facebooklogocolour

GedungDPRRIMenyambut 100 tahun Revolusi Rusia, Militan akan menerbitkan seri artikel pendek “Belajar Revolusi Oktober”. Seri ini akan mengupas sejumlah pelajaran yang bisa kita petik dari pengalaman kaum Bolshevik dalam mempersiapkan organisasi yang memungkinkan mereka menumbangkan kapitalisme dan memenangkan revolusi.

Dengan berakhirnya Pilkada serentak baru-baru ini, akan relevan kalau kita membahas bagaimana seharusnya kelas buruh menanggapi pemilihan umum yang diselenggarakan oleh pemerintahan borjuasi.

Lenin selalu mengajarkan bahwa demokrasi yang ada hari ini selalu merupakan demokrasi borjuasi. Yang dimaksud Lenin adalah demokrasi ini akan selalu melayani kepentingan kelas borjuasi yang berkuasa. Tidak ada demokrasi yang netral. Parlemen yang dihasilkan oleh demokrasi borjuasi ini akan selalu menjadi institusi untuk menjamin dominasi modal atas kelas buruh. Oleh karenanya gol akhir dari perjuangan kelas buruh adalah membongkar parlemen (negara) borjuasi dan menggantikannya dengan parlemen (negara) buruh.

Meskipun demikian kaum Bolshevik tidak lantas menolak kerja dalam parlemen borjuis. Dalam beberapa kesempatan Lenin dan Partai Bolshevik mengajukan sejumlah kandidat untuk bertarung dalam pemilu yang digelar oleh rejim monarki Tsar, bahkan ketika parlemen tersebut adalah parlemen palsu (Duma). Dari sekitar 1908 sampai 1914, kaum Bolshevik mengirim perwakilan mereka untuk masuk ke dalam Duma guna memperjuangkan sejumlah reforma yang dapat memperbaiki kehidupan sehari-hari buruh. Mereka juga menggunakan parlemen sebagai platform untuk mengekspos kepalsuan dan kemunafikan dari demokrasi borjuis. Mimbar parlemen digunakan oleh kaum Bolshevik untuk berbicara mengenai sosialisme ke massa luas. Intinya kita harus bisa secara cerdik menggunakan setiap celah yang ada untuk semakin mendekatkan kita ke gol akhir perjuangan revolusi.

Bekerja dalam parlemen borjuis bukan tanpa bahaya. Ilusi parlementerisme – yakni paham bahwa sistem penindasan kapitalisme bisa dihapus dengan perjuangan parlementer belaka dalam pemerintahan borjuis – begitu kuat sehingga bisa mengooptasi perwakilan yang kita kirim ke dalam parlemen dan juga mengooptasi organisasi revolusioner yang melakukan kerja ini. Tetapi kerja apa yang tanpa bahaya. Oleh karena itu partai revolusioner harus memiliki fondasi ideologi yang kuat di antara anggotanya. Kerja parlementer bukan kerja sembarangan yang bisa dilakukan tanpa pertimbangan yang serius akan kesiapan organisasi. Tidak ada yang lebih buruk daripada menghancurkan organisasi karena gegabah atau tidak sabar ingin melakukan hal-hal yang besar. Inilah mengapa Lenin menekankan pentingnya penempaan teori dalam partai. Bukan untuk alasan sepele Lenin menulis begitu banyak artikel untuk mendidik kader-kadernya, dan bahkan kerap dituduh terlalu banyak berteori.

Kaum Bolshevik turut serta dalam pemilu Duma dengan program sosialis. Mereka tidak mengaburkan esensi sosialisme dari program pemilu mereka demi meraup suara lebih banyak. Kampanye pemilu dilihat sebagai alat agitasi dan propaganda untuk meluaskan gagasan sosialis di antara massa buruh. Pemilu adalah alat, dan bukan gol akhir. Walau Bolshevik hanya mendapat segelintir kursi dalam parlemen Duma, tetapi ini mereka gunakan dengan sangat efektif untuk meluaskan otoritas revolusioner mereka di antara massa buruh. Para perwakilan Bolshevik di Duma berdiri teguh di atas program sosialis dan tidak melakukan aliansi sama sekali dengan perwakilan kapitalis dan tuan tanah dalam Duma. Kerja ini, yang walau di permukaan tampak tidak membawa hasil, tetapi dalam jangka panjang menjadi satu dari banyak hal yang mempersiapkan Bolshevik untuk kemenangan Revolusi Oktober 1917.