|
Hampir tujuh tahun berlalu sejak George Bush, waktu itu
presiden Amerika Serikat, mengucapkan pidatonya yang terkenal,
"Tatanan Dunia Baru". Itu terjadi tahun 1991. Saat melancarkan Perang
Teluk, kekuatan Imperialis yang paling utama di muka bumi menjanjikan
sebuah dunia tanpa peperangan, tanpa kediktatoran, dan &endash;tentu
saja&endash; sebuah dunia yang sepenuhnya berada di bawah kontrol
satu-satunya polisi dunia yang berkuasa penuh &endash;Amerika
Serikat. Setelah keruntuhan Stalinisme, Imperialisme AS benar-benar
mengira bahwa dunia akan dengan lekatnya berada di bawah perintah
mereka dan mereka akan bisa mendikte nasib tiap negara. Semua konflik
di dunia diselesaikan melalui dialog dalam semacam "Pax Americana".
Nyatanya, sekarang semua impian ini telah tereduksi menjadi
puing-puing semata.
Dominasi imperialisme yang sifatnya menghancurkan di dalam arena
dunia, yang makin kuat saja setelah keruntuhan Stalinisme, berarti
terjadinya eksploitasi yang makin parah terhadap Dunia Ketiga secara
keseluruhan. Dominasi negara-negara metropolitan masih lebih besar
daripada di masa lalu. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa
birokrasi-militer lama yang langsung dikontrol oleh individu boss
kolonial telah diganti tempatnya oleh dominasi kolektif atas dunia
kolonial oleh negara-negara eksploiter yang kaya raya melalui
mekanisme pasar. Di bawah panji "globalisasi" dan "pembukaan pasar"
imperialisme melakukan pemaksaan melalui kebijaksanaan penurunan
tarif dan swastanisasi berbagai prasarana di seluruh Dunia Ketiga.
Kebijakan-kebijakan ini adalah satu akibat dari krisis kapitalisme di
Dunia Barat yang memaksa negara-negara imperialis tadi untuk terus
mencari pasar dan lapangan investasi baru. Tetapi mereka menetakkan
kebangkrutan bagi industri-industri lokal di negara-negara yang
mereka datangi, industri-industri yang tak dapat melawan berbagai
perusahaan multinasional raksasa. Situasi ini telah memproduksi
konsekuensi-konsekuensi yang paling membinasakan dan telah
menghasilkan akibat-akibat yang sebelumnya tidak terlihat oleh
Presiden Bush.
Secara tipikal, para pembuat strategi AS mempunyai pandangan
pendek. Mereka gagal mengerti apa yang telah diterangkan oleh Trotsky
bahkan sebelum Perang Dunia Kedua. Trotsky meramalkan bahwa Amerika
Serikat akan muncul dengan jayanya dari hiruk pikuk perang yang akan
tiba, tetapi sebagai akibatnya Amerika Serikat memasang dinamit di
pondasinya sendiri. Saat ini kita melihat bahwa ramalan ini menjadi
kenyataan. Kolapsnya Uni Soviet telah merubah bentuk relasi di antara
pemilik kekuasaan, menjadikan USA sebagai satu-satunya negara adi
daya di dunia. Dalam sejarah umat manusia, tidak pernah ada satu
negara tunggal yang menikmati dominasi ekonomi dan militer sedemikian
rupa. Malahan krisis yang datang terus-menerus adalah manifestasi
bahwa imperialisme AS adalah si Colossus berkaki lempung. Meskipun
mengalami kemenangan militer dalam Perang Teluk, AS tidak mampu
menggeser Saddam Hussein. Usahanya dalam intervensi militer melawan
milisi cakar ayam di Somalia berakhir dalam satu kekalahan memalukan.
Sekarang krisis di Asia dan khususnya berbagai kejadian di Indonesia
telah menempatkan revolusi secara ajeg dalam agenda. Di Selatan,
Amerika Serikat menghadapi suatu krisis menyeluruh di Amerika Tengah
dan Amerika Latin dengan berbagai gejolak sosial politik di Meksiko,
sebuah perang gerilya yang ber kepala batu di Kolombia, dan sebuah
situasi eksplosif di Argentina dan Brazil. Ke mana saja ia
mengarahkan pandangan, imperialisme AS dapat melihat bahwa tidak ada
satupun rezim borjuis bisa stabil. Seluruh dunia telah masuk ke dalam
periode paling kejang dalam kurun waktu ratusan tahun.
BEBAN HUTANG
Eksploitasi berlebihan terhadap Dunia Ketiga, yang makin intensif
setelah keruntuhan Stalinisme, mempunyai arti terjadinya perpindahan
kekayaan dari negara-negara ini ke peti penyimpanan uang milik
perusahan-perusahaan multinasional raksasa dan bank-bank. Hal ini
dapat terlihat pada beban hutang yang telah mencapai proporsi yang
bahkan sebelum pertemuan G-8 di Birmingham (Mei 1998) telah ada
beberapa pembicaraan mengenai inisiatif keringanan pinjaman bagi
beberapa negara termiskin. Di akhir pertemuan itu tidak ada satupun
inisiatif disetujui. Bank Dunia &endash;tanpa membicarakan
pengembalian hutang yang sebenarnya, juga telah memulai sebuah
program HIPC (Highly Indebted Poor Countries) yang bertujuan untuk
memotong beban hutang 41 negara yang membelanjakan lebih dari 20
persen pendapatan ekspor mereka untuk pembayaran bunga hutang.
Semua rencana ini tidaklah lahir dari niat baik dan kemurahan hati
para eksekutif Bank Dunia dan IMF. Ada tiga alasan utama untuk hal
ini. Yang paling pertama adalah sangat tidak mungkin bahwa
negara-negara ini akan pernah mampu membayar hutang mereka. Oleh
karena itu, mereka (IMF dan Bank Dunia) telah memutuskan untuk
mengenali realita dan membuat pemerintahan-pemerintahan dunia Barat
mengembalikan apa yang dipinjamnya dari bank-bank penyandang dana
dengan uang para pembayar pajak. Dalam cara ini bank tidak pernah
kalah. Tujuan utama dari inisiatif-inisiatif keringanan hutang ini
adalah, di satu sisi, untuk memaastikan bahwa para bankir memperoleh
kembali uang mereka, dan di sisi lain, untuk mengangkat negara-negara
yang banyak hutang ini ke suatu posisi di mana mereka bisa meminta
lebih banyak pinjaman! Kedua, jumlah hutang yang dipinjam oleh
negara-negara penghutang terbesar ini, sebagai sebuah persentase dari
total pinjaman negara-negara yang dulunya negara-negara jajahan,
adalah sangat kecil. Dan yang ketiga, rencana-rencana keringanan tadi
datang bersama-sama dengan banyak sekali syarat-syarat terkait.
Negara-negara yang terlibat harus melaksanakan
"rekomendasi-rekomendasi" (yaitu, perintah) dari IMF.
Rencana Penyesuaian Struktural (SAPs, Structural Adjustment Plans)
IMF yang terkenal sekarang telah berjalan cukup lama hingga dapat
mengetahui apa konsekuensi-konsekuensinya. Sebagai satu contoh,
Zambia adalah sebuah negara yang relatif berkembang dengan
sekolah-sekolah dan rumah sakit-rumah sakit, pelayanan pendidikan,
serta sebuah infrastruktur modern yang dibangun terutama di atas
basis pendapatan dari pertambangan tembaga. Sepuluh tahun pelaksanaan
"penyesuaian struktural" menggiring angka harapan hidup jatuh dari
54,4 tahun di tahun 1991 menjadi 42,6 tahun di tahun 1997. Angka
melek huruf berkurang, dan sebagai akibat langsung dari naiknya biaya
rumah sakit sekarang tercatat 203 kematian bayi per 1.000 kelahiran
dibandingkan 125 di tahun 1991. Akses mendapatkan air bersih juga
berkurang, dan 98,1 persen jumlah penduduk hidup atas 2 USD per hari
atau malah kurang. Hutang negara mewakili 225 persen GDP (Gross
Domestic Product). Oleh karena itu, sama sekali tidak mengejutkan
bahwa baru-baru ini terjadi kerusuhan pangan di Zambia &endash; juga
di negara-negara yang lain, seperti Zimbabwe dan Tanzania.
Beban hutang negara-negara termiskin di dunia menghabiskan 94
persen pendapatan ekonomi per tahun mereka. Untuk negara-negara yang
termasuk dalam program HIPC gambaran ini berkisar 125 persen.
Dibandingkan pendapatan hasil ekspor, persentase hutang telah
mencapai tingkat yang belum pernah terdengar: Somalia 3.671 persen,
Guinea-Bissau 3.509 persen, Sudan 2.131 persen, Mozambik 1.411
persen, Ethiopia 1.377 persen, Rwanda 1.374 persen, Burundi 1.131
persen. Dan jauh dari membaik, situasi secara nyata malah makin
memburuk. Tahun 1980 total jumlah hutang dari negara-negara belum
berkembang adalah 600 miliar USD. Di tahun 1990 jumlah itu naik
hingga 1,4 triliun USD dan tahun 1997 jumlah itu secara mengagetkan
menjadi 2,17 triliun USD. Adalah penting untuk mencatat bahwa dalam
periode 1990-97, ketika jumlah hutang total naik 770 miliar US
dollar, negara-negara ini sebenarnya telah membayar 1,83 triliun US
dollar hanya untuk bunga hutang. Sebuah gambaran yang lebih bersifat
skandal licik akan muncul jika kita membandingkan pembayaran bunga
hutang dengan bantuan yang diterima negara-negara ini, yaitu untuk
satu dollar yang mereka terima dalam bantuan, mereka membayarkan
kembali 11 dollar untuk bunga hutang.
Akibat-akibat situasi ini jelas. Situasi di seluruh Afrika
Sub-Sahara adalah mimpi buruk. Menurut The Economis (6/6/98), "Hampir
setengah dari 760 juta orang yang di benua ini 'amat sangat miskin',
bertahan hidup, diungkapkan oleh ADB (Bank Pembangunan Afrika), atas
kurang dari 1 dollar per hari. Walaupun terdapat tanda-tanda yang
membesarkan hati dalam beberapa bagian benua, rata-rata pertumbuhan
GDP nyata turun di tahun 1997 menjadi 3,7 persen dari 5 persen di
tahun sebelumnya. Kesembuhan Afrika masih rapuh dan tatap sama rentan
dengan sebelumnya terhadap harga-harga komoditas dan iklim ekonomi
yang memburuk. Globalisasi perdagangan dunia... dapat menekan ekonomi
benua ini jauh melampaui margin batasnya. Menurut Bank Dunia Afrika
hanya menarik minat 1,5 persen investasi langsung milik penanam modal
asing di tahun 1996. Penerima bantuan terbesar, memperoleh 32 persen
dari jumlah total, adalah Nigeria yang, terpisah dari fakta mempunyai
persediaan minyak bumi, tidak mereformasi ekonominya dalam cara di
mana minyak bumi dikatakan oleh Bank Dunia sebagai essensial untuk
menarik investasi asing." Meningkatnya tingkat pemiskinan dari
penduduk di sebagian besar dunia kolonial telah memberikan kenaikan
tajam pada meningkatnya jumlah kriminalitas, pasar gelap, dan
"ekonomi informal". Dalam beberapa kasus, pasar gelap mewakilkan
jumlah yang lebih besar dalam bidang ekonomi dibandingkan pasar resmi
dan pasar gelap ini merembes ke semua bidang aparatus negara. Mereka
mencoba melindungi kepentingan mereka dalam arena politik melalui
kekuatan-kekuatan kaum fundamentalis dan "populis". Semua ini adalah
kekuatan-kekuatan ekonomi yang dahsyat yang dalam banyak kasus
memiliki kepentingan-kepentingan yang lalu menimbulkan konflik dengan
kepentingan-kepentigan imperialisme. Jadi, di semua tingkatan,
pembusukan kapitalisme merusak apa yang menjadi hal paling dasar bagi
eksistensi umat manusiia di dua per tiga planet. Sebagaimana Lenin
ingatkan, perpanjangan eksistensi kapitalisme menandai "horor tanpa
akhir".
PERAN KELAS PEKERJA
Marx, Engels, dan Lenin senantiasa memberi penekanan pada peran
terdepan dari kaum proletariat di dalam revolusi. Mereka menjelaskan
bahwa hanya kelas pekerja yang bisa mengusung revolusi kaum sosialis.
Tak ada kelas lain yang dapat memenuhi peran ini. Mengapa begini? Ini
bukanlah sebuah cetusan pikiran yang tiba- tiba atau sebuah asumsi
arbiter. Ia berbasis pada peran para pekerja dalam produksi, dan
kenyataan bahwa partisipasi dalam produksi kolektif ("sosial")
berarti bahwa kelas pekerja sendirian membangun sebuah kesadaran
sosialis (kolektifis). Ini bukan kasus dengan kelas lain. Kaum tani
adalah sebuah kelas para pemilik kecil. Bahkan para petani yang tak
bertanah, kaum proletariat pedesaan, sering sekali mendambakan
pemilikan tanah; jadilah slogan "Tanah untuk penggarapnya"
&endash;yang, meski ini merupakan signifikasi revolusioner yang luar
biasa, semboyan ini memiliki kandungan borjuis, bukan sosialis. Para
mahasiswa dan kaum cendekiawan mempunyai sebuah tendensi yang kuat
terhadap individualisme borjuis kecil, yang seringkali memunculkan
dirinya bahkan ketika mereka mencoba mengadopsi posisi revolusioner.
Melalui pengalamannya, kaum proletariat belajar untuk memahami
organisasi kolektif dan disiplin. Inilah hasil dari sekolah keras
produksi dan eksploitasi kapitalis, yang mempersiapkan para pekerja
untuk menghadapi perjuangan kelas. Senjata-senjata wajar milik kaum
proletar adalah metode-metode perjuangan massa &endash;pemogokan,
pemogokan umum, demonstrasi massa, yang bertindak sebagai sebuah
sekolah yang mempersiapkan kelas ini untuk tugas utamanya, yaitu
mengambil alih jalannya masyarakat ke dalam tangannya. Gerakan kaum
pekerja di semua tempat adalah sekolah demokrasi. Sebelum para
pekerja itu memutuskan untuk melakukan pemogokan, terdapat diskusi
demokratis di mana di dalamnya pendapat yang saling bertentangan
dapat terdengar. Tetapi sekali telah diambil pilihan suara, kaum
bekerja bertindak sebagai satu kesatuan. Mereka yang telah mencoba
menghianati keputusan demokratis para pekerja dan mengacaukan
pemogokan diperlakukan sebagai buruh penghianat yang memang harus
dihukum. Unjuk rasa adalah ekspresi kongkrit dari kehendak mayoritas.
Selama berlangsungnya pemogokan kaum pekerja berpartisipasi, bekerja,
dan berdiskusi. Setiap pekerja mengetahui bahwa ia belajar lebih
banyak selama satu hari pemogokan dibandingkan satu tahun kehidupan
"normal". Akibatnya, setiap pemogokan mengandung elemen-elemen
revolusi dan sebuah revolusi adalah apa yang teradapat dalam sebuah
pemogokan dalam skala besar dan luas. Banyak proses-proses yang
muncul di dalam kelas bersifat analog, meskipun dua hal tadi berbeda
secara kualitatif. Tetapi di masing-masing keduanya elemen kuncinya
adalah partisipasi aktif dan sadar dari kelas pekerja, yang mulai
mengambil alih nasibnya ke tangannya sendiri daripada menyerahkannya
kepada orang lain &endash;para pemimpin serikat pekerja, anggota
parlemen, anggota dewan, dan birokrat. Inilah esensi sosialisme atau,
lebih tepatnya, esensi kekuatan pekerja.
Sosialisme adalah demokratis atau ia bukan apa-apa. Sejak awal
mula revolusi sosialis, mestilah ada rezim yang paling demokratis,
sebuah rezim yang akan berarti bahwa untuk pertama kalinya semua
tugas-tugas mengenai menjalankan industri, masyarakat, dan negara
akan berada di tangan mayoritas masyarakat, kelas pekerja. Melalui
komite-komite mereka yang dipilih secara demokratis (soviets), yang
dipilih secara langsung di tempat kerja serta tunduk atas recall
sewaktu-waktu, para pekerja akan menjadi tuan dari masyarakat bukan
hanya namanya saja, tetapi juga dalam kenyataan. Ini adalah posisi
kaum pekerja di Rusia setelah Revolusi Oktober. Marilah kita ingat
kembali bahwa Lenin meletakkan 4 syarat utama bagi sebuah negara kaum
pekerja &endash;yaitu, untuk periode transisi antara kapitalisme dan
sosialisme:
- 1)pemilihan umum yang bebas dan demokratis dengan hak recall
terhadap semua pejabat
- 2)tidak ada pejabat yang pantas menerima gaji yang lebih
tinggi daripada seorang pekerja yang ahli
- 3)tidak ada tentara yang berjaga kecuali rakyat yang
dipersenjatai
- 4)secara bertahap, semua tugas-tugas menjalankan negara harus
dilakukan oleh massa di atas basis yang bergilir.
Ketika setiap orang menjadi birokrat pada gilirannya, maka tidak
ada orang yang menjadi birokrat. Atau, sebagaimana Lenin menyatakan,
"Sembarang penggodok ide harus bisa menjadi perdana menteri."
Hanya di atas basis demikianlah masyarakat dapat mulai bergerak
dalam arahan sosialisme &endash;tahap tertinggi masyarakat manusia
yang Engels gambarkan sebagai loncatan kemanusiaan dari wilayah
keharusan menuju wilayah kebebasan. Secara jelas sebuah perkembangan
yang demikian menuntut adanya sebuah perkembangan yang tinggi dalam
kekuatan-kekuatan produktif. Itulah mengapa Marx dan Engels berpikir
bahwa revolusi sosialis akan bermula di Perancis, dilanjutkan di
Jerman, dan berakhir di Inggris. Pada waktu itu kelas pekerja hanya
ada di negara-negara ini. Marx dan Engels, dan bahkan Lenin sampai
pada tahun 1917, bahkan tak membayangkan kemungkinan kelas pekerja
pertama kali muncul sebagai kekuatan justru di sebuah negara
terbelakang. Sosialisme menuntut sebuah tingkat tertentu dari
perkembangan industri, pertanian, ilmu pengetahuan, dan teknik, di
dalam bingkai kerjanya. Hanya di atas basis inilah para pekerja bisa
memiliki waktu bebas secukupnya &endash; di atas basis pengurangan
hari kerja&endash; untuk berpartisipasi dalam menjalankan masyarakat
dan negara.
Bagaimanapun, situasi telah berubah secara radikal setelah
kematian Marx dan Engels, disebabkan oleh kedatangan imperialisme,
tahap tertinggi dari kapitalisme sebagaimana dianalisa oleh Lenin
dalam bukunya yang terkenal dengan judul sama. Lenin menjelaskan
bahwa satu dari gambaran-gambaran utama dari imperialisme adalah
ekspor kapital dari negara-negara maju ke negara-negara kolonial dan
negara-negara semi-jajahan. Di atas basis hukum 'perkembangan
gabungan dan tak seimbang', sebuah kelas pekerja yang perkasa tumbuh
di negara-negara terbelakang seperti Rusia yang Tsarist, sebuah fakta
yang tidak mengubah karakternya sebagai sebuah negara yang
terbelakang, semi feodal, dan semi jajahan. Persoalan-persoalan utama
dari polemik di antara tendensi-tendensi yang berbeda dari gerakan
buruh Rusia sebelum 1917 adalah setepatnya merupakan karakter dari
Revolusi Rusia dan relasi antar kelas dalam revolusi. Tak dapat
disangkal, teori yang mengantisipasi dan menjelaskan apa yang
sungguh-sungguh terjadi di tahun 1917 telah dikerjakan oleh Trotsky.
REVOLUSI PERMANEN
Teori revolusi permanen pertama dikembangkan oleh Trotsky di awal
1904. Revolusi permanen, sambil menerima bahwa tugas-tugas objektif
yang menghadang pekerja Rusia adalah tugas-tugas revolusi demokratik
kaum borjuis, juga secara bersamaan menjelaskan bagaimana di dalam
sebuah negara terbelakang dan di dalam jaman imperialisme, "borjuasi
nasional", di satu sisi berkaitan secara tak dapat dipisahkan dengan
feodalisme yang tersisa sekaligus juga di sisi lainnya berkaitan
dengan kapital milik kaum imperialis, dan oleh karena itu borjuasi
nasional sepenuhnya tidak mampu mengemban tugas historis apapun.
Kebusukan kaum borjuis liberal dan peran kontra revolusioner mereka
dalam revolusi borjuis demokratis telah diamati oleh Marx dan Engels.
Dalam artikelnya Borjuasi dan Kaum Kontra-Revolusi (1848), Marx
menulis :
"Borjuasi Jerman telah berkembang dengan begitu malas, secara
berat dan lamban di saat di mana dengan terancam ia menghadapi
feodalisme dan absolutisme, ia juga melihat dirinya begitu terancam
berhadapan dengan kaum proletar serta segala faksi warga kota yang
memiliki berbagai kepentingan dan ide-ide yang bersaudaraan dengan
ide serta kepentingan yang dipunyai kaum proletar. Dan ia melihat
kesatuan tempur yang amat bermusuhan dnegannya bukanlah satu kelas
di belakangnya, melainkan seluruh Eropa di hadapannya.
Borjuasi Prusia bukanlah, sebagaimana borjuasi Perancis di tahun
1789, kelas yang merepresentasikann seluruh masyarakat modern
vis-a-vis wakil-wakil masyarakat lama, monarki dan kaum
bangsawan. Ia telah terbenam ke level sejenis lapisan sosial pemilik
tanah, menentang kerajaaan sama jelasnya dengan ia menentang rakyat,
ingin sekali menjadi oposisi bagi keduanya. Ragu-ragu melawan tiap
lawannya, sendirianlah ia, sebab ia senantiasa melihat keduanya tadi
di belakang atau di depannya; ia merosot hingga mengkhianati rakyat
dan berkompromi dengan wakil-wakil kerajaan yang berasal dari
masyarakat lama sebab ia sendiri milik masyarakat lama." (Karl Marx,
Borjuasi dan Kaum Kontra Revolusi, MESW, volume 1, halaman 140-1).
Marx menjelaskan, borjuasi tidak mencapai kekuasaan sebagai hasil
dari kerja keras revolusionernya sendiri, melainkan sebagai sebuah
hasil dari gerakan massa di mana dalam gerakan ini ia tidak memainkan
peranan apa-apa. Borjuasi Prusia terlempar ke ketinggian kekuasaan
negara, bagaimanapun juga tidak dengan cara hal itu diinginkannya,
yaitu dengan sebuah tawar menawar yang damai dengan kerajaan,
melainkan dengan sebuah revolusi." (Karl Marx, Borjuasi dan Kaum
Kontra Revolusi, MESW, volume 1, halaman 138).
Bahkan dalam jaman revolusi borjuis demokratik di Eropa, Marx dan
Engels tanpa ampun membuka kedok peran kontra revolusioner, pengecut,
dari borjuasi dan menitikberatkan keharusan bagi para pekerja untuk
memelihara suatu kebijakan mengenai independensi kelas sepenuhnya,
tidak hanya independensi dari kaum borjuis liberal, tetapi juga dari
kaum demokrat borjuis kecil:
"Kaum Proletar, atau partai yang benar-benar revolusioner," tulis
Engels, "berhasil hanya dengan amat bertahap dalam penolakan massa
kelas pekerja terhadap pengaruh kaum demokrat yang memiliki ikatan
yang dibangun saat permulaan revolusi. Dalam waktu yang pasti,
kelemahan hati dan kepengecutan para pemimpin kaum demokratik
melakukan langkah mundur, dan sekarang mungkin yang bisa dikatakan
sebagai satu dari hasil-hasil utama ledakan tahun kemarin adalah
bahwa di manapun kelas pekerja terkonsentrasi dalam apapun yang
serupa massa yang sangat besar, mereka sepenuhnya terbebaskan dari
bentuk pengaruh demokrasi yang menggiring mereka ke dalam serial
blunder dan kesialan tak ada akhirnya sepanjang 1848 dan 1849." (F.
Engels, Revolusi dan Kontra Revolusi di Jerman, MESW, volume 1,
halaman 332.)
Situasi itu lebih jelas lagi saat ini. Borjuasi nasional di
negara-negara kolonial amatlah terlambat masuk ke dalam babakan
sejarah, ketika dunia telah terbagi-bagi di antara kaum imperialis
yang sedikit. Ia tidak maampu memaikan peranan progresif apapun dan
telah sepenuhnya tersubordinasi kepada tuan-tuan yang dulu
menjajahnya. Borjuasi yang lemah dan merosot akhlaknya di Asia,
Amerika Latin, dan Afrika terlalu bergantung kepada modal asing dan
imperialisme, untuk memajukan masyarakat. Borjuasi itu terikat dengan
ribuan benang, tidak hanya kepada modal asing tetapi juga dengan
kelas pemilik tanah yang dengannya ia membentuk suatu blok reaksioner
yang menghadirkan sebuah benteng penghadang terjadinya kemajuan.
Apapun perbedaan yang mungkin ada di antara elemen-elemen ini,
semuanya tidak signifikan dibandingkan dengan ketakutan yang
menyatukan mereka untuk melawan massa. Hanya kaum proletariat,
bersekutu dengan kaum tani miskin dan kaum urrban miskin, yang mampu
memecahkan masalah-masalah di masyarakat dengan mengambil kekuasaan
ke tangannya sendiri, mengambil alih milik kaum imperialis dan
borjuasi, serta memulai tugas mentrasformasikan masyarakat di atas
garis sosialis.
Dengan menempatkan dirinya di kepala bangsa, memimpin
lapisan-lapisan tertindas di masyarakat (kaum borjuis kecil di daerah
rural urban), kaum proletar dapat mengambil kekuasaan dan kemudian
mengemban tugas-tugas revolusi borjuis demokratik (terutama land
reform dan penyatuan negara, serta pembebasan negara dari dominasi
asing). Bagaimanapun, sekali telah memegang kekuasaan, kaum proletar
tidak akan hanya berhenti di situ, melainkan akan mulai
mengimplementasikan cara-cara sosialis mengenai pengambillalihan
milik kaum kapitalis. Dan sebagaimana tugas-tugas ini tidak dapat
dipecahkan di dalam satu negeri melulu, khususnya tidak di sebuah
negara terbelakang, hal ini akan menjadi awal mula dari revolusi
dunia. Jadi, revolusi itu "permanen" dalam dua pengertian: sebab ia
mulai dengan tugas-tugas kaum borjuis dan berlanjut dengan
tugas-tugas kaum sosialis, dan sebab ia mulai di satu negara dan
berlanjut pada tingkat internasional.
Teori revolusi permanen adalah jawaban yang paling utuh bagi
posisi kaum reformis serta kaum kolaborator kelas di sayap kanan
gerakan kaum pekerja Rusia, yaitu kaum Menshevik. Teori dua tahap
dikembangkan oleh kaum Menshevik sebagai perspektif mereka untuk
revolusi Rusia. Secara mendasar teori ini menyatakan bahwa, karena
tugas revolusi adalah tugas-tugas revolusi nasional borjuis
demokratik, maka kepemimpinan dari revolusi harus ditangani oleh
borjuasi demokratik nasional. Untuk pendapatnya sendiri, Lenin setuju
dengan Trotsky bahwa kaum liberal Rusia tidak dapat mengadakan
revolusi borjuis demokratis, dan bahwa tugas ini hanya dapat diadakan
oleh kaum proletariat dalam persekutuannya dengan kaum tani miskin.
Mengikuti jejak langkah Marx, yang telah menggambarkan "partai
demokratik" kaum borjuis sebagai "jauh lebih berbahaya bagi para
pekerja daripada kaum liberal yang terdahulu", Lenin menjelaskan
bahwa borjuasi Rusia, jauh dari menjadi sekutu kaum pekerja, akan
tak dapat dielakkan lagi bersisian dengan kaum kontra
revolusi.
Tahun 1905 ia menulis, "Di tengah massa, tak akan terhindarkan,
kaum borjuis pastilah mendekati kontra revolusi dan melawan rakyat
secepat kepentingan-kepentingannya yang picik dan mau menang sendiri
itu bertemu, secepat itulah ia 'mencelat' dari demokrasi konsisten
(dan ia memang telah berkecut hati karena ini!)".; (Lenin, Selected
Works, volume 9, halaman 98.)
Dalam pandangan Lenin, kelas mana yang mampu memimpin revolusi
demokrasi-borjuis? "Tetaplah 'rakyat', yaitu, kaum proletar dan kaum
tani. Kaum proletar sendiri dapat dipercaya untuk melakukan marching
hingga ke akhir, jauh melampaui revolusi demokratik. Itulah mengapa
kaum proletar bertempur di garis depan demi sebuah republik dan
dengan menghina ia menolak saran bodoh dan tak berharga untuk
mempertimbangkan kemungkinan borjuasi mencelat mundur." (Ibid)
Dalam semua pidato dan tulisan Lenin, peranan kontra-revolusi kaum
demokratik-borjuis Liberal selalu ditekankan, terus menerus.
Bagaimanapun, hingga 1917, Lenin tidak yakin bahwa kaum pekerja Rusia
akan bisa mencapai kekuasaan sebelum terjadi revolusi sosialis di
Barat &endash;ini satu perspektif yang sebelum 1917 hanya
dipertahankan oleh Trotsky. Tahun 1917 hal ini diadopsi sepenuhnya
oleh Lenin dalam Tesis-tesis April-nya. Kebenaran teori revolusi
permanen secara gilang-gemilang ditunjukkan oleh Revolusi Oktober
sendiri. Kelas buruh Rusia &endash;sebagaimannna telah diramalkan
oleh Trotsky di tahun 1904&endash; meraih kekuasaan sebelum kaum
buruh dari Eropa Barat. Mereka menyelenggarakan semua tugas-tugas
Revolusi demokratik-borjuis, dan langsung memulai nasionalisasi
industri dan menempuh tugas-tugas revolusi sosialis. Kaum borjuis
memainkan sebuah peranan kontra revolusioner secara terbuka, tetapi
dikalahkan oleh kaum buruh dalam aliansinya dengan kaum tani miskin.
Kemudian kaum Bolshevik membuat suatu himbauan revolusioner kepada
kaum buruh di seluruh dunia untuk mengikuti contoh mereka. Lenin
mengetahui dengan baik bahwa tanpa kemenangan revolusi di
negara-negara kapitalis yang maju, terutama Jerman, revolusi tidak
dapat bertahan dalam keadaan terisolasi, terutama di sebuah negara
terbelakang seperti Rusia. Apa yang kemudian terjadi memperlihatkan
bahwa hal ini sepenuhnya benar. Pendirian dari (Komunis)
Internasional Ketiga, partai dunia dari kaum sosialis, adalah
manifestasi kongkrit dari perspektif ini.
Jikalau Komunis Internasional tetap kukuh berada di atas posisi
yang dibuat oleh Lenin dan Trotsk,y tentulah kemenangan revolusi di
tingkat dunia telah dapat dipastikan. Malangnya, tahun-tahun
pertumbuhan Komintern bertepatan dengan maraknya kontra revolusi kaum
Staslinis di Rusia, yang memiliki akibat yang sangat menghancurkan
bagi Partai Komunis di seluruh dunia. Birokrasi Stalinis, memiliki
kontrol yang mendalam di Uni Soviet, mengembangkan sebuah pandangan
yang amat konservatif. Teori bahwa sosialisme dapat dibangun dalam
satu negara &endash;sebuah hal yang amat dibenci dalam sudut padang
pendirian Marx dan Lenin&endash; sangat mencerminkan mentalitas
birokrasi yang telah mengalami cukup berbagai tekanan dan stress dari
revolusi dan berusaha untuk bisa berjalan terus dengan mengadakan
tugas-tugas mengenai "membangun sosialisme di Rusia". Bisa
diikatakan, mereka ingin melindungi dan memperluas kewenangasn mereka
dan tidak "mengotori" sumber daya negara dengan cara mengejar
revolusi di tingkat dunia. Pada sisi lain, mereka takut bahwa
revolusi di negara-negara lain dapat berkembang pada garis yang sehat
dan hal itu merupakan ancaman terhadap dominasi mereka sendiri di
Rusia, dan oleh karena itu pada satu tahap tertentu, secara aktif
mereka berusaha menghalang-halangi terjadinya revolusi di
tempat-tempat lain.
Daripada mengejar sebuah kebijakan revolusioner berdasarkan pada
independensi kelas, sebagaimana senantiasa diadvokasikan Lenin,
mereka mengajukan sebuah aliansi Partai Komunis dengan "kaum borjuis
progresif nasional" (dan jikalau tidak ada kum ini yang tersedia
begitu saja, mereka telah mempersiapkan diri untk melakukan
intervensi terrhadapnya) untuk mengadakan revolusi demokratik, dan
setelahnya, menyusul, di kelak kemudian hari yang jauh, saat negara
telah mengembangkan perekonomian yang menghilangkan kaum kapitalis
sepenuhnya, barulah ada perjuangan demi sosialisme. Kebijakan ini
menghadirkan sebuah jurang yang sama sekali berpisah dengan Leninisme
dan sebuah titik balik kepada posisi kuno yang amat tercemar dari
Menshevisme &endash;inilah teori "dua tahapan".
PERAN PARTAI-PARTAI KOMUNIS
Teori ini memainkan peran kriminal dalam perkembangan revolusi di
dunia jajahan. Di Cina, Partai Komunis yang masih muda terpaksa masuk
ke dalam aturan main kaum borjuis nasional, Kuomintang, yang kemudian
melakukan likuidasi secara fisikal terhadap Partai Komunis tersebut,
serikat-serikat buruh, dan dewan-dewan tani selama berlangsungnya
revolusi Cina tahun 1925-27. Alasan mengapa revolusi Cina yag kedua
mengambil bentuk berupa perang kaum tani di mana kelas buruh tetap
pasif, adalah perluasan dari kehancuran kaum proletar Cina sebagai
akibat kebijakan-kebijakan Stalin yang dikarakterisasikan Trotsky
sebagai "sebuah karikatur jahat dari Menshevisme". Di manapun ia
diterapkan dalam dunia jajahan, teori kaum Staliniss mengennai 'dua
tahapan' telah menggiring terjadinya satu malapetaka menyusul
malapetaka lainnya.
Di Sudan dan Irak pada tahun 1950-an dan 1960-an, Partai Komunis
merupakan kekuatan massa yang mampu menghimbau adanya demostrasi
sejuta orang di Baghdad dan dua juta orang di Khartoum. Daripada
melanjutkan adanya kebijakan mengenai kelas independen dan memimpin
para buruh dan kaum tani untuk merebut kekuasaa, mereka ini mencari
aliansi dengan kaum borjuis "progresif" serta golongan-golongan
"progresif" dalam jajaran militer. Yang disebut terakhir, setelah
mengambil alih kekuasaan dengan dukungan penuh dari partai-partai
Komunis, kemudian mulailah mengeliminasikan mereka dengan pembunuhan
dan pemenjaraan anggota-anggota serta pimpinan-pimpinannya. Di Sudan,
proses yang sama terjadi bukan hanya sekali tetapi dua kali. Masih
saja, bahkan hingga saat ini, para pemimpin Partai Komunis Sudan
mempunyai suatu kebijakan tentang "Aliansi Patriotik" dengan kaum
gerilya di Selatan (sekarang disokong oleh imperialisme AS) dan kaum
borjuis "progresif" di Utara, untuk melawan rezim fundamentalis. Yang
disebut para pemimpin Komunis ini mirip kaum Bourbon kuno yang "tidak
melupakan satupun dan tidak mempelajari apa-apa". Kebijakan-kebijakan
mereka adalah sebuah resep akhir bagi satu kekalahan berdarah setelah
kekalahan berdarah lainnya.
Contoh paling tragis mengenai konsekuensi yang sifatnya
menghancurkan dari teori dua tahapan adalah apa yang terjadi di
Indonesia. Di tahun 1960-an Partai Komunis Indonesia adalah kekuatan
massa yang utama di negara tersebut. Itu adalah Partai Komunis
terbesar di dunia di luar Blok Soviet, dengan tiga juta orang
anggota, serta sepuluh juta orang berafiliasi kepada serikat-serikat
pekerjanya serta organisasi-organisasi buruh taninya, dan bahkan
Partai Komunis Indonesia (PKI) mengklaim adanya dukungan 40 persen
tentara (termasuk jajaran perwira). Kaum Bolshevik Rusia tidak
memiliki dukungan terorganisir yang sebanyak itu pada saat revolusi
Oktober! PKI dapat dengan mudah mengambil alih kekuasaan dan memulai
transformasi sosialis terhadap masyarakat yang akan memiliki efek
luar biasa besar di seluruh dunia jajahan, menjadi rantai
revolusi-revolusi di Asia. Daripada melakukan itu, para pemimpin
Partai Komunis (di bawah kontrol kaum Maois Cina) malah membentuk
sebuah aliansi dengan Soekarno, seorang pemimpin nasionalis borjuis
yang pada saat itu mengadopsi fraseologi "kiri". Kebijakan-kebijakan
tersebut menyebabkan PKI sepenuhnya tidak siap saat kaum borjuis (di
bawah instruksi langsung dari CIA) mengorganisasikan sebuah
pembantaian terhadap para anggota dan simpatisannya, di mana dalam
pembantaian itu sedikitnya 1,5 juta orang dijagal.
Walaupun ada segala kekalahan dan tinjauan masa lalu, kaum buruh
dan petani akan mengambil jalan perjuangan dari waktu ke waktu,
secara tak terelakkan. Kejadian-kejadian yang terjadi di Indonesia
baru-baru ini merupakan indikasi nyata dari fakta ini.
Kejadian-kejadian itu adalah sebuah antisipasi terhadap apa yang akan
terjadi di satu per satu negara Asia. Dan ini hanyalah awal dari
sebuah proses revolusioner yang akan tidak terbendung selewat periode
bertahun-tahun. Jika sebuah partai Leninis murni eksis, hal ini dapat
berakhir dalam sebuah revolusi proletar dalam bentuk klasik. Masalah
mengenai gerilyaisme atau Bonapartisme kaum proletar tidak akan
muncul. Di sini, sebagaimana biasanya selalu, faktor subyektif mutlak
diperlukan. Malangnya kepemimpinan partai-partai komunis di
negara-negara ini mengulang-ulang segala kesalahan lama yang sama
saja, di mana hal ini telah menggiring kepada terjadinya kekalahan
dan pembantaian di masa lalu. Meskipun Jepang bukan sebuah negara
jajahan, hal ini tidak berarti apapun dalam hal pertumbuhan yang
spektakuler dari Partai Komunis Jepang (JCP) sebagai akibat dari
krisis ekonomi negara tersebut. JCP menjadi partai yang memiliki
wakil terbanyak dalam dewan-dewan lokal, merupakan partai kedua
terbesar dalam Majelis Metropolitan Tokyo dan koran harian JCP
memiliki sirkulasi sebesar 3,2 juta.
Gelombang radikalisasi yang menyapu seluruh Asia telah juga
mempengaruhi kelas buruh di Jepang. Peringatan May Day tahun ini di
Jepang adalah yang terbesar sejak bertahun-tahun. Tidak kurang dari
satu juta buruh ikut beerpartisipasi ari seluruh negeri berkumpul.
Ini adalah contoh jelas tentang bagaimana kesadaran dapat berubah
dengan kecepatan kilat saat kondisi-kondisi berubah. Tetapi sialnya
kebijakan-kebijakan kepemimpinan JCP sepenuhnya berharak dari
tugas-tugas nyata yang dihadapi kaum kelas buruh Jepang. Menurut
Kimitoshi Morihara vice head dari departemen internasional JCP, "kami
bekerja menuju pendirian sebuah pemerintahan demokratis yang mencari
penyelesaian masalah-masalah ini, dalam kerangka kerja kapitalisme,
di awal abad mendatang". (Wawancara dalam mingguan Greenleft Weekly
No. 317). Mereka menyempurnakan teori dua tahapan Stalinis yang kuno
dengan menambahkan satu tahapan ekstra! Ini adalah "perspektif untuk
kemajuan sosial di Jepang : pemerintahan koalisi demokratik, revolusi
demokratik, dan revolusi sosialis" (?). Hal ini makin makin
membingungkan karena, sebagaimana Jepang telah menjadi kekuatan
industri kedua di dunia, orang dapat membayangkan hal tersebut dapat
dilakukan tanpa sebuah "revolusi demokratik". Kelihatannya alasan
apapun akan diambil supaya revolusi sosialis tidak dimasukkan ke
dalam agenda.
Selama berpuluh-puluh, tahun kelas buruh di negara-negara kolonial
dan bekas kolonial telah menunjukkan keberaniannya yang kolosal dan
potensial revolusionernya. Dari waktu ke waktu kelas ini telah
bergerak untuk mengadakan transformasi revolusioner di masyarakat. Di
Irak, Sudan, Iran, Chili, Argentina, India, Pakistan, dan Indonesia,
kaum buruh telah menunjukkan bahwa mereka berkehendak untuk menjadi
tuan dari masyarakat mereka. Jikalau mereka gagal, hal ini bukan
karena mereka tidak bisa meeraih keberhasilan, melainkan karena
mereka kekurangan syarat yang sangat diperlukan untuk mengambil alih
kekuasaan. Dalam setiap kasus, mereka membenturkan kepala mereka
terhadap tembok tebal sebab partai-partai dan para pemimpin yang
mereka percayai untuk memimpin mereka kepada transformasi sosialis
dari masyarakat berubah menjadi rintangan-rintangan raksasa.
Guna meraih kekuasaan, tidaklah cukup bahwa kaum buruh disiapkan
untuk bertempur. Bila itu masalahnya, kelas buruh telah dapat
mengambil kekuasaan di seluruh negara-negara ini sejak dulu kala. Hal
itu akan berlangsung mudah sebab mereka berada dalam posisi yang jauh
leebih kuat daripada para buruh Rusia pada tahun 1917. Meskipun
demikian mereka tidak mengambil kekuasaan. Mengapa tidak? Sebab kelas
buruh membutuhkan sebuah partai dan sebuah kepemimpinan. Untuk
menyangkal kenyataan hidup yang elementer ini adalah semata-mata
anarkisme kekanakan. Dulu sekali Marx menjelaskan bahwa tanpa
organisasi, kelas buruh adalah semata-mata bahan mentah bagi
eksploitasi. Meskipun kekuatannya dalam jumlah dan peran kuncinya
dalam produksi, kaum proletar tidak dapat merubah masyarakat kecuali
ia menjadi sebuah kelas "ditengah-dan-untuk-dirinya sendiri" dengan
kesadaran, perspektif-perspektif, dan pemahaman yang diperlukan.
Untuk menunggu adanya kelas yang sepenuhnya memiliki pemahaman yang
diperlukan mengenai hal (revolusi sosialis) tersebut hingga memadai
untuk mengambil alih kekuasaan lalu mengubah masyarakat, ini adalah
sebuah proporsi utopia yang sama saja dengan mengulur-ulur terjadinya
revolusi secara tidak menentu. Adalah perlu untuk mengorganisasikan
lapisan-lapisan yang paling maju dari kelas (buruh pekerja), mendidik
kader, dan memasukkan kepada kader mereka perspektif-perspektif
mengenai revolusi, tidak hanya dalam skala nasional, melainkan juga
revolusi dalam skala internasional, mengintegrasikan mereka di tengah
massa pada setiap level, dan secara sabar menyiapkan gerakan saat
perjuangann-perjuangan parsial dari massa terkombinasi menjadi suatu
serangan revolusioner yanng menyeluruh.
Tanpa satu partai yang revolusioner, kekuatan potensial milik kaum
proletar akan tetap semata begitu &endash;sebuah potensial. Hubungan
antara kelas (proletar) dengan partai adalah serupa dengan hubungan
antara uap dan piston box dalam mesin uap. Tetapi bahkan
keberadaan-keberadaan partai tidaklah cukup unntuk memastikan adanya
keberhasilan. Partai tersebut harus dipimpin oleh para laki-laki dan
perempuan yang dilengkapi dengan pemahaman yang diperlukan mengenai
tugas-tugas revolusi, berbagai taktik, strategi, dan perspektif,
tidak hanya perspektif-perspektif nasional tetapi juga internasional.
Situasi obyektif di Indonesia tahun 1964-65 tak dapat berlangsung
lebih baik lagi. Massa telah mengalahkan Imperialisme Belanda. Kaum
komunis memiliki dukungan mayoritas luas dari kelas pekerja dan buruh
tani. Tetapi sebuah kebijakan dan perspektif yang keliru sudah cukup
untuk menghadirkan kekacauan total pada revolusi. Jika revolusi
Oktober membuktikan kebenaran dari revolusi permanen dalam sebuah
pengertian positif, malapetaka di Indonesia menghadiahkan kepada kita
sebuah bukti negatif dalam bentuknya yang paling mengerikan.
Cara yang menyimpang dan kacau balau di mana dengan cara ini
revolusi di daerah kolonial telah terbentang sejak tahun 1945 adalah
bukan akibat dari keterbelakangan, atau karena tertundanya revolusi
sosialis di negara-negara kapitalis yang maju. Hal itu bukanlah
sesuatu yang tak dapat dielakkan dan bukan pula ditentukan lebih
dahuulu oleh hukum-hukum sejarah. Di atas semuanya, hal itu adalah
akibat ketiadaan faktor subyektif, ketiadaan suatu partai
revolusioner yang murni dan kepemimpinannya yang bisa memberikan
suatu karakter serta arahan yang sepenuhnya beda terhadap revolusi.
Berbicara apa adanya, tidak ada satupun yang bisa menghalangi
revolusi di Cina, ini untuk contoh, dari hal memainkan peran yang
sama dengan revolusi Rusia di tahun 1917, jika saja kondisinya adalah
para pemimpin Komunis Cina berbuat sebagaimana Lenin dan Trotsky.
Tetapi para pemimpin ala Stalinis tersebut takut terhadap gerakan
independen dari kelas buruh dan melakukan apapun yang berada dalam
kekuasaan mereka untuk menghalanginya. Cara konyol di mane revolusi
Cina muncul di tahun 1949, sebagai satu revolusi menyimpang dalam
bayang-bayang Rusia di bawah kepemimpinan Stalin, menjadikan
(revolusi tersebut) memiliki sedikit saja himbauan untuk bergerak di
kalangan kaum buruh di negara-negara yang maju, meskipun revolusi
tersebut memberikan suatu stimulus penting terhadap revolusi di
Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Hal yang sama persis terjadi pada
rezim-rezim Bonapartisme proletar yang lainnya yang hadir setelahnya.
Walaupun tak dapat disangkal mereka ini menyajikan satu langkah ke
depan, mereka benar-benar sebuah penyelewengan dan sebuah titik balik
dari norma revolusi kaum proletar yang didirikan oleh Lenin yang lalu
menjadi kenyataan di bulan Oktober 1917. Fakta ini harus terus kita
jaga dalam pikiran jika kita mau memahami signifikasi sesungguhnya
dari revolusi di daerah kolonial setelah tahun 1945.
REVOLUSI CINA
Dari waktu ke waktu adalah penting untuk menarik sebuah
perhitungan mengenai ide-ide kita dan posisi-posisi teoritis kita.
Bagaimana setelah berlalu 50 tahun hal-hal tersebut terwujud dalam
praktek? Jika ada satu kontribusi utama dari tendensi kita terhadap
Marxisme, ini adalah analisis kita mengenai revolusi kolonial dan
perkembangan Bonapartisme kaum proletar, dimulai dengan analisis kita
mengenai revolusi Cina setelah 1945. Hal ini benar-benar kebuntuan
kapitalisme di negara-negara ini dan tekanan kebutuhan massa untuk
adanya sebuah jalan maju yang telah memunculkan fenomena Bonapartisme
kaum proletar. Hal ini berkaitan dengan sejumlah faktor-faktor yang
berlainan. Di tempat pertama, kebuntuan komplit di masyarakat di
negara-negara terbelakang dan ketidakmampuan kaum borjuis kolonial
untuk menunjukkan jalan maju. Kedua, ketidakmampuan dari imperialisme
untuk memelihara kontrolnya dengan cara-cara lama yaitu aturan
milliter-birokratik secara langsung. Ketiga, tertundanya revolusi
kaum proletar di negara-negara kapitalis yang maju dan lemahnya
faktor subyektif . Terakhir, adanya rezim yang amat kuat dari
Bonapartisme kaum proletar di Uni Soviet.
Kemenangan USSR dalam Perang Dunia Kedua, dan menguatnya
Stalinisme setelah Perang itu dengan perluasan dari Stalinisme ini ke
wilayah Eropa Timur, serta kemenangan revolusi Cina, adalah
keseluruhan faktor yang terkombinnasi menjadi kondisi yang mendukung
perkembangan Bonapartisme kaum proletar sebagai sebuah varian konyol
dari revolusi permanen yang hanya dimengerti oleh tendensi kita.
(Bonapartisme kaum proletar) ini adalah fenomena yang sebelumnya
sungguh tidak pernah terjadi dan tidak pernah diharapkan adanya.
Tidak ada tempat dalam Marxisme klasik yang bahkan pernah
mempertimbangkan sebagai suatu kemungkinan teoritis, bahwa sebuah
perang kaum tani dapat memimpin terjadinya pendirian sebuah negara
pekerja, bahkan negara milik pekerja yang dideformasi. Meski
demikian, inilah tepatnya yang muncul di Cina, lalu menyusul di Kuba
dan Vietnnam.
Kami mengkarakterisasikan revolusi Cina sebagai kejadian terbesar
kedua dalam sejarah, setelah revolusi Rusia di tahun 1917. Kejadian
itu mempunyai efek yang luar biasa besar dalam perkembangan
selanjutnya dari revolusi di daerah-daerah jajahan. Tetapi revolusi
Cina ini tidak mengambil tempatnya di atas garis klasik revolusi
Rusia tahun 1917 ataupun revolusi Cina tahun 1925-27. Kelas buruh
tidak memainkan peran penting apapun. Mao meraih kekuasaan di atas
basis perang kaum tani yang gagah berani, sesuai tradisi Cina.
Satu-satuya cara Mao bisa memenangkan perang saudara di tahun 1944-49
adalah dengan menawarkan sebuah program mengenai pembebasan sosial
kepada para bala tentara petani dari Chiang Kai-Shek, yang
dipersenjatai dan disokong oleh imperialisme Amerika. Tetapi para
pemimpin Stalinis dari Tentara Merah kaum tani tidak memiliki
perspektif mengenai hal memimpin keum buruh menuju kekuasaan
sebagaimana dilakukan Lenin dan Trotsky tahun 1917. Ketika bala
tentara petani Mao sampai di kota-kota, dan secara spontan kaum buruh
menduduki pabrik-pabrik dan memberi lambaian selamat kepada bala
tentara Mao dengan lambaian bendera merah, Mao memberikan perintah
bahwa demonstrasi-demonstrasi tersebut harus ditekan dan para buruh
tersebut ditembaki.
Awalnya, Mao tidak bermaksud untuk melakukan penyitaan terhadap
kapitalis-kapitalis Cina. Perspektifnya untuk revolusi Cina tertuang
dalam sebuah pamflet berjudul On New Democracy yang di dalamnya ia
menulis bahwa revolusi sosialis adalah bukan tugas mendesak di Cina,
dan satu-satunya perkembangan yang dapat diberi tempat adalah sebuah
perekonomian campuran, yaitu kapitalisme. Ini adalah teori Menshevik
"dua tahapan" klasik yang telah diadopsi oleh birokrasi Stalinis dan
telah menggiring kekalahan revolusi di Cina tahun 1925-27. Tetapi
kita memahami bahwa di bawah kondisi-kondisi kongkrit yang telah
berkembang waktu itu, harusnya Mao akan terdorong untuk melakukan
penyitaan kapitalisme.
Tidak hanya itu, tetapi kita jauh-jauh hari telah memprediksikan
kenyataan bahwa Mao akan terpaksa putus hubungan dengan Stalin. Di
awal tahun 1949 kita telah menulis : "Fakta bahwa Mao memiliki massa
murni yang basisnya independen dari Tentara Merah Rusia dalam semua
kemungkinan akan menyediakan basis independen untuk pertama kalinya
bagi Stalinisme Cina yang akan tidak lebih lama lagi bergantung pada
Moskow. Sebagaimana Tito, begitu pulalah dengan Mao, meski
bagaimanapun peran Tentara Merah di Manchuria, Stalinisme Cina kini
mengembangkan dasar yang independen. Sebab aspiirasi-aspirasi
nasional dari massa di Cina, perjuangan tradisional melawan dominasi
asing, kebutuhan ekonomi negeri, dan di atas semua itu, dasar yang
kokoh dalam aparatus negara yang independen, kebahayaan mengenai
munculnya seorang Tito yang baru dan perkasa di Cina merupakan satu
faktor yang menimbulkan kecemasan di Moskow (...)
"Bagaimanapun, subordinasi terhadap ekonomi Cina untuk keuntungan
birokrasi Rusia, dengan berbagai upaya menempatkan boneka-boneka di
dalam kontrol Moskow, yang boneka-boneka ini akan sepenuhnya berporos
ke Moskow &endash;dengan kata lain, penindasan nasional terhadap
Cina&endash; akan menciptakan dasar yang besar sekali signifikasinya
bagi perpecahan dengan Kremlin. Dengan aparatus negara yang
independen dan kuat, dengan kemungkinannya melakukan manuver terhadap
kaum imperialis Barat (yang akan mencari negoisasi dengan Cina untuk
hal perdagangan dan mendorong perpecahan antara Peking dan Moskow),
dan dengan dukungan massa Cina yang menganggapnya sebagai pemimpin
yang jaya dalam melawan Kuomintang, Mao akan memiliki point-point
dukugan yang kuat dalam hal melawan Moskow.
"Usaha-usaha ngotot Stalin untuk mencobakan dan mencegah
perkembangan ini akan memperunyam, mempercepat dan mengintensifkan
kemarahan serta konflik." (Reply to David James, dicetak kembali
dalam E. Grant, The Unbroken Thread, hal. 304.)
Baris-baris ini ditulis lebih dari satu dekade sebelum pecahnya
konflik Sino-Soviet, ketika birokrasi-birokrasi Cina dan Rusia
terlihat sebagai konco nan tak terpisahkan.
Kemenangan laskar petani Mao di Cina terjadi akibat sejumlah
faktor: kebuntuan total dan menyeluruh dari kapitalisme dan
pertuantanahan di Cina, ketidakmampuan Cina melakukan intervensi
sebab di pasukan tempur kaum imperialis setelah Perang Dunia kedua
terdapat ketakutan akan perang, dan juga sebab daya tarik kekuatan
kolosal dari nasionalisasi rencana ekonomi di Rusia Stalinis yang
menunjukkan superioritasnya selama perang melawan Jerman di bawah
kepamimpinan Hitler.
Fakta bahwa kaum tani digunakan untuk memikul sebuah revolusi
sosial adalah sebuah perkembangan yang sepenuhnya baru dalam sejarah
Cina. Cina adalah negeri yang peran kaum taninya sudah menjadi hal
klasik, di mana perang ini terjadi pada interval-interval beraturan
tetapi bahkan ketika perang-perang ini berjaya ini semata akibat
dalam fusi elemen-elemen kepemimpinan dari laskar petani dengan kaum
elit di perkotaan, akibat dari pembentukan suatu dinasti yang baru.
Perang petani adalah sebuah lingkaran setan yang menjadi karakter
sejarah orang Cina selama lebih dari 2.000 tahun. Tetapi di sini kita
mempunyai sebuah titik balik yang fundamental. Tentara petani di
bawah kepemimpinan Mao mampu menggebuk kapitalisme dan mampu
menciptakan suatu masyarakat di atas imaji Moskow pimpinan Stalin.
Tentu saja, tidak akan ada hal mengenai negara pekerja yang sehat
sebagaimana di Rusia pada bulan November tahun 1917 telah didirikan
dengan cara yang sedemikian rupa. Untuk terjadi seperti apa yang ada
di Rusia itu, partisipasi aktif dan kepemimpinan kelas buruh amat
diperlukan. Tetapi suatu tentara kaum tani, tanpa kepemimpinan dari
kelas buruh, adalah instrumen klasik dari Bonapartisme, bukan
kekuatan kaum buruh. Revolusi Cinna di tahun 1949 bermulai pada saat
revolusi Rusia telah berakhir. Jadinya tidak ada masalah mengenai
dewan-dewan buruh atau demokrasi milik kaum buruh. Sejak awalnya
revolusi Cina adalah sebuah negara pekerja yang terdeformasi secara
mengerikan. Tendensi kita menggarisbawahi bahwa pada skala dunia,
satu-satunya kelas yang dapat mengadakan kemenangan bagi sosialisme
adalah kaum proletariat.
Sekali Mao meraih kekuasaan dan menciptakan suatu aparatus negara
di atas basis hierarki Tentara Merah dia tidak memiliki kebutuhan
apapun untuk menggalang persahabatan antara dirinya sendiri dengan
kaum borjuis. Dalam sebuah cara yang tipikal milik kaum Bonapartis,
Mao menyamaratakan antara kelas-kelas yang berbeda. Mao bersandar
kepada kaum tani dan pada bidang-bidang tertentu ia bersandar kepada
kelas buruh untuk menyita hak kaum kapitalis. tetapi sekali kaum
kapitalis ini telah dikalahkan, kemudian Mao mulai mengeliminir
elemen apapun yang mungkin eksis dari demokrasi buruh. Fenomena ini
dimungkinkan adanya adalah sepenuhnya karena kekosongan revolusi di
tingkat dunia dan kebuntuan masyarakat. Mao memiliki contoh yang amat
kuat dari Stalinisme di Rusia, di mana sebuah birokrasi yang kuat
menggerogoti rencana perekonomian dan menarik keuntungan dari hal itu
hingga iapun memutuskan untuk mengikuti model yang sama. Walau
karakternya dideformasi habis-habisan, Revolusi Cina biar
bagaimanapun juga tetap menyajikan satu langkah maju yang amat besar
bagi ratusan juta orang yang telah diperbudak oleh imperialisme.
BONAPARTISME KAUM PROLETAR
Dalam menelaah proses-proses yang timbul dalam revolusi di daerah
kolonial pada periode setelah perang dunia kedua, sebagai basis titik
awal kita mengambil teori revolusi permanen dari Trotsky yang,
sebagaimana sudah kita lihat, telah secara brilian terkonfirmasikan
oleh sejarah. Tetapi dalam praktek, teori-teori tidak perlu
dikerjakan dalam cara yang murni dan tersuling secara kimiawi. Bisa
terdapat segala macam varian-varian pembelokan, distorsi-distorsi dan
beberapa titik balik dari berbagai norma tadi. Hal ini dapat dilihat
dalam segala cara.
Periode klasik revolusi demokratik-borjuis dimulai dua atau bahkan
tiga ratus tahun yang lalu dengan terjadinya revolusi di Belanda,
Inggris, dan Perancis. Marx mengambil revolusi Perancis tahun 1789-93
sebagai modelnya untuk revolusi demokratik borjuis dalam pengertian
politis (sementara Inggris menyajikan model ekonomi). Tetapi
senantiasa ada perkecualian terhadap norma-norma klasik. Sebagai
contohnya Jerman, di mana tugas-tugas dasar dari revolusi
demokratik-borjuis diadakan dengan cara ganjil, yaitu dari jajaran
atas oleh kaum negarawan Junker lama di bawah pimpinan Bismarc. Tentu
saja, terdapat banyak kontradiksi dan elemen yang tertinggal dari
feodalisme yang baru kemudian berhasil dibersihkan dengan revolusi
November 1918 &endash;sebuah revolusi kaum proletar yang kalah, di
mana di dalamnya kaum buruh menyingkirkan bentuk negara yang lama dan
kemudian para pemimpin Sosial Demokratik menyerahkan kekuasaan di
tangannya kepada kaum borjuis. Serupa juga di Jepang yang merupakan
negara feodal kuno yang memulai proses revolusi demokratik-borjuis
pada 1860-an. Di bawah tekanan kekuatan-kekuatan eksternal, proses
tersebut terselesaikan hanya oleh pendudukan kekuatan Amerika setelah
1945, yang dilakukan sebagai usaha untuk menghalang-halangi
terjadinya revolusi di Jepang.
Fenomena bonapartisme kaum proletar memiliki hubungan terhadap
teori revolusi permanen serupa dengan sebagaimana proses yang
mengambil tempat di Jerman dan di Jepang berhubungan dengan norma
klasik revolusi demokratik-borjuis, yaitu sebagai
penyimpangan-penyimpangan yang muncul dari suatu jalan historis dari
berbagai keadaan. Fenomena ini hanya dapat dimengerti terjadinya atas
dasar kebuntuan komplit dari masyarakat-masyarakat tersebut (di mana
terjadi bonapartisme proletar) dan kekosongan adanya revolusi di
Dunia barat. Massa di negara-negara kolonial tidak dapat lebih lama
lagi menunggu. Itu adalah penjelasan yang fundamental. Tetapi kita
juga harus memasukkan ke dalam pertimbangan kita mengenai
kepelikan-kepelikan yang spesifik dari negara-negara kolonial dan
bekas jajahan, yang membuat negara-negara ini berbeda dari
negara-negara yang maju akibat kapitalisme, dan oleh karena itu
mengijinkan varian-varian rumit tertentu untuk terjadi, di mana
varian-varian ini sebelumnya tidak dilihat oleh kaum klasik penganut
Marxisme. Kami mengajukan tulisan ini secara khusus dalam
hubungannnya dengan negara.
Marxisme akan menjadi urusan yang sangat sederhana jika ia
semata-mata cuma suatu masalah mengenai belajar di luar kepala soal
formula-formula elementer yang diambil dari teks-teks klasik dan
mengaplikasikan semua ini dalam suatu cara yang mekanis dan tanpa
dipikirkan, lalu menerapkannya pada setiap jenis situasi. Metode
dialektik menuntut bahwa kita mulai dari sebuah pertimbangan obyektif
dari fenomena yang terjadi, membawa setiap kasus ke dalam
kebenarannya dan melakukan peninjauan terhadapnya dari segala sudut
pandang. Sebuah analisis yang serius mengenai negara-negara kolonial
dan bekas kolonial membukakan adanya perbedaan-perbedaan besar antara
negara-nagara ini dengan jenis negara yang ada dalam bangsa-bangsa
kapitalis yang maju, serta perbedaan-perbedaan dengan negara-negara
yang menyajikan model dasar bagi karya-karya klasik Engels dan Lenin.
Negara-negara (jajahan dan bekas jajahan) ini telah diciptakan dan
disempurnakan oleh kaum borjuis sebagai perangkat bagi
aturan-aturannya. Pada setiap level, negara-negara ini dikelola oleh
wakil-wakil setia yang dibentuk dan dilatih oleh kaum borjuis untuk
melayani kepentingan-kepentingannya. Di atas semua itulah
negara-negara industri maju dapat mengembangkan kekuatan-kekuatan
produktif. Tetapi, negara-negara yang baru dibentuk di
wilayah-wilayah tadi sepenuhnya beda dengan negara-negara yang telah
diciptakan dan dikembangkan selama bergenerasi lamanya oleh kaum
Borjuis di dunia Barat. Di tempat-tempat seperti Syria atau Burma
masyarakat ini berada dalam sebuah kebuntuan, tidak dapat
mengembangkan kekuatan-kekuatan produktif dan sepenuhnya berada dalam
kekisruhan.
Ini adalah satu dalil elementer mengenai Marxisme, bahwa negara
bukanlah sebuah kekuatan independen. Ia harus merefleksikan
kepentingan dari sebuah grup atau kelas di tengah masyarakat. Dalam
masa-masa normal negara merefleksikan posisi kelas berkuasa. Tetapi
dalam periode krisis dan ketidakstabilan sosial, pemerintah dan
tentara terpecah dan bercerai-berai dalam sejumlah faksi.
Negara-negara yang telah diciptakan di atas basis penolakan terhadap
imperialisme, meskipen karakternya borjuis, amatlah lemah. Di
negeri-negeri ini &endash;Burma Syria, Angola, Mozambik, Ethiopia,
Somalia, Afghanistan, dan negara-negara lain yang mengacu pada
Bonapartisme kaum proletar&emdash; negara tunduk kepada berbagai
kudeta dan krisis terus-menerus. Dengan adanya kebuntuan rezim
sepenuhnya dan kekosongan adanya revolusi di dunia Barat, serta
contoh yang diperlihatkan Stalinisme, di mana pada tahap ini
negeri-negeri tadi sedang membangun kekuatan-kekuatan produktif,
menjadi sebuah kekuatan yang sangat menarik minat bagi
lapisan-lapisan tertentu di tengah aparatus negara.
Mengambil Cina yang terdorong oleh daya tarik Stalinisme sebagai
contoh mengenai satu langkah maju bukan hanya terjadi di tengah massa
yang terdiri dari kaum tani miskin di negara-negara yang dulunya
berupa negara jajahan, tetapi juga terjadi pada bagian-bagian di
jajaran aparatus negara di negeri-negeri tadi. Sejumlah negara-negara
yang berada dalam situasi kolaps dan ancaman disintegrasi, bergerak
dalam arahan menuju bonapartisme kaum proletar. Jajaran para pejabat
bersandar pada kelas buruh dan kaum tani untuk mengadakan sebuah
revolusi, untuk menumbangkan kapitalisme dan pertuantanahan. Mereka
melihat Stalinisme sebagai sebuah rezim yang membawa masyarakat ke
arah maju tetapi pada saat yang bersamaan memperbolehkan golongan
birokratik mempunyai hak-hak istimewa dan menjalankan masyarakat. Ini
adalah proses yang terjadi terutama di negara-negara kolonial yang
paling terbelakang seperti Ethiopia, Angola, Afghanistan, dll; di
mana kaum proletar adalah (dan masih) merupakan kelas yang sangat
lemah atau bahkan hampir tidak eksis.
Faktor penting lain dalam pergerakan menuju bonapartisme kaum
proletar di seluruh negara-negara ini adalah terjadinya tendensi di
seluruh dunia atas hal statisasi. Fenomena ini sudah diibahas oleh
Engels, yang lebih merujuk "serbuan perekonomian kaum sosialis", dan
kemudian oleh Lenin yang menggambarkan hal itu sebagai monopoli
kapitalisme negara. Fakta bahwa kepemilikan pribadi atas alat-alat
produksi telah mencapai limitasinya diekspresikan oleh kenyataan
bahwa di semua negara-negara kapitalis sebagian besar perekonomian
berada di tangan negara meskipun, tentu saja, elemen-elemen kunci,
yaitu sektor-sektor yang paling menguntungkan, tetap berada di bawah
penguasaan swasta. Sektor yang dikuasai negara tidak memainkan peran
independen melainkan diadakan hanya sebagai perpanjangan tangan
sektor swasta, bertugas menyediakan kepada kaum kapitalis: baja
murah, listrik murah, batu bara murah, dll.
Proses yang sama berlangsung di dunia ketiga, tidak semata di
dalam rezim-rezim bonapartisme kaum proletar tetapi bahkan terjadi di
negara-negara borjuis yang relatif lebih berkembang seperti
Argentina, Meksiko, India, dll. Banyak pemimpin borjuis dari negara
ini menyatakan diri sebagai "sosialis" (seperti Nasser di Mesir,
Nyrere di Tannzania, Nehru di India dan Nkrumah di Ghana) dan
melakukan nasionalisasi pada sebagian besar perekonomian. Dalam
kasus-kasus sebagaimana terjadi di Syria, Ethiopia, dan yang lainnya,
sebagian dari lapisan pejabat sebenarnya mengadakan proses menuju
sebuah konklusi, bersandar kepada kelas buruh untuk melakukan
penyitaan sepenuhnya terhadap borjuasi. Mereka mendirikan rezim di
bawah bayang-bayang Moskow dan Beijing di mana di dalamnya
kapitalisme dienyahkan tetapi kaum buruh ditaklukkan kepada sebuah
tirani baru dalam bentuk rezim totalitarian dengan partai tunggal
yang birokratis. Tentu saja, rezim-rezim yang demikian tidak
mempunyai satupun ciri sosialisme atau bahkan ciri sebuah negara
buruh yang sehat. Dalam setiap kasus di mana tugas-tugas historis
dari satu kelas telah diadakan dengan cara yang didistorsi oleh kelas
yang lain, selalu saja ada harga yang harus dibayar. Kami menjelaskan
bahwa untuk melakukan kemajuan dalam arah sosialisme, sebuah revolusi
baru akan diperlukan. Bukan sebuah revolusi sosial untuk membangun
relasi-relasi kepemilikan yang baru (sebab hal ini sudah dilakukan),
melainkan sebuah revolusi politis melawan kasta birokratik yang
berkuasa dengan tujuan untuk mendirikan sebuah rezim demokrasi kaum
buruh yang murni. Bagaimanapun juga, penghapusan kapitalisme dan
pertuantanahan di negara-negara ini mempresentasikan adanya satu
langkah maju dan sebuah guncangan melawan imperialisme dan, yang
demikian ini, disambut baik oleh kaum Marxis.
Dalam sebagian besar, jika tidak dalam semua kasus, Moskow dan
Beijing tidak memainkan peran apapun. Lebih sering daripada tidak
berperan apapun, mereka dilawan untuk menumbangkan kapitalisme dan
mereka ini melakukan apa saja yang mereka bisa untuk menghalanginya.
Partai Komunis Kuba mendukung Batista untuk melawan Castro.
Belakangan birokrasi Rusia dan Kuba memberikan tekanan terhadap kaum
sandinista untuk tidak melakukan pengambilalihan terhadap kapitalisme
di Nikaragua. Tentu saja di manapun proses begitu terjadi, mereka
(kaum birokrat itu) mengambil keuntungan darinya untuk memperkuat
posisi mereka dalam berhadap-hadapan dengan imperialisme AS. Inilah
juga kasus di Afghanistan, di mana para pejabat militer Stalinis
mengadakan revolusi dari atas, tanpa referensi apapun ke Moskow.
Birokrasi Rusia memiliki hubungan yang amat baik dengan rezim borjuis
Doud di Kabul, dan bahkan siap mengorbankan Partai Komunis kepada
rezim tersebut. Tetapi sekali revolusi merupakan sebuah kenyataan,
mereka harus menerimanya.
Kaum Imperialis merespon revolusi di Afghanistan dengan
mempersenjatai dan membiayai kelompok-kelompok bandit dan gelandangan
yang diupah untuk mengadakan perang melawan rezim yang baru. Jikalau
yang disebut terakhir ini mengikuti kebijakan-kebijakan yang sama
sebagaimana yang dilakukan kaum Bolshevik, mendasari diri mereka pada
massa dalam perjuangan melawan imperialisme dan reaksi, bisa jadi
mereka menang walaupun harus diingat bahwa dalam kondisi yang amat
luar biasa terbelakang begitu bahkan sebuah negara buruh yang sehat
akan menghadapi begitu banyak kesukaran. Adalah sangat perlu untuk
memulainya secara bertahap dan dengan kehati-hatian yang sungguh,
terutama pada permasalahan agama. Tetapi usaha untuk menyelinapkan
perubahan masyarakat dari atas, dalam sebuah karakter birokratis yang
terkontrol habis-habisan, terdorong oleh invasi Rusia dan pembersihan
yang luar biasa besar serta lain-lain cara yang dihasilkannya, telah
dengan fatal memperlemah revolusi saat berhadapan dengan jagal-jagal
kekuatan kontra-revolusioner yang disokong oleh Amerika dan Pakistan.
Sebuah proses serupa terjadi di Afrika, di mana kaum imperialis
memperlengkapi pemerintah di Afrika selatan untuk menumbangkan
rezim-rezim kaum Bonapartis proletar di Angola dan Mozambique.
Sebagaimana di Afghanistan mereka mempersenjatai dan membiayai
tentara bayaran yang kejam serta para bandit. Apa yang terjadi
bukanlah perjuangan politis melainkan semata-mata mobilisasi
"kekuatan-kekuatan hitam" untuk membunuh, membakar, memperkosa, dan
melakukan penjarahan. Imperialisme tidak dapat mentoleransi
keberadaan bahkan negara-negara buruh yang terdeformasi di jantung
Afrika, sebab hal itu akan menjadi contoh bagi Afrika Selatan.
Daripada melihat hal tersebut terjadi, kaum imperialis lebih suka
membenamkan Angola, Mozambik, dan Afghanistan ke dalam abad
kegelapan.
APAKAH REZIM-REZIM BONAPARTISME PROLETAR YANG BARU BISA
MUNGKIN?
Mendasari diri kita pada analisis ini, apa yang menjadi
kemungkinan bagi formasi rezim-rezim Bonapartisme proletar baru?
Untuk menjawab masalah ini perlu memulainya dari
perspektif-perspektif dunia secara menyeluruh. Tendensi seluruh dunia
terhadap intervensi negara dalam bidang perekonomian telah berbalik
setelah kemerosotan tahun 1974 dan berbelok menjadi lawannya,
terutama sejak proses swastanisasi dimulai oleh Tacther di tahun
1980-an. Hal ini merefleksikan kebuntuan kapitalisme pada skala dunia
serta kebangkrutan dari model kuno Keynesianisme. Negara-negara
kolonial secara luas telah dipaksa, melalui diktean dari IMF dan Bank
Dunia, untuk "membuka" pasar mereka dan melakukan swastanisasi
terhadap industri-industri nasional. Ini sungguh sebuah penjarahan
terhadap negara-negara itu. Hal ini akan memiliki
konsekuensi-konsekuensi berjangka panjang di periode yang akan
datang. Mereka menciptakan sebuah bahasa yang baru keseluruhnya
("perampingan", "liberalisasi","pembukaan pasar", "perekonomian
bebas", dll.) untuk menjadi bungkus yang menutupi apa yang
sebenar-benarnya merupakan destruksi habis-haabisan terhadap
kekuatan-kekuatan produktif dan pekerjaan. Ini mengingatkan orang
pada "Bahasabaru dalam novel George Orwell, 1984, di mana Kementrian
Kekayaan mengurusi pemiskinan, Kementrian Perdamaian adalah
Kementrian Perang, dan Kementrian Cinta Kasih adalah polisi rahasia.
Para advokat "pasar bebas" telah dengan baik sekali melupakan
bahwa kapitalisme sesungguhnya berkembang berdasarkan basis benteng
tarif yang tinggi. Di fase awal kapitalsme Inggris, kapitalisme
bernaung di belakang benteng perdagangan biaya tinggi untuk
mempertahankan industri-industri nasionalnya sendiri yang masih
kintis-kinyis. Hanya ketika industrinya telah menjadi kuat maka kaum
borjuis Inggris menjadi semacam advokat yang amat bernafsu mengenai
"prinsip" perdagangan bebas. Ini sama persis dengan Perancis, Jerman,
Amerika, Jepang, dan semua lainnya yang sekarang memohon-mohon adanya
nilai perdagangan bebas kepada bangsa-bangsa di Afrika, Asia dan
Amerika Latin. Tetapi proses ini menciptakan kontradiksi-kontradiksi
baru. Golongan-golongan aparatus negara dan kaum borjuis nasional (di
wilayah-wilayah tadi) melihat bagaimana hal ini memotong bagian kue
mereka dan juga merasa ketakutan terhadap adanya ledakan massa. Hal
ini menggiring beberapa dari mereka untuk melawan imperialisme
(sekurang-kurangnya dalam perkataan), akibat ketakutan akan
kehilangan posisi mereka &endash;bahkan juga kehilangan kepala mereka
sendiri.
Inilah kasusnya dengan junta Nigeria yang menentang beberapa
rencana swastanisasi dari IMF. Golongan berkuasa dalam PRI di Meksiko
juga mulai meributkan "neo-liberalisme" sebab mereka melihat
bagaimana hal ini mengikis basis tradisional mereka atas kontrol
birokratik di masyarakat. Bahkan diktator Zaire, Mobutu, menentang
swastanisasi di hari-hari akhirnya berkuasa &endash;sebuah kebijakan
yang secara jelas bukanlah didikte oleh keinginan apapun untuk
mengurangi pergolakan di tengah penduduk, melainkan untuk
mempertahankan kepentingan-kepentingan pribadinya sendiri. Sebagai
sebuah akibat dari krisis di Asia Tenggara kita sudah melihat
perkembangan kaum proteksionis, sikap-sikap Anti-Barat di beberapa
negara ini. Inilah kasusnya dengan Korea Selatan dan bahkan pada
bagiannya, Soeharto yang di hari-hari terakhirnya, seperti Mobutu,
berselisih dengan IMF. Hal yang sama juga berlaku pada semagogi
"anti-imperialis" yang dilancarkan Mahathir di Malaysia. Semua ini
bukanlah kebetulan. Sejak terjadinya kolaps di Asia, kaum imperialis
bergerak gesit untuk membeli properti harga tawar yang anjlok dan
memaksa ekonomi bangsa-bangsa Asia untuk menerima ketergantungan yang
jauh lebih menghinakan mereka dari sebelum-sebelumnya. Semua tadi
semata-mata adalah indikasi mengenai kenyataan bahwa eksploitasi yang
keji terhadap negara-negara yang dulunya jajahan, melalui IMF dan
Bank Dunia, sekarang tengah menyiapkan satu pukulan balik yang masif
dalam melawan kebijakan-kebijakan swastanisasi, "globalisasi", dan
seterusnya. Bahkan di dunia Barat kita dapat melihat berbagai
permulaan gerakan massa melawan swastanisasi dan pemotongan anggaran
di negeri-negeri Welfare. Di periode berikutnya kita akan melihat
sebuah gelombang masif bergerak di arahan yang bertentangan (dengan
kapitalisme dan imperialisme) terutama dengan datangnya kemerosotan
ekonomi dunia.
Adalah perlu untuk memiliki sebuah pemahaman dialektis mengenai
proses, tidak semata menerima "fakta jadi" sebagai sesuatu yang ajeg
buat selamanya. Sesunguhnya empirisme kaum borjuis dan para perancang
strateginya lah yang membutakan mereka terhadap proses yang
sebenarnya dan menahan mereka untuk terus-terusan menapaki sepanjang
jalanan yang tak bisa ditawar-tawar menggiring mereka pada
malapetaka. Dalam mengejar keuntungan jangka pendek, mereka
memprovokasi massa di Asia &endash;dan seluruh negeri-negeri bekas
jajahan&endash; hingga ke limit daya tahan mereka menanggung
penderitaan. Pada satu titik yang pasti, seluruh proses yang telah
kita saksikan selama dekade terakhir akan buyar dan arusnya berbalik
arah. Oleh karena itu kita dapat menutup uraian soal tadi, bahwa di
periode yang akan datang, sebab kebuntuan kaum imperialis di
negeri-negeri jajahan, pukulan balik melawan swastanisasi dan
kebutuhan-krbutuhan mendesak massa di negeri-negeri ini, kita akan
menyaksikan berbagai gerakan baru dalam arahan bonapartisme kaum
proletar. Hal itu terutama akan menjadi kejadiannya di negeri yang
paling lemah di antara negeri-negeri tadi. Hasil dari proses
restorasi kaum kapitalis di Rusia dan Cina dalam satu dan lain cara,
tentu saja, akan memiliki akibat yang luar biasa besar dalam
perkembangan ini. Tapi itu soal terpisah. Cukup buat mengatakan
bahwa, dalam masa kemerosotan yang amat dalam pada skala dunia,
rencana-rencana restorasi kapitalis di negeri-negeri ini akan dengan
tak terelakkan lagi terhumbalang membalik ke dalam panci peleburan.
Sepenuhnya mungkin bahwa kandidat pertama bagi reversi ke beberapa
bentuk bonapartisme proletar adalah Rusia sendiri. Perspektif itu
bergantung pada seluruh kejadian yang berkembang di Rusia dan juga di
dalam skala dunia. Kita harus bersiap untuk segala macam kerja sama
yang apik, sambil terus berjuang demi kekuatan pekerja, supaya kita
tidak terkaget-kaget oleh adanya berbagai kejadian.
REVOLUSI KUBA
Perluasan bonapartisme kaum proletar di dunia kolonial menimbulkan
juga masalah lain &endash;yaitu peran kelas buruh tani dalam
revolusi. Selama seluruh periode hal ini berlangsung, kelihatannnya
analisis klasik Marxisme yang menekankan peran kepemimpinan
proletariat dalam revolusi telah dikhianati sejarah. Secara praktis
setiap tendensi lain, dengan perkeculian milik kita, menerima
teori-teori model baru mengenai perang gerilya. Kitalah satu-satunya
yang menerangkan bahwa tidak ada kelas selain kelas proletar yang
dapat memimpin pendirian sebuah negara kaum pekerja yang sehat.
Sebagaimana telah kita tekankan, dalam tulisan-tulisan Marx,
Engels, Lenin, dan Trotsky, tak bisa ditemukan referensi ataupun
bahkan tanda kemungkinannya bahwa kelas petani dapat memimpin
jalannya revolusi. Alasan bagi hal itu adalah heterogenitas ekstrim
kaum tani sebagai suatu kelas. Ia terbagi atas banyak lapisan, mulai
dari buruh tak bertanah (yang benar-benar merupakan kaum proletar
pedesaan) hingga petani-petani kaya yang mempekerjakan petani lain
sebagai buruh upahan. Mereka tidak memiliki suatu kepentingan bersama
dan oleh karena itu tidak dapat memainkan peran independen dalam
masyarakat. Secara historis mereka telah mendukung kelas-kelas atau
kelompok-kelompok lain di perkotaan. Satu-satunya kelas yang mampu
memimpin sebuah revolusi sosialis yang berhasil adalah kelas buruh.
Ini bukanlah karena alasan-alasan sentimental melainkan karena posisi
yang didudukinya dalam masyarakat serta karakter kolektif dari
perannya dalam produksi.
Kaum Marxis telah senantiasa memahami perang kaum tani sebagai
sebuah alat bantu bagi kaum buruh dalam perjuangan meraih kekuasaan.
Posisi tersebut pertama kali dikembangkan oleh Marx selama revolusi
Jerman di tahun 1848, saat ia ngotot bahwa revolusi Jerman hanya
dapat dimenangkan sebagai suatu edisi kedua dari Perang Buruh Tani.
Dengan kata lain, gerakan kaum buruh di kota-kota akan harus menarik
massa buruh tani di belakangnya. Penting untuk dicatat bahwa selama
revolusi Rusia kaum buruh perindustrian mewakili tidak lebih dari 10
persen jumlah penduduk. Tetapi tetap saja kaum proletar memainkan
peran pimpinan dalam revolusi Rusia, menarik berjuta-juta massa kaum
tani miskin &endash;sobat alamiah dari kaum kaum proletar.
Kelihatannya perspektif ini telah dipalsukan setelah terjadinya
Perang Dunia Kedua ketika sejumlah perang gerilya berakhir dengan
kemenangan di Kuba, Vietnam, Angola, Mozambik, dsb. Revolusi Kuba
adalah kasus khusus yang ganjil, meskipun pada dasarnya revolusi ini
serupa dengan yang terjadi di Cina. Belum disadari sepenuhnya bahwa
Castro mulai (bergerak) sebagai seorang demokrat-borjuis. Model yang
dipakainya adalah revolusi Amerika di tahun 1776! Tetapi Mao kemudian
secara orisinal mempunyai juga prespektif bagi sebuah periode panjang
perkembangan kapitalis di Cina. Dalam kedua kasus ini logika situasi
mendikte keluaran yang berbeda dengan yang ada di pikiran pemimpin
tersebut.
Setelah menggebuk negara Batista kuno (ini bertentangan dengan
nasehat Partai Komunis Kuba yang mengutuk Castro sebagai seorang
borjuis kecil petualang), Castro mendapati dirinya berada di posisi
yang sebelumnya sama sekali tidak dia lihat. Dia berusaha mengenalkan
reformasi dan menarik pajak atas perusahan-perusahaan AS, yang
membalas dengan kampanye sabotase meskipun pajak yang harus mereka
bayar di Kuba lebih rendah jumlahnya daripada yang mereka bayar di
Amerika Serikat. Washington mulai mengadakan blokade terhadap Kuba.
Sebagai balasan, Castro merampas semua asset AS di Kuba. Karena
sembilan dari sepuluh bagian ekonomi dimiliki oleh imperialisme AS,
ini berarti secara praktis seluruh ekonomi dinasionalisasikan, mereka
memutuskan untuk menyempurnakannya dan menasionalisasikan sepuluh
persen yang tersisa. Dengan Moskow sebagai model di hadapannya, para
pemimpin Kuba melakukan manuver untuk mendirikan sebuah rezim kaum
bonapartis porletar.
Revolusi Kuba bertindak sebagai sebuah lampu suar bagi para buruh
dan kaum tani tertindas di Amerika Tengah dan Latin. Di beberapa
negara, mereka ini berusaha mengikuti perang gerilya cara Kuba, tapi
meskipun daya tarik permukaannya dahsyat&endash;terutama bagi para
mahasiswa muda, hal ini gagal di mana-mana, dengan hasil yang amat
parah. Tendensi kita menjelaskan bahwa banyak dari
kemenangan-kemenangan ini dicapai bukan oleh perang gerilya itu
sendiri melainkan oleh kaum buruh yang menggelar pemogokan umum di
kota-kota, inilah faktor menentukan itu. Itulah kasus di Kuba dan
juga di Nigeria. Kita juga menjelaskan bahwa sebuah perang gerilya,
bahkan meskipun ia berjaya, sama sekali hanya dapat membimbing ke
arah sebuah negara kaum buruh yang cacat (negara kaum proletar
bonapartis). Sifat paling dasar dari organisasi sebuah perang gerilya
memang tidak membiarkan sebuah struktur demokratik dan kurangnya
partisipasi kaum buruh di sebuah kerja terorganisasi dalam
penumbanggan rezim berkuasa memiliki arti bahwa hirarki tentara
gerilya akan membentuk birokrasi bagi negara yang baru.
Oleh karena itu, sambil memberi dukungan kritis pada
gerakan-gerakan gerilya lainnya, yang terjadi sebagai wujud
perjuangan rakyat melawan penindasan, tendensi kita menegaskan
tuntutan bahwa faktor utama untuk merubah masyarakat adalah
organisasi sadar kaum pekerja. Di hampir semua negeri-negeri di mana
perang gerilya berkembang, kelas buruh sekecil-kecilnya pun jemlahnya
sama besar dengan kelas buruh selama berlangsungnya revolusi Rusia di
tahun 1917, dan jauh lebih besar sebagai suatu proporsii dari jumlah
total populasi. Di bawah kepemimpinan sebuah partai Leninis yang
sejati, kaum pekerja dapat mengadakan sebuah revolusi proletar klasik
dengan cara seperti jalannya revolusi Oktober, di semua negara
terbelakang asalkan bukan yang paling terbelakang. Lebih lanjut lagi,
di banyak &endash;jikapun bukan di sebagian terbesar&endash;
negara-negara ini, mayoritas jumlah penduduk saat ini hidup di
daerah-daerah urban. Dalam jumlah, kelas buruh jauh lebih kuat
daripada kasus Rusia di tahun 1917. Hanya kurangnya faktor subyektif
&endash;sebuah partai revolusioner dan kepemimpinan&endash; yang
menghalangi terjadinya revolusi proletariat seperti itu.
Semua kelompok yang dikenal sebagai "Trostkyist" pada saatnya
mulai mempertahankan perang gerilya di Dunia Ketiga satu-satunya cara
bagi revolusi sosialisme. Bahkan mereka bertindak terlampau jauh
dengan menyatakan bahwa perang gerilya sebagai taktik utama meski di
negeri-negeri di mana kaum tani bukan merupakan bagian yang berjumlah
cukup besar dari populasi penduduk, mereka ini mengembangkan ide gila
mengenai "gerilya kota" yang membawa kehancuran atas seluruh generasi
kaum muda revolusioner di negeri-negeri seperti Argentina, Uruguay,
dan lainnya.
Oportunisme organis dari para pemimpin Partai Komunis, penerimaan
mereka atas borjuasi di bawah panji-panji teori "dua tahap",
mendorong sebagian besar mahasiswa muda ke arah adventurisme
&endash;terorisme individual dan gerilyaisme&endash; dalam pencarian
mereka menemukan jalan pintas. Hal ini menyebabkan malapetaka di
Amerika Latin, di mana taktik ini menggiring terjadinya pembantaian
terhadap seluruh keturunan kader-kader muda revolusioner dan,
puncaknya, ini menggiring terjadinya mimpi buruk keditaktoran militer
di Argentina dan Uruguay. Jahatnya, yang dikenal dengan sebutan kaum
Trotskyist tidak memerangi tendensi-tendensi ini, melainkan malah
membantu dan bahkan berpartisipasi di dalamnya. Fakta-fakta ini
memperlihatkan betapa jauh orang-orang ini telah terdegenerasi.
Ide-ide yang telah terdiskredit di masa prasejarah gerakan sekarang
ini muncul lagi dari peti sejarah yang berdebu, dipertontonkan
sebagai sesuatu yang baru dan orisinal. Tetapi Marxisme bangsa Rusia
lahir dalam perjuangan melawan segala bentuk terorisme dan
"gerilyaisme" individual. Metode-metode yang begitu (terorisme
individual dan gerilyaisme) mestilah hanya menuntun kepada kekalahan,
bahkan jikapun sukses itu tidak dapat menuntun kepada pendirian
sebuah negara kaum pekerja yang sehat, melainkan hanya pendirian
sebuah karikatur birokratis.
PERANG GERILYA
Kegagalan kaum gerilyawan di El Savador dan Guatemala
memperlihatkan limitasi taktik ini. Sebagaimana revolusi Kuba telah
mengejutkan kaum imperialis, jadilah mereka melakukan persiapan yang
lebih baik untuk menghadapi problem serupa di tempat lain. Padahal,
dengan kebijakan dan taktik-taktik yang tepat, revolusi mencapai
keberhasilan di El Savador, di mana kondisi-kondisi yang tersedia
tepat bagi sebuah gerakan massa di perkotaan. Kepemimpinan kaum
boujuis kecil tergila-gila dengan ide perang gerilya dan menggiring
gerakan pada kekalahan berdarah. Di Nikaragua, kaum Sandinista telah
melakukan perang gerilya selama berpuluh tahun, tanpa hasil. Yang
menyelesaikan masalah bukanlah kaum gerilyawan, melainkan fakta bahwa
ada pemberontakan massa dan pemogokan umum di Managua.
Di sini, kembali kita melihat peran kontra-revolusioner dari
Stalinisme. Kaum Sandinista dapat dengan mudah mennncapai tujuan
akhir dan mengadakan revolusi sosialisme. Tentu, di negara kecil
seperti Nikaragua, mereka tak dapat bertahan lama.Tetapi di sinilah
terletak poin pokok dari revolusi permanen. Pada nyatanya, Amerika
Tengah adalah satu keseluruhan. Setelah merebut kekuasaan di
Nikaragua, kaum Sndinista harusnya kemudian melakukan himbauan pada
kaum pekerja dan kaum tani di Guatemala, Honduras, El Savador, dan
Costa Rica untuk mengikuti contoh mereka. Di atas semua itu, adalah
penting untuk melebarkan revolusi ke Meksiko. Revolusi bangsa
Nikaragua akan menang sebagai bagian dari revolusi di Amerika Tengah
dan Selatan, atau tidak menang sama sekali. Barangkali
pimpinan-pimpinan Sandinista telah bersiap mengadakan revolusi hingga
tujuan akhir dengan mengakhiri kapitalisme di Nikaragua. Tetapi
meraka dihalang-halangi tekanan dari Moskow dan Havana untuk
melakukan hal ini. Birokrasi Rusia dan Kuba, termotivasi
pertimbangan-pertimbangan nasional yang sempit bin picik, tak ingin
memprovokasi Washington dan meyakinkan kaum Sandinista untuk
menghentikan revolusi di tengah jalan. Ini adalah penghancur
revolusi. Kaum imperialis AS mengorganisir dan mempersenjatai kaum
Contras yang kontra-revolusioner dan pelan-pelan mencekik mati
revolusi Nikaragua.
Kaum Imperialis telah menyimak pelajaran mengenai berbagai perang
gerilya dan bertekad memusnahkan perang-perang gerilya berikutnya di
tahap awalnya. Di periode terakhir sejumlah kelompok gerilya yang
berbeda-beda telah mengabaikan taktik-taktik mereka dan sampai pada
persetujuan untuk berpartisipasi dalam arena politik sipil. Tetapi
hal ini lebih merupakan hasil demoralisasi para pemimpin mereka yang
cenderung Stalinis, daripada solusi masalah sejati yang memang tumbuh
dalam perang gerilya sendiri. Kita telah melihat bagaimana di
negara-negara seperti El Savador atau Guatemala, pasukan militer
khusus yang punya kewenangan tembak-mati masih beroperasi bebas dan
penyelesaian problem-problem negeri itu masih saja jauh panggang dari
apinya. Oleh karena itu, kemungkinan pecahnya perang gerilya baru
masih ada. Contohnya di Nikaragua, kelompok-kelompok yang berbeda
telah kembali mengangkat senjata ketika janji soal pertanahan dan
kemudahan memperoleh pekerjaan bagi mereka tidak dipenuhi oleh
pemerintah.
Fakta bahwa kaum gerilyawan telah menyerah di sejumlah negara
tidaklah menghapuskan kemungkinan pecahnya perang gerilya yang baru.
Malah sebaliknya. Tak terelakkan, perang ini bisa terjadi lagi di
masa mendatang, bahkan mungkin berakhir dengan kemenangan di beberapa
kasus. Saat ini masih ada faktor-faktor yang sama yang menyebabkan
timbulnya perang gerilya di masa lalu. Situasi putus asa di kalangan
kaum tani di di sebagian besar negara kolonial, kebutuhan untuk
menghapuskan sistem pemilikan tanah feodal, yang masih eksis di
banyak tempat &endash;semua faktor ini membuat berbagai perang
gerilya akan tak terelakkan. Indikasi jelas dari hal ini
diperlihatkan dengan kemunculan tentara zapatista (EZLN) di Chiapas,
Meksiko, pada tahun 1994. Dalam ketiadaaan sebuah alternatif
revolusioner yang sjati, ada suatu kebahayaan bahwa lapisan kaum muda
akan cenderung mnegambil jalan dengan metode-metode gerilyaisme dan
juga terorisme. Meski begitu, EZLN itu contoh yang bagus mengenai
perlunya gerakan kaum tani bahu membahu dengan gerakan buruh di
perkotaan. Setiap kali angkatan bersenjata Meksiko mencoba menembus
dan memukul kaum zapatista, demonstrasi-demonstrasi massa di
perkotaan menghentikannya. Program EZLN adalah program
borjuis-demokratik pada tingkatnya yang terbaik, tetapi bahkan
tuntutan-tuntutan minimum mereka tak berhasil dicapai dalam pagar
batas kapitalisme. Ini adalah satu konfirmasi bagi teori revolusi
permanen. Kurangnya alternatif disediakan para pemimpin EZLN telah
memungkinkan pemerintah maju terus melakukan tindakan ofensif dan
coba menghancurleburkan satu demi satu "para warga otonom" lainnya di
bawah kontrol zapatista.
Para pemimpin EZLN tidak memiliki suatu program yang dapat
menghimbau kaum pekerja dan kegigihan usaha mereka (zapatista) untuk
melampui basis dukungan mereka di tengah-tengah kaum tani telah
terutama sekali berorientasi pada kaum cendikiawan borjuis-kecil
serta kelas menengah perkotaan. Kita harus ingat bahwa sekarang ini
di Meksiko 70% jumlah penduduk tinggal di daerah urban. Kunci bagi
terjadinya revolusi di Meksiko, dan seluruh Amerika Latin, tidak
terletak di kaum tani, melainkan di dalam gerilya berjuta-juta buruh.
Di Kolombia, gerakan gerilya tidak hanya masih aktiv tetapi juga
mengontrol sekitar 60 persen teritori negara dan terus berlanjut
lebih maju lagi. Ini tidak berarti mereka bisa mengambil kekuasaan.
Imperialisme AS begitu khawatir akan prospek ini hingga mengirimkan
penasehat-penasehat militer ke sana. Mari kita ingat inilah bagaimana
keterlibatan AS dalam perang Vietnam di awal 1960-an dulu. Analogi
ini dibuat oleh para pengamat borjuis. Sejak perang Vietnam,
imperialisme AS coba menghindari turunya pasukan tempur di darat pada
daerah-daerah konflik asing, mereka lebih memilih serngan udara
sebagai andalannya. Namun perang tak dapat dimenangkan hanya dgg
serangan udara melulu. Adalah mungkn lho, jika kelihatan bahwa
gerilyawan Kolombia mencapai kekuasaan, keterlibatan AS akan ditarik
mundur sebagaimana terjadi di Vietnam. Perkembangan yang semacam itu
akan memiliki akibat yang tak terhitung di seluruh Amerika Latin dan
Tengah, dan juga di Amerika sendiri. Inilah tepatnya apa yang
dimaksud oleh Trotsky saat ia ungkapkan bahwa dinamit telah tergabung
dalam pondasi imperialisme AS sebagai akibat daari perannya sebagai
polisi dunia dalam masa membusuknya kaum imperialis.
KONTRADIKSI-KONTRADIKSI INTERIMPERIALIS
Satu efek penting dari kejatuhan Stalinisme adalah hal itu
mengintensifikasi kontradiksi-kontradiksi di kalangan kaum imperialis
sendiri. Di masa lalu, untuk beberapa kepentingan, mereka bersatu
dalam melawan Stalinisme sebagai musuh bersama, tapi kini musuh ini
telah hilang &endash;setidaknya keberadaannya.
Kepentingan-kepentingan yang mengandung potensi konflik di berbagai
kekuatan imperialis yang berbeda telah muncul ke permukaan. Pembagian
seluruh dunia menjadi tiga blok raksasa terus berlanjut. Uni Eropa,
didominasi Jerman bersama Perancis sebagai "mitra" juniornya, sedang
sibuk menetakkan pengaruhnya di daerah-daerah di Eropa Tengah dan
Timur, serta memiliki juga serangkaian derah semi-kolonial Afrika
Utara, Afrika, dan kepulauan Karibia. Amerika Serikat sedang berusaha
memperkuat cekikannya di Amerika Tengah dan Selatan, dan pada saat
yang sama sedang memperkokoh dominasi pengaruhnya dalam skala dunia.
Kita telah melihat, kadang-kadang hal ini membawa AS ke dalam konflik
dengan "sahabat-sahabatnya" di Eropa dan Jepang. Atas alasan-alasan
yang telah kami jelaskan di dokumen tersendiri, di bawah
kondisi-kondisi modern, terjadiya perang dunia di antara
kekuatan-kekuatan utama dunia adalah hal yang dapat dikesampingkan.
Tetapi perang-perang "kecil" di Dunia Ketiga yang melibatkan bala
tentara mereka, sebagai perwakilan bagi negara-negara yang menjadi
klien mereka, akan berlangsung terus-menerus.
Tanpa banyak ragam pers borjuis mencoba menghadirkan berbagai
perang dan konflik di negara-negara ini sebagai perang yang "rasial"
atau "bermotivasi etnis". Nyatanya, kemiskinan, sebagai akibat over
eksploitasi keji yang dilakukan imperialisme terhadap negara-negara
ini, adalah satu dari faktor-faktor utama yang meletikkan kobaran
perang dan konflik-konflik tersebut. Faktor lainnya adalah perpecahan
dan kebijakan hukum dari para majikan imperialis yang lebih dulu,
serta garis perbatasan negeri-negeri ini yang ditarik secara
artifisial saja. Delapan dari sepuluh negara penghutang terbesar
telah menderita perang saudara dan konflik-konflik kekerasan sejak
1990. Dari 25 negara penghutang terbesar, 15 mengalami konflik
sejenis. Di beberapa negara, khususnya, tapi secara eksklusif, di
daerah sub-Sahara di Afrika, kita tengah menyaksikan penghancuran
struktur tepenting dari masyarakat dan negara dan juga pemunculan
kembali elemen-elemen barbarisme. Negeri-negeri itu koyak moyak oleh
pengerukan dan penjarahan yang selama berpuluh tahun dilakukan oleh
kaum imperialis yang mempersenjatai gerombolan-gerombolan yang
memerintah di negara yang dalam kondisi perang permanen serta negara
yang borjuasinya kolaps. Kasus-kasus begini terutama terjadi di
negara-negara di mana kelas pekerja senantiasa selalu lemah secara
ekstrim. Sebagai contoh fenomena ini, cukuplah kita mengingat
Somalia, Sierra Leone, dan Afghanistan.
Kaum Imperialis sedang berperang secara sengit demi tiap pasar dan
tiap posisi strategis di arena dunia. Hal ini menimbulkan
ketidakstabilan luar biasa banyaknya, serta memproduksi suatu situasi
yang jauh lebih mirip dengan saat pergantian abad kemarin daripada
serupa dengan periode panjang yang relatif stabil di perhubungan
internasional selama setengah abad setelah berakhirnyya Perang Dunia
Kedua. Secara jelas hal ini dapat terllihat di Afrika di mana kita
tengah menyaksikan pertarungan antara satu kekuatan imperialis yang
sedang membusuk (Perancis) dan sebuah kekuatan sedang bangkit,
kekuatan yang sedikitnya memiliki kepentingan-kepentingan terdahulu
di benua itu (yaitu, kekuatan AS). Konflik inter-imperialis ini telah
menjadi faktor yang mendasari terjadinya perang di wilayah Central
Lakes di Afrika, di Azire, di Congo-Brazzaville, di Sudan, dst. Jadi,
Uganda telah menjadi pion penting milik Washingto dalam hal membantu
Washington memenangkan posisi di Rwanda, Burundi, dan Zaire, yang
&endash;akibatnya&endash; menempatkan pengaruh AS menggantikan
pengaruh Perancis sebagai pecundang dalam konflik ini.
Di Sudan kita dapat melihat sebuah kampanye gabungan negara-negara
yang disokong AS (Uganda, Rwanda, Ethiopia) untuk mengusir keluar
pemerintahan Islam di (wilayah) Utara, sokongan ini adalah dengan
cara mendukung kaum gerilyawan di Selatan. Sekali lagi, Perancis
mendapati dirinya di sisi kutub yang salah. Tetapi contoh yang paling
pertama dari pertarungan antar kekuatan imperialis besar dalam
memperebutkan sumber daya alam dengan mengorbankan nyawa ribuan
rakyat sipil, tanpa keraguan sedikitpun, adalah perang di
Congo-Brazzaville selama musim panas 1997. Perang ini merupakan
pertarungan terbuka antara perusahaan minyak AS dan Perancis (dengan
sokongan pemerintahan Washington dan Paris serta konco-konconya di
daerah itu) memperebutkan hak pengontrolan atas sumber minyak bumi.
Setelah beberapa bulan negeri itu nyaris sepenuhnya hancur, 10.000
orang menemui kematian, dan perusahan minyak Elf dari Perancis
kembali memenangkan kontrak atas sumber daya alam Congo.
Konflik-konflik kepentingan yang sama berulang-ulang di seluruh
dunia. Perancis, AS, dan Rusia sedang bertarung untuk minyak bumi di
Timur Tengah (terutama di Irak) dan di Asia Tengah. Afghanistan masih
terkoyak-koyak oleh faksi-faksi yang bersaing, yang masing-masingnya
didukung oleh kekuatn asing &endash;Pakistan, Iran, Saudi Arabia,
Rusia, AS. Keseluruhan Asia adalah arena pertempuran sengit
kekuatan-kekuatan utama kaum imperialis dalam memperoleh pasar.
IMPERIALISME TERPAKSA MUNDUR
Bagi kekuatan-kekuatan imperialis, dominasi militer secara
langsung di negara-negara kolonial telah menjadi terlalu mahal sejak
1945. Bahkan sebelum Perang Dunia Kedua, Trotsky menjelaskan bahwa
biaya dominasi langsung imperialis terhadap dunia kolonial adalah
lebih besar daripada keuntungan yang mereka peroleh dalam
eksploitasi. Bagaimanapun, banyak negara imperialis enggan menjauhi
negara-negara ini dan oleh karena itulah terjadi berbagai gerakan
massa di Asia Tenggara melawan imperialisme AS dan Perancis; di
Afrika (Kenya, Ghana, dan Nigeria) melawn imperialisme Inggris, serta
melawan imperialisme Perancis di Algeria. Tetapi bahkan di negeri di
mana kemerdekaan diakui, itu tidak memecahkan problem-problem massa
di sana. Kemerdakaan tersebut hanya formal saja, sementara dominasi
kaum imperialis terus berlangsung, lebih subtil, melalui perangkat
ekonomi.
Dominasi-dominasi tersebut terutama diterapkan melalui mekanisme
pasar dunia dan pertukaran dagang yang tak imbang di mana komoditi
yang menggunakan tenaga lebih banyak buruh (dalam memproduksinya)
ditukar dengan komoditi yang mempekerjakan buruh sedikit saja.
Imperialis mendorong banyak dari negara-negara ini ke dalam
perekonomian yang monocrop, baik negara itu mengandung produk
agrikultur seperti kakao, kopi, nanas, kapas, dll., ataupun ia
mineral seperti tembaga, berlian, timah, dll. Secara ketat harga
produk-produk ini dikontrol oleh sejumlah kecil perusahaan
multinasional dan tendensi umum terhadapnya telah menurun dalam
puluhan tahun belakangan ini. Pada saat bersamaan, harga
produk-produk manufaktur yang dibeli sebagai tukarannya telah
membumbung, menciptakan sebuah lingkaran setan yang mustahil untuk
keluar darinya. Adalah bukan kebetulan bahwa krisis bangsa Rwanda
diramalkan dengan jatuhnya harga kopi. Hal ini mengacaukan hidup suku
Hutu yang kemudian pindah ke kota-kota di mana mereka menjadi mangsa
gerombolan-gerombolan yang diorganisasikan untuk mengadakan
pembasmian ras (genocid). Harga bahan baku dan hasil agrikultur dalam
kondisi riil sekarang adalah lebih rendah daripada harganya selama
Depresi Besar Dunia 70 tahun lalu.
Seluruh sejarah dunia sejak 1945 semata-mata tersaji untuk
membuktikan teori revolusi permanen, yang telah didemonstrasikan oleh
revolusi Rusia. Jangan kita lupa bahwa sebelum 1917, tsaris Rusia
adalah negeri yang terbelakang, semi-feodal, dan semi-kolonial
(ketergantungan Rusia yang sepenuhnya terhadap imperialisme asing
tidak dapat diganti oleh fakta bahwa Rusia sendiri adalah satu
kekuatan imperialis yang lemah). Di awal 1904, Trotsky menjelaskan
ketidakmampuan dasar dari borjuasi untuk memecahkan masalah apapun
yang dihadapi masyarakat Rusia. Ini adalah kebenaran bagi borjuasi
nasional di seluruh negeri yang dulunya kolonial di dalam era
dominasi imperialisme. Untuk alasan ini, dalam Kongres Kedua Komunis
Internasional, Lenin menuntut tegas penolakan frase "revolusi
borjuis-demokratik", menggantinya dengan slogan revolusi
nasional-demokratik. Hal ini adalah untuk menggarisbawahi kebusukan
borjuasi kolonial, ketidakmampuannya untuk memainkan peran progresif
apapun di jaman modern. Hal ini ditunjukkan paling jelas oleh kasus
India.
INDIA
Selama setengah abad, borjuasi India telah sering kali menunjukkan
dirinya mampu berbuat apa. Dan sekarang ia masih dikutuk sejarah.
Lima puluh tahun setelah kemerdekaan, meski kapasitas produksi yang
dimiliki India itu kolosal, borjuasi India belum bisa memecahkan satu
pun masalah mendesak di negeri itu. Walaupun telah ada perkembangan
jelas di bidang industri (India saat ini memiliki industri lebih
banyak daripada Inggris), saat ini India masih sama bergantungnya
pada imperialisme seperti saat India mencapai kemerdekaan formal, dan
segala masalah negeri itu, persoalan-persoalan nasional dan bahkan
sistem kasta tetap tinggal tak terpecahkan.
Borjuasi India hanya mampu memerintah setelah kemerdekaan karena
kebijakan-kebijakan Partai Komunis yang menyatakan gencatan senjata
selama perjuangan kemerdekaan. Kebijakan anti-Leninis yang sama
mengenai "dua tahapan" diikuti oleh semua Partai Komunis di dunia
jajahan: mendukung "kaum borjuasi nasional progresif" melawan
imperialisme, menurunkan perjuangan demi sosialisme ke masa depan dan
cahaya yang jauh. Pada kenyataannya, India meraih kemerdekaan formal
sebagai bagian dari proses pergerakan-pergerakan massa rakyat daerah
kolonial yang terjadi di periode setelah berlangsungnya Perang Dunia
Kedua. Barangkali pergerakan di India adalah pergerakan rakyta yang
terbesar dalam sejarah. Berjuta massa di negeri-negeri kolonial
berperang melawan imperialisme dan mengalahkannya dalam kebanyakan
kasus pemerdekaan diri.
Partai Kongres di bawah Nehru menyatakan diri sebagai sekular
sekaligus "sosialis". Bahkan setelah setengah abad dari itu, kita
lihat kemenangan fundamentalisme Hindu dalam bentuk BJP yang
reaksioner. Inilah harga yang dibayar India atas borjuasi. Tanggung
jawab utama terletak di pundak para pemimpin Partai Komunis India
pro-Moskow dan Partai Komunis India pro-Beijing (M) yang mengadakan
perjanjian persetujuan dengan Partai Kongres (lagi-lagi "dua
tahapan"). Padahal bukan Kongres yang membebaskna India dari
pemerintahan Inggris, melainkan jutaan kaum pekerja dan kaum tani
India. Selama 300 tahun Inggris telah memerintah India dengan
menggunakan pasukan India sendiri. Sekali rakyat India bangkit dan
bilang tidak, Inggris menyadari bahwa permainannya telah selesai.
Jenderal Auckinlech mengirimkan telegram ke London untuk menyampaikan
ia tidak mampu menangani India lebih dari empat hari. Lebih jauh
lagi, Kongres menghianati India dengan penerimaan atas pembagian
daerah yang berdarah serta reaksioner, yang di dalamnya sekitar 10
hingga 20 juta orang terbantai. Ini adalah kejahatan imperialisme
Inggris yang, di bawah kata pendahuluan "mencegah pertumpahan darah",
secara sinis membelah tubuh India, dengannya menebar benih berbagai
perang dan konflik baru.
Kejatuhan Stalinisme berarti perubahan penting bagi dunia
kolonial. Di masa lalu negara-negara kolonial mempunyai kesempatan
menjadi penyeimbang antara kekuatan AS dan Uni Sovyet serta
memperoleh beberapa keuntungan dari hal itu. Sekarang sudah tidak
lagi. Hal ini amat mempengaruuhi negara seperti India , yang di masa
lalu menyandarkan perluasan tertentu dari jalur politik dan
perdagangannya ke birokrasi Moskow, relatif independen dari
Washington. Sekarang halnya tidak demikian. Di bawah tekanan
imperialisme saat ini secara keji India dipaksa membuka pasarnya, ini
mempunyai konsekuensi katastropik bagi industri lokalnya. Potret yang
sama dapat dilihat di semua daerah eks-kolonial. Mimpi-mimpi tentang
kemajuan melalui kemerdekaan telah terekspos sebagai suatu tipuan
kejam. Di bawah sistem kapitalis, menangnya kemerdekaan formal
&endash;meski hal ini sendiri adalah suatu perkembangan
progresif&endash; tak dapat memecahkan satupun masalah paling
fundamental dalam masyarakat di negeri-negeri terbelakang.
Saat ini, 70 persen anggaran India ditujukan bagi pembayaran
hutang, dan sekarang pemerintahan BJP telah menambah jumlah besar
sekali anggaran untuk belanja persenjataan. Ini akan menempatkan
beban baru dan berat di pundak kaum pekerja dan kaum tani, yang akan
segera melihat pemerintahan BJP itu seperti apa. Sebagaimana koran
The Economist menyatakan secara sarkasme bahwa arti sebenarnya dari
slogan BJP "kepercayaan diri" adalah "Anda lebih baik terbiasa
miskin". Sebagai akibatnya, pemerintahan BJP sudah mulai ambruk ke
pinggiran. Satu Juni anggaran diumumkan hanya sesaat setelah
dilakukan uji coba nuklir, pemerintah mengumumkan pemotongan
besar-besaran atas subsidi pupuk dan menaikkan harga BBM. Namun
koalisi yang ada begitu lemah hingga saat partai-partai oposisi
memprotes, segeralah Menteri Keuangan Yashwant Sinha mundur,
mereduksi potongan subsidi hingga setengahnya dan menurunkan lagi
harga bahan bakar, mengatakan bahwa kebijakan sebelumnya adalah
"kekeliruan".
Sejak itu, bursa turun 30 persen, nilai rupee turun 7 persen
terhadap dollar, dan hanya di minggu pertama Juni saja senilai 130
juta dollar investasi asing meninggalkan India. Dan ini belum lagi
saatnya sanksi-sanksi itu membuahkan akibat. Menurut beberapat
estimasi, hal itu dapat menggunting pertumbuhan India hingga 4
persen, amat sangat lemah untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang
diperlukan untuk menanggulangi pengangguran. Dan inflasi, yang hanya
4,5 persen sebelumnya, dapat membumbung hingga 10 persen. Jadi, BJP
akan mengalami masalah dengan tingginya pengangguran, harga-harga
membumbung, dan lebih jauh lagi jatuh terpuruknya standar hidup.
Sekali kabut chauvinisme yang melingkupi uji coba nuklir tertiup
pergi &endash;dan ini sudah mulai&endash; panggung siap untuk
terjadinya berbagai pergerakan besar. Kalau saja Partai Komunis India
dan Partai Komunis India (M) memiliki program komunis yang sejati,
masa depan revolusi India dapat dipastikan. Sialnya, kedua partai itu
menyetujui garis reformis, berbasis pada pakta dan aliansi-aliansi
dengan lapisan-lapisan berbeda di jajaran borjuasi nasional. Di atas
garis ini hanya terletak perspektif kekalahan dan reaksi. Dalam hal
perjuangan, mulai dengan lapisan-lapisan yang paling berkesadaran di
PK India dan PK India (M) , kaum pekerja India akan harus menemukan
jalan menuju kebijakan yang benar-benar Leninis, kebijakan yang
sendirianpun akan menjamin tercapainya kesuksesan.
PAKISTAN
Dua puluh enam tahun dari 51 tahun terakhir, Pakistan berada di
bawah pemerintahan militer. Pakistan telah menapak dari rezim-rezim
demokratik yang tidak stabil menuju pada keditaktoran, lalu kembali
lagi ke semula, tanpa menyelesaikan satu masalah pun. Sebaliknya,
problem-problem tersebut mantap terus memburuk. Bagian terbesar
anggaran negara dibelanjakan untuk pertahanan negara serta
pengembalian hutang. IMF menuntut pengurangan belanja militer
&endash;tapi bukan pengembalian hutang! Kaum imperialis tidak
menginginkan terjadi kudeta dan amat pasti mereka tidak menginginkan
pecahnya perang antara India dan Pakistan. Namun uji coba nuklir yang
dipamerkan India dengan cepat memprovokasi rezim Pakistan untuk
mengekor. Hal ini menunjukkan batas kecakapan imperialisme mengontrol
situasi. Kelas yang berkuasa baik di India ataupun Pakistan tanpa
perlu kita sangsikan telah menggunakan masalah nuklir sebagai
pengalih perhatian (massa), membangkitkan sentimen-sentimen chauvinis
dengan tujuan mencegah perkembangan terjadinya revolusi. Tapi hal ini
hanya bisa bertahan sebagai fenomena temporer. Sekali efek chauvinis
tadi tertelanjangi, perhatian massa akan kembali bahkan lebih fokus
pada kebutuhan yang paling menekan hidup mereka, yaitu pekerjaan,
makanan, dan tempat tinggal.
Kapitalisme Pakistan tetap secara ekstrim lemah serta tidak
stabil. Semua kontradiksi telah terbangun selama puluhan tahun,
menghasilkan situasi yang eksplosif. Di bawah tekanan imperialisme
yang tak mengenal belas kasihan, Pakistan mereduksi tarifnya. Sebagai
akibat dari hal itu, 3.462 perusahaan menengah dan besar ditutup.
Efektifnya, negara ini bangkrut. Di perempat terakhir tahun 1996
saja, 550 juta dollar dikeluarkan untuk membayar bunga hutang. Jika
tidak disokong pasar gelap raksasa (obat bius, peredaran senjata
gelap, dsb.) seluruh perekonomian tentu kolaps. Tapi biar bagaimana
pun, situasi saat ini tak dapat ditangani lebih lama lagi. Ada
tekanan konstan dari IMF untuk menaikkan pajak tak langsung atas
bensin, gas, dan listrik, dan dengan itu mengoyak standar hidup massa
yang sudah menyedihkan. Namun mereka bermain api. Sebagaimana di
India, klik yang berkuasa di Pakistan coba mengalihkan perhatian
kemarahan massa ke pada musuh eksternal dan membangkitkan sentimen
patriotik atas masalah peledaka uji coba nuklir. Mungkin Nawar Sharif
tidak punya alternatif kecuali mengikuti contoh dari India. Kasta
ksatria tidak akan menerima yang kurang dari itu. Tapi konsekuensinya
akan jauh lebih serius di Pakistan daripada India. Pemutusan bantuan
AS akan akan berefek jauh lebih buruk di bidang keuangan bagi negara
yang telah tertatih-tatuh di bibir jurang kebangkrutan. New Delhi
memiliki cadangan 2,6 milyar dollar, sementara Pakistan hanya 1,2
milyar dollar, hanya cukup buat pertukaran impor selama lima minggu.
Tekanan tanpa ampun yang dirasakan massa sekarng adalah persiapan
bagi terjadinya ledakan di kedua negara ini. Revolusi tahun 1968
diletikkan oleh kenaikan harga gula sebesar 10 persen. Hal yang sama
terjadi lagi.
Terdapat banyak kesamaan paralel antara Pakistan dan tsarisme
Rusia. Seperti Rusia, Pakistan adalah sebuah masyarakat semi-feodal
di mana kapitalisme bercokol di sejumlah daerah, terutama di Karachi
dan sebagian dari Punjab. Masalah nasional yang dihadapi juga serupa,
dengan orang Punjab yang mendominasi orang-orang Sandhi, Baluchi,
Pushtoon, dsb. Jika kelas pekerja tidak merebut kekuasaan, amat
mungkin Pakistan akan terpecah di masa nanti. Kemungkinan ini telah
terlihat dengan pemiisahan diri yang dilakukan oleh Bangladesh (dulu
merupakan Bengali Timur). Mengingat percampuran penduduk dewasa ini
(contohnya, orang Sindhi adalah minoritas di Karachi, dan orang
Baluchi minoritas di kota-kota Baluchistan), pecahnya Pakistan jadi
bagian-bagian menurut suku jelas merupakan mimpi buruk absolut. Hanya
perjuangan revolusioner kelas pekerja Pakistan yang bersatu yang
dapat mencegah terjadinya hal ini dan memecahkan masalah nasional di
atas basis federasi sosialis yang demokratis, yang dapat menjadi
titik mula bagi terbentuknya Federasi Sosialis bangsa India
Sub-benua. Cuma hal ini yang dapat mencegah horor berupa perang dan
kekerasan komunal yang merupakan akibat tak terelakkan dari
kapitalisme.
Pemerintahan PPP pimpinan Benazir Bhutto bersifat korup, tetapi
pemerintahan Nawar Sharif saat ini bahkan lebih buruk lagi. Yang
disebut belakangan ini merupakan sebab pemerintahan yang terdiri atas
bagian-bagian terbusuk dari para komprador borjuasi, berhubungan erat
dengan bandar-bandar perdagangan obat bius, bersandar pada kaum
fundamentalis reaksioner. Situasi yang tidak stabil yang ada saat ini
tidak akan berlangsung terlalu lama. Di paruh akhir tahun 1997,
500.000 pekerjaan hancur sebagai akibat diterapkannya
kebijakan-kebijakan IMF. Hal ini mengacaukan kelas pekerja dengan
banyaknya pabrik yang ditutup. Rata-rata pertunbuhan penduduk
Pakistan per tahun adalah 3,3 persen. Pertumbuhan ekonomi tidak dapat
menjajari pertumbuhan penduduk ini. Dengan angka kelahiran tertinggi
di dunia, negeri ini termasuk yang paling rendah angka melek hurufnya
serta terburuk pelayanan kesehatannya. Untuk obat, per tahun negara
membelanjakan lima penny per orang. Infrastruktur negeri ini sedang
kolaps. Dalam beberapa tahun terakhir, 7.500 kilometer jalur kereta
api ditutup. Semua aset negara dalam persiapan diswastanisasikan.
Tapi bahkan jika mereka jual semua aset ini (harganya sekitar £
5 milyar), tetap tidak dapat menutupi bunga hutang £ 7 milyar.
Justru di tengah krisis sosial dan ekonomi ini kelas berkuasa
Pakistan maju terus dengan program persenjataan nuklirnya. Ini
memperlihatkan usaha mati-matian kelas penguasa ini mengalihkan
perhatian massa dari masalah-masalah rill, dengan menghadirkan musuh
dari luar, yaitu India. Hal ini tidak akan menyelamatkan kelas
pengusa di Pakistan dari kegusaran massa sekali saja massa telah
mulai bergerak.
Semua tanda ini mengindikasikan bahwa situasi objektif mulai
berubah. Suasana hati massa saat ini telah berbalik melawan
pemerintahan Nawar Sharif. Baru-baru ini PPP mengadakan demonstrasi
di Karachi di mana Benazir Bhutto berpidato. Dia mengharapkan
kumpulnya 5.000 orang, tetapi ia mendapati dirinya telah mengumpulkan
500.000 orang. Betul-betul ini bukan jenis dukungan yang ia inginkan.
Kepemimpinan di PPP lebih menyukai situasi di mana pemogokan gagal
dan demonstrasi hanya menarik minat sedikit orang saja, jadi mereka
bisa mengecilkan hati massa dengan mengatakan bahwa situasinya
sungguh sukar. Menghadirkan setengah juta orang dalam satu
demonstrasi hanya dapat dimaknakan sebagai adanya dukungan dari para
pekerja dan mahasiswa Pakistan. Terpisah dari demonstrasi itu ada
banyak indikasi lain yang meunjukkan bahwa mood yang berubah sedang
mengambil tempatnya, bahkan di Karachi.
DEMOKRASI ATAU KEDITAKTORAN?
Karakteristik penting lain dari situasi yang terjadi saat ini di
dunia kolonial adalah berpindahnya kecenderungan imperialisme dari
mendukung kekuasaan militer ke mendukung pemerintahan "demokratis" di
mana saja hal ini mungkin dilakukan. Kita melihatnya di Haiti, di
Filipina, dan di negeri-negeri lainnya, di mana Washington menarik
dukunngannya terhadap boneka-boneka yang dulunya jadi tumpuan
perpanjangan tangannya. Dua alasan utama dari perubahan ini di satu
sisi adalah kenyataan bahwa Stalinisme tak lagi merupakan ancaman dan
oleh karena itu, di bawah tekanan massa, mereka bisa mengakui
demokrasi formal, sejauh itu tidak mengancam kepentingan-kepentingan
ekonomis dan kepentingan-kepentingan strategisnya. Di sisi lain
pemerintahan diktatorial cenderung mendapatkan peledaknya sendiri.
Kediktatoran menciptakan aparatus birokratis yang mahal dan masif,
dan para ditaktor sendiri punya tendensi akan kronisme dan kemewahan
yang mana hal ini memakan bagian kue yang harusnya bisa diperas oleh
perusahaan-perusahaan multinasional dari negara-negara ini. Beberapa
diktator tersebut bahkan berani menantang tuan mereka dan menyebabkan
berbagai kesulitan bagi Amerika. Inilah kasusnya Noriega di Panama
dan Saddam Hussein di Irak, sekadar contoh.
Selama tekanan gerakan massa tidak mengancam eksistensi
sesungguhnya dari sistem kapitalis, demokrasi adalah cara
pemerintahan yang paling ekonomis menurut pandangan kaum kapitalis.
Di sembarang pemerintahan tadi, keputusan-keputusan yang paling
penting masih diambil di Washington, Paris, dan London. Kenyataan
bahwa, pada awalnya, imperialisme lebih memilih pemerintahan yang
"demokratis" tidaklah lantas berarti ia mampu mencapainya. Jangan
kita lupakan kalau dua negara yang dianggap memiliki transisi yang
lancar menuju demokrasi borjuis adalah Zaire pimpinan Mobutu dan
Nigeria. Di masing-masing negara ini penguasa militer mempunyai
ide-ide berbeda dan membatalkan proses proses demokrasi tadi, membuat
kaum imperialis terhina.
Hal ini berkaitan juga dengan sikap imperialisme AS yang enggan
terlibat dalam intervensi militer yang bersifat langsung di luar
negeri. Tendensi kita telah menjelaskan bahwa kekalahan Amerika dalam
perang Vietnam terutama sekali disebabkan oleh perlawanan massa di
negerinya sendiri serta prajurit-prajuritnya yang tak kenal lelah.
Satu jenderal Amerika Serikat betul-betul membandingkan situasi di
tengah prajurit di Vietnam dengan garnisun Petrograd pada tahun 1917.
Jika saja Partai Buruh Sosialis Amerika memiliki suatu program
revolusioner yang murni, maka Amerika Serikat akan telah di ambang
situasi revolusioner bahkan pada saat itu. Itu adalah kali pertama
Amerika Serikat kalah dalam perang. Hal itu akan membuat mereka
menghindari intervensi dengan menggunakan pasukan tempur darat di
luar neger. Satu-satunya perkeculaian yang kita massukkan dalam
penjelasan tendensi kita adalah di Timur Tengah, di mana kita
menjelaskan bahwa kepentingan pokok imperialisme terhadap minyak
dapat memaksa mereka melakukan intervensi jika terjadi kasus situasi
revolusioner di Saudi Arabia.
Sejak perang Vietnam itu kemudian kita melihat bahwa AS,
imperialis terkuat dalam sejarah, menarik pasukan daratnya dari
Libanon dan Somalia. Intervensi yang sesungguhnya dengan menurunkan
pasukan darat hanya terjadi di negeri-negeri kecil seperti Grenada,
Panama, dan Haiti sebab suatu operasi militer yang cepat melawan
negeri yang kecil dan lemah mengandung sedikit sekali resiko.
Sebaliknya, perang Gurun melawan Irak bersandar pada kekuatan
pemboman udara. Bahkan ketika mereka mendobrak perbatasan Irak dan
berjalan menuju Baghdad, mereka gagal mencapainya. Mereka takut
berhenti dan masuk dalam perang gerilya yang membuat mereka harus
menghadapi massa di rumahnya sendiri, para serdadu akan pulang dalam
kantung mayat. Begitulah, kita lihat situasi yang kontradiktif,
kekuatan imperialis paling unggul dalam sejarah ternyata impoten
untuk melakukan intervensi darat bahkan di negara kecil dan lemah
seperti Somalia. Bagaimana pun, "perselingkuhan" antara imperialisme
dan demokrasi hanya akan berlangsung selama demokrasi formal bisa
menjamin dominasi ekonomi kaum imperialis. Dalam kasus manapun,
"demokrasi" macam apa yang begini ini? Paling banter, kita dapat
mempertimbangkannya sebagai semi-demokrasi, sebuah penipuan dan
penggelapan keaslian untuk menutupi dominasi berbagai bank, monopoli,
dan tentu saja untuk menutupi imperialisme. Begitu kelas pekerja dan
kaum tani menghadirkan tantangan serius kepada aturan kaum kapitalis,
mereka akan kembali mengulangi, tanpa ragu dan malu, metode yang sama
yaitu kediktatoran yang keji.
Di Amerika Latin, sebagian terbesar rezim-rezim diktatorial runtuh
dan kita sekarang memiliki demokrasi borjuis yang "normal" di hampir
seluruh benua itu. Tetapi bahkan di situ, sebuah konflik kelas telah
menjadi makin akut, jajaran aparatus negara telah gagal memainkan
peran sabar dan kembali pada represi terbuka untuk menindas gerakan
buruh dan organisasi-organisasinya. Di Peru kita liaht sebuah rezim
bonapartisme parlementer yang di dalamnya Angkatan Bersenjata diberi
peran yang terus bertambah besar dalam menjalankan pemerintahan
negara, sisten peradilan, dll. Di banyak negeri-negeri di Amerika
Latin, kelas penguasa melakukan usaha terakhir yaitu menyewa para
pembunuh untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dengan para
aktivis serikat buruh. Di Honduras, Kolombia, Brazil, Argentina, ini
sekadar menyebut sejumlah kecil negeri yang hanya formalnya saja
demokratis, para aktivis buruh dan kaum tani telah dibunuh
siang-siang bolong. Dari tindakan ini, untuk membuka kediktatoran
masih ada satu langkah lagi jauhnya, tetapi yang satu inipun akan
tanpa ragu diambil juga oleh kelas penguasa di negeri-negeri
tersebut, dengan dukungan penuh dari imperialisme AS, jika kondisi
menuntut demikian.
Bagaimanapun, mereka hanya mengambil langkah terakhir ini jika
gerakan kaum pekerja secara fundamental mengancam aturan modal. Saat
ini, di Amerika Latin, pendulum sudah bergeser ke kiri. Kita telah
melihat gerakan yang masif dari kelas pekerja selama periode kemarin.
Pemogokan, pemogokan umum, dan berbagai aksi regional yang mengandung
unsur pemberontakan telah terjadi di sebagian terbesar negeri-negeri
ini. Pemogokan umum di Ekuador, yang mempunayi karakter
pemberontakan, menumbangkan pemerintah Buccaram yang dibenci, tetapi
disebabkan kurangnya alternative politis, penumbangan ini digantikan
tempatnya oleh sebuah pemerintah borjuis yang lebih "normal". Di
Bolivia kita telah menyaksikan heroisme para pekerja mengorganisir
pemogokan umum habis-habisan yang berkansung hampir sepanjang satu
tahun. Tetapi tanpa sebuah partai revolusioner, tidak ada jalan
keluar yang mungkin. Di bawah kondisi kaum kapitalis yang berada
dalam krisis, bahkan pemogokan yang paling heboh tidak dapat
memecahkan masalah-masalah fundamental kelas pekerja.
MEKSIKO
Jika dilihat kulitnya saja, kelihatannya ekonomi Meksiko telah
pulih sepenuhnya dari kolaps keuangan di tahun 1994/95, dan bahkan
beberapa analis internasional berkata bahwa Meksiko adalah contoh
yang harus digunakan perekonomian Asia untuk secepatnya keluar dari
resesi mereka. Bagaimana pun, realitasnya sungguh berbeda. Setelah
kontraksi ekononomi yang mengerikan sebesar 6,2 persen di tahun 1995,
perekonomian kembali tumbuh di tahun 1996 dan bahkan mencapai
pertumbuhan yang (secara ofisial) impresif, yaitu 7 persen di tahun
1997. Jika gambaran 3 tahun tersebut dirata-ratakan, ternyata kita
mendapatkan angka pertumbuhan rata-rata hanya 1,8 persen per tahun.
Ini lebih rendah daripada pertambahan penduduk 1,9 persen per
tahunnya. Jauh dari bertambah, menurut sebuah riset universitas ,upah
nyata para buruh terus jatuh hungga 34,5 persen di 3 tahun
belakangan. Kemerosotan dalam upah adalah bagian dari trend yang
berlangsung jauh lebih lama, daya beli dari upah legal minimum saat
ini hanya 25 persen dari di tahun 1980.
Satu dari alasan-alasan utama bagi pertumbuhan ekonomi ini
sesungguhnya adalah meningkatnya kekompetitifan eksportir-eksportir
Meksiko sebagai akibat devaluasi peso. Hal ini terutama menguntungkan
bagi sektor "maquiladora", dengan cara merakit berbagai mesin
pabrik-pabrik AS yang berpusat di perbatasan AS-Meksiko dengan
berbagai praktek kerja yang mengerikan. Sektor ini sekarang
menghadapi persaingan dari ekspor Asia Tenggara yang sekarang jauh
lebih murah akibat kolapsnya keuangan Asia Tenggara. (Sementara
buruh-buruh maquiladora sekarang mulai terorganisir dalam proses yang
serupa dengan yang terjadi di perekonomian Asia Tenggara yang berupah
rendah). Hal ini memberi tekanan pada keuangan Meksiko dan kolapsnya
lagi mata uang peso bukannya bisa diabaikan begitu saja, khususnya
bila seorang mempertimbangkan beban hutang sebesar 42 persen dari
jumlah total hutangnya. Pemerintah Meksiko sedang mencoba menghalangi
kemungkinan kolaps peso kembali dengan suatu kebijakan devaluasi
terkontrol.
Jatuhnya harga minyak juga telah keras memukul jatuh perekonomian
Meksiko sebab, meskipun ekspor minyak hanya mengisi 9 persen GNP, itu
seharga 40 persen penghasilan pajak negara. Sampai sejauh tahun ini
berjalan, pemerintah telah memperkenalkan dua paket pemotongan
anggaran sebagai akibat langsung jatuhnya harga minyak.
Mempertimbangkan semua faktor ini, dan lagi dalam perspektif ekonomi
dunia yang gelap dan suram, ramalan resmi bagi pertumbuhan ekonomi
sebesar 5,2 persen di tahun 1998 adalah benar-benar hal yang terlalu
dibesar-besarkan (dan nyatanya pemerintah telah merevisinya hingga
turun dua kali lipat).
Mengingat situasi ekonomi yang lemah, adalah bukan kejutan sama
sekali kalau proses dekomposisi rezim (yang dimulai sejak akhir tahun
1980-an dan dipercepat setelah pemberontakan kaum zapatista tahun
1994) terus berlanjut. Dengan cepat, lapisan-lapisan birokrasi PRI
meninggalkan partai itu bagaikan tikus wirog bersicepat kabur dari
kapal yang sedang tenggelam, membentuk partai-partai mereka sendiri
atau bergabung dengan sayap kiri, yaitu PRD dan sayap kanan, yaitu
PAN. Bahkan di tahun 1997, satu bagian penting dari persatuan
birokrasi resmi telah membelot dari federasi serikat buruh resmi
(CTM) dan membentuk Uni Pekerja Nasional (UNT) milik mereka sendiri,
yang meskipun masih mempertahankan praktek-praktek internal mereka
yang lama, yaitu anti demokrasi, tetapi menentang kebijakan ekonomi
pemerintah yang merusak kesejahteraan dan hak-hak istimewa mereka
sebagai pimpinan-pimpinan serikat buruh.
Perkembangan krisis ditunjukkan oleh perpecahan di dalam elit yang
berkuasa. Ada golongan-golongan pejabat negara dan para boss yang
doyan pada kebijaksanaan "ketat" untuk melawan semua gerakan oposisi.
Sasaran utama mereka adalah gerakan kaum zapatista dan mereka telah
menempuh berbagai cara untuk memaksa kaum zapatista menyerah atau
musnah. Mereka meloloskan sebuah undang-undang kaum pribumi dalam
parlemen (ini ditentang oleh PRD) dan UU tadi menghancurkan semua
kesepakatan terdahulu antara pemerintah dan EZLN. Mereka melancarkan
kampanye untuk memaksa para pekerja berkebangsaan asing di berbagai
LSM berbeda di Chiapas agar keluar dari Meksiko (sejauh ini 200 orang
dari telah terdesak keluar), dengan tujuan mengenyahkan semua saksi
yang tidak diinginkan. Puncaknya mereka mengajukan kehadiran tentara
di Chiapas, medirikan pos-pos militer dengan helikopter dan pesawat
militer yang terbang rendah di atas komunitas-komunitas kaum
zapatista, dan lain-lain tindakan represi. Pemerintah juga membiayai,
mempersenjatai, serta melatih organ-organ para-militer. Tidak hanya
di Chiapas tetapi juga di berbagai daerah rawan konflik lainnya di
negeri tersebut.
Tentu saja, represi begini tidak hanya ditujukan untuk kaum
zapatista. Para aktivis serikat buruh, orgnisasi-organisai
penghutang, para pimpinan kaum tani, dll., semuannya telah dilukai
dengan adanya berbagai penangkapan ilegal (seperti dalam kasus
pimpinan serikat buruh Aquiles Magaña), usaha-usaha pembunuhan
(sebagaimana kasusnya pimpinan organisasi penghutang di Chiapas,
yaitu Federico Valdez yang juga sekaligus seorang Marxis), dan
lain-lain pembantaian dalam artian sebenarnya (lebih dari 600 anggota
PRD telah dibunuh selama 10 tahun terakhir ini). Biar bagaimanapun,
meningkatnya represi ini bukanlah signal kekuatan rezim PRI,
melainkan tanda kelemahannya. Secara mengagumkan, rakyat kehilangan
rasa takut mereka atas represi pemerintah. Meskipun tingkat-tingkat
pemogokan masih rendah, kebanyakan disebabkan tingginya pengangguran
dan kondisi keamanan kerja, proses pembentukan arus demokrasi di
tengah perserikatan-perserikatan (buruh) yang resmi telah makin cepat
jalannya. Para pekerja dan kaum tani bergabung dengan PRD sebagai
satu-satunya saluran di mana mereka dapat mengungkapkan aspirasi bagi
perubahan, meskipun banyak pimpinan PRD memiliki sifat korup dan
pengera karir. Kelas pekerja adalah faktor utama dalam situasi di
Meksiko (dan kebanyakan negeri-negeri lain di Amreika Latin) kali ini
telah dibuktikan sekali lagi. Partisipasi para pekerja di skenario
politik, khususnya saat demonstrasi May Day tahun 1994 dan 1995 yang
dihadiri jutaan orang, telah menancapkan batu peringatan penting
dalam proses dekomposisi rezim PRI.
Kebangkitan PRD tergambarkan oleh kemenangan mereka dalam pemilhan
di tingkat Distrik Federal (DF) musim panas lalu, yang mana untuk
pemilihan itu semua orang berpikir PAN yang akan menang. Kebangkitaan
itu juga tergambarkan oleh fakta bahwa PRI kehilangan kedudukan
mayoritas di Kongres untuk pertama kalinya. Saat ini birokrasi PRI
dan pemerintahan nasional tengah berusaha untuk menghancurkan dan
mensabotase Cardenas sebagai walikota Meksiko City dengan tujuan
untuk melemahkannya dalam usaha mendapatkan kursi kepresidenan tahun
2000 nanti. Bagaimana pun massa masih memiliki ilusi-ilusi yang patut
dipertimbangkan terhadap PRD (khususnya Cardenas yang, bersama dengan
Manuel López Obrador, merupaakan representasi sayap "kiri"
PRD). Di dalam tubuh PRD perbedaan antara kiri dan kanaan (diwakili
Muños Ledo) sekarang sedang berkembang. Kongres PRD baru-baru
ini mendeklarasikan bahwa partai itu adalah sebuah "partai sayap
kiri", ini satu gerakan yang jelas-jelas merupakan refleksi tekanan
dari bawah. Organisasi DF dari prtai tersebut dikontrol oleh apa yang
dinamakan Organ Demokrasi Kiri.
Adalah sangat mungkin bahwa PRD akan memenangkan pemilu tahun
2000. Namun jika PRD meraih kekuasaan dan tidak membawakan sebuah
program yang revolusioner, tak diragukan lagi itu akan mempersiaapkan
jalan bagi adanya reaksi dan situasi yang lebih buruk daripada
sebelumnya. Dalam konteks kemorosotan dunia dan kolapsnya ekonomi
Meksiko, mereka akan berada di bawah tekanan dahsyat dari
kekuatan-kekuatan kontradiksioner. Di satu sisi imperialisme akan
mencoba menggunakan otoritas yang dimiliki PRD di tengah massa untuk
mengadakan kebijakan yang lebih menyiksa dan berbagai swastanisasi.
Di sisi lain para pekerja dan kaum tani mengharapkan sebuah
pemerintahan PRD untuk memecahkan problem-problem mereka yang paling
mendesak: upah, demokrasi serikat buruh, korupsi, pertanahan, dll.
Perayaan euphoria akan kencang berhamburan di dalam krisi kapitalis
dan massa akan maju terus dengan ofensif, bahkan tidak menunggu
pemerintah untuk bertindak. Tekanan gerakan massa akan tercermin
dalam PRD dengan kemunculan sebuah sayap baru yang lebih jelas
terdefinisi kirinya, tumpah ruah, berhadapan dengan perang pimpinan
partai yang hingga saat ini lebih menjalin hubungan dengan borjuasi.
NIGERIA SETELAH ABACHA
Setelah Afrika Selatan, negara kunci di Afrika adalah Nigeria. Ini
adalah negara terbesar di Afrika sub-Sahara dengan jumlah penduduk
lebih dari 100 juta jiwa. Satu dari lima orang Afrika tinggal di
Nigeria. Sejak kemerdekaan formalnya di tahun 1960-an, Nigeria
terus-terusan mengalami krisis politik, perang saudara, dan
periode-periode panjang pemerintahan militer. Pemerintahan sipil
Shageri, yang mengepalai terjadinya korupsi di mana-mana,
pelipatgandaan hutang luar negeri, dan penghancuran basis manufaktur
negeri tersebut, telah membuka jalan bagi terjadinya kup militer yang
dipimpin oleh Jenderal Babangida di tahun 1985, yang pada gilirannya
digantikan oleh Abacha. Diperintah oleh militer, negeri itu malah
jatuh lebih jauh lagi ke dalam krisis ekonomi. Sekrang ini Nigeria
menanggung hutang sebesar £ 19 milyar. Meskipun kekayaan sumber
daya alamnya luar biasa &endash;Nigeria adalah produsen minyak ke
lima terbesar di dunia&endash; negeri ini menderita krisis energi
yang akut. Kejatuhan dalam infrastruktur menggiring Nigeria pada
posisi di mana hanya satu dari kilang-kilang minyaknya berfungsi dan
stasiun pembangkit tenaganya hanya beroperasi pada 32 persen dari
kapasitas normal. Kebuntuan masyarakat Nigeria terungkap dengan fakta
kurangnya akses air bersih dan sanitasi, setengah jumlah penduduk
buta huruf, dan harapan hidup di sana hanya 51 tahun.
Sebagaimana dengan seluruh negeri-negeri bekas jajahan, bantuan
senantiasa berjalinan dengan perjanjian dalam persenjataan. Antara
1988-1992 persenjataan dicurahkan ke Nigeria: Italia menyediakannya
seharga 143 juta dollar, Czechoslovakia 134 juta dollar, Perancis 74
juta dollar, dan Innggris 75 juta dollar. Bahkan setelah pembatalan
pemilu 1993 dan pencekalan Ken Sara-Wiwa, dana dan senjata terus saja
berdatangan dari luar negeri.
Di bulan Agustus 1994 pemerintahan militer membubarkan dewan
eksekutif nasional dari Nigerian Labour Congress dan perserikatan
buruh pekerja sektor minyak dan gas. Rezim memberikan pengawasan yang
luar biasa keras terhadap lawan-lawannya, menyerang anggota-anggota
serikat buruh, menutup berbagai universitas, dan menangkapi para
oposan. Tetapi, kelas pekerja Nigeria adalah satu dari yang paling
kuat di Afrika serta memiliki tradisi yang militan. Kematian Abaacha
membukakan situasi yang sepenuhnya baru dan penuh gejolak di Nigeria.
Pada tanggal 12 Maret 1998 kami menulis pada kaum Marxis Nigeria:
"Borjuasi akan bergerak dengan mengabaikan pemerintahan militer
manakala mereka rasai bumi berguncang di bawah kaki mereka. Bisa jadi
mereka mengarah pada front populer &endash;di mana wakil-wakil kelas
pekerja dibawa masuk ke dalam susunan pemerintahan, guna melakukan
berbagai pekerjaan kotor."
Jauh lebih cepat dari yang kita antisipasi, perspektif ini
dibuktikan oleh kejadian sesungguhnya. Kematian Abacha yang tiba-tiba
sepertinya tidaklah dikarenakan sebab-sebab alamiah. Lebih mungkin
karena kaum imperialis yang memiliki kepentingan- kepentingan besar
di Nigeria, ketakutan atas kemungkinan terjadinya ledakan yang
jelas-jelas telah tersiapkan adanya, memutuskan untuk menyingkirkan
si Abacha itu, sebab segala tekanan mereka tidak menunjukkan efek
apapun. Tetapi dengan cara yang sama seperti pengunduran diri
Soeharto menandai dimulainya revolusi di Indonesia, demikianlah
kematian Abacha merupakan episode pertama dalam revolusi di negeri
yang paling padat penduduknya di Afrika. Secara spontan massa turun
ke jalanan untuk mengekspresikan kesenangan hati mereka atas
lenyapnya penindas yang mereka benci. Namun kini, kaum borjuasi dan
kaum imperialis akan buru-buru bergerak guna mengupayakan padamnya
gerakan massa, dengan cara menukar posisi dari kanan ke kiri.
Apapun yang didirikan oleh rezim borjuis, tak akan kita memberinya
secabikpun dukungan politis. Biar bagaimana, kita harus mengggunakan
hak-hak demokrasi yang amat terbatas yang mungkin menjamin naiknya
propaganda kitaa bagi penumbangan rezim borjuis dan teraihnya
kekuasaan oleh kelas pekerja. Kembali, kita akan menekankan pada
kelas pekerja untuk hanya bersandar pada kekuatannya sendiri, daya
tahannya sendiri, organisasinya sendiri, serta taktik dan strategi
independen miliknya sendiri. Tidak dalam cara apapun kaum Marxis
dapat mendukung Abiola yang disebut "demokrat". Posisi independen
harusnya terus dipelihara. Bahkan saat Lenin menunjukkan keberpihakan
pada demokrasi borjuis di Rusia, ia senantiasa menentang kaum
borjuasi liberal di bawah tsarisme dan di negeri-negeri lain. Secara
konstan Lenin mengupas habis tema pokok: tak ada kesetiaan di kaum
borjuis liberal! Percayalah hanya pada kekuatan-kekuatan milik kau
sendiri untuk menemukan solusi bagi premasalahan kelas pekerja! Kaum
stalinis-lah yang meracuni gerakan dengan ide-ide kolaborasi kelas
mereka serta dukungan mereka bagi kaum liberal. Hal yang sama berlaku
juga bagi Nigeria. Jika saja ia hidup sekarang ini, Lenin tentu akan
berkata pada massa di Nigeria: bersandarlah pada daya dan kekuatanmu
sendiri, organisasimu. Jangan kamu memiliki ilusi-ilusi terhadap
apapun yang ada dalam borjuasi liberal. Ya tentu saja, setelah
periode panjang kediktatoran militer akan terdapat ilusi-ilusi pada
kaum borjuasi liberal. Kita harus mempertimbangkan hal ini dan
berjuang untuk semua tuntutan demokratis serius, terutama tuntutan
adanya sebuah Majelis Permusyaawaratan Rakyat. Namun kita harus
mengkaitkan tuntutan-tuntutan demokratik kepada tuntutan-tuntutan
sosialis dalam suatu cara transisional.
Kita tidak medukung satu pemerintahan borjuis untuk melawan
pemerintahan borjuis lainnyaa. Bagaimana pun, penumbangan Junta,
bahkan meski itu menggiring terjadinya sebuah pemeintahan borjuis
yang baru, merupakan satu langkah ke depan. Akan tercipta
kondisi-kondisi baru yang mengizinkan kaum proletar berorganisasi
secara lebih bebas dan memberi kita performa ide-ide baru. Tiap satu
hak demokratik yang dicapai oleh kelas pekerja adalah satu langkah ke
depan yang akan digunakan untuk leangkah yang lebih jauh lagi. Pada
saat yang sama, kita tidak mempercayai apapun bentuknya pemerintahan
"demokratis" borjuis yang baru. Itullah posisi Lenin dan Trotsky di
tahun 1917, sebagai lawan konsiliasionisme Stalin dan Kamenev yang
berkehendak mendukung Pemerintahan Sementara "sejauh mungkin"
pemerintahan itu mendukung revolusi.
Seluruh sejarah Nigeria, yang telah terombang-ambing antara
"demokrasi" dan kediktatoran, adalah indikasi ketidakstabilan
masyarakatnya. Hanya kekuatan aksi massa dan revolusi yang dapat
memaksa Junta menyerah, dan kemudian meletakan landasan bagi
terebutnya seluruh tuntutan demokratik. Itulah alasan TIDAK
memberikan pilihan suara pada Abiola di pemilu Juni 1993. Kita harus
tidak memperkuat ilusi-ilusi yang berkembang atasnya. Adalah sama
sekali keliru untuk mendorong kaum pekerja agar memilih Abiola sebab
ia "tidak terlalu jahat". Kedua partai (kontestan pemilu itu) pada
nyatanya adalah partai-partainya pemerintah. Militer hanya
memperkenankan terjadinya pemilu atas dasar pesertanya hanyalah dua
partai ya direstui pemerintah. Itu kan lelucon. Kita tidak boleh
endukung yang macam begitu. Dengan cara apapun klik berkuasa yang
akan menang! Di Amerika Serikat kita tidak akan mendukung satupun
kandidat kaum borjuis untuk pemilihan presiden. Kita kampaye bagi
Partai Buruh AS untuk menaruh calonnya melawan borjuasi. Ketika di
Nigeria Junta membatalkan hasil pemilu, satu-satunya jalan maju
adalah aksi massa. Jelas-jelas kita dalam semangat menumbangkan
Junta, tetapi jangan sampai kita punya ilusi apapun dalam gaya-gaya
demokrat borjuis yang sekarang ini tampil ke muka.
Borjuasi Nigeria takut kepada demokrasi borjuis sebab ia takut
pada massa. Hanya ketika ada ancaman nyata terjadinya revolusi kaum
imperialis melakukan intervensi untuk mendukung kaum demokrat
borjuis, sebagaimana terjadi di Amerika Latin. Akibatnya, bahkan
Abiola pun telah mendukung Junta, si Abiola itu membiarkan dirinya
terseleksi sebagai orang "yang dapat dipercaya" untuk dipilih dalam
pemilu. Untuk alasan itulah tepatnya sekarang inni ia didorong lagi
sebagi seorang yang bisa jadi merupakan "altenatif yang demokratis".
Ia tidak menimbulakn ancaman apa-apa bagi elite berkuasa dan juga
bagi imperialisme. Kepemimpinan dalam Nigerian Labour Congress, yang
sekarang ini dijabat olleh antek-antek pemerintah, tidak disiapkan
untuk berjuang, sebab berjuang artinya menghantar terjadinya sebuah
perjuangan revolusioner. Kita haruslah membasiskan diri di kelas
pekerja, terutama di lapisan-lapisannya yang paling militan seperti
para pekerja tmabang minyak. Kaum Marxis Nigeria telah melakukan
dengan betul apa yang harus mereka lakukan dengan mengghimbau
berdirinya komite-komite aksi untuk mengkoordinasi aksi massad
memajukan tuntutan-tuntutan transisional seperti penyitaan harta
milik kaum imperialis, nasionalisasi, Majelis Permusyawarahan
&endash;inilah stu-satunya kebijakan yang benar-benar revolusioner:
kebijakan yang mengkaitkan tuntutan-tuntutan demokratik dengan sebuah
program anti-kapitalis.
Bagi massa, satu solusi bagi problem-problem mereka adalah
"pemilihan umum" atau sebuah "Perwakilan" dalam bentuk apapun. Sebuah
kediktatoran polisi militer senantiasa menimbulkan terjadi berbagai
ilusi demokrasi borjuis di tengah-tengah massa. Semua mata tertuju
pada kegagalan yang dipikul kediktatoran itu dan kembalinya
"demokrasi". Massa melihat "demokrasi" sebagai satu cara untuk
menuntaskan permasalahan mereka. Bagi kaum borjuis "demokratik" itu
adalah satu cara, peluang, untuk mematahkan potensi revolusioner
massa. Kaum Marxis harus betul-betul mempertimbangkan situasi begini.
Trotsky membuat point yang sama atas revolusi Cina dan kebutuhan kaum
Trotskyist untuk mengukur hasrat atas hak demokratis setelah sekian
lama di bawah cengkraman keddiktatoran kaum Bonapartis. Itu adalah
perasaan alamiah setelah pengalaman berada di bawah junta militer.
"Kami inginkan hak-hak demokratis kami yang paling dasar" akan
menjadi satu perasan yang tersebar luas. Kita haruslah menggunakan
perasaan macam ini untuk kemaajuan kita. Tugas kita adalah mengaitkan
hasrat terhadap hak-hak demokratik &endash;hak untuk mengorganisir
serikat-serikat buruh dan partai-partai politik, hak untuk melakukan
pemogokan, kebebasan pers, kebebasan majelis, dll.&endash; pada
masalah mengenai, dan program untuk, sebuah revolusi sosialis. Kita
harus memberikan suatu isian kelas terhadap ungkapan-ungkapan yang
menginginkan demokrasi ini. Kita harus mengekspos klaim-klaim
borjuasi yang ingin jadi pahlawan "demokrasi". Pendekatan ini akan
memberikan pada kita telinga massa dan sebuah peluang untuk
menerangkan ikhwalnya kaum Marxis.
Posisi "demokrasi" lebih dulu, lalu kemudian sosialisme, adalah
satu variasi Stalinisme. Tentulah, Majelis Permusyawarahan tetap
merupakan point tempat berkumpulnya kelas pekerja, tetapi di dalam
dan dari majelis begitu sendiri tidak ada solusi. Hanya oleh sebuah
pemerintah kaum pekerja yang mengurusi ekonomi maka permasalahan demi
permasalahan dapat mulai diselesaikan. Tentu saja hanya dengan
meluaskan revolusi ke seluruh Afrika dan ke dunia Barat solusi yang
sebenarnya bisa ada.
Mengingat radikalisasi massa dan takut akan pemberontakan, para
reformis borjuis dan para reformis kiri sungguh-sungguh ketakutan
pada perkembangan ini dan berharap bisa menghindarkannya. Kita tidak
dapat memberi dukungan pada kebijakan kolaborasi kelas. Daripada
mengadaptasikan tekanan kaum borjuis kecil begitu, kaum Marxis perlu
mengedepankan ide-ide kelas yang jelas. Tentulah, di bawah kodisi
semilegal dan ilegal, susah untuk memelihara sebuah posisi kelas yang
jelas. Kebenaran dari pernyataan barusan telah diperlihatkan oleh
pengalaman kaum Bolsheviks di tahun 1917 ketika Stalin, Kamenev, dan
Zinoviev terombang-ambing dan menyerah pada tekanan kaum borjuis dan
opini publik kaum borjuis kecil dan lalu mengambil garis perlawanan
yang terlemah. Tetapi amatlah perlu untuk berjuang melawan arus.
Tanpa sebuah posisi kelas yang jelas dan independen, tidak mungkin
ada jalan keluar.
AFRIKA SELATAN
Afrika Selatan tetaplah negara kunci di seluruh Afrika. Selama
berpuluh tahun kaum proletariat berkulit hitam yang hebat telah
memberikan cukup banyak bukti kegagahberanian dan insting
revolusionernya yang mengagumkan. Hanya kurangnya faktor subyektif
yang menghalangi jalan terjadinya revolusi proletar klasik di Afrika
Selatan. Meskipun berbagai kejadian telah berkembang secara berbeda
dengan apa yang sesunguhnya telah kita bayangkan dalam pikiran,
perspektif-perspektif fundamentalnya tetap sama. Di atas sebuah basis
kapitalis tidak ada masa depan bagi Afrika Selatan, bahkan lebih
tidak ada daripada di negara-negara lain manapun. Alasan utamanya
adalah, setelah keruntuhan Stalisnisme, kepemimpinan ANC, terutama
Mandela, benar-benar bersiap untuk membuat kesepakatan dengan kelas
berkulit putih yang berkuasa hingga dengan itu mereka menjadi bagian
(kelas berkuasa tersebut). Sebagai tukarannya para pemimpin itu
memberikan kepastian bahwa tidak akan ada satu pun perubahan yang
fundamental. Para pemimpin ANC melekatkan diri mereka dengan
kebijakan-kebijakan kapitalis untuk penerimaaan berlanjutnya
kekuasaan komunitas bisnis raksasa kulit putih, tidak ada tindakan
yang akan diambil pada mereka yang bertanggungjawab atas kejahatan
terhadap rakyat di masa lalu, dan seterusnya. Dengan kata lain,
mereka setuju untuk sepenuhnya menyerah.
Imperialisme AS dalam beberapa kejap telah mengenali bahwa situasi
tidak bisa dipertahankan seperti sebelumnya. Tekanan dan militansi
kelas pekerja kulit hitam telah menjadi terlalu kuat untuk diredam
begitu saja dengan melancarkan represi. Sebagaimana biasa, reformasi
adalah hasil sampingan revolusi. Ngeri akan terjadinya revolusi di
Afrika Selatan, Washington memberikan tekanan berat pada De Klerk dan
wakil-wakil lain dari kelas penguasa kulit putih untuk mendorong
orang-orang ini menerima sejenis "kekuasaan mayoritas", dengan
sejumlah persyaratan. Buat pertama kalinya, melagnkahi
pengikut-pengikutnya yang orang-orang Afrika kaum borjuis kecil, De
Klerk mencapai persetujuan dengan ANC &endash;suatu yang tidak kita
harapkan. Di masa lalu, kapan saja kelihatan perjanjian dilakukan
untuk menentang kepentingan mereka, mereka akan berkelit dan berhasil
memutar balik situasi kembali. Partai Nasional sendiri merupakan
hasil perpecahan macam begitu yang terjadi sebelum Perang. Sepertinya
sesuatu yang sejenis akan kembali muncul. Namun di jajaran luas yang
spesifik dari para Afrikaner (kebanyakan petani) setelah beberapa
dekade berlalu, telah merosot ke posisi di mana mereka tidak dapat
menerimakan akibat-akibat hal tersebut seperti di masa lalu. Tetapi
justru pada saatnya, para Afrikaner telah tereduksi pada
gestur-gestur impoten dan juga pada terorisme. Ini urusan serius dan
imperialisme lah yang memutuskannya.
Sementara, adalah sama sekali tidak disebabkan konklusi terdahulu
maka persetujuan akan kembali dilanggar. Segala elemen, yang di
atasnya kita letakkan basis perspektif kita, kini hadir di dalam
proses. Terdapat banyak sekali hal-hal di mana di dalamnya terlihat
proses itu akan pecah. Satu darinya adalah setelah pembunuhan Chris
Hani, terjadi kerusuhan dan aksi tuntutan atas sebagian para pemimpin
ANC. Jawaban yang mereka terima hanya "peliharalah ketenangan". Para
Afrikaner kulit putih juga mengusahakan kekerasan, dan aksi-aksi yang
dilancarkan ABW serta elemen sayap kanan ekstrim di dalam jajaran
aparatus negara diarahkan untuk mengacaukan situsai. Mereka juga
berusaha mengkampanyekan teror, menggunakan jasa gerakan kaum Inkatha
"Zulu" yang reaksioner yang hampir berhasil menggagalkan pemilu di
beberapa region. Tetapi akhirnya elemen-elemen yang bekerja sesuai
perjanjian ternyata lebih kuat dari yang kita pikirkan dan pemilu
berlangsung terus.
Fakta bahwa segalanya telah berbalik secara melenceng dari apa
yang kita harapkan tidaklah lantas membuat perspektif umum kita bagi
Afrika Selatan sama sekali tidak valid. Bahkan, dalam pengertian
apapun yang cukup berarti, kini tidak ada kekuasan mayoritas di
Afrika Selatan. Persetujuan yang disepakati oleh De Klerk dan ANC
adalah untuk pembentukan Pemerintahan Nasional dengan
perwakilan-perwakilan semua partai. Hingga setelah berlangsungnya
pemilu 1999 hal itu tidak akan terjadi.
Kita tidak akan menilai rendah efek dari penyerahan beberapa hak
demokratis kepada penduduk kulit hitam. Tentulah di permulaan akan
tak terelakkan munculnya berbagai ilusi (tentang demokrasi). Konsensi
atas beberapa hal seperti listrik dan air bersih di perkotaan,
istimewanya, akan dilihat oleh warga kulit hitam sebagai kemajuan
utama. Namun harapan massa yang diletakkan di pundak para pemimpin
ANC jauh melebihi konsensi-kensensi begitu. Kemarahan pekerja kulit
hitam terutama kaum pemuda telah tumbuh dengan cepat akibat tingkah
laku para pemimpin ANC. Setelah bergenerasi lamanya mengalami
perbudakan yang begitu rupa, massa kulit hitam di Afrika Selatan
mempunyai aspirasi terhadap eksistensi yang seimbang dan beradap
dalam arti sesungguhnya. Bagi massa, masalah demokrasi selalu
merupakan masalah kongkrit, berkait dengan pekerjaan, upah, dan
perumahan. Pemerintahan pimpinan ANC mengajukan berbagai serangan
terhadap serikat pekerja, hak-hak, melakukan swastanisasi alat
produksi, dll., melalui rencana yang secara salah kaprah dinamai GEAR
(Growth, Employment, and Restribution). Hal itu mendorong para
pemimpin COSATU (yang mendeskripsikan GEAR sebagai sebuah "program
keuangan kapital") untuk mengadakan sejumlah pemogokan dan gerakan
penting. Mereka melakukan ini terutama untuk meredam uap panas dan
memelihara prestise mereka di dalam gerakan, tetapi perpecahan antara
COSATU dan pemerintahan koalisi ANC mencerminkan urusan yang lebih
mendalam lagi.
Sebagaimana kami sebutkan di tahun 1992; "reformasi tidak akan
menghalangi terjadinya gejolak sosial, khususnya di masa merosotnya
perekonomian dunia, yang akan menjadi suatu malapetaka bagi peduduk
berkulit hitam. Hal itu juga mencancam pekerjaan dan hak-hak istimewa
pwnduduk kulit putih yang akan mulai mengabaikan De Klerk dan
bergerak menuju reaksi. Dalam cara yang sama, masa kulit hitam
menyadari bahwa mereka telah diperdaya, basis ANC akan mulai
menyusut. Krisis dan perpecahan akan terkuak di dalam ANC sendiri.
Biar bagaimanapun, sama sekali tidak ada kepastian bahwa persetujuan
akan tercapai. Namun meski perjanjian ditandatangani, itu tidak akan
memecahkan satu pun kontradiksi-kontradiksi fundamental di masyarakat
Afrika Selatan. Itu malah akan menjadi pengantar dalam sebuah periode
baru pergolakan dan kekacauan sosial." (World Perspective, Agustus
1992)
Kita dapat melihat hal itu telah dan tengah terjadi. Terdapat
ketidakpuasan di dalam jajaran ANC dan serikat-serikta buruh mengenai
pemerintahan yang sekarang ada dan mengenai cara bagaimana elit kulit
hitam bekerjasama dengan borjuasi kulit putih, meninggalkan mayoritas
penduduk kulit hitam yang masih hidup dalam kondisi kemiskinan.
Kelanjutannya para pemimpin ANC terpaksa melangkah mundur, dan hal
ini dapat terlihat dalam Konferensi ANC ke-50. Dalam reportase pada
majalah Australia GreenLeft Weekly, Oupa Lendlere menulis bahwa:
"Mandela hanya memilih Inkatha Freedom Party-nya Mangosuthu Gatsha
Buthelezi sebagai penghormatan dan secara personal membawa wakil IFT
itu mendapat tepuktangan panjang dan riuh. ...Publik ANC disiapkan
untuk adanya kemungkinan merger dua organisasi itu, dan penempatan
Mangosuthu Buthelezi pada posisi penjabat presiden Afrika Selatan.
Penjabat presiden ANC yang baru, Jacob Zuma dari KwaZulu-Natal,
dipercaya untuk melakukan merger tersebut."
Kami telah memperingatkan di tahun 1992 bahwa "begitu massa kulit
hitam menyadari bahwa mereka telah ditipu, basis ANC akan mulai
menyusut." (WP, 1992). Reportase yang sama (GreenLeft tadi)
mengomentari: "Kelemahan-kelemahan organisasional, jumlah keanggotaan
yang anjlok, dan ketidakberfungsian cabang-cabang juga
mengkonspirasikan lancarnya kemenangan ANC kanan di Mafikeng.
Delegasi Cape Timur, yang pernah jadi wilayah terkuat ANC, hanya
berjumlah setengah dari kekuatannya di tahun 1994 disebabkan anjoknya
keanggotaan itu." (GreenLeft Weekly)
Pada akhirnya, massa akan menilai kesuksesan "demokrasi" atas
kemampuan demokrasi itu menyediakan perumahan, pekerjaan, dan
kondisi-kondisi kehidupan yang layak. Para pemimpin ANC menjanjikan
hal-hal itu. Namun kini menjadi jelas bahwa kemajuan standard hidup
hanya terbatas pada sebuah minoritas kecil kelas menengah kulit
hitam. Mayoritas terbesar cuma memperoleh cuilan saja. Beberapa orang
kulit hitam sukses masuk papan daftar para direktur
perusahaan-perusahaan monopoli besar di mana kulit putih telah
membuat ruang bagi mereka. Orang-orang ini termasuk sejumlah pemimpin
penting ANC yang telah bekerjasama dengan kelas penguasa. Jadi,
keseluruhan penyelewengan "reformasi" adalah berupa reduksinya yang
memperkaya segelintir warga kulit hitam yang memiliki hak istimewa
penuh, serta pengawetan kekuasaan milik oligarki kulit putih lama
yang sama di bawah proteksi ANC. Thabo Mbeki adalah wakil paling
sempurna dari lapisan borjuis kulit hitam ini.
Sebuah laporan statistik yang dipublikasikan baru-baru ini
menggambarkan bahwa Afrika Selatan adalah negara yang memiliki gap
antara si kaya dan si miskin kedua terlebar setelah Brazil. 40 persen
penduduk termiskin Afrika Selatan hanya menerima 11 persen pendapatan
negara, sementara 7 persen yang terkaya menerima bagian melangit
sebesar 40 persen. Jika di masa lalu gap ini berasosiasi dengan
perbedaan ras, sekarang ini bukan demikian kasusnya, sebab gap yang
luar biasa lebarnya juga terjadi di tengah orang kulit hitam sendiri.
Mereka yang berada di puncak sekarang ini hidup dalam kondisi yang
sama dengan para pengusaha kulit putih dan berdampingan sebagai
tetangga, pergi ke klub-klub yang sama, dll., sementara mereka yang
berada di bawah menyaksikan standar hidup mereka sendiri terbenam.
Secara nyata lebih banyak orang kulit hitam yang berada dalam
kelompok yang memiliki penghasilan teratas, daripada orang kulit
putih.
Laporan tersebut secara grafikal menjelaskan bagaimana "pembagian
pendapatan negara yang diterima 40 persen penduduk termiskin Afrika
Selatan telah menyusut 48 persen, sementara bagian yang diterima 10
persen penduduk terkaya tumbuh 43 persen." Inilah alasan di belakang
begitu banyaknya kenaikan dalam jumlah kriminalitas dan pelanggaran
hukum, bukannya "warisan metode-metode yang digunakan dalam
perjuangan melawan apartheid" seperti yang berulang kali diklaim oleh
pers borjuis. Kaum yang makmur hidup dalam rumah-rumah yang
menyerupai benteng, dalam ketakutan atas kemarahan kaum miskin.
Situasi berjalan jadi mimpi buruk bagi semua bagian masyarakat
&endash;kulit hitam, campuran, ataupun putih, sama saja. Dan di atas
basis krisis kapitalisme, segala hal dapat menjadi lebih buruk lagi.
Para pemimpin ANC ingin menarik minat investor-investor asing, tetapi
pada saat yang sama harus menjaga ketenangan massa dengan
sekurang-kurangnya suatu yang mirip dengan reformasi. Kebijakan ini
akan berujung pada akhir yang tidak memberikan kepuasan bagi siapa
pun.
Para pekerja kulit hitam berjuang selama berpuluh-puluh tahun
bukan untuk hal begini. Ketidakpuasan dan kemarahan kaum pekerja akan
muncul dalam sebuah gelombang perjuangan baru seperti
perjuangan-perjuangan di masa lalu, tetapi pada level yang lebih
tinggi. Setelah menyingkirkan apartheid (setidaknya dalam pengertian
formalnya), dan mempercayai para pemimpin ANC ke puncak kekuasaan,
kaum pekerja akan sampai pada pemahaman perlunya politik-politik
kelas. Akan terbuka jalan bagi formulasi sebuah tendensi Marxis yang
murni. Dalam hal ini, SACP menempati posisi penting yang istimewa.
Terdapat kemungkinan bahwa SACP (Partai Komunis Afrika Selatan) pecah
dari ANC dan membuat aliansi dengan konfederasi serikat COSATU yang
kuat. Tak diragukan lagi inilah tekanan pada peringkat dan
keanggotaan (yang dialami ANC tadi).
Harian Cape Town "Die Burger" menarik kesimpulan yang sama dengan
kaum Marxis: "kebijaknan pemerinntah telah begitu efektifnya
memperkaya yang kaya, khususnya si kaya berkulit hitam, dan secara
luas membiarkan kaum miskin dari semua ras tetap tak berubah
nasibnya. Jadi sebuah bom waktu sedang dicipta, memungkinkan kita
melihat cita-cita Marx yang revolusioner direalisasikan di Afrika
Selatan." (Edisi Bahasa Inggris Die Burger, versi internet, 16 Juni
98).
GDP Afrika Selatan hanya tumbuh 0,2 persen di perempat awal tahun
1998 dan kemerosotan ekonomi dunia yang segera tiba pastilah memiliki
berbagai konsekuensi serius bagi perekonomian negeri ini. Frustrasi
yang terus tumbuh di dalam kelas pekerja kulit hitam akan menemukan
ekspresi melalui organisasi-organisasi yang mendorong perpecahan dan
pergolakan di antara ANC, SACP, dan COSATU. Dengan tradisi kaum
proletar dan para pemuda kulit hitam yang revolusioner, dapatlah kita
harapkan terjadinya perjuangan kelas besar-besaran di Afrika Selatan
pada periode yang akan tiba.
TIMUR TENGAH
Tidak ada satu pun rezim tunggal bisa stabil di Timur Tengah.
Bahkan Arab Saudi pun berada dalam keadaaan krisis sejak jatuhnya
harga minyak menghancurkan pendapatannya. Sudah tidak ada lagi
kemungkinan buat membeli kesetiaan penduduk dengan menghamburkan
berbagai subsidi. Perpecahan dan krisis di jajaran atas adalah
indikasi kebuntuan rezim. Krisis di Bahrain telah mulai terarah pada
kekacauan dan gerakan "pro-demokrasi". Pada gilirannya ini memecah
belah elit penguasa di Saudi. Satu bagian (Raja Fahd) menawarkan
berbagai konsensi, sementara pemerintahan resmi Saudi, dipimpin oleh
peredana menteri yang lemah, Pangeran Abdullah, menentang
konsensi-konsensi tersebut. Fermentasi pemberontakan diperlihatkan
oleh peristiwa bom mobil yang menewaskan lima warga Amerika Serikat
dan dua orang India di sebuah kantor yang dikontrol oleh Amerika
Serikat di Saudi. Adanya revolusi di periode mendatang tidak dapat
dikesampingkan begitu saja. Innilah mengapa Arab Saudi cemas
menghindarkan serangan Amerika Serikat terhadap Irak, yang dapat
membangkitkan propovaki pada massa di wilayahnya sendiri dan bahkan
menggiring kejatuhan rezim. Putaran begitu dalam situasi sekarang ini
akan mempunyai berbagai konsekuensi paling serius sebagai akibat
kepentingan ekonomis dan strategis Arab Saudi terhadap imperialisme
Amerika Serikat. Amerika Serikat akan terdorong untuk ikut campur,
dan hal ini akan memprovokasi suatu ledakan revolusioner di seluruh
Timur Tengah dan akan berlanjut melampaui wilayah ini.
Di Timur Tengah kebijakan dua tahap telah menunjukkan akibatnya
yang paling jahat, menyebabkan kekalahan revolusi di satu demi satu
negara di sana, serta kebangkitan reaksi fundamentalis. Kaum borjuis
dan imperialis, yang pertamanya menyokong kaum fundamentalis sebagai
imbangan atas bahaya revolusi, sekarang ngeri pada
konsekuensi-konsekuensi tindakan mereka sendiri. Di Aljazair, massa
menunjukkan keberanian dan determinasinya yang luar biasa dalam
perang kemerdekaan melawan imperialisme Perancis. Itu harusnya bisa
menimbulkan revolusi sosialis di Aljazair dan sekaligus di Perancis,
jika saja perang itu tidak dibelokkan oleh kebijakan kaum Stalinis
Perancis dan keterbatasan (pandangan) nasional para pemimpin FLN.
Yang disebut terakhir ini tidak melihat perlunya mengadakan himbauan
kepada kelas pekerja Perancis, tetapi mengadopsikan sebuah kebijakan
yang murni nasionalis. Konsekuensinya, satu setengah juta orang
perancis, kebanyakan mereka adalah tenaga ahli yang jasanya
diperlukan oleh rakyat Aljazair, kabur dari negeri itu dan ini
menyebabkan kesulitan besar di bidang perekonomian. Para pemimpin FLN
yang borjuis kecil nasionalis menamai diri mereka sosialis dan
melakukan nasionalisasi, tetapi tidak menuntaskan pekerjaan mengenai
penyitaan modal dan pemutusan hubungan dengan imperialisme. (Kaum
Stalinis Cina, dengan tokohnya Chou En Lai, begitu aktif
menakut-nakuti mereka untuk tidak melakukan ini). Sebagai akibatnya,
jadilah mereka mneyediakan jalan terhadap adanya reaksi, pertama
adalah kudeta Boumidienne, dan belakangan, dengan akibat yang parah,
adalah kebangkitan fundamentalisme.
Setelah hampir empat dekade sebuah kemerdekaan di atas basis
borjuis, Aljazair masih berada dalam kekisruhan meskipun kaya benar
akan potensi minyak bumi. Jutaan kaum muda tak punya pekerjaan dan
masa depan. Krisis kapitalisme berarti bahwa pintu emigrasi ke
Perancis terutup. Kesuksesan gilang gemilang dalam perang kemerdekaan
telah berganti jadi abu di mulut mereka. Dalam keputuasaan, mereka
menjelma jadi kaum fundamentalis. Ini satu ironi yang mengerikan,
sebab tradisi revolusi-revolusi bangsa Aljazair itu sekuler dan
progresif. Reaksi bernafas Islam &endash;sama halnya dengan
fundamentalisme Yahudi, Katolik, Protestan, dan Hindu&endash;
mengkombinasi fanatisme agama dan reaksi yang hitam dalam porsi yang
seimbang. Demagogi anti-imperialis yang mereka gunakan tidak merubah
fakta ini.wajah aasli fundamentalisme diperlihatkan oleh adanyaa
pembaataaiaan terhadap laki-laki, perempuan, dan anak-anak, meskipun
banyak pembantaian itu jelas-jelas merupakan pekerjaan
kekuatan-kekuatan negara. Di antara keduanya (fundamentalisme dan
negara) tidak ada yang dapat dipilih. Kekisruhan berdarah di Aljazair
adalah kegagalan FLN mengadakan revolusi hingga ke akhirnya. Hal ini
dengan amat tajam mengigatkan kita pada pernyataan Marx yang terkenal
mengenai pilihan yang dihadapi umat manusia &endash;sosialisme atau
barbarisme. Barbarisme yang sama seperti yang tengah kita lihat di
Aljazair akan dihadapi oleh negara-negara lain, dan tidak hanya di
Dunia Ketiga, kalau kelas pekerja tidak merebut kekuasaan.
Jantung dari semua krisis di Timur Tengah adalah konflik
Israel-Palestina. Konflik ini telah menggiring terjadi empat perang
dan konfliknya masih saja belum terselesaikan. Appa yang disebut
perjanjian damai yang dimakelari imperialis Amerika Serikat tidak
menyelesikaan apa-apa. Washington menyukai perundingan damai sebab ia
tidak inginkan konflik-konflik yang membahayakan investasinya yang
luar biasa besar di area tersebut, dan meski ia adalah klik karib
elit penguasa di Arab Saudi, ia selalu saja memberikan akhiran yang
menguntungkan Israel karena yang disebut terakhir tetaplah
satu-satunya sobat terkarib di dunia. Meski Amerika Serikat terganggu
dengan kebijakan yang di lakukan Tel Aviv, ia tidak punya pilihan
selain menerimanya.
Tendensi kita secara konsisten melawan kebijakan-kebijakan edan
dari terorisme dan gerilyaisme (ini benar-benar hal sejenis) yang
dilakukan oleh kepemimpinan PLO di masa lalu. Kebijakan itu
menggiring terjadinya kerusakan demi kerusakan dan tidak membawa
apapun yang mendekatkan pada penyelesaian masalah rakyat Palestina.
Sebaliknya, ia dipermainkan oleh kelas penguasa Israel dan
ddiasingkan pula oleh massa Yahudi. Kita harus mengingatkan diri kita
bahwa kita adalah satu-satunya yang menekankan bahwa satu-satunya
jalan untuk mengalahkan imperialis Israel adalah dengan melalui
perjuangan massa di berbagai teritorial yang diduduki (oleh Israel),
terutama di West Bank.
Perspektif ini telah ditunjukkan sebagai suatu yang benar oleh
Intifada yang hebat &endash;suatu yang tidak diharapkan dan tidak
secuilpun disiapkan oleh para pemimpin PLO. Intifada adalah
keberhasilan parsial. Ia tidak dapat menjadi lebih daripada sekedar
parsial dalam ketiadaan sebuah kepemimpinan sadar yang mampu
melakukan himbauan kelas pada para pekerja dan serdadu Yahudi. Itulah
kunci untuk mencapai keberhasilan. Adalah perlu untuk membangun
aliansi perjuangan antara massa Palestina dengan kelas pekerja di
Israel. Yang disebut belakangan tadi adalah sasaran serangan ke
penguasa di Israel, dan kini tengah melakukan perlawanan. Para pionir
awal Israel bennar-benar kaum sosialis utopia yang mengidamkan
nasionalisasi ekonomi. Sebenarnya, serikat pekerja, Histadruth,
memiliki bagian besar dari perekonomian. Namun sebagaimana umumnya
negara kapitalis, kelas penguasa Israel mengadakan kebijakan yang
amat buruk yaitu swastanisasi dan pemotongan (subsidi). Inilah yang
menimbulkan terjadinya ledakan perjuangan kelas di Israel.
Di awal Desember 1997 Israel diguncang pemogokan umum yang
dimotori Federasi Umum para buruh, Histadruth. Pemogokan itu mulai di
tanggal 3 Desember, berlangsung selama lima hari, dan berujung pada
kemenangan. Sekitar 700.000 pekerja berpartisipasi dalam pemogokan
terbuka itu meski serangan gencang media massa dan ancaman
pemerintahan Netanyahu yang akan menggunakan jalur hukum untuk
melawan para pemogok, menetak serikat dan memenjarakan pra
pemimpinnya, dan pengadilan menyatakan pemogokan itu "tidak legal".
Setahun sebelumnya Sholo Shani, orang ke dua di Histadruth, ditahan
karena alasaan "penghinaan terhadap pengadilan" karena adanya
gelombagn pemogokan dan juga inilah usaha pertama Histadruth untuk
mengadakan pemogokan umum di bulan September yang dihentikan oleh
pengadilan setelah pemogokan tersebut berlangsung beberapa jam.
Pemogokan umum bukanlah isu tersendiri, melainkan bagian dari krisis
ekonomi yang terus membesar yang menghantam Israel. Telah ada
sejumlah aksi yang pahit, seperti pendudukan pabrik tekstil Kitan di
Nazareth Elite oleh para pekerjanya yang melakukan protes sebab
pabrik itu akan ditutup, perjuangan Tel Aviv menolak para kolektor
guna melawan swastanisasi, perjuangan di pabrik kimia Haifa
Chemicals, dll. Dalam beberapa di antaranya, seperti protes atas
"pengembangan kota" Ofakim, yaitu menentang pemberthintian kerja,
para pekerja Yahudi dan Arab melakukan demonstrasi bersama.
Sebenarnya itu anggota-anggota Histadruth di dewan-dewan berbeda yang
mendorong para pemimpin dewan tersebut untuk melakukan aksi umum.
Pemisahan baru di masyarakat Israel ini, yang terjadi atas isu-isu
kelas, juga memiliki efek di dalam politik. Telah ada pembicaraan
mengenai perlunya menciptakan suatu partai yang berbasis
serikat-serikat dan dewan-dewan pekerja, dan bahkan Partai Buruh MP
dan sekretaris jenderal Histadruth, Amir Peretz, sudah mengeluarkan
komentar simpatik mengenai ide tersebut. Partai Buruh, yang secara
tradisional berbasis lebih pada kelas menengah Yahudi Ashkenazi
(aslinya berasal dari Eropa), selama pemogokan umum berlangsung sama
sekali tidak menunjukkka dukungan apa-apa, dan sesungguhnya beberapa
pemimpinnya mengatakan bahwa jikapun mereka yang memegang kekuasaan
mereka akan menerapkan kebijakan yang sama dengan Netanyahu.
Pemisahan ini berimbas pula pada Likud, yang secara tradisional
berbasis pada kelas pekerja yang lebih miskin, yaitu Yahudi Sephardis
(berasal dari Timur Tengah), yang telah terlihat bahwa kelompok ini
mengabaikan pendukung tradisionalnya dengan menghimbau program
"revolusi thatcherite". Inilah alasan di balik pengunduran diri satu
menteri dalam jajaran pemerintahan koalisi Netanyahu, David Levy,
sebab penentangannya atas pemotongan anggaran belanja sosial.
Jelas-jelas dia khawatir kehilangan dukungan bagi paratainya yang
kecil di tengh pekerja Yaahudi. Perkembangan-perkembangan ini
menunjukkan bahwa suatu program yang bebasis kelas akan bisa
menyatukan para pekerja Arab dan Yahudi, Yahudi Ashkenazi dan Yahudi
Shepardis, menyebrangi kebencian nasional dan agama. Tetapi
taktik-taktik dari grup-grup seperti Hamas sungguh-sungguh memiliki
efek sebaliknya, mendesak massa Israel di belakang Likud, dan memberi
bantuan serta keberanian pada elemet-elemen yang paling reaksioner
dalam masyarakat Israel, sambil terus mengorbankan elemen-elemen kaum
muda Palestina yang paling gagah berani yang menyerahkan hidup mereka
tanpaa pamrih apapun.
Keedanan fundamentalisme tidak pernah merupakan bagian tradisi
orang Palestina. Sebagaimana di Aljazair, itulah harga yang harus
dibayar akibat penolakan kepemimpinan massa untuk mengadakan
kebijakan sosialis. Hanya sebuah program yang berbasis kebijakan
kelas dan internasionalis yang dapat berhasil menyatukan massa Arab
dan Israel melawan musuh bersama. Revolusi sosialis di Israel dalam
menjadi titik awal bagi revolusi di seluruh wilayah Timur Tegah.
Supaya berhasil, revolusi itu tidak dapat dibatasi pada Israel dan
daerah-daerah yang didudukinya, tapi harus bertempur bagi seluruh
wilayah Timur Tengah sebagai langkah pertama untuk berhasil
sepenuhnya.
"KEAJAIBAN" ASIA TENGGARA
Satu tempat yang dulunya berada di bawah kekuasaan kolonial di
mana telah terjadi pertumbuhan ekonomi yang signifikan adalah Asia
Tenggara, di mana apa yang disebut "macan-macan ekonomi" diambil
sebagai model bagaimana kapitalisme dapat menyediakan formula bagi
penyelesaian keterbelakangan. Nyatanya, ada alasan-alasan historis
yang spesifik mengapa Jepang, Korea Selatan, dan bahkan Taiwan
berkembang dalam cara ini. Hal itu terutama sebagai hasil korelasi
ganjil dari kekuatan-kekuatan yang berkembang setelah Perang Dunia
Kedua. Trotsky memnaruh poinnya bahwa reformasi dan segala jenis
perubahan penting adalah produk sampingan revolusi. Hukum ini dapat
diterapkan, bahwa bukan cuma di negara-negara tertentu, melainkan
secara internasional. Reformasi agraria yang merupakan tugas
fundamentalis revolusi demokratik borjuis di Jepang dan Korea Selatan
diperkenalkan sebagai akibat adanya ketakutan imperialisme AS akan
perluasan revolusi China (dalam kasus Jepang hal itu secara langsung
diperkenalkan oleh kekuatan pendudukan AS segera setelah Perang Dunia
Kedua). Mereka mengadakan suatu reformasi mendalam yang berasal dari
jajaran atas guuna menghalangi terjadinya revolusi dari bawah. Apa
ini berkontradiksi dengan teori revolusi permanen? Tidak.
Negara-negara ini sungguh merupakan perkecualian, bukan aturannya
begini. Dan jika Korea Selatan, Jepang, Taiwan adalah perkecualian,
Hong Kong dan Singapura adalah perkeculian yang bahkan lebih ganjil.
Dua yang disebut terakhir sama sekali bukan negara, melainkan
negara-kota yang memiliki keuntungan dari perkembangan-perkembangan
tertentu dalam perekonomian dunia.
Cukup berharga juga untuk mencatat bahwa ekonomi-ekomomi ini tidak
berkembang di atas basis pasar bebas dan pembukaan pasar, tetapi
sebaliknya di atas basis intervensi negara dalam ekonomi dan berbagai
rintangan trif tinggi yang dipasang untuk melindungi
industri-industri nasional mereka. Di Korea Selatan ada rencana 5
tahun dan bank-bank diberitahu perusahan-perusahaan mana yang boleh
dipinjami uang, dan perusahaan-perusahaan diberitahu di manna tempat
untuk melakuka ninvestasi serta produk apa yang harus dikembangkan.
Hanya satu tahun yang lalu, Asia dinobatkan sebagai satu contoh
brilyan kesuksesan kapitalisme dan pasar. Borjuasi mabuk kepayang
dengan ilusi bahwa Asia dapat menjamin sebuah masa depan yang
menakjubkan mengenai pertumbuhan yang terus-menerus serta kejayaan.
Ilusi-ilusi ini bahkan bergema juga di jajaran kaum Marxis. Masalah
yang diperdebatkan adalah bagaimana pun perkembangan di Asia,
bersama-sama dengan berbagai lapangan investasi baru seperti
informasi dan globalisasi, tidak mensignifikasikan sebuah periode
baru dari kemajuan kapitalisme, seperti satu kemajuan yang membuntuti
tahun 1945. Kami menandaskan bahwa tidak ada susuatu yang baru dalam
perkembangan-perkembangan ini. Seorang dapat menemukan proses-proses
analogis di setiap periode kapitalisme, dari abad ke-16 hingga kini.
Sejatinya profit yang diperoleh investor asing benar-benar amat luar
biasa banyak &endash;20, 30, atau bahkan 50 persen. Inilah magnet
bagi investasi dan pertumbuhan yang terjadi. Namun Marx menjelaskan
bahwa ini manya mungkin di tahap-tahap awal. Di masa yang lebiih
panjang rata-rata profit itu akan jatuh hingga pas-pasan saja.
Itulah tepatnya apa yang terjadi di Asia Tenggara. Perkembangan
kelas pekerja berarti perkembangan gerakan pemogokan, perjuangan
melawan eksploitasi, yang pada satu tahap tertentu akan membawa
(pekerja) kepada upah yang lebih tinggi dan pembatalan
keuntungan-keuntungan awal. Sementara itu kontrakdiksi-konntradiksi
yang ada makin menajam. Dengan kata lain, anda memiliki syarat-syarat
objektif bagi terjadinya revolusi sosialis. Hukum-hukum klasik
kapitalisme diterapkan dalam kasus ini sebagaimana ia diterapkan pada
kasus-kasus lainnya. Dua atau tiga tahun lalu kaum borjuis kegirangan
soal Asia Tenggara dan Cina. Namun kini mereka berhadapan dengan
kapasitas berlebihan yang masif, atau dengan kata lain, over
produksi. Apa yang telah terjadi di negara-negara Asia Tenggara
&endash;dan itu dengan mudah dapat diprediksi melalui sudut pandang
Marxis&endash; adalah mereka sedang memasuki satu situasi kapitalis
normal. Mereka menghadappi kelebihan kapasitas masif di segala sektor
produksi: mobil, semikonduktor, perlengkapan elektronik, mikrochip,
dan bahan kimia. Ini adalah suatu model kapitalis klasik sebagaimana
digambarkan oleh Marx.
Kita menyambut investasi dan industrialisasi Asia Tenggara. Dari
cara pandang seorang Marxis itu adalah sebuah hal yang bagus, karena
hal itu menciptakan sebuah kelas pekerja yang kuat dan dengan itu
menciptakan syarat-syarat objektif bagi revolusi sosialis.
Sebagaimana dengan tsaris Rusia seratus tahun lalu,
investasi-investasi asing ini tidak lah menggeser berbagai
antagonisme sosial tapi malah memperparahnya. Proses-prosenya serupa
dengan apa yang terjadi di Rusia di pergantian abad lalu. Di tahun
1890-an terdapat perkembangan kolosal dari kekuatan-kekuatab
produktif, meski terbatas pada wilayah tertentu. Secara eksklusif ini
berbasis pada kapital asing di area sekitar Moskow, St. Petersburg,
daerah Ural, dan bagian Timur Rusia. Tetapi tetap saja Rusia itu
negara ekstrim terbelakang. Hanya ada 3 juta pekerja dari jumlah
total pennduduk 150 juta jiwa. Itu jauh lebih terbelakang daripada
India kini. Jenis perindustrian yang didirikan di sana kemudian,
sebab hukum perkembangan tak merata dan tak imbang (uneven and
unequal), adalah perindustrian yang paling modern di dunia, dengan
rata-rata pertumbuhan yang amat tinggi serta konsentrasi tinggi pada
kekuatan buruh. Dan di atas basis pembayaran upah yang amat rendah,
mereka mendapat keuntungan yang amat tinggi. Posisi yang benar-benar
sama ini yang kita lihat pada "macan ekonomi" hingga baru-baru ini.
Periode ledakan pertumbuhan ekonomi dalam tsaris Rusia berakhir saat
revolusi tahun 1905 dan 1917.
Borjuasi senantiasa mencari jumlah profit yang lebih tinggi dan
ketika ia menemukanya mereka mengisinya, dan mereka menginvestasi
bagai gila. Mereka yang sampai di sana memperoleh bagian paling
masif, tetapi sebab anarki prodiksi kapitalis mereka akhirnya
menimbulkan adanya over produksi yang masif pula. Itulah akar
penyebab bagi krisis yang di Asia Tenggara (yang diharap dapat lepas
dari hukum-hukum kapitalisme dan menjadi model Asia yang unik
berbasis pada pertumbuhan berkesinambungan &endash;seperti impian
usang tentang sebuah mesin yang "bergerak tanpa henti") sekarang ini
muncul dalam bentuk klasik. Problemnya adalah borjuasi hanya melihat
negara-negara ini sebagai pasar dan lahan investasi. Mereka tidak
menyadari bahwa sekali dari yang disebut belakangan ini membangun
industri, maka mereka mulai mengekspor. Saat ini Cina telah mengejar
Jepang sebagai negara dengan surplus perdagangan terbesar, bersama
Amerika Serikat, dengan konsekuensinya sebagian dari Kongres Amerika
Serikat telah tiba-tiba mengembangkan perhatian serius bagi "hak
azazi" di China. Tiap periode perkembangan kapitalis disertai dengan
pembukaan daerah-daerah baru di muka bumi, dimulai dari penemuan
Dunia Baru saat fajar kapitalisme, lalu perkembangan kolonialisme di
abad ke-18 dan ke-19, Cina, Kalifornia, dan Australia di abad yang
lalu, dan seterusnnya.
Sejak di halaman-halaman Manifesto Komunis, Marx dan Engels telah
menjelaskan bahwa sistem kapitalis, tak seperti seluruh cara produksi
yang terdahulu, secara konstan mengembangkan cara-cara produksi
dengan mencari daerah-daerah investasi baru. Inilah tepatnya sisi
progresif kapitalisme. Apa yang menyentak dari masa sekarng ini
bukanlah eksistensi area-area baru bagi investasi produktif
&endash;tanpanya sistem tidak dapat eksis&endash; melainkan kurangnya
ubvestasi yang produktif dan besarnya jumlah kapital yang melekat
pada aktivitas-aktivitas non-produktif dan parasitis pula sifatnya,
spekulasi keuangan, derivatif-derivatiif, pertaruhan atas suplai
barang, properti, pengusaan, dan juga penjarahan sistematis terhadap
negara di semua negeri atas nama swastanisasi. Semuanya ini
menyiapkan jalan bagi kemerosotan mendalam pada skala dunia di
periode mendatang.
Sejauh-jauhnya "globalisasi" diberi perhatian, ini juga telah
dibahas di Manifesto Komunis. Bahkan di saat sekarang, ini adalah
soal yang dapat diperbincangkan meski derajat integrasi ekonomi
dunia, nyatanya, lebih besar di periode antara tahun 1870 dan 1914.
Adalah benar bahwa divisi buruh internasional dan perdagangan dunia
telah berkembang luar biasa di periode lalu. Ini adalah motor
kekuatan utama bagi perkembangan kapitalis selama seluruh periode
seth 1945, bertindak sebagai stimulus kolosal atas investasi dan
produksi. Namun, sebagaimana telah kami jelaskan di dokumen terdahulu
(lihat A New Stage in the World Revolution) hal ini kini telah
mencapai limit, dan ekspansi perdagangan dunia tidak lebih lama lagi
memili efek yang sama. Benar, dalam pencarian keuntungan ekstra,
borjuasi telah menginvestasi sejumlah besar uang di Asia dan, untuk
efek yang agak kurang menguntungkan, di lain-lain "pasar yang sedang
muncul" (Amerika Latin dan Eropa Timur). Marx menjelaskan bahwa satu
dari perangkat yang dengannya kaum kapitalis dapat bertempur bagi
melawan tendensi turunnya perolehan keuntungan adalah benar-benar
melalui perdagangan dunia dan khususnya perdagangan dengan
negeri-negeri kolonial yang melibatkan lebih banyak buruh dengan
nilai tukar yang lebih rendah.
Di sini sebuah proses serupa muncul sebagaimana saat kapitalisme
melakukan investasi dalam suatu cabang teknologi baru yang
mempermurah produksi dan membuat mereka mampu menangkap bagian pasar
yang lua. Mereka yang tiba di tempat itu lebih duluan akan mmeperoleh
keuntungan luar biasa banyak untuk sementara waktu, namun ini tidak
akan berlangsung lama atau seterusnya. Termotivasi oleh keserakahan
pada profit super itu, kapitalis yang lain ikut masuk, menyebabkan
produksi yang amat berlebih-lebihan. Perolehan keuntungan kembali
jatuh ke angka rata-rata. Akhirnya over-investasi melebihi tuntutan
yang terbatas, memberi kenaikan jumlah over-produksi. Harga-harga
stagnan dan lalu jatuh. Daripada sekadar cuma keuntungan yang jatuh,
kita melihat jatuhnya profit massa, menghasilkan suatu kemerosotan
yang akan berlangsung hingga semua produk surplus habis, sejalan
dngan penutupan pabrik-pabrik, pengangguran massa, dan perusakan
paksa alat-alat produksi yang akhirnya menciptakan kemungkinan bagi
pasar-pasar baru serta lahan-lahan investasi baru, serta tumpah ruah
produksi yang baru.
Investasi-investasi di Asia Tenggara dan Cina secara luar biasa
telah mengembangkan ekonomi. Permasalahannya adalah, sudahkah hal itu
memecahkan kontradiksi-kontradiksi kapitalisme? Sebaliknya.
Partisipasi pasar dunia yang tumbuh cepat, penyingkiran segala macam
rintangan perkembangan kapital, semata-mata hanya pemproduksi ulang
berbagai kontradiksi lama pada skala dunia, di levelnya yang lebih
tinggi dan dalam tampilan yang lebih intens. Apa yang kini tengah
dipersiapkan adalah benar-benar krisis global kapitalisme, yang akan
menghantam ekonomi Asia, Afrika, dan Amerika Latin, dengan kekerasan
yang palign besar, secara luarbiasa memperparah tekanan-tekanan yang
terakumulasi selama puluhan tahun. Ksisis ekonomi yang kini terjadi
di Asia adalah sebuah peringatan tentang apa yang akan segera tiba di
skala dunia di periode mendatang. Teori revolusi permanen tidak
mengatakan bahwa anda tidak dapat memiliki perkembangan ekonomi yang
penting di sebuah negeri jajahan. Teori itu mengatakan persis
sebaliknya. Apa yang diucapkannya adalah bahwa borjuasi (daerah)
kolonial itu tidak mampu menanggulangi problem masyarakatnya. Dan di
sini kita lihat bahwa hal itu sepenuhnya benar.
Alasan mengapa Amerika mulai menyerang Cina atas rekornya soal
hak-hak pekerja, serta konsidi buruh dan upah di Korea Selatan adalah
karena negeri-negeri ini telah membangun industrinya hingga ke
tingkat mampu bersaing dengan produk-produk Barat di pasar dunia.
Tetapi menurut pandangan kaum kapitalis upah di Korea Selatan sudah
terlalu tinggi, dibandingkan dengan kompetitor-kompetitor regional
lainnya. Sesungguhnya, perusahaan-perusahaan Korea Selatan, bahkan
sebelum krisis, telah turun pada upah yang lebih rendah seperti di
Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Hal ini menciptakan situasi yang
eksplosif di Korea Selatan, di mana para boss dipaksa melakuakn
hantaman terhadap upah, kondisi, dan pekerjaan para pekerja. Ini
menimbulkan ledakan perjuangan kelas dalam bentuk pemogokan umum di
bulan Desember 1996/Januari 1997. Perkembangan-perkembangan ini
menandai kebangkitan kaum proletar Asia, secara amat sangat,
diperkuat oleh perkembangan industri di periode terakhir. Pada
kenyataannya, tidak lah benar mengatakan Korea Selatan sebagai negara
kolonial sekarang ini. Negara ini kini kekuatan ekonomi ke delapan
terkuat di dunia dan perusahaan-perusahaannya melakukan investasi di
luar negeri bahkan di South Wales di mana biaya tenaga kerja sekarang
secara aktual lebih rendah daripada di Korea Selatan sendiri.
Sebagaimana diperlihatkan di Korea Selatan, di semua negara-negara
(di Asia Tenggara) ini kelas pekerja berada dalam posisi memainkan
peran pemimpin, membuktikan ia memiliki kepemimpinan revolusioner.
Para pekerja di Korea Selatan telah berkali-kali menunjukkan
determinasi mmereka untuk berjuang melawan kapitalisme namun
berkali-kali pula para pemimpin mereka mengecewakan mereka. Bahkan
para pemimpin konfederasi serikat pekerja yang ilegal dan militan,
KCTU, menerima kebijakan kolaborasi kelas dan menandatangani
perjanjian tiga pihak IMF dengan pemerintah dan para boss,
memperkenankan massa terabaikan, di awal krisis. Tetapi jajaran
serikat segera mengadakan pertemuan nasional wakil-wakil wilayah
kerja di mana di dalam pertemuan itu di ambil keputusan bersama
menolak persetujuan tersebut tadi dan kepemimpinan diganti dengan
mereka yang lebih militan, yaitu wakil-wakil dari serikat pekerja
pabrik baja. Ini adalah satu perkembangan yang signifikan yang
memperlihatkan bagaimana organisasi-organisasi massa akan tergugah
pada pondasinya di satu demi satu negara sebagaimana krisis
berkembang.
Tetapi bahkan kepemimpinan yang lebih radikal ini tidak dapat
mengemban tugas, sebagaimana diperlihatkan dalam gerakan di awal Juni
baru-baru ini, saat setelah pemogokan peringatan yang dahsyat
dihadiri 200.000 orang, mereka membatalkan pemogokan umum
habis-habisan yang telah direncanakan sebelumnya. Hal ini menimbulkan
fermentasi lebih jauh dari kritisisme di kalangan rakyat banyak.
Contoh ini mengilustrasikan fakta bahwa, semilitan apapun satu
serikat, dalam keadaan-keadaan seperti ini, jika ia tidak
dipersenjatai dengan suatu program politik mengenai perubahan
sosialis di masyarakat, maka ia terkekang hingga lebih dalam berada
di bawah tekanan kapitalisme. Situasi di Korea Selatan hanya
mengizinkan dua solusi: apakah itu para pekerja mengambil alih para
chaebol atau kebijakan Kim Dae Jung harus ditelan seluruhnya &endash;
"seluruh bangsa berkorban untuk keluar dari krisis" (yaitu, kaum
pekerja mananggung beban krisis melalui berbagai redudansi massa,
pemotongan upah, dll.) tidak ada jalan tengah.
PANDANGAN MARX ATAS KOLONIALISME
Marx menulis sedikit sekali mengenai revolusi kolonial, sebab pada
tahap tersebut masalah revolusi sosialis dalam sebuah negara
terbelakang belum berlaku. Namun dalam volume ketiga Kapital terdapat
satu bagian yang amat menarik mengenai kolonialisme dan aturan main
bagi investasi di negeri-negeri kolonial yang sepenuhnya masih dapat
diterapkan dalam situasi sekarang ini. Dalam bagian mengenai tendensi
di mana perolehan keuntungan jatuh, Marx menjelaskan bahwa satu dari
cara-cara yang dengannya kapitalisme memerangi tendensi ini adalah a)
dengan berpartisipasi dalam pasar dunia, ini setepat-tepatnya apa
yang kini tengah mereka lakukan; dan b) khususnya melalui perdagangan
kolonial dan investasi kolonial. Bagaimana cara kerjanya? Kaum
kapitalis yang menanam investasi di negeri-negeri kolonial, terutama
mereka yang datang pertama, dapat meraih keuntungan dari suatu
komposisi kapital organis yang amat rendah: upah rendah,
industri-industri bermasa kerja tinggi, dan cara bahwa eksploitasi
ini bekerja melalui serikat buruh adalah bahwa mereka menukar sedikit
buruh dengan lebih banyak buruh lainnya.
Dalam cara yang sama seperti kaum kapitalis yang pertama menaruh
investasi dalam mesin baru dapat memperoleh keuntungan, maka kaum
kapitalis yang menaruh investasi di Asia menadah laba yang
mencengangkan, sebagaimana telah kami sebutkan tadi. Negeri-negeri
terbelakang serta berpenduduk padat ini, lapar akan investasi,
industri dan teknik Barat, terlihat membuka sebuah pandangan tanpa
batas bagi ekspansi dan pengerukan profit. Ilusi yang sama telah
berkali-kali diulangi di masa lalu. Di abad lalu, Engels mengomentari
dengan ironis mengenai ilusi para pemilik manufaktur katun di
Manchester yang percaya bahwa pasar Cina (ya, Cina!) akan menjamin
pasar bagi produk mereka, pasar yang tak akan pernah berakhir. Mimpi
itu berakhir pada kemerosotan ekonomi, seperti biasanya. Namun untuk
sementara waktu, di atas basis upah rendah dan teknologi baru, profit
berlimpah &endash;profit super&endash; menjadi mungkin adanya. Tapi
kini semua ekonomi ini sudah kolaps dan berada dalam resesi mendalam.
Ini telah menyulut revolusi Indonesia dan berbagai gerakan penting di
negara-negara lainnya. Limit Asia telah dicapai (tentu saja, dalam
cara pandang kaum kapitalis, dalam prakteknya, perkembangan Asia
secara menyakitkan telah mulai).
Jumlah investasi yang luar biasa besar telah memproduksi limpahan
timbunan produksi yang tak dapat dijual. Ekspansi yang produksi
kapitalis begitu deras di Asia (satu-satunya area di mana berbagai
hasil yang demikian spektakuler itu bisa dicapai) telah sampai pada
benturan dengan daya beli massa yang terbatas. Secara kebetulan, upah
rendah, bukanlah sumber bagi datangnya profit lebih banyak lagi.
Mestilah ada faktor-faktor lain yang menutupi upah rendah, contohnya
produktivitas yang rendah. Banyak dari negara-negara ini tidak
mempunyai kelas pekerja ahli yang berjumlah besar, sebagaimana
kasusnya di Malaysia, Indonesia, Thailand, dll. Tambahan lagi
terhadap hal ini adalah adanya pajak, korupsi, infrastruktur yang
buruk, biaya pengangkutan ke pasar-pasar Eropa dan Amerika Serikat,
dll. Jika mereka berkeinginan untuk lengkap, meski di antara mereka,
mereka harus menurunkan upah. Tetapi kaum borjuis Korea menghadapi
kelas pekerja yang amat kuat yang tidak mau menyerahkan bagiannya
tanpa melalui pertempuran.
Berbagai profit mencengangkan telah diambil dari investasi di Asia
Tenggara sepanjang sepuluh tahun terakhir. Demikian juga di Cina,
yang merupakan kasus yang amat pelik, sebab meski Cina tetap sebuah
negara-negara kelas pekerja yang terdeformasi, ia telah berani sekali
mengizinkan perkembangan kapitalisme di area-area tertnetu. Sepintas,
Lenin bermaksud melakukan sesuatu yang serupa dengan yang ada di
tahun 1920-1negara saat ia menawarkan pada para investor segama macam
daftar konsensi, namun senantiasa berada di bawah kontrol ketat
sebuah negara kaum pekerja. Ide itu adalah untuk memperoleh
keuntungan dari teknologi modern yang bisa jadi hanya bisa
dikembangkan dalam Uni Soviet dengan harga yang lebih tinggi lagi.
Tetapi hal itu mustahil sebab secara fundamental Rusia waktu itu
adalah negara pekerja yang sehat dan daripada menarus investasi di
sana, kaum kapitalis bercita-cita menggempur negara Soviet.
Bagaimanapun, jika kaum Bolsheviks memang dapat memperoleh investasi
tersebut mereka akan memperolehnya.
Di Cina, situasinya berbeda sejak birokrasi, dan bukannya kelas
pekerja, berada di dalam kontrol dan mereka ini tidak
merepresentasikan suatu ancaman fundamental terhadap kapitalisme di
seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, kaum kapitalis merasa bahwa
rezim ini adalah satu rezim yang dapat diajak berbisnis! Nyatanya,
Cina telah memainkan peran yang pada awalnya mereka kira dimainkan
oleh Rusia di periode lalu. Adanya sedemikian banyak investasi dan
pertumbuhan ekonomi sangatlah mengesankan. (Selewatan saja ya,
pertumbuhan ekonomi ini, dimungkinan oleh partisipasi dalam pasar
dunia, mengilustrasikan keedanan kebijakan autarki dari Stalin dan
Mao). Sejumlah besar investasi asing di Cina telah membangkitkan
ilusi di sebagian kaum kapitalis Barat, dan bahkan di kalangan
beberapa kaum Marxis. Dapatkah Cina dan Asia membukakan sebuah
periode ekspansi kapitalis yang baru seperti hal yang sama pernah
terjadi mengikuti Perang Dunia Kedua?
Sesungguhnya, kebanyakan investasi di Cina terlimitasi pada
sejumlah kecil area pesisir di sekitar Zona Ekonomi spesial dan telah
menciptakan begitu banyak kontradiksi yang tak seimbang. Jutaan kaum
tani telah pindah dari daerah rural yang lebih terbelakang ke
pusat-pusat urban yang betumbuh cepat, menciptakan berjuta-juta
surplus buruh. Ini bisa dipelihara pada perluasan (industri) tertentu
sementara ekonomi tumbuhnya pada angkat rata-rata dua digit. Tetapi
kini roda ekonomi mulai melambat, segala kontradiksi akan tampil ke
permukaan. Telah ada sejumlah laporan mengenai kerusuhan yang
melibatkan puluhan dari ribuan orang baik di daerah rural maupun
urban, dan ini cuma satu permulaan.
Memperburuk keadaan, kolapnya ekonomi Asia Tenggara dan kejatuhan
terus menerus dar i mata uang Yen Jepang telah memotong sebagian
terbesar keuntungan kompetitid eksport Cina dan akhirnya akan
mendesaknya melakukan devaluasi keuangan &endash;satu-satunya
keuangan yang kelihantannya stabil selama berlangsungnya kolaps Asia
Tenggara. Tingkat debit yang buruk pada bank-bank di Cina bahkan
lebih besar daripada di seluruh wilayah (Asia) dan sebuah krisis
ekonomi yang serius hanya sekadar masalah waktu. Ini akan
menenggelankan negara itu ke dalam kesukaran yang jauh lebih dalam.
Para pemegang otoritas Cina mencoba menekan segala berita mengenai
revolusi Indonesia atau menghadirkannya sebagai melulu kerusuhan
anti-etnis Cina. Tahun 1989, sebelum pembantaian di Lapangan Tian An
Men, terutama hanya para mahasiswa yang berpartisipasi dan
pergerakan. Kaum pekerja dan tani tetap tinggal pasif selama
perekonomian mereka masih dapat diterimakan. Kali ini halnya akan
sama sekali berbeda, dan bahkan sebagaimana kita telah lihat di
Indonesia, sebuah pergerakan yang dimulai oleh para mahasiswa dapat
menimbulkan kebangkitan massa. Pada kesempatan terakhir, hal ini yang
akan memutuskan nasib reformasi Cina yang pro-kapitalis. Menghadapi
sebuah pergerakan yang memiliki karakter begini serta bermuka-bukaan
dengan krisis ekonomi, jajaran birokrasi terikat untuk mengabaikan
jalan bagi kapitalisme bahkan jikapun jalur itu melulu cuma
kepentingan pribadi.
CINA PUN BERHADAPAN DENGAN REVOLUSI
Kaum kapitalis mencoba menenanf-nenangkan diri mereka dengan
pikiran bahwa setidaknya Cina belum lagi tercebur ke dalam krisis.
Tetapi Cina tidak dapat bertahan sendirian mengahdapi krisis umum di
Asia. Malah sebaliknya, segala hal kelihatannya mengindikasikan bahwa
Cina ada di tengah-tengah berbagai perkembangan revolusioner.
Usaha-usaha meningkatkan kecepatan proses "reformasi" (yaitu, kontra
revolusio kaum kapitalis) di Cina di bawah kondisi-kondisi krisis
kapitalis memprovokasi terjadinya dislokasi sosial dan ekonomi secara
kolosal. Deng (Xiao Ping) selalu berhati-hati, bergerak
perlahan-lahan menuju denasionalisasi, sambil memastikan berlanjutnya
monopoli kekuatan politik di tangan birokrasi. Tetapi kini klik
penguasa, didominasi sayap pro-kapitalis, ingin mempercepat
segalanya. Hasilnya adalah malapetaka bagi rakyat Cina dan sebuah
ledakan perjuangan kelas. Reformasi pro-pasar di pedesaan telah
memunculkan ketidakseimbangan ekstrim dan polarisasi antara sejumlah
kecil minoritas yang menjadi makmur dengan sebagian besar mayoritas
yang telah dimiskinkan. Jutaan orang telah kabur ke perkotaan dan
daerah pesisir di mana industri, meskipun perkembangannya begitu
kencang, tidak mampu menyerap mereka. Sekurangnya 150 juta orang jadi
pengangguran. Usaha untuk melakukan deregulasi dan swastanisasi atas
industri yang dimiliki oleh negara akan melipatgandakan jumlah
pengangguran ini. Kemunduran di Asia telah mulai menghantam ekspor
Cina yang secara luas inilah yang dihitung sebagai rata-rata angka
pertumbuhan yang tinggi di tahun-tahun terakhir, ini jelas
menyebabkan kemunduran (bagi Cina). Hal ini akan memiliki berbagai
efek yang paling pedih di Cina, tidak cuma secara ekonomis, tetapi
juga sosial dan politik.
Jatuhnya nilai yen telah membunyikan tanda bahaya di Beijing.
Kekhawatiran tejadinya devaluasi tiba saat angka pengangguran
bertambah dengan amat cepat. Pertumbuhan ekonomi bisa jatuh di bawah
6,5 persen di akhir tahun, sama sekali jauh dari trget resmi sebesar
8 persen. Cina memerlukan pertumbuhan (ekonomi) yang tinggi untuk
menyerap lebih dari 5 juta pekerja yang diperkirakan akan kehilangan
pekerjaan mereka tahun ini akibat restrukturisasi berbagai
perusahaan. Ancaman terbesar bagi perusahaan-perusahaan Cina
berteknologi rendah dan sedang adalah bukan cuma Jepang, yang
mengekspor barang-barang jadi. Apa yang dikhawatirkan Cina adalah
bagaimana devaluasi Jepang bisa mempengaruhi Korea. Jika yen melemah
hingga nilai 150 terhadap dollar, sepertinya won Korea juga
terdevaluasi dalam upaya menjadikan industri-industri Korea
kompetitif. Hal itu akan berarti menambahkan kompetisi bagi
perusahaan-perusahaan Cina yang sudah berusaha menangkis (perusahaan)
Korea di rumah mereka sendiri serta di pasar-pasar yang lain. Di
dalam industri baja Cina, ini untuk contoh, profit berkurang,
sebagian karena kompetisi baru dari Korea. Hal itu juga berlaku pada
industri petrokimia, sebuah sektor yang di dalamnya harga telah turun
20 persen sejak Oktober. "Akan ada tekanan lebih jauh pada
korporasi-korporasi domestik," prediksi Andy Xie, seorang ekonom dari
Morgan Stanley Asia Ltd. di Hong Kong.
Meskipun mereka yang percaya diri mengklaim bahwa Cina tidak akan
mendevaluasi renminbi, amat susah untuk melihat bagaimana hal itu
dapat dihindarkan di periode mendatang. Dan devaluasi terhadap
renminbi (yang juga disebut yuan) akan memprovokasi sebuah rantai
kehancuran dari berbagai devaluasi kompetitif fi Asia dan di luarnya
dan mungkin sekali membanting seluruh dunia ke dalam resesi.
Usaha-usaha kalap dari Amerika dan Eropa untuk menekan Jepang adalah
berkaitan secara langsung dengan ketakuan mereka atas Cina.
Sebagaimana di soroti oleh Bussiness Week: "dengan para pemuka bisnis
AS disergap ketidaknyamanan mengenai menjulangnya dollar dan para
pemimpin Cina melakukan tekanan untuk adanya keringanan &endash;demi
menghalangi terjadinya devaluasi atas renminbi&endash;
pejabat-pejabat Keuangan mulai menyodokkan intervensi di akhir
minggu, 13-14 Juni. Setelah konsultasi yang intens dengan rekanan
Jepang mereka untuk 72 jam berikutnya, Rubin and Co. menaruh 2 milyar
dollar belanja pemerintah buat yen.
"Pendorong terbesar adalah kecemasan yang menggunung di Asia sebab
yen terperosok dalam dua minggu pertama bulan Juni. Yang mendapat
signal bahaya adalah khususnya para pejabat Cina yang khawatir
rencana utama ekonomi mereka akan tak dapat terlaksanan karena
runtuhnya yen. Orang-orang Cina mulai melobi AS secara diam-diam guna
intervensi sebelum kedatangan Clinton di Beijing tanggal 22 Juni.
'Orang-orang Cina telah mengajukan komplain bahwa kami belum cukup
bertindak untuk menghentikan depresiasi yen', yang membuat ekspor
Cina kurang kompetitif, demikian diucapkan seorang pejabat tinggi
Administrasi (AS). Sementara itu, pernyataan-pernyataan publik
menunjukkan bahwa Beijing sedang menyiapkan jalan untuk melakukan
devaluasi mereka sendiri. Sumber-sumber Cina mengindikasikan bahwa
pejabat-pejabat keuangan Beijing suatu yen yang lebih lemah daripada
150 berarti menetakkan kehancuran dan akan mendorong aksi ofensif."
(BussinessWeek, 29/6/98)
Perspektif mengenai krisis ekonomi yang makin dalam telah
menempatkan perjuangan kelas tak tergoyahkan dalam agenda di Cina.
Telah ada pergerakan-pergerakan besar. Menurut agen berita Perancis,
Agence France-Presse (Hong Kong):
"Pergolakan sporadis para pekerja telah bangkit di segenap penjuru
Cina, sebagaimana reformasi pemerintah mendorong prusahan milik
negara kehilangan profit atau binasa. Ratusan firma yang masuk dan
tenggelam dalam daftar tinta merah akan bankrut, dan meninggalkan
jutaan surplus pekerja, ini demi menggapai apa yang disebut dengan
efisiensi. Diestimasikan, sektor negara akan menanggalkan 11 juta
pekerjaan urban tahun ini."
Sumber yang sama menegaskan bahwa: "Ratusan pekerja yang terkena
PHK di pabrik yang dikontrol pemerintah di tengah kota Wuhan pada
hari Selasa melakukan marching di tempat mereka, sebelum diPHK,
bekerja, untuk memprotes uang pensiun yang tak dibayarkan. General
Manager kantor China Number-One Metallurgical Company menyangkal
adanya demonstrasi apapun, tetapi seorang satpam memberitahu AFP
bahwa sekitar 100-200 orang berkumpul di depan pabrik. Satpam itu
mengatakan bahwa para mantan pekerja, kebanyakan pensiunan,
diperkenankan bertemu dengan pejabat-pejabat perusahaan sebelum
protes yang lebih riuh dapat berkembang dan mereka ini meninggalkann
pabrik tiga jam kemudian. Seorang mantan pekerja yang memilih tidak
ikut demonstrasi, Li Cingrong, saatdihubungi melalui telepon
mengatakan bahwa demonstrasi melibatkan sekitar 200 pekerja. Lelaki
berusia 71 tahun itu menyatakan bahwa dalam tiga bulan terakhir,
perusahaan hanya mengiriminya bayaran satu bulan dari tiga bulan yang
harusnya ia terima, bernilai 400 yuan (48 dollar) perbulan."
Derajat pergolakan pekerja di Cina meluas &endash;meski di pers
Barat terdapat konspirasi untuk tutup mulut mengenai hal ini. Dalam
sebuah artikel berjudul 'Labour Turmoil Involving 100,000 Workers in
Four Cities. A True Account of Workers Unrest an Riot in
Heilogjiang', sebuah koran Hong Kong melaporkan: "Dari 25 November
hingga 3 Desember, pemogokan para pekerja dan pegawai toko daiadakan
bergantian di kota Qiqihar, Jiamusi, Mudanjiang, dan Yichun di
provinsi Heilongjiang. Para pemogok mengepung gedung-gedung partai
dan kantor pemerintah, mengunci kantor-kanotr komite partai serta
kantor-kantor manajer perkebunan, membakari mobil-mobil milik para
pejabat partai dan pejabat pemerintah serta mesin-mesin sekuritas
umum, menyerang biro keamanan umum, menduduki rumah-rumah, dan bandar
udara, lalu mengambil alih menara kontrol bandar udara, dan
seterusnya. Mereka bahkan terlibat bentrokan dengan dinas keamanan
umum dan personel polisi bersenjata yang dikirim dengan maksud
menghalau pemogokan itu. Dilaporkan jatuhnya korban cedera di di
Jiamusi dan Yichun."
Menurut sebuah laporan internal yang dikeluarkan oleh dinas
keamanan umum provinsi Heilongjiang tanggal 10 Desember 1997, nyaris
105.000 anggota staf, para pekerja, kader, dan penduduk urban
berpartisipasi atau terlibat dalam huru-hara yang meledak di empat
kota yaitu Qiqihar, Jiamusi, Mudanjiang, dan Yichun, sepanjang minggu
antara tanggal 25 November hingga 3 Desember. Sebagaimana huru-hara
itu berganti jadi kerusuhan, lebih dari 70 orang terluka; 25 orang
penjaga keamanan umum dan personel polisi yang diturunkan untuk
menahan laju pemogokan itu juga terluka saat diserang dengan batu,
benda-benda terbuat dari besi, senapan berburu, dan senapan biasa.
Empat orang polisi meninggal karena luka-luka yang mereka derita.
Laporan resmi ini tidak memberikan perhatiann sama sekali padakorban
cedera di pihak para pekerja dan rakyat umum, tapi menyingkapkan
bahwa lebih dari 150 jumlah total orang yang ditangkap selama minggu
pergolakan dan kerusuhan itu berlangsung.
Komite Partai Komunis Cina Provinsi Heilongjiang dan pemerintah
daerahnya mencatat bahwa terdapat faktor-faktor politis yang rumit di
balik terjadinya pergolakan dan kerusuhan tersebut, beberapa insiden
diorganisir dan ditukangi dengan baik oleh elemen-elemen culas yang
telah menyusup ke dalam organisasi partai dan pemerintahan, dan
beberapa insiden lainnya dikacaukan oleh kekuatan-kekuatan jahat dari
luar."
Komite partai tingkat provinsi dan pemda juga menekankan bahwa
huru-hara itu juga bangkit dalam penghentian jumlah personel sebagai
hasil reformasi perusahaa, korupsi di antara kader perusahaan, cara
kerja yang tidak dehat di antara kader, dan beberapa insiden
kebetulan seperti kecelakaan lalu lintas. Komite partai tingkat
provinsi dan pemda juga memberi atribut huru-hara serta kerusuhan itu
sebagai "para pemimpin partai dan pemerintah lokal terlampau
berlebihan melihat berbagai kondisi rumit di komunitas lokal itu dan
mereka keholangan kewaspadaan melawan kekuatan-kekuatan jahat yang
laten." Dengan kata lain, para pemogok itu bekerja sama atau bahkan
dipimpin oleh anggota Partai Komunis. Ini mengkonfirmasikan apa yang
senantiasa kami peliharakan &endash;yaitu, bahwa sekali kelas pekerja
mulai bergerak, jajaran birokrasi yang lebih rendah akan datang
menyambut.
Laporan lain menyatakan bahwa: "Pada tanggal 29 November, para
staf dan pekerja pabrik lokomotif dan pabrik prosesing timber
melakukan mogok dan mengadakan pertemuan akbar. Mereka didukung oleh
para pekerja dari 7 perusahaan milik negara yang berbeda di Qiqihar
(di manna dua pabrik mesin berat, dua pabrik perangkat elektronik,
dan sebuah kompleks penanganan hasil susu dimiliki oleh sektor
perdagangan asing). Lebih dari 30.000 anggota staf dan para pekerja
disertai anggota keluarga mereka bergabung dalam pemogokan dan
mengikuti pertemuan. Pekerja-pekerja dari beberapa mengajukan slogan
seperti: "Semua kekuatan dan properti dimiliki oleh rakyat!",
"turunkan eksploitasi dan represi atas kekuasaan, ekonomi, dan
politik!". para staf dan dari Serikat Pekerja Pabrik Prosesing Timber
menutup kantor manajer dan bepartemen keuangannya dengan kertas
pembatas. Mereka bentrok dengan sekretaris kantor komite partai
Komunis memaksa para manejer pabrik dan sekretaris komite partai
untuk mngeluarkan pernyataann yang mendaftar pengeluaran keuangan
prabrik. Mereka juga melawan pihak keamanan umum yang datang untuk
menangkapi mereka. Konfrontrasi berlangsung antara pukul 13.00 hingga
pukul 20.00. Pihak keamanan umum memanggil polisi bersenjata untuk
mengendalikan suasana, dan mengontrol area pemogokan, dan untuk
menangkapi para peserta pemogokan. Sekitar 300 keamanan umum dan
polisi bersenjata bentrok dengan sekitar 2.000 pekerja dan anggota
staf pabrik. Lebih dari 20 orang terluka dan lebih dari 30 orang
pekerja dan anggota staf ditahan. Sejak 1 Desember, United Timber
Processing Plant Qiqihar tidak meresume produksi." (Hong Kong Cheng
Ming, dalam bahasa Cina, 1/1/98)
Ini luar biasa signifikan. Perjuangan para pekerja Cina, dinilai
dari laporan-laporan ini, tidak cuma bertumbuh cepat, tapi juga
menyulut karakter pemberontakan. Para pekerja dan kaum tani telah
melampaui sekolah kapitalisme dan telah menarik berbagai konklusi
yang diperlukan. Kaum pekerja menentang baik itu kapitalisme atau pun
birokras: "Segenap kekuasaan dan properti milik rakyat!". ini adalah
slogan revolusioner politik di Cina. Kita harus bersiap untuk adanya
putaran yang tiba-tiba dan perkembangan yang eksplosif di seluruh
Asia, terutama di Cina. Perkembangan kekuatan-kekuatan produktif
telah luar biasa memperkuat kelas proletar Cina. Sebuah gerakan
revolusiover di Cina di bawah kondisi-kondisi yang ada sekarang ini
tidak adakn mengulangi posisi tahun 1949, saat kelas pekerja jauh
lebih lemah dan belum sepenuhnya sembuh dari kekalahan di masa lalu.
Kekuatan kelas yang imbang telah sepenuhnya tertransformasi. Bila
sebuah partai Marxis eksis di Cina, akan ada kemungkinan terjadinya
sebuah revolusi kaum proletak klasik di atas garis Oktober 1917, di
mana di sana kaum proletar menempatkan diri sebagai pimpinan
berjuta-juta massa kaum tani. Potensi revolusioner di Cina
diperlihatkan dengan tegas atas terjadinya kejadian di Lapangan Tian
An Men satu dekadee lalu. Gerakan heroik para pemuda itu mengalami
kekalahan sebab gerakan waktu itu tidak menerima dukungan aktif kaum
pekerja. Ekonomi masih berjalan maju, dan birokrasi yang berkuasa
masih memiliki dukungan. Kini semuanya sudah berubah. Sebuah gerakan
revolusioner yang baru dari kaum muda tak akan terelakkan adanya, dan
kali ini gerakan itu tidak akan terisolasi. Sekali gerakan itu
dipersenjatai program ilmiah Marxisme, ia akan tidak terbayangkan.
Suatu revolusi politik di Cina akan mengguncang dunia. Ia akan
menempatkan revolusi sebagai perintah mendesak bukan hanya di Asia,
tetapi di Rusia dan juga di negara-negara kapitalis maju. Oleh karena
itu kehancuran revolusi berkait amat sangat erat dengan nasib Cina.
INDONESIA DAN REVOLUSI PERMANEN
Diskusi sekarang ini sama sekali bukan diskusi yang berwatak
akademis, melainkan sebuah masalah panas bagi
perkembangan-perkembangan revolusioner di Dunia Ketiga sekarang ini.
Revolusi telah dimulai di Indonesia. Revolusi itu telah mulai di
Indonesia dan ini merupakan fakta penting yang menentukan, bukan
hanya bagi Asia, melainkan secara potensial penting bagi seluruh
dunia. Di periode yang bergiolak sebelum Perang Dunia Kedua, dalam
berbagai kesempatan berbeda, Trotsky mengatakan bahwa kunci bagi
situasi dunia ditemukan di negara-negara berbeda &endash;Jerman,
Perancis, Spanyol, dll. Trotsky menegaskan bahwa seluruh
Internasional harus memberikan perhatian khusus pada
perkembangan-perkembangan ini, mengikutinya di atas basis reguler,
menarik konklusi-konklusi yang diperlukan, pollitis, taktis, dan
organisasional, terutama untuk keperluan pendidikan kader, tetapi
juga, untuk mengintervensi sesuai derajat hal ini bisa mungkin
dilakukan. Pada saat itu kekuatan kecil Trotskyisme masih lemah dan
terisolasi. Kekuatan Stalinisme yang kolosal di skala duniasecara
efektif memblok jalan bagi kaum Leninis-Bolshevik murni mencapai para
pekerja dan pemuda yang paling maju di jajaran Partai Komunis.
Sekarang ini bukan lagi masalah. Kolapsnya Stalinisme telah
sepenuhnya mentransformasi sutuasi. Para pekerja dan pemuda Komunis
yang terbaik sedang mencari ide-ide. Mereka berjuang menemukan jalan
revolusi, dan kita harus membantu mereka untuk menemukannya.
Berpuluh tahun tendensi kita adalah berjuang mempertahankan
panji-panji, program, metode-metode, dan tradisi-tradisi dari
Revolusi Oktober dan Bolshevisme. Kita terpaksa berenang melawan
arus. Sekarang, untuk pertama kalinya, kita mulai bereang sesuai
aliran air. Bahkan sekarang, di awal revolusi, kenyataan bahwa
ide-ide kita mendapatkan gaung hangat di antara kaum Komunis di
Indonesia adalah satu indikasi tentag apa yang akan mungkin terbuka
bagi kita di periode mendatang. Fakta penting yang harus dimengerti
adalah bahwa hal ini mustahil terjadi sepuluh tahun lalu. Ini adalah
satu simptom bahwa seluruh situasi sedang mulai berubah di skala
dunia.
Adalah sangat penting untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh
teori revolusi permanen dalam prakteknya dan slogan-slogan kongkrit
apa yang harus diajukan oleh kaum revolusi dalam kondisi-konsisi
begini. Di satu sisi, penting untuk mempertahankan slogan-slogan dan
tuntutan-tuntutan demokratik (sebagaimana dilakukan dengan benar oleh
PRD). Tetapi pada saat yang sama tugas utama haruslah menjelaskan
(pada massa) bahwa borjuasi nasional itu sepenuhnya tidak mampu
membawa tuntutan dan slogan itu jadi kenyataan. Perang pekerja dan
pemuda harus dididik dalam semangat yang tak tergantikan mengenai
penentangan atas kolaborasi kelas, untuk tidak mempercayai
politikus-politikus borjuis yang bahkan merupakan "oposisi" yang
bersuara paling lantang dan radikal, dan untuk berjuang demi garis
kaum proletar revolusioner yang independen. Tentu saja, perlu juga
untuk melakukan aliansi temporer dengan kekuatan-kekuatan
non-proletar guna tujuuan-tujuan praktis. Namun kekuatan itu
terutamanya adalah kaum tani dan borjuis kecil, bukan kaum borjuis
Liberal. Kedua, syarat-syarat utama untuk berbagai perjanjian
sepanjang waktu dipelihara kesesuaiannya dengan program dan kebijakan
revolusioner yang jelas. Sllogan kaum Bolshevik selalu "Berbaris
terpisah, lakuka serangan bersama-sama!". harus tida ada blok
progamatis, tidak ada percampuran program serta panji-panji.
Satu-satunya persatuan yang kita mau adalah persatuaaan dalam
perjuangan. Siapaun yang ingin berjuang melaawan Soehartoisme dan
imperialisme dalam perbuatan dan bukan dalam perkataan semata,
disambut untuk itu. Tetapi kita tidak menaruh satu pon pun dalam
program kita untuk menyenangkan sembarang oraang, dan, sementara
mendukung bahkan aksi progresif terkecil dari kaum demokrat borjuis
kecil, gunakan kesempatan untuk mengkritisi kekeliruan mereka,
keragu-raguan dan kemunduran mereka , bukakan hal itu pada massa.
Hanya dengan cara-cara begitu kita dapat membantu mereka mengatasi
keraguan mereka dan lalu mengadopsi sebuah posisi demokratik yang
konsisten.
YANG MANA JALAN BAGI INDONESIA MELANGKAH MAJU?
Dengan sendirinya sebuah partai revolusioner di Indonesia akan
melakukan agitasi bagi tuntutan-tuntutan demokratik (legalisasi
partai-partai politik, serikat-serikat pekerja, dan
organisasi-organisasi mahasiswa, hak untuk mogok, penolakan terhadap
semua undang-undang yang represif, dll.) akan sebagai nbagian dari
hal ini partai tersebut akan menuntut Majelis Permusyawaratan yang
dipilih secara demokratis. Sementara mengagitasi tuntutan-tuntutan
tersebut, sebuah partai revolusioner akan mulai membangun
komite-komite aksi (yaitu soviets bernama lain) yang berbasis di tiap
pabrik, persaudaraan kelas pekerja, desa kaum tani, dan kampus
universitas. Komite-komite aksi yang dipilih secara demokratis
inimesti berkaitan di level lokal melalui wakil-wakil yang dipilih
secara demokratis dan dapat direcall. Pada gilirannya komite begini
akan mencapai level nasional, hingga menjadi kekuatan tandingan bagi
kekuatan resmi yang ada sekarang, baik itu pemerintahan Habibie
ataupun pemerintahan oposisi borjuis demokratik. Pendirian
komite-komite ini (soviets) adalah kunci utama sebab tanpanya massa
tidak memiliki jalur mengungkapkan cara-cara yang bersifat langsung
dan mendesak untuk melakukan perubahan dalam kesadaran politik
mereka, frustrasi mereka yang terus tumbuh akibat ketidakmampuan
paraa politikus borjuis demokratik memecahkan kebutuhan-kebutuhan
mereka yang paling mendesak: pangan, tanah, dan pekerjaan.
Pada saat yang sama kita menuntut penyitaan segera atas kekayaan
Soeharto, keluarganya, dan kroni-kroni serta para kolaboratornya,
termasuk mereka-mereka yang sekarang iniberusaha mengganti bajunya
sebagai "demokrat". Tuntutan yang demikian akan mendapatkan gemanya
di kalangan massa, tidak hanya di tengah kaum pekerja, namun juga di
kalangan massa tani, kelas menengaaah, dan bahkan pengusaha-pengusaha
kecil yang telah dikacaukan oleh kelas penguasa. Lebih lanjut, itu
akan menjadi signifikasi bagi nasionalisasi sebagian besar
perekonomian Indonesia. Harus tidak ada kompensasi. Parasit-parasit
kaya ini telah cukup lama menjarah dan merampok rakyat! Dan mengapa
berhenti cuma di sini? Jika slogan revolusi demokratik-borjuis
berarti apapun, maka ia harus mensignifikasikan pemutusan yang
radikal dengan imperialisme. Hapus semua hutang luar negeri dan
persetujuan-persetujuan dengan IMF! Nasionalisasikan properti kaum
imperialis! Hanya program begitulah yang dapat membuat sebuah
revolusi demokratik-borjuis menjadi kenyataan. Segala suatu yang
kurang drps itu akan berarti mengobral rakyat Indonesia pada
imperialisme. Namun, program yang begitu harus mensignifikasikan,
dalam praktek, hal melampaui revolusi demokratik-borjuis menuju
revolusi sosialis.
Di bawah kondisi-kondisi yang berlangsung saat ini, adalah
mustahil untuk memisahkan keduanya. Sebuah perjuangan yang konsisten
bagi tuntutan-tuntuta nasional-demokratik tidak terelakkan akan
membawa kita pada penyitaan milik kaum imperialis dan jongos-jomgos
lokal mereka, dan jadinya, penyitaan poin-poin dasar dukungan
kapitalisme di Indonesia. Di bawah kontrol dan administrasi
demokratis rakyat pekerja, nasionalisasi alat-alat produksi akan
menjadi syarat pertama untuk mengakhiri krisis eknonomi dan jadinya
menghalangi malapetaka yang membahayakan Indonesia. Ini soal hidup
mati, sebab semua komentator borjuis sepakat bahwa jika dalam beberpa
bulan tidak diambil langkah-langkah drastis, maka pemerintahan
Jakarta akan kehabisan uang dan import makanan akan terhenti.
Reformasi yang dilakukan oleh pemerintahan Habibie nyaris semuanya
mempunyai karaktek kosmetika semata, dan tidak menyentuh akar
penyebab dari problem-problem yang dihadapi negara. Kekayaan keluarga
Soeharto tetap tak tersentuh. Tidak satupun dari kriminal yang
bertangungjawab atas segala kejahatan di masa lalu telah diadili.
Koran tetap harus punya perizinan. Tahanan-tahanan politik masih saja
merana di balik terali, meski beberapa telah dibebaskan. Masalah
nasional tetap tak terpecahkan. Tawaran Habibie mengenai "status
khusus" &endash;seperti Jakarta&endash;pada rakyat tertindas di Timor
Timur adalah sebuah penghinaan terhadap apsirasi nasional mereka.
Pemimpin mereka, Xanana Gusmao, tetap dipenjara. Di atas semua itu,
kemiskinan dan eksploitasi terhadap jutaan pekerja dan kaum tani
tetap berlangsung tanpa terlihat adanya perspektif kecuali lebih
banyak pengangguran dan kelaparan. Dan Habibi cuma senyum di depan
kamera serta meminta "waktu yang lebih lama lagi".
Amien Rais, sang "oposan" muslim, telah menunjukkan warna aslinya
dan, sebetulnya, menyokong Habibie. Pada bagiannya, Megawati Soekarno
Putri sedang menunggu kekuasaan, bagaikan apel busuk, jatuh ke
tangannya. Pemimpin-pemimpin ini tidak melakukan apapun untuk
memobilisasi massa dalam perjuangan, sebab mereka ngeri pada gerakan
massa. Mereka ini dapat dengan mudah mengambil kekuasaan, tetapi
ingin selama mungkin bertahan di luar pemerintahan karena mereka tahu
mereka tidak mempunyai program untuk menanggulangi berbagai problem
mendesak yang dihadapi massa. Para politikus borjuis dapat kuat
menunggu, tapi tidak demikian halnya dengan massa. Rakyat akan
berhadapan dengan pengangguran besar-besaran, kemiskinan, dan
kelaparan. Dengan menarik uang mereka, kaum imperialis berharap itu
memberikan satu pelajaran kepada rakyat Indonesia dan menunjukkan
pada mereka siapa yang sebenarnya jadi Boss. Satu tantangan serius
yang menuntut jawabab serius pula! Tapi tidak satupun dari para
borjuis yang disebut oposan tadi dipersiapkan untuk menerima
tantangan itu. Krisis ekonomi terus memburuk. Di perempat tahun yang
pertama, perekonomian menyusut tak kurang dari 8,5 persen. Rupiah,
yang telahkehilangan 80 persen nilainya terhadap dollar, masih tak
terlindung, dan sepertinya masih bisa jatuh lebih dalam lagi,
mendorong membumbungnya harga-harga. Tahun ini inflasi diramalkan
sebesai 80 persen. The Economist (6/6/98) mengomentari kolapnya
keuangan "telah memaksa pula perusahan-perusahaan orang Indonesia
untuk menjadwal ulang segunung utang swasta pada pihak asing yang
berkisar sekitar 80 juta dollar," tapi menambahkan bahwa, "Bahkan
setelah mereka mencapai kesepakatan dengan kreditor-kreditor mereka
pada tanggal 4 Juni, IMF, sebagaimana diharapkan, mencurahkan bantuan
pinjamannya, tidak percaya adanya pengembalian yang ajaib. Sistem
perbankan masih ketat.
"Wajah Indonesia, dalam bentuk yang amat rusak, turunan spiral di
Thailan, dan Malaysia. Rata-rata interes yang ada tinggi, sebagian
untuk menghentikan anjloknya keuangan lebih jauh, sebagian lagi
disebabkan pemerintah melakukan pinjaman besar untuk menyuntik bank.
Ini berarti makin banyak perusahaan yang aa tidak mampu membayar
hutang. Jadi pinjaman bank-bank yang tidak terlihat itu makin parah
saja kabarnya dan pemerintah mengambilalih lebih banyak lagi
institusi keuangan, akan menggunakan bahkan lebih banyak likuidasi
untuk mempertahankan hidup institusi-institusi tersebut.
"Persoalan-persoalan diperburuk dengan melemahnya yen Jepang. Hal
itu memberikan tekanan yang lebih kompetitif pada keuangan Asia
Tenggara, yang, dengan perkecualian bagi rupiah, sekarang ini hanya
punya selapis saja pembatas terhadap yen dibandingkan pertahanan
mereka tiga tahun lalu. Juga muncul ketakutan bahwa Cina akan
melakukan devaluasi. Di dalam iklim yang nervous, baht, ringgit
Malaysia, dan peso Filipina mulai tergelincir lagi setelah beberapa
bulan relatif stabil."
Keseluruhan krisis di Asia, meskipun terdapat segala prediksi
optimistik, tidak menunjukkan satu tandapun ia bisa terpecahkan.
Malah sebaliknya. Sebagaimana petikan di atas menunjukkan, krisis itu
akan menjadi lebih buruk di bulan-bulan ke depan, malah mungkin dalam
hitungan tahun, menimbulkan kemungkinan riil terjadinya kemerosotan
di Jepang, yang akan menjadi signal kemerosotan pada skala dunia.
Perkembangan yang demikian akan memiliki efek sosial dan politik yang
mendalam di mana-mana. Bahkan tanpa terjadinya kemerosotan, krisi
ekonomi punya efek serius di seluruh negara di Asia, terutama di
Indonesia. Persediaan pangan menipis di bagian timur negeri itu dan
bisa jadi ini akan menjalar ke seluruh negeri.
Maka apa kebijakan yang dikedepankan oleh PRD (yang sebenarya
adalah Partai Komunis Indonesia saat ini)? Dalam sebuah pers-rilis
tanggal 25 Mei 1998, yaitu setelah Soeharto mengundurkan diri dan
digantikan oleh Habibie, PRD, setelah menegaskan hal itu semata cuma
manuver dan harus tidak menghentikan protes, mengajukan sejumlah
tuntutan:
- 1.cabut Lima Undang-Undang Politik tahun 1985
- 2.akhiri Dwi-Fungsi ABRI
- 3.pertanggungjawaban dan Pengadilan Soeharto
- 4.penyitaan semua aset bisnis kroni-kroninya
- 5.penyitaan kekayaan pejabat korup
- 6.pemilu multi partai yang bebas dan demokratik
- 7.bebaskan semua tahanan politik
Kita akan menyetujui semua poin kecuali nomor 6) kita
mengedepankan ide mengenai sebuah Majelis Konstituante yang
demokratik. Ide mengenai Majelis Konstituante ini telah dimunculkan
dalam bentuk yang membingungkan oleh PRD di bawah nama "dewan rakyat
independen". Persoalan utama dari hal ini adalah bahwa cara
membingungkan yang di dalamnya mereka mengedepankan slogan ini
"Kepada Megawati Soekarnoputri, pemimpin Partai Demokrasi
Indonesia yang diturunkan secara paksa, Amien Rais ketua
Muhammadiyah, Budiman Sujatmiko ketua PRD yang dipenjarakan,
Sri-Bintang Pamungkas ketua PUDI yang dipenjarakan, dan lain-lainnya;
sekaranglah waktunya bagi kalian untuk menegaskan kesiapan kalian
menggantikan Soeharto. Hal ini harus dilakukan secepatnya karena
Soeharto sudah tidak diinginkan lagi oleh rakyat untuk berkuasa lebih
lama lagi dan iapun telah siap diturunkan." Dalam praktek, apa arti
dari hal ini? Para pemimpin PRD memohon pada para oposisi borjuis
untuk mengambil kekuasaan. Namun kejadian demi kejadian menunjukkan
bahwa baik Amien Rais maupun Megawati tidak segera mengambil alih
kekuasaan, dan lebih suka membiarkannya berada di tangan Habibie.
Para "oposan" itu menyangga Habibie, kroni reaksioner dari Soeharto,
yang pada gilirannya melakukan apapun dalam kekuasaannya untuk
melindungi boss lamanya beserta seluruh keluarganya, dan mengusahakan
sebanyak mungkin rezim lama tak tersentuh. Tetapi massa yang terdiri
dari para pekerja, kaum tani, dan mahasiswa, tidak akan pernah
menerima hal ini. Mereka tidak berjuang melawan Soeharto cuma demi
melihat rezim lama terus berlanjut dengan perubahan yang kosmetikal
semata. Para pemimpin oposisi borjuis hanya bertindak sebagai left
cover bagi Habibie yang mewakili perpanjangan rezim lama. PRD
harus tidak bertindak sebagai left cover bagi oposan borjuis!
Mereka itu harus diekspos kepada massa untuk peran tidak dapat
dipercaya yang tengah mereka mainkan. PRD harus berjuang untuk
memenangkan massa dari pengaruh-pengaruh jahat pseudo-oposisi kaum
borjuis.
Situasi ini serupa dan paralel dengan revolusi Februari di Rusia.
Massa turun ke jalan dan mengalahkan rezim tsaris yang dibenci dan
kaum borjuis demokratik loncat ke dalam kereta dan membentuk
pemerintahan sementara. Dalam setiap revolusi, ini merupakan
perkembangan yang normal. Kaum borjuis berusaha merampok buah
kemenangan dari perjuangan massa, mengambil dengan licik dan penuh
tipu daya apa yang oleh rezim lama tidak dapat dipertahankan dengan
menggunakan kekuatan. Pada awal tiap revolusi, ter apat fase
ilusi-ilusi demokratik, semacam karnaval di mana di dalamnya
kegembiraan alamiah massa atas tumbangnya rezim lama berpadu dengan
intoksinasi frasa-frasa serta berbagai pidato demokratis yang coba
menyembunyikan realitas bahwa, pada fundamentalnya, tidak ada suatu
pun yang telah berubah. Para eksploitor dan penindas rakyat yang lama
tetap memegang kekuasaan dan menggerakkan benang pengontrol di balik
layar, merencanakan segala macam plot dan konspirasi dengan petinggi
angkatan bersenjata, menunggu massa menjadi kecapekan dan kembali
jatuh tak beraktivitas keras, sebelum akhirnya mereka ini melancarkan
coup d'état.
Semua ini adalah sifat yang amat dikenali dengan baik adanya dalam
berbagai revolusi. Tapi penting bagi partai revolusioner dan
kepemimpinannya untuk tetap terpisah dan berjarak dengan lelucon
demokratik ini dan menerangkan pada massa bahwa masalah belumlah
terpecahkan &endash;masih ada pekerjaan serius yang harus
dituntaskan. Secepat ia mendengar tumbangnya Tsar, secepat itu pula
Lenin, yang masih dalam pengasingan di Swiss, buru-buru mengirim
telegram berisi pesan berikut kepada kaum Bolsheviks di Petrograd:
"Taktik kita: absolut kurangnya kepercayaan; jangan dukung
pemerintahan baru; curigai khususnya Kerensky; persenjatai kaum
proletar dengan semata jaminan saja; pemilihan secepatnya bagi Duma
Petrograd; jangan lakukan pendekatan dengan partai-partai lain."
Malangnya, para pemimpin Bolshevik di Petrograd (pada masa itu,
Stalin dan Kamenev di tengah lainnya) tdak memberikan perhatian pada
anjuran Lenin. Mereka mabuk ilusi-ilusi demokratik, terimbas mood
umum dan himbauan konstan bagi "persatuan seluruh kekuatan
demokratik". Menentang saran Lenin, mereka mendukung Pemerintahan
Sementara kaum borjuis. Dalam cara yang serupa, PRD menghimbau para
pemimpin oposisi borjuis di Indonesia untuk meraih kekuasaan, tidak
memahami sifat asli dan peran yang sesungguhnya dari para pemimpin
ini.
Untungnya, ini bukanlah akhir dari kisah di Rusia. Lenin mengatur
perubahan jalannya partai setelah kedatangannya dari pengasingan pada
bulan April 1917, meski itu bisa dilakukan hanya setelah perjuangan
internal yang tajam. Kebijakan partai Bolsheviks sejak saat itu
adalah "menjelaskan dengan sabar" kepada massa kaum pekerja dan kaum
tani bahwa satu-satunya cara meraih tuntutan mereka yang paling
mendesak adalah memberikan kepercayaan dan dukungan pasar
soviet-soviet dan tidak menaruh kepercayaan apapun pada kaum borjuis
Liberal. Isu ini jelas telah didiskusikan di dalam PRD sendiri, dan
hal ini terbukti dengan adanya pernyataan yang diiluncurkan beberapa
hari setelahnya oleh PRD dalam menjawab kaum cendekiawan sayap kiri
yang mengusulkan sebuah pemerintahan transisional yang terdiri atas
kekuatan-kekuatan oposisi dan para jenderal angkatan bersenjata yang
"demokratis". Pertama sekali, pernyataan tersebut dengan benar
menanyakan siapa yang memobilisasi rakyat:
"Siapa saja yang menjadi pimpinan kumpulan orang itu? Siapa yang
memobilisasikan mereka? Amien Rais, Megawati, atau Gus Dur? Atau para
aktivis yang telah berjuang memulai berbagai aksi lusinan orang,
kemudian menjelma jadi aksi ratusan orang, kemudian ribuan, kemudian
puluhan ribu orang, dan seterusnya? Ada banyak aktivis itu, dan
mereka tidak disorot oleh media massa."
"Orang-orang itu, terutama di Jakarta, bergerak tanpa pemimpin.
Itulah mengapa mereka kehilangan arah dan dengan mudah terpropokasi
melakukan kerusuhan. Apakah Amien Rais mengarahkan mereka untuk
mengadakan aksi damai, berjalan menuju gedung Parlemen, atau Istana
Merdeka, atau stasiun radio negara? Atau apakah Megawati, Gus Dur,
atau tokoh-tokoh lain melakukan tugas-tugas ini?"
Berbagai pengamatan ini seratus persen benar dan langsung menuju
jantung masalah. Jika bukan para pemimpin oposisi borjuis yang
memimpin rakyat di jalanan, mengapa mereka harus tidak mempercayai
kepemimpinan massa sendiri?
"Lantas, siapa yang harus mewakili orang-orang ini dalam
pemerintahan transisional sekarang? Bagiku, rakyat harus memilih para
pemimpin mereka sendiri. Satu-satunya cara untuk melakukan hal itu
adalah dengan pendirian dewan-dewan rakyat dari tingat terendah
(mungkin di kampung, kampus, pabrik, kantor-kantor, dsb.) setelah
memilih pemimpin di tingkat yang paling rendah ini, mereka dapat
bergerak ke tingkat yang lebih tinggi, dst., hingga ke tingkat
nasional. Dengan cara inilah seorang pemimpin sejati akan muncul,
yaitu, seorang pemimpin yang benar-benar merupakan wakil arus bawah."
Inilah program yang akan kita dukung sepenuh hati, dan ini
membuktikan bahwa di dalam PRD mestilah terdapat banyak aktivis yang
jujur mencari sebuah program revolusioner yang sesungguhnya. Jika PRD
mengadopsi sebuah program yang tidak menaruh kepercayaan pada kaum
borjuis liberal dan mulai menciptakan komite-komite di tiap pabrik,
kampus dan yang segolongannya, sejalan dengan waktu, ini akan
menaikkan otoritasnya secara luar biasa di tengah-tengah massa,
mempersiapkan basis bagi transfer kekuasaan kepada kaum pekerja dan
kaum tani sebagaimana yang dikerjakan partai Bolsheviks di periode
Februari hingga Oktober. Esensial bagi kita untuk secepatnya
mengadakan kontak dengan lapisan ini untuk membantu perkembangan arus
revolusioner sejati yang, dalam kondisi umum, akan dengan amat cepat
menangkap karakter massa.
Program mengenai tuntutan-tuntutan demokratis dan nasionalisasi
perekonomian harus digabung dengan sebuah himbauan internasionalis
pada rakyat di Asia Tengara dan kaum proletar di Barat agar mereka
ini mempertahankan Revolusi Indonesia. Inilah bagian kedua dari teori
Revolusi Permanen. Trotsky menegaskan bahwa kaum proletar akan
berjaya di negara terbelakang dan, dimulai dengan tugas-tugas borjuis
demokratis dari revolusi, melanjutkannya ke tugas-tugas sosialis.
Tetapi pada akhirnya, syarat yang diperlukan bagi pengambilan
kekuasaan dan pemegangan kekuasaan itu adalah perluasan revolusi ke
negeri-negeri yang industrinya maju. Krisis kapitalisme menciptakan
kondisi-kondisi menguntungkan bagi perluasan revolusi ke seluruh
wilayah Asia. Dalam proses ini, revolusi Indonesia adalah kuncinya.
Pengunduran diri Soeharto menimbulkan efek luar biasa besar di
seluruh wilayah Asia dan juga secara internasional. Proses itu akan
berlarut-larut, tapi sebuah revolusi yang berjaya di Indonesia akan
menyebar bagai percikan api ke seluruh Asia, di mana kondisi-kondisi
yang di hadapi massa di Thailand, Malaysia, Korea Selatan, dll,
kurang lebihnya sama, dan hal ini juga akan menyetrumkan efeknya di
Barat, terutama jika kaum pekerja Indonesia meraih kekuasaan di adtas
basis sebuah revolusi kaum proletar klasik yang dipimpin oleh sebuah
partai Marxis sejati dengan kebijakan dan perspektif internasional.
Sekarang ini PRD menempati posisi yang menentukan. Ia memiliki
para aktivis yang pada nyatanya memimpin penumbangan Soeharto. Ini
adalah pencapaian yang luar biasa besar, tapi cuma merupakan separuh
tugas. Separuh yang lebih bbesar lagi masih tertinggal. Supaya
memenuhi tugas ini diperlukan satu hal. Nasib revolusi Indonesia
bergantung pada pembangunan sebuah kepemimpinan Leninis yang sejati,
dipersenjatai dengan berbagai perspektif yang diperlukan bagi
revolusi. Kita berdiri pada basis independensi kelas sepenuhnya!
Segala macam jalan lain tak terelakkan akan menggiring pada jalur
kompromi dan akhirnya pada kandasnya revolusi. Seluruh sejarah
revolusi (daerah) jajahan, dan khususnya sejarah Indonesia,
membuktikan hal ini. Di atas segalanya, adalah perlu untuk memahami
keterbatasan sebuah revolusi di negara terbelakang, meski yang
sebesar Indonesia. Nasib Rusia dan Cina adalah peringatan keras
mengenai apa yang terjadi bagi usaha-usaha membangun "sosialisme di
dalam satu negeri". Perlu kita menyiapkan kelas pekerja untuk
perebutan kekuasaan, namun perlu juga untuk menjelaskan bahwa nasib
revolusi Indonesia itu secara tak dapat terpisahkan berkait dengan
revolusi di seluruh Asia dan di atas skala dunia. Tahun 1848, menarik
kesimpulan dari kekalahan revolusi di Jerman sebagai akibat
pengkhianatan kaum borjuis liberal, para pendiri sosialisme ilmiah,
Kart Marx dan Frederick Engels, menyatakan himbauan pada para pekerja
yang menjaga segenap kekuatannya. Ini tetaplah jadi woro-woro yang
kita adakan buat mengumpulkan massa dan juga slogan kita saat ini:
"Tetapi mereka sendiri harus sepenuhnya melakukannya demi
kemenangan akhir mereka dengan menjernihkan pikiran mereka sebagai
kelas apa mereka sesungguhnya, dengan secepat mungkin mengambil
posisi mereka sebagai partai independen dan tidak membiarkan diri
mereka sekejap pun tergoda oleh frase-frase hipokrit mengenai
demokrasi borjuasi kecil yang bertujuan menghalagi mereka dari
organisasi independen partai kaum proletar. Pertempuran mereka
haruslah: Revolusi Dalam Cara Permanen." (K. Marx dan F. Engels,
Address to the CC of the Communist League, Maret 1850, MESW, Volume
1, halaman 185.)
London, 25/6/98
catatan penerjemah:
dalam terjemahan ini, beberapa pernyataan PRD diterjemahkan dari
teks bahasa Inggris. Bisa jadi terdapat perbedaan dengan apa yang
tertulis di teks aslinya yang berbahasa Indonesia, namun kami harap
secara esensi tidak ada penyimpangan yang dapat merugikan pihak
manapun.
|