke kanan dan
menjadi musuh revolusi.”
[Penekanan Ditambahkan]
Bila kaum borjuasi nasional sudah “lemah secara politik dan
ekonomi”, maka semakin banyak alasan untuk menyingkirkan mereka ke samping.
Justru karena mereka lemah maka mereka tidak boleh dijadikan sekutu. Di sebuah
peperangan, beraliansi dengan sekutu yang lemah tidak pernah dianjurkan karena
daripada menguatkan justru kekuatan kita akan menjadi lemah.
Sayangnya, sekarang kita melihat argumen serupa digunakan
oleh PRD/PAPERNAS untuk
membenarkan aliansi mereka dengan kaum borjuasi nasional. Sejarah mengulangi
dirinya, pertama kali sebagai sebuah tragedi, dan kedua kali sebagai sesuatu
yang konyol.
Mari kita lihat bagaimana Lenin mendekati permasalahan
aliansi dengan kelas-kelas dan kelompok-kelompok sosial lainnya. Selama era
Tsar, salah satu tugas mendesak dari kelas proletar Rusia adalah untuk melawan
otokrasi Tsar. Di Tugas-tugas Kaum Sosial
Demokrat Rusia (catatan: sebelum 1914, Sosial Demokrat adalah nama lain
untuk kaum Marxis revolusioner) yang ditulis oleh Lenin pada tahun 1897 ketika
di Siberia, dia menulis:
“Namun dalam perjuangan demokratik dan politik, kelas buruh
Rusia tidak berdiri sendirian; di sisinya adalah semua elemen-elemen,
strata-strata, dan kelas-kelas oposisi, karena mereka memusuhi absolutisme dan
sedang berjuang melawannya dalam satu atau lain bentuk. Disini di samping
proletariat berdiri elemen oposisi borjuasi, atau kelas yang terdidik, atau
kelas borjuasi kecil, atau kelompok-kelompok nasional, agama, sekte, dsb.,
dsb., yang ditindas oleh pemerintahan otokrasi. Pertanyaan yang secara wajar
timbul adalah apa sikap yang harus diambil oleh kelas buruh terhadap
elemen-elemen ini. Terlebih lagi, haruskah kelas buruh bergabung dengan mereka
dalam perjuangan bersama melawan otokrasi? ... Bukankah mereka harus bergabung
dengan semua elemen oposisi politik untuk berjuang melawan otokrasi, dan
mengesampingkan sosialisme untuk sementara? Bukankah ini penting untuk
menguatkan perjuangan melawan otokrasi?”
“Mari kita selidiki dua pertanyaan ini.”
“Sikap kelas buruh, sebagai seorang pejuang melawan
otokrasi, terhadap semua kelas-kelas dan kelompok-kelompok sosial dalam oposisi
politik ditentukan dengan jitu oleh prinsip-prinsip dasar yang tertulis di Manifesto Komunis. Kaum Sosial Demokrat
mendukung kelas sosial yang progresif melawan kelas reaksioner ... Dukungan ini tidak mensyaratkan, dan juga
tidak membutuhkan, kompromi dengan program-program dan prinsip-prinspip
non-Sosial Demokrat – dukungan ini adalah sebuah dukungan yang diberikan
kepada seorang sekutu untuk melawan seorang musuh tertentu. Terlebih lagi, kaum
Sosial Demokrat memberikan dukungan ini guna mempercepat jatuhnya musuh
bersama, tetapi tidak mengharapkan
apa-apa untuk dirinya sendiri dari sekutu-sekutu sementaranya, dan tidak
berkompromi apapun kepada mereka.”
“ ... Ini membawa kita pada pertanyaan yang kedua. Sementara
menunjukkan solidaritas antara berbagai kelompok oposisi dengan kaum buruh, kaum Sosial Demokrat selalu memisahkan kaum
buruh dari yang lainnya, mereka selalu menunjukkan bahwa solidaritas ini adalah
sementara dan kondisional, mereka selalu menekankan kemandirian identitas kelas
proletariat, yang esok hari dapat menemukan dirinya bermusuhan dengan
sekutunya hari ini. Kita dibilangi bahwa “aksi semacam ini akan melemahkan
semua pejuang kebebasan politik sekarang ini.” Kita akan membalasnya bahwa aksi
ini akan memperkuat semua perjuang kebebasan politik. Hanya para pejuang yang
kuat yang bergantung pada kepentingan riil kelas-kelas, dan setiap usaha untuk mengaburkan
kepentingan-kepentingan kelas, yang telah memainkan peran utama dalam
masyarakat sekarang ini, hanya akan melemahkan para pejuang. Ini adalah
poin yang pertama. Poin yang kedua adalah bahwa dalam berjuang melawan
otokrasi, kelas buruh harus memisahkan dirinya sendiri, karena dialah
satu-satunya musuh otokrasi yang konsisten sepenuhnya dan tidak berbelas
kasihan, hanya di antara kelas buruh dan otokrasi mustahil bisa ada kompromi,
hanya di dalam kelas buruh demokrasi dapat menemukan seorang jawara yang tidak
ragu-ragu, yang tidak bimbang dan tidak melihat ke belakang. Permusuhan
kelas-kelas, kelompok-kelompok, dan strata-strata populasi yang lain terhadap
otokrasi adalah terbatas, demokrasi mereka selalu menengok ke belakang.”
“Proletariat sendiri dapat menjadi – dan karena posisi
kelasnya harus menjadi – musuh absolutisme yang teguh dan demokratis secara
konsisten, yang tidak membuat konsesi dan kompromi apapun. Kaum proletar
sendiri dapat menjadi pejuang pelopor untuk kebebasan politik dan institusi
demokrasi. Pertama, ini karena tirani politik paling membebani proletariat yang
posisinya tidak memungkinkannya untuk memodifikasi tirani itu – ia tidak punya
akses ke otoritas tinggi, bahkan tidak ke para pejabat, dan ia tidak punya
pengaruh atas opini publik. Kedua, proletariat sendirian dapat membawa
demokratisasi penuh atas sistem politik dan sosial, karena ini akan menaruh
sistem tersebut di tangan kaum buruh. Inilah
mengapa merger aktivitas-aktivitas politik kelas buruh dengan aspirasi
demokrasi dari kelas dan kelompok lain akan melemahkan gerakan demokrasi, akan
melemahkan perjuangan politik, akan membuatnya lebih kurang teguh, konsisten,
dan lebih rentan pada kompromi. Di pihak lain, bila kelas buruh berdiri
sebagai pejuang pelopor untuk institusi demokrasi, ini akan memperkuat gerakan
demokrasi, akan memperkuat perjuangan pembebasan politik, karena kelas buruh
akan mendorong semua elemen demokratis dan oposisi politik lainnya, akan
mendorong kaum liberal ke politik radikal, akan mendorong kaum radikal menuju
perpecahan penuh dari seluruh struktur politik dan sosial masyarakat kini.”
[Penekanan Ditambahkan]
Kami minta maaf bila kami harus mengkutip secara panjang
dari Lenin, karena kami mencoba untuk menghindari kebiasaan mengutip secara
selektif dan secara fragmen yang sering dilakukan oleh para kaum “Leninis”.
Jadi jelas bagaimana Bolshevik mendekati kelas-kelas sosial
lainnya di dalam perjuangan melawan absolutisme: mengenali bahwa proletariat
dan kaum borjuasi nasional dapat memiliki kepentingan yang sama untuk tujuan
tertentu yang spesifik, tetapi pada saat yang sama mengkritik secara terbuka
keterbatasan kaum borjuasi dalam perjuangan mereka dan memperingatkan untuk
tidak merger dalam aktivitas demokratis dengan mereka. Dalam esensinya, kelas
proletariat harus menjunjung kemandirian kelasnya dan tidak mengesampingkan
tujuan sosialisnya.
Ini ditulis pada tahun 1897, sebelum Revolusi 1905 yang
menghantarkan pukulan pertama terhadap otokrasi dan mengungkapkan lebih besar
kebangkrutan kaum borjuasi nasional. Ini yang ditulis oleh Lenin pada tahun
1906 di “Tugas-Tugas Demokratik Kaum Proletariat Revolusioner” setelah
pengkhianatan dan kepengecutan kaum borjuis nasional dalam perjuangan mereka
melawan otokrasi:
“ ... kaum borjuasi secara keseluruhan tidak mampu melakukan
perjuangan yang teguh melawan otokrasi; dalam perjuangannya ia takut kehilangan
properti yang mengikatnya pada orde yang eksis sekarang; ia takut terhadap aksi buruh yang sepenuhnya revolusioner, yang tidak
akan berhenti pada revolusi demokratik tetapi berhasrat bergerak ke revolusi
sosialis; ia takut pecah sepenuhnya dengan para birokrat negara, dengan
kaum birokrasi, yang kepentingannya terikat oleh seribu benang dengan
kepentingan kelas berpunya. Untuk alasan ini, perjuangan kaum borjuasi untuk
kebebasan penuh dengan keraguan, tidak konsisten, dan setengah-hati.”
PKI, kendali
klaim mereka sebagai kaum Leninis, tampaknya tidak membaca dengan seksama
tulisan-tulisan Lenin. Kaum buruh dan tani Indonesia harus membayar sangat
mahal karena kebijakan keliru PKI:
tiga puluh dua tahun kediktaturan militer yang merampok seluruh generasi dari
pejuang-pejuang kelasnya dan tradisi perjuangan kelas.
Jatuhnya Soeharto
Setelah kejatuhan Uni Soviet tahun 1991, kelas borjuasi
seluruh dunia bersuka-cita. Mereka semakin menajamkan taring mereka untuk
serangan ideologis. “Kapitalisme telah memang.” begitu seru mereka.
Indonesia diangkat sebagai sebuah contoh bagaimana sebuah
negeri bisa menjadi makmur bila ia memeluk kapitalisme. Akan tetapi, di balik
keajaiban Indonesia adalah awal dari gerakan yang akan menggoncang seluruh
wilayah tersebut. Awal 1990an kita menyaksikan terbentuknya embrio kaum muda
yang nantinya akan memimpin perjuangan melawan Soeharto. Pelajar-pelajar ini
berkelompok di sekitar PRD,
satu-satunya kekuatan Kiri yang terorganisir pada saat itu, bekerja di bawah
tanah dengan ancaman penculikan dan penghilangan.
Awal 1990 kita melihat bangkitnya gerakan massa.
Insiden-insiden protes kaum tani meningkat. Jumlah pemogokan yang tercatat
meningkat dari 61 pada tahun 1990 ke 300 pada tahun 1994. Banyak yang tidak
tercatat. Ini karena keajaiban ekonomi Indonesia dibangun dengan
mengeksploitasi buruh dan tani. Pekerjaan semakin sulit didapati di desa-desa,
and semakin banyak petani yang terpaksa pindah ke kota dimana mereka menjadi
buruh urban atau menjadi kaum miskin kota.
Kaum borjuasi terlalu percaya diri dengan kemenangan mereka
pada tahun 1991. Begitu percaya dirinya bahwa tidak akan pernah ada revolusi lagi,
mereka melakukan orgi spekulasi tanpa pertimbangan apapun. Tujuh tahun sebelum
krisis ekonomi 1997, ada influks kapital yang amat besar ke sektor swasta
Indonesia, dari US$ 314 juta tahun 1989 menjadi US$ 11,5 milyar pada tahun
1996, sebuah peningkatan sebesar 3500%. Kapital swasta yang masif ini,
kebanyakan adalah investasi spekulatif jangka pendek di sektor real estate,
mendorong pertumbuhan ekonomi yang mencapai 10% per tahun. Gelembungm ekonomi
ini harus pecah karena pada akhirnya semua gedung pencakar langit dan apartemen
dibangun tanpa ada pembeli. Ini adalah krisis over-produksi yang klasik.
Krisis Finansial Asia 1997 adalah sebuah bencana, bukan
hanya secara ekonomi tetapi juga secara politik untuk kelas penguasa. Hanya 8
tahun yang lalu mereka berbicara mengenai “akhir sejarah”, bahwa tidak akan
pernah ada kemerosotan lagi di dalam ekonomi kapitalis, dan tidak akan pernah
ada lagi revolusi. Di sini di Indonesia, negara yang dipamerkan sebagai contoh
dari keunggulan kapitalisme, sistem tersebut runtuh. “Massa mengambang” hancur
di bawah tekanan.
Dari dipuja sebagai “bapak pembangunan”, dalam beberapa
bulan Soeharto menjadi simbol dari semua yang dibenci oleh rakyat. Dalam sebuah
situasi pra-revolusioner, salah satu karakter yang selalu kita lihat adalah
adanya perpecahan di dalam kelas penguasa: antara satu seksi yang ingin
melakukan reforma dari atas guna mencegah revolusi dari bawah, dan satu seksi
yang lain yang kawatir bahwa reforma apapun justru akan membuat rakyat tambah
radikal.
Radikalisasi massa selama 9 tahun terakhir telah membuat
posisi Soeharto semakin sulit sehingga bahkan orang kepercayaannya, Harmoko,
ketua MPR, mendorong dia untuk
mundur. Kaum kapitalis, domestik dan asing, mulai mencampakkan dia dengan
tiba-tiba menangis air mata buaya mengenai represi demokrasi di bawah rejimnya.
Sebuah kompromi akhirnya diputuskan: Soeharto akan turun tetapi dia tidak boleh
diadili, dan kaum reformis akan mengambil kepemimpinan gerakan, untuk
memastikan kalau gerakan ini berjalan di saluran yang aman.
Kiri, yang secara praktis adalah PRD
sebagai satu-satunya kekuatan yang terorganisir, tidak siap merebut kekuasaan.
Ada banyak faktor yang bermain, masing-masing saling menguatkan satu sama lain.
32 tahun reaksi di bawah Soeharto jelas adalah faktor yang utama. Gerakan buruh
sebegitu hancurnya dan remuknya untuk seluruh generasi sehingga ini masih
membebani kesadaran massa dan kepemimpinannya. Membuat masalah tambah parah
adalah perspektif keliru dari PRD,
yakni bergantung pada kaum borjuis progresif, yakni para pemimpin reformis.
Paska Reformasi
Gerakan Reformasi belum mengubah satupun hal yang
fundamental di Indonesia. Ketika nampaknya kekuasaan ada di tangan rakyat
dengan jutaan orang di jalan dan menduduki gedung parlemen, kekuasaan
diserahkan kembali ke kelas penguasa. Apa yang sebenarnya terjadi?
Kaum reformis telah memainkan peran historis mereka:
menyelamatkan kapitalisme di saat-saat genting. Oleh karena itu, pengkhianatan
mereka adalah satu hal yang niscaya. Ini tidak terelakkan. Maka usaha untuk
menyalahkan kegagalan Reformasi 1998 pada para reformis ini tidak akan membawa
kita kemana-mana. Tuduhan “reformis gadungan” yang telah menjadi sebuah slogan
umum di antara kaum Kiri, terutama setelah kegagalan gerakan 1998, menunjukkan
ketidakmampuan untuk memahami watak dari kaum borjuis reformis. Mereka-mereka
yang disebut “reformis gadungan” justru adalah reformis tulen.
Tugas mendesak dari Reformasi 1998 adalah penumbangan
kediktaturan militer Soeharto. Kita mengenali bahwa demokrasi parlementer
adalah medan yang lebih baik bagi perjuangan kelas buruh. Akan tetapi, adalah
satu hal untuk mengenali perlunya demokrasi parlementer untuk menggantikan
kediktaturan militer, adalah satu hal yang lain lagi untuk mengharapkan bahwa
demokrasi parlementer dapat direalisasi oleh kaum borjuis reformis. Hanya
buruh, dengan aliansi bersama kaum tani dan miskin kota, yang dapat diandalkan
untuk melaksanakan tugas-tugas demokratis sampai selesai. Kita tidak
mengharapkan apa-apa dari kaum borjuasi. Ketergantungan PRD
pada kaum borjuis nasional progresif telah menciptakan sebuah kebingungan di
antara anggota PRD dan aktivis di
sekitarnya. Ketika semua kaum borjuis reformis mengkhianati gerakan, ini
menyebabkan kebingungan ideologis yang lalu membawa demoralisasi di dalam
gerakan selama 3-5 tahun. Satu-satunya jawaban yang disediakan adalah bahwa
reformis-reformis ini adalah “reformis gadungan”; dengan ini kampanye untuk
mencari reformis tulen dimulai kembali.
Dapatkah Kiri merebut kekuasaan dan membawa sosialisme pada
tahun 1998? Dengan keuntungan melihat ke depan, mempertimbangkan semua faktor,
kita dapat mengatakan bahwa jawabannya adalah negatif. Untuk merebut kekuasaan,
buruh membutuhkan sebuah partai yang siap untuk mengambil kekuasaan. Kekalahan
1965 merampok kelas buruh dari kesempatan ini. PRD,
satu-satunya partai pada saat itu, terlalu muda dan ia tidak memiliki
kepemimpinan yang diperlukan untuk bisa menghadapi masalah kekuasaan.
Akan tetapi, bila saja PRD
memiliki program yang tepat, ia dapat menjadi lebih kuat setelah kegagalan
Reformasi. Dengan taktik yang tepat, PRD
dapat mundur secara teratur dan tidak terpecah-pecah yang lalu membuka periode
demoralisasi setelah itu. Sebuah pasukan yang baik adalah pasukan yang dapat
mundur secara teratur untuk mempersiapkan serangan baru yang lebih besar.
Ini bukan berarti kita tidak mendukung reforma-reforma. Kita
mendukung reforma selama reforma tersebut masih memiliki kekuatan vital, selama
reforma ini menyerang basis rejim penguasa. Contohnya, ketika Gus Dur berbicara
mengenai penghapusan hukum anti-komunis, sikap kaum revolusioner adalah untuk
mendukung tuntutan ini tetapi tidak mendukung pemerintahan Gus Dur. Kita
beragitasi luas untuk tuntutan ini dengan
cara dan syarat-syarat kita sendiri, yakni bahwa hanya pemerintah buruhlah
yang dapat memenuhi secara penuh tuntutan ini, bahwa kita hanya mempercayai
buruh untuk memenuhi tuntutan ini. Kita tidak mengharapkan apa-apa dari
pemerintahan borjuis liberal Gus Dur. Kita mendukung reforma selalu dengan
perspektif buruh merebut kekuasaan. Hanya dengan ini kita dapat mempersiapkan
kelas buruh untuk tugas historis mereka. Dengan kebijakan yang mandiri kelas
seperti ini, anggota-anggota partai revolusioner tidak akan kebingungan. Justru
mereka akan mendapatkan kepercayaan diri dan kejelasan akan tugas selanjutnya.
Nasib PRD
sekarang adalah satu-satunya kesimpulan logis dari kebijakan mereka. Dengan
setiap tahun berlalu, PRD semakin
bergeser ke kebijakan kolaborasi kelas. Banyak kadernya yang telah bergabung
dengan partai-partai borjuasi. Awalnya, di mata mereka yang baru di politik,
retorika PRD masih terdengar
radikal dan revolusioner. Tetapi, di balik frase-frase revolusioner ini adalah
gagasan “dua-tahap”, gagasan untuk mendukung kaum borjuis nasional progresif.
Titik-balik final dari PRD
adalah koalisi mereka dengan Partai Bintang Rakyat (PBR),
sebuah partai borjuis sepenuhnya, pada pemilu 2009. Ini bahkan bukan sebuah
koalisi karena PRD tidak
diperbolehkan menggunakan nama, bendera dan program partai mereka. Strategi
elektoral ini gagal total. PRD/PAPERNAS
diam saja mengenai hasil ini. Jadi, ketika pada kongres ke-tujuhnya awal tahun
ini mereka mengganti prinsip partai mereka dari “Sosial Demokrasi Kerakyatan”
ke Pancasila, ini tidaklah mengejutkan. Tidak mampu belajar dari kekeliruan
kebijakan kolaborasi kelas mereka, hanya ada satu jalan: kembali ke kebijakan PKI yang membawa bencana.
Mereka-mereka di dalam PRD
yang menyangkal bahwa PRD telah
mengambil kebijakan kolaborasi kelas hanya perlu melihat dimana PRD sekarang. Banyak dari mereka yang menyangkal
ini di masa lalu akhirnya menyadarinya setelah bertahun-tahun, dan mereka pecah
dari PRD (PDS,
KPRM, dan PRP yang bukan perpecahan langsung tetapi sebuah formasi dari
mantan-mantan kader PRD) atau
berhenti dari partai sepenuhnya dan jalan sendiri-sendiri.
Dari banyak perpecahan dan polemik selama 10 tahun terakhir,
pergerakan kita memperoleh kejelasan ideologi. Menjadi jelas dimana setiap
orang berdiri. Ini adalah proses yang penuh kepahitan yang harus dilalui setiap
gerakan. Mereka yang membuat hingar bingar mengenai perpecahan-perpecahan ini
dan mengumumkannya sebagai sebuah bencana tidak mengerti dialektika gerakan.
Persatuan dibutuhkan di Kiri, tetapi bukan persatuan tanpa prinsip yang
mengangkangi teori. Rakyat pekerja harus bersatu di bawah panji yang bersih,
bukan panji yang penuh tambal sulam.
Kaum Borjuasi
Sekarang
Setelah pukulan besar gerakan 1998, kaum borjuasi tidak bisa
lagi mengandalkan sebuah sistem partai monolitik. Massa rakyat telah menolak
Golkar mentah-mentah dan kemungkinannya kecil kalau partai ini bisa meraih
kembali kejayaan masa lalunya. Jadi, yang kita miliki sekarang adalah sebuah
sistem multi-partai borjuis, dimana kita memiliki 6-8 partai masing-masing
merebut 5-20% suara. Tidak ada satu partaipun yang meraih mayoritas. Pukulan
1998 masih meninggalkan kaum borjuasi terpecah-pecah, tetapi pada akhirnya
mereka masih bersatu bersama. Segera setelah pemilu 2009, enam partai membentuk
koalisi yang memberikan mereka sebuah mayoritas 421 kursi dari 560.
Massa Aksi 1998 juga telah menghantarkan pukulan yang besar
pada negara borjuis. Walaupun banyak hukum-hukum reaksioner Orde Baru masih ada
di tempatnya, negara sudah tidak bisa mengimplementasikan mereka secara
terbuka. Tentara dan polisi sudah tidak bisa digunakan secara terbuka dan
semena-mena untuk meremukkan gerakan. Namun, ketika gerakan menjadi ancaman
yang serius, negara menggunakan semua alatnya untuk merepresinya. Usaha
PAPERNAS untuk ikut pemilu 2009 adalah satu contoh; partai ini bukan hanya
dicegah dari berpartisipasi melalui peraturan elektoral, tetapi mereka juga
diserang secara fisik.
Kekuatan militer masih utuh. Walaupun secara formal
Dwifungsi ABRI telah dihapus,
struktur yang sesungguhnya, Komando Teritorial (KODAM, KODIM, KOREM, KORAMIL,
BABINSA), masih utuh. Tentara juga masih dominan di dalam politik. Kita hanya
perlu mengingatkan diri sendiri bahwa presiden Indonesia sekarang adalah orang
militer.
Akan tetapi, adalah keliru kalau kita berpikir bahwa karena
kelas penguasa terpecah-pecah ke dalam banyak partai berbeda maka mereka lemah.
Sebaliknya, kekuatan Orde Baru telah menjadi semakin percaya diri. Sekarang
mereka dapat melaksanakan kediktaturan kapital di belakang topeng demokrasi.
Mereka bahkan telah mengajukan untuk memberikan Soeharto status pahlawan
nasional. Tindakan semacam ini tidak akan mungkin lima atau sepuluh tahun yang
lalu. Lihat Bagian 2:
Indonesia
di dalam Krisis Ekonomi Global
Krisis
dan Kesadaran Massa
Kaum
Borjuis Nasional Progresif
Masalah
Kebangsaan
Sosialisme
satu-satunya jalan
Tugas
Sekarang
Normal
0
false
false
false
EN-US
X-NONE
X-NONE
MicrosoftInternetExplorer4
Dokumen Perspesktif Nasional
untuk Kongres Militan 2010
Perspektif Indonesia:
Sebuah Estimasi Pertama
1.
Analisa dan perspektif Marxis untuk ekonomi dan politik
Indonesia masihlah cukup terbatas untuk sebuah bangsa yang berpopulasi keempat
terbesar di dunia, sebuah bangsa dengan jumlah penduduk Muslim terbesar, dan
yang paling dominan di Asia Tenggara. Kurangnya analisa semacam ini dapat
dirunut kembali ke kekalahan historis dari gerakan kelas pekerja Indonesia pada
tahun 1965, yang dapat dibilang sebesar kekalahan kelas pekerja Jerman ketika
Nazi berkuasa.
2.
Dengan bangkitnya kembali Marxisme di Indonesia, sebuah
perspektif ekonomi dan politik dari lensa Marxis telah menjadi satu prioritas.
Dari sebuah perspektif yang tepat akan mengalir sebuah aksi yang tepat yang
mampu membawa emansipasi kelas pekerja Indonesia dan lapisan masyarakat
tertindas lainnya: kaum tani miskin, nelayan, dan kamu miskin kota. Dokumen ini bukanlah sebuah usaha yang
pertama untuk mengformulasikan perspektif semacam itu, dan ia tidak akan
menjadi yang terakhir, terutama dengan dunia penuh gejolak yang sedang kita
alami. Ia akan menjadi sebuah estimasi pertama darimana kita bisa meraih
pemahaman akan apa yang perlu dilakukan.
3.
Terlebih lagi, seorang revolusioner yang serius
mendefinisikan tugasnya dari sudut pandang internasional, bukan karena nilai
internasionalisme yang sentimental tetapi karena kenyataan bahwa kapitalisme
adalah internasional. Walaupun untuk alasan-alasan praktikal kaum buruh harus
mengorganisir diri mereka sebagai sebuah kelas dengan negerinya sendiri sebagai
panggung perjuangan yang segera, isi sesungguhnya dari perjuangan kelas adalah
internasional. Oleh karena itu, dokumen ini harus dibaca bersamaan dengan
Dokumen Perspektif Dunia 2010, kalau tidak ia akan kehilangan nilainya sama
sekali. Kita hanya perlu melihat tulisan-tulisan politik Tan Malaka (Menuju
Republik Indonesia,
Massa Aksi, Thesis, dll.) dimana dia selalu mulai dengan analisa internasional
sebelum terjun ke perspektif politik untuk revolusi Indonesia.
Sejarah Massa Aksi
4.
Sejarah Indonesia
selalu menjadi aspek yang paling penting di dalam gerakan. Penyelewengan
sejarah oleh rejim Soeharto sebegitu penuhnya sehingga aksi penting pertama
dari gerakan Indonesia
adalah untuk mengembalikan sejarah “Massa Aksi”. 32 tahun reaksi di bawah
Soeharto bukan hanya telah menghancurkan gerakan kelas pekerja secara fisik,
tetapi juga telah sepenuhnya menghapus secara ideologis semua tradisi
perjuangan kelas dari gerakan. “Massa Mengambang”, inilah terminologi yang
digunakan untuk masyarakat yang dibangun oleh rejim Soeharto: depolitisasi,
ahistoris, dan demobilisasi.
5.
Oleh karena itu, bagi banyak kaum muda, sang pelopor
gerakan, mempelajari kembali tradisi “Massa Aksi” adalah sebuah aksi
revolusioner, dan masih tetap merupakan satu aksi revolusioner. Rejim Soeharto
sangatlah takut dengan sejarah Indonesia,
dan dia patut takut karena sejarah Indonesia adalah sebuah negasi dari
konsep “Massa Mengambang”. Satu karya yang memiliki sebuah pengaruh yang kuat
dalam proses ini adalah Tetralogi Buru
karangan Pramoedya Ananta Toer. Karyanya ini adalah sebanding dengan karya
Chernyshevsky What is to be Done?,
sebagian fiksi sebagian propaganda, sebuah karya yang mempengaruhi seluruh
generasi muda Rusia yang lalu menjadi Bolshevik dan memimpin Revolusi Oktober.
Tidak mengejutkan bahwa hanya setelah satu tahun penerbitan buku ini rejim
Soeharto segera melarangnya. Tetapi ini tidak menghentikan teredarnya buku-buku
ini yang dibaca oleh kaum muda di bawah tanah.
6.
Sejarah Indonesia
adalah satu sejarah yang penuh dengan Massa Aksi. Semenjak bangkitnya
nasionalisme, mobilisasi massa
telah menjadi karakter utama. Berkebalikan dengan apa yang coba digambarkan
oleh rejim Soeharto, perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak diperjuangkan hanya
di medan militer.
Ia diperjuangkan di medan
politik dengan mobilisasi massa.
Bahkan ketika ia diperjuangkan di medan
militer, pasukan bersenjata mengambil bentuk milisi rakyat yang kendalinya
jatuh di tangan organisasi-organisasi massa.
7.
Hingga tahun 1965, semua lapisan masyarakat Indonesia
termobilisasi secara politik. Politik merasuki semua aspek kehidupan. Ada sebuah situasi
perjuanga kelas yang tajam pada saat itu. 1960an adalah sebuah periode revolusi
(dan konter revolusi) di seluruh dunia. Insiden G30S menjungkirbalikan semua
ini dan Indonesia
tidak pernah sama lagi.
Konter Revolusi 1965
8.
Apa yang terjadi pada Partai Komunis Indonesia? Ini
adalah pertanyaan membara yang masih menjangkiti pikiran kaum revolusioner Indonesia. Oleh
karena kita harus mengunjungi permasalahan ini sebelum kita bisa berbicara
mengenai Reformasi 1998 dan kemudian prospek untuk revolusi mendatang.
9.
Sebelum kehancurannya, PKI
mengklaim memiliki 3 juta anggota. PKI
juga memiliki banyak organisasi-organisasi massa afiliasi dan simpatisas. Pemuda Rakyat
dengan 1,5 juta anggota, SOBSI dengan 3,8 juta anggota (dari total 7 juta buruh
terorganisir), Barisan Tani Indonesia dengan 5 juta anggota, dan Gerwani dengan
750 ribu anggota. Ini
membuat PKI sebagai partai komunis
ketiga terbesar setelah Uni Soviet dan Tiongkok. Dengan satu pukulan, dan tanpa
perlawanan yang berarti, PKI – dan
dengannya seluruh gerakan buruh dan tani – dibabat habis oleh jendral-jendral
reaksioner di bawah panduan kekuatan-kekuatan imperialis “demokratis”. 32 tahun
reaksi menyusul. Tidak ada kekalahan yang lebih mendemoralisasi daripada
kekalahan tanpa perlawanan.
10.
Keganasan kelas penguasa bukanlah sesuatu yang perlu
membuat kita terkejut. Semenjak usaha pertama revolusi proletar, yakni Komune
Paris pada tahun 1871, kelas penguasa sudah brutal dalam serangan balik mereka.
Untuk membandingkannya, kekalahan Komune Paris mengakibatkan dibantainya 80
ribu orang di sebuah kota
dengan populasi 1,8 juta orang. Populasi Indonesia pada saat pembantaian
1965-66 adalah 90 juta. Penyebab kekalahan revolusi Indonesia adalah lebih dalam
daripada keganasan atau trik-trik kelas penguasa. Faktor tersebut adalah
sesuatu yang niscaya. Faktor yang penting bagi kita adalah kebijakan politik PKI yang keliru.
11.
PKI adalah
partai massa
buruh Indonesia.
Namun ia mempunyai kemalangan tumbuh di bawah panduan kaum Stalinis Rusia dan
Tiongkok setelah kegagalan pemberontakan 1926-27. Ketika partai ini dibentuk
kembali secara resmi pada tahun 1945, seperti kebanyakan partai-partai komunis
lainnya, ia telah menjadi alat kebijakan luar negeri Moskow dan mengambil
kebijakan yang keliru yang membawa kehancuran gerakan kelas pekerja. Adalah
penting untuk memisahkan niat luhur para pemimpin ini (Aidit, Njoto, Lukman,
Sudisman) dari kekeliruan politik mereka. Kalau tidak kita tidak akan bisa maju
kemana-mana.
12.
Hingga tahun 1930an, Partai Komunis Uni Soviet sudah
bukan lagi partai yang sama yang memimpin Revolusi Oktober. Ia telah menjadi
alat birokrasi Soviet untuk mempertahankan privilesenya. Sudah bukan lagi
kepentingan mereka untuk berjuang demi sosialisme sedunia kendati
retorika-retorika mereka. Kaum birokrasi ingin hidup damai dengan kapitalisme
dan oleh karenanya menjadi sebuah rem aktif dalam perjuangan sosialis di
seluruh dunia. Partai Komunis Tiongkok dibangun berdasarkan gambaran PKUS, dan
negara Tiongkok mulai darimana Revolusi Rusia berakhir: sebagai sebuah negara
buruh yang cacat. Kedua negara ini memiliki pengaruh politik yang besar di
dalam gerakan kelas pekerja untuk seluruh periode.
13.
Fakta sejarah ini menentukan nasib banyak partai-partai
komunis seluruh dunia. Kepemimpinan PKI
dididik di dalam “teori dua-tahap” Stalinis (yang sebenarnya adalah pengulangan
kebijakan Menshevik), yang di dalam esensinya mengatakan bahwa di negara
terbelakang seperti Indonesia
tahapan pertama revolusi memiliki karakter borjuis-demokratik guna menghapus
feodalisme dan imperialisme. Oleh karena itu, tugas kaum komunis di negeri
seperti itu adalah untuk beraliansi dengan kaum borjuis progresif, untuk
mengsubordinasi perjuangan kelas di bawah perjuangan nasional melawan
feodalisme dan imperialisme. Hanya setelah ini sebuah pintu akan terbuka untuk
perjuangan kelas menuju sosialisme.
14.
Dari “Masyarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia
(Masalah-Masalah Mendasar Revolusi Indonesia)”,
yang merupakan perspektif politik PKI
yang ditulis oleh D.N. Aidit, yakni “sebuah manual untuk digunakan dalam
sekolah partai di pusat dan di propinsi-propinsi dan disetujui oleh Plenum
Komite Pusat, Juli 1957”, kita akan melihat dengan dekat “teori dua-tahap”nya PKI dan kontradiksi-kontradiksi di dalam teori dan
kebijakan ini.
15.
Dokumen ini dimulai dengan sebuah analisa masyarakat Indonesia, yang
diklaim adalah semi-feodal dan semi-kolonial. Dari ini mengalir bahwa “musuh
utama dari revolusi Indonesia
pada saat ini adalah ... imperialisme dan feodalisme.”
Ini adalah kesalahan yang pertama. Secara fundamental, masyarakat Indonesia
selalu merupakan masyarakat kapitalis. Mode produksinya didominasi oleh mode
produksi kapitalis, yakni kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi. Ekonomi Indonesia telah
terikat dengan kapitalisme semenjak kontak pertamanya dengan kekuatan kolonial
Belanda lebih dari 400 tahun yang lalu (baca Lampiran “Sejarah Perkembangan
Kapitalisme Indonesia”).
Indonesia
adalah semi-feodal hanya dalam pengertian bahwa kaum borjuis nasional – seperti
kaum borjuis nasional di negera-negara belum berkembang lainnya – tidak pernah
mampu melaksanakan tugas historisnya dalam reforma agraria, tidak pada saat itu
dan tidak sekarang. Indonesia
adalah semi-kolonial hanya dalam pengertian bahwa di dalam konteks kapitalisme
global dan perkembangan tidak-berimbang dari kapitalisme, seperti negara-negara
kapitalis kecil lainnya, Indonesia
menjadi mangsa dari negara-negara kapitalis yang lebih besar.
16.
Dari kesalahan utama ini maka mengalir perspektif bahwa
tugas revolusi Indonesia adalah untuk menciptakan “pemerintahan rakyat” dan
bahwa “pemerintahan ini (Pemerintahan Rakyat Demokratis) bukanlah sebuah
pemerintahan kediktaturan proletariat tetapi sebuah pemerintah kediktaturan
rakyat.”
17.
Marx dan Engels, dan kemudian Lenin, telah berjuang
dengan keras melawan konsep “negara atau pemerintahan rakyat”. Lenin di dalam Negara dan Revolusi menjelaskan ini
dengan jelas:
18.
“ ‘Negara Rakyat bebas’ adalah suatu program tuntutan
dan suatu semboyan umum yang tersebar luas di kalangan kaum Sosial-Demokrat
Jerman dalam tahun 1870-an. Semboyan ini tidak mempunyai isi politik sama
sekali kecuali ia melukiskan pengertian tentang demokrasi dengan gaya filistin yang
muluk-muluk. Sejauh ia digunakan untuk, dengan jalan yang sah menurut
undang-undang, menunjukkan suatu republik demokratis, Engels bersedia untuk
‘membenarkan’ penggunaannya itu ‘untuk suatu waktu saja’ dipandang dari sudut
agitasional. Tetapi itu adalah semboyan
oportunis, karena ia tidak saja menyatakan pembagusan demokrasi borjuis, tetapi
juga gagal untuk memahami kritisisme sosialis terhadap Negara pada umumnya.
... Lebih jauh lagi, setiap Negara adalah suatu ‘kekuatan penindas khusus’
terhadap kelas tertindas. Maka dari itu, setiap Negara tidak
‘bebas’ dan bukan ‘negara Rakyat’. Marx dan Engels menjelaskan hal ini
berkali-kali kepada kawan-kawan separtainya selama tahun-tahun 70-an.” (Lenin, Negara dan Revolusi) [Penekanan
ditambahkan]
19.
Pemerintahan Soekarno bukanlah sebuah kediktaturan
militer. Di bawah pemerintahannya, kaum komunis diberikan kebebasan; mereka
menduduki posisi-posisi kabinet dan parlemen. Engels siap memberikan semacam
pembenaran sementara untuk penggunaan slogan “pemerintahan rakyat” di Jerman pada
tahun 1870an karena mereka pada saat itu hidup di bawah Kekaisaran Jerman,
sebuah otokrasi. Tetapi ini bukanlah kasusnya di Indonesia jaman Soekarno. Slogan
“pemerintahan rakyat”nya PKI
hanyalah sebuah kapitulasi program kelas pekerja terhadap borjuis nasional.
20.
Guna membenarkan kebijakan dua-tahap, sebuah kelas
borjuis nasional yang progresif harus diciptakan. Maka dari itu, PKI memelintir karakter kelas borjuasi di Indonesia:
“Kelas borjuasi terdiri dari para komprador dan kaum borjuis nasional. Kaum borjuis
besar yang karakternya komprador melayani secara langsung kepentingan kapitalis
asing besar dan oleh karenanya digemukkan oleh mereka ... Akan tetapi, kaum
borjuis nasional mempunyai dua fitur. Sebagai sebuah kelas yang juga tertindas
oleh imperialisme dan seluruh perkembangannya tercekik oleh feodalisme, kelas
ini adalah anti-imperialis dan anti-feodal, dan dalam hal ini ia adalah salah
satu kekuatan revolusioner ... Kaum borjuis nasional Indonesia, karena ia juga
ditindas oleh imperialisme asing, dapat, di situasi tertentu dan dalam batasan
tertentu, mengambil bagian dalam perjuangan melawan imperialisme. Dalam situasi
seperti itu, kaum proletariat Indonesia harus
membangun persatuan dengan kaum borjuis nasional dan mempertahankan persatuan
ini dengan seluruh kekuatannya.”
[Penekanan ditambahkan]
21.
Ada
kaum borjuis yang baik dan ada kaum borjuis yang jahat. Tesis ini berlawanan
dengan analisa kelas Marxis. Benar bahwa pada satu saat tertentu bisa ada
perpecahan di dalam kelas penguasa karena satu seksi mungkin punya kepentingan
ekonomi atau politik sekunder yang
berbeda dengan seksi-seksi lain. Akan tetapi, kepentingan primer dari seluruh
borjuasi tetap sama: penindasan kelas pekerja. Seluruh eksistensi dari kelas
ini adalah kekuasaannya di atas kelas proletariat.
22.
Borjuasi nasional Indonesia lahir terlambat di dalam
sejarah. Sejak awal, keberadaannya terikat oleh imperialisme. Bahkan lebih
parah, tidak seperti kaum borjuasi nasional di negara-negara berkembang lainnya
(India
dan Tiongkok misalnya) yang memainkan peran aktif dan dominan dalam gerakan
nasionalis, kelas borjuasi Indonesia
tidak pernah memimpin gerakan nasionalis.
23.
Dengan penilaian mereka yang keliru mengenai kelas
borjuasi nasional, PKI lalu secara
aktif mencari aliansi dengan borjuasi progresif dengan cara mengsubordinasikan
perjuangan kelas di bawah perjuangan nasional, mengsubordinasikan kelas pekerja
di bawah kelas borjuis nasional, kendati layanan bibir mereka bahwa “revolusi Indonesia tidak
akan berhasil kalau ia tidak berada di bawah kepemimpinan kelas proletar Indonesia.”
Sejarah tidaklah baik hati kepada mereka yang telah mencoba mencari borjuasi
nasional progresif karena sampai sekarang mereka belum ditemukan. Dimanakah
kelas borjuasi progresif ini ketika PKI
dihancurkan dan jutaan pendukungnya dibantai? Dimanakah kelas borjuasi
progresif selama kediktaturan militer Soeharto?
24.
Ketidakkonsistenan teori PKI
mengenai watak kelas borjuasi nasional menjadi semakin vulgar:
25.
“Dalam menghadapi karakter kebimbangan dari kelas
borjuasi nasional Indonesia,
perhatian harus diberikan ke kenyataan bahwa justru karena mereka lemah secara politik dan ekonomi maka tidaklah
sulit untuk menarik kelas ini ke kiri guna membuatnya berdiri teguh di sisi
revolusi selama kekuatan progresif besar dan taktik Partai Komunis tepat. Ini
berarti bahwa elemen kebimbangan dari kelas ini tidaklah fatal, ini dapat
diatasi. Tetapi di pihak lain, bila kekuatan progresif tidak besar dan taktik
Partai Komunis tidak tepat, maka borjuasi nasional yang lemah secara ekonomi dan
politik ini akan mudah lari ke kanan dan menjadi musuh revolusi.”
[Penekanan Ditambahkan]
26.
Bila kaum borjuasi nasional sudah “lemah secara politik
dan ekonomi”, maka semakin banyak alasan untuk menyingkirkan mereka ke samping.
Justru karena mereka lemah maka mereka tidak boleh dijadikan sekutu. Di sebuah
peperangan, beraliansi dengan sekutu yang lemah tidak pernah dianjurkan karena
daripada menguatkan justru kekuatan kita akan menjadi lemah.
27.
Sayangnya, sekarang kita melihat argumen serupa
digunakan oleh PRD/PAPERNAS untuk
membenarkan aliansi mereka dengan kaum borjuasi nasional. Sejarah mengulangi
dirinya, pertama kali sebagai sebuah tragedi, dan kedua kali sebagai sesuatu
yang konyol.
28.
Mari kita lihat bagaimana Lenin mendekati permasalahan
aliansi dengan kelas-kelas dan kelompok-kelompok sosial lainnya. Selama era
Tsar, salah satu tugas mendesak dari kelas proletar Rusia adalah untuk melawan
otokrasi Tsar. Di Tugas-tugas Kaum Sosial
Demokrat Rusia (catatan: sebelum 1914, Sosial Demokrat adalah nama lain
untuk kaum Marxis revolusioner) yang ditulis oleh Lenin pada tahun 1897 ketika
di Siberia, dia menulis:
29.
“Namun dalam perjuangan demokratik dan politik, kelas
buruh Rusia tidak berdiri sendirian; di sisinya adalah semua elemen-elemen,
strata-strata, dan kelas-kelas oposisi, karena mereka memusuhi absolutisme dan
sedang berjuang melawannya dalam satu atau lain bentuk. Disini di samping
proletariat berdiri elemen oposisi borjuasi, atau kelas yang terdidik, atau
kelas borjuasi kecil, atau kelompok-kelompok nasional, agama, sekte, dsb.,
dsb., yang ditindas oleh pemerintahan otokrasi. Pertanyaan yang secara wajar
timbul adalah apa sikap yang harus diambil oleh kelas buruh terhadap
elemen-elemen ini. Terlebih lagi, haruskah kelas buruh bergabung dengan mereka
dalam perjuangan bersama melawan otokrasi? ... Bukankah mereka harus bergabung
dengan semua elemen oposisi politik untuk berjuang melawan otokrasi, dan
mengesampingkan sosialisme untuk sementara? Bukankah ini penting untuk
menguatkan perjuangan melawan otokrasi?”
30.
“Mari kita selidiki dua pertanyaan ini.”
31.
“Sikap kelas buruh, sebagai seorang pejuang melawan
otokrasi, terhadap semua kelas-kelas dan kelompok-kelompok sosial dalam oposisi
politik ditentukan dengan jitu oleh prinsip-prinsip dasar yang tertulis di Manifesto Komunis. Kaum Sosial Demokrat
mendukung kelas sosial yang progresif melawan kelas reaksioner ... Dukungan ini tidak mensyaratkan, dan juga
tidak membutuhkan, kompromi dengan program-program dan prinsip-prinspip
non-Sosial Demokrat – dukungan ini adalah sebuah dukungan yang diberikan
kepada seorang sekutu untuk melawan seorang musuh tertentu. Terlebih lagi, kaum
Sosial Demokrat memberikan dukungan ini guna mempercepat jatuhnya musuh
bersama, tetapi tidak mengharapkan
apa-apa untuk dirinya sendiri dari sekutu-sekutu sementaranya, dan tidak
berkompromi apapun kepada mereka.”
32.
“ ... Ini membawa kita pada pertanyaan yang kedua.
Sementara menunjukkan solidaritas antara berbagai kelompok oposisi dengan kaum
buruh, kaum Sosial Demokrat selalu
memisahkan kaum buruh dari yang lainnya, mereka selalu menunjukkan bahwa
solidaritas ini adalah sementara dan kondisional, mereka selalu menekankan
kemandirian identitas kelas proletariat, yang esok hari dapat menemukan
dirinya bermusuhan dengan sekutunya hari ini. Kita dibilangi bahwa “aksi
semacam ini akan melemahkan semua pejuang kebebasan politik sekarang ini.” Kita
akan membalasnya bahwa aksi ini akan memperkuat semua perjuang kebebasan
politik. Hanya para pejuang yang kuat yang bergantung pada kepentingan riil kelas-kelas,
dan setiap usaha untuk mengaburkan
kepentingan-kepentingan kelas, yang telah memainkan peran utama dalam
masyarakat sekarang ini, hanya akan melemahkan para pejuang. Ini adalah
poin yang pertama. Poin yang kedua adalah bahwa dalam berjuang melawan
otokrasi, kelas buruh harus memisahkan dirinya sendiri, karena dialah
satu-satunya musuh otokrasi yang konsisten sepenuhnya dan tidak berbelas
kasihan, hanya di antara kelas buruh dan otokrasi mustahil bisa ada kompromi,
hanya di dalam kelas buruh demokrasi dapat menemukan seorang jawara yang tidak
ragu-ragu, yang tidak bimbang dan tidak melihat ke belakang. Permusuhan
kelas-kelas, kelompok-kelompok, dan strata-strata populasi yang lain terhadap
otokrasi adalah terbatas, demokrasi mereka selalu menengok ke belakang.”
33.
“Proletariat sendiri dapat menjadi – dan karena posisi
kelasnya harus menjadi – musuh absolutisme yang teguh dan demokratis secara
konsisten, yang tidak membuat konsesi dan kompromi apapun. Kaum proletar
sendiri dapat menjadi pejuang pelopor untuk kebebasan politik dan institusi
demokrasi. Pertama, ini karena tirani politik paling membebani proletariat yang
posisinya tidak memungkinkannya untuk memodifikasi tirani itu – ia tidak punya
akses ke otoritas tinggi, bahkan tidak ke para pejabat, dan ia tidak punya
pengaruh atas opini publik. Kedua, proletariat sendirian dapat membawa
demokratisasi penuh atas sistem politik dan sosial, karena ini akan menaruh
sistem tersebut di tangan kaum buruh. Inilah
mengapa merger aktivitas-aktivitas politik kelas buruh dengan aspirasi
demokrasi dari kelas dan kelompok lain akan melemahkan gerakan demokrasi, akan
melemahkan perjuangan politik, akan membuatnya lebih kurang teguh, konsisten,
dan lebih rentan pada kompromi. Di pihak lain, bila kelas buruh berdiri
sebagai pejuang pelopor untuk institusi demokrasi, ini akan memperkuat gerakan
demokrasi, akan memperkuat perjuangan pembebasan politik, karena kelas buruh
akan mendorong semua elemen demokratis dan oposisi politik lainnya, akan
mendorong kaum liberal ke politik radikal, akan mendorong kaum radikal menuju
perpecahan penuh dari seluruh struktur politik dan sosial masyarakat kini.”
[Penekanan Ditambahkan]
34.
Kami minta maaf bila kami harus mengkutip secara
panjang dari Lenin, karena kami mencoba untuk menghindari kebiasaan mengutip
secara selektif dan secara fragmen yang sering dilakukan oleh para kaum
“Leninis”.
35.
Jadi jelas bagaimana Bolshevik mendekati kelas-kelas
sosial lainnya di dalam perjuangan melawan absolutisme: mengenali bahwa
proletariat dan kaum borjuasi nasional dapat memiliki kepentingan yang sama
untuk tujuan tertentu yang spesifik, tetapi pada saat yang sama mengkritik
secara terbuka keterbatasan kaum borjuasi dalam perjuangan mereka dan
memperingatkan untuk tidak merger dalam aktivitas demokratis dengan mereka.
Dalam esensinya, kelas proletariat harus menjunjung kemandirian kelasnya dan
tidak mengesampingkan tujuan sosialisnya.
36.
Ini ditulis pada tahun 1897, sebelum Revolusi 1905 yang
menghantarkan pukulan pertama terhadap otokrasi dan mengungkapkan lebih besar
kebangkrutan kaum borjuasi nasional. Ini yang ditulis oleh Lenin pada tahun
1906 di “Tugas-Tugas Demokratik Kaum Proletariat Revolusioner” setelah
pengkhianatan dan kepengecutan kaum borjuis nasional dalam perjuangan mereka
melawan otokrasi:
37.
“ ... kaum borjuasi secara keseluruhan tidak mampu
melakukan perjuangan yang teguh melawan otokrasi; dalam perjuangannya ia takut
kehilangan properti yang mengikatnya pada orde yang eksis sekarang; ia takut terhadap aksi buruh yang sepenuhnya
revolusioner, yang tidak akan berhenti pada revolusi demokratik tetapi
berhasrat bergerak ke revolusi sosialis; ia takut pecah sepenuhnya dengan
para birokrat negara, dengan kaum birokrasi, yang kepentingannya terikat oleh
seribu benang dengan kepentingan kelas berpunya. Untuk alasan ini, perjuangan
kaum borjuasi untuk kebebasan penuh dengan keraguan, tidak konsisten, dan
setengah-hati.”
38.
PKI,
kendali klaim mereka sebagai kaum Leninis, tampaknya tidak membaca dengan
seksama tulisan-tulisan Lenin. Kaum buruh dan tani Indonesia harus membayar sangat
mahal karena kebijakan keliru PKI:
tiga puluh dua tahun kediktaturan militer yang merampok seluruh generasi dari
pejuang-pejuang kelasnya dan tradisi perjuangan kelas.
Jatuhnya Soeharto
39.
Setelah kejatuhan Uni Soviet tahun 1991, kelas borjuasi
seluruh dunia bersuka-cita. Mereka semakin menajamkan taring mereka untuk
serangan ideologis. “Kapitalisme telah memang.” begitu seru mereka.
40.
Indonesia
diangkat sebagai sebuah contoh bagaimana sebuah negeri bisa menjadi makmur bila
ia memeluk kapitalisme. Akan tetapi, di balik keajaiban Indonesia
adalah awal dari gerakan yang akan menggoncang seluruh wilayah tersebut. Awal
1990an kita menyaksikan terbentuknya embrio kaum muda yang nantinya akan
memimpin perjuangan melawan Soeharto. Pelajar-pelajar ini berkelompok di
sekitar PRD, satu-satunya kekuatan
Kiri yang terorganisir pada saat itu, bekerja di bawah tanah dengan ancaman
penculikan dan penghilangan.
41.
Awal 1990 kita melihat bangkitnya gerakan massa. Insiden-insiden
protes kaum tani meningkat. Jumlah pemogokan yang tercatat meningkat dari 61
pada tahun 1990 ke 300 pada tahun 1994. Banyak yang tidak tercatat. Ini karena
keajaiban ekonomi Indonesia
dibangun dengan mengeksploitasi buruh dan tani. Pekerjaan semakin sulit
didapati di desa-desa, and semakin banyak petani yang terpaksa pindah ke kota dimana mereka
menjadi buruh urban atau menjadi kaum miskin kota.
42.
Kaum borjuasi terlalu percaya diri dengan kemenangan
mereka pada tahun 1991. Begitu percaya dirinya bahwa tidak akan pernah ada
revolusi lagi, mereka melakukan orgi spekulasi tanpa pertimbangan apapun. Tujuh
tahun sebelum krisis ekonomi 1997, ada influks kapital yang amat besar ke
sektor swasta Indonesia,
dari US$ 314 juta tahun 1989 menjadi US$ 11,5 milyar pada tahun 1996, sebuah
peningkatan sebesar 3500%. Kapital swasta yang masif ini, kebanyakan adalah
investasi spekulatif jangka pendek di sektor real estate, mendorong pertumbuhan
ekonomi yang mencapai 10% per tahun. Gelembungm ekonomi ini harus pecah karena
pada akhirnya semua gedung pencakar langit dan apartemen dibangun tanpa ada
pembeli. Ini adalah krisis over-produksi yang klasik.
43.
Krisis Finansial Asia 1997 adalah sebuah bencana, bukan
hanya secara ekonomi tetapi juga secara politik untuk kelas penguasa. Hanya 8
tahun yang lalu mereka berbicara mengenai “akhir sejarah”, bahwa tidak akan
pernah ada kemerosotan lagi di dalam ekonomi kapitalis, dan tidak akan pernah
ada lagi revolusi. Di sini di Indonesia,
negara yang dipamerkan sebagai contoh dari keunggulan kapitalisme, sistem
tersebut runtuh. “Massa
mengambang” hancur di bawah tekanan.
44.
Dari dipuja sebagai “bapak pembangunan”, dalam beberapa
bulan Soeharto menjadi simbol dari semua yang dibenci oleh rakyat. Dalam sebuah
situasi pra-revolusioner, salah satu karakter yang selalu kita lihat adalah
adanya perpecahan di dalam kelas penguasa: antara satu seksi yang ingin
melakukan reforma dari atas guna mencegah revolusi dari bawah, dan satu seksi
yang lain yang kawatir bahwa reforma apapun justru akan membuat rakyat tambah
radikal.
45.
Radikalisasi massa
selama 9 tahun terakhir telah membuat posisi Soeharto semakin sulit sehingga
bahkan orang kepercayaannya, Harmoko, ketua MPR,
mendorong dia untuk mundur. Kaum kapitalis, domestik dan asing, mulai
mencampakkan dia dengan tiba-tiba menangis air mata buaya mengenai represi
demokrasi di bawah rejimnya. Sebuah kompromi akhirnya diputuskan: Soeharto akan
turun tetapi dia tidak boleh diadili, dan kaum reformis akan mengambil
kepemimpinan gerakan, untuk memastikan kalau gerakan ini berjalan di saluran yang
aman.
46.
Kiri, yang secara praktis adalah PRD sebagai satu-satunya kekuatan yang
terorganisir, tidak siap merebut kekuasaan. Ada banyak faktor yang bermain, masing-masing
saling menguatkan satu sama lain. 32 tahun reaksi di bawah Soeharto jelas
adalah faktor yang utama. Gerakan buruh sebegitu hancurnya dan remuknya untuk
seluruh generasi sehingga ini masih membebani kesadaran massa dan kepemimpinannya. Membuat masalah
tambah parah adalah perspektif keliru dari PRD,
yakni bergantung pada kaum borjuis progresif, yakni para pemimpin reformis.
Paska Reformasi
47.
Gerakan Reformasi belum mengubah satupun hal yang
fundamental di Indonesia. Ketika nampaknya kekuasaan ada di tangan rakyat
dengan jutaan orang di jalan dan menduduki gedung parlemen, kekuasaan
diserahkan kembali ke kelas penguasa. Apa yang sebenarnya terjadi?
48.
Kaum reformis telah memainkan peran historis mereka:
menyelamatkan kapitalisme di saat-saat genting. Oleh karena itu, pengkhianatan
mereka adalah satu hal yang niscaya. Ini tidak terelakkan. Maka usaha untuk
menyalahkan kegagalan Reformasi 1998 pada para reformis ini tidak akan membawa
kita kemana-mana. Tuduhan “reformis gadungan” yang telah menjadi sebuah slogan
umum di antara kaum Kiri, terutama setelah kegagalan gerakan 1998, menunjukkan
ketidakmampuan untuk memahami watak dari kaum borjuis reformis. Mereka-mereka
yang disebut “reformis gadungan” justru adalah reformis tulen.
49.
Tugas mendesak dari Reformasi 1998 adalah penumbangan
kediktaturan militer Soeharto. Kita mengenali bahwa demokrasi parlementer
adalah medan
yang lebih baik bagi perjuangan kelas buruh. Akan tetapi, adalah satu hal untuk
mengenali perlunya demokrasi parlementer untuk menggantikan kediktaturan
militer, adalah satu hal yang lain lagi untuk mengharapkan bahwa demokrasi
parlementer dapat direalisasi oleh kaum borjuis reformis. Hanya buruh, dengan
aliansi bersama kaum tani dan miskin kota,
yang dapat diandalkan untuk melaksanakan tugas-tugas demokratis sampai selesai.
Kita tidak mengharapkan apa-apa dari kaum borjuasi. Ketergantungan PRD pada kaum borjuis nasional progresif telah
menciptakan sebuah kebingungan di antara anggota PRD
dan aktivis di sekitarnya. Ketika semua kaum borjuis reformis mengkhianati
gerakan, ini menyebabkan kebingungan ideologis yang lalu membawa demoralisasi di
dalam gerakan selama 3-5 tahun. Satu-satunya jawaban yang disediakan adalah
bahwa reformis-reformis ini adalah “reformis gadungan”; dengan ini kampanye
untuk mencari reformis tulen dimulai kembali.
50.
Dapatkah Kiri merebut kekuasaan dan membawa sosialisme pada
tahun 1998? Dengan keuntungan melihat ke depan, mempertimbangkan semua faktor,
kita dapat mengatakan bahwa jawabannya adalah negatif. Untuk merebut kekuasaan,
buruh membutuhkan sebuah partai yang siap untuk mengambil kekuasaan. Kekalahan
1965 merampok kelas buruh dari kesempatan ini. PRD,
satu-satunya partai pada saat itu, terlalu muda dan ia tidak memiliki
kepemimpinan yang diperlukan untuk bisa menghadapi masalah kekuasaan.
51.
Akan tetapi, bila saja PRD
memiliki program yang tepat, ia dapat menjadi lebih kuat setelah kegagalan
Reformasi. Dengan taktik yang tepat, PRD
dapat mundur secara teratur dan tidak terpecah-pecah yang lalu membuka periode
demoralisasi setelah itu. Sebuah pasukan yang baik adalah pasukan yang dapat
mundur secara teratur untuk mempersiapkan serangan baru yang lebih besar.
52.
Ini bukan berarti kita tidak mendukung reforma-reforma.
Kita mendukung reforma selama reforma tersebut masih memiliki kekuatan vital,
selama reforma ini menyerang basis rejim penguasa. Contohnya, ketika Gus Dur berbicara
mengenai penghapusan hukum anti-komunis, sikap kaum revolusioner adalah untuk
mendukung tuntutan ini tetapi tidak mendukung pemerintahan Gus Dur. Kita
beragitasi luas untuk tuntutan ini dengan
cara dan syarat-syarat kita sendiri, yakni bahwa hanya pemerintah buruhlah
yang dapat memenuhi secara penuh tuntutan ini, bahwa kita hanya mempercayai
buruh untuk memenuhi tuntutan ini. Kita tidak mengharapkan apa-apa dari
pemerintahan borjuis liberal Gus Dur. Kita mendukung reforma selalu dengan
perspektif buruh merebut kekuasaan. Hanya dengan ini kita dapat mempersiapkan
kelas buruh untuk tugas historis mereka. Dengan kebijakan yang mandiri kelas
seperti ini, anggota-anggota partai revolusioner tidak akan kebingungan. Justru
mereka akan mendapatkan kepercayaan diri dan kejelasan akan tugas selanjutnya.
53.
Nasib PRD
sekarang adalah satu-satunya kesimpulan logis dari kebijakan mereka. Dengan
setiap tahun berlalu, PRD semakin
bergeser ke kebijakan kolaborasi kelas. Banyak kadernya yang telah bergabung
dengan partai-partai borjuasi. Awalnya, di mata mereka yang baru di politik,
retorika PRD masih terdengar
radikal dan revolusioner. Tetapi, di balik frase-frase revolusioner ini adalah
gagasan “dua-tahap”, gagasan untuk mendukung kaum borjuis nasional progresif.
54.
Titik-balik final dari PRD
adalah koalisi mereka dengan Partai Bintang Rakyat (PBR),
sebuah partai borjuis sepenuhnya, pada pemilu 2009. Ini bahkan bukan sebuah
koalisi karena PRD tidak
diperbolehkan menggunakan nama, bendera dan program partai mereka. Strategi
elektoral ini gagal total. PRD/PAPERNAS
diam saja mengenai hasil ini. Jadi, ketika pada kongres ke-tujuhnya awal tahun
ini mereka mengganti prinsip partai mereka dari “Sosial Demokrasi Kerakyatan”
ke Pancasila, ini tidaklah mengejutkan. Tidak mampu belajar dari kekeliruan
kebijakan kolaborasi kelas mereka, hanya ada satu jalan: kembali ke kebijakan PKI yang membawa bencana.
55.
Mereka-mereka di dalam PRD
yang menyangkal bahwa PRD telah
mengambil kebijakan kolaborasi kelas hanya perlu melihat dimana PRD sekarang. Banyak dari mereka yang menyangkal
ini di masa lalu akhirnya menyadarinya setelah bertahun-tahun, dan mereka pecah
dari PRD (PDS,
KPRM, dan PRP yang bukan perpecahan langsung tetapi sebuah formasi dari
mantan-mantan kader PRD) atau
berhenti dari partai sepenuhnya dan jalan sendiri-sendiri.
56.
Dari banyak perpecahan dan polemik selama 10 tahun
terakhir, pergerakan kita memperoleh kejelasan ideologi. Menjadi jelas dimana
setiap orang berdiri. Ini adalah proses yang penuh kepahitan yang harus dilalui
setiap gerakan. Mereka yang membuat hingar bingar mengenai
perpecahan-perpecahan ini dan mengumumkannya sebagai sebuah bencana tidak
mengerti dialektika gerakan. Persatuan dibutuhkan di Kiri, tetapi bukan
persatuan tanpa prinsip yang mengangkangi teori. Rakyat pekerja harus bersatu
di bawah panji yang bersih, bukan panji yang penuh tambal sulam.
Kaum Borjuasi
Sekarang
57.
Setelah pukulan besar gerakan 1998, kaum borjuasi tidak
bisa lagi mengandalkan sebuah sistem partai monolitik. Massa rakyat telah menolak Golkar mentah-mentah
dan kemungkinannya kecil kalau partai ini bisa meraih kembali kejayaan masa
lalunya. Jadi, yang kita miliki sekarang adalah sebuah sistem multi-partai
borjuis, dimana kita memiliki 6-8 partai masing-masing merebut 5-20% suara.
Tidak ada satu partaipun yang meraih mayoritas. Pukulan 1998 masih meninggalkan
kaum borjuasi terpecah-pecah, tetapi pada akhirnya mereka masih bersatu
bersama. Segera setelah pemilu 2009, enam partai membentuk koalisi yang
memberikan mereka sebuah mayoritas 421 kursi dari 560.
58.
Massa Aksi 1998 juga telah menghantarkan pukulan yang
besar pada negara borjuis. Walaupun banyak hukum-hukum reaksioner Orde Baru
masih ada di tempatnya, negara sudah tidak bisa mengimplementasikan mereka
secara terbuka. Tentara dan polisi sudah tidak bisa digunakan secara terbuka
dan semena-mena untuk meremukkan gerakan. Namun, ketika gerakan menjadi ancaman
yang serius, negara menggunakan semua alatnya untuk merepresinya. Usaha
PAPERNAS untuk ikut pemilu 2009 adalah satu contoh; partai ini bukan hanya
dicegah dari berpartisipasi melalui peraturan elektoral, tetapi mereka juga
diserang secara fisik.
59.
Kekuatan militer masih utuh. Walaupun secara formal
Dwifungsi ABRI telah dihapus,
struktur yang sesungguhnya, Komando Teritorial (KODAM, KODIM, KOREM, KORAMIL,
BABINSA), masih utuh. Tentara juga masih dominan di dalam politik. Kita hanya
perlu mengingatkan diri sendiri bahwa presiden Indonesia sekarang adalah orang
militer.
60.
Akan tetapi, adalah keliru kalau kita berpikir bahwa
karena kelas penguasa terpecah-pecah ke dalam banyak partai berbeda maka mereka
lemah. Sebaliknya, kekuatan Orde Baru telah menjadi semakin percaya diri.
Sekarang mereka dapat melaksanakan kediktaturan kapital di belakang topeng
demokrasi. Mereka bahkan telah mengajukan untuk memberikan Soeharto status
pahlawan nasional. Tindakan semacam ini tidak akan mungkin lima atau sepuluh tahun yang lalu.
|