Kapitalisme adalah Problem. Apresiasi Kritis atas Film Capitalism: A Love Story Cetak E-mail
Ditulis oleh Jesus S. Anam   
Senin, 04 Januari 2010 04:50

Sutradara spesialis film dokumenter, Michael Moore, membuat kejutan baru. Ia membuat film yang berkisah tentang cinta terlarang yang kemudian mendatangkan malapetaka di akhir musim gugur tahun 2007. Film yang bejudul Capitalism: A Love Story ini merupakan sindiran ideologis terhadap kapitalisme sebagai sistem dominan yang merusak kemanusiaan dan telah menyebabkan resesi ekonomi global. Film ini sepertinya juga ingin mengingatkan kepada warga Amerika dan dunia bahwa kapitalisme adalah sebuah sistem yang bengis, yang didasarkan atas eksploitasi dan motif meraih keuntungan yang lepas kontrol. Oleh karena itu, harus dilawan!

Moore, dengan filmnya yang apik ini, rupanya tengah mencoba mengungkapkan eksposisi yang luar biasa dari sebuah realitas yang berada di bawah sebuah sistem, dimana milyaran manusia hidup di dalamnya. Ia mengekspos mengenai apa manfaat dari sistem kapitalisme bagi kehidupan manusia selain merusak dan menghancurkan tatanan peradaban. Moore juga menyebut sebagai financial coup d'etat, saat pemerintah Amerika Serikat menyelamatkan kondisi keuangan dan memberikan jaminan atas Goldman Sachs, salah satu penguasa finansial di negeri kapitalis terbesar di dunia tersebut.

Hal yang inspiratif juga bisa kita lihat dalam salah satu adegan dalam film ini, yakni pendudukan sebuah pabrik yang telah bangkrut, Republic Window and Doors, selama sembilan hari oleh buruh. Pendudukan pabrik tersebut akhirnya berhasil mempecepat kreditor Bank of Amerika dan JP Morgan Chase untuk menyelesaikan masalahnya dengan mencairkan dana sebesar 1,75 juta dolar Amerika. Moore kemudian mengakhiri filmnya dengan membuat pertanyaan menghujat: mengapa di negara-negara kaya di atas bumi ini tidak mampu menyediakan pekerjaan, jaminan kesehatan, perumahan yang layak, dan pendidikan yang memadai bagi semua rakyat? Moore, dengan garapan filmnya yang cerdas ini, mengungkap penderitaan yang dialami kaum buruh dan masyarakat secara umum dengan humor, ironi, serta nuansa musikal yang artistik; dan mengarahkan penontonnya pada muara penegasan bahwa kapitalisme adalah problem.

Meskipun Moore telah lama menjadi pejuang kaum buruh dan seorang “liberal” dalam arti yang luas, film barunya ini, secara politik, merupakan karyanya yang paling berani. Karena ini bukan hanya sekedar sebuah film, tetapi pandangan politiknya yang mewakili rakyat tertindas. Film ini jelas akan mencelikkan mata publik, khususnya publik Amerika, dan bisa membangkitkan keberanian secara masif dalam melawan kapitalisme di Amerika - juga dunia.

Dalam sebuah wawancara Moore mengatakan:

“Ini sudah berlangsung satu tahun [sejak runtuhnya Wall Street], dan saya tidak pernah melihat ada talk show atau edisi khusus dalam jumpa pers atau op-ed di New York Time dimana diijinkan sebuah pernyataan yang menyatakan sebagai berikut: ‘Problem sesungguhnya…adalah kapitalisme itu sendiri.’ Ini merupakan sistem ekonomi yang tidak bisa bekerja, tidak fair, dan tidak demokratis…. Kapitalisme adalah binatang buas. Ia tidak akan pernah berhenti. Ia memiliki hasrat yang tidak pernah kenyang untuk menciptakan uang….” (Asian Marxist Review, hal. 42).

Keberanian politis Moore yang disuguhkan dalam film ini saya apresiasi dengan nilai yang cukup tinggi. Tapi apa yang ditampilkan Moore ini masihlah abstrak dan, seperti film-film lain produksi Hollywood, sekedar sebagai tontonan yang menghibur. Ia ingin mengurai dan mengoperasi borok kapitalisme tetapi di bawah cahaya yang remang-remang. Saya rasa Moore sangatlah tahu bahwa sistem ini tidak bisa direformasi, tetapi harus direvolusi, diganti dengan yang baru. Hal ini telah ia tunjukkan, dalam filmnya, saat seorang pendeta diwawancarai dan mengatakan, “kapitalisme adalah iblis, dan anda tidak bisa mengatur iblis; anda harus melenyapkannya.” Tapi Moore masih terlihat enggan untuk menggambar dengan jelas sebuah kesimpulan dari semua yang ia tampilkan dalam filmnya. Atau setidaknya ia masih enggan untuk mengatakan ini dengan terbuka. Dan inilah kritik saya terhadap Moore.

Untuk melengkapi apa yang dikatakan oleh Moore bahwa kapitalisme adalah problem,  penting untuk mengatakan bahwa sosialisme adalah solusi. Sosialisme bukanlah kata yang kotor, dan revolusi bukanlah konspirasi remang-remang yang dibawa oleh sekelompok orang. Revolusi sosialis adalah perubahan yang fundamental dalam struktur masyarakat melalui cara yang demokratis dan partisipasi yang sadar dari mayoritas rakyat.

Bagi anda yang ingin mengetahui gerak buta kapitalisme dalam sebuah narasi, film ini patut untuk ditunggu kehadirannya. Film yang berdurasi 120 menit ini sudah dirilis tanggal 2 Oktober 2009 lalu di Amerika Serikat, dan akan segera hadir di Indonesia.

Salam Militan

 
RocketTheme Joomla Templates