Prinsip Militan
Sosialisme Ilmiah
Sosialisme Ilmiah adalah prinsip yang dipegang oleh Militan, ilmiah dalam arti bahwa Militan tidak semata-mata melihat sosialisme dari kaca mata moral. Sosialisme harus dilihat sebagai bagian dari gerak masyarakat di dalam sejarah, dari komunisme primitif, ke perbudakan, ke feodalisme, ke kapitalisme, dan lalu ke sosialisme. Struktur-struktur sosial ini dan perubahannya dari satu ke lain, pada analisa terakhirnya, ditentukan oleh kekuatan produksi dan hubungan manusia dengan alat-alat produksi tersebut: bagaimana kekayaan terdistribusi dan masyarakat terbagi menjadi kelas-kelas, siapa yang memproduksinya dan bagaimana kekayaan tersebut diproduksi.
Dari sudut pandang ini, maka sebab utama dari perubahan-perubahan sosial dan revolusi-revolusi politik adalah perubahan di dalam metode produksi dan distribusi, dan bukan semata-mata dari otak manusia atau moralitas dan kebenaran abadi yang dipikirkannya.
Sejarah manusia sampai hari ini adalah sejarah perjuangan kelas, antara kelas-kelas yang memiliki kepentingan yang berbeda. Di dalam sistem perbudakan, ada kelas pemilik budak dan budak; di feodalisme, tuan tanah dan petani; di kapitalisme, borjuis (pemilik alat produksi) dan buruh. Setiap sistem sosial lahir untuk kemudian mati ketika kontradiksi dan pertentangan di dalamnya tidak bisa lagi didamaikan. Dari abu yang lama, sebuah sistem sosial yang baru lahir.
Masyarakat borjuis yang lahir dari reruntuhan masyarakat feodal tidaklah mengakhiri pertentangan kelas, tetapi melahirkan opresi dan pertentangan kelas yang baru. Kelas borjuis yang lahir dari sistem feodalisme, yang lalu menjadi dewasa dan memberontak terhadap batas-batas feodalisme, bangkit menjadi kelas penguasa yang baru dengan menghancurkan feodalisme. Tetapi pada saat yang sama, kelas borjuis menciptakan satu kelas yang akan menjadi penggali kuburnya: yakni kelas buruh. Dengan semakin besarnya kapital, semakin besar juga kelas proletar dalam jumlah dan kualitas.
Seiring dengan menuanya kapitalisme, ia justru menjadi sistem yang menghambat kemajuan masyarakat secara umum. Kaum borjuis sudah kehilangan nilai-nilai progesifnya sama sekali. Masalah-masalah ekonomi, sosial, dan politik sudah tidak bisa diselesaikan oleh mereka. Kontradiksi utama kapitalisme adalah bahwa produksi dilakukan secara sosial (yakni oleh mayoritas kaum pekerja) tetapi nilai-lebih produksi tersebut (profit) diambil secara pribadi (yakni oleh segelintir pemilik modal). Penyelesaian kontradiksi ini adalah dengan menyerahkan nilai-lebih produksi ke rakyat pekerja dengan cara menasionalisasi ekonomi di bawah kontrol demokratis rakyat pekerja yang akan merencanakan ekonomi secara sistematis dan demokratis untuk kepentingan rakyat dan bukan untuk laba dan profit semata.
Demokrasi Rakyat Pekerja
Demokrasi adalah oksigen dari sosialisme. Tidak akan ada sosialisme yang sejati tanpa demokrasi kelas pekerja. Perubahan sistem ekonomi kapitalisme ke sosialisme juga harus disertai dengan perubahan struktur politik di dalam masyarakat secara radikal. Kita harus merubah demokrasi yang kita miliki sekarang ini, yakni demokrasi borjuis yang hanya menjamin hak-hak demokrasi kaum pemilik modal dan antek-anteknya, menjadi demokrasi rakyat pekerja.
Demokrasi representatif, dimana rakyat hanya disuruh ikut pemilu 5 tahun sekali dan lalu diam menunggu sampai pemilu berikutnya, harus dirubah menjadi demokrasi partisipatoris dimana semua rakyat aktif di dalam pengambilan keputusan dan eksekusi keputusan tersebut setiap saat. Demokrasi rakyat pekerja bukan hanya terbatas di lembaga pemerintahan dan politik, tetapi juga di dalam kehidupan sehari-hari rakyat pekerja: di lingkungan tempat tinggal, sekolah-sekolah, tempat kerja, pabrik-pabrik, dsb.
Reformasi dan Revolusi
Reformasi atau Revolusi? Walaupun Militan berjuang untuk tujuan akhir revolusi yang akan membawa sosialisme, kita tidak lantas mengabaikan perjuangan untuk tuntutan sehari-hari (reformasi) seperti 8-jam kerja, upah layak, hak berserikat dan mogok, layanan kesehatan universal dan gratis, pendidikan gratis, dana pensiun layak untuk semua rakyat, hak-hak wanita, dsb. Militan melihat perjuangan sehari-hari sebagai arena untuk mempersiapkan rakyat pekerja dalam tugas historisnya, yakni menumbangkan kapitalisme. Setiap tuntutan sehari-hari diperjuangkan bukan hanya untuk meringankan penderitaan rakyat tetapi juga untuk menguatkan keyakinan diri dan kesadaran kelas rakyat pekerja.
Akan tetapi, tidak seperti kaum reformis yang hanya puas dengan reformasi dan menunda revolusi dan sosialisme di hari depan yang jauh, kaum revolusioner selalu berjuang dengan perspektif penaklukan kekuasaan oleh kelas buruh. Tidak seperti kaum reformis yang hanya ingin memperbaiki kapitalisme supaya lebih baik dan berwajah humanis, Militan, berdasarkan prinsip Sosialisme Ilmiah, paham bahwa pokok sebab dari masalah-masalah sosial datang dari karakter fundamental kapitalisme sendiri. Oleh karena itu, untuk benar-benar mengakhiri kemiskinan, penindasan, peperangan, dan semua macam penyakit sosial (rasisme, sexisme, homophobia, dll) dibutuhkan sebuah perubahan fundamental di dalam sistem ekonomi politik, sebuah revolusi untuk mengakhiri kapitalisme dan membangun sosialisme di atas reruntuhan sistem yang tua tersebut.
Internasionalisme
Sosialisme tidak akan bisa selamat di dalam lautan kapitalisme. Dengan semakin terintegrasinya sistem ekonomi dunia, tidak ada satupun negara yang dapat eksis dengan sendirinya. Sosialisme yang dikepung oleh lautan kapitalisme akan mengalami deformasi yang pada akhirnya akan menumbangkannya. Oleh karena itu, kemenangan mutlak sosialisme hanya bisa dijamin bila ia menyebar ke seluruh dunia. Kapitalis dunia hanya bisa ditumbangkan oleh kelas buruh sedunia yang tersatukan.
Ini bukan berarti menunda perjuangan sosialisme di dalam satu negara. Revolusi sosialis selalu dimulai di dalam arena nasional, yang kemudian akan menyebar dalam arena internasional dan diselesaikan dalam arena dunia. Perjuangan sosialisme tidak boleh terbatas di dalam kungkungan nasional, akan tetapi harus memiliki perspektif internasional dan perspektif kemenangan sosialisme sedunia.
Sosialisme Ilmiah
Sosialisme Ilmiah adalah prinsip yang dipegang oleh Militan, ilmiah dalam arti bahwa Militan tidak semata-mata melihat sosialisme dari kaca mata moral. Sosialisme harus dilihat sebagai bagian dari gerak masyarakat di dalam sejarah, dari komunisme primitif, ke perbudakan, ke feodalisme, ke kapitalisme, dan lalu ke sosialisme. Struktur-struktur sosial ini dan perubahannya dari satu ke lain, pada analisa terakhirnya, ditentukan oleh kekuatan produksi dan hubungan manusia dengan alat-alat produksi tersebut: bagaimana kekayaan terdistribusi dan masyarakat terbagi menjadi kelas-kelas, siapa yang memproduksinya dan bagaimana kekayaan tersebut diproduksi.
Dari sudut pandang ini, maka sebab utama dari perubahan-perubahan sosial dan revolusi-revolusi politik adalah perubahan di dalam metode produksi dan distribusi, dan bukan semata-mata dari otak manusia atau moralitas dan kebenaran abadi yang dipikirkannya.
Sejarah manusia sampai hari ini adalah sejarah perjuangan kelas, antara kelas-kelas yang memiliki kepentingan yang berbeda. Di dalam sistem perbudakan, ada kelas pemilik budak dan budak; di feodalisme, tuan tanah dan petani; di kapitalisme, borjuis (pemilik alat produksi) dan buruh. Setiap sistem sosial lahir untuk kemudian mati ketika kontradiksi dan pertentangan di dalamnya tidak bisa lagi didamaikan. Dari abu yang lama, sebuah sistem sosial yang baru lahir.
Masyarakat borjuis yang lahir dari reruntuhan masyarakat feodal tidaklah mengakhiri pertentangan kelas, tetapi melahirkan opresi dan pertentangan kelas yang baru. Kelas borjuis yang lahir dari sistem feodalisme, yang lalu menjadi dewasa dan memberontak terhadap batas-batas feodalisme, bangkit menjadi kelas penguasa yang baru dengan menghancurkan feodalisme. Tetapi pada saat yang sama, kelas borjuis menciptakan satu kelas yang akan menjadi penggali kuburnya: yakni kelas buruh. Dengan semakin besarnya kapital, semakin besar juga kelas proletar dalam jumlah dan kualitas.
Seiring dengan menuanya kapitalisme, ia justru menjadi sistem yang menghambat kemajuan masyarakat secara umum. Kaum borjuis sudah kehilangan nilai-nilai progesif sama sekali. Masalah-masalah ekonomi dan politik tidak bisa lagi diselesaikan oleh mereka. Kontradiksi utama kapitalisme adalah bahwa produksi dilakukan secara sosial (yakni oleh mayoritas kaum pekerja) tetapi nilai-lebih produksi (profit) tersebut diambil secara pribadi (yakni oleh segelintir pemilik modal). Penyelesaian kontradiksi ini adalah dengan menyerahkan nilai-lebih produksi ke rakyat pekerja dengan cara menasionalisasi ekonomi di bawah kontrol demokratis rakyat pekerja yang akan merencanakan ekonomi secara sistematis dan demokratis untuk kepentingan rakyat dan bukan untuk laba dan profit semata.
Demokrasi Rakyat Pekerja
Demokrasi adalah oksigen dari sosialisme. Tidak akan ada sosialisme yang sejati tanpa demokrasi kelas pekerja. Perubahan sistem ekonomi kapitalisme ke sosialisme juga harus disertai dengan perubahan struktur politik di dalam masyarakat secara radikal. Kita harus merubah demokrasi yang kita miliki sekarang ini, yakni demokrasi borjuis yang hanya menjamin hak-hak demokrasi kaum pemilik modal dan antek-anteknya, menjadi demokrasi rakyat pekerja.
Demokrasi representatif, dimana rakyat hanya disuruh ikut pemilu 5 tahun sekali dan lalu diam menunggu sampai pemilu berikutnya, harus dirubah menjadi demokrasi partisipatoris dimana semua rakyat aktif di dalam pengambilan keputusan dan eksekusi keputusan tersebut setiap saat. Demokrasi rakyat pekerja bukan hanya terbatas di lembaga pemerintahan dan politik, tetapi juga di dalam kehidupan sehari-hari rakyat pekerja: di lingkungan tempat tinggal, sekolah-sekolah, tempat kerja, pabrik-pabrik, dsb.
Reformasi dan Revolusi
Reformasi atau Revolusi? Walaupun Militan berjuang untuk tujuan akhir revolusi yang akan membawa sosialisme, kita tidak lantas mengabaikan perjuangan untuk tuntutan sehari-hari (reformasi) seperti 8-jam kerja, upah layak, hak berserikat dan mogok, layanan kesehatan universal dan gratis, pendidikan gratis, dana pensiun layak untuk semua rakyat, hak-hak wanita, dsb. Militan melihat perjuangan sehari-hari sebagai arena untuk mempersiapkan rakyat pekerja dalam tugas historisnya, yakni menumbangkan kapitalisme. Setiap tuntutan sehari-hari diperjuangkan bukan hanya untuk meringankan penderitaan rakyat tetapi juga untuk menguatkan keyakinan diri dan kesadaran kelas rakyat pekerja.
Akan tetapi, tidak seperti kaum reformis yang hanya puas dengan reformasi dan menunda revolusi dan sosialisme di hari depan yang jauh, kaum revolusioner selalu berjuang dengan perspektif penaklukan kekuasaan oleh kelas buruh. Tidak seperti kaum reformis yang hanya ingin memperbaiki kapitalisme supaya lebih baik dan berwajah humanis, Militan, berdasarkan prinsip Sosialisme Ilmiah, paham bahwa pokok sebab dari masalah-masalah sosial datang dari karakter fundamental kapitalisme sendiri. Oleh karena itu, untuk benar-benar mengakhiri kemiskinan, penindasan, peperangan, dan semua macam penyakit sosial (rasisme, sexisme, homophobia, dll) dibutuhkan sebuah perubahan fundamental di dalam sistem ekonomi politik, sebuah revolusi untuk mengakhiri kapitalisme dan membangun sosialisme di atas reruntuhan sistem yang tua tersebut.
Internasionalisme
Sosialisme tidak akan bisa selamat di dalam lautan kapitalisme. Dengan semakin terintegrasinya sistem ekonomi dunia, tidak ada satupun negara yang dapat eksis dengan sendirinya. Sosialisme yang dikepung oleh lautan kapitalisme akan mengalami deformasi yang pada akhirnya akan menumbangkannya. Oleh karena itu, kemenangan mutlak sosialisme hanya bisa dijamin bila ia menyebar ke seluruh dunia. Kapitalis dunia hanya bisa ditumbangkan oleh kelas buruh sedunia yang tersatukan.
Ini bukan berarti menunda perjuangan sosialisme di dalam satu negara. Revolusi sosialis selalu dimulai di dalam arena nasional, yang kemudian akan menyebar dalam arena internasional dan diselesaikan dalam arena dunia. Perjuangan sosialisme tidak boleh terbatas di dalam kungkungan nasional, akan tetapi harus memiliki perspektif internasional dan perspektif kemenangan sosialisme sedunia.
|