Cerpen: Aku dan Marsinah

 

Entah sudah berapa lama aku berdiri. Tanganku bergerak cepat memasang casing jam dinding dan mengopernya ke teman yang di sebelah. Sudah seribu kali mungkin, atau barangkali dua ribu kali, kuulang gerak ini. Tapi siapa yang masih menghitung. Jam-jam dinding yang ada di sekitarku terus mengingatkan aku akan jalannya waktu, dan satu menit pun terasa seperti panjang. Hanya lamun yang menyeretku melalui rentang waktu ini.

Namun seketika lamunku buyar dan aku pun kembali. Marsinah, perempuan kecil itu, lagi, memaki mandor yang suka kehilangan tangannya di pantat Asri.  Usep menyengir saja, tetapi tidak pernah luput pandang bencinya pada Marsinah. Sebentar saja, dan kembali lagi aku ke lamunku. Kapan makan siang?

Peluit berbunyi dan bersama ratusan lainnya aku langkahkan kaki ke kantin. Di tengah gemuruh sendok dan piring, dan ramainya cakap tak berujung, kembali lagi perempuan kecil itu menarik perhatianku.

“Kawan-kawan, hari ini tanggal 1 Mei. Tahu hari apa sekarang? Hari ini adalah harinya buruh!” ujar Marsinah dengan lantang.

“Tahu tidak besok lusa kita mau unjuk rasa?” tiba-tiba kawanku memotongku. Aku tersenyum saja mengangguk, mencoba menyembunyikan semua perasaanku, ketidaktahuanku, ketakutanku, dan keraguanku. Kembali aku melihat ke arah Marsinah, apa dia tidak takut?

Jam 1 tiba dengan cepat sebelum aku mendapatkan jawabanku. Kami semua kembali ke pos masing-masing. Kali ini lamunku tak lagi dapat menyekapku. Terus aku melirik ke arah perempuan kecil itu. Entah apa yang aku cari.

Sehari sebelum unjuk rasa, suasana tegang. Usep tak lagi usil dan tampak gelisah. Marsinah, aku tak melihatnya hari itu.

“Pak Yudi datang, Pak Yudi datang hari ini,” bisik kawan-kawan. Orang-orang tampak hilir mudik keluar masuk kantor personalia. Semua menunggu.

Akhirnya kabarpun tiba. “Negosiasi buntu. Kita mogok besok. Beritahu yang lain, kawan-kawan shift I, II, dan III,” ujar seorang kawan. Sementara kawan-kawan lain tampak semangat dan terbakar, ada sesuatu yang berat mengganjal ketika aku mendengar kabar itu. Dadaku sesak. Malam itu juga aku tidak bisa tidur.

Jam 8 pagi, aku lihat ratusan kawan-kawan sudah berkumpul di depan pabrik. Tiba-tiba, semua yang mengganjal dan menyesakkan dadaku menguap di tengah kawan-kawan yang berdiri melawan. Mataku mencari Marsinah, seakan ingin mengatakan, aku tidak takut lagi.

Tak lama kemudian tentara datang dan mencoba membubarkan. “Komunis kalian!” bentak mereka. Kata yang biasanya menakutkan itu tak lagi terdengar seram. dan kamipun melawan, dorong-mendorong. Mataku masih mencari, dan akhirnya kutemukan Marsinah di garis depan. “Besok kita mogok lagi,” teriak Marsinah, disambut dengan sorak sorai.

Hari itu, aku merasa paling bebas. Seperti lahir kembali. Hari itu juga terakhir kali aku melihat perempuan kecil raksasa itu.

“Marsinah dibunuh, Marsinah dibunuh!” begitu berita itu memukul kami. Rasa takut menghampiri kami semua. Geram, sedih, tetapi tak mampu melawan. Hanya tenggelam dalam kerja yang dapat kami lakukan saat itu.

“Kamerad Ketua, sudah waktunya!” ujar Asri, kawan seperjuanganku 30 tahun terakhir ini. Aku terbangun dari lamunku.

“Baik, Asri. Aku segera ke sana.”

Hari ini adalah pukulan terakhir yang akan kami hantarkan ke jantung kapitalisme. Kapitalisme telah jatuh di Prancis, di Inggris, dan di Italia. Kamerad-kamerad kita telah menang di sana. Buruh Amerika Serikat, yang dipimpin Partai Buruh, sedang melakukan mogok nasional yang tajam dan berdarah-darah. Kelas kapitalis AS memobilisasi kekuatan fasis untuk meremukkan gerakan buruh di sana. Dunia sedang bergejolak.

Di Asia pasifik, kapitalisme Indonesia ada di ujung tanduk. Militer mencoba melakukan kudeta, tetapi kita pukul dengan pemogokan nasional. Sekarang pemerintahan koalisi nasional yang lemah ini dapat tumbang setiap saat, dan kami akan mendorongnya jatuh. Partai kami telah siap, telah tertempa, untuk merebut kekuasaan. Puluhan juta buruh di setiap kawasan industri sudah termobilisasi dan siap memberikan pukulan terakhir.

Marsinah, kami tidak lagi takut.

Imperialisme

Apa Itu Imperialisme?

Imperialisme bukanlah sekedar dominasi satu negeri terhadap negeri yang lain. Ia adalah tahapan tertinggi dari perkembangan kapitalsme. Hanya dengan memahami alur perkembangan historis dari imperialisme maka kita bisa melahirkan program politik revolusioner yang tepat, dan tidak terjebak pada anti imperialisme yang vulgar dan oportunis.

Pendidikan Marxis

Mengenal Filsafat Marxisme

Secara historis, filsafat Marxisme adalah filsafat perjuangan kelas buruh untuk menumbangkan kapitalisme dan membawa sosialisme ke bumi manusia. Untuk memahami pokok-pokok Marxisme, kita bisa memecahkannya menjadi tiga bagian, seperti yang dipaparkan oleh Lenin, yakni: 1. Materialisme Dialektis; 2. Materialisme Historis; 3. Ekonomi Marxis.

Sejarah Indonesia

Menuju Republik Indonesia

Menuju Republik Indonesia (Naar de Republiek Indonesia) adalah karya besar Tan Malaka yang meletakkan dasar bagi perjuangan pembebasan nasional Indonesia dari penjajahan Belanda dan imperialis dunia. Gagasan utamanya adalah bahwa 100% Merdeka tidak akan tercapai tanpa membawa sosialisme ke bumi Indonesia.