|
Share Kamerad Stalin dan Bung Bolot
Tak terasa, pagi sudah tiba dengan hiruk pikuk yang memusingkan. Tempat ini memang mirip pasar. Semua orang mengeluarkan suara keras. Tak hanya suara obrolan yang terdengar nyaring hingga menembus celah-celah pintu dan jendela kantor sekretariat buruh ini, tetapi juga suara mulut menguap, suara gemeretak gigi yang sedang mengunyah, dan suara kentut yang sengaja dipamerkan. Ampun. Sungguh, ini bukan pasar, kawan. Hanya mirip saja. Ini sebuah jalan yang berukuran kecil, jalan pintas menuju pabrik, tepat di depan kantor sekretariat Serikat Buruh Gresik – tempatku tidur, menulis, berorganisasi, buang air besar dan kecil. Hampir semua pekerja Petrokimia melewati jalan ini jika tidak ingin keluar ongkos; atau yang belum sempat kredit sepeda motor; atau yang gagal disurvei oleh pihak finance karena rumahnya masih atas nama mertua. Jalan ini juga cocok untuk aksi kejahatan kecil-kecilan, misalnya mencopet atau sekedar minta rokok.
Khoiruddin, alias Suir, alias Bolot, penghuni tetap kantor sekretariat buruh ini, aktivis buruh senior yang terkenal jago orasi, membenarkan gambaranku tadi. Bahkan dia menambahkan, tempat ini juga cocok untuk mengais uang dengan melantunkan lagu-lagu sendu dan sedih. “Hampir dua puluh persen pekerja perempuan di sini,” katanya dengan agak ragu-ragu, “sedang stres berat karena ingin segera menikah.”
Ini fakta atau imajenasimu? “Inilah realitas kehidupan buruh, bung,” kata Khoiruddin, alias Suir, alias Bolot. Bahwa tak banyak waktu bagi buruh untuk mengekspresikan rasa sedih, rasa suka; atausekedar untuk menunjukkan bakat seperti melawak, mengumpat dan tertawa keras, kecuali saat berangkat dan pulang kerja.
Ya, kataku, semua orang tidak punya banyak waktu kecuali mereka yang banyak uang. Ruang kita sangat sempit, berdesak-desakan. Berebut. Terjungkal. Nihil. Zero. Entah apa lagi. Hanya ada dua pilihan yang sama-sama menyudutkan buat kita untuk dipilih: lapar karena menolak untuk dieksploitasi, atau sedikit kenyang dengan menjual habis-habisan tenaga dan harga diri kita kepada majikan. Ah, Omong kosong dengan kiat-kiat mandiri yang marak ditampilkan di banyak stasiun tv itu.
Inilah negeri kita, negeri kaya tapi dipimpin oleh para maling. Jutaan rakyat tidak memperoleh haknya dan terpaksa gigit jari. Jutaan buruh tersungkur karena terlalu berat menanggung beban hutang, cicilan kontrakan, sekolah anak, dll. Jutaan pemuda menganggur, dan mulai melirik jalan pintas dengan menipu, mencuri, atau bunuh diri. Perempuan-perempuan lugu mulai melacurkan diri untuk sekelumit uang, untuk meredam amarah suaminya yang sudah kalap.
Kita butuh berjuang, kawan. Biar jalan sempit ini tak bedesak-desakan lagi. Biar pagi menjadi eksotisme yang selalu dirindui. Biar senja menjadi harapan saat pulang kerja. Ya, kita butuh para pejuang sejati. Bukan untuk membangun mimpi atau menawarkan segepok ilusi, tapi mereka yang serius menapaki jalan menuju kepastian meskipun harus berdarah-darah.
“Pikiranmu terlalu utopis, Bung,” sahut Bolot ketus. “Tak banyak yang bisa dilakukan oleh serikat-serikat buruh kecuali menuntut kelayakan upah serta hak-hak buruh yang belum dipenuhi.”
“Jika hanya begitu, buruh tak perlu berserikat. Bentuk saja lembaga hukum untuk buruh dan buat proposal untuk ditawarkan ke donatur-donatur Eropa, beres dan hasilnya maksimal,” jawabku dengan nada sinis.
“Kami sudah pernah melakukannya, tapi susah juga memperoleh donasi itu. Semua donasi mandek di Jakarta, dan sudah banyak yang berebut.”
“Ya, kalau begitu, minta bayaran saja ke buruh yang merasa butuh advokasi dengan harga murah, mereka pasti mau. Alasan mereka, ketimbang habis uang banyak untuk membayar pengacara professional, mending ke serikat buruh, biayanya murah.”
“Kau menyindir atau memberi jalan pintas sih, Bung?”
“Keduanya, menyindir sekaligus memberi jalan pintas pada serikat buruhmu agar para aktifisnya tetap bisa makan, minum kopi, merokok, dan bayar hutang di warung Mbok Mi.”
“Ha ha ha…,” tawa Bolot riang sambil menyodorkan gigi-gigi kuningnya di depan mataku.
“Baiklah, kawan, sampai detik ini kita belum menemukan persamaan gagasan,” ucapku pada Bolot serius. Sudah hampir enam bulan aku berada di sini, membantu mengarahkan para buruh untuk melakukan sesuatu, menggiringnya untuk berserikat, memperkenalkanmu dan kawan-kawanmu. Aku sudah menemukan mutiara-mutiara yang terpendam dan siap diukir. Kita sudah menemukan Klewer, Hakam, Mas Gatot, Sobir, Mas Muji, dan lain lain. Tapi kau nampak tak peduli. Sepertinya mereka tidak terlalu penting. Mungkin karena belum ada kasus yang bisa ditangani. Mungkin karena mereka belum membayar iuran.”
“kau berbicara dalam ruang yang sangat idealis, Bung. Ruang yang jauh dari realitas kebutuhan. Ruang yag sudah tidak kami minati. Realistis saja. Kami tak punya pekerjaan lain kecuali menjadi pengurus serikat. Kami butuh makan dan bayar kontrakan. Kita butuh iuran mereka, bukan semangat juang mereka.”
“Kau sebenarnya siapa?”
Dengan kening berkerut dan gerak muka yang labil, Bolot nampaknya ingin mempertanyakan kembali perihal diriku. Aku memang belum bercerita banyak kecuali kepada Hakam, seorang buruh yang menurutku memiliki kesetiaan unggul terhadap perjuangan kelasnya.Ini penting bagiku, yakni terbuka hanya pada orang yang kuanggap bisa dipercaya dan menutup diri rapat-rapat terhadap orang yanghanya berlagak bisa dipercaya. Karena bagi banyak orang, kesetiaan merupakan kedok kearifan untuk memperoleh kekuasaan, karir, dan hak-hak istimewa.
“Aku seorang ‘Bolshevik’ sejati, Kamerad,” jawabku singkat dan vulgar, seperti jawaban Postyshev saat ditanya perihal dirinya oleh Stalin.
Terkadang, dalam pikiranku, aku sering khawatir dengan metode Bolot dan kawan-kawannya dalam menjalankan serikat buruh, seperti kekhawatiran Trotsky pada Stalin dalam mengendalikan Uni Soviet – bergerak seperti pencuri dan melompat seperti tikus-tikus kapal.
Stalin merupakan pemimpin rakyat Soviet yang sangat populer setelah Lenin, mendapat banyak simpati dan dielu-elukan. Namun Stalin dengan cepat berbelok arah. Ia ingin kekuasaan tak terbatas. Ia menakut-nakuti rakyat dengan cara teror. Ia membereskan banyak orang yang justru berada dalam garis yang benar. Ia tak hanya menyingkirkan lawan-lawan politiknya, seperti Trotsky dan pengikutnya, tapi juga kawan-kawan sekerja dalam pemerintahannya seperti Kossior, Rudzutak, Eikhe, dan Postyshev.
Ia ditakuti sekaligus dicaci. Ia adalah kekuatan yang membuat banyak luapan, desak-desakan, dan kematian. Daya ideologisnya melebihi Hitler ataupun Soeharto. Ia adalah fenomena, sebuah kenyataan yang membuat Marxisme – perjuangan kelas, sosialisme, komunisme – dicibir, dihujat, ditertawai, dan dibuang ke selekon sejarah.
“Jangan perdaya buruh dengan motif salahmu, kawan!”
“Aku tak mengerti dengan pernyataanmu, Bung. Aku hanya mencoba untuk berpikir realistis, bukan memperdaya buruh dengan motif-motifku.”
“Aku bicara tentang sebuah pengkhianatan dan motif kekuasaan dalam sebuah perjuangan, kawan. Penyakit inisering terjadi dalam gerakan kiri dan serikat-serikat buruh.”
Bolot tetap menyangkal. Hal ini tercermin dari gerak-gerik mukanya dan kerut keningnya yang rapat, hingga rambutnya terseret ke bawah membentuk kerumunan.
Detail tentang Khoiruddin, alias Suir, alias Bolot, aku akan menceritakannya kemudian.
Sekarang sudah jam dua belas siang, waktunya istirahat. Sebentar lagi Hakam, Klewer, Huri, Mas Gatot, Pak Muk, Sobir, Heri, Nopi, Pak De Tarmidi, pasti ke sini. Yah, meskipun ke sini sekedar untuk berbincangngalor-ngidul atau bertukar lauk pauk, aku akan tertawa ngakak mendengar banyolan mereka. Hanya Nopi yang sedikit agak berbeda. Buruh perempuan ini, setelah makan siang, biasanya segera mencari beberapa catatanku mengenai Plekhanov. Entah apa yang ia ingin dapat dari Plekhanov. Mungkin karena aku pernah bilang padanya bahwa Plekhanov adalah bapak Marxis Rusia dan memiliki gaya tulisan yang unik.
Mengenai nama-nama yang baru saja kusebut, aku juga akan menceritakannya kemudian. Bagian Tiga
Bagian Satu
|