facebooklogocolour

commoditiesStudi 2 akan berbicara tentang fenomena kapitalisme, yaitu mengelaborasi mengenai pembelian dan penjualan komoditas, yang di dalamnya, lebih jauh, berbicara tentang nilai pakai dan nilai, bentuk-bentuk nilai, serta fetisisme komoditas.

“Kekayaan dalam masyarakat di mana cara produksi kapitalis berlaku,” tulis Marx pada paragraf pertama Das Kapital, “mempresentasikan dirinya sebagai ‘akumulasi besar dari komoditas-komoditas’.... Oleh karena itu, investigasi kita harus dimulai dengan analisis mengenai komoditas itu.” (Capital, hal. 26.)

Kita akan mulai dengan nilai pakai dan nilai. Marx memulai analisisnya tentang komoditas dengan sebuah deskripsi mengenai dua sifat yang melekat pada komoditas, yaitu nilai pakai dan nilai. “Sebagai nilai-nilai,” tulis Marx, “semua komoditas hanyalah jumlah tertentu dari waktu kerja yang dipadatkan.” (Capital, hal. 28.) Apa yang dikatakan oleh Marx di atas penting untuk dicatat, tetapi Marx tidak berhenti di situ dalam menganalisis mengenai bentuk dari nilai, yang adalah nilai tukar. Marx langsung menuju ke titik krusial, memberikan pemahaman bahwa hal itu bukanlah bentuk rangkap dari komoditas, melainkan bentuk rangkap dari kerja.  “Saya adalah yang pertama secara kritis memeriksa dan menunjukkan sifat rangkap dari kerja yang terkandung dalam komoditas,” jelas Marx. “Karena poin ini adalah poros untuk memahami secara jelas perputaran ekonomi-politik, maka kita harus mengamatinya lebih cermat.” (Capital, hal. 29.)  Marx terlihat sedang memberi saran agar pembaca mencermati poin-poin penting yang menjadi poros untuk memahami ekonomi-politik. Dengan kata lain, tanpa pemahaman yang teliti mengenai poros, sebuah titik utama dalam perputaran, tidak mungkin untuk memahami perputaran ekonomi-politik. 

Pertama, Marx menjelaskan sebuah antagonisme laten (tersembunyi) dalam karakter rangkap (ganda) dari kerja: “Peningkatan kuantitas nilai pakai adalah peningkatan kekayaan material. Dengan dua jas maka dua orang dapat berpakaian, dengan satu jas maka hanya satu orang yang berpakaian. Namun, peningkatan kuantitas kekayaan material berhubungan dengan kejatuhan simultan dalam besaran nilainya. Gerak antagonostik ini memiliki asal-asulnya di dalam karakater rangkap dari kerja.” (Capital, hal. 32.)

Untuk memahami poin ini, kita harus mengingat dengan jelas karakter rangkap tersebut: kerja abstrak menciptakan nilai dan kerja kongkrit menciptakan nilai pakai. “Di satu sisi, secara fisiologis,” demikian tulis Marx, “kerja adalah pengerahan tenaga kerja manusia, dan dalam karakternya sebagai kerja manusia abstrak dan identik inilah kerja menciptakan dan membentuk nilai komoditas. Di sisi lain, kerja adalah pengerahan tenaga kerja manusia dalam bentuk khusus dan dengan tujuan tertentu, dan dalam karakternya sebagai kerja berguna yang kongkrit ini, kerja memproduksi nilai pakai.” (Capital, hal. 32.)

Sekarang kita masuk ke bentuk-bentuk nilai. Dalam uraian Marx, sebagaimana yang telah tertuang di dalam Das Kapital, ada empat bentuk dalam bentuk-bentuk nilai, dan empat bentuk ini adalah: (1) bentuk elementer (bentuk dasar/sederhana) atau aksidental dari nilai; (2) bentuk total atau luas; (3) bentuk umum; dan (4) bentuk uang.

Sepertinya kita dituntut untuk sabar ketika mempelajari pada bagian ini, di mana Marx menulisnya dengan sangat dialektis, dan tentu konsep ini sungguh kompleks. Pelajaran ini akan terasa mudah ketika perkembangan historinya sudah kita pahami.

Bentuk pertama atau bentuk elementer—20 yard linen equal dengan satu jaket—menunjukkan kepada kita bukan hanya pada aspek teoritikal dari perkembangan komoditas, tetapi juga akar historisnya:  “...Bentuk nilai elementer juga merupakan bentuk primitif dari nilai produk kerja, dan juga bahwa perkembangan bentuk komoditas bersinggungan dengan perkembangan bentuk nilai.” (Capital, hal. 40.)

Dalam kajian mengenai bentuk-bentuk nilai ini Marx mencoba membandingkan analisisnya dengan konsep Aristoteles, pemikir besar yang pertama kali menganalisis mengenai bentuk nilai. Aristoteles berpendapat bahwa bentuk-uang dari komoditas hanyalah suatu aspek yang lebih berkembang dari bentuk nilai sederhana, yaitu pernyataan nilai sebuah komoditas melalui komoditas lain yang dipilih secara acak. Aristoteles mengatakan, “5 kamar = 1 rumah.” Marx menanggapinya dengan mengatakan, “Ini tidak ada bedanya dengan 5 kamar = sekian banyak uang.” Di sini Aristoteles melihat bahwa hubungan nilai di atas mensyaratkan bahwa rumah tersebut secara kualitatif disetarakan dengan kamar itu (kesetaraan benda), dan bahwa kedua benda yang berbeda ini tidak dapat diperbandingkan satu sama lain tanpa persamaan yang mendasar seperti itu.

Melihat pendekatan yang digunakan oleh Arietoteles, dan melihat kondisi obyektif yang dihadapi oleh Aristoteles, di mana masyarakat Yunani didirikan di atas sistem perbudakan, Marx berkesimpulan bahwa pemikir besar itu tidak akan dapat melihat substansi umum dari kerja manusia. Di sini, dengan tegas, Marx membuat penolakan terhadap konsep Aristoteles mengenai bentuk nilai. Berbeda dengan konsep Aristoteles, Marx melihat bahwa dalam bentuk nilai komoditas, semua kerja dinyatakan sebagai kerja manusia yang setara dan karena itu merupakan kerja dengan kualitas yang sama.

“...Aristoteles tidak berhasil melihat kenyataan bahwa dalam bentuk nilai komoditas, semua kerja dinyatakan sebagai kerja manusia yang setara dan karena itu merupakan kerja dengan kualitas yang sama. Karena masyarakat Yunani didirikan di atas perbudakan, oleh karena itu memiliki basis naturalnya pada ketimpangan antara manusia dan tenaga kerjanya. Rahasia perntaan nilai, yaitu kesamaan dan kesetaraan semua jenis kerja karena dan sejauh merupakan kerja manusia secara umum, tidak dapat diuraikan sebelum konsep mengenai kesamaan manusia telah memperoleh ketetapan pendapat umum yang pasti.” (Capital, hal. 39.)

Sebelum meninggalkan bagian ini, yang berhubungan dengan bentuk nilai atau nilai tukar, mari kita menuju pada buah pikiran apa Marx yang ditulisnya di halaman 40: “Ketika di awal bab ini, kita telah mengatakan, dalam bahasa biasa, bahwa sebuah komoditas adalah nilai pakai dan nilai tukar sekaligus. Hal ini, kalau bicara ketat, sebenarnya salah. Sebuah komoditas adalah nilai pakai atau benda berguna dan sebuah ‘nilai’. Ia memanifestasikan dirinya sebagai barang yang memiliki sifat rangkap itu, ketika nilainya memiliki bentuk perwujudan sendiri, yang berbeda dari bentuk alamaiahnya. Bentuk perwujudan ini adalah nilai tukar, dan komoditas itu tidak pernah memiliki bentuk seperti ini jika dilihat secara tersendiri, melainkan hanya ketika berada dalam hubungan nilai atau hubungan pertukaran dengan komoditas lainnya dari jenis yang berbeda.”  Jadi, bagi Marx, bentuk nilai, yaitu pernyataan nilai sebuah komoditas, berasal dari sifat nilai yang ada di dalam komoditas. Analisis Marx ini berbeda dengan pendapat para ekonom pasar bebas pada waktu itu, yang mengatakan bahwa nilai dan besarannya berasal dari cara pernyataannya sebagai nilai tukar.

Bentuk nilai kedua adalah bentuk total atau luas. Bentuk ini menyatakan bahwa setiap barang dagangan dapat menjadi cermin nilai dari suatu komoditas. Nilai itu muncul sebagai kuantitas kerja manusia beku yang tanpa perbedaan. Kerja yang menciptakannya itu berlaku sebagai setara dengan setiap jenis lain dari kerja manusia, apapun bentuk alamiah yang dimilikinya, apakah diwujudkan di dalam jas, besi, atau emas. Jadi, misalnya kain lenan, berkat bentuk nilai ini, tidak lagi berada dalam satu hubungan sosial dengan semata-mata jenis lain dari komoditas,  melainkan dengan seluruh dunia komoditas. “Sebagai komoditas,” tulis Marx, “ia adalah warga dari dunia itu.” (Capital, hal. 41.) Rumusnya ditulis oleh Marx sebagai berikut: z komoditas A = u komoditas B atau = v komoditas C atau = w komoditas C atau = x komoditas E atau = dan lain-lain; (20 yard kain lenan = 1 jas, atau = 10 pon teh, atau = 40 pon kopi, atau = 1 kwarter gandum, atau = 2 ons emas, atau = ½ ton besi, atau = dan lain-lain).

Bentuk yang ketiga adalah bentuk nilai umum. Bentuk ini menyajikan bahwa semua produk kerja sebagai sekedar kuantitas-kuantitas beku dari kerja manusia yang tidak dapat dibeda-bedakan, dengan strukturnya yang membuktian bahwa ia merupakan pernyataan sosial dari dunia komoditas. Dengan ini dibuat jelas bahwa sifat umum kerja manusia membentuk sifat sosialnya yang khusus. Rumusnya ditulis (Capital, hal. 42.) sebagai berikut: 1 jas; 10 pon teh; 40 pon kopi; 1 kwarter gandum; 2 ons emas; ½ ton besi; x komoditas A; dan seterusnya = 20 yard kain lenan.

Dan bentuk nilai yang terakhir adalah bentuk uang. Dalam bentuk ini bukan lagi kain lenan yang menjadi penyetara universal, melainkan emas. Dengan kata lain, bentuk penyetara universal, melalui kebiasaan sosial, kini telah terjalin dengan bentuk alamiah khusus dari komoditas emas. Sebelumnya emas menghadapi komoditas lain sebagai komoditas, komoditas penyetara, tapi kemudian sebagai uang, yaitu setelah ia memonopoli posisi ini di dalam pernyataan nilai bagi dunia komoditas. Dan setelah itu, ketia ia sudah menjadi komoditas uang, menjadilah bentuk D berbeda dengan bentuk C, bentuk nilai umum akhirnya berubah menjadi bentuk uang.  1 jas; 10 pon teh; 40 pon kopi; 1 kwarter gandum; 2 ons emas; ½ ton besi; x komoditas A (akhirnya—rumusnya) = 2 ons emas. (Capital, hal. 45.)

Sama pentingnya dengan konsep tentang nilai adalah konsep mengenai fetisisme komoditas. “Suatu komoditas,” kata Marx, “dalam pandangan pertama nampak seperti barang yang biasa-biasa saja dan mudah dimengerti. Tetapi analisis terhadapnya menunjukkan bahwa ia sesungguhnya suatu barang yang aneh, penuh kepelikan metafisikal dan kerumitan-kerumitan teologikal.” (Capital, hal. 46.) Marx menamakan karakter penuh teka-teki ini fetisisme, yang melekatkan dirinya pada produk-produk kerja segera setelah mereka diprosuksi sebagai komoditas, dan oleh karenanya tidak terpisahkan dari produksi komoditas.    

Dari mana munculnya karakter penuh teka-teki dari produk kerja segera setelah mereka mengambil bentuk komoditas-komoditas?  “Jelas,” jawab Marx, “dari bentuk itu sendiri.” (Capital, hal. 46.)  “...[Yaitu] suatu relasi sosial tertentu antara manusia sendiri yang di sini mengambil, untuk mereka, bentuk fantastik dari suatu relasi di antara barang-barang. (Capital, ha. 47.) Ini adalah fetisisme komoditas, karena, “...Pada nilai tersebut tidak tertulis keterangan mengenai dirinya di dahinya; ia lebih mentransformasikan setiap produk kerja menjadi sebuah hieroglifik sosial.” (Capital, hal. 48.)

“Kategori-kategori ekonomi borjuis,” lanjut Marx, “justru ... adalah bentuk-bentuk pikiran yang sahih secara sosial dan oleh karenanya obyektif, karena relasi-relasi produksi termasuk pada cara produksi sosial telah ditentukan secara historis, yaitu produksi komoditas. Seluruh misteri komoditas, semua keajaiban dan perklenikan yang mengelilingi produk-produk kerja berdasarkan produksi komoditas, oleh karenanya lenyap seketika dan kita sampai pada bentuk-bentuk produksi lain. (Capital, hal. 49.)

Di dalam masyarakat-masyarakat yang lain, di mana produk kerja tidak mengambil bentuk komoditas, relasi-relasi sosialnya adalah jelas: “Kerja paksa,” jelas Marx, “seperti juga kerja yang menghasilkan komoditas, dapat diukur dengan waktu, tetapi setiap tani hamba tahu bahwa yang ia curahkan dalam melayani tuan feodalnya adalah suatu kuantitas khusus dari tenaga kerja pribadinya sendiri.  Pajak persepuluhan yang harus dibayarkan kepada pendeta adalah lebih nyata daripada doa restu pendeta. Dengan demikian, maka apapun yang mungkin kita pikirkan mengenai berbagai peranan yang dengannya orang-orang saling berhadap-hadapan satu sama lain dalam suatu masyarakat seperti itu, relasi-relasi sosial antara para individu di dalam melaksanakan kerja mereka pada semua peristiwa nampak sebagai relasi-relasi personalnya sendiri, dan tidak disamarkan sebagai relasi-relasi sosial antara benda-benda, antara produk-produk kerja.” (Capital, hal. 49-50.)

Akhirnya, sebagai analisis terakhir mengenai ini, Marx menunjukkan bahwa hanya produksi oleh orang-orang yang berhubungan secara bebas tidak akan ada misteri-misteri. “Selubung belum disingkirkan,” tegas Marx, “...sampai proses produksi material menjadi produksi oleh orang-orang yang tergabung secara bebas dan berada di bawah kontrol yang sadar dan terencana. (Capital, hal. 51.) Di sini Marx terlihat mulai memberikan gambaran yang jelas mengenai bagaimana menjalankan proses produksi yang manusiawi, yang bersesuainan dengan kebutuhan masyarakat, bukan produksi material yang diorientasikan untuk akumulasi kapital secara rakus. Marx menyebutnya sebagai sebagai produksi yang terencana dan terkontrol. Itulah produksi sosialis, sebuah sistem produksi yang berposisi antitesis dengan sistem produksi kapitalis.

Berlanjut ke Studi 3....