|
Ditulis oleh Alan Woods
|
|
Jumat, 19 April 2013 08:04 |
|
Pada hari kematiannya, kata-kata ini bergema di pikiranku. Sekarang Hugo Chavez sudah tiada. Masa depan Revolusi Bolivarian dan gerak majunya menuju sosialisme akan bergantung pada kaum buruh, kaum miskin, kaum tani, dan pemuda revolusioner – orang-orang yang telah menjadi daya kemudi revolusi dan telah membelanya dalam semua momen kunci. Segalanya bergantung pada mereka.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Jorge Martin
|
|
Selasa, 16 April 2013 05:20 |
|
Kenyataan yang pahit adalah bahwa ini adalah sebuah kemenangan yang sangat tipis, dan harus menjadi peringatan serius untuk revolusi. Sejak 7 Oktober, Revolusi Bolivarian telah kehilangan 680 ribu suara, sementara Capriles meraih jumlah yang sama. Mood di antara massa revolusioner adalah mood sukacita setelah berhasil meraih satu kemenangan lagi, tetapi pada saat yang sama ada mood oto-kritik yang militan.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Pandu Jakasurya
|
|
Kamis, 07 Maret 2013 09:55 |
|
Aku bukan seorang Chavista. Tapi wafatnya Hugo Chavez membuatku merasa sangat terpukul. Seperti kata Bung Karno: Yo sanak, yo kadang, malah yen mati aku sing kelangan.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Militan Indonesia
|
|
Rabu, 06 Maret 2013 17:57 |
|
Wakil Presiden Nicolas Maduro, kemarin, mengumumkan berita meninggalnya Presiden Chavez di televisi publik, tak lama setelah kematian Presiden. Wakil Presiden mengumumkan peristiwa sedih ini dari Rumah Sakit Militer di Caracas, tempat Presiden Chavez dirawat.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Yohana Ilyasa
|
|
Rabu, 23 Januari 2013 00:00 |
|
Dengan semangat pantang menyerah, kelompok oposisi Venezuela kembali melancarkan kampanye busuknya kepada Chaves yang sedang melakukan pemulihan kesehatan di Kuba sejak Desember lalu.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh International Marxist Tendency (IMT)
|
|
Rabu, 15 Agustus 2012 15:02 |
|
Dalam satu setengah tahun terakhir, Revolusi Arab dan badai-badai di Eropa telah mendorong diri mereka ke depan. Revolusi Amerika Latin, sebaliknya, tampak bergerak lebih lambat daripada sebelumnya. Perkembangan seperti ini adalah tak terelakkan, yang merefleksikan karakter perkembangan revolusi dunia yang tergabungkan dan tak-berimbang. Tetapi ada juga perkembangan-perkembangan penting di Amerika Latin, dengan beberapa peristiwa penting yang sedang dipersiapkan di bulan-bulan ke depan.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Pandu Jakasurya
|
|
Sabtu, 07 Juli 2012 21:43 |
|
Sebuah kudeta baru saja terj adi di Paraguay, yang kembali lagi mengedepankan masalah mendesak mengenai Negara dan Kekuasaan Kelas, bahwa Negara Borjuis tidak bisa digunakan untuk kemenangan rakyat pekerja seperti yang ditekankan oleh Lenin.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Rachael Boothroyd (Disadur dari Venezuelanalysis.com)
|
|
Senin, 14 Mei 2012 18:33 |
|
Penandatanganan UU Buruh yang berpihak pada buruh adalah satu lagi catatan kemenangan dari proses Revolusi Venezuela. Di sini kami sadur artikel reportase dari Venezuelanalysis mengenai UU Buruh yang ditandatangani pada May Day baru-baru ini di Venezuela. Namun Militan Indonesia berpendapat bahwa kemenangan sosialisme di Venezuela hanya akan tercapai bila kaum buruh menasionalisasi tuas-tuas ekonomi besar dan perbankan di Venezuela, satu hal yang belum dilakukan oleh revolusi ini. Tanpa kepemilikan atas alat-alat produksi, maka implementasi UU Buruh yang baru ini akan menemui perlawanan besar dari pemilik modal dengan berbagai trik-trik mereka, dari manuver-manuver hukum sampai mogok kapital. (Redaksi Militan)
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Ted Sprague
|
|
Jumat, 10 September 2010 11:59 |
|
Pada tanggal 26 September, Venezuela akan mengadakan pemilu Majelis Nasional yang akan menentukan arah revolusi. Tidak mustahil kalau kaum oposisi oligarki bisa memenangkan ini. Rakyat pekerja sedunia, sampaikan dukungan anda, sebar luaskan berita ini. Revolusi Venezuela sedang dalam bahaya. [Untuk menyampaikan dukungan solidaritas, bubuhi tandatangan anda melalui kampanye Hands Off Venezuela]
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Ted Sprague
|
|
Jumat, 16 Juli 2010 23:57 |
|
Piala Dunia sudah berakhir. Ketika debu perayaan telah hilang, ketika botol-botol anggur telah kering dan orang-orang bangun dari mabuk mereka, wajah buruk krisis kapitalis akan kembali menatap rakyat. Ini cerita mengenai dilema rakyat Argentina dan kecintaannya pada sepakbola, ketika mereka memenangkan Piala Dunia 1978 di bawah junta militer, dimana sorak sorai rakyat bercampur dengan jeritan puluhan ribu tahanan politik yang disiksa dan dibunuh. (Foto ini diambil pada saat Piala Dunia 1986, tetapi disensor oleh media mainstream dan FIFA. Spanduk di foto ini menyatakan bahwa tim sepakbola Argentina mendukung "Mothers of Plaza de Mayo" untuk dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian. "Mothers of Plaza de Mayo" adalah ibu-ibu dari 30 ribu kaum muda yang "menghilang" selama kediktaturan junta militer 1976-1983. Ibu-ibu ini menuntut diungkapkannya kebenaran mengenai nasib anak-anak mereka)
|
|
Selanjutnya...
|
|
|