facebooklogocolour

Studi singkat Das Kapital ini, secara khusus, ditujukan untuk proletariat Indonesia, agar mereka, dalam keterbatasan waktunya, dengan cepat mampu mengetahui cara produksi masyarakat kapitalis, dan, secara umum, untuk para pendukung perjuangan kelas proletar dalam tugas historisnya menumbangkan kapitalisme. “[Das Kapital] … tidak sulit untuk dipahami … [oleh] seorang pembaca yang berkeinginan mempelajari sesuatu yang baru, dan ... mau berpikir sendiri,” demikian tulis Marx. Pernyataan ini memberikan harapan bagi proletariat untuk dapat lebih memahami mengenai apa itu kapitalisme dan bagaimana cara kerjanya—yang telah ditulis oleh Marx secara jelas di dalam Das Kapital.  

Studi ini menggunakan Das Kapital edisi Inggris tahun 1887 (edisi pertama) terjemahan  Samuel Moore dan Edward Aveling (yang diedit oleh Frederick Engels). Dan studi ini berbentuk eksposisi, yaitu menjelaskan secara detil hal-hal penting yang termuat dalam Das Kapital, yang akan disuguhkan dalam Studi 2 dan selanjutnya; Studi 1 masih menjelaskan skema besarnya: tujuan, metode, pendekatan, struktur dan bidang.

Das Kapital bertujuan untuk menelanjangi hukum gerak ekonomi masyarakat modern. Di sinilah kesalahpahaman sering muncul: Das Kapital sering dianggap sebagai ilmu ekonomi-politik baru, bahkan para Marxolog banyak yang menganggap bahwa analisis Marx mengenai produksi kapitalis sebagai ekonomi-politik Marxis. Tentu ini salah kaprah.  Das Kapital, pada kenyataannya, adalah sebuah kritik atas fundamen-fundamen ekonomi politik borjuis, yakni kritik terhadap cara berpikir (politik) dan cara produksi borjuis. “Inilah tujuan akhir dari karya ini,” tulis Marx dalam Pengantar untuk Volume I, “[yaitu] untuk menelanjangi hukum gerak ekonomi masyarakat modern.”

Melihat sub judulnya, yang berbunyi “Sebuah Kritik atas Ekonomi Politik”, menjadikan Das Kapital tidak mungkin untuk menganalisis secara menyeluruh hukum-hukum perkembangan cara produksi borjuis, karena begitu luasnya cakupan ekonomi-politik sejak ekonomi-politik berhubungan dengan kategori-kategori ekonomi seperti komoditas, upah, uang dan profit—yang, secara umum, dipahami sebagai barang-barang ketimbang sebagai ekspresi-ekspresi dari relasi-relasi sosial.

Benar bahwa tingkah laku kardinal manusia yang terikat dalam masyarakat adalah pertukaran, dan hal ini yang membuat relasi-relasi sosial nampak sebagai relasi dari barang-barang. Tetapi barang-barang ini mengingkari—ketimbang memanifestasikan—esensinya. Untuk memisahkan esensi (relasi-relasi kelas atau sosial) dari penampilannya (pertukaran komoditas-komoditas) dibutuhkan suatu ilmu pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan baru ini (Marxisme) bertujuan untuk menunjukkan sebuah aplikasi dialektik-materialis mengenai hukum-hukum perkembangan dari sistem ekonomi borjuis.  “Dialektika Hegel adalah bentuk dasar dari semua dialektika,” demikian tulis Marx kepada Kugelman, “tetapi hanya setelah ia dilepaskan dari bentuk mistikalnya, dan inilah yang membedakannya dengan metode saya.” Dalam Pengantar untuk Das Kapital, Marx menjelaskan bahwa dialektika, dalam bentuk rasionalnya, adalah sebuah pemahaman dari pengakuan afirmatif mengenai keadaan dari sesuatu yang sedang eksis, dan pada saat yang sama kehancurannya yang tak terelakkan. Engels mendefinisikan dialektika sebagai ilmu pengetahuan mengenai hukum-hukum umum dari gerak dunia eksternal dan pemikiran manusia. Untuk melihat hukum gerak masyarakat kapitalis, yang kehancurannya tak terelakkan, seseorang harus mampu melihat cara produksinya yang spesifik ini—sebuah tahapan historis dalam perkembangan produksi sosial.

Das Kapital juga menggunakan pendekatan sejarah. Banyak sekali kekuatan-kekuatan produktif yang tersedia untuk manusia bergantung pada sifat dari masyarakatnya. Manusia secara esensial adalah binatang yang sedang membuat perkakas, dan sebuah proses dari produksi kehidupan materialnya, sebuah proses kerja, alat-alat dari perkembangan kekuatan-kekuatan produktif serta kendalinya atas alam. “Industri,” Marx menjelaskan dalam Private Property and Communism, “adalah relasi historis riil dari alam, dan sebagai konsekuensi dari ilmu pengetahuan alam, dengan manusia.”

Revolusi industrial, sebuah progres dari ilmu pengetahuan alam, dan kemajuan teknologi secara umum, juga merevolusionerkan cara produksi, bahwa, pada akhirnya, terdapat basis kemerdekaan sejati—merdeka dari kekurangan dan eksploitasi. Akan tetapi, “pada contoh pertama” ini (menunjuk pada seluruh sejarah kapitalisme), kata Marx, mengambil bentuk yang berbeda dengan perbudakan kerja ke kapital.

Marx menganalisis relasi antara kerja dan kapital ini, pertama-tama, dengan alat teoritik yang ditemukan oleh ekonomi-politik klasik, yaitu teori nilai kerja (labor theory of value). Jika kerja adalah sumber dari nilai, sebagaimana ditemukan oleh para ahli ekonomi klasik, kata Marx, maka kerja juga merupakan sumber dari nilai lebih (surplus value). Konklusi logis ini berasal dari teorinya sendiri. Ekonomi-politik klasik tidak dapat menarik suatu kesimpulan, karena, jelas Marx, ia tidak dapat lepas dari “kulit borjuis”-nya. Ekonomi-politik klasik memandang relasi kerja-kapital sebagai sebuah hukum alam ketimbang hukum dari cara produksi (mode of production). “Sejauh Ekonomi-Politik tetap berada di dalam horison [borjuis] itu,” tulis Marx, “yaitu sejauh sebagai rejim kapitalis yang dilihat sebagai bentuk final absolut dari produksi sosial, ketimbang sebuah fase historis yang sedang dilalui dari evolusinya, Ekonomi Politik dapat tetap merupakan ilmu pengetahuan hanya sepanjang perjuangan kelas adalah laten atau memanifestasikan dirinya sendiri hanya dalam isolasi dan fenomena sporadis.” (Capital, hal. 11.) Periode tersebut dimulai pada tahun 1776, dengan sebuah publikasi dari Wealth of Nations-nya Adam Smith, dan diakhiri dengan Political Economy-nya Ricardo, tahun 1821.

“Perjuangan kelas, secara praktis dan teoritis,” lanjut Marx, yang disadarkan pada peristiwa penaklukan kekuasaan politik oleh borjuasi dalam serangkaian revolusi tahun 1830, “semakin lama semakin mengambil bentuk yang terang-terangan dan mengancam. Ia membunyikan lonceng kematian bagi ekonomi-politik ilmiah borjuis. Sejak saat itu pertanyaannya bukan lagi apakah teorema ini dan itu benar atau salah, melainkan berguna atau berbahaya bagi kapital. Penyelidikan tanpa pamrih diganti dengan tukang pukul-tukang pukul bayaran....” (Capital, hal. 11.)  

Pada suatu periode, yaitu tahun 1820 hingga 1830, menandai berakhirnya periode klasik, dan oleh Marx dikarakterisasikan sebagai “disintegrasi sekolah Ricardian”, yaitu puncak dari kejayaan yang telah dicapai oleh Ricardo. Ekonomi-politik sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang independen, pada periode itu, tidak dapat bergerak lebih jauh, dan tidak ingin bergerak lebih jauh.

Das Kapital memiliki struktur yang lengkap dan bidang yang luas—meskipun tidak mencakup keseluruhan persoalan ekonomi. Karya Marx yang berjudul A Contribution to the Critique of Political Economy, dipublikasikan pertama kali tahun 1859, yang dapat disebut sebagai cikal bakal dari Das Kapital Volume I. Karya ini adalah bentuk pertama di mana kerja teoritiknya, atau karya besarnya, ditulis pada periode kehidupannya yang paling matang dalam mempelajari dan menganalisis cara produksi borjuis. “Jika Anda hanya membandingkan perkembangan komoditas menjadi kapital, di dalam Marx,” tegas Engels, “dengan perkembangan dari Keberadaan ke Esensi, di dalam Hegel, Anda akan mendapatkan sebuah paralel yang bagus dari perkembangan konkret yang dihasilkan dari fakta-fakta....” Engels memberi gambaran bahwa apa yang ditulis oleh Marx (dalam Das Kapital) memiliki struktur yang lengkap dan bidang yang luas, hasil dari kajian atas fakta-fakta.

Das Kapital, yang memuat delapan bagian, dapat ditarik garis besarnya ke dalam tiga tema penting: pertama, mengenai fenomena kapitalisme, atau pembelian dan penjualan komoditas. Kemudian mengenai komoditas dan uang, dan transformasi uang ke dalam kapital.

Kedua, mengenai esensi kapitalisme—proses kerja kapitalis. Bagian ini dibagi ke dalam dua sub bagian: yang pertama, produksi absolut dan nilai lebih relatif; yang kedua, hasil proses produksi atau transformasi nilai tenaga kerja ke dalam upah.

Tepat bahwa upah adalah penampakan fenomenal dari nilai tenaga kerja, tetapi karena Marx menganalisis fenomena ini setelah dia bersinggungan dengan proses kerja esensial, maka Marx menempatkannya dalam hubungan-hubungan yang esensial. Jadi, saat mengamati pembelian dan penjualan tenaga kerja, di pasar, Marx menulis bahwa pekerja “dan pemilik uang bertemu di pasar, dan berhubungan satu sama lain sebagai pemilik-pemilik komoditas yang sederajat [memiliki hak-hak yang sama], hanya dengan satu perbedaan  bahwa yang satu adalah seorang pembeli, yang satunya lagi adalah seorang penjual; oleh karena itu, keduanya equal di mata hukum.” (Capital, hal. 117.) Tapi Marx, kemudian, setelah memeriksa lubuk hati yang paling dalam dari proses produksi, menulis mengenai relasi uang sebagai berikut: “Bentuk fenomenal ini, yang membuat relasi aktualnya tidak terlihat, dan, tentu saja, yang menunjukkan kebalikan langsung dari relasi itu, membentuk dasar seluruh pemikiran yuridis pekerja dan kapitalis, semua mistifikasi corak produksi kapitalistik, semua ilusi mengenai kebebasan, semua tipuan apologetik dari para ekonom vulgar.” (Capital, hal. 375.)

Ketiga, mengenai hukum gerak masyarakat kapitalis; di bawahnya berbicara mengenai  akumulasi kapital dan rahasia akumulasi primitif. Yang pertama merupakan kulminasi teoritis dari buku ini, yang kedua adalah cerita mengenai asal-muasal kapitalisme. Akan tetapi, Marx tidak memisahkan teori dan sejarah, namun menjalinnya, dan mengenai hal ini secara jelas dibicarakan dalam bab sejarah, di mana Marx dengan tepat menyertakan analisisnya mengenai tendensi historis akumulasi kapitalis, yang berbunyi sebagai berikut:

“Bersamaan dengan terus berkurangnya jumlah para tokoh kapital, yang merampas dan memonopoli semua keuntungan dari proses transformasi ini, bertambah besarlah kesengsaraan, penindasan, perbudakan, degradasi dan penghisapan; tetapi bersamaan dengan ini bertumbuh pula pemberontakan kelas pekerja, sebuah kelas yang selalu meningkat jumlahnya, yang terlatih, bersatu, dan diorganisasi oleh mekanisme proses produksi kapitalis itu sendiri.  Monopoli kapital menjadi belenggu atas cara produksi yang berkembang sangat cepat dan tumbuh subur bersama dan dengannya. Sentralisasi alat-alat produksi dan sosialisasi kerja pada akhirnya sampai pada suatu titik di mana mereka menjadi bertentangan dengan pembungkus kapitalisnya. Bungkus itu pecah berantakan. Lonceng kematian dari kepemilikan privat kapitalis berdentang. Para perampas dirampas.” (Capital, hal. 536.)

Dari penjelasan singkat mengenai Das Kapital di atas (yang diambil dari penjelasan Marx sendiri), dan dengan melihat pada tujuan, metode, pendekatan, struktur dan bidangnya, sepertinya buku besar ini (Das Kapital) tidak akan sulit untuk dipahami oleh kaum buruh.

Berlanjut ke Studi 2....