Pijar Merah (Bagian Tiga) Cetak E-mail
Sabtu, 30 Oktober 2010 13:39
Share

Sajak untuk Marsinah

Namanya Ali Makhrus Sadli, tetapi orang-orang memanggilnya: Klewer. Tidak banyak yang tahu tentang asal-usul nama panggilannya itu. Ya, hanya istrinya yang paling tahu. Itu pun ia kunci rapat-rapat agar tak ada celah untuk bisa keluar.

Begitulah orang-orang miskin seperti Klewer, aku, dan yang lain. Nama bukanlah hal yang penting untuk diceritakan, dipoles, ditambah-tambahi, dibolak-balik, atau diganti dengan nama baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Bahkan, dalam kasus Klewer ini, kualitas namanya malah turun derajat. Dari nama bernuansa santri, sebagai simbol kesolehan dan kapasitas kebergamaan sebuah keluarga, turun menjadi nama yang sepertinya diambil dari rongsokan – nama khas orang-orang pabrikan. Tapi, samasekali ini tak jadi masalah bagi Klewer. “Siapa dan apa namaku tak penting,” tegas Klewer. “Orang sepertiku hanya butuh mikirin makan. Jangan sampai sehari saja tak ada beras di rumahku. Istriku bisa teriak-teriak di jalanan. Bertingkah memalukan!”

“Praakk!” Suara piring pecah.

“Bukk…bukk…bukk…!” Suara pukulan bertubi-tubi.

“Klontang…!” Suara panci  terlempar ke lantai.

Dan ini yang lebih kers lagi:

“Brruuuugghhh…!” Suara rak piring terguling.

“Ayo duduk di luar, Bung,” ajak Klewer. “Istriku lagi kumat pusingnya.”

“Ada apa sebenarnya?”

“Inilah dinamika kehidupan dari orang-orang yang penat sepertiku, Bung. Embuhlah…akhir-akhir ini istriku sering marah-marah, membanting barang-barang yang ada, berteriak histeris. Piring tinggal tiga sudah pecah semua; gelas tinggal dua juga sudah hancur berantakan. Nampaknya sebentar lagi kepalaku yang akan pecah.”

“Sabar ya, Bung! Sejarah pasti akan mencatat kesabaranmu ini. Istrimu, mungkin, emosinya terlalu lemah. Tak sanggup menerima kenyataan pahit. Untuk persolanmu, menurutku, diam lebih baik ketimbang melakukan tindakan emosional yang sama.”

“Tapi aku orang biasa, Bung,” jawabnya dengan suara agak terguncang. “Aku bukan orang yang pintar membuat hiburan filosofis. Aku orang biasa yang hidup di tengah-tengah kehidupan sosial yang biasa pula. Aku masih butuh pengakuan. Butuh dihargai. Butuh sekelebat senyum dari perempuan yang telah melahirkan anak-anakku.”

Tubuhku tiba-tiba menggigil menyaksikan adegan memecah barang-barang yang baru saja terjadi. Inilah realitas kehidupan dari orang-orang yang kalah: penat, suntuk, marah, larut dalam emosi yang labil; orang-orang yang tak mampu berbuat banyak karena terbatasnya uang; tak mampu membeli pernik-pernik keindahan hanya sekedar untuk normal; tak mampu membelikan es krim buat anak-anaknya yang mulutnya sedang kelametan; bahkan, hanya untuk nongkrong sekejap di mall, mereka tidak sanggup.

“Kalau hanya nongkrong di mall aku sanggup, Bung. Tapi apakah aku akan membiarkan istriku iri ketika melihat perempuan lain memborong belanjaan; ketika anak-anakku melihat anak-anak orang lain memegang pizza hut di tangan kanannya dan hamburger di tangan kirinya?”

Aku seperti tersambar petir mendengar keluh kesah Klewer. Betapa pedihnya rangkaian peristiwa yang harus dilalui oleh seorang laki-laki buruh sepertinya. Tak ada kata harmoni di sini, seperti cerita tentang  keluarga ideal yang sering ditayangkan di tv atau dimuat di majalah-majalah religius. Tak ada bacaan menghibur yang berserakan di lantai kamar anak-anaknya seperti di rumah orang-orang kaya. Tak ada kata hormat antara suami istri seperti yang dianjurkan oleh agama. Tak ada apa-apa. Nothing.

Ini fakta. Hidup seperti potret yang terpenggal; seperti sketsa murung para penggali kubur; seperti hamparan ilalang di padang tandus, seperti tarian untuk orang-orang mati; seperti sampah!

“Bung, maafkan aku. Rumahku telah membuatmu merenung, melamun.”

“Aku mengerti. Justru itu kita harus melakukan sesuatu.”

“Apa yang bisa kita lakukan? Memperjuangkan gaji agar naik melambung?”

“Itu iya, tapi tak sekedar itu. Jika hanya itu tuntutannya, pun kalau berhasil, sampean terus akan dihadapkan dengan problem yang baru, misalnya semua barang kebutuhan naik ketika gaji naik. Ini sudah jadi kebiasaan negeri kita: naiknya gaji selalu diiringi naiknya barang-barang dan, tentu, anjloknya  harga diri dan bibir kita – bibir jadi semakin nggambleh.”

“Hmm, lantas, seperti apa perjuangan kita?”

“Kita memang tak terbiasa dengan kata ini: revolusi, mengambil alih kekuasaan.”

“Makar maksudmu, Bung?”

“Lidah para pejabat yang biasa menyebut kata ini. Setiap ada yang melawan pasti akan disebut makar.”

“Apakah kita sanggup, menghadapi kekuatan negara yang akarnya sudah menggurita?"

“Entah kapan akan terjadi, tapi kita, buruh, kaum yang tertindas, harus memulai. Meskipun berakhir dengan darah seperti Marsinah.”

Stop, jangan diteruskan, Bung!”  Klewer tiba-tiba memintaku berhenti, menutup kedua matanya, dan meneteskan air mata saat aku menyebut nama Marsinah.

“Kenapa, Kawan?” tanyaku dengan nada kaget.

“Dia pernah satu pabrik denganku, Bung. Aku juga pernah melihatnya ditendang oleh kaki-kaki bersepatu tebal saat mogok – ditendang oleh kaki-kaki polisi.”

“Ohh, luar biasa!”

“Tapi, beberapa hari kemudian, tiba-tiba ada kabar dagingnya telah membusuk, dibantai, dibuang seperti bangkai tikus oleh para pemilik uang.”

“Aku empati dengan perasaanmu.”

“Bung, sudah lama aku menulis sajak untuknya, tapi hanya kusimpan di tas kusam yang pernah kupakai saat aku masih di pabrik itu, bersama Marsinah."

“Baiklah. Bacalah sajakmu untuk Marsinah itu. Biar saja, meskipun hanya aku yang akan mendengarnya.”

Klewer langsung melompat ke dalam, menuju kamar, menuju tumpukan tas-tas. Aku mengamati dari celah jendela yang terbuka. Tak lama berselang, ia segera kembali ke luar, di teras kontrakan Haji Solekan, di bawah pohon akasia, di dekat selokan berbau tahi, dengan membawa beberapa lembar kertas folio kusam.

“Begini bunyi sajaknya, Bung:

‘Darah pasti mengalir dari tubuhmu saat kau dibantai.

Teriak kesakitan pasti terucap dari mulutmu saat mereka menginjak-injakmu.

Marsinah, kau pasti menangis sat mereka menghinamu, sebelum membunuhmu.

Kau pasti memanggili nama ibu yang telah melhirkanmu, sebelum mereka menancapkan pisau di tubuhmu.

Aku bangga padamu. Bukan karena kau perempuan. Tapi karena nyalimu melebihi apa yang kupikirkan.

Aku bangga, karena namamu akan terus memancarkan pijar merah yang tak akan pernah padam.

Marsinah, ini sajak dariku, kawanmu. Semoga kau menemui Tuhanmu tanpa rasa gelisah, seperti dulu.

Ali Makhrus Sadli”

Bagian Empat

Bagian Dua

 
RocketTheme Joomla Templates