Catatan Cetak E-mail
Ditulis oleh Wiji Thukul   
Minggu, 03 Oktober 2010 12:05
Share

Gerimis menderas tengah malam ini

dingin dari telapak kaki hingga ke sendi-sendi

Dalam sunyi hati menggigit lagi

Ingat

saat pergi

cuma pelukan

dan pipi kiri kananmu

kucium

tak sempat mencium anak-anak

Khawatir

membangunkan tidurnya (terlalu nyenyak)

Bertanya apa mereka saat terjaga

Aku tak ada (seminggu sesudah itu

sebulan sesudah itu

Dan ternyata lebih panjang

dari yang kalian harapkan!)


Dada mengepal perasaan

waktu itu

cuma berbisik beberapa patah kata

di depan pintu

kau lepas aku

meski matamu tak terima

karena waktu sempit

aku harus gesit

genap setengah tahun aku pergi

Aku masih bisa merasakan

bergegasnya pukulan jantung

dan langkahku

karena penguasa fasis

yang gelap mata


Aku pasti pulang

mungkin tengah malam dini

mungkin subuh hari

Pasti

dan mungkin

tapi jangan

kautunggu

Aku pasti pulang dan pergi lagi

karena hak

telah dikoyak-koyak

tidak di kampus

tidak di pabrik

tidak di pengadilan

bahkan rumah pun

mereka masuki

muka kita sudah diinjak!

kalau kelak anak-anak bertanya mengapa

dan aku jarang pulang

katakan

ayahmu tak ingin jadi pahlawan

tapi dipaksa menjadi penjahat

oleh penguasa

yang sewenang-wenang

kalau mereka bertanya

"apa yang dicari?"

jawab dan katakan

dia pergi untuk merampok

haknya

yang dirampas dan dicuri.

 
RocketTheme Joomla Templates