|
Share
Militan Indonesia, beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 27 – 29 September, mengadakan sekolah politik yang bertempat di Semarang, Jawa Tengah. Acara sepenuhnya difasilitasi oleh Persekutuan Kristen Antar Universitas (Perkantas) dan beberapa elemen progresif gereja. Peserta yang mengikuti sekolah berasal dari beberapa universitas dan sekolah tinggi, di antaranya dari Universitas Diponegoro (Undip) dan Sekolah Tinggi Teologia Abdiel (STTA). Jesus SA (koordinator Militan Indonesia) dan Pandu Jakasurya (kader Militan Indonesia) hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut.
Rencananya Sekolah Politik Progresif Militan (SPPM) akan diadakan di berbagai tempat, dengan tujuan memberikan pendidikan politik revolusioner kepada kalangan muda – baik kalangan muda buruh, tani, kampus, atau kalangan muda desa. SPPM, selain memberikan pendidikan politik revolusioner kepada kalangan muda, juga mengajak kalangan muda untuk bersikap kritis terhadap persoalan-persoalan yang tengah menimpa bangsa Indonesia.
Mengenai SPPM yang diadakan di sekretariat Perkantas Semarang kemarin, fokus temanya diarahkan pada pembanguna karakter revolusioner bagi kalangan muda gereja kampus untuk peduli dan mau terlibat aktif dalam perjuangan kelas buruh, sebagaimana dikatakan oleh Jesus SA dan Pandu bahwa kalangan intelegensia muda gereja haruslah segera ambil bagian dalam perjuangan revolusioner, yakni terlibat aktif dalam perjuangan kelas buruh.
Di akhir sekolah politik, sebuah refleksi teologis mendalam menganai visi profetik gereja juga dilakukan. Pdt. Agus Dwipriyono, selaku ketua panitia SPPM Perkantas Semarang kemarin, menegaskan bahwa berempati saja terhadap penindasan yang dialami kaum buruh tidaklah cukup bagi kalangan muda gereja, tetapi haruslah terlibat dalam tindakan-tindakan praksis revolusioner terorganisir, melalui organisasi politik yang jelas dengan program politik yang jelas pula. Hal senada juga disampaikan oleh Pdt. Budi, M. Th., pembina Perkantas, mengenai tafsir teologis kontekstual. Menurut Pdt. Budi, berpihak kepada kelas tertindas adalah praktek riil dari teologia transformatif. Hanya saja, Pdt. Budi masih mempertanyakan mengenai tahapan perebutan kekuasaan oleh kaum buruh, mengenai diktatur proletariat, dan mengenai praktek detail dalam masyarakat sosialis.
Jesus SA, yang dari awal berbicara mengenai sosialisme, diktatur proletariat dan revolusi permanen, menjawab pertanyaan tersebut dan beberapa pertanyaan serupa seperti yang ditulis Trotsky dalam Revolusi Permanen dan Lenin dalam Negara dan Revolusi. Sebagai jawaban dan kesimpulan pamungkas atas pertanyaan yang terkait dengan masa depan kaum buruh Indonesia menuju yang lebih baik, Jesus mengatakan bahwa jangan pernah percaya dengan ilusi-ilusi dari borjuasi. Pembebasan kaum buruh dari segala bentuk penindasan hanya bisa dilakukan oleh kaum buruh sendiri – mengorganisir diri dan membangun organisasi politik yang berideologi revolusioner. Dan ideologi revolusioner bagi kaum buruh adalah sosialisme! |