Hikayat Kadiroen - Bab VI Cetak E-mail
Ditulis oleh Semaoen   
Senin, 08 Maret 2010 08:01
Share

BAB VI

Mendapat Guru

Di sebuah tempat di Kota G, di bagian kota yang sunyi yang hampir mendekati desa-desa, di sana, di sebuah pe­karangan yang tidak lebar tetapi banyak pohon-pohonan yang membikin sejuknya suasana, di situlah berdiri se­buah rumah kecil yang terbuat dari dinding bambu berkapur putih. Rumah itu memakai atap genting dan ber­ubin semen batu yang bersih. Selusin pot bunga-bunga­an dari tanah teratur rapi di muka rumah, sehingga keli­hatan indah dan segar. Perkakas rumah, seperti kursi dan meja dan sebagainya teratur rapi di dalam rumah itu. Meskipun perkakas itu tidak mewah dan murah harga­nya, tetapi kelihatan begitu bersih, sehingga bisa menye­nangkan semua orang yang memandangnya. Beberapa perhiasan rumah seperti pigura-pigura dengan gambar yang terpasang di dinding menunjukkan bahwa pemilik rumah itu bukanlah orang kaya. Tetapi, rumah itu me­nunjukkan juga si pemiliknya mempunyai perasaan ha­lus dan telaten, sehingga bisa menata ruangan menjadi begitu rapi, bersih dan menyenangkan semua orang yang memandang seisi rumah, baik dari luar maupun dari da­lam.

Di galeri muka, pada waktu jam setengah dua siang itu, duduk seorang perempuan muda. Wajahnya tidak be­gitu cantik atau molek, tetapi juga tidak jelek. Wajahnya malahan kelihatan lebih manis. Pakaiannya tampak se­perlunya untuk kepentingan di rumah, yang menunjuk­kan bahwa ia tidak mempunyai banyak uang untuk menghias dirinya. Gelang, tusuk konde, subang dan pe­niti dari emas atau perak yang sangat disenangi oleh ke­banyakan kaum perempuan, barang-barang itu sama se­kali tidak menempel di tubuhnya. Dan hanya cincin ka­win dari swasa tanpa mata yang berkilau melingkar di sa­lah satu jarinya. Tetapi caranya berpakaian yang seder­hana itu memang kelihatan begitu bersih dan rapi, se­hingga pemakainya kelihatan sangat pantas. Pada wak­tu itu perempuan tersebut sedang bahagia memikirkan apa yang sudah ia kerjakan sampai saat itu. Pagi-pagi be­nar ia sudah bangun, lalu mandi seraya menyedu wedang kopi dan memasak nasi goreng sisa masak kemarin sore serta membikin telur dadar mata sapi dua. Lalu setelah suaminya bangun dan mengerjakan hal-hal yang perlu, mereka sarapan bersama-sama pada waktu yang biasa­nya. Sehingga laki-laki tersebut menjadi amat senang, se­hingga semakin sayang dan berterima kasih kepada istri tercintanya itu. Setelah si lelaki berangkat bekerja, maka si perempuan pergi berbelanja ke pasar. Sedang seorang anak tetangganya menjaga rumahnya. Dari pasar ia lantas masak dan sambil menunggu masakannya matang, ia mencuci pakaian serta perabotan rumah tangga lainnya yang kotor. Lalu mengerjakan hal-hal lain sebagai kewa­jiban istri di rumah. Ya, ia memikirkan semua pekerja­annya yang sejak pagi hingga jam satu lebih tidak ada hentinya itu. Tetapi karena itu semua, hatinya menjadi begitu senang. Sehingga lalu teringat kepada Tuhan Allah dan mengirimkan doa beberapa kali. Perempuan terse­but merasa senang, karena dengan pekerjaannya tersebut ia merasa bisa membantu suaminya, menyenangkan le­laki meski hasilnya tidak seberapa besar. Dan karena ra­jinnya perempuan itu bekerja maka mereka bisa berumah tangga dengan tenteram dan bahagia. “O, bagaimanakah senangnya hati lelaki jika melihat semua pekerjaan di ru­mah sudah beres! Ya, saya akan menyongsong suamiku di muka rumah dengan muka manis dan senang hati. O, bagaimanakah tambah besarnya cinta lelakiku merasakan hidup berumah tangga yang begini nikmat'.” Begitulah, perempuan tadi berpikir-pikir sambil menunggu keda­tangan suaminya.

“Kriiingg...kriiing...kriiinggg!”

“Na, suamiku datang!” kata si perempuan dalam ha­tinya. Dengan gembira dan senang hati ia bangkit dari du­duknya serta menjemput suaminya yang datang menaiki sepeda.

“O, Mas, ini hari Kanda datang sedikit terlambat. Toh tidak ada halangan apa-apa 'kan Mas?” kata istri sambil mencium lakinya.

“Iya Dik, saya memang pulang terlambat. Tetapi ti­dak ada halangan apa-apa. Hanya sebentar lagi di sini akan kedatangan tamu, yang sekarang sedang naik do­kar. Karena tadi sempat omong-omongan dengan tamu itu di jalan, jadi sekarang agak sedikit telat. Dinda me­nunggu lama barangkali?” kata si lelaki sambil mengelus kepala istrinya yang menempel di dadanya serta melihat pada istrinya itu dengan sepenuh perasaan cintanya.

Tamu datang! Si lelaki, Sariman menjemput ia dan te­rus memperkenalkan si tamu kepada istrinya. Sariman berkata; “Ini istri saya, dan ini Dik, Tuan Kadiroen.”

Istri Sariman menjawab: “O, jadi Tuan yang bernama Kadiroen. Suamiku sering menceritakan perihal Tuan ke­pada saya. Saya menaruh hormat yang tinggi pada apa yang Tuan telah perbuat. Sudah lama saya ingin berke­nalan dengan Tuan. Karena itu, hari ini saya senang sekali bertemu dengan Tuan. Tetapi saya berkata Tuan, saya ingin menjadi saudara Tuan. Apa sekiranya Tuan tidak keberatan kalau selanjutnya saya memanggil Kakandaku Kadiroen... Kanda?”

Kadiroen mendengarkan penyambutan istri Sariman. Kata-kata sambutannya itu kelihatannya memang keluar dari hati sanubari sehingga sekejab saja, saat itu juga, Kadiroen merasa memiliki saudara perempuan muda. Sudah barang tentu ia menyahut penyambutan istri Sariman itu dengan kata-kata yang mendekatkan persahabatan sa­tu dengan yang lainnya.

Tidak lama mereka berbincang-bincang, maka keti­ganya lalu makan bersama-sama. Waktu makan itu, Ka­diroen tahu bahwa ikannya tidak begitu banyak. Sebab yang ada di situ hanya tempe, sambal, jangan dan sekadar daging sapi. Semua dimasak hanya menjadi empat ma­cam. Tetapi Kadiroen menjadi heran, karena masakan itu begitu enak rasanya. Saat makan berbarengan sambil ngo­mong-ngomong yang baik-baik dan menyenangkan, Ka­diroen merasa ada di dalam surga.

Sehabis makan, Sariman dan Kadiroen minum, rokok dan meneruskan pembicaraannya. Sedang si perempuan mengerjakan semua hal, seperti membersihkan taplak meja dan sebagainya. Persis jam tiga, maka Sariman mempersilakan Kadiroen untuk tiduran. Karena semua itu, Kadiroen merasa begitu senang. Sehingga ia merasa seperti ada di rumahnya sendiri. Dan karena ia merasa capek pulang bepergian dari Kota S ke Kota G, maka ia mau tiduran itu. Ia tanya kepada Sariman apakah tuan dan nyonya rumah juga mau tiduran. Tetapi dengan he­ran ia mendapat keterangan bahwa mereka berdua itu ti­dak pernah tidur siang. Sebab Sariman mulai dari jam 2.30 sampai jam 4, mengajar istrinya. Dan hari itu istrinya ha­rus belajar ilmu bumi. Istri Sariman menerangkan bahwa ia sangat senang belajar ilmu alam, ilmu bumi, ilmu hi­tung dan lain sebagainya. Perempuan itu ingin mengerti dan pandai supaya bisa ikut memikirkan dan membica­rakan semua hal yang penting-penting yang terjadi di za­man kemajuan itu.

Sekarang Kadiroen mengerti, mengapa istri Sariman itu tadi begitu fasih ikut omong-omong membicarakan masalah politik.

Sewaktu Kadiroen hendak tidur, maka ia merasakan dan memikirkan masalah Sariman dan istrinya itu. Dan ia tahu bahwa mereka berdua memang sangat berbeda dengan kebanyakan orang. Karena itu maka Kadiroen se­makin ingin tahu, bagaimanakah kehidupan mereka berdua. Dan pada saat itu ia mengantuk dan lantas tidur.

Jam empat Kadiroen bangun dan mengetahui bahwa saat itu istri Sariman sedang menyedu wedang. Sedang­kan Sariman membersihkan kursi-kursi, meja, mengisi lampu dengan minyak dan sebagainya. Lalu mereka mandi, sehingga persis jam 5 kurang sepuluh menit Sa­riman dan istrinya sudah siap minum teh di teras rumah yang sudah kelihatan bersih.

Kadiroen juga sudah disediakan teh. Begitulah, maka mereka bertiga ngobrol sambil minum teh. Dalam obrol­an itu Kadiroen mengetahui bahwa biasanya Sariman dan istrinya mulai jam lima sore sampai jam enam pergi jalan-­jalan ke alun-alun atau ke tempat-tempat lain. Kalau tidak jalan-jalan, biasanya mereka menerima tamu atau berta­mu sebentar ke rumah sahabat-sahabat terdekatnya. Jam enam mereka pulang lalu menyalakan lampu dan Sari­man lalu belajar sendiri bermacam-macam buku yang ber­manfaat untuk menambah ilmu pengetahuannya sampai jam delapan. Sedang istrinya dari jam enam itu sampai jam tujuh memanaskan masakan dan menanak nasi. Mu­lai jam delapan mereka berdua sudah bisa makan bersa­ma. Maka jam setengah sembilan sampai jam setengah se­puluh, istri Sariman belajar lagi. Sedangkan Sariman sen­diri membaca koran-koran yang baru datang. Biasanya persis jam sepuluh mereka sudah tidur dan bangun lagi pada jam lima. Apa yang dikerjakan istri Sariman sejak bangun pagi sudah diceritakan di atas. Adapun Sariman sejak bangun pagi lalu mandi dan melakukan gymnastiek, membersihkan perkakas rumah lalu sarapan pagi. Tepat jam tujuh pagi ia berangkat ke kantornya. Kadiroen me­ngetahui bahwa semua kebiasaan Sariman dan istrinya itu tiap harinya sudah diatur dengan pasti. Selain Sabtu sore adalah saat untuk mencari hiburan ke bioskop atau bertamu ke rumah sanak famili yang sedikit jauh.

Hari Minggu biasanya Sariman bekerja di kebun atau pergi ke tempat-tempat wisata yang sejuk.

Maka karena kepastian-kepastian di atas, hidup Sa­riman dan istrinya menjadi senang terus-menerus. Se­dangkan badan mereka berdua selalu sehat pula meski di rumah mereka tidak ada seorang pembantunya. Gaji Sariman yang begitu kecil sebab surat kabar bumipu­tera waktu itu belum kuat membayar redaktur dengan ga­ji yang mencukupi tidak memperkenankan mereka untuk mencari pembantu seperti koki, babu atau jongos. Karena hal-hal itu, Kadiroen mengetahui bahwa Sariman berdua yang begitu luas pengetahuannya dalam semua hal itu, sudah menunjukkan bahwa mereka tidak suka menyombongkan diri dan menerima saja dengan ikhlas untuk hidup sederhana. Sariman dan istrinya bukanlah manusia yang hanya mencari kekayaan duniawi seperti uang dan sebagainya dan juga bukannya manusia yang hanya mencari pangkat atau derajat lahiriah. Tetapi me­reka mencari keselamatan batin dengan berusaha mela­yani dan membantu kepentingan rakyat Hindia yang pa­da waktu itu begitu merana keadaan lahir batinnya. Be­gitulah maka Kadiroen mengetahui bagaimana watak Sariman dan istrinya. Dengan pengetahuannya itu, Kadi­roen bisa mengerti mengapa Sariman bisa begitu kuat me­mikul kewajibannya dalam pergerakan yang amat berat itu. Secara lahiriah mereka memang melarat, tetapi bati­niah sangat bersih dan berhati ikhlas. Itulah rahasia kekuatan manusia yang berilmu tinggi, kekuatan yang ma­na akan bisa mampu melakukan semua pekerjaan atau siksaan dunia yang amat berat sekalipun.

Sudah dua hari Kadiroen bertamu di rumah Sariman, sambil menunggu keputusan vergadering yang akan me­nentukan apakah Kadiroen akan diterima menjadi mede­-redacteur dalam surat kabar Sinar Ra’jat atau tidak. Pada sore hari kedua, sewaktu mereka ngobrol sambil minum teh, maka Sariman berkata kepada Kadiroen sambil me­nyatakan kesedihan hatinya:

“Saudara, memang susah nasib sahabat kita Tuan Weldoener. Ia menjadi hoofd-boekhouder di toko besar. Ia kerja di sini baru kira-kira dua tahun. Maka sebentar lagi tentu ia akan dipecat dari pekerjaannya. Tuan Weldoener memang paling baik akal budinya. Dan karena sebagai seorang sosialis sejati, ia membantu gerakan rakyat Hindia, maka ia dibenci oleh kaum yang bermodal. Sekarang kita mesti berusaha meringankan beban nasib Tuan Wel­doener yang menjadi korban ini.”

Mendengar hal itu, Kadiroen menjadi terkejut dan ikut merasakan kesedihannya. Ia menanyakan kabar itu asalnya dari mana. Tetapi Sariman menjawab degan per­tanyaan pula:

“Apa Saudara tidak membaca tulisan pertama dalam surat kabar Belanda L hari kemarin?”

“Ya, saya juga sudah membacanya. Tulisan itu men­cela keras Tuan Weldoener itu, sebab tuan ini dalam vergadering P.K. di Kota M, turut berbicara dan mengajak rak­yat mengubah kapitalisme menjadi sosialisme. Dalam tu­lisan tersebut sama sekali tidak diutarakan bahwa Tuan Weldoener itu akan dipecat dari pekerjaannya,” kata Kadi­roen.

“Memang dalam tulisan itu tidak diutarakan, tetapi Saudara harus ingat, sampai dua kali tulisan tersebut me­nyebutkan pangkatnya Tuan Weldoener yang bunyinya begini: ‘Weldoener Hoofd-Boekhouder Toko F, Milik Kapitalis C’ sedang tulisan 'Hoofd-Boekhouder Toko F' ditulis dengan cetak miring. Dalam politik halus, maka maunya itu su­paya Kapitalis C, memecat Tuan Weldoener dari jabat­annya Hoofd-Boekhouder. Sebab semua orang sudah tahu bahwa watak Tuan Weldoener yang suka membantu gerakan rakyat Hindia itu sudah tidak bisa diubah lagi. Hal yang mana diterangkan juga dalam bagian penghabisan tulisan itu begini: 'Tuan Weldoener yang ada di negeri Belanda ternyata tidak mau mengubah keinginannya un­tuk melawan kapitalisme yang ada di Hindia. Ia tetap mau meneruskan tekad hatinya itu dengan teguh. Sung­guh Tuan ini membikin masalah di Hindia'. Mengingat besarnya pengaruh surat kabar L, maka Tuan C tentu akan menuruti nasihat surat kabar itu untuk memecat Tuan Weldoener dari tokonya,” baru saja Sariman men­jelaskan begitu maka datang seorang jongos membawa surat. Surat itu dari Tuan Weldoener dan bunyinya be­gini:


Sahabat Sariman,

Tadi pagi saya diminta oleh saya punya pembesar, Tu­an C, supaya saya melepaskan diri semua perhubung­an dengan gerakan kaum kita socialisten dalam P.K. Adapun kalau saya tidak menurut dan tidak suka tunduk pada kemauan tuan C, maka mulai bulan di muka saya dapat lepas. Sudah tentu saya memilih dilepas ketimbang meninggalkan kaum kita. Supaya kaum kita mendapat tahu, bagaimana akalnya kaum bermodal mau menghalang-halangi gerakan P.K. de­ngan kelepasan saya ini, haraplah ini perkara sahabat su­ka membicarakan dalam Sinar Ra’jat.

Memujikan Selamat,

Weldoener


Surat yang pendek itu juga dibaca oleh Kadiroen. Jadi dugaan Sariman memang betul dan cocok. Kadiroen se­karang terpaksa mengakui bahwa Sariman adalah se­orang Hoofd-Rectacteur yang amat tajam pikirannya. Me­mang sudah lama Sariman menunjukkan dalam tulisan­-tulisannya bahwa ia seorang jurnalis yang amat bijaksa­na, luas pandangannya, cerdik serta tajam dugaannya.

Kadiroen mengakui, meski Sariman masih muda ke­timbang dirinya maka wajib ia menjadikan Sariman se­bagai gurunya. Sebab Sariman melebihi kebiasaan dalam semua hal. Kelebihan dari kebiasaan itu pun bisa Kadi­roen ketahui selama dua hari hubungannya itu. Oleh ka­rena itu, Kadiroen bertanya kepada Sariman dan istrinya:

“Saudara, kalau saya jadi ditetapkan menjadi mede­-redakcteur, apa Saudara sepakat kalau saya mondok kum­pul dengan kamu berdua. Sebab saya mau jadi muridmu, guruku Sariman!”

Sariman dan istrinya mendengarkan pertanyaan yang keluar dengan air muka yang lucu oleh Kadiroen itu, menjadi tertawa. Dan dari mulut keduanya berbareng-ba­reng keluar jawaban, “Sudah tentu sepakat.”

Istri Sariman menyatakan bahagia bahwa Kadiroen mau berkumpul serumah. Sedang Sariman berkata:

“Ha,ha... Bagaimana yang lebih muda menjadi guru. Tidak Saudara Kadiroen. Saya tidak mau menjadi guru­mu. Tetapi ingin menjadi sahabat dan saudaramu.”

“Kamu boleh begitu sesukamu, tetapi saya meman­dang kamu sebagai guruku,” kata Kadiroen.

Akhirnya, oleh vergadering, Kadiroen diterima men­jadi mede-redacteur, ia lalu serumah dengan Sariman yang olehnya dipandang sebagai gurunya itu.

Mengetahui semua hal di atas, maka Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya, para pembaca, barangkali ingin tahu le­bih jauh. Siapakah Sariman dan istrinya itu. Di sini pe­nulis akan terangkan.

Sariman ialah anaknya Pak Saridin. Seorang tukang rumput - ia menjualnya di Kota G. Tetapi sewaktu Sa­riman baru berumur lima tahun, ayah dan kakaknya yang bernama Saridin meninggal dunia. Oleh karena itu, maka Sariman tinggal hidup dengan ibunya yang menjanda. Di rumah Jawa yang terbuat dari atap dan berukuran kecil sekali, Sariman dan ibunya hidup miskin, itu sudah jelas. Ibu Sariman bisa mempertahankan hidup bersama-sama anaknya karena berjualan nasi-sayur. Karena saking mis­kinnya itu, sudah barang tentu rumahnya hanya bisa un­tuk tidur dan memasak nasi sayur yang dijual tersebut. Jadi meskipun ditinggal suaminya, Mbok Sariman tidak khawatir.

Sepanjang hari Mbok Sariman berjualan sepanjang ja­lan bersama anaknya yang masih kecil. Pada suatu hari ada seorang priyayi yang juga mempunyai anak baru ber­umur enam tahun sedang membeli dagangan Mbok Sa­riman. Anak priyayi tersebut waktu itu sedang pulang da­ri sekolah dan membawa lei. Sebagai anak yang sama ke­cilnya, maka dua anak itu satu sama lain berkenalan dan terus menjalin persahabatan. Sariman bertanya apa yang dibawa anak priyayi tersebut dan mengetahui bahwa itu adalah lei untuk peralatan sekolah.

Mulai hari itu, saben-saben Sariman menanyakan ke­pada ibunya, buat apa lei itu dan apa artinya sekolah. Ka­lau mereka kebetulan berjualan di muka sekolahan, di si­tu ibunya Sariman menerangkan kepada anaknya apa yang dinamakan sekolah. Dengan itu, maka Sariman kecil pada saat itu mulai tertarik untuk sekolah. Begitulah, ma­ka ia sering menangis kepada ibunya supaya dibelikan lei dan disekolahkan. Tetapi karena miskinnya - sebab pada waktu itu di Hindia tidak ada sekolahan yang tidak bayar - maka sudah barang tentu yang ibunya Sariman tidak bisa menuruti kehendak anaknya. Pada waktu Sariman berumur enam tahun, dengan susah payah ibunya bisa membelikan lei dan grip.

Kebetulan di sebelah Mbok Sariman tinggal seorang tukang batu, yang hidupnya bisa sedikit kecukupan dan bisa menyekolahkan anak lelakinya yang juga baru ber­umur enam tahun, di sekolah kelas dua. Anak itu adalah yang bernama Tjitro dan sewaktu besar menjadi propa­gandis P.K. yang sudah diceritakan dalam Bagian IV bu­ku ini.

Sebagai anak yang sama kecilnya dan berumah be­gitu dekat satu dengan yang lainnya, Sariman lalu men­jadi sahabat karib Tjitro. Tetapi kalau Tjitro pagi-pagi per­gi ke sekolah, Sariman pun juga harus pergi, namun ikut berjualan nasi bersama ibunya. Hanya bila sore jam tiga sampai jam enam, dua anak itu bisa bermain bersama-sa­ma.

Sariman yang merasa kaya, bisa menyamai Tjitro ka­rena masing-masing mempunyai lei dan grip, mereka la­lu bermain-main. Tidak hanya bermain lei-leian dan ca­kar-cakaran ayam saja di lei itu. Tetapi Sariman saban hari bertanya pada Tjitro, apa saja yang tadi diajarkan di se­kolah. Sehingga Tjitro menceritakan itu dan saban hari menirukan gurunya, sedang Sariman masih pura-pura di­ajar sebagai muridnya. Sebaliknya, kepura-puraan itu, oleh Sariman diingat betul, sehingga lalu saban sore ia bisa belajar dari Tjitro. Oleh karena itu, sewaktu Tjitro berumur tujuh tahun, maka kepandaiannya dalam hal tu­lis-menulis sama dengan Sariman. Begitulah, maka saban sore Tjitro harus belajar lagi, sebab mesti menjadi guru­nya Sariman. Maka Tjitro akhirnya menjadi murid yang terpandai, ia di kelasnya mendapat rangking satu. Hal yang demikian itu memberi pengertian pada Tjitro dan Sariman bahwa mereka harus bersahabat terus dan apa yang dahulunya hanya pura-pura, sekarang lalu ia ker­jakan bersama-sama sebagai keinginan yang tetap. Se­hingga lalu mereka saban sore belajar bersama-sama. Hal itu membuat senangnya orangtua Tjitro dan ibunya Sa­riman. Tetapi, mulai umur tujuh tahun itu, maka Sariman terpaksa harus membantu ibunya mencari makan. Sehing­ga ia saban pagi sampai jam satu siang harus menyabit rumput untuk dijualnya. Oleh karena Sariman bisa men­cari uang, maka lalu ia juga bisa membeli buku, potlot, tin­ta dan sebagainya. Sehingga waktu Tjitro berumur sepu­luh tahun, sudah tamat belajarnya di sekolahan klas 2 itu, maka Sariman juga bisa menyamai kepandaian Tjitro.

Semenjak tahun itu, maka Tjitro oleh ayahnya disu­ruh mencari kerja, dan lalu menjadi leerling letter Zetter di salah satu drukerij di Kota G tersebut. Adapun Tjitro mem­punyai adik perempuan yang waktu itu berumur enam tahun, mulai disekolahkan juga mengganti Tjitro. Sebab meskipun ayah Tjitro hanya seorang tukang batu, tetapi ia ingin maju dan ingin melihat anak-anaknya, Tjitro dan Sarinem (adik Tjitro) menjadi pintar. Begitulah, orang yang maju, senang menyekolahkan anak perempuannya.

Ialah pada waktu itu maka Sariman sering menjual rumput pada priyayi yang anaknya sudah diceritakan di muka. Pada suatu hari, maka menurut pendapat anak priyayi tadi - yang sudah berumur sebelas tahun dan sekolah di Europeesche Lagere School - Sariman kurang menghormati dirinya. Sebab Sariman berani memanggil "mas" sedang si anak priyayi minta dipanggil "ndoro". Sehingga di antara dua anak tadi terjadi perselisihan yang ramai. Anak priyayi tadi memaki-maki pada Sariman:

“Kamu anaknya orang desa, bodoh, goblok!” dan se­bagainya.

Hati Sariman menjadi amat marah dikatakan bodoh dan goblok. Sebab ia merasa meskipun ia tidak sekolah, tetapi dengan kehendaknya sendiri, sekarang ia sudah bi­sa menulis dan mempunyai kepintaran yang sama de­ngan anak yang di sekolahan. Sesudah ia menjadi sabar kembali maka ia ingat bahwa percuma kalau ia hanya marah belaka. Oleh karena itu, ia lalu berniat yang kuat untuk menambah kepintarannya, agar ia bisa melebihi anak priyayi yang oleh Sariman dianggap besar kepala itu.

Sariman memperbincangkan niatnya itu bersama sa­habatnya Tjitro serta orangtua mereka. Karena Tjitro ba­ru saja mengerti bahwa di sekolah H.I.S. di Kota G itu saban sore diajarkan bahasa Belanda dan lain-lain untuk menuntut ujian Kleinambtenaars-examen, maka mereka membikin keputusan untuk meneruskan belajar di situ. Tetapi untuk bisa membayar biayanya, maka saban pagi Sariman terpaksa bekerja lebih keras agar ia bisa memo­tong rumput yang lebih banyak dari biasanya. Dan saban hari Sariman menabung f.0,10 untuk ongkos sekolah itu. Adapun Tjitro mendapat bantuan dari ayahnya. Untuk keperluan sekolahnya itu terpaksa Tjitro berhenti merokok dan ibunya terpaksa berhenti menginang. Begi­tulah, dua anak desa tadi bisa belajar terus, dan saban ma­lam sampai jam sepuluh, kita bisa melihat mereka sedang belajar, bersanding dengan lampu kecil. Mereka tidak memikirkan kesenangan seperti anak-anak lainnya tetapi hanya mencari kepintaran belaka.

Empat tahun lagi, maka mereka sudah bisa berbaha­sa Belanda, ilmu hitung dan sebagainya. Mereka sudah cukup kepandaiannya untuk menuntut ujian Kleinambtenaars-examen.

Oleh karena itu, pada suatu hari Sariman dan Tjitro menempuh examen tersebut bersama-sama anak priyayi yang besar kepala tadi. Mereka berdua bisa lulus menem­puh ujian itu dan mendapatkan zeer-goed, sehingga men­jadikan senangnya hati orangtua Sariman dan Tjitro. Ada­pun anak priyayi yang besar kepala tadi - orang yang besar kepala selamanya bodoh - malah tidak bisa me­nempuh ujian. Dan sewaktu Sariman menjadi Hoofd­ Redacteur Sinar Ra’jat dan terkenal cerdik dan pintar pun, si anak priyayi masih, menjadi hulp-schrijver di kantor sa­lah seorang Asisten Wedono. Seandainya priyayi tadi bi­jaksana tentu anaknya akan dididik supaya menjadi pintar dan ia tentu tidak menjadi congkak; masih anak-­anak sudah minta dihormati. Lain halnya dengan anak priyayi yang bijaksana; mereka malahan menghormati serta mencintai dan berbelas kasihan kepada semua orang desa atau orang kecil. Priyayi yang bijaksana tentunya membantu rakyat dan tidak menghina.

Sariman dan Tjitro sekarang bisa merasakan sendiri, bahwa anak orang desa bisa lebih pintar daripada anak­nya priyayi yang congkak. Kalau anak orang desa itu mempunyai niat dan dijalankan dengan sungguh-sung­guh, niscaya bisa mendapat waktu serta tempat belajar. Sebaliknya, lantas ia juga semakin mengerti kesusahan golongan mereka, orang kecil, serta tidak habis heran, mengapa H.I.S. dan sekolah yang baik-baik hanya dise­diakan untuk anak-anak priyayi saja. Hal itu jelas mem­bedakan hak sesama manusia. Hal itu menimbulkan niat dalam hati Tjitro dan Sariman untuk terus berusaha mem­bantu si kecil, yaitu “kaum kromo” atau rakyat supaya golongan ini bisa dipandang sebagai manusia juga.

Tetapi, mereka juga mengerti bahwa untuk memban­tu rakyat maka mereka harus mempunyai alat atau mo­dal yang kuat, yaitu pandangan yang luas dan ilmu pe­ngetahuan yang lebar. Sebab inilah sumber kekuatan dan kekuasaan manusia. Itulah sebabnya sesudah mereka lu­lus ujian Kleinambtenaars-examen, maka mereka lalu beker­ja di salah satu kantor yang buka sampai jam 2 siang. Di situ mereka menjadi klerk dan masing-masing mendapat gaji f.25,- per bulan. Mereka bekerja itu tidak untuk mencari uang buat plesir-plesir, namun hanya untuk modal menambah ilmu pengetahuan lagi. Begitulah saban sore hingga tengah malam, dua anak muda tadi belajar terus ilmu alam, ilmu bumi, ilmu pemerintahan negeri, ilmu hukum, ilmu agama, ilmu pertanian, ilmu yang mempe­lajari hal ihwal hewan dan lain-lain. Sudah barang tentu dalam berbagai jenis ilmu itu, mereka tidak bisa menda­patkan kepandaian seperti halnya seorang profesor. Akan tetapi, dengan belajar sungguh-sungguh, mereka lalu bisa tahu dan mengerti pasal semua ilmu sehingga dari macam-macam ilmu itu mereka bisa menarik faedah yang besar, yakni berpandangan luas dan berilmu penge­tahuan yang lebar. Adapun mereka mempelajari hal-hal itu dari berbagai jenis buku berbahasa Belanda. Pada za­man itu buku yang berbahasa Melayu hanya sedikit se­kali. Mereka membeli buku-buku itu saban bulan dari Toko V.D. Dan sebagai penuntun belajar, mereka mem­bayar seseorang guru Belanda yang saban minggu mau memberikan pelajaran selama 2 jam lamanya. Waktu yang sedikit itu, oleh kedua pemuda tadi hanya diper­gunakan untuk meminta keterangan-keterangan dalam hal-hal yang belum bisa mereka mengerti dari buku-bu­kunya.

Berbareng-bareng niat besi mencari luasnya pandang­an dan kepandaian itu, maka adik perempuan Tjitro juga ikut belajar dengan setia. Sehingga ia bisa memperoleh Kleinambtenaars-examen juga di waktu berumur 18 tahun.

Sudah tentu, ketiga muda-mudi tadi juga tidak bo­doh dan mau membiarkan tubuhnya rusak. Oleh karena itu, mereka juga melakukan gymnastiek; Olahraga tidak mereka lupakan. Saban minggu mereka jalan-jalan dan sebagainya. Itu semua untuk obat mereka kalau sedang capai belajar. Tetapi semua yang mereka kerjakan, bu­kannya hanya mencari kesenangan untuk kepentingan diri sendiri secara lahiriah (badan) atau batin (pikiran dan hatinya). Hubungan tiga muda-mudi itu akhirnya mem­buahkan cinta kasih antara Sariman dan adik perempuan Tjitro. Sehingga sewaktu Sariman menjadi hoofd-redncteur­-nya Sinar Ra’jat, ia lalu kawin dengan gadis tersebut. Pe­rempuan itulah yang diceritakan dalam awal Bagian VI ini.

Sewaktu Sariman dan Tjitro berumur 20 tahun - jadi sudah selama enam tahun mereka mencari berbagai jenis ilmu pengetahuan dan kepintaran - niat besi mereka su­dah memberikan pengetahuan dan pandangan yang cu­kup luas, juga akal budi dan kepandaian yang luas pula. Sehingga seandainya mereka diadu dengan murid H.I.S. yang sudah tamat belajarnya, tentu mereka tidak akan ka­lah. Hanya bahasa Inggris, Perancis dan Jerman, mereka tidak bisa sebab mereka memang tidak menyukai dan ti­dak ada waktu untuk mempelajarinya. Untuk sementara waktu, dua pemuda tadi memandang bahwa bahasa Belanda juga sudah cukup untuk membuka gudang kepin­taran dan pengetahuan Eropa karena untuk keperluan itu banyak sudah tersedia buku-buku dalam bahasa Be­landa.

Juga adik Tjitro, selamanya selalu mengambil tela­dan dari dua pemuda tersebut. Oleh karena gadis yang mempunyai niat besi tadi juga turut berilmu dan penge­tahuan yang luas. Meski begitu, ia tidak melupakan ke­pandaian perempuan, seperti masak-memasak di dapur, membatik, menjahit dan sebagainya.

Semenjak berumur 20 tahun, pemuda-pemuda itu la­lu masuk dalam pergerakan P.K. Dan karena luasnya pan­dangan dan ingatannya, maka mereka tidak lama lantas dipilih sebagai lid-lid bestuur (anggota Dewan Pengurus). Tjitro terpilih menjadi sekretaris dan Sariman menjadi Penningmeester dari cabang P.K. di Kota G. Bersamaan de­ngan mereka ikut pergerakan, mereka terus belajar saja. Terutama mempelajari buku-buku sosialisme, seperti Manifesto Komunisme dan Het Kapital (Das Kapital) karya Karl Marx, buku-buku mengenai koperasi, vakbond dan lain-­lainnya yang berfaedah untuk pergerakan rakyat. Mereka mengerti bahwa manusia itu meskipun rambutnya sudah putih, seharusnya tetap terus belajar untuk selalu me­nambah kekayaan ilmunya.

Begitulah mereka mencari ilmu-ilmu tersebut tidak hanya untuk kepentingan mereka sendiri, tetapi untuk kepentingan rakyat, yang mereka usahakan dalam P.K. Karenanya, sudah barang tentu, mereka tidak takut dalam membela rakyat. Badan mereka sendiri hampir-hampir tidak mereka hargai. Seorang manusia yang membela ke­pentingan beribu-ribu manusia seharusnya memang me­lupakan kepentingan mereka sendiri. Dan siapa yang me­lupakan kepentingan diri sendiri itu, tentu tidak takut apa-apa lagi. Begitupun juga adanya Tjitro dan Sariman; karena keberanian mereka menulis dalam surat-surat ka­bar dan berpidato dalam kesempatan berbagai vergadering maka tidak lama setelah bergerak, mereka lantas sa­ja dipecat dari pekerjaannya di toko. Sementara bulan, Tjitro dijadikan propagandis P.K. dan mendapatkan gaji dari perkumpulan tersebut. Adapun Sariman menjadi hoofd-redakteur; ia mendapat gaji dari surat kabar Sinar Ra’jat. Begitulah, Sariman seorang anak tukang rumput, yang tidak dapat belajar di sekolahan, masih muda sudah bisa menjadi hoofd-redakteur dari organisasi politik yang penting untuk kepentingan rakyat. Karena mempunyai niat besi, ia bisa termasyhur di seantero Hindia dalam hal kecerdasan dan kepandaiannya membela rakyat. Ia baru berumur 25 tahun sewaktu ia dipilih oleh Kadiroen men­jadi gurunya.

Pada suatu sore di waktu Sariman dan istrinya ber­sama-sama dengan Kadiroen sedang minun teh, maka Ka­diroen bercerita bagaimana rasanya orang yang terjepit di antara dua pilihan, yaitu sewaktu Kadiroen mengha­dapi pengangkatannya sebagai priyayi dan pergerakan P.K. Sehabis bercerita, ia bertanya kepada Sariman, apa­kah ia pernah juga menghadapi hal yang serupa.

“Kalau terjepit di antara dua pilihan, itu saya belum pernah, tetapi saya pernah terjepit di antara dua kewa­jiban!” jawab Sariman.

Sudah tentu Kadiroen dan istri Sariman ingin tahu masalah itu. Sariman menurutinya dan menceritakan de­mikian:

“Sebagaimana kalian semua sudah ketahui, maka ti­dak lama sesudah saya masuk dalam pergerakan P.K., sa­ya lalu terpilih menjadi penningmeester di cabang G. Se­sungguhnya uangnya tidak sedikit, sebab yang tersim­pan di bank jumlahnya tidak kurang dari f.2000,-. Sedang yang ada di dalam kas hanya kecil. Di tangan saban hari paling hanya f.100,- Akan tetapi, ketika baru saja saya menjadi penningmeester P.K. serta membantu tulis menu­lis di surat kabar Sinar Ra’jat, tiba-tiba saya lepas dari pe­kerjaan di toko. Dan dalam dua bulan saya terpaksa me­nunggu pembukaan pekerjaan hoofd-redacteur Sinar Ra'jat. Hoofd-redacteur-nya yang lama akan menjadi Presiden dari hoofd-bestuur, yang juga mendapat gaji dari P.K. Waktu itu perkumpulan kita sudah besar, sehingga mengurus dan mengaturnya amat susah dan repot serta memakan waktu, selain itu pekerjaannya juga amat banyak. Karena itu, perlu sekali pemimpin-pemimpin yang independen, seperti misalnya presiden mesti melulu bekerja memim­pin P.K. Oleh Algemeene Vergadering, saya dipilih menjadi hoofd-redacteur organisasi, tetapi saya harus menjadi leer­ling lebih dahulu selama dua bulan, tanpa mendapatkan gaji apa-apa. Karena saya sendiri memang tidak kaya, jadi sudah barang tentu dalam dua bulan itu saya terpaksa menjual atau menggadaikan arloji, rante dan barang-ba­rang lainnya yang dahulunya sedikit demi sedikit bisa saya kumpulkan. Begitulah, dalam dua bulan itu saya hi­dup miskin seperti seorang pertapa, kekurangan makan, barang dan pakaian habis, tinggal yang dipakai. Menda­dak waktu itu ketambahan kesengsaraan pula sebab ibu saya sakit. Wah repot betul. Ibuku minta didatangkan du­kun, dan begitulah, ia mendapat pertolongan dukun yang pintar dan baik serta besar pengaruhnya. Tetapi dukun itu menyuruh ibu memakan obat yang aneh sekali, yaitu, ibu saya harus makan buah anggur dan dalam lima jam harus habis satu pon. Kalau sudah memakan pinang dan sirih, tentu dalam tiga hari ibu akan sembuh. Sewaktu du­kun itu berkata kepada ibu, ia melihat ibu dengan sorot mata lurus dan tajam dan sangat dekat. Si dukun mem­beri kepercayaan yang besar pada ibu bahwa obat tadi, pasti akan menyembuhkannya. Saya tahu si dukun akan menyembuhkan ibu dengan cara hipnotis atau “ilmu ke­percayaan sejati” sedangkan obat yang aneh itu hanya dibuat syarat semata. Sebagaimana kau tahu, orang sakit juga bisa disembuhkan dengan pertolongan hipnotisme. Begitulah, lalu ibu meminta kepada saya supaya dibeli­kan buah anggur tersebut. Sudah tentu saya akan senang mengikuti permintaan ibuku, tetapi bagaimana? Sebab saya hanya punya uang f.0,10,- untuk beli makan esok pa­ginya. Juga untuk makan ibu. Sedang saya mau berpuasa, sebab kebetulan hari itu Sabtu sore. Sedang saya hanya tinggal mempunyai kain satu biji, tidak bisa saya gadai­kan, sebab rumah pegadaian sudah tutup. Adapun buah anggur waktu itu satu pon harganya harganya f.1,-. Be­gitulah saya mesti mencari pinjaman pada Tjitro dan orangtuanya. Akan tetapi, mereka juga tidak mempunyai uang, sedangkan saya tidak mempunyai kenalan lain yang dekat rumah ibuku dan bisa memberi pertolongan. Sekarang apa yang mesti saya perbuat? Saya ingat bahwa di tangan saya ada uang lebih dari f.100.- tetapi uang itu milik P.K. yang dipercayakan kepada saya untuk disim­pan dengan baik. Jadi, saya tak punya hak untuk meng­ambilnya meskipun hanya setengah sen pun. Sebaliknya, sakit ibu bertambah keras, saya harus cepat-cepat mem­belikan obat sebelum tokonya tutup pada Sabtu sore itu. Pada saat itu, di satu sisi saya mesti memenuhi kewajib­an membelikan obat kepada ibuku yang sakit keras, te­tapi saya tidak punya uang; di sisi lain, ada uang tetapi saya mesti memenuhi kewajibanku; yakni menyimpan uang itu untuk perkumpulan dengan tidak boleh meng­ambil satu sen pun untuk keperluan diri sendiri. Di satu sisi saya wajib membantu untuk keselamatan jiwa ibu, di sisi lain saya wajib menjaga keselamatan jiwa organi­sasi. O, bagaimana perasaan hatiku pada saat itu, Saudara Kadiroen. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya terjepit dua kewajiban.”

“Ganti berganti dalam sanubariku berkelahi, menang dan kalah. Maksud yang pertama dan pada saat itu me­nyuruh ‘tolonglah ibumu, hai anak yang mempunyai ke­wajiban setia dan mencintai pada ibu dan ambillah f.1,­dari kas P.K. untuk membelikan obat itu.’ Sebaliknya, maksud yang lain berkata: ‘Hai penningmeester P.K. yang dipercaya oleh rakyat yang meminta kesetiaanmu. Ja­nganlah kamu nodai kewajibanmu, menyimpan uang un­tuk menjaga keselamatan jiwa P.K., kamu tidak boleh am­bil setengah sen pun untuk keperluan ibumu.’ Saya mau memilih melanggar kewajiban sebagai penniingmeester untuk keperluan kehidupan ibuku, tetapi saya ingat bah­wa dalam hal ini saya akan membunuh kewajiban yang dipikulkan oleh saudara-saudara kaum pergerakan yang begitu besar kepercayaannya kepada saya. Saya mau te­tap menjaga kewajiban saya sebagai penningmeester, tetapi seolah-olah saya juga membunuh kewajiban kepada ibu­ku sendiri. Semakin lama saya memikirkan hal itu, hati dan pikiran saya semakin bingung. Saya merasa tidak kuat untuk memihak dan memikul dua beban kewajiban yang menghimpit ini. Dan sebentar timbul ingatan untuk bunuh diri saja. Lebih baik saya mati sendiri daripada se­olah-olah saya 'membunuh ibu' atau 'membunuh kewajibanku sebagai penningmeester'. Segeralah saya mengam­bil pisau belati untuk menusuk mati badan saya sendiri. Tetapi saya urungkan niat itu sebab saya rnendengar te­riakan ibu.

'Duh, Sariman, anakku. Akh, saya merasa sangat sa­kit ... Aduh ... aduh, minta minum ...'

“Saya lari menemui ibuku, memberinya minum dan ingat bahwa dengan berbuat bunuh diri, saya tidak akan bisa membelikan obat pada ibu, yang juga bisa membikin matinya juga. Sedang dengan kematian saya pun, per­kumpulan P.K. juga tidak akan terbantu. Ya, kasnya malahan akan semakin kusut sebab saya tidak bisa menye­rahkan kepada penningmeester yang akan menggantikan saya dengan benar dan rapi. Tangisan ibu sudah men­dinginkan pikiran saya yang sedang kalut. Saya menjadi sedikit bersabar dan lalu bisa memikirkan dengan tenang. Saat itu jam setengah enam. Sedang jam sembilan toko buah anggur akan tutup. Apa yang harus saya perbuat? Sahabat yang kira-kira akan bisa memberikan pinjaman, rumahnya jauh dan waktunya tak akan cukup jika saya minta tolong kepadanya. Sahabat-sahabat yang dekat, se­muanya juga miskin, sedangkan orang-orang yang sedi­kit mampu di dekat tidak saya kenal. Tetapi sore itu, sa­ya harus mendapatkan uang dengan jalan yang sah dan halal. Nah, saya dapat usaha, saya mau mengemis. Nah, Sau­dara Kadiroen, memang hari itu saya berpakaian robek­-robek, bisa untuk mengemis. Sebab hanya dengan usaha itu jalan yang halal. Saya percaya, bahwa dalam keadaan terjepit seperti yang saya alami waktu itu, lebih baik kita mengemis daripada mencuri uang perkumpulan yang dipercayakan kepada saya. Lebih baik, manusia yang su­dah kehabisan jalan itu mengemis. Meski mengemis itu akan membikin malu orang banyak yang melihat, namun hemat saya lebih baik begitu daripada mencuri uang perkumpulan yang dipercayakan kepadanya. Meskipun jika mencuri tidak akan diketahui oleh seorang pun, dan ha­nya mencuri dalam satu jam misalnya dan nantinya akan dikembalikan lagi. Begitulah, maka saya lalu berjalan mondar-mandir di muka rumah-rumah orang-orang di si­ni. Di sini diusir, di sana di beri 1 sen, 3,2 atau setengah sen. Di tempat lain diusir oleh anjing-anjing pemilik rumah. Jam delapan. Kurang satu jam saya menghitung pen­dapatan saya. Oh, baru dapat f.0,15,-. Hati saya mulai bi­ngung lagi. Tetapi lalu saya ingat kepada Tuhan Allah dan di situ lantas saya duduk di tanah di tepi jalan, serta beberapa menit berdoa dengan sungguh-sungguh me­minta pertolongan Tuhan Allah Yang Mahakuasa. Sebuah auto berjalan melewati saya, memaksa saya untuk berdi­ri lagi. Dan dalam auto itu saya melihat orang-orang yang kaya berpakaian mewah sedang tertawa-tawa, dengan tidak ingat atau mau melihat pada si miskin. Di muka sa­ya ada rumah seorang haji yang sedikit kaya, saya tidak kenal kepadanya. Tetapi kesulitan memberikan kebe­ranian kepadaku, dan saya memberanikan diri untuk me­ngemis kepadanya uang sebesar f.0,85, serta saya mene­rangkan apa sebabnya berani mengemis begitu banyak. Kesusahan memaksa saya mengeluh! Tuan Haji tersebut waktu mendengar cerita saya mulai menjadi heran. Lama ia tidak menjawab dan hanya melihat dengan tajam ke mukaku. Maka sekonyong-konyong, ia berkata:

‘Astaga! Saudara Sariman, penningrrreester P.K. Sauda­ra? Saya juga anggota P.K. meskipun Saudara tidak me­ngenali saya, karena banyaknya anggota yang beribu-­ribu, tetapi saya kenal kepadamu. Rupanya sudah jelas, O, Saudara. Tetapi apa sebabnya kau mengemis begini? Ceritakanlah dengan hati ikhlas dan pandanglah saya ini sebagai saudaramu sendiri.’

“Pada saat itu maka hati saya menjadi bahagia dan senangnya sebesar Gunung Himalaya. Doa saya kepada Tuhan Allah sepertinya di dengar oleh Gusti Yang Ma­hakuasa itu, sedangkan saudara Haji tersebut oleh Gusti Kita, dijadikan alat untuk menolong saya. Sesungguhnya, seorang yang dipilih oleh Tuhan Allah menjadi wakilnya untuk menolong si susah, tentu akan mendapat rahmat Tuhan Allah pada waktunya sendiri.”

“Sudah tentu saya lalu terpaksa bercerita kepada sau­dara tersebut dengan pendek tentang semua masalah sa­ya. Dan sebentar saja menaikkan saya ke kereta untuk membelikan anggur, guna obat ibuku. LaIu saya mendoa­kan keselamatan kepada saudara Haji tersebut sebagai tanda terima kasih.”

“Jam sembilan persis, ibu saya sudah dapat obat ang­gur itu. Sedang seterusnya saya melayani dan menjaga ibu sambil memohon kepada Tuhan Allah supaya ibuku lekas sembuh. Jam dua malam maka buah anggur tadi sudah habis dimakan, sebagaimana nasihat dukun. Dan ibuku lalu bisa menginang. Dua hari kemudian ibuku bisa sembuh dan lalu bisa jualan nasi sayur lagi. Hati dan pe­rasaan saya menjadi senang dan tenteram. Ya, saya me­rasa seperti baru sekali ini merasakan nikmatnya surga batin. Terjepit di antara dua kewajiban, digoda setan pencuri pun saya bisa tetap tebal iman dan mau serta te­rus bisa berjalan dalam kebaikan. Dengan pertolongan Tuhan Allah, saya mendapat kekuatan untuk menjalan­kan kewajiban-kewajiban saya. O, Saudara, siapa yang ti­dak akan merasakan nikmatnya kesenangan batin atau nikmat jiwa kalau mendapatkan kemenangan melawan nafsu jahat dan bisa berbuat baik juga ketika ada bahaya yang besar sekalipun. Tuhan Allah pun tidak lupa mem­beri ganjaran atau anugerah kepada yang baik, dan ten­tunya menghukum pada jiwa manusia-manusia yang ja­hat. Saya sudah merasakan dan mengalaminya sendiri hal-hal itu. Dan karena itu, sekarang saya terus-menerus berusaha keras melawan nafsu saya yang busuk dan se­lalu berusaha untuk berbuat baik. Hal yang mana telah memberikan kesenangan jiwa pada hari-hari saya. Kesenangan sejati tempatnya ada di dalam kebaikan hati, se­dang semua godaan atau rintangan bagi niat hati yang baik, sebagaimana yang tadi sudah saya ceritakan itu se­olah-olah hanya buat menambah besarnya kesenangan se­jati itu. Sesudah godaan atau rintangan dilawan sampai tidak bisa menarik manusia dalam kejahatan maka tiba waktunya Tuhan Allah memberikan anugerah kepada manusia yang dicoba, tetapi tetap kuat dan terus mela­wan nafsu yang jahat. Anugerah itu, yang berupa kese­nangan batin atau kenikmatan jiwa, yang mendatangkan kesenangan, mendatangkan nikmat surga untuk jiwa ma­nusia sesudah ditimpa kesusahan dan kekesukaran.”

Begitulah, Sariman menerangkan keterjepitan di an­tara dua kewajiban tadi. Sedang Kadiroen mendengarkan betul. Lalu untuk sementara waktu mereka semua diam, seolah-olah semua meneruskan sendiri cerita itu dalam pikiran masing-masing. Pada saat tidak ada yang berbi­cara tadi, kesunyian itu diputus dengan pembicaraan Ka­diroen:

“Saudara Sariman, tadi kamu cerita perihal ibumu, sekarang ada di mana?”

“Meninggal dunia sesudah saya kawin!” jawab Sari­man dengan perasaan sedih. Kadiroen jadi menyesal te­lah menanyakan hal itu. Oleh karena itu, Kadiroen lalu mengalihkan pada pembicaraan lain. Tidak antara lama Kadiroen berkata:

“Saudara Sariman, kamu tidak saja luas pandangan­nya, pintar dan bijaksana, cerdas serta mempunyai niat sekuat baja dalam semua hal yang baik. Tetapi juga nyata dapat dipercaya rakyat. Karena itu, nama baikmu ter­masyhur harum di seantero negeri, dan kamu dihormati oleh banyak orang.”

Sariman menjadi tertawa. Sedang istrinya berkata sambil tertawa juga:

“O, Kanda, Saudara Kadiroen mau mengambil hati dengan memuji kanda sebab mau meminta sesuatu?”

Mendengar hal itu, Kadiroen juga tertawa. Lalu ke­tiganya tertawa dengan sangat ramai. Tetapi sesaat kemu­dian Sariman diam dan memandang tajam kepada Kadi­roen seraya bertanya:

“Apa Saudara Kadiroen mau mencari nama harum, kemasyhuran dan kehormatan?”

“O, tidak!” jawab Kadiroen.

Sariman lantas berkata pula:

“Sebaiknya begitu Saudara. Sebab saya juga tidak mencari tiga perkara itu dan memang tidak bisa didapat atau dicari. Orang yang mencari nama harum akan men­jadi sombong, besar kepala, congkak dan sebagainya. Yang mencari kemasyhuran akan menjadi penakut da­lam pergerakan. Tidak mempunyai pendirian yang tetap. Hanya mondar-mandir ikut yang kuat supaya jangan di­katakan busuk oleh pihak yang jahat atau pihak yang baik. Orang yang mencari kehormatan akan menjadi penjilat berhadapan dengan orang berpangkat di atasnya dan me­nindas, minta dianggap seperti raja oleh orang yang ada di bawahnya. Mencari tiga perkara itu akan menuntut nafsu untuk kepentingan diri sendiri. Dan siapa yang mau menjadi budak nafsu untuk kepentingan diri sendiri, tentu tidak akan mendapatkan apa yang ia cari. Tetapi hanya akan menjadi orang yang selalu ingat pada dirinya sen­diri. Itulah yang akhirnya memberi orang sifat sombong, penakut dan penjilat. Dan menjadikan hinanya sendiri di mata orang-orang yang baik. Meskipun kadang-kadang ditakuti (tidak dicintai) oleh si bodoh yang ada di bawah­nya. Dan disenangi, tetapi tak dihormati oleh si busuk yang ada di atasnya. Orang yang mencari kemasyhuran, kehormatan dan nama yang harum, akan tidak bisa men­dapatkan yang sejati. Meskipun mereka kadang-kadang bisa mendapatkan hal-hal itu yang palsu. Artinya ia me­nurut kehendaknya sendiri dan menuruti kehendak semua orang yang sudah rusak moralnya. Meski katanya sudah dihormati, sudah termasyhur dan harum namanya, tetapi perkara palsu serupa itu, tidak akan bisa langgeng, hanya bisa bertahan beberapa waktu dalam hidupnya. Sedang jika ia sudah meninggal dunia namanya akan rusak dan busuk, mendapat hinaan umum dan sebagainya. Sebab mereka tidak mempunyai kekuatan lagi untuk menghukum dan menakuti serta membujuk pada orang-orang yang dikenalnya atau yang berhubungan dengan mereka. Semua hal yang palsu tidak bisa langgeng.”

“Nama harus sejati, kemasyhuran sejati dan kehor­matan sejati akan langgeng dan hidup terus-menerus meski orangnya sudah mati. Artinya, manusia yang se­rupa itu akan dihargai oleh orang lain dan selalu diingat­nya. Kuburannya sekalipun masih dikunjungi oleh beri­bu-ribu orang. Namanya pun hidup dalam hikayat yang bercahaya. Pendeknya, mereka boleh dibilang hidup mu­lia sesudah matinya dan menurut kebanyakan orang yang mempunyai ilmu gaib, orang yang hidup mulia sesudah mati itu artinya mendapat surga akhirat. Nama harum se­jati, kemasyhuran sejati dan kehormatan sejati ialah ca­haya jiwa. Manusia hanya bisa bercahaya kalau mendapat bintang dari Tuhan Allah, yaitu bintang yang dianuge­rahkan oleh Tuhan Allah kepada manusia. Dan bintang itu oleh kebanyakan orang Islam dinamakan nur. Oleh agama Jawa kuno, dinamakan wahyu. Kita manusia bisa mendapatkan anugerah bintang jiwa itu, tetapi jiwa kita mesti membuktikan lebih dahulu bahwa memang sudah adil kita mendapatkan bintang atau nur itu. Bagaimana bisa membuktikan, tidak lain hanya melalui jalan berbuat baik buat beribu-ribu manusia yang ada dalam kesusah­an, kesukaran, kebodohan, penindasan atau kemiskinan. Sudah tentu manusia yang mau berbuat baik buat semua manusia lain itu, mesti memperbaiki batinnya lebih da­hulu. Hanya jika memperbaiki batin tersebut dilakukan sebagai tujuan penghabisan, tentu ia lalu bisa hidup se­lamat, senang dan tenteram. Tetapi belum cukup buat mendapatkan nur.”

“Yang dinamakan batin yang baik yaitu tidak suka berbuat jahat, tidak suka merusak manusia lain serta adat istiadat berlaku sebagaimana mestinya. Orang yang be­gitu itu namanya ‘baik biasa’ dan mereka tidak menyu­sahkan manusia lain. Tetapi juga tidak menyenangkan beribu-ribu manusia. Itulah sebabnya mereka belum bisa mendapatkan nur. Sesudah batinnya sendiri menjadi baik maka manusia mesti lalu memperbaiki batin orang-orang lain yang masih belum sempurna, yaitu perbuatan yang dikatakan 'menyenangkan atau menolong sesama manus­ia.' Caranya menolong atau menyenangkan ada berbagai cara, ada yang melalui jalan jiwa atau jalan utama atau juga jalan gaib, yaitu memberi tahu kepada beratus-ratus orang bahwa semua orang mesti mengetahui rahasia agama atau mesti mengikuti kehendak Tuhan Allah dengan maksud supaya hidup kita tidak berdosa, kalau mereka ingin mendapatkan kesenangan batin. Orang yang ahli memberi tahu jalan semacam itu dinamakan wali atau guru agama, kyai dan pendeta. Kalau mereka sudah menyatakan dan membuktikan perbuatannya dengan memberikan pelajaran yang utama itu sungguh-sungguh, semata bertujuan untuk memuliakan orang banyak sehingga beribu-ribu orang bisa merasakan nikmatnya pengajarannya, mereka akan mendapatkan nur dan jiwa mereka menjadi bercahaya. Artinya, mereka menjadi masyhur, mendapat nama harum dan dipuji serta dihormati oleh banyak orang. Ya, kuburannya pun setelah be­ratus-ratus tahun ia mati masih selalu dikunjungi orang yang meminta pertolongan, satu bukti bahwa ia hidup te­rus sesudah mati. Jalan yang lain lagi ialah:

“Memberi pertolongan kepada beribu-ribu manusia yang hidup dalam penindasan. Entah penindasan harta benda atau kekayaan negerinya. Manusia yang beribu-­ribu itu atau manusia yang tertindas nama dan kehormat­annva sebagai manusia adalah yang ditindas oleh orang lain yang hanya sedikit jumlahnya. Manusia yang mem­buktikan dengan membantu rakyat yang serupa itu juga bisa mendapatkan nur. Seperti di negeri Belanda, Prins Willem van Oranye Nassau; di tanah Jawa, Diponegoro dan masih banyak lagi contoh-contohnya. Ini penolong manusia namanya. Mereka juga hidup sesudah mati mes­kipun kuburannya tidak dikunjungi manusia. Pendek kata, jalannya membuktikan kebaikan yaitu: 'menolong, membantu, menyenangkan, dan memuliakan beribu-ribu manusia atau rakyat.' Adapun kekuatan manusia untuk berbuat baik seperti itu juga berlain-lainan. Sehingga be­sarnya nur atau cahaya nur yang dianugerahkan oleh Tu­han Allah pada manusia yang baik itu juga akan berlain-­lainan. Bertambah besar kehendak dan kepandaian ma­nusia yang berbuat baik sebagaimana tadi sudah saya te­rangkan, bertambah besar dan terang pula cahaya nur yang ia punyai. Dan secara lahiriah ia mempunyai nama bertambah harum. Ia masyhur dan semakin bertambah dihormati orang banyak. Bagaimanapun nur itu adalah anugerah Tuhan Allah dan tidak bisa dicari-cari, tetapi didapat sendiri setelah membuktikan bahwa si berun­tung itu memang sudah adil mendapatkan anugerah itu. Begitupun terjadi pada siapa saja yang dengan hati tulus dan terus-menerus membela dengan jalan apa saja kepa­da rakyat Hindia yang sedang ada dalam kemelaratan, kemiskinan, kebingungan dan kebodohan dan kehinaan dalam zaman kita sekarang ini. O, Saudaraku Kadiroen, akhirnya pada waktunya sendiri, si pembela rakyat itu akan mendapaikan anugerah nur, meskipun ia tidak men­cari atau menginginkan itu.”

Begitulah, maka Sariman berbicara sebagai seorang guru sejati yang memberikan jalan utama kepada Kadi­roen. Kata-kata Sariman, meski hanya disambi dengan mi­num teh, sangat bermanfaat bagi Kadiroen. Oleh karena itu, Sariman berpengaruh besar atas Kadiroen dan men­jadi gurunya.

Pada suatu hari Sariman dan istrinya tertawa ramai sekali. Karena tidak ada orang lain, mereka berciuman se­bagaimana layaknya lelaki-perempuan yang saling men­cintai betul-betul satu dengan yang lainnya. Tiba-tiba Ka­diroen datang, tetapi melihat Sariman dan istrinya sedang tertawa, maka Kadiroen segera menarik diri dan duduk di bagian lain dari rumah itu yang tidak dilihat oleh Sa­riman. Begitupun Kadiroen juga tidak bisa melihat Sari­man.

Sariman terkejut melihat sahabatnya datang pada waktu yang tak terduga-duga. Tetapi ia menjadi heran, mengapa Kadiroen sangat tergesa-gesa menarik diri. Se­dang biasanya Kadiroen merasa senang kalau ia berkum­pul bertiga. Sariman ingin tahu sebabnya. Karena itu, ia segera menghentikan ketawanya dengan istrinya dan da­tang menemui Kadiroen. Adapun waktu itu Kadiroen ha­nya duduk diam. Matanya terbuka tetapi seperti tidak melihat apa-apa. Kupingnya terbuka tetapi seakan tuli. Kadiroen tidak tahu kalau Sariman datang menemuinya. Karena Kadiroen sedang memikirkan hal yang membu­nuh keinginan lahiriahnya dan hanya memusatkan kepa­da jiwanya dalam harapan dan cita-citanya yang amat be­sar. Dengan suara pelan Sariman memanggil: "Kadi­roen!" Tetapi Sariman tidak mendapat jawaban. Sariman menjadi heran, tetapi begitu cepat ia bisa mengira-ngira apa sebab Kadiroen berbuat aneh begitu. Sariman ingin mencocokkan dugaannya dengan kejadian yang sebenar­nya. Oleh karena itu, Sariman mendekati Kadiroen de­ngan pelan-pelan. Dan sambil berdiri di belakangnya, ia berbisik-bisik, “Ia yang paling ayu sendiri.”

“O.... iya...,” jawab Kadiroen dengan pelan seperti ter­gagap. Tetapi Kadiroen sepertinya terkejut oleh perka­taannya sendiri. Maka pikiran dan jiwanya kembali sebagaimana adanya. Dan sedikit malu dan bingung la me­lihat Sariman dan bertanya:

“E, Saudara Sariman, saya tidak tahu apa-apa?”

Sariman melihat Kadiroen dengan sorot mata yang lurus dan tajam ke mata Kadiroen. Dan dengan perkataan yang tulus hati dan sedalam-dalamnya, maka ia berkata: “Saudara, kau mempunyai rahasia yang kau simpan sendiri yang tidak pernah kau ceritakan kepada siapa pun. Bahkan kepada saya yang sudah menjadi sahabat secara lahir dan batin, kau tidak percayakan rahasiamu.” Kadiroen menjadi setengah ketawa dan sepertinya ia mau menyembunyikan perasaan batinnya. Dan ia pun la­lu menjawab:


“Ah, rahasia apa?”

“Kamu mencintai seorang perempuan?” tanya Sari­man.

Kadiroen tidak menjawab dan Sariman cepat me­nyambung perkataannya.

“Cinta, sewaktu kamu menjadi Asisten Wedono, te­tapi perempuan itu telah mempunyai suami?”

Kadiroen menjadi amat terkejut dan berkata:

“Saudara Sariman, siapa yang memberitahukan kamu mengenai rahasiaku itu? Memang itulah rahasiaku dan saya mau menyimpan itu sampai mati. Tetapi sepertinya kau mempunyai hati dan pikiran yang tajam luar biasa. Maka kamu sekarang bisa mengetahui rahasia jiwaku. Be­gitulah maka kamu sekarang sudah membuka guci wa­siatku.”

“Begitukah perkiraanmu Saudara Kadiroen? Ingat­lah, seorang sahabat sejati bisa awas dan bisa tahu ke­kuatan dan kelemahan sahabatnya. Saya sudah lama me­mikirkan, apa sebabnya kamu sering berduka cita. Kamu kelihatan sering berpikir sedemikian rupa, sehingga ka­ta orang kamu kelihatan tidur, meskipun kamu bangun. Selain itu, kamu sering sakit kepala dan gampang sakit badan juga. Lagian, kamu sering lupaan. Pasal sering sa­kit kepala dan gampang sakit badan itu memang sering diderita oleh seorang lelaki yang sudah waktunya ber­hubungan dengan perempuan, tetapi tidak mau berhu­bungan. Mengenai masalahmu tidak suka kawin, saya ta­hu, kamu seorang manusia yang baik-baik. Dan sudah tentu karena kebaikanmu itu, kamu tidak mau berhu­bungan dengan perempuan-perempuan hina sebagaima­na kebanyakan pemuda yang berbuat dosa itu. Tetapi ka­mu tidak mau kawin juga meskipun sudah berpangkat wedono dan umurmu sudah lebih dari cukup. Itulah yang sering menjadi pikiranku. Saudara Kadiroen, baru­san tadi kamu menunjukkan rahasiamu, tidak secara ka­mu sengaja. Di mana jiwa manusiamu penuh dengan ra­hasia-rahasia, di situ tingkah lakumu menjadi cermin ji­wamu itu. Saya sedang tertawa-tawa dengan adikmu, ka­mu datang dan berlari lagi, serta seperti tiduran lagi, mes­kipun kamu bangun. Perbuatanmu yang aneh itu sudah saya hubungkan dengan halnya saya tertawa-tawa de­ngan istriku. Dan saya sambung lagi dengan dengan hal­nya kamu tidak mau kawin. Dan segeralah saya dapat menduga bahwa kamu sudah menaruh cinta. Adapun ba­rusan kamu mengingat-ingat lagi orang yang kau cintai itu sebab kamu telah melihat saya sedang bersenang-se­nang tertawa dengan istriku. Saya punya dugaan itu dan sudah saya cocokkan ketika sambil berdiri di belakang­mu saya berbisik; “la yang paling ayu sendiri.” Kamu menjawab “ya” seperti sedang bermimpi. Itu sudah men­jadi bukti bahwa kamu sedang tergoda gadis yang kamu cintai. Lalu saya sudah bertanya dalam hatiku sendiri, se­jak kapan Kadiroen mulai tergoda cinta itu? Dan saya bisa berpikir, di Hindia, kebanyakan pemuda yang sudah ber­umur 20 tahun sampai paling lambat 25 tahun, biasanya tergila-gila, jatuh cinta pada seorang perempuan. Pada saat umur itu, kamu berpangkat asisten wedono dan su­dah naik pangkat lagi. Jadi, saya lalu mengira-ngira, kamu mulai menaruh cinta sewaktu kamu berpangkat asisten wedono. Dan mengingat pula pangkatmu, wajahmu serta keadaanmu, maka umpamanya kamu waktu itu mencin­tai seorang gadis, tentulah kamu bisa kawin. Tetapi ke­nyataannya kamu tidak kawin, jadi timbullah dugaanku, bahwa orang yang kamu cintai itu sudah mempunvai le­laki. Untuk mencocokkan dugaanku itu maka saya ber­bicara seolah-olah sudah tahu betul, supaya kalau ke­jadian sesungguhnya memang begitu, kamu menjadi ter­kejut dan mengakui. Dalam bahasa Jawa dibilang gedak. Begitulah, kamu saya gedak lalu sungguh mengaku. Li­hatlah Saudara Kadiroen, sesungguhnya saya tidak mempunyai hati dan ingatan yang tajam luar biasa. Tetapi saya hanya menarik dugaan dari beberapa hal yang saya kum­pulkan. Dan dugaan itu bisa sah kalau sudah ada bukti-­buktinya. Untuk orang yang suka dan sering memikir-mi­kir, maka mencari bukti atau mencocokkan dugaan itu dengan keadaan yang sesungguhnya itu amat gampang!”

“Tetapi sekarang lain perkara, Saudara Kadiroen. Sungguh saya tidak ingin ikut campur dalam urusan ji­wamu itu andai kata saya tidak mencintai dan bersahabat karib denganmu. Ketahuilah, seorang lelaki yang sudah sampai umurnya untuk berhubungan dengan seorang perempuan itu, tetapi tidak mau melakukannya maka sa­ma halnya menyalahi kodrat. Lalu ia sering sakit-sakit­an, pelupa dan cepat menjadi tua dan tidak akan mem­punyai kekuatan yang cukup untuk menggapai tujuan hidup. Oleh karena itu, pada waktunya maka seorang le­laki harus kawin. Begitupun jika kamu mau turut membela rakyat terus-menerus, maka kamu mesti kawin. Sa­ya tidak sepakat jika kamu mau berhubungan dengan pe­rempuan-perempuan hina yang celaka itu. Tetapi saya memberi nasihat kepadamu, kawinlah,” jawab Sari­man.

Mendengar hal itu, Kadiroen menjadi sedih hati dan dengan pendek serta menangis dalam hatinya ia men­jawab:

“Tidak bisa Saudara, saya hanya mencintai sekali saja. Bahwa percintaan saya itu tidak bisa lulus karena ada le­laki lain yang mendahului hak, maka itulah celaka saya. Barangkali sudah kehendak Tuhan Allah bahwa jiwaku ini harus menanggung sengsara yang serupa ini.” “Tidak begitu, Saudara Kadiroen!” kata Sariman. “Percayalah kepada Gusti Allah Yang Maha belas kasih­an kepada manusia yang baik. Dan ia tentunya akan me­nolong kepada manusia yang sedang mendapat kesusah­an itu, asal saja manusia itu mau berusaha. Juga dalam masalahmu ini masih bisa diusahakan. Menurut penda­pat saya, percintaan itu ada dua warna dan jalannya juga ada dua rupa. Ada yang terbawa oleh cita-cita perjaka, ketika ia melihat seorang perempuan, yaitu cinta sejati yang asalnya melihat bayangannya sendiri dalam diri pe­rempuan itu. Dan ada juga percintaan yang karena belas kasihan jembatan ke negeri cinta. Jadi, kalau kamu begitu celaka dan tidak bisa menggapai cinta pertamamu, ka­winlah dengan seorang perempuan yang bisa menarik be­las kasihanmu dan akhirnya kau juga bisa mencintai orang itu juga. Tetapi Saudara Kadiroen, saya ingin memban­tumu dengan usaha sebisa-bisa saya. Karena itu, cerita­kanlah masalah percintaanmu dahulu itu.”

Kadiroen mendengarkan Sariman yang lebih luas pandangannya dalam semua hal. Lalu ia mau menceri­takan apa yang sudah diminta Sariman. Begitulah, maka Sariman bisa mengerti sejarahnya Ardinah sebagaimana tersebut dalam bagian dua di buku ini. Lalu Sariman me­minta izin kepada Kadiroen untuk memusyawarahkan masalah yang sukar itu dengan istrinya supaya Sariman sekalian bisa berusaha memberi pertolongan yang sebi­sanya. Kadiroen sepakat.

Kembali ke Menu Utama

 
RocketTheme Joomla Templates