facebooklogocolour

370a94386c6ePerayaan May Day tahun ini mengandung banyak makna bagi gerakan buruh. Pertama, tahun 2017 adalah 100 tahun peringatan Revolusi Oktober, yakni sebuah revolusi megah di tanah Rusia yang meletakkan kaum buruh ke tampuk kekuasaan. Pada 1917, buruh dan tani Rusia di bawah kepemimpinan Partai Bolshevik bersatu menumbangkan feodalisme dan kapitalisme. Tanah untuk kaum tani, dan pabrik untuk kaum buruh. Untuk pertama kalinya kelas buruh mengambil langkah berani menuju sosialisme. Revolusi ini menjadi pemercik gelombang perlawanan buruh sedunia, yang gemanya terdengar sampai ke bumi Indonesia.

Memori Revolusi Oktober yang megah ini sudah lama terkubur oleh fitnah dan kebohongan – atau dalam bahasa modernnya, berita hoax – yang disebar oleh kelas penguasa. Ini karena kelas kapitalis takut kalau kaum buruh akan belajar dari pengalaman Revolusi Oktober dan mengulangnya kembali. Mereka takut kalau monopoli kekuatan ekonomi dan politik mereka akan dirampas oleh buruh. Di Indonesia, memori ini terutama dikubur dengan tulang belulang jutaan buruh dan tani yang dibantai oleh rejim Orde Baru pada 1965-66. Menggali kembali tradisi Revolusi Oktober menjadi tugas terutama kaum buruh, dan pada kesempatan May Day ini harus pula menjadi bagian dari tradisi perayaan May Day. Tidak cukup kita hanya turun ke jalan dan mengepalkan tangan, kita juga harus mempelajari memori kolektif perjuangan kelas buruh, yang di dalamnya tertera bab yang paling agung dari semuanya, yakni Revolusi Oktober. Maka dari itu dalam majalah Militan edisi May Day tahun ini serta dalam situs Militan (www.militanindonesia.org) kami terbitkan serangkaian artikel mengenai Revolusi Oktober, yang kami harap dapat jadi panduan awal bagi para pembaca untuk mengenal Revolusi ini.

Kedua, tahun 2017, walau baru saja dimulai, telah menjadi saksi atas gejolak-gejolak politik tanpa preseden yang menggegerkan tatanan dunia. Kita disajikan dengan pelantikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang disusul dengan aksi massa jutaan rakyat yang menolaknya, tidak hanya di AS tetapi juga di seluruh dunia. Sementara di seberang lautan Atlantik, proses perpecahan Uni Eropa menjadi semakin mendalam. Setelah referendum Brexit tahun lalu, pemerintahan Inggris Raya tahun ini memulai negosiasi yang sangat alot untuk meninggalkan Uni Eropa. Skotlandia, yang adalah bagian dari Inggris Raya, memutuskan untuk menggelar referendum kemerdekaan yang kedua karena mereka tidak setuju dengan Brexit. Kekacauan dan ketidakstabilan politik di Inggris ini memaksa Partai Konservatif untuk menyerukan pemilu awal pada Juni nanti. Di Prancis, pemilu presiden berlangsung alot, dengan kandidat kanan reaksioner Le Pen yang ada di atas angin, tetapi juga populernya kandidat Kiri radikal Melenchon, yang walaupun kalah pada putaran pertama tetapi telah mengubah peta politik di negeri anggur ini.

Dunia sedang berubah dengan pesat. Kalau kita lengah sedikit saja, kita akan tertinggal oleh sejarah. Polarisasi ke Kiri dan ke Kanan berlangsung dengan kecepatan kilat dan silih berganti. Tetapi ini bukan alasan untuk menjadi pesimis, tetapi justru optimis. Semakin banyak buruh dan kaum muda yang mulai mempertanyakan sistem yang ada. Mereka mungkin belum menemukan jawabannya, tetapi kegilaan dari kapitalisme akan terus mengarahkan laju mereka ke kesimpulan-kesimpulan sosialis.