facebooklogocolour

 

Sejarah Bolshevisme sejak awal hingga menjelang Revolusi Rusia 1917 mengandung banyak pelajaran tentang bagaimana perjuangan kelas memberikan jawaban akhir atas pertanyaan seputar pembebasan perempuan. Dalam artikel ini, akan kita lihat bagaimana pendekatan Partai Bolshevik dalam melibatkan perempuan ke dalam tugas pembebasan masyarakat. Lenin menyadari, bahwa antara perjuangan kelas dan kaum perempuan mempunyai hubungan saling terikat yang tidak bisa dipisahkan. “Perjuangan kelas” itu sendiri bukanlah perjuangan kelas jika tidak ada pembebasan perempuan ke dalam agendanya.

Kondisi Kaum Perempuan Sebelum Revolusi

Sebelum Revolusi Oktober, mayoritas penduduk terdiri dari kaum tani yang hidup dalam keterbelakangan pedesaan, seperti yang telah mereka lakukan selama berabad-abad. Dalam kondisi seperti itu, perempuan diperlakukan seperti properti, dengan kata lain sebagai milik laki-laki. Rusia masih sangat patriarkal kala itu. Menurut hukum Tsar, perempuan tidak lebih dari sekedar budaknya laki-laki, dan tentu saja mereka mempunyai hak bahkan untuk memukul istri mereka. Penindasan terhadap perempuan tersebar luas di pedesaan yang terbelakang secara budaya, dimana Gereja dan tradisi masyarakat memegangnya dengan teguh seperti sebuah prinsip. Menurut laporan tahun 1897, hanya 13,1% perempuan Rusia yang melek huruf.

Lenin dalam analisanya tentang perkembangan kapitalisme di Rusia yang ditulis antara tahun 1896 dan 1899 mempelajari secara rinci situasi kelas pekerja Rusia dan beban ganda perempuan. Anak-anak, terutama anak perempuan, diharapkan dapat membantu di rumah dan di lapangan atau di pabrik. Banyak anak perempuan ditarik keluar dari sekolah setelah satu tahun bersekolah, itu pun jika mereka punya kesempatan untuk bersekolah. Dalam kebanyakan kasus, sangat sedikit perempuan yang dapat mengenyam pendidikan. Pekerja perempuan bekerja di pabrik pada usia 12-14 tahun, bahkan banyak di antaranya lebih awal. Hari kerja pun berlangsung sangat panjang hingga 18 jam untuk upah yang sangat sedikit.

Namun Lenin juga menggambarkan bagaimana perkembangan industri merupakan langkah progresif karena membuat perempuan dapat keluar dari rumah dan hubungan patriarki, dan malah menjadikannya bagian dari masyarakat yang independen. Secara khusus jika kita berbicara tentang transformasi yang dibawa oleh pabrik pada kondisi kehidupan penduduk, maka bisa kita sebut dalam konteks yang minimal, bahwa membawa pekerja perempuan dalam proses produksi adalah langkah yang progresif. Tidak terbantahkan bahwa pabrik-pabrik milik kapitalis ini telah menempatkan kategori populasi pekerja perempuan ini ke dalam kondisi yang sangat sulit, mengupah mereka dengan rendah meski beban kerja dengan para pekerja laki-laki adalah sama. Namun sebuah upaya untuk melarang kerja perempuan ke dalam industri atau untuk mempertahankan cara hidup patriarkal lama adalah sebuah tindakan reaksioner bahkan utopis.

Dengan menghancurkan isolasi patriarki dari kategori populasi (baca: perempuan) yang sebelumnya tidak pernah muncul dari lingkaran sempit domestik dan keluarga, dengan menarik mereka ke dalam partisipasi langsung pada proses produksi sosial, industri mesin skala besar telah merangsang perkembangan mereka dan meningkatkan kemandirian mereka. Dengan kata lain, menciptakan kondisi kehidupan yang jauh lebih unggul daripada imobilitas patriarki dari hubungan pra-kapitalis.

Pecahnya perang dunia pertama 1914, mempercepat proses integrasi perempuan ke dalam angkatan kerja. Pada industri tekstil, perempuan menjadi mayoritas pekerja di banyak pabrik. Juga, di industri logam, kehadiran pekerja perempuan meningkat secara signifikan. Hal ini berdampak besar pada bagaimana revolusi dilipat.

Kaum Perempuan dan Partai Bolshevik

Kaum perempuan berpartisipasi dalam kerja revolusioner dan juga memainkan peran penting dalam peristiwa revolusioner selama sembilan bulan antara Februari dan Oktober. Namun bagaimanapun juga akan keliru jika melihat kaum perempuan hanya eksis mulai peristiwa Februari 1917. Memang benar bahwa sebelum revolusi massa pekerja perempuan terkungkung dalam kondisi yang pasif. Meski begitu, selama bertahun-tahun, Partai Bolshevik secara sadar bekerja untuk memenangkan lapisan termaju dari pekerja perempuan dan secara kolektif bekerja bersama dalam jajaran partai. Bahwa pada saat kaum Bolshevik dapat mengambil alih kekuasaan pada Oktober 1917, oleh karena itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari usaha sadar untuk meningkatkan kesadaran kelas dan mempersatukan kelas pekerja tidak hanya di antara perbedaan nasionalitas atau kebangsaan melainkan juga perbedaan gender.

Namun sebelum mencapai tahapan kesadaran berjuang di bawah panji perjuangan kelas, gerakan perempuan di Rusia awalnya terdiri dari berbagai bentuk yang kecenderungannya didominasi oleh tipikal borjuis kecil. Seperti yang ditunjukkan oleh Engels, bahwa salah satu kelompok yang di dalamnya terdapat keterlibatan perempuan adalah lingkaran Tchaikovsky yang didirikan sekitaran tahun 1870 yang diinisiasi oleh laki-laki dan perempuan yang disatukan oleh prinsip etika dan moral, namun tanpa kesamaan ideologi. Tujuan kelompok ini adalah menyebarkan propaganda sosialis di antara penduduk, dengan membuat mereka menyadari eksploitasi yang diderita dan kemungkinan untuk mengatasinya adalah dengan revolusi yang didasarkan pada kaum tani. Kelompok sosialis yang bekerja dalam organisasi politik yang dibentuk pada periode itu, cenderung memusatkan perhatian mereka pada masalah buta huruf dan kebutuhan untuk meningkatkan tingkat kebudayaan lapisan masyarakat yang banyak dieksploitasi. Dari sini dikembangkan pengorganisiran berbentuk pendidikan tentang kapitalisme dan eksploitasi kelas, serta penyebaran tulisan politik.

Sumbangsih terbesar dari lingkaran Tchaikovsky untuk perjuangan emansipasi perempuan adalah bagaimana mereka melibatkan perempuan dalam aktivitas politik pada level yang sama dengan laki-laki. Namun para perempuan yang masuk dalam lingkaran ini berasal dari kelompok yang melarang partisipasi laki-laki. Hal ini tidaklah mengejutkan, mengingat bahwa ini dalam konteks Rusia yang terbelakang, dimana ketakutan akan dominasi laki-laki dialami secara berbeda dalam lingkaran keluarga dan masyarakat secara keseluruhan, telah membawa aktivis perempuan sosialis melihat kehadiran laki-laki sebagai ancaman terhadap otonomi mereka. Sikap ini tidak lebih dari fase yang diperlukan untuk – dalam konteks yang ada – proses emansipasi pribadi.

Setelah mencapai tingkat kebebasan ekonomi dan politik tertentu, dan setelah memperoleh tingkat kesadaran kelas yang memadai, kebutuhan untuk melampaui perjuangan “pribadi” dan untuk merangkul perjuangan berkarakter sosial yang luas menjadi lebih jelas. Banyak perkembangan politik perempuan mengikuti jalur umum yang sama: penaklukan kemerdekaan individu akan mendorong mereka menanggalkan feminisme, dalam bentuk yang lebih terbatas (borjuis), membawa mereka pada radikalisme kelompok Tchaikovsky dan prakarsa serupa lainnya, dimana kedua jenis kelamin bersatu dalam propaganda dan agitasi sosialis.  

Bolshevik memahami dialektika perkembangan tersebut dan selalu melihat kerja revolusioner di kalangan pekerja perempuan dengan sangat serius. Lenin, khususnya, sangat mementingkan pertanyaan ini, terutama pada periode kebangkitan 1912-1914 dan selama Perang Dunia Pertama. Pada saat itulah Hari Perempuan Internasional (8 Maret) mulai dirayakan oleh masa kelas buruh dengan demonstrasi. Bukanlah sebuah kebetulan bahwa revolusi Februari (Maret, menurut kalender baru) juga terjadi bersamaan dengan perayaan Hari Perempuan, dimana kala itu kaum perempuan menuntut dihentikannya perang dan karena biaya hidup yang melambung tinggi.

Sosial Demokrat telah memulai pekerjaan yang konsisten di kalangan pekerja perempuan selama kebangkitan 1912-1914. Bolshevik menyelenggarakan pertemuan Hari Perempuan Internasional pertama di Rusia tahun 1913. Pada tahun yang sama Pravda mulai secara teratur menerbitkan sebuah halaman yang ditujukan untuk masalah-masalah yang dihadapi kaum perempuan. Bolshevik meluncurkan sebuah surat kabar bernama Rabotnitsa (Pekerja Perempuan) pada tahun 1914, dengan edisi pertama yang diterbitkan bersamaan dengan Hari Perempuan Internasional, saat Partai mengorganisir sebuah demonstrasi. Koran Bolshevik ini mendapat dukungan secara finansial dari pekerja perempuan dan mereka mendistribusikan koran tersebut di tempat kerja. 

Kerja-kerja kaum revolusioner Sosial Demokrat di Rusia selama Perang Dunia Pertama menghadapi banyak kesulitan. Keberadaan Partai dan serikat-serikat dilarang. Namun pada tahun 1915, gerakan kembali pulih dari pukulan yang diterima pada bulan-bulan pertama perang. Salah satu medan kerja dimana ia mulai membuat keuntungan yang penting adalah di kalangan perempuan, yang ditarik ke dalam angkatan kerja industri dalam jumlah besar.

Dengan pecahnya perang, perempuan mengisi sepertiga dari pekerja industri, dan sebagian besar masih berada di industri tekstil. Kondisi ini terus meningkat selama perang karena laki-laki dimobilisasi ke dalam dinas militer. Kondisi para perempuan menjadi semakin buruk dan terpuruk karena pada sebagian besar kasus, mereka menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga dan kebutuhan hidup menjadi semakin langka dan lebih mahal. Para pekerja perempuan mengambil bagian dalam demonstrasi dan pemogokan menentang kesulitan ekonomi yang diciptakan oleh keterlibatan Rusia dalam perang tersebut.

Dalam kondisi seperti ini, kerja kaum Bolshevik membuahkan hasil dan mereka menarik lebih banyak perempuan, terutama pekerja perempuan. Sebelum tahun 1905, lebih dari 60 persen perempuan Bolshevik berasal dari kalangan intelektual dan 28,2 persen adalah pekerja. Setelah Revolusi Februari, pekerja mewakili 45,6 persen anggota perempuan. Politik apatis yang diciptakan oleh perang bagaimanapun tidak berlangsung lama. Kekalahan militer, keruntuhan ekonomi dan kenaikan harga pangan membawa sejumlah besar pekerja, termasuk perempuan, dalam aksi pemogokan sporadis melawan kondisi menyedihkan ini. Semua ini lalu berujung pada Revolusi Februari 1917.

Kaum Perempuan Setelah Oktober

Di Rusia era Tsar, menurut hukum: “Istri dipelihara untuk mematuhi suaminya, sebagai kepala keluarga, untuk tetap bersamanya dalam cinta, rasa hormat, ketaatan yang tidak terbatas, untuk melakukan segala kebaikan dan menunjukkan kepadanya setiap kasih sayang sebagai ibu rumah tangga”. Sedangkan di dalam lembaran Program Partai Komunis tahun 1919 menyatakan: “Tugas Partai saat ini terutama bekerja di ranah gagasan dan pendidikan sehingga sama sekali menghancurkan semua ketidaksetaraan atau prasangka lama, terutama diantara lapisan terbelakang kaum proletar dan kaum tani. Tidak membatasi diri pada kesetaraan formal perempuan, Partai berusaha membebaskan mereka dari bentuk beban kerja rumah tangga yang usang dengan menggantinya berupa (menyediakan) rumah-rumah komunal, tempat makan umum, pusat binatu, tempat penitipan anak dan lain-lain”.

Namun, kemampuan untuk melaksanakan program ini bergantung pada standar kehidupan dan budaya masyarakat secara umum, seperti yang dijelaskan oleh Trotsky dalam artikelnya “Dari Keluarga Lama ke (Keluarga) Baru”, yang muncul di koran Pravda pada 1923: “Persiapan fisik untuk kondisi kehidupan baru dan keluarga baru, sekali lagi, pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan umum konstruksi sosialis. Negara buruh harus menjadi lebih kaya sehingga mungkin secara serius menangani pendidikan publik anak-anak dan melepaskan keluarga dari beban dapur dan binatu. Sosialisasi kerja rumah tangga dan pendidikan publik anak-anak tidak terpikirkan tanpa adanya perbaikan yang mencolok dalam ekonomi kita secara keseluruhan. Kita memerlukan lebih banyak bentuk ekonomi sosialis. Hanya di bawah kondisi seperti ini kita dapat membebaskan keluarga dari fungsi dan kepedulian yang sekarang menindas dan menghancurkannya. Pencucian harus dilakukan oleh pusat binatu, makanan disediakan oleh restoran umum, dan penjahitan oleh workshop publik. Anak-anak harus dididik oleh guru publik yang baik, yang memiliki panggilan nyata untuk pekerjaan itu. Kemudian ikatan antara suami dan istri akan terbebas dari segala sesuatu yang bersifat eksternal dan aksidental, dan suami tidak akan lagi menyerap kehidupan sang istri. Kesamaan sejati akhirnya akan terbentuk. Ikatan akan tergantung pada saling keterikatan. Dan dengan demikian, ikatan antara laki-laki dan perempuan akan meraih kestabilan internal, yang tentunya tidak sama untuk semua orang, tetapi tidak akan menjadi paksaan bagi semua orang.”    

Revolusi Bolshevik meletakkan dasar bagi emansipasi sosial perempuan, dan meskipun politik Stalinis yang kontra revolusioner mewakili sebagian kemunduran capaian ini, tidak dapat dipungkiri bahwa kaum perempuan di Uni Soviet membuat langkah besar dalam perjuangan untuk kesetaraan. Kaum perempuan tidak lagi berkewajiban untuk tinggal dengan suami mereka atau menemani mereka jika perubahan pekerjaan berarti perubahan pekerjaan rumah. Mereka diberi hak yang sama untuk menjadi kepala rumah tangga dan mendapat upah yang sama. Perhatian diberikan pada peran Ibu yang melahirkan dan undang-undang persalinan khusus diperkenalkan dengan melarang kerja keras berjam-jam, kerja pada malam hari, dan menetapkan pembayaran upah meski cuti melahirkan, tunjangan keluarga dan pusat pelayanan anak. Aborsi disahkan pada 1920, perceraikan disederhanakan dan pendaftaran pernikahan sipil diperkenalkan. Konsepsi mengenai anak haram juga dihapuskan. Dalam kata-kata Lenin: “Secara harfiah, kita tidak meninggalkan satu bata pun dari hukum yang tercela yang menempatkan perempuan dalam keadaan inferior dibandingkan dengan laki-laki”.    

Dalam bukunya Revolusi Yang Dikhianati, Trotsky menulis: “Revolusi Oktober secara jujur memenuhi kewajibannya kepada kaum perempuan. Pemerintahan yang muda ini bukan hanya memberinya semua hak hukum dan politik setara dengan laki-laki, namun, yang lebih penting, pemerintah melalukan segala yang bisa dilakukan dan, jauh lebih banyak dari apa yang pernah dilakukan pemerintah lainnya, dengan sungguh-sungguh menjamin akses perempuan ke segala bentuk kerja ekonomi dan budaya. Walau demikian, revolusi yang paling berani sekalipun, seperti parlemen Inggris yang “maha digdaya” itu, tidak akan dapat mengubah perempuan menjadi laki-laki – atau lebih tepatnya, tidak dapat membagi dengan sama rata di antara mereka beban kehamilan, persalinan, penyusuan, dan perawatan anak. Revolusi membuat satu langkah heroik untuk menghancurkan apa yang disebut “rumahtangga” – institusi usang, jenuh dan stagnan, di mana perempuan kelas pekerja melakukan kerja rodi dari kanak-kanak hingga wafatnya. Keluarga sebagai sebuah unit ekonomi kecil yang terisolasi akan digantikan, menurut rencana, oleh sebuah sistem perawatan dan akomodasi sosial: rumah bersalin, pusat pengasuhan anak, taman kanak-kanak, sekolah, ruang makan sosial, tempat cuci pakaian sosial, stasiun P3K, rumah sakit, sanatorium, klub olahraga, bioskop, dll. Penyerapan total atas fungsi-fungsi rumah tangga, di dalam keluarga oleh lembaga-lembaga masyarakat sosialis, yang menyatukan semua generasi dalam solidaritas dan gotong-royong, akan membawa pembebasan sejati dari belenggu yang telah berusia ribuan tahun.” ( Trotsky, Revolusi Yang Dikhianati, halaman 163)