Menjelang Natal (Cerpen) Cetak E-mail
Ditulis oleh Jesus S. Anam   
Jumat, 16 Desember 2011 00:00
Share

Lelah dengan ketidakpastian. Kurebahkan tubuhku di kasur belel. Tiba-tiba istriku membangunkanku. Di tangannya tergenggam sebatang lilin. Lengannya gemetar. Matanya menatap tajam.

“Mas, ada yang mengepung rumah kita,” ucapnya pelan.

“Siapa mereka? Dari jam berapa lampu mati?" Aku bertanya dengan perasaan kaget.

Seketika suasana menjadi senyap, dan kami saling menatap. Aku merasa wajahku berubah pucat. Jantungku seperti dipompa: ditarik kuat-kuat kemudian dihembuskan dengan kuat-kuat pula.

“Apa kamu takut?” Aku bertanya kepada istriku.

Dagunya terlihat pucat gemetar, tapi matanya tetap bergerak dan menatapku, tanpa berkedip. Baru sekarang aku melihat sesuatu yang aneh di matanya. Sudah sepuluh tahun aku menikah dengannya. Aku mengenalnya begitu lengkap, melebihi pengenalanku terhadap diriku sendiri. Seperti firasat, tiba-tiba ada sesuatu yang aneh di matanya, di dalam dirinya. Aku meraih tubuhnya dan kemudian menggenggam tangannya kuat-kuat.  Tangannya dingin sekali. Dia berbalik memegang tanganku, dan ada sesuatu yang aneh – sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

“Kira-kira sudah berapa jam mereka mengepung rumah kita? Aku bertanya lagi.

“Sekitar satu jam yang lalu.”

Waktunya telah tiba. Aku harus tenang. Sebentar lagi aku akan meninggalkan rumah ini untuk selamanya. Sebentar lagi aku tidak bisa menghabiskan waktu dengan istri dan anak-anakku. Seperti biasa, setiap pagi, sebelum pergi kerja, aku mendapat bagian mencuci piring, istriku memasak, anakku yang pertama mematikan lampu, anakku yang kedua dan ketiga menunggu tukang roti. Kebersamaan yang enggan untuk kutinggal.

“Mas, dengar, mereka berteriak, menyebut namamu,” ucap istriku ketakutan.

Kami segera membungkuk, di balik jendela. Dan di sana, di kejauhan, di tengah gelap malam, kami melihat sekumpulan orang bergerak-gerak. Aku segera memeluk istriku yang sedang menatap bulan sabit muda yang berwajah aneh – seperti seorang gadis muda yang baru saja bermimpi dan takut untuk menceritakan mimpinya; dan bersinar hanya untuk dirinya sendiri.

"Lusa, aku tidak bisa menemanimu menyaksikan bulan purnama,” ucapku sedih.

Kami berdiam sejenak, tanpa melihat satu sama lain, namun memikirkan hal yang sama.

"Kita akan menemui semua keindahan itu di surga, Mas.”

“Surga akan segera tercipta di bumi, bukan di sana," jawabku. "Didiklah anak-anak menjadi pejuang sejati. Merekalah yang akan menciptakan surga untuk kita!"

Aku masih tak ingin beranjak, ke manapun. Istriku tahu, aku sangat menikmati dekapannya, tetapi ia juga tahu, bahwa aku akan hilang untuk selamanya.

“Apakah mereka akan menangkapmu malam ini, Mas?”

“Ya, menangkapku dan menghukumku – hukuman mati, atau setidaknya, hukuman seumur hidup.”

Wajah istriku seketika pucat pasi. Tubuhnya gemetar. Dia, sudah pasti, tak ingin kehilanganku; tak ingin kehilangan ritme dan irama yang sudah dibangun bersamaku selama hampir sepuluh tahun.

“Aku yakin kamu tak bersalah. Tapi aku tak menduga, kenapa kamu dan teman-temanmu bisa senekat itu, Mas?”

“Semua kami lakukan karena terpaksa. Pemilik pabrik itu tetap bersikeras menunda pembayaran gaji, padahal sudah telat tiga bulan. Dia menyewa beberapa polisi untuk menghajar kami. Kami melawan dan balik menyerang. Mungkin jumlah kami terlalu banyak, sehingga dua polisi yang lari tertinggal jadi bulan-bulanan massa.”

“Dua polisi itu kemudian mati?” tanya istriku ingin tahu.

“Kemarahan massa sungguh tak terkontrol."

"Dan kamu berada di antara mereka, bukan?”

"Ya!"

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Suaranya persis seperti suara ketukan pintu yang sering datang di mimpiku. "Apakah aku sedang bermimpi?"

"Tidak, kamu tidak sedang bermimpi, Mas. Mereka sudah menunggumu. Pergilah, Mas! Percayalah, aku akan tetap istrimu; akan tetap menjadi bagian dari perjuanganmu!"

"Aku takut sekali."

"Yakinlah, bahwa Tuhan bersamamu!"

"Sebelum pergi, makanlah dulu," pinta istriku. "Sini kuambilkan nasi dan lauknya. Masakanku tadi siang masih banyak.”

Dia menuju meja dapur, dan aku mengikutinya dari belakang. Dia membuka tutup panci dan memeriksa masakannya tadi siang. Tiba-tiba dia menoleh ke arahku dengan wajah sedih. “Oh Tuhan, nasi dan lauknya sudah basi, Mas! Apakah ini firasat buruk?”

"Bukan, hanya kebetulan saja," jawabku singkat.

Istriku menangis keras. Dia kemudian mengajakku ke kamar anak-anak. Si Tengah terbangun. Ia mengamati seluruh ruangan dengan matanya yang masih sedikit terpejam. Si Bungsu terusik dengan tingkah Si Tengah. Ia menangis keras. Seperti biasanya, ia selalu menuntut jika merasa terganggu. Tapi kali ini suara tangisannya lain. Ia seperti tahu, jika di luar pintu, sekumpulan orang sedang menjemput ayahnya.

“Sudah, Mas, temui mereka sekarang. Jangan sampai anak-anak bangun dan tahu!”

“Biarkan dulu aku memeluk mereka. Aku tak akan membangunkannya.”

Ternyata Si Sulung dari tadi terjaga. Ia mendengarkan semua pembicaraanku dan tahu apa yang sedang terjadi. Ia sudah tahu bahwa hal buruk sedang menimpa ayahnya. Dia menatapku tegas dan berkata: “Ayah, pergilah sekarang!”

Aku kaget bukan main, kenapa si sulung tidak tampak sedih. Padahal, selama ini, dialah yang paling susah ditinggal, apalagi jika kutinggal ke luar kota. Oh, apa yang sedang dirasakan anak sulungku?

Tubuhku langsung menggigil; mataku melompat-lompat, menatap dinding, menatap lilin, menatap raut muka istriku, menatap wajah tak berdosa anak-anakku.

“Anak-anakku, ayah tak bisa menemani kalian di malam Natal. Teman ayah, Pendeta Timotius, akan mengajak kalian jalan-jalan ke danau usai kebaktian nanti. Ayah baru saja mengirim pesan kepadanya.”

“Tidak, Yah!” jawab si sulung. “Aku, mama, dan adik-adik, akan menunggu Ayah. Kalau Ayah mati, kita akan bertemu di surga."

“Sayang, anakku, kaulah nanti yang akan membuat surga itu, sebelum ayah mati. Bukan di sana, tetapi di bumi ini!”

Aku segera berdiri, kemudian beranjak ke luar. Malam begitu gelap. Lampu padam. Bulan sabit muda sudah terbenam. Aku berjalan dengan tangan meraba. Usai membuka pintu, sekumpulan orang berseragam memborgolku dan membawaku pergi dengan mobil terbuka. Aku dicekam oleh perasaan sedih dan takut. Semua yang kulihat seperti binatang melata yang sedang merayap ke arahku; yang akan mencabik-cabik tubuhku dengan rakus dan kejam.

 
RocketTheme Joomla Templates