Tragis (Kisah Buruh) Cetak E-mail
Ditulis oleh Klewer (Buruh Gresik)   
Senin, 31 Oktober 2011 08:19
Share

Sukirno sudah dua hari mendekam di kantor Polsek Suci, Gresik. Hanya karena ingin bertahan hidup, ia harus menemui peristiwa tragis dalam hidupnya. Perbuatannya memang salah, pikirku. Tetapi ini semata-mata karena tak ada jalan lain. Aku tahu persis bagaimana kualitas hidupnya setelah di-PHK. Rasa frustasi telah membuat alur hidupnya berantakan!

Nyaris tak ada pengasilan setelah ia dikeluarkan tanpa pesangon dari tempatnya bekerja. Padahal perut anak-istrinya harus tetap terisi. Apalagi si gendut, jatahnya harus dua piring.

Usaha apapun sudah ia lakukan, tetapi ternyata masih tetap seperti kata pepatah, tak ada yang semudah membalik telapak tangan. Usaha jual nasi tidak laku. Hutang menumpuk. Anak-anaknya harus bayar sekolah. Rumah tinggalnya sudah habis kontrak. Dan seterusnya-seterusnya. Begitulah persoalan yang selalu menimpa orang kecil, ketika jatuh, selanjutnya tertimpa tangga.

Tanpa berpikir panjang, dia mengambil jalan pintas. Ia melirik burung Cak Malikin, seorang juragan tambak. Kata orang-orang burung itu bernilai jutaan. Mendengar kabar itu, seketika air liurnya menetes tak bisa ditahan. Pikirannya langsung melambung. Usai mengambil burung nanti malam, mungkin pikirnya, besok pagi-pagi langsung bisa ke pasar burung, menjualnya, dan pulang pasti membawa segepok uang.

Betul, malamnya ia nekat dengan mengendap-endap. Ia melompat pagar dan berjalan pelan. Burung dan sangkarnya benar-benar sudah di depan mata. Tergantung di teras rumah sang juragan tambak. Tetapi naas, baru menyentuh buntutnya, Cak Malikin terbangun dan teriak “maling”. Suara Cak Malikin sontak mengundang massa. Beramai-ramai menggebukinya hingga babak belur. Belum usai digebuki massa, polisi datang dan menggiringnya ke tahanan sementara Polsek Suci. Sambil menunggu proses pengadilan, ia ditahan di tempat tahanan pengap tak layak, berdesak-desakan dengan para maling kelas coro yang lain. Dan jangan ditanya, tahanan maling kelas coro seperti ini malah diperlakukan seperti binatang.

Ironis memang. Bandingkan dengan berita di televisi atau koran-koran, bagaimana perlakuan terhadap para maling kelas kakap alias para koruptor besar? Mereka bisa melenggang bebas sambil memburu makanan paling enak hingga ke pojok negeri; mereka punya televisi besar dan kasur empuk; mereka bisa main internet: browsing, chating dan fesbukan. Lihat saja kasus Gayus, bagaimana dia dengan bebas bisa berwisata ke Bali, nonton pertandingan bulutangkis, berjemur di pantai, bersuka-suka, dll.

Sukirno bukan koruptor. Dia tak perlu dipukuli dan ditahan dengan pasal-pasal hukum yang berat. Dia hanyalah maling kelas coro. Hasil curiannya tak akan menyebabkan kemiskinan massal.

Yach, begitulah watak hukum di negeri ini. Berlagak seperti petinju kelas berat bila di depan penjahat kelas coro, tetapi bernyali amatiran bila di depan para koruptor besar.

 
RocketTheme Joomla Templates