|
Share Revolusi Permanen, salah satu karya besar Leon Trotsky, berhasil meraih perhatian yang cukup besar di kalangan civitas akademika Universitas Nasional (UNAS) Jakarta. Kegiatan yang berlangsung pada hari Kamis (24/3) mampu memicu peserta yang hadir untuk memahami karya Trotsky itu dengan membaca ringkasan pendek yang telah dipersiapkan oleh panitia dan dibagikan beberapa jam sebelum kegiatan berlangsung. Dari situ, peserta dapat sedikit tahu tentang apa, siapa dan bagaimana isi dari buku itu secara sekilas. Keingintahuan yang besar dari para peserta diskusi untuk memahami Revolusi Permanen terlihat dari antusiasme pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan ketika sesi diskusi berlangsung.
Bedah buku dan diskusi itu menghadirkan dua pembicara: Dedi Irawan, dosen dan Ketua Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAS, dan J. Syaiful Anam dari Militan Indonesia. Mereka mengupas Revolusi Permanen dari tiap sudut yang berbeda.
Dedi Irawan memaparkan analisanya sekaligus memulai kegiatan diskusi dengan menjelaskan bahwa Trotsky merupakan salah satu tokoh yang basis pemikirannya mengacu pada Marxisme, yang dikenal juga sebagai Sosialisme Ilmiah. Ia melanjutkan bahwa, “dalam ranah ilmu sosial, Marxisme adalah teori yang sarat dengan nilai”. Maka dari itu, Trotsky, sudah tidak lagi berbicara pada tahapan teori semata, namun ia sudah melewati tahapan itu dan masuk dalam ranah praksis. “Dan inilah Revolusi Permanen, sebuah maha karya dari seorang tokoh besar Marxisme, yang bukan hanya berisi gagasan dan ide-ide brilian semata, namun juga berisi kritik dan otokritik yang sangat tajam terhadap praktek-praktek sosialisme”, sambungnya. Dedy Irawan, mengkritik gerakan kiri saat ini yang kurang peka terhadap perubahan masyarakat dan minimnya strategi-strategi yang dahsyat bagi kaum kiri untuk mewujudkan ide-ide dan gagasan-gagasan mereka menjadi nyata. Di akhir pemaparan analisanya, ia mengutip apa yang telah diucapkan oleh presiden Venezuela, Hugo Chavez, “Revolusi Permanen adalah buku wajib bagi kaum sosialis”. Namun sayang, dosen UNAS ini tidak dapat mengikuti kegiatan ini sampai akhir, karena harus menghadiri rapat.
Pembicara kedua, J.Syaiful Anam, memulai pemaparannya dengan menjelaskan latarbelakang terbentuknya teori Revolusi Permanen dan mengulas secara singkat tiga revolusi yang terjadi di Rusia, dimulai sejak 1905. Dalam sesi diskusi, banyak pertanyaan-pertanyaan dari peserta, mereka sangat antusias dalam melontarkan tiap pertanyaan.
Ken Budha Kusumandaru, salah satu peserta diskusi, yang aktif dalam organisasi Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), menuturkan bahwa banyak dari peserta diskusi yang kurang paham tentang sejarah Rusia, sehingga mengalami kesulitan untuk memahami Revolusi Permanen. Ia juga bertanya kepada Syaiful, sebagai pembicara, tentang penerapan konsep Revolusi Permanen di Indonesia, apakah tepat?
Penerbitan buku Revolusi Permanen tidak bisa dipisahkan dari usaha untuk memahami sejarah Rusia dan Revolusi Oktober. Justru minimnya pemahaman mengenai Revolusi Oktober di Rusia adalah motivasi dari penerbitan buku Revolusi Permanen oleh penerbit Wellred dan Militan Indonesia. Selain buku ini, karya besar Trotsky lainnya, yakni Revolusi yang Dikhianati, yang bertutur mengenai sebab-musabab degenerasi Uni Soviet, akan segera terbit pada bulan Mei tahun ini, dan ini akan melengkapi bahan-bahan bacaan mengenai sejarah Rusia.
Mengenai penerapan Revolusi Permanen di Indonesia, masalahnya adalah bukan penerapan tetapi apa yang dipaparkan oleh teori ini dan kenyataan di lapangan. Ketidakmampuan kaum borjuis Indonesia untuk memajukan bangsa Indonesia, untuk melaksanakan tugas-tugas demokratik (penerapan demokrasi, reforma agraria, kedaulatan bangsa dari cengkraman asing, dll), adalah satu bukti dari kemandulan mereka. Dan bila kaum borjuis nasional tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas demokratik tersebut, maka kelas lain mana yang bisa melakukan ini? Hanya kaum buruh yang bisa melaksanakan tugas-tugas demokratik tersebut. Inilah esensi dari Revolusi Permanen, dan kenyataan konkrit di Indonesia membenarkan teori ini. Hanya dengan berkuasanya buruh, maka rakyat Indonesia bisa sejahtera. Bila buruh berkuasa, apakah pemerintahan buruh ini akan tetap melanggengkan sistem kapitalisme yang memeras buruh? Jelas jawabnya adalah tidak, dan pemerintah buruh ini akan segera melakukan langkah-langkah menuju sosialisme.
Peserta lainnya, Wem, aktif di Kelompok Studi Mahasiswa (KSM UNAS), bertanya tentang bagaimana pendapat pembicara tentang banyaknya analisa-analisa yang mengatakan bahwa kaum borjuis yang menjadi garda terdepan perubahan, bukan kelas pekerja. Fakta bahwa kaum borjuis Indonesia diam saja tidak berkutik (dan bahkan berpartisipasi secara aktif) di bawah kediktaturan Soeharto adalah bukti kuat bahwa kaum borjuis tidak akan pernah bisa jadi garda terdepan perubahan. Justu mereka adalah kelas yang menghambat kemajuan. Dan peserta lainnya, Putri, aktif di KSM UNAS, melontarkan pertanyaan tentang respon gerakan kiri yang lambat ketika perubahan masyarakat terjadi dengan cepat. Ia merujuk pada kritik Dedy Irawan terhadap gerakan kiri yang telah diutarakan pada sesi awal diskusi. Jelas bahwa tanpa sebuah organisasi yang berbasiskan ide dan metode Marxisme, maka respon apapun, cepat atau lambat, pasti akan bablas di tengah jalan karena kekeliruannya. Gerakan kiri membutuhkan sebuah partai revolusioner dimana kader-kadernya terlatih secara teoritik sehingga mampu merespon perubahan di dalam masyarakat dengan sigap. Tanpa teori revolusioner tidak akan ada kemenangan revolusioner. |