|
Share
Apa yang dimulai pada musim panas 2009 di Iran dengan gerakan massa yang menyusul pemilihan presiden jelas-jelas merupakan awal dari sebuah revolusi, yang nampak dari cirinya yang sangat mencolok, yakni massa-rakyat memaksa masuk ke pentas sejarah. Proses ini sejak sangat awal telah mengedepankan pertanyaan tentang kekuasaan dalam masyarakat. Dengan radikalisasi gerakan pertanyaan ini kian memperoleh bobot nilai yang signifikan. Revolusi Iran sudah sedang menawan perhatian massa-rakyat di seluruh dunia. Dalam beberapa bulan terakhir gerakan ini telah mengambil langkah ke depan, yakni ke ranah-ranah yang sebelumnya dianggap tidak mungkin oleh siapapun. Dengan mengabaikan otoritas manapun dan dengan kian menebalnya keyakinan pada kekuatan-kekuatannya sendiri, gerakan massa-rakyat sedang mengilhami jutaan kaum pekerja dan kaum miskin. Sekarang orang berpandangan bahwa kejatuhan rezim Islam Iran sudah tak terelakkan dan akan terjadi cepat atau lambat. Tapi itu hanya akan menjadi awal dari sebuah periode perjuangan klas yang tajam di Iran yang secara potensial dapat berakhir dengan penggulingan sistem kapitalis dan penggantiannya dengan pemerintahan kaum buruh dan massa-rakyat.
Demonstrasi Menentang Kecurangan Pemilu. Juni 2009Klas-klas penguasa menyadari hal ini dan itulah sebabnya mereka juga telah mengkonsentrasikan semua perhatian mereka pada perjuangan itu. Mereka tahu bahwa perjuangan itu pada satu titik dapat berubah menjadi serangan terhadap sistem kapitalis secara keseluruhan.
Jadi tidaklah mengejutkan bila gerakan itu sedang menarik perhatian semua kaum revolusioner dan kaum Marxis. Kita bermaksud untuk memberikan kepada gerakan itu suatu pemahaman Marxis yang jelas tentang tugas-tugas yang terbentang di depan dan strategi-strategi terbaik untuk mencapai kemenangan. Untuk itu pertama-tama kita harus belajar dan tiba pada pengertian tentang akar-akar dari gerakan tersebut.
Bagaimana ledakan seperti itu bisa terjadi berdasarkan hasil dari pemilihan presiden? Setiap orang Iran tahu dengan sangat baik bahwa tidak ada seorang pun di antara para kandidat presiden yang merepresentasikan perubahan yang riil. Paling banter mereka merepresentasikan warna-warni yang berbeda dari klik klas penguasa ultra-reaksioner Iran. Bahkan bila kita mengabaikan hal ini, manipulasi suara (vote rigging) bukan pula merupakan hal baru di Iran. Faktanya banyak orang Iran percaya bahwa Ahmadinejad meraih kemenangan besar dalam pemilihan presiden yang lalu karena kecurangan yang besar-besaran. Dan akhirnya bila toh Mousavi yang secara resmi menang, ia akan memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa ia sepenuhnya loyal kepada rezim Islam Iran.
Kapitalisme di Iran
Dalam analisis terakhir, sebab-musabab di balik perkembangan-perkembangan revolusioner di Iran harus ditemukan pada krisis umum dari sistem kapitalis yang tidak lagi mampu mengembangkan tenaga-tenaga produktif dan membawa masyarakat melangkah ke depan. Sebaliknya, sistem ini sedang menjadi beban yang paling berat pada masyarakat dan menyeretnya menuju barbarisme.
Di hari-hari permulaan masyarakat kapitalis, kaum borjuasi memainkan peran progresif, yakni mengembangkan tenaga-tenaga produktif dan memajukan masyarakat. Tapi Iran sangat-sangat terlambat memasuki alam kapitalis. Setiap langkah menuju kapitalisme diambil karena tekanan luar-negeri dan campur-tangan langsung, khususnya, dari Imperialisme Rusia dan Inggris. Tapi bahkan dengan faktor ini, relasi-relasi kapitalis di Iran secara ekstrem tetap terpencil atau terisolasi, terbatas, dan nyaris stagnan. Aspek-aspek geografis Iran tidak membantu perkembangannya. Iran adalah negeri terbesar ke-18 di dunia, yang meliputi 1.648.195 kilometer persegi (hampir sebesar Jerman, Prancis, Spanyol, dan Inggris Raya digabung jadi satu!) dan terdiri dari lima rangkaian pegunungan yang mengitari sebuah padang-pasir. Ervand Abrahamian menjelaskan implikasi aspek-aspek geografis ini dalam bukunya yang terkenal, Iran – Between Two Revolutions:
“Bahkan pada akhir abad [1800 – M.A.] jalan yang penting yang menghubungkan pelabuhan selatan Mohammerah (Khorramshahr) dan Teheran begitu lambat sehingga untuk menempuh perjalanan dari Mohammerah ke Teheran lebih cepat bila dilakukan dari Teluk Persia ke Laut Hitam dengan perahu, dari Erzerum ke Laut Kaspia melalui jalan darat, dari Baku ke Enzeli (Pahlevi) dengan perahu lagi, dan akhirnya dari Enzeli ke Teheran melalui jalan darat. Minimnya transportasi menciptakan krisis-krisis periodik yang di dalamnya satu kawasan bisa mengalami bencana kelaparan sementara pada saat yang sama kawasan yang menjadi tetangganya sedang menikmati panen yang melimpah.”
Daratan yang tidak rata dan jarak yang jauh tidak memungkinkan perkembangan dalam perdagangan sama sekali. Hanya setelah penemuan sumber-sumber minyak bumi yang sangat besar di Iran industri negeri ini benar-benar mengalami akselerasi dan produksi kapitalis menjadi modus produksi yang dominan. Meski ini terjadi lebih dari seabad yang lalu masih ada sisa-sisa masyarakat lama di beberapa bagian Iran.
Demikianlah Iran tidak menjadi bagian dari kapitalisme dunia melalui proses perkembangan kapitalis yang linier. Negeri itu diseret paksa untuk memasuki pasar dunia oleh negeri-negeri imperialis, khususnya Inggris dan Rusia yang membagi-bagi Iran di antara mereka. Melalui serangkaian kekalahan besar di abad ke-18 dominasi imperialisme terkonsolidasi.
Khususnya penemuan sumber-sumber minyak bumi yang sangat besar di awal abad 20-lah yang akhirnya membuat Iran menjadi suatu bagian penting dari produksi kapitalis dunia. Jadi kendati hampir semua penduduk negeri itu hidup dan bekerja dalam relasi-relasi pra-kapitalis, negeri itu secara keseluruhan berkembang melalui hukum-hukum kapitalisme dunia. Mencirikan perkembangan ini adalah fakta bahwa infrastruktur industrial, pabrik-pabrik, yang dibangun di Iran setelah mulai-masuknya kapitalisme tidak dibangun oleh dan untuk sebuah klas borjuis yang baru muncul, tetapi oleh dan untuk kebutuhan-kebutuhan sempit imperialisme Rusia dan Inggris. Menghadapi produksi skala besar ini dan harga-harga murah para imperialis, tidak ada pedagang atau pemilik-toko (atau pemerintah) yang mempunyai kesempatan.
Semi-penjajahan terhadap Iran memberikan karakter yang berkombinasi dan tidak merata pada perkembangan sosial negeri itu. Pada waktu borjuasi-kecil Iran, yang dibawa ke depan oleh imperialisme, siap untuk mengadakan sebuah revolusi kapitalis, itu sudah terlalu terlambat. Revolusi-revolusi Konstitusional Iran (sebuah revolusi borjuis pada 1905-1911) menantang aristokrasi bertanah dan kuasa mereka atas negara. Revolusi itu mempunyai sasaran-sasaran menciptakan sebuah demokrasi parlementer, sebuah konstitusi baru, untuk mengenyahkan imperialisme dari Iran, untuk memisahkan institusi-institusi Islam dari negara, dan melaksanakan reforma-agraria. Kendati memberikan pukulan mematikan kepada modi produksi yang lama, aspirasi-aspirasi utama dari revolusi tidak mengkristal. Kapitalisme dalam skala dunia sedang berada dalam periode munculnya antagonisme-antagonisme imperialis. Ia tidak dapat memberikan konsesi apapun – bahkan tidak juga unuk sebuah parlemen boneka atau sebuah konstitusi palsu. Negeri itu memasuki dunia kapitalis yang dilanda sepenuhnya oleh krisis. Di samping itu, klas-klas menengah yang memimpin revolusi terlalu terikat-erat dengan imperialisme sehingga tidak mampu menantangnya secara serius. Pada setiap langkah revolusi ini, gerakan terpecah secara internal. Pada akhirnya gerakan ini bahkan tidak berhasil sepenuhnya mengakhiri modi produksi di kebanyakan daerah pedesaan. Kendati klas-klas bertanah dilemahkan mereka tetap mempertahankan kekuasaan sampai mereka sendiri mengubah basis mereka dan menjadi kaum industrialis 50 tahun kemudian.
Dengan klas pekerja terlalu muda dan lemah untuk memainkan peran, revolusi mempunyai banyak kesulitan dalam mempertahankan dan melanjutkan kemenangan-kememangannya. Sesudah perang sipil dan suatu periode ketidakstabilan yang luar biasa, kediktatoran Reza Shah yang keji muncul pada akhir 1920-an.
Seabad Revolusi dan Kontra-revolusi
Sejak Revolusi Konstitusional stabilitas merupakan sesuatu yang langka dalam masyarakat Iran. Seratus tahun terakhir telah menyaksikan suatu pergeseran yang nyaris konstan antara periode-periode kediktatoran totaliter dan gerakan-gerakan revolusioner atau pra-revolusioner. Periode-periode “ketenteraman” dan hidup-berdampingan “secara damai” ("peaceful" coexistence) terutama merupakan hasil dari represi yang kejam. Kapitalisme Iran, yang bergantung dan tunduk sepenuhnya pada imperialisme, tidak dapat memberikan konsesi-konsesi kepada massa-rakyat. Pada gilirannya ini berarti bahwa perjuangan apapun yang dilakukan oleh bagian manapun dari massa-rakyat, bila berkelanjutan, bakal dengan segera beralih menjadi perjuangan melawan rezim itu sendiri – dan reaksi terhadapnya juga sama-sama eksplosifnya.
Kondisi-kondisi seperti ini mencengkram masyarakat Iran pada sebuah deadlock yang nyaris konstan yang diinterupsi oleh ledakan-ledakan yang paling massif. Gerakan-gerakan yang besar terjadi pada akhir 1920-an, akhir 1940-an sampai pertengahan 1950-an, pertengahan 1960-an, akhir 1970-an, dan gerakan masa kini memiliki akar-akarnya pada tahun 1999. Semua gerakan ini, kecuali yang pertama, dapat dikarakterisasikan sebagai revolusioner atau pra-revolusioner. Situasi masakini sepenuhnya sesuai dengan situasi-situasi sebelumnya dan pada dasarnya mencerminkan sebab-musabab yang sama di baliknya. Ciri-ciri utama yang memisahkan tiap-tiap gerakan dari yang sebelumnya adalah klas pekerja yang tumbuh yang mencatatkan dirinya sebagai kekuatan sosial terkemuka yang semakin signifikan.
Akar-akar Revolusi 1979
Demonstrasi massa selama Revolusi 1979Revolusi 1979 terjadi pada suatu waktu ketika Iran telah menjalani sebuah periode industrialisasi yang massif. Pada dekade 1960-an Shah telah menyelesaikan “revolusi putih” yang dianggap sebagai sebuah reforma-agraria demi kepentingan jutaan kaum tani tak bertanah. Ini adalah suatu upaya untuk memperkenalkan reforma-reforma dari atas untuk mencegah ledakan-ledakan revolusioner dari bawah. Tapi dalam praktiknya “revolusi putih” ini berdampak pada konsolidasi dan penguatan posisi keluarga kerajaan dan sekutu-sekutu terdekatnya. Dibantu oleh AS, reforma-reforma itu juga turut menggeser basis klik tersebut ke industrialisme.
Dalam proses ini, dan melalui undang-undang lain yang disahkan dalam periode ini, lapisan-lapisan yang sebelumnya ada di bawah kelompok kecil ini mengalami serangan yang berat; khususnya kaum klerus (pemimpin agama) – yang selalu menjadi pendukung yang loyal terhadap Shah – dan kaum bazaari (para pedagang kecil) juga mengalami pukulan berat. Di samping sejumlah sangat besar tanah mesjid yang diambilalih, Shah mendirikan institusi-institusi agamanya sendiri untuk menantang otoritas para klerus. Kaum bazaari diserang dengan dumping harga yang berat, pemajakan yang tidak merata, dan pembangunan supermarket-supermarket negara yang membeli produk-produk secara langsung dari para manufaktur dengan memotong para pengantara tradisional, bazaari.
Di samping menyerang lapisan-lapisan atas dari kaum burjuasi-kecil, reforma-reforma secara menentukan memotong ikatan-ikatan jutaan orang dari daerah-daerah pedesaan dan mendorong mereka ke kota-kota. Dari 1950-an sampai akhir 1970-an penduduk perkotaan tumbuh dari 20% menjadi 50% dari jumlah penduduk secara keseluruhan.
Pada saat yang sama, kelompok penguasa berupaya menggeser basis ekonomi mereka dari tanah ke produksi massal industrial. Harga minyak yang tinggi, proteksionisme, dan bantuan militer dari AS, bersama dengan boom ekonomi pasca perang menciptakan kondisi-kondisi di mana mereka merasa bahwa mereka dapat membangun dan mengkonsolidasi posisi yang kuat untuk Iran di pasar dunia. Penghasilan dari minyak saja meningkat dari $34 juta pada 1954-55 menjadi $437 juta pada 1962-63, menjadi $5 milyar pada 1973-74, menjadi $20 milyar pada 1975-76.
Pendapatan ini adalah tulang-punggung bagi industrialisasi yang dialami negeri tersebut dalam periode ini. Jumlah yang menakjubkan tersalur ke dalam perekonomian melalui pinjaman murah dan investasi langsung, tapi itu sama sekali tidak berarti bahwa semua rakyat Iran beroleh faedah atau manfaat daripadanya. Ini diilustrasikan oleh fakta bahwa 1000 orang memiliki, bukan hanya pertanian-pertanian industrial besar, tetapi juga 85 % dari semua perusahaan swasta utama.
Kendati Shah juga membelanjakan sejumlah uang untuk proyek-proyek kesejahteraan yang tambal-sulam, ketidaksetaraan masih terjadi. Istana-istana megah dan gaya hidup ekstravagan dari kaum oligarki Iran dengan kejam berkontras dengan kehidupan di daerah kumuh atau bahkan kawasan-kawasan klas menengah di Teheran. Pada tahun 1973 keseluruhan belanja rumah tangga perkotaan yang terdiri dari 50 persen penduduk yang paling miskin terhitung 16,8 persen dari belanja keseluruhan. Sepuluh tahun sebelumnya, pada 1960, persentasenya 19,7 persen. Dalam periode yang sama 20 persen penduduk terkaya meningkat, dari 51,7 menjadi 55,4 persen dari belanja rumah tangga perkotaan secara keseluruhan. Ini terjadi pada suatu waktu, ketika PDB sedang meningkat 15-20 persen setiap tahun. Tapi ini belum menceritakan keseluruhan kisah. Statistik hanya memperlihatkan berapa besar belanja rakyat. Kita harus ingat bahwa kaum kapitalis besar jarang membelanjakan semua uang mereka sementara kaum pekerja biasa dan kaum miskin tidak memiliki pilihan lain!
Dalam paruh kedua 1970-an faktor-faktor ini diperbesar dengan resesi dan inflasi yang bergerak seperti spiral. Beban-beban krisis ekonomi di bawah kapitalisme selalu dilimpahkan ke bahu klas pekerja dan massa-rakyat yang melarat. Iran pada 1970-an sama sekali bukan pengecualian. Memperoleh faedah yang minim dari boom ekonomi, kaum pekerja dan rakyat miskin sekarang terjerumus ke dalam kemelaratan dengan kecepatan yang bertambah luar biasa.
Dari tahun 1971-76, biaya sewa rumah di bagian-bagian pemukiman Teheran naik 300 persen. Sebuah keluarga klas menengah dapat menghabiskan sampai 50% dari pendapatan pertahun mereka untuk sewa rumah saja. Semua program sosial dihentikan atau dipangkas secara substansial; pengangguran meledak. Standar-standar kehidupan massa-rakyat memburuk dengan cepat.
Berupaya untuk mempertahankan posisinya dalam kondisi resesi, Shah mulai menyerang klas-klas menengah lebih keras lagi. Undang-undang yang keras terhadap “korupsi” dan “pengambilan untung yang berlebihan” (profiteering) dibuat. Dalam kenyataannya undang-undang itu ditujukan kepada para bazaari dan bahkan beberapa sekutu Shah sendiri. Pada saat yang sama ketegangan-ketegangan sosial yang terus meningkat menjadi jelas bagi banyak bagian dari kelompok penguasa. Ini menciptakan perpecahan di antara penguasa tentang bagaimana bertindak menghadapi ketegangan-ketegangan sosial tersebut. Kandidat presiden Amerika, Jimmy Carter, menyatakan bahwa Amerika harus melakukan lebih banyak guna melindungi kebebasan sipil dan politik di Iran – sebuah pernyataan yang harus diletakkan dalam konteks tiga dekade dukungan tetap dan sepenuh hati Amerika terhadap rezim Shah.
Perpercahan-perpecahan di dalam kelompok penguasa menciptakan sebuah kemungkinan bagi massa-rakyat untuk menerobos celah-retakan seperti dengan baji. Demonstrasi-demostrasi dan pemogokan-pemogokan meningkat secara dramatis. Khususnya para penulis, penyair, cendekiawan, mahasiswa, dan kaum bazaari klas menengah ada di garis depan pada awalnya.
Khususnya para Bazaari, yang beberapa di antaranya mengalami pukulan berat sehubungan denda-denda yang dikenakan kepada mereka dengan tuduhan “mengeduk keuntungan yang berlebihan”, dengan segera mampu menciptakan suatu momentum. Dengan semua dari mereka berlokasi di kawasan-kawasan sentral di setiap kota dan mempunyai jejaring di seluruh negeri, itu membuat mereka sangat berbahaya bagi rezim yang bertindak keras terhadap demonstrasi-demonstrasi. Para bazaari menggunakan mesjid-mesjid dan para ulama (mullah), yang dengannya banyak di antara mereka mempunyai hubungan yang baik, untuk berhimpun dan memobilisasi kekuatan. Mesjid adalah salah satu dari sedikit tempat di mana orang dapat berkumpul semasa periode Shah. Kendati pada awalnya mereka menolak untuk terlibat, para mullah segera ditekan untuk memainkan peran mengorganisasi pada tataran nasional. Di mana Bazaar mempunyai jejaring di setiap kota, mesjid mempunyai sebuah jejaring di seluruh negeri.
Dimulai pada awal tahun 1978, pemogokan-pemogokan dan demonstrasi-demonstrasi menjadi lebih sering. Tuntutan-tuntutan demokratis seperti pembebasan para tahanan politik dan kebebasan berekspresi, khususnya bagi pers yang telah dikemukakan sekian lama sekarang didorong ke garis depan dan gerakan terus mengumpulkan momentum.
Melihat bahwa mereka tidak dapat menghentikan gerakan itu, rezim Shah memilih untuk mengendorkan cengkeramannya dan membiarkan kepulan kecil uap panas dari ketidakpuasan yang terus merebak. Perdana-menteri yang baru, Jafar Sharif-Emami, dilantik pada akhir Agustus. Aktivitas oleh partai-partai politik dilegalkan – tentu saja dengan pengecualian kaum Kiri. Tentara ditarik dari jalanan dan sekian banyak tahanan politik dibebaskan. Tapi sebagaimana selalu terjadi, ketika sebuah gelombang revolusioner menggejolak, tidak ada reforma ataupun represi yang dapat menghentikannya.
Pengenduran cengkeraman rezim hanya menyulut gerakan yang telah bergolak di bawah permukaan. Dengan segera pembentukan serikat-serikat buruh dimulai dan aktivitas pemogokan meningkat dengan cepat. Pada awalnya tuntutan-tuntutan gerakan-mogok hanya mempengaruhi perusahaan-perusahaan tertentu dan terbatas pada tuntutan-tuntutan ekonomi seperti upah yang lebih tinggi, tapi ini segera berubah.
Pada awal September sebuah gerakan-mogok dimulai, yang kemudian mengakibatkan sebuah pemogokan umum yang menentukan. Setelah beberapa demonstran ditembak, kaum pekerja perkakas-mesin di Tabriz dan kaum pekerja penyulingan minyak di Teheran bergerak melancarkan pemogokan. Ini merupakan percikan yang menyalakan lidah api. Di pabrik baja Isfahan 30 ribu orang melancarkan pemogokan; dan di seluruh negeri ratusan ribu kaum pekerja industrial melancarkan pemogokan.
Secara khusus kaum pekerja minyak sangat penting. Pemogokan mereka, yang menyebar ke hampir seluruh instalasi, adalah yang paling terkenal dan juga paling penting. Ini membuat rezim Shah kehilangan $50 juta dollar per hari.
Pemogokan umum melumpuhkan rezim; memotong semua pasokan uang dan barang. Ini adalah faktor yang menentukan, yang membuat rezim bertekuk-lutut. Pemogkan bukan hanya melumpuhkan rezim secara ekonomi. Pemogokan juga mengedepankan pertanyaan tentang kekuasaan dalam masyarakat dengan cara yang paling konkret. Siapa yang mempunyai hak untuk memerintah atau berkuasa? Ini merupakan sebuah pertanyaan yang mendesak dan terbuka yang akan diselesaikan melalui perjuangan lebih lanjut. Pada saat yang sama pemogokan membuka ruang bagi protes-protes massa-rakyat untuk tumbuh semakin kuat.
Rezim Shah, dalam upaya terakhir yang sia-saia, memutuskan untuk menyerahkan kekuasaan kepada sebuah pemerintahan militer pada November 1978. Tapi pemerintah militer ini hanya berhasil menekan pemberontakan untuk beberapa hari saja. Sesudahnya aktivitas mogok dimulai lagi. Pada akhir November kemenangan sudah jelas. Dari situ dan seterusnya, semua tindakan pemerintah dilakukan dengan tujuan mengulur waktu untuk memindahkan sebanyak mungkin asset ke luar negeri.
Dampak ekonomi dari pemogokan berkombinasi dengan demonstrasi kekuatan oleh klas pekerja dan jutaan orang di jalan-jalan setiap hari, menciptakan kondisi-kondisi di mana sejumlah tentara menyeberang ke pihak revolusi. Ini merupakan pukulan terakhir yang membuat para pembela rezim yang masih tersisa menyerah atau melarikan diri pada Januari 1979. Puncak pimpinan tentara, atas nasihat dari administrasi AS, berjanji tidak berintervensi atau turut-campur dalam politik. Sebagai balasannya, mereka terhindar dari disintegrasi dan pembubaran.
Batu nisan kediktatoran totaliter Shah telah diletakkan dan itu ditandatangani oleh klas pekerja dan massa-rakyat melarat Iran. Shah melarikan diri pada pertengahan Februari 1979.
Kekosongan kekuasaan yang diciptakan oleh kejatuhannya seharusnya dapat diisi oleh klas pekerja. Tetapi kebijakan-kebijakan yang keliru dari organisasi-organisasi utama klas pekerja telah memberi jalan bagi kekalahan revolusi. (Bersambung)
Diterjemahkan oleh Pandu Jakasurya dari "The historical origins of the Iranian Revolution and the tasks of the Revolutionary Marxists – Part One”, 11 Juni 2010.
|