Puisi dan Sastra Revolusioner
|
|
Ditulis oleh Jesus S. Anam
|
|
Rabu, 18 Januari 2012 12:44 |
Seperti itulah, setiap hari, tema perbincanganku dengan Si Karmin. Selain berbincang mengenai persoalan sehari-hari, mulai dari beras, cicilan rumah, hingga hutang, juga tak ketinggalan kami saling meledek dan bercanda. Bahkan jika dalam sehari kami tidak saling meledek dan bercanda, rasanya seluruh badan ini seperti sakit semua. Yach, begitulah, bercanda adalah hiburan yang paling murah dan mudah diakses, bukan? Terutama untuk orang-orang sepertiku dan Karmin. Tak mungkin buruh seperti kami sanggup menghibur diri di tempat-tempat mahal seperti kafe, tempat karaoke, atau taman rekreasi yang bertarip kelas menengah ke atas. Jelas tak mungkin. Gaji pokok kami hanya cukup untuk makan sehari-hari. Untuk cicilan rumah, kami harus mengambil kerja lembur lebih banyak lagi.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
Ditulis oleh Jesus S. Anam
|
|
Jumat, 16 Desember 2011 00:00 |
|
Lelah dengan ketidakpastian. Kurebahkan tubuhku di kasur belel. Tiba-tiba istriku membangunkanku. Di tangannya tergenggam sebatang lilin. Lengannya gemetar. Matanya menatap tajam.
“Mas, ada yang mengepung rumah kita,” ucapnya pelan.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Klewer (Buruh Gresik)
|
|
Senin, 31 Oktober 2011 08:19 |
Watak hukum di negeri ini berlagak seperti petinju kelas berat bila di depan penjahat kelas coro, tetapi bernyali amatiran bila di depan para koruptor besar. Lihat berita di televisi atau koran-koran, bagaimana perlakuan terhadap para maling kelas kakap alias para koruptor besar? Mereka bisa melenggang bebas sambil memburu makanan paling enak hingga ke pojok negeri; mereka punya televisi besar dan kasur empuk; mereka bisa main internet: browsing, chating dan fesbukan. Lihat saja kasus Gayus, bagaimana dia dengan bebas bisa berwisata ke Bali, nonton pertandingan bulutangkis, berjemur di pantai, bersuka-suka, dll.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
Ditulis oleh Jesus S. Anam
|
|
Jumat, 28 Oktober 2011 00:08 |
|
Geram. Lalu apa arti dan fungsi negara bagi rakyat? Padahal nilai filosofis negara bagi rakyatnya tak jauh beda seperti seorang ibu bagi anak-anaknya. Seorang ibu pasti akan sedih jika anak-anak sakit; akan resah jika anak-anaknya kelaparan, tidak punya tempat tinggal, tidak punya baju bagus, tidak pernah makan roti – apalagi hamburger; tidak sekolah, dekil, perutnya buncit, dll.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Nophee Yohana dan S. Anam
|
|
Selasa, 09 Agustus 2011 00:50 |
|
Sudah hampir lima tahun Markiman meninggalkan kampungnya di Jawa Timur untuk merubah nasib di Jakarta. Dengan berbekal ijasah SMU, ia berharap bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sambil bekerja – yang akhirnya bisa sukses, bisa jadi orang besar, bisa bercerita ke emaknya tentang hiruk-pikuk ibukota, bisa tertawa lebar di depan juragan Nyono yang selama ini selalu menghinanya. Begitulah kira-kira gambaran Jakarta bagi Markiman. Bahkan, mungkin, lebih dari itu, seperti yang pernah ia dengar dari orang-orang di kampungnya, “Di Jakarta kau bisa bertemu artis, presiden, orang-orang pintar; nanti bisa berpakaian rapi lengkap dengan dasi, menghadiri acara-acara mewah di hotel berbintang.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 Berikutnya > Akhir >>
|
|
|