Sekarat (Cerpen) Cetak E-mail
Ditulis oleh Jesus S. Anam   
Jumat, 28 Oktober 2011 00:08
Share

Sekarang malam terakhir. Anak-anakku sudah bersiap-siap. Ibunya terlihat sedang  melipat-lipat pakaian. Lemari, meja-kursi dan tempat tidur biarlah tertinggal. Rasanya sudah tidak butuh lagi. Tetapi TV perlu dibawa. Aku masih ingin melihat para cecunguk Amerika itu berbicara tentang keadilan di TV. TV sudah kukemas. Kumasukkan karung bekas terigu. Tak ada tempat lain. Terpaksa.

Orang-orang terlihat sedang berkemas juga. Mereka sudah bersiap-siap untuk angkat kaki. Seluruh tangisan sudah mereda sejak tadi sore. Pasrah. Mereka terlalu kuat untuk dilawan.

Tiba-tiba terlintas olehku wajah Mbah Karmin. Orang tua ini rencananya besok akan kami bawa dengan gerobak. Ia tak mungkin kami gendong, apalagi ditinggalkan. Kakinya lumpuh, matanya buta. Semoga ide Jemingan dan Ahmad untuk bikin tandu sudah jadi. Tetapi jika mereka berdua lupa bikin tandu, tentunya aku harus segera menghubungi Pak RT, memastikan gerobaknya.

Anak-anak rupanya belum tidur. Dasar anak-anak, di saat genting seperti ini masih juga main game. Padahal ibunya sudah berulangkali menguap. Biarlah, pikirku, anak-anak tak harus larut dalam sedih. Biarlah mereka menikamti dunianya.

Tak terasa, jam sudah menunjuk ke angka sebelas. Rokok sudah habis. Tak ada sisa uang di kantong. Samasekali! “Uang harus diatur,” kata ibunya anak-anak, “besok kita sudah jadi gelandangan.”

Bukankah dari dulu sudah jadi gelandangan, pikirku. Tapi biarlah, mungkin maksudnya besok benar-benar tidur tanpa atap.

Ini pengalaman pahit yang entah ke berapa. Berkali-kali mengalami hidup seperti ini. Lari ke sana lari ke sini. Ditendang. Rumah dihancurkan. Seenaknya barang-barang diangkut ke truk. Alasannya tak jelas: demi keindahan kota; untuk kenyamanan bersama; mau dibangun pasar; dan alasan-alasan buruk lainnya.

Geram. Lalu apa arti dan fungsi negara bagi rakyat? Padahal nilai filosofis negara bagi rakyatnya tak jauh beda seperti seorang ibu bagi anak-anaknya. Seorang ibu pasti akan sedih jika anak-anak sakit; akan resah jika anak-anaknya kelaparan, tidak punya tempat tinggal, tidak punya baju bagus, tidak pernah makan roti – apalagi hamburger; tidak sekolah, dekil, perutnya buncit, dll.

“Kalau negara membiarkan kita terus-terusan dikejar Satpol PP, berarti itu ibarat seorang ibu yang sudah tak waras!” Ucap Markum saat aku ajak bicara tentang ini kemarin.

Sudah jam tiga. Tanah ini pagi-pagi harus sudah kosong. Besok alat-alat berat akan berdatangan. Mesin-mesin berat itu akan menghancurkan semua yang tersisa – menjadi serpihan-serpihan yang tak berguna lagi.

Jiwaku benar-benar lelah. Pikiranku terus tertuju pada anak-anakku dan Mbah Karmin. Anak-anak besok akan mengalami peristiwa tak manusiawi. Pasti. Besok anak-anak akan melihat keluarganya diperlakukan seperti maling; melihat ayah dan ibunya diperlakukan seperti sampah; melihat orang-orang yang menempati tanah ini diperlakukan seperti tikus – dikejar-kejar, dipukul dan ditertawai. Yach, ini akan menjadi memori hitam bagi anak-anakku dan anak-anak yang lain. Tragedi ini akan menbentuk jiwa-jiwa yang labil dan murung.

Kasihan Mbah Karmin. Laki-laki tua itu sudah tak kuat lagi berdiri. Hidupnya sepenuhnya bergantung pada warga. Kedua kakinya lumpuh. Dia tidak bisa apa-apa kecuali duduk, minum dan makan. Semua ini terjadi karena peristiwa tragis dua tahun lalu. Peristiwa itu hampir menghabisi nyawanya. Waktu itu dia paling berani dan tetap bertahan. Dia tak mau pergi saat rumahnya digusur. Satpol PP menyerangnya membabi buta. Dia dipukuli di depan keluarganya hingga sekarat. Kedua anaknya kemudian gila. Istrinya sampai sekarang frustasi dan terus mengurung diri.

Hari ini Mbah Karmin tidak tahu kalau tempat barunya akan digusur lagi. Tidak satupun warga yang tega menyampaikannya. Rencananya besok dengan diam-diam Mbah Karmin kami angkat pakai tandu yang sudah dibuat Jemingan dan Ahmad malam ini. Lho, tapi sampai sekarang kok belum ada kabar mengenai tandu?

Aku harus segera memastikannya, sebelum hari berajak pagi.

“Pak RW...Pak RW, Mbah Karmin sekarat...!”

Tiba-tiba aku dikejutkan teriakan Jemingan mengenai Mbah Karmin. Pasti ada apa-apa dengan (mantan) pemulung tua itu.

“Masuk, Ngan...duduk dulu. Ada apa dengan Mabah Karmin?”

“Mbah Karmin sekarat, Pak RW.”

Lho, kok bisa, apa dia tahu kalau pagi ini ada penggusuran?”

“Iya, Pak RW, dia baru saja mendengarnya dari radio .”

Gawat, tak ada kendaraan untuk membawanya ke rumah sakit.

"Ngan, coba kamu pinjam mobil pak Yusuf, pegawai BPN yang rumahnya seberang jalan itu...!”

“Sudah, Pak RW. Tapi katanya pak Yusuf pagi ini mau ke Bandung.”

“Oh, Tuhan...! Ayo kita bawa saja pakai gerobak Pak RT!”

Zero. Kekalahan yang sempurna. Laki-laki tua itu tak pernah sedikitpun merasakan hidup layak. Hingga pagi ini. Seluruh harkat kemanusiaannya dicerabut oleh kekuatan biadab. Dia hanya salah satu dari korban keserakahan yang kulihat dari jutaan korban-korban lain yang tak kulihat. Dia adalah tumbal dari segolongan orang yang sedang mencari pesugihan. Dia adalah komuditas yang sudah terbuang.

Tubuh Mbah Karmin sudah berada atas gerobak. Jemingan, Ahmad, Loso, Tuman segera mendorongnya menuju rumahsakit sambil berlari. Aku terlalu tua untuk terlibat. Aku berada di belakangnya. Nafasku nyaris putus mengikuti gerobak yang melaju terlalu kencang.

“Berhenti...berhenti...! Pak RW...Pak RW...!” Teriak Jemingan histeris. “Nafasnya sudah tak ada! Mbah Karmin sudah mati!”

"Kalian sih bawa gerobaknya ugal-ugalan! Nafasku juga mau putus!" Ucapku spontan.

"Maaf, Pak RW. Gak usah saling menyalahkan. Beberapa jam lagi rumah kita digusur. Mbah Karmin mati. Di rumah gak ada orang. Pak RT terlalu lemah. Bu RW dan ibu-ibu yang lain pasti sudah panik. Terus ini gimana?"

"Kita harus bawa mayat Mbah Karmin kembali. Dan segera kita kubur."

"Di kubur di mana, Pak RW? Kita tak punya tanah, tak punya uang?"

"Maksudmu mayat Mbah Karmin kita lempar saja di sungai samping itu?"

"Ya!!!" Jawab Jemingan sambil menangis keras.

"Tidak. Kamu ngawur. Dia manusia. Dia pahlawan kita. Dalam penggusuran dua tahun lalu dialah Sang Pemberani itu. Tubuh dan jiwanya hancur untuk kita. Ayo kita bawa pulang. Kita letakkan mayat ini di tengah-tengah kampung. Biarlah buldozer-buldozer itu yang menghancurkan jasad Mbah Karmin. Biarlah pertunjukan ini menjadi memori perlawanan kita. Menjadi sejarah besar bagi anak-anak kita!"

Seketika semua diam. Tak ada yang bicara. Aku membanting tubuhku di trotoar. Ini sungguh takdir yang tak lazim, teriakku.

Satu per satu ikut merebahkan tubuhnya di trotoar. Semua memandang ke langit. Entah apa yang sedang mereka pikirkan. Mungkin mereka sedang berharap ada sesuatu yang melintas di langit. Keajaiban. Mungkin.

“Pak RW,” ucap Jemingan pelan.

“Ada apa, Ngan?”

“Saya lelah.”

 
RocketTheme Joomla Templates