facebooklogocolour

majelis konstituante venezuelaVenezuela sedang dilanda krisis politik hebat. Gerakan di sana dihadapkan dengan situasi genting dimana terdapat ancaman terhadap capaian-capaian dari Revolusi Bolivarian. Pada kesempatan kali ini Militan Indonesia melakukan wawancara dengan kamerad Elyas, Editor koran dan website Lucha de Clases (Perjuangan Kelas), sebuah organisasi revolusioner di Venezuela yang aktif di dalam gerakan serikat buruh dan kaum muda. Lucha de Clases adalah seksi Venezuela dari International Marxiste Tendency (IMT). Berikut wawancaranya:

Bisa Anda jelaskan situasi di Venezuela saat ini?

Ada situasi dimana terdapat kekurangan makanan dan obat-obatan. Bila Anda membuka jendela rumah di pagi hari, Anda akan melihat banyak ibu-ibu dan anak-anak mengais tong sampah untuk mencari makanan. Krisis ini membuat kejahatan dan prostitusi meningkat. Berat badan rakyat Venezuela turun 10-15 kilogram. Hanya di antara birokrat pemerintah kita bisa temui orang-orang gemuk. Inflasi mencapai 800%, dan diperkirakan mencapai 2000% pada tahun depan. Alasan dari krisis ini adalah jatuhnya harga minyak dunia. Akibatnya problem-problem yang sebelumnya diatasi oleh Revolusi Bolivarian muncul kembali. Seperti yang dijelaskan oleh IMT, ada kebuntuan dalam perjuangan kelas. Selama bertahun-tahun ada proses kebangkitan gerakan buruh di Venezuela serta situasi pra-revolusioner. Tetapi revolusi ini tidak pernah mencapai kesimpulan akhir.

Venezuela secara ekonomi adalah negeri terbelakang. Seperti halnya Rusia, satu-satunya cara menyelesaikan krisis historis ini adalah dengan mengekspropriasi para bankir, kapitalis, serta membongkar aparatus negara borjuasi dan lalu menerapkan ekonomi terencana berdasarkan kontrol buruh. Tetapi ini belum dilakukan. Chavez hanya melakukan sejumlah reforma dan kontrol terhadap sejumlah kapitalis. Kontrol ini merupakan respons terhadap serangan-serangan ekonomi yang dilakukan oleh borjuasi pada 2002-2003.

Dalam periode tertentu, kontrol ini efektif. Namun, situasi ini hanya sementara, yang merupakan hasil dari kombinasi faktor-faktor yang unik, dimana harga minyak dunia yang tinggi, kebangkitan politik kelas buruh yang masif, serta serangkaian kekalahan-kekalahan yang diderita kelas borjuasi pada 2002 sampai dengan 2005. Kondisi ini membuat kelas borjuasi ada dalam langkah mundur, bahkan dalam keadaan tertentu, terpaksa menghormati langkah-langkah Chavez. Langkah ini mengakibatkan sejumlah perbaikan bagi kesejahteraan kelas buruh Venezuela, dimana kelas buruh Venezuela mendapatkan taraf hidup yang tinggi dibandingkan negara-negara di Asia, Afrika dan negara-negara Dunia Ketiga yang lainnya. Ini membuat ilusi reformis semakin menguat dan kita selama ini hidup dalam fantasi reformis ini. Tapi sayangnya, kondisi ini tidak akan terulang kembali.

Beberapa bulan sebelum Chavez meninggal, ketika dia mulai sering sakit-sakitan, kita sudah melihat bagaimana sabotase ekonomi mulai diluncurkan kembali. Lalu kita juga saksikan serangkaian  penyelundupan, dan spekulasi. Lalu dengan anjloknya harga dunia pada 2015, krisis ini mengalami lompatan kualitatif, yang membuat situasi semakin buruk. Kaum borjuasi yang memiliki alat-alat produksi berusaha menyabotase berbagai kontrol maupun regulasi yang dicanangkan oleh pemerintah. Dalam kondisi krisis, kebijakan ini membuat tingkat profit kapitalis semakin menurun, seiring meningkatnya inflasi. Menerapkan kontrol harga, tanpa menghancurkan sistem kapitalis, hanya akan mempertajam kontradiksi antara kelas pemilik terhadap rejim itu sendiri. Marx menjelaskan bahwa tenaga pendorong sistem kapitalisme adalah tingkat laba yang terus meningkat. Ketika pemerintah membatasi tingkat pertumbuhan laba, ini akan menghasilkan pemogokan kapital. Karena tingkat laba yang didapatkan sangat kecil, banyak kelas kapitalis tidak ingin melakukan investasi di Venezuela. Lebih dari itu yang kita lihat hari ini adalah kelangkaan dan krisis ekonomi yang merupakan hasil kebijakan-kebijakan reformis.

Apa maksud Presiden Maduro menyerukan Majelis Konstituante?

Maksud dari Presiden Maduro menyerukan Majelis Konstituante adalah untuk membuat perjanjian baru atau kompromi baru dengan kaum borjuasi. Di antara borjuasi ini, ada yang disebut sebagai borjuasi patriotik, yakni kaum borjuasi yang lebih memihak terhadap pemerintah. Kecenderungan mereka adalah ingin mendapatkan kestabilan politik yang mereka pernah dapatkan pada masa-masa Chavez. Di samping itu ada lapisan borjuasi yang tidak menginginkan ini dan lebih jauh bergerak memusuhi kebijakan ini.

Presiden Maduro mengira krisis ini bisa diselesaikan dengan memberikan lebih  banyak konsesi terhadap kelas borjuasi. Kenyataannya jauh panggang dari api. Maduro mencoba meyakinkan kelas kapitalis bahwa dirinya bukan seorang radikal. Ini tidak mungkin, karena kelas kapitalis tidak menginginkan remah-remah, mereka menginginkan seluruh kekuatan ekonomi dan politik negeri untuk menerapkan kebijakan pengetatan. Oleh karenanya taktik pembentukan Majelis Konstituante ini sudah pasti akan membawa krisis ini lebih jauh. Pertanyaan selanjutnya akan sangat ditentukan di jalan-jalan.

Bagaimana gerakan situasi gerakan Kiri di sana?

PSUV (Partai Sosialis Persatuan Venezuela) bergerak semakin ke kanan dan terbirokratisasi. Partai ini masih memiliki basis kelas buruh, tetapi di lapisan kepemimpinan, dari pusat sampai cabang, dipenuhi oleh kaum birokrat. Ada sebagian lapisan kaum pelopor, aktivis-aktivis yang tulus berjuang. Kebanyakan mereka berada pada lapisan bawah partai, tapi ini biasanya pengecualian. Tidak ada kehidupan organik dalam partai ini. Tidak ada konferensi, tidak ada debat reguler dan tidak ada sekolah-sekolah partai. Ada sejumlah partai-partai Kiri kecil, tapi mereka juga sangat reformis. Walaupun partai-partai kiri kecil ini menentang birokrasi PSUV, tetapi mereka juga oportunis. Misalkan partai PPT dan partai REDES yang dibentuk sebagai ekspresi lapisan pelopor gerakan yang mencari alternatif dari birokratisasi PSUV. Kepemimpinan partai REDES adalah mantan gubernur Caracas pada masanya Chavez, yang sangat korup. Dia adalah profesor universitas yang sungguh kacau.

Lalu ada Partai Komunis Venezuela. Seperti banyak di negara-negara lain, partai ini sangat birokratis dan Stalinis. Kendati demikian, banyak elemen pelopor tergabung di dalamnya. Secara tradisional mereka mendukung posisi Revolusi Dua Tahap, tapi selama sepuluh tahun terakhir mereka mulai bergeser ke kiri. Setidaknya, dalam kata-kata mereka mendukung kontrol buruh. Mereka bekerja di serikat buruh dan mereka memiliki sejumlah gubernur di beberapa kota serta dewan kota. Sekarang ketiga partai ini membentuk front persatuan untuk menjadi oposisinya PSUV.

Bagaimana mood massa di Venezuela?

Selama 4 tahun terakhir ada proses demoralisasi dan sekarang kemunduran gerakan ada pada titik terendah. Hari ini perimbangan kekuatan semakin ke kanan. Bahkan kalau ada pemilu, sudah bisa dipastikan, kaum sayap kanan bisa meraih kekuatan dua kali lipat. Ini disebabkan tingkat taraf hidup semakin memburuk. Ada kekecewaan dan keletihan letih di antara kelas buruh. Pada saat yang sama, dengan situasi umum di antara massa ini ada elemen-elemen pelopor yang mengambil kesimpulan yang semakin ke kiri. Mereka semakin menyadari peran kontra-revolusioner dari kebijakan reformis pemerintah. Salah satu indikasinya adalah banyak orang menulis surat ke website kami (www.luchadeclases.org.ve) dan ini tidak biasa terjadi. Ada selapisan kaum pelopor yang ingin mencari gagasan-gagasan yang bisa menjawab situasi ini.

Ada yang bahkan menarik kesimpulan ultra-kiri, seperti kelompok-kelompok bersenjata yang melakukan gerilya urban untuk melawan kaum borjuasi. Ini merupakan konsekuensi wajar ketika tidak ada kepemimpinan revolusioner. Alih-alih mengedepankan aksi massa, mereka melakukan aksi-aksi terisolasi. Misalkan baru-baru ini mereka menyerbu gedung DPR untuk memberikan tekanan kepada kaum birokrasi dan mengonfrontasi sayap kanan. Mood ultra kiri ini adalah hasil langsung dari kekecewaan pelopor gerakan melihat kebijakan reformis selama ini.

Apa jalan keluar dari situasi ini?

Tidak ada jalan keluar reformis untuk krisis ini. Ada kebuntuan dalam perjuangan kelas yang hanya bisa diselesaikan dengan membanting setir ke sosialisme. Aparatus negara borjuasi harus dibongkar, dan lalu di atas puing-puingnya dibangun negara buruh untuk mengekspropriasi kapitalis dan mencanangkan kontrol buruh. Kelas buruh harus dipersenjatai untuk melucuti kelompok-kelompok oposisi ini. Mereka sangat berbahaya bagi kelas buruh di masa depan.

Lewat milisi buruh bersenjata ini kaum buruh harus melakukan penyitaan alat-alat produksi, bank-bank, tanah, dan pabrik di bawah kendali langsung mereka. Kita tidak bisa mengawasi ekonomi bila kita tidak mengontrolnya, dan kita tidak bisa mengontrolnya bila kita tidak memilikinya. Ini mengedepankan masalah kekuasaan kelas.

Basis dari milisi ini adalah komite-komite buruh. Komite-komite ini harus menetapkan kontrol harga dan meregulasi distribusi barang-barang. Harus ada kongres nasional di antara kaum buruh, tani dan kelompok-kelompok tertindas ini. Inilah yang pernah dibangun oleh Komune Paris dan Soviet Rusia. Inilah solusi sosialis! Bila kelas buruh tidak melakukan ini, maka masa depan rakyat Venezuela sangatlah buram.

Pilihannya adalah Sosialisme atau Barbarisme!