|
Share Di Ambang Batas
Peristiwa itu mengejutkanku sampai ke saraf. Pagi ini orang-orang tak bisa berpikir apa-apa kecuali bagaimana mengeluarkannya segera dari kantor polisi. Sebab suara yang menyebar di area pemukiman buruh ini sudah berbau tak sedap: Yu Tarmi akan dipenjara. Demikian. Lagi pula, siapa yang akan tahan melihat wajah perempuan kurus beranak banyak ini berada di balik jeruji; siapa yang akan mengurus Marilah, Brindil, Kawuk, Samijan, Landung dan Jamirin yang mbelingnya kelewatan itu?
Pasti merepotkan jika benar-benar begitu. Orang-orang pasti tak ada yang sanggup mengurus keenam anaknya yang semuanya rata-rata berjarak satu tahun setengah. Hanya Yu Tarmi yang bisa melakukannya: mengurus si bungsu, Jamirin, yang suka buang air besar sembarangan; Brindil yang suka meludah di sembarang tempat; Landung yang suka menghajar anak-anak sebayanya hingga babak belur; atau ulah Marilah, si sulung, perempuan satu-satunya, yang berulangkali kepergok mencuri.
Tapi semoga bukan hanya karena itu orang-orang terlihat panik dan bergegas untuk segera menolongnya, agar secepat mungkin keluar dari kantor polisi sebelum kasusnya dilimpahkan ke pengadilan. Tapi karena rasa kemanusiaan dan solidaritas yang sudah lama terbangun di kampong buruh kumuh ini; karena rasa empati yang dalam melihat betapa berat nasib hidup yang sedang diderita oleh Yu Tarmi. Betapa tidak, hampir seluruh hidupnya tak pernah indah sejengkah pun sepeninggal suaminya setahun lalu. Peristiwa demi peristiwa terus-menerus merangkai kepahitan. Empat bulan lalu ia dikeluarkan dari pabrik tempatnya bekerja karena TBC ganas yang terus-menerus menggerogoti tubuhnya hingga tampak seperti capung terbang. Hutangnya berceceran di mana-mana. Sewa kontrakan nunggak tiga bulan. Dan, semua perabotan sudah ludes terjual untuk biaya makan dan berobat. Ya, hanya keenam anaknya yang masih kecil itu yang selalu membuatnya ingin tetap bertahan.
Uang tebusan sekitar tiga juta besok harus ada, atau, perempuan ini akan masuk bui, kata kepala polisi sektor. Orang-orang kalangkabut mendengar jumlah uang yang dipatok oleh sang polisi berkumis berantakan itu. Tiga juta bukan uang kecil. Lagi pula ini tanggal tua. Tak ada uang samasekali. Uang dari mana? Ngawur.
Kacau. Makan saja susah. Tak terpikir samasekali di benak orang-orang untuk bisa bayar uang tebusan, untuk menyumpal mulut polisi yang tak berguna itu; untuk memberi uang tambahan buat istrinya yang gemar sekali belanja; untuk mengongkosi hobi keluarganya berwisata kuliner, memburu masakan paling enak di seluruh penjuru kota.
“Parah, dan harus bagaimana? Jika besok tak ada uang untuk menyumpal mulut kepala polisi itu, Yu Tarmi sudah barang tentu belum bisa kembali. Sementara anak-anaknya rewelnya minta ampun!” ucap Hakam tegang.
“Gertakan polisi itu bisa saja tak main-main, artinya kasus ini akan segera dilimpahkan ke pengadilan,” sahut Mas Gatot.
"Belum ada yang nyumbang samasekali, Bos?” Hakam bertanya kepada orang-orang yang sedang berkumpul di serambi masjid.
“Nyumbang apa, Cak...semua lagi gak ada duit, blas!” Pertanyaan Hakam langsung disambar Klewer.
“Kita harus berbuat sesuatu,” ucap Hakam dengan nada marah. “Jangan pada berlagak bodoh! Kita harus mikir jual sesuatu yang bisa dijual!”
“Mau jual apa? Kita tak punya apa-apa, bahkan harga diri. Ada sih barang berharga yang bisa dijual, tapi aku tak yakin bisa laku,” sahut Huri.
“Apa itu?” tanya Sobir.
“Gigi emasnya Pak De Tarmidzi.”
“Juancuk...kita lagi serius, tolong jangan bercanda. Ini menyangkut nasib anggota kita, seorang perempuan, ibu dari enam bocah, seorang buruh!” Hakam benar-benar terlihat marah. Aku belum pernah menyaksikan adegan marah yang meluap seperti ini dari Hakam sebelumnya.
“Ok, Cak Hakam, sabar, tenang sedikit…,” sahut Pak Muk. “Ijinkan aku ngomong sebentar. Terus terang kita tak punya apa-apa yang bisa dijual untuk mendapatkan uang tiga juta. Cari pinjaman juga belum tentu dapat jika waktunya hanya sampai besok pagi. Sekarang sudah jam lima. Waktu kita hanya tinggal sekarang hingga besok pagi. Apa yang bisa kita lakukan? Aku pikir tak ada jalan lain kecuali harus menjual keberanian, menjual nyawa.”
“Apa maksud sampean?” tanya Hakam dengan nada tak mengerti.
“Kumpulkan kawan-kawan yang lain, kita datangi kantor polisi dan paksa mereka untuk membebaskan Yu Tarmi! Jika mereka mengabaikan tuntutan kita…hmm, aku yakin kawan-kawan sudah siap untuk mati. Hanya jalan ini yang bisa kita lewati, atas nama solidaritas untuk membebaskan seorang buruh, seorang perempuan, seorang ibu dari enam bocah yang masih membutuhkan perhatiannya – untuk seorang manusia yang benar-benar sudah berada di ambang batas!”
Seketika semua orang yang ada terdiam. Kata-kata Pak Muk baru saja bukanlah guyonan, tetapi sebuah tantangan yang perlu direnungkan dan ditempatkan di relung hati yang paling dalam. Inilah saatnya sebuah kepedulian akan menemukan arti; sebuah rasa kemanusiaan ditunjukkan prakteknya.
“Baiklah,” kata Hakam dengan suara berat, “tak ada jalan lain, meskipun harus berdarah, kita aka menggunakan cara kita.”
Satu persatu tergerak untuk mengangkat tangannya, tanda setuju. Sekitar dua atau tiga dari beberapa perempuan yang hadir tampaknya juga ingin ikut. Seluruh emosi kampung ini memang tersedot habis ke dalam kasus yang sedang menimpa Yu Tarmi. Bukan saja karena ia warga kampung ini, anggota serikat buruh, seorang perempuan ringkih dengan enam bocah yang masih kecil, tetapi juga karena ia istri almarhum Kang Jalal, laki-laki pemberani yang mati demi sesuatu yang diyakini. Kang Jalal adalah ikon besar bagi orang-orang. Ia pernah meninggalkan potongan kisah tentang keberanian, meskipun harus berakhir mati.
Sekarang hari Selasa pagi. Gejolak warna mulai bermunculan, setelah malamnya puluhan orang terseret dalam arus resah yang amat mengguncang. Pagi ini semua orang nampak semakin ketakutan, merasa tenggelam. “Tiga jam lagi kita berangkat aksi di depan polsek,” ucap Mbak Darmi dengan wajah pucat.
Situasinya sungguh kacau, sangat kacau. Aku yakin, tak ada kuas yang bisa melukiskannya -- sebuah kegaduhan pucat terkelupas. Kegaduhan yang sangat berisik dan menusuk-nusuk seluruh jiwa yang terhanyut. “Kawan, kalian memang hidup dalam kemiskinan dan mengemis makanan kepada para juragan,” kata Hakam. “Tapi kalian adalah pahlawan.”
Semua menangis, terharu, mendapati sebuah arti yang selama ini tersembunyi. AKu juga, merasa aneh, seperti menumpang sebuah perahu layar kecil yang begitu berani menantang badai.Tubuhku terasa tergencet, terperosok ke dalam lipatan-lipatan panik, tapi penuh percaya diri. Luar biasa. Di balik keterbatasan orang-orang itu, ada kesetiaan tulus pada kebenaran yang diyakininya.
Sekarang sudah jam Sembilan. Seluruhnya sudah berada di depan kantor polisi sektor. Jiwa-jiwa ini serasa tenggelam dalam lautan yang memerah. Suara teriak saling bersahutan menggema dalam tenggorokan kusut, seolah menggembung dan bergerigi.
“Apa-apaan ini?” Seorang polisi, kepala polisi, muncul dengan kumis tebal berantakan. Ia tahu, pasti, bahwa orang-orang ini adalah rombongan massa solidaritas untuk pembebasan Tarmi. Ia juga tahu, tentu, uang yang dipatok itu tak bisa dipenuhi.
“Bebaskan Tarmi…!!!”
“Bapak-bapak, ibu-ibu, kami tak bisa memenuhi tuntutan kalian. Tarmi bersalah secara hukum, karena telah terbukti mencuri dua dus susu, sepuluh bungkus mie instan dan satu pak roti tawar di sebuah mini market.”
“Pak polisi, Tarmi memang maling, tapi dia mengambil barang yang tak besar nilainya, dan ini demi kebutuhan hidupnya yang benar-benar sudah di ambang batas. Tak bisakah kalian ini memberi toleransi kepadanya, atas nama kemanusiaan? Anak-anaknya masih kecil, suaminya meninggal!” Hakam, sebagai koordinator aksi, mencoba untuk melakukan negosiasi dengan kapala polisi sektor itu.
“Apapun alasannya, pelanggaran hukum tetap akan diproses. Dan pemberian toleransi, hanya pengadilan yang punya wewenang.”
“Kami tak akan pulang sebelum tuntutan kami dikabulkan!”
“Terserah kalian, kami sudah mencoba untuk bersikap kooperatif,” jawab kepala polisi itu, bersikap sesuai prosedur penanganan unjuk rasa. Hmm…?
Dari belakang, ya, tepatnya dari samping mobil patroli polisi, sebuah batu yang lumayan besar melayang menuju kepala-kepala massa yang sedang unjuk rasa. Dan, “Pokk…,” menimpa kepala Sobir.
“Kamprett...siapa yang melempar batu, siapa provokatornya? Polisi kurangajar…! Ayoo serbuuuu…!!!” Teriak Sobir, sambil memegangi kepalanya yang berdarah.
Serentak massa menyerbu kantor polisi. Berbagai macam batu melayang menghantam kaca, dinding, mobil polisi, dan lain lain. Tak lama kemudian, bunyi tembakan peringatan menyeruak ke udara, berkali-kali. Tetapi massa terus merangsek, hanya beberapa jengkal dari pintu utama. Nampaknya polisi juga tak mau kalah, dengan tameng kokoh dan pentungan-pentungan berat, mereka mengejar massa dan memukul sekenanya. Beberapa berlari kocar-kacir, yang lain bertahan. Banyak darah yang mengucur dari banyak kepala, termasuk dari kepalaku. Hakam dan Klewer terkena pentungan hingga membentuk benjolan besar dekat mata. Pak Muk nyungsep di selokan sekarat. Mbak Darmi pipinya tersambar tameng sampai menghitam. Nopi terkena tendangan di punggung hingga tulangnya bengkok.
Kalah. Tetap saja kalah. Massa hanya punya semangat dan tekad. Polisi memiliki senjata, kekuatan fisik terlatih, alat-alat pelindung, dan legalitas untuk bertahan, dengan “cara apapun”.
Berselang beberapa menit, tiba-tiba tangan-tangan polisi melingkar kuat-kuat di leher kami yang masih bertahan untuk tidak lari. Aku, Hakam, Klewer, Sobir, Huri dan Mas Gatot digelandang masuk ke dalam. Entah, apa yang akan diperbuat oleh mereka, yang jelas, saat kami dibebaskan nanti, tubuh ini sudah remuk dan bonyok.
Maling, ya, Yu Tarmi memang terbukti mencuri. Begitulah naluri seorang ibu, rela berbuat apa saja demi tak ingin melihat anak-anaknya berteriak lapar. Tapi hanya sebatas inikah “keadilan” mampu berpihak pada yang lemah? Inikah watak negara yang telah menuntut kita untuk mencintainya? Inikah wajah anggun Sang Presiden yang bernyali banci, yang kebijakannya hanya untuk pencitraan diri? Jelas, keadilah hanyalah “kata suci” yang diciptakan untuk kepentingan kekuasaan dan modal. Orang-orang miskin dan buruh tertindas seperti kita harus punya cara berkeadilan sendiri.
Kawan, kita memang tak membutuhkan negara ini lagi!
Bagian Lima
Bagian Tiga
|