Puisi dan Sastra Revolusioner



Cerpen: Aku dan Marsinah Cetak E-mail
Ditulis oleh Ted Sprague   
Rabu, 08 Mei 2013 14:49

Namun seketika lamunku buyar dan aku pun kembali. Marsinah, perempuan kecil itu, lagi, memaki mandor yang suka kehilangan tangannya di pantat Asri.  Usep menyengir saja, tetapi tidak pernah luput pandang bencinya pada Marsinah. Sebentar saja, dan kembali lagi aku ke lamunku. Kapan makan siang?

Selanjutnya...
 
Konspirasi di Ladang Petani (Cerpen) Cetak E-mail
Ditulis oleh Jesus S. Anam   
Senin, 18 Februari 2013 15:11

Setelah menelusuri hutan pinus, anak sungai dan jalan yang lekak-lekuk menuju utara, akhirnya Sersan Tarman masuk ke hutan karet rapat. Karena matahari terlihat mulai menyingsing ke barat, dia segera mempercepat langkahnya, dan tanpa diduga, dia menemukan tempat terbuka, tepat di depannya. Di sana terlihat pohon-pohon telah ditebang, dalam ukuran ratusan meter yang melingkar, dan di tengah-tengahnya terbangun sebuah pondok besar dari kayu jati. Seperti sarang segerombolan hantu, bangunan itu berdiri melingkar, tanpa sudut, tegak menjulang dan menyeramkan.

Selanjutnya...
 
Victoria Park (Cerpen) Cetak E-mail
Ditulis oleh JS. Anam   
Selasa, 04 September 2012 10:38

Cerita ini ditulis tadi malam, dimulai sekitar pukul satu dinihari, ketika sebagaian besar penduduk kaki bukit gunung Salak terlelap dalam pusaran mimpi. Di sini tak akan ditemukan ungkapan-ungkapan eksotik-romantik layaknya karya-karya sastra yang pernah ditulis oleh Gibran ataupun Tagore. Cerita ini hanya ingin menuturkan kembali peristiwa muram yang pernah dialami oleh seorang buruh perempuan, seperti orang-orang dalam sketsa hitam-putih Kathe Kollwitz, yang sepanjang hidupnya tengah berbincang dengan kemiskinan dan kematian.

Selanjutnya...
 
Markiman Batal Mudik (Cerpen) Cetak E-mail
Ditulis oleh Nophee Yohana dan S. Anam   
Jumat, 17 Agustus 2012 00:00

Sudah hampir lima tahun Markiman meninggalkan kampungnya di Jawa Timur untuk merubah nasib di Jakarta. Dengan berbekal ijasah SMU, ia berharap bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sambil bekerja – yang akhirnya bisa sukses, bisa jadi orang besar, bisa bercerita ke emaknya tentang hiruk-pikuk ibukota, bisa tertawa lebar di depan juragan Nyono yang selama ini selalu menghinanya. Begitulah kira-kira gambaran Jakarta bagi Markiman. Bahkan, mungkin, lebih dari itu, seperti yang pernah ia dengar dari orang-orang di kampungnya, “Di Jakarta kau bisa bertemu artis, presiden, orang-orang pintar; nanti bisa berpakaian rapi lengkap dengan dasi, menghadiri acara-acara mewah di hotel berbintang.

Selanjutnya...
 
Ironi (Cerbung) Cetak E-mail
Ditulis oleh Jesus S. Anam   
Kamis, 08 Maret 2012 19:38

Malam itu aku sedang berpikir tentang lampu jalan yang redup sambil menatap langit. Langit terlihat gelap mengerikan. Tapi aku masih bisa melihat awan compang-camping berlari bersama angin, dan diantaranya nampak pijar merah yang samar.

Pijar merah itu sungguh aneh. Ia muncul-tenggelam. Ia seperti sedang mengajakku berbincang tentang kematian. Ya, seperti itu, tiba-tiba aku ingin bunuh diri. Aku selalu membawa pisau ke manapun, untuk bunuh diri; untuk persiapan saat ide itu muncul lagi. Dan aku harus bertekad untuk bisa melakukannya.

Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 Berikutnya > Akhir >>

RocketTheme Joomla Templates