Buruh Pabrik Cetak E-mail
Ditulis oleh Barrapavda   
Jumat, 09 Juli 2010 11:52
Share

Kosong
Hari telah dini
Malam seperti yang sudah sudah
Sepi

Aku gentayangan
Memburu kenyataan

Kosong
Mercy dan Limosin tak lagi lalu
Jalanan sepi
Di aspal hitam itu tak lagi
terlihat fatamorgana

Kosong
Kotaku sepi
Karena malam mengancam sinar dengan gulita
Malam seperti yang sudah sudah

Kosong
Seperti tak ada harapan
Tak terlihat juga di mata lelaki kecil, yang nyenyak di emperan toko
Tak terlihat juga di benak perempuan mungil,
yang meringsut di pojokan Mall berbagi tempat dengan gelandangan lain

Bangunan megah berisikan barang mewah
hanya memberikan sepetak ubin untuknya
meskipun mimpi indahnya sering batal karena usiran

Mall, toko-toko, gedung pemerintahan
Dengan arsitektur modern
”Berbaik hati” memberikan tempat tidur gratis bagi mereka

Kosong?
Tidak juga
Di mana yang tak kosong?
Di mana-mana

Di pabrik-pabrik
Jutaan jumlahnya
Tak kosong
Meski selarut ini sampai pagi
Begitu seterusnya
Mesin tak mati-mati

Di pabrik-pabrik
Isinya orang-orangan mesin
Mesin pencetak orang

Orang dibentuk
Sudah jadi
Kemudian
Orang menjalankan mesin
Mesin tak mati-mati
Tapi orang bisa mati, tapi bisa diganti

Di pabrik-pabrik
Isinya orang-orangan mesin

Orang persis mesin
Tombolnya adalah ujung jari juragan: Perintah
Mesin persis orang
Tombolnya kotak, dipencet menyala

Mesinnya menderu, tak mati-mati
Orang-orangnya bekerja
Tak henti-henti.......
membuat komoditi

Orang yang persis mesin tadi
Keringatnya digaji
Tapi jumlahnya tak bisa untuk membeli komoditi

Orang-orangan mesin itulah yang menitipkan anaknya di emperan toko
Di pojokan Mall yang meringsut tadi
Ibunya si gelandangan dan bapaknya si lelaki kecil itu juga
Menitipkan anaknya di ujung malam di samping aspal dekat trotoar

Selepas pagi
Di televisi

Presiden mbacot:
’Kemiskinan menurun
Pengangguran menurun
Gaji DPR naik
Gaji tentara naik’.

Pejabat yang lain buka mulut tak ubahnya kentut:
’Inflasi turun
Investasi naik
Perekonomian membaik
Pemerintah baik, ini ada subsidi
Ayo rebutan, berbaris, layaknya ngemis’.

Para aktivis bilang:
’Utang negara bertambah
Buruh dibayar rendah
Kekayaan negara dijual murah’.

Kemiskinan kok dilihat dengan angka-angka
Dengan persen-persen
Satu pengemis di jalanan pun tetap kemiskinan
Negara harus bertanggung jawab !

Ini masalah politik
Ini masalah ideologi
Ekonomi kapitalisme tak baik
Apalagi fundamentalisme yang fasis bermata keji

Mari bergentayangan lagi
Menjadi hantu seperti di eropa
Membikin negara buruh jilid dua


(barrapravda)
Kld/29 Sept 09/3:30

 
RocketTheme Joomla Templates