|
Ketika Pakistan kehilangan Benazir Bhutto
akibat bom bunuh diri, maka perhatian dunia kemudian terfokus kepada Negara
kecil ini. Dalam beberapa cuplikan berita yang sering kita lihat di media massa, menunjukkan bahwa
pertarungan politik di Pakistan
menjadi semakin memanas karena ada isu bahwa pemerintah Pakistan yang
dipimpin Pervez Musharraf lah yang men"setting" pembunuhan terhadap Benazir
Bhutto.
Ada beberapa kejanggalan-kejanggalan memang yang dimunculkan oleh
pemerintah dalam penyelidikan pembunuhan Benazir Bhutto. Mulai dari pernyataan
pemerintah yang menganggap tewasnya Bhutto dikarenakan pecahan kaca dari bom
bunuh diri tersebut, sementara terbukti bahwa Bhutto terbunuh karena peluru.
Bahkan pernyataan ini sempat didukung oleh Israel dan Amerika Serikat yang
merupakan sekutu terdekat Pakistan.
Namun selain itu, ternyata ada beberapa
kelompok di Pakistan
yang dengan konsisten berusaha untuk menghancurkan praktek-praktek
Neoliberalisme di sana.
Salah satunya adalah The Struggle. The Struggle adalah sebuah kelompok kiri di Pakistan yang
telah lama merupakan bagian dari perlawanan rakyat di sana. Kelompok ini bersimpati dengan
terbunuhnya Benazir Bhutto akibat dari kekerasan Negara kediktatoran yang
mencoba mempertahankan kekuasaanya dan menolak tuntutan demokrasi.
Kebenaran salah satu anggota PRP saat ini
berada di Pakistan,
dan dia mencoba untuk melaporkan pertemuannya dengan kawan-kawan dari kelompok
The Struggle. Semoga laporan pertemuan dengan kelompok The Struggle dapat
membangkitkan semangat kita untuk menghancurkan Neoliberalisme di Indonesia dan
mendapatkan metode-metide baru untuk melakukan perlawanan. Berikut laporan
kawan Chava dari hasil pertemuannya dengan kelompok The Struggle.
Malam minggu, 12 January 2008, Islamabad
Malam ini, seperti janji kami di telepon
sebelumnya, Comerade Mehdi Sajjad menelpon untuk memberitahukan dia sudah
sampai di depan hotel tempat saya menginap. Saya segera bersiap-siap
menggunakan pakaian untuk keluar hotel, karena cuaca sangat dingin. Ketika saya
sampai di luar saya telepon Mehdi Sajjad supaya saya dapat melihat yang mana
orangnya, akhirnya saya bertemu dgn comerade Mehdi Sajjad yang menurut
pengakuannya dia yang meng-organize semua organizer The Struggle di kota Islamabad yang berjumlah sekitar 40 orang.
Kami saling berpelukan seperti hal nya setiap laki-laki Pakistan
bertemu, berpelukan lalu bersalaman, lalu kami menuju Jinnah Supermarket utk
mencari tempat untuk mengobrol sambil mengopi.
Saya sebenarnya lebih memilih untuk
mengobrol di kafe terbuka sambil menikmati udara dingin, secangkir kopi panas,
rokok, tetapi udara diluar terlalu dingin untuk Mehdi Sajjad yang sudah berusia
50 Tahun. Akhirnya kami memilih sebuah kafe tertutup untuk tempat
berbincang-bincang.
Mulai lah saya bertanya dan Mehdi Sajjad
bercerita, Mehdi Sajjad bergabung dengan The Struggle yang adalah Pakistani
Marxist Tendency yang tergabung dalam International Marxist Tendency sejak
tahun 1998 setelah 15 tahun sebelumnya malang melintang bersama kelompok Maois
di Pakistan. Bertahun-tahun bergabung bersama kelompok Maois, menurut
pengakuannya, bisa dikatakan tidak menghasilkan apa-apa. Mereka berdebat siapa
yang benar dan siapa yg salah, split dan split lagi yang dihasilkan hingga
kelompok itu semakin kecil dan semakin kecil. Mereka terus berdebat siapa yang
benar dan siapa yang salah, tetapi massa
rakyat jauh dari mereka. Sampai akhirnya Mehdi Sajjad bergabung dengan The
Struggle. Tidak lama kemudian datang 2 lagi comerade yang bernama Zafar yang
bergabung dengan The Struggle sejak tahun 2001 dan Javed yang bergabung sejak
2004. Mehdi Sajjad bekerja sebagai salah satu direktur bagian tertentu di
sebuah perusahaan swasta, Zafar bekerja di Bank Nasional Pakistan dan Javed
bekerja sebagai Journalist.
Pada masa pemerintahan Presiden Zia Ulhaq
(1977-1988) yang sangat represif, beberapa tokoh kiri harus meninggalkan Pakistan dan
memilih untuk tinggal di Amsterdam.
Kelompok ini bermula dari Amsterdam
setelah bertemu dengan Ted Grant disana. Mereka mulai mengorganisir diri
kembali, memulai aktivitas kembali, mengeluarkan terbitan dan mengirimkannya
juga ke Pakistan.
Seperti juga strategi yang digunakan IMT dimana kelompok IMT harus selalu
berada ditengah-tengah dan bersama-sama massa rakyat termasuk dengan masuk ke
dalam partai-partai yang popular dihadapan massa, seperti itu juga strategi
yang digunakan The Struggle berafiliasi dengan Pakistan People's Party (PPP).
PPP adalah partai yang didirikan oleh Zulfikar Ali Bhutto (ayah Benazir Bhutto)
pada tahun 1967 yang menurut pengakuan mereka memiliki program-program yang
sangat bagus, dengan semboyan "Islam is our faith; democracy is our
politics; socialism is our economy; all power to the people. Partai ini bukan
partai Marxist, tetapi memiliki
program-program yang bahkan lebih kiri dari pada partai-partai kiri yang ada
pada saat itu. Ali Bhutto menjadi Presiden Pakistan 1971-1973 dan menjadi PM
Pakistan 1973-1977. The struggle tidak mengalami kesulitan untuk memulai
aktivitas nya di dalam tubuh PPP karena beberapa kadernya adalah kader PPP jauh
sebelumnya, kemungkinannya mereka menjadi lebih terarah dan memilih Marxist
Tendency setelah bertemu dgn Ted Grant di Amsterdam.
Pasca terbunuhnya Zia-ul-Haq tahun 1988,
Benazir Bhutto kembali ke Pakistan dan memulai kembali aktivitas politiknya
bersama PPP dengan program-program yang populis bersamaan dengan itu,
kader-kader The struggle yang ada di Ámsterdam mulai kembali ke Pakistan dan
memulai aktivitas kembali di Pakistan. Mehdi Sajjad bergabung dengan The
Struggle pada tahun 1998 yang pada saat itu berjumlah sekitar 200 organizer.
Mehdi Sajjad memilih bergabung dengan The Struggle dengan alasan, bahwa ini lah yang dicarinya,
bekerja dan berada di tengah-tengah massa
rakyat, bukan lagi berada di dalam organisasi yang hanya akan melakukan split,
split dan split menjadi semakin terkecil. Saat ini organizer The Struggle berjumlah sekitar 2500 orang
yang tersebar di seluruh Pakistan, merupakan organisasi terbesar di dalam
jaringan IMT. The struggle memiliki jumlah organizer sekitar 600 orang di
wilayah Jamu Kashmir (daerah yang sangat indah
dan saat ini dalam belum memiliki status tetap sebagai bagian dari Pakistan atau India) dan
memiliki pengaruh yang cukup kuat disana.
Organizer-organizer the struggle yang
bekerja, tetap melakukan aktivitas organisasi setiap hari setelah jam kantor.
Mereka berkeliling memberikan diskusi-diskusi di dalam kelompok-kelompok kecil
dan pada akhir pekan mereka berkumpul untuk mengadakan rapat. Sepengakuan
mereka tentang ruang gerak mereka di PPP dapat dikatakan cukup bebas, walaupun
tidak sepenuhnya-penuhnya bebas (tidak ada perincian lebih lanjut seperti apa
tidak sepenuh2nya bebas). Banyak juga kelompok-kelompok dan individu-individu
dengan berbagai kepentingan berada di dalam tubuh PPP, tetapi rata-rata
kelompok-kelompok tersebut tidak ter-organize dengan baik. Ada kelompok-kelompok dan individu-individu
yang mencoba mengambil keuntungan dari PPP tetapi The Struggle tetap fokus pada
kerja-kerja organisasinya. Mereka mengatakan PPP adalah sebagai tools untuk
mereka.
Bagaimana dengan ruang gerak masuk ke dalam
massa rakyat
dimana memiliki kondisi hampir sama dengan Indonesia, muslim country dan
kekuatan militer sangat besar? Kondisi
masyarakat Pakistan
tidak sepenuh-penuhnya sama dengan Indonesia, Pakistan negara
muslim, rakyat religius, tapi mereka tidak fundamentalis, mereka tidak fanatik,
sehingga ruang gerak organizer mereka tidak terlalu banyak mengalami kesulitan
seperti yang kita bayangkan di Indonesia
dan ditambah lagi mereka bekerja atas nama PPP. Saat ini ada 3 anggota The
struggle yang menjadi anggota Parlemen Nasional Pakistan dari 3 daerah berbeda.
Ada 3C yang menurut pengakuan Mehdi Sajjad menjadi mesin untuk
menjalankan organisasi mereka, yaitu "Cash, Computer dan Cadre" yang bila
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kira-kira sama dengan "Uang, Komputer dan
Kaderisasi". Setiap orang yang ingin bergabung dengan The Struggle harus
bersepakat dengan ide The Struggle, berkontribusi finansial, termasuk kewajiban
membeli koran dwi mingguan dan aktif menyebarkan ide-ide The Struggle .Secara
financial, The struggle menjalankan roda organisasi dari iuran wajib yang
menjadi komitmen di awal untuk bergabung dengan organisasi secara reguler
setiap bulannya dan juga dari simpatisan-simpatisan yang memberikan sumbangan
secara reguler. Di satu kota setiap bulannya bisa mengumpulkan 12000 rupee yang
sama dengan 200 USD, sekitar 1,9 jt rupiah dan itu sudah lebih dari cukup untuk
menjalankan organisasi menurut mereka. Di Karachi mereka mampu membayar sewa
kantor dari sumbangan reguler simpatisannya. Bagi mereka, iuran atau sumbangan
bukanlah belas kasih, bukanlah persoalan ekonomi tapi sikap dan komitmen
politik setiap anggota The Struggle. Dari hasil iuran di kota-kota, sebagian
ada yg disisihkan untuk di kirimkan ke pusat, untuk membiaya hal-hal lain
khususnya membiayai para pekerja full timer di dalam organisasi.
Situasi saat ini menurut pengakuan Zafar
merupakan situasi yang krusial bagi perkembangan sosialisme di Pakistan.
Momentum pasca terbunuhnya Benazir Bhutto bisa dikatakan mirip dengan situasi
pasca jatuhnya Soeharto. Di tengah kemarahan rakyat terhadap pemerintahan
Pervez Musharraf , terbunuhnya Benazir Bhutto, desakan perubahan dari massa
rakyat terus bermunculan The Struggle terus menyebarkan selebaran-selebaran
yang jumlahnya ratusan ribu yang berisikan program-program sosialisme. Kelompok-kelompok yang ada di dalam tubuh PPP
hampir bisa dikatakan vacum secara program dihadapan massa, kesempatan ini lah yang memang
dimanfaatkan dengan baik oleh The Struggle untuk memperbesar organisasinya
menjadi lebih kuat.
Bagaimana dengan posisi The Struggle dengan
Asif Ali Zardari (Suami Benazir Bhutto) saat ini, Mehdi Sajjad menjelaskan
pada 3 hari pertama pasca kematian Benazir Bhutto, Asif Ali Zardari terlihat
sangat bagus, tidak mau berkompromi dengan pemerintah, tapi pasca itu dia mulai
berkompromi dengan menyetujui pengunduran pemilu. The Struggle sendiri tetap
fokus pada kerja-kerjanya di lingkaran-lingkaran kecil, menyebarkan selebaran
dan Paper dan mendorong ikut serta dalam pemilu nanti. Saat ini menjadi ruang
yang sangat besar bagi The Struggle untuk membangun kesadaran massa, memenangkan program-program mereka dan
memperbesar organisasi. Salah satu desakan mereka terhadap PPP adalah
berpartisipasi dalam pemilu dengan mengkampanyekan kembali manifesto sosialis
1970 dari Zulfiqar Ali Bhutto.
Mereka tidak mempermasalahkan kepemimpinan
PPP sejak Benazir Bhutto hingga saat ini, karena menurut mereka inilah
kepemimpinan alternatif yang dilihat oleh rakyat Pakistan, tidak ada alternatif lain
dan mereka memiliki ruang yang sangat besar untuk berada bersama rakyat.
Seperti juga pengakuan kawan saya yang menjadi security di sebuah perusahaan
Telekomunikasi no.1 di Pakistan,
"saya akan memilih PPP, ya saya tau Benazir Bhutto orang kaya, saya tau
Benazir Bhutto tidak akan sepenuhnya berpihak pada rakyat miskin, tapi dia
memberikan perhatian lebih baik daripada pemimpin-pemimpin lain".
Akhirnya pertemuan yang berlangsung sekitar
2 jam itu kami akhiri dengan oleh-oleh berupa 2 majalah Asian Marxist Review,
dan mereka menawarkan untuk siap bertemu setiap saat untuk ikut dalam aktivitas
mereka sehari-hari atau bertemu lagi minggu depan. Mereka juga akan mengabarkan
kehadiran saya kepada Manzoor Ahmed dan kalau bisa bertemu. Mereka mengundang saya
untuk ikut serta dalam Kongres Nasional mereka pada bulan April.
Sekian cerita pertemuan pertama saya dengan
kawan-kawan The Struggle di Pakistan.
Muje ghar janna he.
Chava
(Penulis adalah anggota PRP Komite Kota
Jakarta Raya yang saat ini berkoordinasi dengan PRP Internasional dan merupakan
staff Divisi Propaganda Komite Pusat PRP)
|