Pijar Merah (Bagian Lima) Cetak E-mail
Senin, 21 Februari 2011 13:07
Share

Perempuan Sudut Negeri

Baru saja aku tiba di sebuah kota1, tempat yang sangat eksotik dengan perempuan-perempuannya yang kekar dan berkulit legam. Seperti sudah menjadi ciri khas, semua perempuan di sini bertubuh kekar, berkulit legam dan bermuka masam. Mereka enggan menggoyang giginya untuk berbicara kepada siapapun yang tidak dikenal. Mereka juga tampak serius dan jarang bernyanyi. Mungkin ini karena mereka terlalu lelah dengan kerja keras, atau, karena terlalu polos dalam memahami kehidupan.

Aku sengaja datang ke sini, tentu, bukan untuk berwisata atau sekedar untuk menikmati keanehan sebuah budaya. Aku sedang mendatangi seorang kawan. Dulu, sekitar sepuluh tahun tahun lalu, kami pernah hidup bersama selama tiga tahun di Jakarta – saat masih sama-sama bekerja di sebuah pabrik makanan ringan. Dia sangat lucu dan ekspresif. Dia suka sekali berpidato mengenai demokrasi di depanku sampai berjam-jam. Dia juga suka bercerita tentang apa saja yang terjadi di daerahnya; tentang korupsi, diskriminasi, pertarungan para politisi, terumbu karang, berburu kelinci, hingga tentang penyakit bisul adiknya yang terus bermunculan.

Kini aku benar-benar sampai di kotanya. Kota kecil ini sangat mempesonaku. Kota ini masih bersih dari corak kusut modernitas. Dari sejak tadi aku tidak melihat mondar-mandir merek-merek mobil; tidak ada tempat tongkrongan untuk orang-orang kelas menengah seperti kafe atau sejenisnya; juga tidak ada mall atau pusat perbelanjaan besar. “Orang-orang kaya di sini, maksudku para pemilik pabrik,” ucap kawanku yang kudatangi itu, “hampir seluruhnya orang Jakarta, bung. Ini kawasan industri baru untuk eksplorasi pernik-pernik laut. Jadi mereka ke sini bukan untuk nongkrong, tetapi untuk mengeruk keuntungan dari kekayaan laut. Yach, tentunya untuk membiayai kehidupan mewahnya di Jakarta.”

“Oh ya? Dan kenapa para buruh pabriknya hampir seluruhnya perempuan?”

“Nenek moyang kami pelaut, bung. Seorang laki-laki akan dihargai jika mau meneruskan tradisi leluhurnya menjadi pelaut. Sedangkan perempuannya bercocok tanam ala kadarnya untuk sekedar bisa makan,” jawabnya sedih. “Lagi pula, merekrut buruh perempuan di sini bisa sangat murah. Pasalnya mereka banyak sekali yang tidak sekolah, jadi gampang sekali dibodohi. Tetapi mereka pekerja keras. Dan pasti, karena alasan ini, banyak para investor yang tergoda untuk menanamkan modalnya. Apalagi mereka sudah mulai bermain mata dengan para pejabat Pemda dan tokoh agama. Pasti semua akan beres.”

“Begitukah?” sahutku agak malas.

Rasanya aneh bisa bertemu dia kembali. Ternyata dia sudah menjadi ketua sebuah serikat buruh. Dia tidak banyak berubah. Hanya saja agak sedikit aneh. Dulu aku biasa memanggilnya Kawan Mell (Melliana2). Tetapi sekarang – dengan sedikit bercanda – aku tidak boleh lagi memanggil dengan sebutan depan “Kawan”. Rupanya dia ingin bersuasana tahun 1950-an, saat (Comandante) Che memimpin pasukan untuk revolusi Kuba. Dan sekarang, atas permintaannya, aku harus memanggilnya: Komandante Mell.

Tidak terasa malam akan segera menjelang. Sepertinya akan turun hujan. Langit terlihat mulai digelayuti mendung tebal dan hitam. Angin bertiup keras dari utara. Angin itu bersiul kencang di sela-sela tiang sampan, melesat cepat dan menghujam ke pasir. Ini bukan kota besar, dan jauh dari “peradaban”, pikirku. Aku harus bersiap-siap untuk menemui sepi.

Air hujan terlihat jatuh. Suaranya menyerpih senyap. Angin bertiup dan melolong semakin kencang. Sesekali angin itu bersuara keras saat menghantam pepohonan. Ya, ini fenomena alam yang sangat menakjubkan; elegi kehidupan yang tak pernah terluka dan tak pernah merasa lelah.

Tubuhku capek sekali. Aku ingin segera tidur. Kawanku sudah mempersilahkannya dan memberiku dua bantal lusuh dengan corak yang membentuk pulau. Tidak ada kasur. Aku beralas tikar dari rotan. Tetapi, sungguh, tidak masalah bagiku. Malah rasanya seperti tidur di atas alat pemijat.

Selanjutnya, aku tertidur pulas.

Setelah tidur selama kurang lebih enam jam, langkah pagi sayup-sayup mulai terdengar. Langkah pagi itu bergegas membangunkan tidur pulasku. Kulihat jam baru menunjuk ke angka empat. Tak biasanya aku bangun sepagi ini, pikirku sedikit heran. Mungkin karena aku sedang berada di tempat baru, atau, karena aku ingin segera memotret eksotisme alam di tempat ini yang sudah kulihat sekilas kemarin.

Tapi masih terlalu pagi untuk beranjak keluar, melihat ombak pantai atau sekedar mendatangi sebuah warung kopi. Lagi pula, Melliana, si pemilik rumah, dekurannya masih terdengar keras. Terpaksa aku harus menahan hasratku untuk segera bermain-main dengan ombak dan memotretnya. Sambil menunggu munculnya matahari, kupaksa mataku membaca Dialectics and the immutability of the syllogism.

Usai menyantap singkong rebus hasil olahan ibunya, Melliana mengajakku ke kantor serikat buruh yang berjarak sekitar lima belas kilo meter dari rumahnya. “Kantor serikat buruh ini bekas lumbung padi, bung. Hampir seluruh perempuan di sini sekarang tenaganya terserap di pabrik. Tidak ada lagi yang mau menjadi petani dan menanam padi. Jadi daripada terbengkelai, lumbung ini kami manfaatkan sebagi kantor serikat.”

“Menurutmu kenapa hal ini bisa terjadi?” tanyaku datar.

“Pergeseran cita rasa.”

“Karena arus modernitas yang cukup kuat?” tanyaku lagi.

“Semua berpangkal pada kapitalisme. Sebentar lagi aku tidak bisa menemui nilai-nilai kontemplatif dan filosofi-filosofi arif dari tanah leluhurku.” Jawabnya, dengan kata-kata yang mengagumkan.

“Aku bangga denganmu, Komandante,” ucapku sedikit agak kaku. (Dia juga nyengir saat aku panggil Komandante). “Kau adalah satu-satunya kawan perempuanku yang masih setia pada bacaan Marxis dan masih tetap berada di garis perjuangan kelas. Aku masih ingat, waktu itu, kita sama-sama berusaha menghafal Manifesto Komunis. Tetapi sepulang kerja dan sehabis mandi, ditambah lagi dengan perut lapar, semua hafalan kita tiba-tiba buyar.”

“Ha ha ha, ya, karena kita sangat bersemangat. Padahal buku-buku Marxis bukan untuk dihafal dan dikeramatkan, tapi untuk dipahami, dijadikan metode analisis, dan sebagai prinsip kerja politik!”

“Lalu, apa agenda-agenda besarmu di sini?”

“Ini daerah terpencil, jauh dari peradaban kosmopolit; masih primordial, mistis, defensif, dll. Agenda besarnya, sebagai langkah awal perjuangan kami di serikat buruh, adalah membongkar mistisisme pola pikir.”

“Hmm, sorry, aku masih belum paham yang kau maksud dengan ‘mistisisme pola pikir’?”

“Lho, bukankah ini istilahmu, yang pernah kamu lontarkan sepuluh tahun lalu?”

“Ya, dan tentu aku masih ingat. Tapi aku takut apa yang kumaksud berbeda dengan yang kau maksud.”

“Ok, lalu apa yang kamu maksud dengan ‘mistisisme pola pikir’, bung?”

“Mell, Marxisme, secara esensial, adalah sebuah kritik yang tidak memberi ruang terhadap segala bentuk ketabuan3. Marxisme adalah alat “dekonstruksi” yang jauh melebihi apa yang pernah dipikirkan Derrida.”

“Aku semakin tidak paham dengan maksudmu, bung?”

“Intinya, hancurkan semua bentuk pemujaan.”

“Termasuk pemujaan terhadap Marxisme itu sendiri?”

“Tentu!”

“Pemujaan terhadap Tuhan?

“Aku belum berbicara sampai ke situ.”

“Terhadap para pendeta, pastor, kyai, resi, dan orang-orang “suci” yang sering mengaku sebagai pembela rakyat?”

“Ya. Dan ini adalah langkah awal untuk membentuk kesadaran kelas dalam masyarakat tertindas: mengekspos secara terus menerus keburukan kitab para “nabi” bayaran dan dan tingkah laku politik dari orang-orang “suci” penjilat.”

“Hemm, rupanya kamu menangkap kalimatku mengenai konspirasi para pejabat daerah dan tokoh agama dengan para pengusaha kemarin ya?”

“Ini historis. Dalam sejarah proses modal, instrument-instrumen ini selalu menjadi kaki tangannya.”

Sejenak dia terdiam, seperti tengah mencari kata untuk diucapkan. Sebuah lompatan kualitatif. Dulu dia tidak secerdas sekarang. Dia adalah salah satu dari sekian banyak perempuan potensial di sini yang gagal menyelesaikan pendidikan menengah atasnya. Ini luar biasa. Marxisme telah menjadikannya mampu berpikir kritis dan metodologis.

“Bung,” ucapnya lirih, “kami, pengurus serikat, merasa kesulitan mentransformasi pemikiran buruh ke arah kesadaran kritis seperti itu – apalagi anggota serikat seluruhnya perempuan.”

“Ini mitos yang harus dilawan, Komandante. Lenin juga pernah merasakan hal yang sama. Bahkan penghalangnya tidak hanya dari luar serikat buruh, tetapi dari para pengurus serikat buruh itu sendiri. ‘Kita harus dengan sabar menjelaskan kepada buruh4,’ begitu kata Lenin.”

Hari sudah mulai senja. Aku belum sempat berbicara dengan dua pengurus serikat yang dari tadi tampak sibuk bersih-bersih. Mungkin aku tidak akan sempat berbicara dengan mereka, juga dengan yang lain. Besok pagi aku harus terbang ke Jakarta, dan selanjutnya ke Bogor. Sebenarnya ada sedikit penyesalan karena tidak bisa berlama-lama tinggal di kota ini. Tapi tidak apa-apa, karena aku sudah mendapatkan banyak pelajaran dari aksi perjuangan para perempuan di sebuah daerah dengan konfigurasi budaya yang rumit. Pasti, ini akan bebarti untuk membuat sebuah perspektif politik secara spesifik ke depan.

Tak berselang lama pikiranku tiba-tiba dibuyarkan oleh suara truk yang berbelok menuju kantor serikat. Truk itu terlihat mengangkut singkong dan sayuran. Seorang laki-laki tua berambut dan berjambang putih keluar dari truk sambil menyulut rokoknya yang berwarna aneh. “Sudah siapkah?!” teriaknya keras.

“Tunggu sebentar!” jawab Melliana dengan keras pula.

“Ayo, bung, kita cabut!” kata Melliana bersemangat.

“Naik truk itu? Di belakang? Di atas tumpukan singkong dan sayuran? Oh, asyik sekali!”

Truk itu kemudian melaju pelan menuyuri hamparan ilalang; melewati beberapa tikungan tajam; melintas di pinggir sungai; menembus jembatan tua; dan melewati sela-sela bukit dengan rerumputannya yang eksotik. Anak-anak gembala, yang bertengger di bebatuan bukit itu, terlihat melambaikan tangannya kepadaku. Aku menyambutnya dengan lambaian tangan pula.

“Laki-laki tua itu bapakku, bung,” ucap Melliana tak sengaja. Padahal aku juga akan bertanya tentangnya.

“Ini usaha bapakmu?”

“Bukan. Bapakku hanya sopir. Dia bekerja pada seorang juragan kelapa. Kerjanya mengantar kelapa ke luar daerah. Pulang seminggu sekali. Sepulang mengantar kelapa, dia selalu mampir ke kantor serikat untuk memastikan apakah aku akan pulang bersamanya.”

Sebentar lagi mungkin akan sampai, pikirku. Rumah-rumah panggung penduduk sudah tampak agak jelas dari kejauhan; anak-anak angsa terlihat berterbangan, melonjak-lonjak ke langit, mencari perhatian; asap hitam menyerupai awan juga terlihat mengepul dari bilik-bilik dapur.

Yach, aku seperti sedang bermimpi.

Bagiaan Empat

1 Demi keamanan, saya tidak menyebut nama kota.

2 Bukan nama sebenarnya.

3 Leon Trotsky, “A militant, revolutionary, and critical Marxist is needed”, dalam Writing of the Leon Trotsky (1936-37), Pathfinder Press, New York, 1970 dan 1978.

4 Lenin (“Patiently explain!”), Collected Works.

 
RocketTheme Joomla Templates