|
Share Tulisan ini bercerita tentang seorang buruh kecil yang sudah lima tahun ini tidak pulang kampung. Cerita ini sengaja aku tulis untuk dipublikasikan, sebagai refleksi betapa beratnya bagi seorang buruh kecil untuk sekedar pulang kampung menemui emaknya.
Orang-orang memanggilnya Markiman. Ini bukan nama asli. Aku tidak perlu menyebutkan nama aslinya. Selain karena tidak etis, nama aslinya lebih buruk dari nama panggilannya.
Sudah hampir lima tahun Markiman meninggalkan kampungnya di Jawa Timur untuk merubah nasib di Jakarta. Dengan berbekal ijasah SMU, ia berharap bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sambil bekerja – yang akhirnya bisa sukses, bisa jadi orang besar, bisa bercerita ke emaknya tentang hiruk-pikuk ibukota, bisa tertawa lebar di depan juragan Nyono yang selama ini selalu menghinanya. Begitulah kira-kira gambaran Jakarta bagi Markiman. Bahkan, mungkin, lebih dari itu, seperti yang pernah ia dengar dari orang-orang di kampungnya, “Di Jakarta kau bisa bertemu artis, presiden, orang-orang pintar; nanti bisa berpakaian rapi lengkap dengan dasi, menghadiri acara-acara mewah di hotel berbintang.
Tetapi apa yang telah terjadi ternyata sebaliknya. Jakarta membuatnya bernilai lebih rendah dari sampah. Apalagi melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, untuk bisa bertahan hidup saja, di tahun pertama, ia harus tinggal di tempat pembuangan sampah dan menjadi seorang pemulung. Karena hanya pekerjaan seperti ini yang bisa ia akses. Tak seorangpun yang ia temui bisa menolongnya untuk mencarikan pekerjaan yang lebih layak. Tetangganya yang pernah memberinya alamat, untuk tempat tinggal selama belum mendapat pekerjaan, ternyata sudah pindah tempat.
“Ibukota negeriku,” ucapnya suatu malam, “membuatku merasa sangat takut.”
Belum genap setahun, Markiman mengalami banyak perubahan. Ia tak lagi seperti dulu. Ia mulai terbiasa dengan tubuh penuh keringat dan jalan cepat. Ia mulai memiliki rasa curiga kepada setiap orang yang mendekatinya. Ia mulai tak ingin direpotkan. Ia tak lagi suka tersenyum dan bercanda. Hatinya mulai keras seperti batu. Sorot matanya mulai tajam seperti elang. Mimpi-mimpi besarnya ia kubur di bawah tempat tidur.
“Tuhan, apakah kau tak sanggup memutar roda peristiwa? Aku hanya ingin membatalkan niatku pergi ke Jakarta. Aku ingin menghabiskan hari-hariku di ladang, melantunkan gending-gending kesunyian di kaki bukit, menunggu azan magrib tiba.”
“Tidak!” Tiba-tiba Markiman menampik ratapan dan keluh-kesahnya sendiri. Ia teringat Udin, Sapuan, Jalal, Sudrun, Upil, Mariyono dan lain-lain, yang kabarnya juga hidup susah di kampungnya. “Di kota, di desa, sama saja. Kemiskinan bukanlah keputusanku atau keputusan mereka. Negeri ini sudah disandera oleh segerombolan perampok. Bangkit melawan atau tunduk tenggelam! Hanya itu.”
Di tahun kedua, Markiman merasa seperti lahir baru. Kini, atas bantuan seorang kenalan, ia sudah tidak bekerja sebagai pemulung lagi. Ia sekarang bekerja di pabrik di daerah pinggiran Bogor, tidak terlalu jauh dari Jakarta. Kini ia memiliki ritme yang stabil meskipun bergaji kecil. Ia sudah punya telpon genggam. Ia juga sudah sering menggunakan bahasa ala Jakarta ketika berbicara dengan teman-teman di pabrik. “Lumayan banggalah. Capaian kecilpun perlu disyukuri,” ucapnya.
Namun rasa bangga itu tak berlangsung lama. Gaji pertama yang ia terima tidak cukup untuk memenuhi keperluan ini itu. Yang paling membuatnya pusing adalah tagihan sewa rumah kontrakan. Apalagi suara pemilik kontrakan selalu berbunyi kencang seperti knalpot rusak di awal bulan. Belum lagi kebutuhan beras, lauk-pauk, kopi, rokok, yang dalam sebulan bisa naik berkali-kali. Ia juga harus menahan keinginnnya untuk hal-hal yang tak penting seperti beli baju atau jajanan. “Parah. Harga siomay naik setiap hari. Harga baju terus melaju. Harga bakso juga kacau!” Ucap Markiman kesal.
Tahun ini adalah tahun yang keempat ia bekerja sebagai buruh pabrik. Tahun pertama ia merasa yakin bisa pulang saat lebaran dengan membawa setumpuk catatan keberhasilan ke kampungnya. Tetapi kegagalan untuk pulang saat lebaran di tahun pertama membuatnya tidak yakin untuk bisa pulang lebaran di tahun kedua, dan seterusnya. Hingga tahun keempat, sekarang. Tetapi ia merasa tidak kuat membiarkan telpon genggamnya berdering tiap tiga jam. Suara perempuan tua dari pelosok kampung negeri ini tak henti-henti memanggilinya dengan histeria, “Tole, emakmu ini sudah mau mati, kapan kamu pulang? Jangan lupa bawa fotonya Pak Presiden Bambang ya, sekalian minta nomor telponnya. Emak pingin telpon.”
Mendengar suara emaknya yang baginya sedikit ngawur, pikirannya semakin bingung. “Dasar orang kampung, minta foto dan nomor telpon presiden segala. Dikira telpon dengan presiden seperti telpon dengan Lurah Ngadiyo aja, mbok jam siji bengi yo diangkat.”
Kesimpulan terakhir, lebaran tahun ini Markiman ingin sekali pulang kampung. Ia ingin melepaskan penat. Ia kangen sekali dengan masakan emaknya. Ia rindu berlarian di pematang sawah, mengejar burung pipit yang tengah menggasak bulir-bulir padi. Ia rindu wajah Marni, putri bungsu Pak Carik. Ia juga rindu mendengar ceramah ustad Malik di musholla samping rumahnya. Maaf, ia sangat terkesan sekali dengan ustad Malik bukan karena ceramahnya yang lucu dan memukau, tetapi karena ada kemiripan muka dengannya: yakni mulutnya sedikit menonjol ke depan.
“Mbelgedes, setelah dihitung-hitung gaji bulan ini plus THR sangat mepet untuk biaya pulang kampung. Karena Emak pasti minta rukuh, kerudung, sandal, bajukurung, dll. Bapak juga begitu, pasti minta sandal slop, peci baru, sarung, dan uang recehan untuk nyangoni orang-orang. Si Embah apalagi, tahu kalau aku pulang dari kota, pasti pingin terus-terusan makan dengan hati-ampela.”
Situasi rumit seperti ini membuat Markiman semakin pusing tujuh keliling. Apalagi setiap kali ingat cerita tentang kereta api ekonomi saat lebaran dari TV dan koran, wajah Markiman semakin terlihat sedih. Sambil memegangi kepalanya yang penuh uban, meski masih lajang, ia berucap serius, untuk meyakinkan dirinya bahwa takdir akan mampu membawanya pulang: “Demi kangenku sama si emak, resiko apapun aku harus tetap pulang!”
Cita-cita Markiman untuk ketemu emaknya sepertinya akan tercapai juga. Beberapa hari berikutnya, dia sudah nongkrong di toilet kereta api ekonomi. Bukan karena ia suka sekali buang air besar, tapi karena seluruh tempat sudah dikapling oleh yang lain. Apalagi Markiman memiliki kepribadian yang gampang tidak tega, terutama dengan ibu-ibu yang berbadan gendut. Tempat duduknya dibiarkan saja ketika diserobot oleh seorang ibu berbadan gendut. Dan ketika dia menghitung jumlah ibu-ibu yang berbadan gendut di sekitar tempat duduknya yang sudah diserobot, ternyata jumlahnya berkisar lima belasan orang. Ampun! “Pasti laki-laki kekar dan hitam sepertiku akan dilempar jika membiarkan para ibu gendut berdiri,” ucapnya lirih.
Tak berselang lama kereta ekonomi dari Jakarta menuju Surabaya lewat Jombang ini melaju, kira-kira masih berada di sekitar Cikampek, terdengar rintihan seorang laki-laki tua sambil memegangi perutnya. “Si Mbah mau ngising!!” Teriak orang dari luar toilet.
“Waduh...diampuuut!” Teriak Markiman pula. “Mau ngising di mana?”
“Ya mau ngising di dekatmu situ!” Teriak orang dari luar tadi.
Yah, apa boleh buat, pikir Markiman, memang kondisinya seperti ini.
“Aduuh, anunya muncrat di wajahku, Mbah!”
“Maaf ya, Nak, Mbah tak sangaja,” jawab si Mbah enteng.
Tak kuat, akhirnya Markiman muntah-munta. Bau muntahan dari perut Markiman yang memang terbiasa makan jengkol, secepat kilat menyebar ke seluruh ruang hingga ke sudut-sudut, menusuk-nusuk semua hidung dan mengobrak-abrik rongga tenggorokan.
“Sekali lagi maaf ya, Nak, Mbak sudah gak kuat.”
“Maaf juga ya Mbah, aku juga sudah gak kuat di sini. Kita tak bisa bersama lagi dalam kereta ini, Mbah. Aku mau turun saja di Cirebon. Gak jadi pulang kampung,” ucap Markiman sedih, sambil air matanya mrembes mili.
“Malah seneng kamu turun, Nak, tempatnya bisa Mbah gantiin, biar kalo pingin ngising gampang,” ucap si Mbah dalam batin, tentunya sambil tertawa.
Benar, sesampainya di stasiun Cirebon, Markiman langsung meloncat keluar dari jendela toilet yang sudah pecah dari saat berangkat. Dia menuju musholla stasiun untuk sholat dan menenangkan hati sambil berteriak: “Mbooook, anakmu, si Eman, gak jadi pulang!”
Usai sholat dan menenangkan hati, Markiman berpikir, “Ini memang bukan salah orang-orang, apalagi si mbah tua tadi. Ketidakpulanganku ini karena kesalahan negara. Negara macam apa ini, ngurusi sedikit kesejahteraan rakyatnya aja tidak becus, apalagi ngurusi yang lain?” "Yach, memang benar apa yang dikatakan Kang Brewok kemarin, bahwa negeri ini telah dikuasai oleh sekawanan srigala yang berbulu domba."
|