facebooklogocolour

Menyambut 100 tahun Revolusi Rusia, Militan akan menerbitkan seri artikel pendek “Belajar Revolusi Oktober”. Seri ini akan mengupas sejumlah pelajaran yang bisa kita petik dari pengalaman kaum Bolshevik dalam mempersiapkan organisasi yang memungkinkan mereka menumbangkan kapitalisme dan memenangkan revolusi.

RevolusiRusia1Memperingati 100 tahun Revolusi Oktober, kolom-kolom berita, jurnal dan media borjuasi dipenuhi dengan berbagai respons terhadap pertanyaan ini:  Mengapa Rusia Tidak Dapat Menghindari Revolusi Oktober? Dengan kebencian yang sama mereka mencoba menjelaskan peristiwa ini dengan nada setengah menghindar dan setengah menyayangkan. Meskipun mereka menyatakan oposisi mereka terhadap Tsar Nicholas II yang melibatkan Rusia dalam Perang Dunia I sehingga melahirkan Revolusi Oktober, mereka jauh lebih mengungkapkan kebencian terhadap Revolusi Oktober. Mereka berharap kaum Liberal Rusia mampu mengubah Rusia yang autokratik menjadi Rusia yang demokratis.

Jawaban-jawaban dari tuan dan nyonya terpelajar kita ini mereka tidak banyak membantu kita untuk mendekati pertanyaan sebenarnya.  Penjelasan mereka tidak lebih daripada penyesalan, atau lebih tepatnya, sebagai penyangkalan terhadap kenyataan yang terjadi. Namun, untuk mendekati pertanyaan itu, kita tidak perlu jauh-jauh keluar dari metode dialektika materialis yang sampai saat ini mampu menyediakan kita sebuah metode untuk menganalisa proses perkembangan sejarah. Bukan tanpa sebab, ketepatan metode ini menjadikan Bolshevik menjadi satu-satunya faktor paling penting dan menentukan dalam sejarah Revolusi Rusia.

Rusia saat itu adalah negeri terbelakang, jauh lebih terbelakang dibandingkan negeri Pakistan hari ini. Dengan tingkat buta huruf mencapai lebih dari 70 persen dari populasi, klas pekerja Rusia menempati minoritas kecil dalam masyarakat ― kurang dari 4 juta dari total populasi sekitar 150 juta jiwa. Rejim Rusia saat itu tidak mempunyai keinginan sama sekali untuk mengembangkan kekuatan produksi bangsa. Ia hanya mengejar tujuan-tujuannya sendiri, yakni sebagai mesin fiskal dan militer. Seperti yang dijelaskan oleh Trotsky, “Negara Rusia menelan produk nilai-lebih yang sangatlah besar; dalam kata lain, ia hidup dari menghisap klas-klas atas yang sedang dalam proses pembentukan, dan oleh karena itu menghambat perkembangan klas-klas ini yang memang sudah lambat. Bukan hanya itu saja. Negara Rusia merampas ‘hasil produksi yang penting’ dari kaum tani, merampas sumber penghidupannya, memaksa kaum tani untuk mengungsi dari tanah mereka – dan oleh karena itu menghambat pertumbuhan populasi dan perkembangan kekuatan-kekuatan produksi. Maka dari itu, karena Negara menelan produk nilai-lebih yang teramat besar, ia menghambat diferensiasi estate yang memang sudah lambat; karena ia merampas produk yang penting, Negara Rusia menghancurkan bahkan basis-basis produksi primitif yang dia butuhkan.” Dengan demikian, Tsarisme Rusia menjadi penghalang terbesar bagi perkembangan masyarakat Rusia, yang konsekuensi terburuknya menimpa rakyat pekerja Rusia.

Kunci dari keberhasilan setiap tatanan sosial yang pernah ada adalah seberapa jauh ia mampu mengembangkan kekuatan produksi. Tanpa itu, setiap rezim sosial yang berdiri di atasnya akan selalu tercabik-cabik oleh krisis dan kontradiksi. Semakin tersentralisir Negara, semakin ia berdiri di atas masyarakat, semakin Negara ini tidak mampu memecahkan kontradiksi antara mengejar kebijakan sosial dan kebutuhan mengembangkan kekuatan produksi. Hasil dari ini membuat revolusi tidak hanya menjadi suatu hal yang mungkin, tapi sebaliknya, menjadi satu-satunya jalan keluar.

Revolusi Demokratik atau Revolusi Sosialis?

Pertanyaan yang saat itu menghinggapi benak dari setiap kaum revolusioner adalah: apa karakter dari Revolusi Rusia yang mendatang? Revolusi Demokratik atau Revolusi Sosialis? Banyak kaum Marxis, terutama yang berhimpun di kamp Menshevik, berpendapat bahwa revolusi Rusia akan berkarakter demokratik. Untuk melampaui tahapan perkembangan demokratik, klas pekerja belumlah matang menurut kaum Marxis Menshevik, sehingga yang harus memimpin revolusi ini adalah kaum borjuasi liberal. Akan tetapi kaum borjuasi liberal sudah kehilangan keyakinan dalam melawan absolutisme dan tidak punya keberanian untuk menyelesaikan tugas-tugas demokratik.

Jauh sebelum proletariat Rusia merebut kekuasaan, kaum Marxis di sana telah mendiskusikan secara serius prospek revolusi sosialis di negeri terbelakang seperti Rusia, dimana feodalisme masih dominan tetapi kapital asing telah masuk dan menancapkan kukunya. Bahkan jauh sebelum Marxisme mulai tumbuh subur di Rusia, Marx sendiri tidak menihilkan prospek revolusi sosialis di Rusia dan senantiasa menghubungkannya dengan revolusi sosialis di negeri-negeri kapitalis barat. Dia menulis, “Bila revolusi Rusia menjadi sinyal untuk revolusi proletar di Barat, sehingga keduanya saling melengkapi, maka kepemilikan tanah bersama Rusia dapat menjadi titik awal dari perkembangan komunis.”

Meskipun klas proletariat menempati minoritas dalam populasi Rusia, ia memainkan peran yang penting dalam revolusi karena ketidakmampuan dari kelas-kelas lain (kelas borjuasi dan feodal) untuk memajukan bangsa. Hanya sedikit kaum Marxis, terutama Trotsky, yang menganggap bahwa revolusi ini demokratik dalam wataknya, namun tidak dalam metode dan aksinya. Ini membuat watak revolusi ini tak terinterupsi, yakni maju melampaui batas-batas revolusi demokratik.

Partai dan Kepemimpinan

Banyak dari kaum Marxis Rusia saat itu di sana tidak mampu melihat arah lain dari perkembangan ini. Bahkan banyak dari mereka terjebak pada skematisme sejarah yang kaku, bahwa revolusi demokratik harus dijalankan oleh klas borjuasi dan bukan yang lain. Dengan dalih kekuatan produksi yang rendah serta kondisi klas pekerja belum matang, mereka memaksakan skema kaku yang ada di pikiran mereka ke realitas. Ini tidak hanya melucuti proletariat dari kepemimpinannya, tapi juga menjauhkan klas proletariat dari kepeloporannya.

Di atas semua itu adalah peran partai Bolshevik, yang tanpanya seluruh perkembangan ini hanya menjadi ocehan di atas kertas belaka. Karakter unik Bolshevik terletak pada karakter kuat dari demokrasi dan sentralismenya, sebuah karakter kreatif yang membuat Bolshevik mampu segera berakselerasi sesuai dengan proses perkembangan sosial yang terjadi. Bolshevik tidak melarang pertentangan dan faksi-faksi dalam partai, jauh dari apa yang digambarkan oleh para sejarawan borjuasi, dimana digambarkan partai Bolshevik adalah partai tanpa demokrasi internal, dengan kepemimpinan seperti seorang konduktor musik yang mengarahkan tongkat.  Kenyataannya jauh panggang dari api. Kepemimpinan Bolshevik mendapatkan kepercayaan dari buruh, yang dimenangkannya bertahun-tahun melewati debat dan perselisihan internal. Hanya setelah kepemimpinan di dalam partai telah mendapatkan otoritas politik yang dimungkinkan, kepemimpinan ini mampu secara temporer meredam dan memperlunak pertentangan-pertentangan di dalam partai, tapi jauh daripada menghilangkan pertentangan itu sendiri.

Kendati demikian, kepemimpinan Bolshevik tidaklah homogen seperti apa yang digambarkan. Seperti halnya masyarakat itu sendiri, kesadaran dari lapisan kepemimpinan banyak yang tertinggal di belakang peristiwa. Bahkan ketika Revolusi Rusia pecah, banyak dari kepemimpinan Bolshevik terjebak pada formula lama dan memberikan dukungan mereka pada Pemerintahan Sementara (Borjuasi Liberal) yang mencoba mengarahkan arus revolusi ke jalur-jalur aman. Butuh hadirnya seorang Lenin untuk mengubah jalannya peristiwa. Melalui perdebatan internal sengit, Lenin mampu meyakinkan jajaran kepemimpinan bahwa klas proletariat harus merebut kekuasaan dan membuang kepercayaannya kepada Pemerintahan Sementara dan kaum Liberal. Ini membuat Bolshevik menjadi faktor menentukan dalam kemenangan Revolusi Rusia 1917.

Kemunculan klas proletariat dalam sejarah Rusia tidak terelakkan, hal yang sama seperti kemunculan Lenin dan Bolshevik. Namun ada sebuah hukum antara ketidak-terelakkannya sebuah peristiwa, yang nampak seperti kebetulan ini. Leon Trotsky pernah mengatakan bahwa keberhasilan revolusi sosialis dapat terjadi karena dua faktor, pertama adalah faktor obyektif (krisis dan revolusi) dan kedua adalah faktor subyektif (partai revolusioner). Bila faktor pertama dapat terjadi tanpa perlu persiapan, maka faktor yang terakhir ini, yakni partai revolusioner, tidak dapat diimprovisasi ketika ia dibutuhkan. Ia menuntut sebuah kerja persiapan yang panjang, mulai dari seleksi kader dan kepemimpinan. Jauh sebelum Lenin menjadi faktor menentukan dalam sejarah Rusia, Lenin telah menjadi kepemimpinan dalam partai. Seleksi kepemimpinan di dalam partai membutuhkan kader. Sedangkan kader tidak dapat diperoleh tanpa kerja panjang merekrut satu dua kader ke sisi Marxisme dan partai. Kombinasi antara kedua faktor tersebut membuat Rusia tidak mampu menghindari takdirnya pada Oktober 1917. Faktor subyektif inilah yang sedang Militan Indonesia bangun.

Sumber :

  1. Dominic Lieven, Could Russia have avoided revolution in 1917?, https://www.ft.com/content/7377905c-f38d-11e6-95ee-f14e55513608
  2. Marx dan Engels, Selected Works, vol. 1, hal. 100-1.
  3. Trotksy, Hasil dan Prospek