Hikayat Kadiroen - Bab VII Cetak E-mail
Ditulis oleh Semaoen   
Minggu, 04 April 2010 01:06
Share

BAB VII

Pembela Rakyat Mulai Mendapat Hadiah

Sariman dan istrinya baru saja datang dari bepergian ver­lof. Sariman duduk di depan rumah sambil menunggu ke­datangan Kadiroen yang waktu itu sedang mewakili pekerjaannya sebagai hoofd-redacteur Sinar Ra’jat. Tidak be­rapa lama, yang ditunggu pun datang. Keduanya lalu sa­ling berjabat tangan serta menunjukkan kebahagiaan ma­sing-masing, karena mereka bisa bertemu lagi dengan se­lamat. Sariman berkata sambil tertawa:

“Saudara Kadiroen, saya membawa oleh-oleh buat kamu dari kepergian saya. Tetapi kamu sekarang belum boleh mengambil itu kalau kamu tidak mau berjanji mau kawin dengan Ardinah kekasihmu, jika Ardinah sudah pisah secara sah dengan suaminya.”

Dengan tertawa juga Kadiroen menjawab:

“Saya minta oleh-olehmu, sekalian juga minta kawin dengan Ardinah. Kalau kau bisa membebaskan Ardinah­ku dari suaminya yang menyusahkan Ardinahku itu.”

Keduanya lalu menuju ke belakang. Tetapi baru da­tang ke pintu belakang, Kadiroen terkejut dan wajahnya mendadak menjadi pucat sebentar. Sebentar kemudian menjadi merah padam, sedang kata-katanya penuh mak­na cinta dan hatinya gembira, tetapi bercampur sedih se­bab gadis yang dicintai belum bebas. Maka Kadiroen ber­kata sambil mengelus dadanya “Ardinah!”

Memang, waktu itu, Ardinah ada di situ. Dan gadis itu juga menjadi merah padam wajahnya. Sedang ia ber­kata dengan amat senang bercampur rasa malu, “O, Tuan­ku!”

Sariman dan istrinya melihat Kadiroen dan Ardinah menjadi senang dalam hati. Sementara itu Sariman ber­teriak sambil tertawa:

“E, memang sudah jodoh tetapi jangan tergesa-gesa dulu ya! Lebih dahulu harus disahkan oleh penghulu. Se­karang kita berempat mesti vergadering dahulu. Marilah kita sama-sama duduk dan berembuk.”

Begitulah, maka keempat orang tadi bersama-sama duduk melingkari meja persegi empat dan Kadiroen ber­tanya kepada Sariman dengan malu, sebentar-sebentar pandangan matanya melirik ke arah Ardinah.

“Saudara Sariman, saya tidak mengerti sama sekali, bagaimana duduk perkaranya ini?”

Istri Sariman menjawab dengan tertawa.

“Selamanya, orang yang sedang mabuk cinta akan kehilangan akal dan menjadi bodoh.”

Tertawanya itu semakin menambah malunya Kadi­roen sebab waktu itu Ardinah ikut setengah tertawa. Se­lesai tertawa, Sariman menyambung.

“Begini Saudara Kadiroen, sewaktu kamu menceri­takan rahasia percintaanmu itu, maka kamu menerangkan kebaikan Ardinah lahir dan batin ... E, jangan menjadi me­rah Saudara Ardinah!” kata Sariman memotong ceritanya dengan tertawa sambil melihat Ardinah. Sekarang Ardi­nah ganti menjadi malu sebab Kadiroen ikut setengah ter­tawa.

“Sekarang saya teruskan ceritaku!” kata Sariman. “Se­lain dari itu, kamu, Saudara Kadiroen sudah berkata bah­wa Ardinah sudah melepas kamu dari kewajibanmu me­nolong istri tua Kromo Nenggolo. Ardinah sudah men­jelaskan bahwa ia memiliki cara tersendiri untuk meno­long itu. Hal itu saya jadikan pusat perhatianku, guna berusaha membantu hubungan percintaanmu. Saya lalu berpendapat bahwa Ardinah - mengingat watak Ardi­nah sebagaimana dahulu sudah kamu jelaskan - pasti akan bertindak jika ia mempunyai niat. Jadi, sewaktu ka­mu pindah dari Onderdistrik Gunung Ayu sebab kamu naik pangkat menjadi wedono, maka mestinya Ardinah sudah bertindak sedemikian rupa, sehingga ia dicerai oleh Kromo Nenggolo. Sebab hanya dengan cara itu, ia bisa menolong istri tua Kromo Nenggolo yang menderita batin itu. Begitulah pendapat saya. Maka saya bersama istri saya minta verlof guna membuktikan pendapat saya itu, apakah cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. Saya tidak mengatakannya padamu agar kamu tidak su­sah seandainya kepergian saya ini tidak membawa hasil.

Karena di Desa Meloko sudah ada P.K., maka de­ngan gampang saya bisa mengetahui keadaan Ardinah di sana. Saudara-saudara anggota P.K. banyak yang kenal kepada saya dan suka menolong. Dengan pertolongan saudara-saudara yang percaya kepada saya itu, maka sa­ya bisa mendapatkan Ardinah. Istri saya lalu berkenalan dengannya. Selanjutnya, usaha-usaha yang lain saya se­rahkan kepada istri saya. Oleh karena itu, istri saya akan menyambung pembicaraanku ini.”

Istri Sariman meneruskan.

“Begini, sesudah saya berkenalan dengan Ardinah, maka saya berbuat sedemikian rupa sehingga Ardinah menaruh kepercayaan kepada saya. Sesudah saya diper­caya, lalu saya bisa meminta keterangan yang bermacam-­macam. Pada saat itu, maka saya mendapatkan cerita, bahwa betul ia dulunya menjadi istri Kromo Nenggolo. Tetapi sekarang sudah dicerai dan diambil anak oleh kamitua desanya. Kamitua itu, keduanya sudah kakek-nenek, tetapi mereka tidak mempunyai anak sama sekali. Karena sewaktu Saudari Ardinah dicerai oleh Kromo Nenggolo, ia tidak mempunyai sanak famili sama sekali, kamitua itu menjadi kasihan kepada Saudari Ardinah. Maka ia diam­bil menjadi anak dan menjadi pembantu utama dalam ke­Iuarga kakek-nenek itu. Sudah beberapa kali ada pemuda melamar Ardinah, tetapi Ardinah tidak mau kawin lagi dan ia akan melulu melayani ayah ibu tua yang amat baik dengan anak angkatnya itu. Ardinah menjadi begitu be­sar kepercayaannya kepada saya sehingga ia bilang bah­wa meskipun secara lahiriah ia pernah menjadi istri Kromo Nenggolo, tetapi selamanya ia menolak suaminya itu. Sehingga sampai sekarang Ardinah menyatakan bah­wa ia masih seorang gadis yang masih suci dan kuat me­lawan nafsu. Apa sebabnya ia melawan, kamu pun, Sau­dara Kadiroen juga sudah tahu. Selamanya Ardinah di­siksa oleh suaminya, tetapi selamanya juga ia berniat me­nolong istri tuanya dan selalu minta cerai. Tetapi si lelaki tidak mau menuruti, sedang Ardinah tidak mendapatkan jalan pertolongan bagaimana ia bisa melepaskan diri dari Kromo Nenggolo. Sudah tentu cara yang dikendaki Ar­dinah itu adalah cara yang sah dan baik. Sesudah Ardinah bertemu denganmu, Kadiroen, maka Ardinah kebetulan baru mengetahui dari omong-omong penduduk Meloko bahwa si Lurah, suaminya, adalah seorang pemeras dan penindas rakyat, sebab sering meminta bayaran yang luar biasa kepada penduduk yang minta pertolongannya. Meskipun sesungguhnya pertolongan lurah itu merupa­kan kewajiban dari pangkat dan pekerjaannya. Bengisnya lurah itu kepada penduduk desa memang sudah keter­laluan, sehingga rakyat hidup dalam kemelaratan dan ke­susahan, sedang si lurah sendiri menjadi amat kaya. Lu­rah Kromo Nenggolo itu di desanya adalah orang paling pintar dan paling kuat sendiri. Ditambah karena pangkat­nya sebagai lurah, ia memang berkuasa. Karenanya sudah tentu tidak ada seorang pun yang berani melawan dia.”

“Ya, hal itu saya sudah tahu dan sava telah menye­rahkan urusan ini lebih jauh kepada pengganti saya,” kata Kadiroen memotong pembicaraan istri Sariman.

lstri Sariman mclanjutkan cerita.

“Baik. Tetapi, meskipun tidak ada yang berani me­lawan dan berani mengadukan kejahatan lurah terhadap penduduk kepada Asisten Wedono atau para pembesar­-pembesar negeri yang berwajib lainnya, di desa itu, di be­lakang lurah, banyak yang berkata benci. Sehingga Ardi­nah ikut bisa mendengarnya dan hatinya bertambah ma­rah kepada suaminya. Ardinah lalu tahu bahwa lurah ta­di, bukan saja seorang yang suka membikin sakit hatinya istri tua, bukan saja seorang penindas istri muda, tetapi juga seorang penindas dan pemeras rakyat. Dalam hati Ardinah menjadi sangat marah. Dan tertarik atas kehen­daknya untuk menolong istri tua dan menolong rakyat yang tertindas dan terperas itu. Maka Ardinah selalu ber­pikir keras buat mencari cara memberi pelajaran kepada suaminya yang amat busuk itu. Niatan untuk membela kepentingan orang banyak telah memberi keberanian yang luar biasa kepada si gadis Ardinah. Pada waktu asisten wedono yang baru mulai menjabat pangkatnya, maka Ardinah mengumpulkan bukti-bukti dan saksi-sak­si atas kejahatan lurah. Setelah mendapat bukti-bukti yang cukup, maka, Ardinah bertamu di rumah tiap-tiap penduduk desa, serta berjanji akan memimpin orang ba­nyak untuk mengadukan kejahatan suaminya di hadapan Tuan Asisten Wedono. Orang-orang desa serentak me­ngetahui bahwa istri muda lurah adalah seorang perem­puan yang berani melawan lurahnya. Maka orang-orang desa tadi lalu terbuka pikirannya sehingga menjadi be­rani juga. Begitulah, pada suatu hari berpuluh-puluh orang desa berkumpul dan dipimpin Ardinah, beramai­-ramai menghadap pada Tuan Asisten Wedono. Seperti Srikandi dalam peperangan, maka Ardinah menuduh de­ngan bukti-bukti dan saksi-saksi yang kuat guna menja­tuhkan lakinya. Ia meminta dipecatnya si lurah dari ja­batannya itu. Karena Asisten Wedono tadi juga sudah me­ngetahui kejahatan Kromo Nenggolo, maka sudah tentu ia sepakat saja. Dari perkara itu Ardinah menjadi tahu, biasanya penduduk desa baru berani mengadukan lu­rahnya di hadapan pembesar jika sudah ada lebih dari separo jumlah penduduk yang bersatu mempunyai niat melawan lurahnya itu.

“Adapun tidak lama setelah perkara Kromo Neng­golo ditindaklanjuti oleh Tuan Patih, Kontrolir dan seba­gainya, maka sungguhlah si jahat itu mendapat surat pemecatan dari residen. Bagaimana kegembiraan pendu­duk, itu pun tak usah saya jelaskan pula.

“Tetapi bagaimana marah dan bencinya Kromo Nenggolo kepada Ardinah pun ada batas-batasnya pula. Sudah barang tentu sejak Ardinah mengajak penduduk desa untuk menggulingkan suaminya, ia tiap hari selalu siap sedia dan berjaga-jaga untuk berperang melawan Kromo Nenggolo.

“Sebagai senjata perang, maka setiap hari Ardinah menyimpan sekantong abu yang ia selipkan di dadanya. Setelah semua orang pulang dari kantor onderdis­trik, maka di rumah Kromo Nenggolo ada pertikaian ra­mai antara suami dan istri mudanya. Ardinah berkata; `Hai, Kromo Nenggolo, ingatlah kepada istri tuamu, sebab kamu sudah tahu bahwa saya tidak akan mau mem­bantu hidupmu sebagaimana istri tuamu. Sebaliknya, saya selalu bermusuhan denganmu. Karena itu, ceraikan saya dan kembalilah kamu ke istri tuamu. Cobalah kamu menjadi orang baik-balk agar kamu tidak selalu menjadi seorang pemarah terus-menerus.

“Kata-kata yang dikeluarkan dengan lemah lembut dan halus budi bahasanya itu, diterima Kromo Nenggolo dengan luapan kemarahan. Laksana buto ijo, Kromo Nenggolo menjawab: 'Hai, Ardinah, kamu seorang perempuan yang lem­bek. Kamu tidak saja berani menjatuhkan diriku, tidak saja berani menolak terus-menerus ajakanku, tetapi se­karang kamu malahan berani mengguruiku. Kecintaanku kepadamu sekarang telah berubah menjadi kebencian yang hanya bisa saya lupakan kalau kamu sudah mati. Saya tidak hanya akan menceraikanmu, tetapi saya juga akan menceritakan jiwamu dari badanmu.'

“Habis berkata begitu, Kromo Nenggolo menghunus kerisnya dan berlari mendekati Ardinah untuk menikam atau membunuh gadis muda itu. Tetapi Ardinah yang ju­ga sudah siap, tidak tinggal diam.

“Begitu Kromo Nenggolo sudah menghunus keris­nya, begitu juga Ardinah membuka abu dari kantongnya. Dengan cepat Kromo Nenggolo lari hendak menusuk Ar­dinah dan dengan cepat pula Ardinah melemparkan abu tepat di mata Kromo Nenggolo. Sudah tentu Kromo Nenggolo tidak bisa melihat apa-apa, sehingga ia tidak tahu ke mana perginya Ardinah. Sambil misuh-misuh dan mengamuk laksana orang gila, Kromo Nenggolo menu­suk-nusukkan kerisnya sedapat-dapatnya ke arah mana saja, meja, kursi, tanah, dinding rumah dan sebagainya. Tetapi Ardinah sudah lari dan mengunci kamar tempat berkelahi itu dari luar. Kromo Nenggolo terkurung dalam kamar, laksana babi hutan yang masuk jebakan. Keris Kromo Nenggolo terputus, tetapi matanya masih tidak bisa melihat apa-apa. Ia semakin mengamuk dan berlari menabrak-nabrak dinding dan perkakas rumah. Sehing­ga badannya menjadi sakit semua. Di sana-sini keluar da­rah, sehingga semakin lama semakin hilang pula kekuatannya. Akhirnya, ia terjatuh setengah mati dan pingsan. Begitulah dengan abu, Ardinah sudah bisa meredam naf­su amarah Kromo Nenggolo dan Ardinah menang serta bisa selamat.

“Sewaktu Kromo Nenggolo pingsan, Ardinah mem­buka kunci kamar itu dan bersama-sama dengan istri tua mereka mengangkat badan Kromo Nenggolo dan membawanya ke tempat tidur. Sesudah luka-lukanya dicuci, diobati dan dibalut rapi oleh dua perempuan tadi - satu sama telah berjanji untuk saling tolong-menolong dan se­pakat mengatur siasat perselisihan tadi - maka mata Kromo Nenggolo pun dicuci pula oleh istri tua, dan se­lang beberapa lama ia pun bangun, namun badannya ma­sih terasa lemah. Ardinah bersembunyi, tetapi istri tuanya menunggu di depan suaminya. Setelah mengetahui sua­minya bangun, istri tua memberi ciuman seraya berkata:

'O, suamiku, saya akan memelihara kamu sampai kamu sembuh dari sakitmu. Tetapi kalau kau menurut, Ardinah akan memberikan untuk keselamatanmu.'

'Ya, Ardinah memang seorang perempuan yang cer­dik, berani dan sesungguhnya baik lahir-batinnya. Seka­rang saya tahu dan mengakui kesalahan saya, dan saya telah merasa takluk kepadanya. Saya akan menuruti ke­hendaknya, jika saya sudah sembuh, saya akan menceraikannya,' kata Kromo NenggoIo.

“Tiga hari kemudian, sungguh Kromo Nenggolo menceraikan Ardinah dan kembali setia serta mencintai istri tua. Sedang Ardinah memberi nasihat begini:

'Hai Kromo Nenggolo, manusia baru dikatakan se­lamat jika ia mempunyai hati yang selalu merasa senang. Sedang kesenangan hati itu tidak ada dalam kepuasan nafsu. Tetapi ada dalam kesediaan untuk menahan nafsu terus-menerus, jika nafsu itu ingin mendapatkan kese­nangan dan kekayaan lahiriah. Orang yang hatinya bisa bersabar, yang berusaha membikin kesenangan orang lain, dan suka menerima dengan senang hati, apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan Allah, dengan tidak mele­paskan diri untuk terus berusaha berbuat baik, dengan tidak lupa kepada Tuhan Allah, maka orang itu akan mendapatkan keselamatan, yakni keselamatan batin se­bab rasa hatinya selalu senang. Inilah rahasia yang saya tinggalkan untukmu dan kalau kamu bisa menjalankan hal-hal itu, maka akan mendapatkan keselamatan juga.'

“Kromo Nenggolo mengikuti nasihat itu, dan seka­rang ia menjadi seorang petani yang baik-baik. Sedang istri tuanya selalu membantu Kromo Nenggolo untuk mencapai jalan keutamaan itu.

“Adapun Ardinah lalu diambil anak oleh kamitua se­bagaimana telah saya ceritakan. Setelah saya mengetahui riwayat Ardinah itu, maka saya berkata kepada Ardinah bahwa di rumah saya ada seorang perjaka bernama Ka­diroen yang dahulunya pernah menjadi Asisten Wedono membawahi Desa Meloko. Sewaktu Ardinah mendengar nama Kadiroen, muka Ardinah lantas bersemu merah. Ja­di saya mendapatkan bukti bahwa gadis itu masih cinta kamu, Kadiroen! Oleh karena saya telah mendapatkan bukti itu, saya lalu bercerita kepada Ardinah, bagaimana keadaanmu yang begitu setia kepada si gadis ayu ini. Se­hingga sampai sekarang kamu tidak mau kawin. Sewaktu Ardinah mendengar cerita saya itu, maka ia lalu mena­ngis dan mengaku bahwa ia juga tidak mau. Ia diharap pada jodohnya alias Kadiroen. Karena itu, saya segera sa­ja atas nama kamu, Kadiroen, melamar Ardinah agar mau kawin denganmu, supaya perkara ini bisa cepat selesai. Jadi orangtua Ardinah saya ceritai hal-hal itu semua. Akhirnya Ardinah mau saya ajak bertamu di rumah kita.”

Sampai di situ, selesailah cerita istri Sariman menge­nai Ardinah. Sudah tentu Ardinah menjadi malu bercam­pur senang ketika riwayatnya dijadikan bahan cerita itu. Kebahagiaan Ardinah menjadi bertambah besar lagi ka­rena setelah mendengar riwayat Ardinah, Kadiroen pun lalu datang mendekati tunangannya, memegang mencium tangan bidadarinya dan berkata:

“O, istriku. O, jiwaku! Saya sungguh-sungguh men­cintaimu dan sangat bahagia mendengar cerita apa yang telah kaukerjakan di Desa Meloko.”

Mendengar keterangan Kadiroen, Ardinah pun lalu menangis sebab saking besarnya kebahagiaan serta senang hatinya. Ia berdiri dan menjatuhkan kepalanya di dada Kadiroen. Lama mereka tidak berbicara apa-apa dan ha­nya masih saling berpelukan, membuktikan bahwa me­reka telah menyatu lahir-batin karena ikatan cinta. Sariman dan istrinya turut merasakan kebahagiaan calon pe­ngantin baru itu. Maka kemudian Sariman berkata, “Sau­dara Kadiroen, perkawinan sejati ialah lahirnya percin­taan sejati. Tetapi supaya perkawinan batinmu yang su­dah sah itu bisa diketahui sah lahiriahnya oleh semua orang, maka kamu harus menunggu penghulu lebih da­hulu. Juga sebelumnya kamu harus meminta izin kepada orangtuamu. Ibumu masih menyandang gelar raden ayu, jadi saya tidak bisa memperkirakan apakah kiranya ibu­mu akan sepakat jika kamu menikah dengan Ardinah yang tidak mempunyai gelar kebangsawanan itu. Karena esok lusa ada vrij dua hari, ialah hari besar, sedang sesu­dahnya itu lalu hari minggu, maka kita akan mendapat­kan vrij tiga hari lamanya. Marilah besok lusa kita berem­pat mengunjungi orangtuamu, Saudara Kadiroen. Lebih dahulu Ardinah mesti diketahui oleh ibumu. Sedangkan istri saya nanti akan menjelaskan kebaikan lahir-batinnya Ardinah. Kalau kita semua sudah saling kenal-mengenal selama tiga hari, maka kamu Kadiroen mesti mulai bi­cara dan meminta izin untuk kawin pada ibumu. Yang nomor satu, bagi seorang perjaka yang akan kawin, harus meminta izin pada ibunya dan barulah ayah akan turut campur.

Tiga hari kemudian, Sariman dan istrinya serta Ardi­nah duduk di muka rumah orangtuanya Kadiroen. Di be­lakang rumah, ibu Kadiroen sedang duduk di dipan dan di sampingnya, anak lelakinya, Kadiroen, duduk berjejer sambil memegang tangan dan memandang mata si ibu sebagaimana seorang perjaka yang sangat setia dan mencintai ibunya. Maka ia berkata:

“O, Ibu. lbu sudah tahu, siapa Ardinah. Ibu, saya sa­ngat mencintai gadis itu dan memohon izin ibu dan bapak supaya saya boleh mengawini Ardinah. Ardinah juga sudah sepakat. Ibu, hidupku sungguh akan tidak berharga kalau tidak jadi kawin dengan Adinah.”

Ibu Kadiroen mendengar tangis anak lelakinya, lalu menjadi tersenyum dan sambil setengah tertawa ia men­jawab.

“E, ee, anakku minta kawin. Dulu tidak mau. Tiba-­tiba sekarang menjadi tergila-gila pada seorang janda. Nanti, nanti, ya, lbu mau pikir dahulu dan mau berembuk dengan ayahmu dulu. Sudah, sekarang pergilah ke muka, kalau nanti saya dan ayahmu sudah berembuk, kamu berempat akan saya panggil kemari.”

Kadiroen ke depan rumah dengan muka yang amat pucat... “O, bagaimanakah keputusannya, ayah dan ibu mau menyenangkan atau menyusahkan? Kalau tidak diberi izin bagaimana?” Hati Kadiroen menjadi berdebar-debar. Ia masih mengingat-ingat kata-kata ibunya yang mengatakan “Tergila-gila dengan janda!” Apakah dalam perkataan itu tidak menyiratkan penolakan?

Sariman dan istrinya serta Ardinah mengetahui Ka­diroen datang dengan muka yang amat pucat. Semua menjadi terkejut dan setengah bingung. Mereka merasa, Kadiroen sudah minta izin kawin, tetapi apa sebabnya Kadiroen tidak bisa berbicara dan roman mukanya pucat. Ibu Kadiroen masih seorang raden ayu, bakal menantu­nya hanya seorang desa, sudah janda dan miskin. Juga sudah tidak punya orangtua lagi. Ditolakkah? Semua sa­ma-sama takut meminta keterangan dari Kadiroen, apa betul sudah ditolak? Mata Ardinah berkaca-kaca hendak menangis. Semuanya terdiam, tidak ada yang berkata.

“Kadiroen, Ardinah, Saudara Sariman sekalian, ma­rilah, datang ke sini!” kata seorang berteriak memanggil dari belakang. Yang dipanggil sama-sama berdebar-debar hatinya. Sama-sama berdiri dan Kadiroen memegang tangan Ardinah berjalan lebih dahulu. Sedang Sariman sekalian menyusul di belakangnya. Ibu dan ayah Kadiroen, dua orang lelaki perempuan yang rambutnya su­dah memutih itu, duduk di atas dipan.

Di antara para pembaca buku ini, barangkali ada yang bergelar raden ayu dan sudah menduga bahwa ibu Kadiroen akan berkata: “Ardinah seorang janda yang miskin mau menjadi menantuku? Tidak boleh!” Tetapi kalau pembaca putra-putri raden ayu itu, memang mengira be­gitu, maka sesungguhnya penulis cerita ini dengan segala hormat dan kerendahan mohon ampun beribu ampun, bahwa penulis akan membikin kecewanya praduga-pra­duga para pembaca yang bergelar raden ayu ini. Sebab penulis terpaksa hanya menceritakan keadaan yang se­benarnya. Dan keadaan yang sebenarnya itu begini.

Ibu Kadiroen berkata:

“Kadiroen anakku! Ardinah anakku! Saksikanlah hai sahabat Sariman sekalian, kita ayah dan ibu Kadiroen ­bersedia memberi izin Kadiroen mengawini Ardinah. Ketahuilah, wahai anakku Kadiroen, sudah menjadi keber­untunganmu, kamu mendapat anugerah Tuhan Allah akan kawin dengan Ardinah. Ardinah, sebagaimana sa­ya ketahui dari tingkah lakumu, wajah dan perkataan ser­ta riwayatmu, Ardinah bukanlah seorang gadis yang ber­gelar raden ayu, tetapi seorang gadis yang berisi “Rach Ayu “. Rach Ayu, tempatnya tidak ada dalam gelar tetapi dalam hati. Dan seorang yang memiliki hati sebagaimana Ardinah ini memang sesungguhnya seorang perempuan Rach Ayu Sejati. Kita ibu dan ayah memberi doa dan izin pada kamu hai, Kadiroen dan Ardinah untuk kawin. Se­lamatlah kamu!”

Mendengar kata-kata ibunya yang memberi izin, ma­ka Kadiroen dan Ardinah menjadi senang dan bahagia luar biasa. Kebahagiaan dan kesenangan yang dirasakan oleh dua muda-mudi waktu itu sungguh-sungguh tidak bisa dilukiskan dengan pena dan tinta. Karena memang saking besarnya. Dari saking bahagianya maka Kadiroen dan Ardinah menjadi menangis dan mereka berpegangan badan satu sama lainnya, bersama-sama menyatukan mu­ka di pangkuan ayah dan ibunya serta berkata:

“O...Ibuku..., Ayah..., O, apakah kebaikan kita sehing­ga mendapat anugerah perasaan bahagia yang sebesar-­besarnya ini. Ibuku... Ayahku... ? O, Ibu...Ayah...kita me­rasakan begini bahagia..., begini nikmat di batin. O, kita tidak bisa menerangkan apa yang kita rasakan amat nik­mat ini.”

Ganti-berganti Kadiroen dan Ardinah mengatakan hal sambil matanya bercucuran karena bahagianya. Ganti­ berganti mereka menangis sambil mukanya jatuh di pang­kuan ayah maupun ibunya karena mendapatkan anuge­rah yang begitu besar; sepasang perjaka dan gadis lulus dalam percintaannya.

Ibu dan ayah dengan sabar dan senang hati, bergan­ti-ganti mengelus kepala menantu mereka Ardinah, ju­ga Kadiroen anaknya. Sariman sekalian ikut bahagia melihat semua itu, sehingga mereka merasakan seperti amat muda, dan dari sebab itu mereka saling berpelukan satu sama lain, ala pengantin baru. O bayangan surga itu, la­malah terbayang-bayang....”

“Sekarang begini anak-anak,” kata ayah Kadiroen sambil menjabarkan kebahagiaannya, “Di mana ternyata kita semua mendapatkan kebahagiaan karena Ardinah dan Kadiroen mendapat anugerah besar di situ kita wajib mengirim doa terima kasih kita kepada Tuhan Allah Yang Mahabelaskasihan pada kita ini. Sebentar lagi, marilah ki­ta pergi ke mesjid supaya perkawinan ini disahkan oleh penghulu. Dan sekarang marilah kita sama-sama duduk di tanah sambil menghaturkan doa terima kasih kita!”

Enam manusia menyatukan diri duduk di tanah, dan dalam hati mereka yang sangat bahagia, melayang se­buah doa.

“O, Tuhan Allah Yang Mahabesar, Yang Maha adil, bagaimanakah kita bisa membuktikan rasa terima kasih kita, dengan terang dan sepantasnya kepada Gusti. O, Tuhan, Allah Yang Maha kuasa, kita menghaturkan ber­juta-juta terima kasih atas kebaikan Tuhan....”

Setengah jam mereka duduk di atas tanah sambil ber­doa dari jiwa-jiwa mereka yang paling dalam. Berdoa yang sebersih-bersihnya dan senyata-nyatanya.

Di dalam kamar semua diam dan suasana menjadi sunyi. Hanya hati dan jiwa-jiwa enam manusia tadi yang berbicara kepada Tuhan Allah Yang Maha adil. Suasana kamar sunyi sebab hanya jiwa-jiwa mereka yang sedang berbicara.

Di luar rumah, angin kecil bertiup perlahan-lahan di pohon dan dedaunan. Bunga-bunga melati yang menari-­nari menyambut sinar mentari sedemikian hidup karena hembusan angin yang sejuk. Kupu-kupu berterbangan dari satu bunga ke bunga yang lainnya. Burung-burung bercinta-cintaan dalam hijaunya lembah dunia. Semua kodrat Allah hidup. Hidup di dunia. Hidup, hidup dan bercinta-cintaan.

Demikianlah buat sementara waktu, lain kali kalau tidak berhalangan akan disambung.[]

Kembali ke Menu Utama

 
RocketTheme Joomla Templates