facebooklogocolour

Perempuan Revolusi RusiaMenyambut 100 tahun Revolusi Rusia, Militan akan menerbitkan seri artikel pendek “Belajar Revolusi Oktober”. Seri ini akan mengupas sejumlah pelajaran yang bisa kita petik dari pengalaman kaum Bolshevik dalam mempersiapkan organisasi yang memungkinkan mereka menumbangkan kapitalisme dan memenangkan revolusi.

Tidak banyak yang tahu kalau Revolusi Rusia dipercikkan oleh pemogokan buruh perempuan di pabrik-pabrik garmen pada Hari Perempuan Internasional. Pada 8 Maret 1917 (atau tanggal 23 Februari 1917 menurut penanggalan lama Rusia pada saat itu), ribuan buruh perempuan di Petrograd turun ke jalan menuntut diakhirinya perang. Mereka tidak takut dihujani peluru oleh polisi dan tentara, karena pada saat itu Rusia terlibat dalam Perang Dunia Pertama dan semua aksi demonstrasi apalagi pemogokan bisa dicap sebagai tindakan pengkhianatan.

Mereka sudah tidak lagi tahan dengan antrean roti yang semakin hari semakin panjang, dan pasokan roti yang semakin hari semakin sedikit. Mereka tidak lagi ingin mengucurkan air mata mengantar anak laki-laki, suami, kekasih, ayah, dan kakak laki-laki mereka ke stasiun kereta untuk dikirim ke parit-parit perang, atau menerima berita kematian mereka, demi perang yang tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Di tengah peperangan yang berlumuran darah ini, mereka saksikan para kapitalis perutnya semakin buncit dari laba yang mereka dapatkan dari bisnis perang. Cukup sudah!

Para buruh perempuan ini tidak mengindahkan instruksi para pemimpin mereka, yang menganjurkan agar mereka tidak mogok karena khawatir mereka bisa dibantai oleh polisi dan tentara. Demikian jelas Trotsky di karyanya Sejarah Revolusi Oktober:

“23 Februari (8 Maret) adalah Hari Perempuan. Kelompok-kelompok Sosial Demokratik rencananya akan memperingati hari ini dengan kegiatan-kegiatan biasa: pertemuan, pidato, dan selebaran. Tidak ada yang mengira kalau hari itu akan menjadi hari pertama revolusi. Tidak ada satupun organisasi yang menyerukan pemogokan pada saat itu. Terlebih lagi, bahkan organisasi Bolshevik, dan yang paling militan – yakni komite distrik Vyborg, yang semuanya buruh – menentang aksi mogok. Mood massa, menurut Kayurov, salah seorang pemimpin buruh, sangatlah tegang; mogok bisa dengan cepat berubah menjadi pertempuran terbuka. Tetapi karena komite Vyborg berpendapat kalau belum waktunya untuk aksi militan, partai belum cukup kuat dan buruh masih belum punya kontak yang dekat dengan tentara, mereka memutuskan untuk tidak menyerukan pemogokan, sebagai gantinya mempersiapkan aksi revolusioner untuk waktu ke depan yang tidak ditentukan. Inilah rencana yang diikuti oleh komite Bolshevik pada malam sebelum 23 Februari, dan semua orang tampaknya setuju. Besok paginya, kendati semua instruksi ini, para buruh garmen perempuan di sejumlah pabrik mogok, dan mengirim perwakilan ke kaum buruh metal untuk meminta dukungan mereka.”

Dengan demikian, dimulailah Revolusi Rusia. 90 ribu buruh mogok pada hari itu, dan terus berlanjut dan semakin meluas ke kota-kota lain selama 5 hari yang penuh dengan ketegangan. Tsar memerintahkan polisi untuk menembaki para demonstran, tetapi rakyat sudah tidak lagi takut dengan panasnya timah peluru. Mereka melucuti senjata polisi, membakar kantor polisi, membebaskan kawan-kawan mereka dari penjara, dan memburu polisi sampai polisi harus bersembunyi.

Sementara pasukan berkuda Cossack yang selalu jadi andalan rejim untuk melibas demonstran dengan pedang mereka menjadi tak berkutik menyaksikan luapan revolusi yang tak terbendung. Semangat revolusi berhasil memenangkan hati para Cossack yang biasanya ditakuti ini. Walau pasukan Cossack ini tidak secara aktif berpihak pada buruh, mereka tidak lagi menginjak-injak demonstran dengan kuda mereka dan pedang mereka tetap di dalam sarung mereka. Mereka abaikan perintah pemimpin mereka. Trotsky menceritakan bagaimana pasukan Cossack membangkang:

“Para perwira ... membariskan pasukan berkuda Cossack di jalanan sebagai penghalang untuk mencegah para demonstran bergerak ke pusat kota. Tetapi ini pun sia-sia. Berdiri tegak dalam disiplin yang sempurna, pasukan Cossack tidak menghalangi buruh “menyelam” dari bawah kuda mereka. Revolusi tidak memilih jalannya sendiri, ia mengambil langkah pertamanya dari bawah perut kuda Cossack. Sungguh insiden yang luar biasa!”

Kartu terakhir rejim adalah tentara. Rejim sudah siapkan rencana yang rapi untuk memobilisasi sejumlah batalion tentara untuk menumpas demonstran. Tetapi tentara pun adalah manusia, dan di Rusia mereka adalah anak petani, anak buruh miskin. Mereka bukan robot tanpa hati. Batu karang disiplin militer hancur tergerus gelombang panas revolusi. Peran kaum perempuan di sini sangatlah krusial dalam meluluhlantakkan tentara, seperti yang diceritakan Trotsky:

“Peran yang besar dimainkan oleh buruh perempuan dalam hubungan antara buruh dan tentara. Mereka maju ke barisan tentara dengan lebih berani daripada laki-laki. Mereka genggam erat-erat senapan para tentara ini, memohon pada mereka, hampir seperti memerintah: “Letakkan bayonet kalian, bergabunglah dengan kami.” Para tentara ini kebingungan, merasa malu, dan saling menatap dengan cemas satu sama lain, bimbang; salah seorang dari mereka menurunkan senapannya, dan yang lainnya lalu mengikutinya dengan perasaan bersalah. Massa merangsek dan barisan tentara ini terbuka, pekik “Hurrah” membahana dengan gembira. Para tentara dikelilingi massa. Di mana-mana terdengar argumen, celaan, seruan, dan revolusi mengambil satu lagi langkah maju.”

Aparatus kekerasan rejim Tsar yang terkenal kokoh dan kejam ini runtuh karena tidak ada lagi yang ingin membelanya. Semua persiapan rejim untuk menumpas revolusi hanya jadi coretan belaka di atas kertas. Pada 14 Maret, 6 hari setelah aksi berani dari buruh perempuan di Petrograd, sang raja turun tahta. Revolusi Rusia dimulai, yang diakhiri dengan perebutan kekuasaan oleh kaum proletariat 8 bulan kemudian dalam peristiwa yang dikenal dengan nama “Revolusi Oktober”.

Revolusi Rusia yang dipercikkan oleh buruh perempuan menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa perjuangan sosialis tidak akan bisa dimenangkan tanpa keterlibatan aktif dari kaum buruh perempuan. Persatuan kelas antara buruh laki-laki dan perempuan, dan semua buruh dari berbagai gender, ras, kebangsaan, etnis, agama menjadi prasyarat kemenangan revolusi sosialis, dan transformasi sosialis pada gilirannya menjadi prasyarat dihapuskannya patriarki (dan semua bentuk penindasan) dalam masyarakat.