facebooklogocolour

pramoedyaBerikut adalah ringkasan materi yang disampaikan oleh Yohana Ilyasa dari Militan Indonesia dalam acara diskusi “Pramoedya, Dalam Perspektif Perempuan” yang digelar oleh Taman Baca Kesiman-Bali (7/2).

Dalam rangka merayakan Bulan Pram, Taman Baca Kesiman-Bali menggagas diskusi santai namun serius seputar karyanya. Mencoba menelaah pengaruh dan relevansinya bagi kemanusiaan, terutama bagi generasi muda, diskusi ini mengambil topik “Pramoedya, Dalam Perspektif Perempuan”. Dimoderatori oleh bung Roberto Hutabarat, dan mengundang pembicara dari Militan Indonesia sebagai pemantik, Yohana Ilyasa, acara ini berlangsung dari sore hingga malam hari. Puluhan orang hadir berasal dari berbagai kalangan, mulai dari para pelajar SMA, mahasiswa, sampai pekerja. Mereka yang tidak kebagian kursi memenuhi teras-teras Taman Baca.

Pramoedya Ananta Toer bukanlah nama asing dalam jagad dunia sastra, baik di Indonesia maupun mancanegara. Ia dikenal sebagai sastrawan besar Indonesia yang produktif menulis, dan dianggap sebagai simbol dan pelopor sastra perlawanan. Namanya juga muncul beberapa kali dalam kandidat peraih Nobel Sastra dan satu-satunya wakil Indonesia yang mendapat kesempatan ini. Selain itu ia dianugerahi pelbagai penghargaan Internasional, di antaranya: The PEN Freedom to Write Award 1988 dan Ramon Magsasay Award 1995.

Pram menelurkan banyak karya. Sebagian besar di antaranya bahkan lahir di dalam penjara. Tercatat lebih dari 50 karya ia hasilkan dan sebagian besar sudah diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa. Buku-buku yang ia tulis sebagian merupakan fiksi, sebagian lagi non fiksi. Tapi satu hal yang pasti, Pram menulis sastra politik. Sastra yang bertendensi. Sastra yang berpihak. Sastra yang selalu membawa parapembacanya ke  satutujuan objektif. Dan akhirnya, sastra yang memikul tugas sosial!

Pram banyak menulis tentang kisah hidup perempuan. Melalui karyanya ia menyingkap peran perempuan dan posisinya dalam masyarakat. Karyanya mengandung potret yang kompleks dari beragam jenis perempuan mulai dari karakter: Ibu, Kekasih, Gundik, Pelacur, Anak Pejabat, dan Perempuan Desa. Narasi ini kita dapati setidaknya dalam 7 karyanya antara lain: Bumi Manusia, Arok Dedes, Cerita Calon Arang, Panggil Aku Kartini Saja, Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, Larasati dan Gadis Pantai. Benturan budaya dalam masyarakat feodal dan budaya patriarki cukup kuat ditampilkan. Pram memang lihai. Ceritanya mampu menyihir pembaca, lebih tepatnya membangunkan kesadaran si pembaca.

Tetralogi Buru adalah roman yang paling dikenal. Isinya sebagian fiksi sebagian lagi propaganda. Selain tokoh utama Minke, peran Nyai Ontosoroh sangat kuat digambarkan. Berasal dari perempuan desa yang lalu menjadi Gundik atau istri tidak sah di mata hukum Belanda, Ontosoroh membangun kualitas dan level dirinya ‘setara’ dalam budaya orang-orang Eropa. Ia belajar dan banyak membaca koran, majalah, dan buku-buku yang tertulis bukan dalam bahasa ibunya. Cerita ini pertama kali diceritakan secara oral oleh Pram kepada sesama tahanan politik di Pulau Buru. Lalu pada saat Pram bebas dari penjara Orde Baru tahun 1979, ia dan kawan-kawannya menyiapkan penerbitan buku ini secara bertahap. Sekitar bulan Juli 1980, naskah Bumi Manusia – sekuel pertama dari Tetralogi Buru – dicetak. Dua belas hari setelah dicetak, buku ini habis terjual mencapai angka 5000 eksemplar dan pada cetakan berikutnya sekitar 10.000 eksemplar juga habis tak tersisa. Penerbit bahkan kewalahan karena permintaan datang tidak hanya dari Indonesia tetapi juga dari penjuru dunia. Penyebaran buku ini pun terdorong juga oleh momentum politik yang ada saat itu.

Hingga 1965 seluruh lapisan masyarakat Indonesia termobilisasi secara politik. Politik memasuki setiap sendi kehidupan. Rakyat pekerja, tidak hanya perkotaan tetapi juga di pedesaan, sadar politik dan biasanya menjadi anggota sebuah organisasi massa. Semenjak gerakan kemerdekaan,mobilisasi telah menjadi karakter utama dari gerakan Indonesia. Namun dengan dihancurkannya PKI dan ditumbangkannya Soekarno, yang disusul Rejim Soeharto ke tampuk kekuasaan, tradisi perjuangan kelas dari gerakan dihapus secara ideologis. “Massa Mengambang” adalah sebuah terminologi untuk menggambarkan masyarakat Indonesia yang dibangun oleh Rejim Soeharto: depolitisasi, ahistoris dan demobilisasi.

Diterbitkannya Roman Pulau Buru sekuel pertama adalah salah satu faktor yang mendorong tumbuhnya kembali kesadaran lapisan termaju dari gerakan Indonesia. Novel ini, sebanding dengan What Is To Be Done? novel karangan Chernyshevsky, seorang sastrawan Rusia. Jika Lenin dan kebanyakan anggota Bolshevik lainnya saat itu dipengaruhi oleh propaganda dalam sebuah novel, maka bukan tidak mungkin kesadaran kaum Kiri Indonesia terbangunkan juga oleh karya Pram ini. Setahun setelah penerbitan Bumi Manusia, Rejim Soeharto memerintahkan pelarangan beredarnya buku ini. Soeharto tentu takut dengan sejarah Indonesia. Ia patut takut karena sejarah Indonesia adalah negasi dari konsep “Massa Mengambang”. Meski pelarangan buku begitu marak, ini tidak menyurutkan beredarnya buku ini yang dibaca oleh kaum muda di bawah tanah.

Dalam bukunya Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia, Pram mengatakan bahwa dunia terbelah menjadi dua kekuatan besar: kekuatan lama yang bercokol – the old established force dan kekuatan baru yang sedang bangkit – the new emerging force. Identifikasi terhadap pembagian kekuatan besar ini telah membantu mengurai kompleksitas problematik dalam dunia, yakni kelas penguasa yang zalim berhadapan dengan rakyat yang bangkit dan melawan. Pram lebih jauh menegaskan bahwa para sastrawan harus terlibat dalam gerakan massa, istilahnya memperbaja diri dalam gerakan massa. Para sastrawan harus tetap berkembang bersama dengan perkembangan dari aktualitas yang berhubungan dengan gerakan massa. Mereka harus dapat menyatukan dirinya dengan seluruh proses peningkatan kesadaran kelas rakyat pekerja. Sastra sendiri pun harus menjadi alat yang hunterbaar, yaitu alat yang luwes untuk keperluan ini. Sastra harus jadi senjata yang ampuh, yang secara integral ikut memenangkan perjuangan rakyat, perjuangan buruh dan tani. Hal ini dapat kita lihat dari bagaimana Pram sendiri telah mengintegrasikan karya-karya sastranya untuk mendukung perjuangan.

Dalam sesi berikutnya, beberapa audiens yang hadir membagi pengalamannya saat membaca karya Pram. Seorang perempuan misalnyamengungkapkan bagaimana novel-novel Pram telah membuka matanya dan memberinya pemahaman tentang realitas sosial. Ia begitu mudah menangkap apa yang penulis hendak sampaikan. Novel-novel yang dibacanya itu telah memberinya semacam keberanian bertanya pada guru-guru di sekolahnya, tentang tema-tema yang dilarang untuk dibahas secara mendetail. Semisal kenapa PKI dilarang? Kenapa lagu gendjer-gendjer juga dilarang untuk didengar, dan bagi yang memutarnya diidentikkan sebagai anggota atau sekedar simpatisan partai berlambang palu arit? Padahal setiap rangkaian kalimat dalam lagu itu hanya sekedar tentang dedaunan yang dijadikan makanan.

Audiens lainnya bertanya: jika sastra yang diusung Pram adalah sastra yang berpihak dan nampaknya memang banyak diminati, kenapa tidak menjadikannya bagian dari kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah maupun kampus-kampus?

Dalam menjawab pertanyaan tersebut, dapat diterangkan, bahwa seperti Pram telah katakan: Medan perjuangan antar kelas yang berseteru hari ini adalah kelas yang tertindas melawan kelas yang menindas. Perjuangan ini tidak saja ada di lapangan politik dan ekonomi, melainkan juga lapangan kebudayaan dan sastra. Pengaplikasian model pendidikan dalam masyarakat akan sangat tergantung dari siapa yang memegang kekuasaan dan sistem apa yang dipakai. Suprastruktur akan tergantung dari struktur dasar yang diterapkan. Jika penguasa hari ini memeluk erat kapitalisme, maka mustahil mengharapkan sastra yang diusung Pram akan diajarkan di sekolah-sekolah, apalagi menjadi bagian dari kurikulum. Kecuali, kekuasaan ada di tangan rakyat, maka pendidikan yang progresif, sastra yang progresif akan dapat menjadi bagian dari kurikulum atau pendidikan arus utama yang diajarkan di sekolah-sekolah.

Ketidakberanian atau lebih tepatnya keengganan sang guru menjawab pertanyaan muridnya tentang tema “kenapa PKI dilarang?”, “kenapa gendjer-gendjer dilarang diputar?”, adalah hasil dari 32 tahun di bawah represi rejim Orde Baru. Rejim ini menggunakan teror dan ketakutan untuk membungkam kebebasan berpendapat dan bersuara. Mereka menggunakan media, TV, radio dan lain-lain untuk membuat propaganda hitam tentang PKI. Bagi generasi yang lahir saat Orde baru pada periode awal berkuasa, setiap tanggal 30 September akan diputar film berisikan kebusukan dan kejahatan PKI yang dibuat oleh rejim. Selama lebih dari 12 tahun sejak dirilis pada 1984 film itu diputar, dan secara tidak langsung menanamkan memori di bawah alam sadar pikiran manusia. Sejarah diselewengkan. Kebebasan dipasung. Maka bukan hal yang aneh jika sang guru dari murid yang bertanya hanya dapat menjawab “Hushh, tidak boleh!”.

Lewat karya Pram banyak orang tergugah dan matanya terbuka menyadari realitas sosial. Namun, melalui sastra saja, tidaklah cukup untuk mengubah kondisi ketimpangan sosial hari ini. Lenin yang masa mudanya dipengaruhi oleh bacaan sastra perlawanan bergerak lebih jauh untuk mempelajari teori. Ia membangun organisasi, menulis buku seputar teori Marxis, ekonomi bahkan filsafat dan terjun ke gerakan massa. Tanpa bangunan teori, dan tanpa organisasi, tidak mungkin Lenin dan kaum Bolshevik lainnya dapat memimpin massa rakyat di Rusia untuk meruntuhkan rejim. Maka dari itu, bagi generasi muda yang saat ini sedang kebingungan mencari-cari gagasan, karya Pram bisa menjadi jembatan awal. Namun ini harus dilanjutkan dengan belajar teori perlawanan. Jangan menolak mempelajari teori, karena tidak ada sejarahnya gerakan rakyat dapat berhasil tanpa berteori. Sungguh benar memang, ketidaktahuan tidak pernah menolong siapapun!