|
Share Mungkin baru kali ini sebuah forum kritis dan revolusioner dihadiri oleh seorang kepala daerah. Tanggal 15 April lalu, bedah buku Revolusi Permanen karya Leon Trotsky yang bertempat di kampus Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Cirebon dihadiri oleh bupati Cirebon serta segenap jajarannya. Apapun motifnya, ini patut diapresiasi sebagai bagian dari pembangunan budaya kritis di masyarakat dari berbagai level politik dan status sosial dengan isu-isu yang kualitatif.
Bedah buku yang bertempat di aula kampus ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dari berbagai komunitas, seperti serikat mahasiswa, petani, nelayan, serta dari kelompok-kelompok pecinta seni dan budaya. Acara yang diselenggarakan oleh Fordisma (Forum Diskusi Mahasiswa) Untag Cirebon dan KKMI (Komite Kerja Mahasiswa Indonesia) menghadirkan tiga pembicara, yakni Jesus S. Anam (Militan Indonesia), Dedi Supardi (Bupati Cirebon), dan Syubbanuddin Alwy (Budayawan Cirebon).
Syubbanuddin Alwy, sebagai seorang budayawan, dengan perspektifnya yang komprehensif, memberi apresiasi yang tinggi atas diselenggarakannya bedah buku Revolusi Permanen karya Trotsky ini. Menurutnya, istilah revolusi yang selama ini dianggap angker oleh sebagian besar publik Indonesia harus dibudayakan dan dibumikan kembali. Revolusi haruslah dimaknai unggul dan positif. Revolusi tidaklah harus diartikan sebagai sejarah berdarah, tetapi sebagai perubahan yang menyeluruh yang hari ini perlu dilakukan mengingat para penyelenggara pemerintahan mulai menunjukkan ketidakbecusannya. Kasus makelar pajak, Bank Century, tragedi Tanjung Priuk baru-baru ini, dan beberapa kasus lain yang menandakan bobroknya moral obligation para pemimpin negeri ini. Oleh karena itu, menurutnya hari ini revolusi yang permanen menjadi perlu dan harus diselenggarakan oleh seluruh elemen-elemen progresif dari arus manapun.
Hal yang tak kalah menarik juga disampaikan oleh Bupati Cirebon. Dalam presentasinya yang singkat, Bupati Cirebon, Dedi Supardi, kurang lebih mengatakan bahwa perubahan bisa dilakukan jika ada hubungan yang sinergis antara pemimpin dan rakyat. Pemimpin harus tanggap dengan persoalan rakyat, dan rakyat harus merespon program-program positif dari pemerintah. Jika sinergitas tujuan ini terjadi dan kebersamaan untuk mewujudkan cita-cita ideal terwujud, maka perubahan besar bukanlah hal yang mustahil.
Jesus S. Anam, dari Militan Indonesia, mengenai revolusi, memberikan penekanan yang berbeda dari dua pembicara di atas. Menurut Jesus, revolusi bukan sekedar perubahan besar yang kosong, namun adalah perubahan besar yang menempatkan kelas buruh pada tampuk kekuasaan, menasionalisasi aset-aset negara yang dibutuhkan oleh publik dari institusi-institusi modal besar swasta, dan menjalankan negara dengan prinsip kerja kolektifitas (menjadikan rakyat – buruh, petani, nelayan, miskin kota, dan elemen-elemen grassroot lain – sebagai kontrol atas jalannya penyelenggaraan negara). Terkait dengan Revolusi Permanen karya Leon Trotsky, Jesus mengatakan, meskipun karya ini telah mengalami pos waktu, namun sebagai inspirasi dan sebagai alat untuk menganalisa watak kelas dan menuju revolusi yang sesungguhnya masih sangat relevan dalam konteks manapun. Terlebih lagi dalam dinamika politik di Indonesia yang tengah membusuk, membaca buku Revolusi Permanen berarti berupaya memahami watak kelas para elit politik borjuasi yang akan menyengsarakan rakyat.
Revolusi Permanen adalah satu sikap independensi kelas buruh, dimana hanya kelas buruhlah – dengan aliansi bersama petani miskin, nelayan miskin, dan kaum miskin kota – yang dapat memimpin perjuangan revolusi Indonesia. Kelas borjuasi nasional Indonesia, bahkan yang tampak dan terdengar paling progresifpun, adalah kelas yang sudah bangkrut. Usaha untuk beraliansi atau bekerjasama dengan mereka hanya akan menebarkan ilusi yang akan membutakan rakyat pekerja dari tugas historisnya, yakni membawa sosialisme ke bumi Indonesia. |