ShareProlog
Pada bulan Maret ini, tepatnya pada tanggal
8 Maret, kita sepatutnya mengenangkan kembali sebuah peristiwa besar yang
mengguncang seluruh dunia, yang mengubah arah sejarah, yang dampaknya masih
terasa sampai sekarang-namun yang juga diupayakan pelupaannya oleh para
intelektual pengabdi kelas berkuasa-Revolusi Februari 1917 di Rusia.
Revolusi ini disebut Revolusi Februari
karena penanggalan yang dipakai di Rusia pada jaman itu merupakan penanggalan
Gereja Ortodoks Yunani (Kalender Julian). Kalender ini, pada abad ke-20,
ketinggalan 13 hari dari penanggalan Gereja Katolik Roma (Kalender Gregorian,
yang di Indonesia
dikenal sebagai penanggalan Masehi). Maka, seturut penanggalan tersebut, apa
yang bagi kita adalah 8 Maret 1917, bagi kaum revolusioner Rusia masa itu
adalah 22 Februari 1917. Oleh karena itulah revolusi yang dipicu oleh
demonstrasi di tanggal 8 Maret 1917 ini dikenal sebagai Revolusi Februari.
Revolusi ini sangat menarik dan tepat
dibahas dalam satu edisi yang tema utamanya bicara tentang Hari Perempuan
Internasional karena picu bagi Revolusi ini ditarik persis ketika kaum buruh
perempuan di St. Petersburg, Rusia, berdemonstrasi memperingati Hari Perempuan
Internasional. Penembakan yang dilakukan pasukan tentara dan polisi Tsar Rusia
terhadap 128.000 buruh yang terlibat dalam peringatan Hari Perempuan
Internasional itu merupakan bendera start bagi sebuah gelombang revolusioner
yang mampu memaksa salah satu Kekaisaran tertua dan paling kolot di Eropa untuk
turun tahta.
Kaum perempuan seringkali dipandang sebagai
elemen terbelakang dalam gerakan revolusioner. Kaum revolusioner seringkali
memandang kaum perempuan dalam hidup mereka sebagai penghalang bagi aktivitas
revolusioner mereka. Kaum liberal memandang tidak seharusnya perempuan terlibat
dalam aktivitas revolusioner dan mengarahkan perempuan pada aktivitas politik
berbasis "gender" yang anti perjuangan kelas. Kaum konservatif yang paling
parah, memandang gerakan perempuan dengan jijik, tapi sekaligus berusaha
mengorganisir perempuan agar tetap terpenjara oleh semboyan "kasur, dapur dan
sumur".
Menarik
pelajaran dari sebuah masa revolusioner adalah tugas yang nyaris mustahil
dilakukan dengan sempurna. Tapi, setidaknya ada beberapa point yang harus
dikemukakan karena point-point ini muncul dengan begitu jelas di tengah gejolak
revolusioner di Rusia, yang diawali oleh demonstrasi memperingati Hari Perempuan
Internasional 8 Maret 1917.
Menuju Revolusi Februari 1917
Latar belakang
Kalau mau
menunjuk, peristiwa mana yang menjadi titik-tolak dari Revolusi Februari 1917,
kita akan mengalami kesulitan memilih. Proses yang terjadi menjelang Februari
1917 adalah satu proses yang membingungkan. Ada setidaknya tiga faktor
pembingung yang beredar di tengah gerakan buruh Rusia masa itu:
1. Di satu pihak, Perang Dunia I yang pecah
di tahun 1914 telah membuat banyak buruh dikirim ke medan pertempuran, baik
sebagai anggota pasukan garis depan ataupun sebagai tentara cadangan. Dapat
diperkirakan bahwa jika pengusaha ditanya oleh kekaisaran: "buruh mana yang
kiranya akan dilepas untuk dijadikan tentara wajib militer?", tentunya
buruh-buruh maju yang "rewel" yang akan pertama kali dilepas oleh pengusaha
untuk dibiarkan maju berperang. Sekitar 17% dari kader buruh maju Rusia
terpaksa pergi ke garis depan karena wajib militer ini.
2. Di pihak lain, terjadi kekacauan di
tengah gerakan sosialis di seluruh dunia akibat pertikaian yang dipicu sikap
Partai Sosial Demokrat Jerman, yang memilih untuk mendukung pemerintahnya
berperang. Dengan kata lain, gerakan buruh Jerman kemudian memobilisasi diri
untuk bertempur dengan buruh-buruh dari negeri lain, yang pada saat bersamaan
dimobilisasi juga oleh pemerintah masing-masing. Partai Sosial Demokrat Jerman,
yang dipimpin Kautsky, pada saat itu adalah suar bagi partai-partai buruh dan
revolusioner di seluruh dunia. Dapat dibayangkan kekacauan yang timbul
gara-gara sikap ini-sikap yang oleh Lenin disebut sebagai "sosial-chauvinisme".
3. Keadaan darurat perang juga membuat
aktivitas polisi dan militer meningkat tajam. Ini jelas merupakan satu
penghalang yang besar bagi kekuatan-kekuatan revolusioner Rusia yang, di masa
itu, bergerak di bawah tanah. Keadaan darurat perang ini membuat banyak jalur
dana, terbitan dan komunikasi antar kader terputus dan, kalaupun ada, menjadi
beresiko sangat tinggi. Hampir semua kader revolusioner yang bekerja "di atas
tanah" ditangkapi, disiksa dan/atau dipenjarakan. Terhitung Januari 1915,
hampir semua jaringan legal gerakan buruh revolusioner Rusia telah berhasil
dihancurkan oleh polisi dan tentara Rusia.
Akibat
kekacauan ini, terjadi penguatan yang besar pada kekuatan kiri-tengah, yang
pada saat itu diwakili oleh Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia
(RSDRP-Rossijskoj Social-Demokratičeskoj Rabočej Partii) dari sayap Mensheviki.
Sementara RSDRP dari sayap revolusioner, Bolsheviki, mengalami kemunduran yang
tajam.
Gerakan
buruh, secara umum, juga mengalami pukulan hebat. Para buruh yang sudah lama
terlatih dalam teori dan praktek progresif, harus merunduk-runduk di bawah
penerapan "disiplin militer" dalam pabrik. Akibat banyaknya buruh laki-laki
yang dikirim ke medan tempur, para pengusaha mengisi kebutuhan tenaga kerja
mereka dengan buruh-buruh perempuan-yang, selain dianggap lebih patuh, juga
dapat diupah lebih murah. Meningkatnya jumlah buruh perempuan dan buruh-buruh
muda yang tidak pernah terlatih dalam perjuangan buruh menyebabkan padamnya
suasana pergerakan di pabrik-pabrik.
Para buruh
Rusia, di awal Perang Dunia I, bersedia bekerja lembur demi memacu produksi
untuk memenangkan perang. Mereka juga lebih suka mengumpulkan dana untuk
membantu keluarga buruh yang kepala keluarga atau anggota keluarganya harus
pergi berperang-bukannya untuk dana mogok. Pendeknya, propaganda revolusioner
tentang sikap yang harus diambil gerakan buruh terhadap perang ditabur di tanah
yang kering dan gersang.
Suasana
gerakan buruh benar-benar amat lembam (macet, tidak mau bergerak). Massa yang
apatis karena tidak memiliki teori dan pengalaman revolusioner memadai,
ketakutan akibat represi dan suasana perang, kurangnya kader akibat keharusan
menyembunyikan diri dan banyaknya penangkapan. Tidak ada kepemimpinan sentral
dalam gerakan. Semua ini menyebabkan setiap orang yang "berakal sehat" akan
mengatakan: suasana revolusioner di Rusia padam sudah.
Kebangkitan kembali suasana revolusioner
Memang,
orang "berakal sehat" akan mengatakan demikian. Tapi, karena itulah kita
menolak penggunaan akal sehat. Kita memakai dialektika sebagai cara berpikir,
bukan akal sehat. Dengan dialektika, kita tahu bahwa setiap hal selalu
mengandung benih dari hal lain yang menjadi lawannya. Mudahnya: setiap
kemunduran selalu mengandung potensi untuk terjadinya kemajuan, tiap kelemahan
dapat dibalik menjadi kekuatan, tiap kekuatan dapat menjadi titik lemah yang
mematikan, tiap kelahiran akan membawa kematian dan tiap kematian adalah bahan
bakar bagi kelahiran baru.
Oleh karena
itu, banyak orang menjadi tidak tahan dan berputus asa ketika mengalami
kemunduran dan kekalahan serius. Banyak orang tidak sadar bahwa proses
dialektika bekerja secara laten dalam tiap kekalahan, dalam tiap kemunduran,
dalam tiap kejatuhan. Kesabaran, keuletan dan ketelatenan dalam mengolah
kekalahan dan kemunduran adalah kunci bagi kemenangan dan kemajuan. Seperti
burung Phoenix dari legenda kuno Timur Tengah, sejenis burung yang hanya
bertelur sekali dalam 500 tahun, dan telur itu hanya bisa menetas jika si
burung membakar dirinya sendiri-dari kematian, muncul kelahiran baru.
Banyak
orang di sekitar kita yang tadinya terlibat dalam gerakan buruh, atau gerakan
rakyat secara umum, menjadi tawar hatinya melihat kemunduran demi kemunduran
yang terjadi di tengah gerakan ini. Pada titik ekstrimnya, orang-orang ini
kemudian tidak lagi percaya bahwa gerakan buruh atau gerakan rakyat lainnya
akan mampu mencapai kemenangan. Orang-orang yang putus asa ini kemudian
berpaling pada cara-cara instan untuk "membantu rakyat". Ada yang berpaling
pada terorisme, ada yang berpaling pada "penguatan ekonomi"-ada pula yang
terang-terangan menyeberang ke kubu musuh, dengan alasan "bermain dari dalam
sistem".
Mereka ini
tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu, bahwa keuletan dan ketepatan kerja di
masa-masa sulit akan menjadi kunci kemenangan ketika situasi berubah. Ini
karena jika kita terus bertahan di masa sulit, kita akan menjadi yang paling
siap ketika angin berganti arah. Secara mental dan disiplin tubuh kita paling
siap. Tapi juga karena massa akan menilai siapa yang paling setia pada mereka di
saat-saat tersulit.
Para kader
partai proletariat revolusioner di Rusia, mereka yang tersisa, yang jumlahnya
tidak banyak, memiliki kesabaran yang dituntut dari mereka dalam masa-masa
sulit seperti itu. Tanpa terburu-buru, tapi juga sekaligus tanpa mengendurkan
tuntutan politiknya, mereka berhasil mengorganisir pemogokan yang diikuti 2000
orang di St. Petersburg pada tanggal 9 Januari 1915. Mayday gagal diperingati
karena aksi kepolisian dilancarkan secara membabi-buta pasca pemogokan Januari
1915 itu. Hanya 600 orang yang ikut serta dalam aksi Mayday di seluruh Rusia.
Tapi, kerja-kerja propaganda, agitasi dan pengorganisiran terus dilakukan tanpa
henti. Ketiadaan kepemimpinan sentral dijawab oleh para organiser dengan
inisiatif dari bawah. Berbekal kemampuan menggunakan dialektika, para organiser
dan "kolektif pimpinan dari bawah" ini menangkap situasi, memanfaatkan kabar
yang datang dari luar sebisa mungkin sebagai bekal pengorganisiran mereka.
Tidak ada yang nampak mendengarkan, oke sajalah. Tapi, seperti kebijaksanaan
para petani tempo doeloe, apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai.
Demikianlah,
di tengah kelembaman massa rakyat pekerja, ketidakpuasan perlahan-lahan muncul
kembali ke permukaan. Kekalahan demi kekalahan yang dialami oleh tentara Rusia
di medan perang, korban yang begitu besar akibat tidak kompetennya para
perwira, harga-harga yang pelan tapi pasti merambat naik, makin langkanya
barang-barang kebutuhan pokok karena semua produksi dikirim ke garis depan ...
semua ini tidak luput dari perhatian rakyat pekerja Rusia. Ketidakpuasan ini
bukanlah hasil dari agitasi kader-kader revolusioner. Situasi
ekonomi-sosial-politiklah yang menciptakannya. Tapi, rakyat pekerja Rusia
mendapatkan ekspresi-jalan untuk menyatakan ketidakpuasan mereka-melalui apa
yang diagitasi-propagandakan oleh para kader revolusioner, buruh-buruh maju dan
mereka yang pernah berpengalaman terlibat dalam revolusi 1905.
Dengan kata
lain, para kader yang bertahan dalam kondisi sulit di tahun-tahun awal Perang
Dunia I berhasil menjadi corong (alias "megafon") bagi ketidakpuasan massa
rakyat pekerja.
Demikianlah,
setelah begitu lama tidak terjadi pemogokan atau aksi besar di seluruh
Rusia-mendadak-terjadilah aksi besar-besaran menentang keputusan Tsar yang
membekukan Duma (parlemen kekaisaran Rusia). Kekalahan demi kekalahan yang
diderita pasukan-pasukan Rusia bukanlah satu hal yang bisa diabaikan begitu
saja. Para politisi yang ada dalam Duma melihat bahwa keresahan yang muncul di
tengah rakyat jelata akibat kekalahan-kekalahan ini bisa dipicu menjadi sebuah
pemberontakan yang lebih luas. Oleh karena itu, kaum parlementaris ini lantas
mengajukan sebuah petisi pada Tsar untuk menghentikan perang, setidaknya
mengurangi peran Rusia dalam perang. Tapi, Tsar yang bodoh itu menjawab petisi
ini dengan membekukan Duma. Pecahlah demonstrasi dan pemogokan di seluruh Rusia
pada tanggal 4 September 1915, diikuti oleh puluhan sampai ratusan ribu orang
di St. Petersburg, Nizhni Novgorod, Moskow, Kharkov danYekaterinoslav. Di St.
Petersburg sendiri aksi diikuti oleh 150.000 orang.
Betapa jauh
bedanya dengan yang kita lihat terjadi pada tanggal 1 Mei 1915, di mana Mayday
hanya diperingati 600 orang di seluruh Rusia!
Perubahan
yang terjadi hanya dalam hitungan bulan!
Mereka yang
berpikir dengan "akal sehat" tidak akan dapat mengerti hal ini. Mereka akan
menuduhkan terjadinya konspirasi, hasutan, tipuan .... Yang benar saja! Mana
mungkin berkonspirasi dengan 150 ribu orang? Atau menghasut, atau menipu,
sekian banyak orang untuk bergerak hanya dalam satu hari setelah Duma
dibekukan?
Dan, yang
paling menarik adalah kenyataan bahwa buruh-buruh perempuan dan buruh-buruh
mudalah yang paling banyak bergerak-lapisan yang tadinya dipandang sebagai
lapisan berkesadaran paling terbelakang. Bagaimana mungkin mereka yang "paling
belakang" bisa tiba-tiba melompat ke depan?
Kaum perempuan Rusia melompati rintangan
Dialektika
bekerja tanpa kasat mata. Ia adalah proses yang terus
berlangsung (ongoing) dan tanpa henti (unceasingly). Ia adalah proses molekular
(mengutip Trotsky), yang terjadi pada atom-atom dalam susunan masyarakat. Ia
adalah tumbuhnya tanaman. Ia adalah geraknya bumi-kita tidak menyadarinya
sampai gempa menghantam kita. Tumburan, kontradiksi, gesekan, terjadi dari hari
ke hari. Tidak selalu dapat kita amati. Tidak selalu dapat kita analisa karena
kerumitan dan kompleksitasnya. Tapi proses itu terus berlangsung tanpa
sepengetahuan kita, dan kita pun terkejut ketika mendadak kita tiba di
penghujung proses tanpa menyadari jalannya proses tersebut.
Oleh karena itulah setiap orang yang
bekerja dengan gerakan rakyat harus selalu mawas diri dan waspada terhadap
segala bentuk perubahan yang terjadi di tengah masyarakatnya.
Perubahan-perubahan kecil, yang nyaris tidak terdeteksi, barangkali akan sangat
vital dan menentukan di masa depan.
Perempuan
adalah korban utama yang diserahkan oleh Rusia demi Perang Dunia Pertama. Memang, korban tewas dalam pertempuran
mungkin 99% terdiri dari laki-laki. Namun, mereka adalah ayah dan suami dari
banyak keluarga rakyat pekerja. Kekaisaran Rusia tidak mau tahu dengan nasib
keluarga yang ditinggalkan suami atau anak atau saudara-saudara yang tewas di
medan laga. Untuk mengisi perut mereka dan anak-anak mereka, mereka dipaksa
menjadi pencari nafkah bagi keluarga. Di samping itu, kekurangan tenaga kerja
(seperti sudah disebutkan di muka) membuat Kekaisaran Rusia menerapkan
wajib-kerja (work draft) pada kaum perempuan Rusia. Maka, kini kaum perempuan
Rusia mengalami penindasan berganda, di rumah oleh sistem patriarki dan di pabrik
oleh sistem kerja-upahan. Mereka harus bekerja lima belas sampai delapan belas
jam di pabrik, lalu masih harus melaksanakan "kewajiban" kerja-kerja domestik
di rumah-hanya untuk mendapati bahwa harga-harga barang kebutuhan pokok melejit
tinggi akibat perang dan semakin jauhnya kesenjangan antara si kaya dan si
miskin.
Semua ini
terjadi di depan mata mereka. Dari hari ke hari mereka
melihat hal ini berlangsung. Kemuakan bertumbuh di hati dan pikiran kaum
perempuan Rusia. Bersamaan dengan kemuakan, tumbuh pertanyaan di hati mereka. Bersama dengan pertanyaan, muncul
pula ketidakpercayaan pada sistem kemasyarakatan yang selama ini mereka anggap
benar adanya.
Dan mereka
menemukan jawaban pertanyaan mereka dari apa yang dilakukan, dipropagandakan
dan diperjuangkan oleh kaum revolusioner. Mereka menemukan bahwa sosialismelah
jawaban bagi pertanyaan mereka.
Tentu saja
mereka tidak begitu saja percaya. Mereka akan terus mempertanyakan. Sebagian
dari kaum perempuan ini, yang kepercayaannya tumbuh dengan cepat, lantas
bergabung dengan kaum revolusioner. Tapi, mereka yang tidak yakin juga pada
satu saat tiba pada kesimpulan bahwa mereka harus bergerak mengambil kesimpulan
sendiri. Mereka harus memastikan bahwa mereka bisa mengambil kesimpulan
sendiri.
Pada titik
inilah kesadaran mereka melompat. Dari keadaan skeptis, terbelakang dan pasif,
mereka melompat ke dalam kesadaran maju yang revolusioner.
Inilah yang
sering tidak dipahami oleh mereka yang menepuk dada bahwa dirinya revolusioner.
Mereka yang merasa kesadarannya paling maju dan paling menginginkan perubahan,
sehingga gagal melihat bahwa masyarakat juga terus berubah dan menginginkan
perubahan itu. Banyak orang yang mengaku revolusioner menginginkan agar jumlah
orang yang revolusioner menjadi mayoritas dalam masyarakat. Tidak benar. Tidak
pernah ada revolusi yang terjadi karena kaum revolusioner adalah mayoritas.
Revolusi akan terjadi jika mayoritas rakyat sudah memutuskan bahwa mereka harus
menemukan jawaban sendiri atas pertanyaan-pertanyaan dalam hati dan pikiran
mereka. Mereka belum tentu sudah menerima bahwa jawaban yang diberikan oleh
kaum revolusioner adalah benar. Mereka hanya mengambil keputusan bahwa
pertanyaan mereka harus terjawab dan sistem yang sekarang ada tidak bisa
memberikan jawabannya. Mereka mau dipimpin oleh kaum revolusioner hanya jika,
bagi mereka, hanya kaum revolusioner yang memiliki jawaban. Biarlah sekarang
kaum revolusioner yang memimpin, tapi nanti mereka akan menuntut pembuktian
jawaban itu dari kaum revolusioner.
Saat-saat
kritisnya terletak pada saat di mana pertanyaan mulai muncul secara spontan
dalam bentuk-bentuk gerakan tak terorganisir. Jika pada titik ini kaum
revolusioner gagal menanggapi, maka pertanyaan itu akan berubah menjadi rasa
putus asa.
Kaum
revolusioner Rusia tepat membaca pembalikan posisi ini. Pada saat yang tepat,
pada peringatan Hari Perempuan Internasional 8 Maret 1914 (penanggalan kita),
diluncurkanlah sebuah terbitan khusus perempuan: Rabotnitsa (Perempuan Buruh).
Terbitan ini didanai oleh sumbangan kolektif-kolektif perempuan di tengah
gerakan buruh, dikerjakan sendiri oleh para aktivis perempuan buruh. Isinya
adalah tentang kondisi buruh perempuan dan perjuangan perempuan-baik di pabrik,
di desa, di partai maupun di tengah rumah tangga. Terbitan ini juga memuat
perjuangan perempuan di negeri-negeri lain-baik itu buruh maupun bukan. Satu
seruan yang terus-menerus dikumandangkan oleh Rabotnitsa adalah agar perempuan
kelas pekerja mengorganisir diri sendiri, lalu bergabung dengan perjuangan kaum
laki-lakinya-bahkan juga menyerukan agar kaum perempuan berani membangunkan dan
memimpin kaum laki-laki yang masih "tertidur".
Jadi, ketepatan pembacaan situasi dan
perumusan tindakan oleh kaum revolusioner berkecocokan dengan proses dialektik
yang meradikalisir kaum buruh perempuan di Rusia. Ketika kedua hal ini bertemu
dan berkecocokan, meledaklah tenaga revolusioner yang dibangunkan oleh situasi
objektif di tengah kaum perempuan Rusia. Tanpa tindakan yang tepat dari kaum
revolusioner, tenaga yang terbangun secara spontan ini akan selalu tersimpan
sebagai potensi. Sama seperti batu batere atau accu, yang memiliki potensi
tenaga listrik, baru dapat dimanfaatkan tenaganya ketika terhubung secara tepat
dengan rangkaian listrik tertentu. Jika kutub-kutub batere dihubungkan dengan
cara keliru, potensi tenaga listrik tidak akan keluar-atau malah menyebabkan
korsleting (hubungan pendek), yang bersifat merusak.
Kita melihat kesadaran kaum perempuan Rusia
seperti "melompat" karena kita tidak melihat proses dialektika yang terjadi di
tengah mereka. Sebenarnya,
potensi kesadaran mereka bergerak sejajar dengan kesadaran masyarakat pada
umumnya. Hanya saja, karena mereka mulai dari posisi yang terbelakang, kaum
revolusioner juga terlambat menyadari perkembangan kesadaran itu. Begitu
disadari, begitu kaum revolusioner mengambil tindakan untuk menangkup kesadaran
tersebut, kaum perempuan langsung menyambut-dan kita melihat seakan mereka
mengalami "lompatan kesadaran".
Penutup
Salah satu
pelajaran terpenting dari Revolusi Februari 1917 di Rusia ini adalah bahwa kaum
revolusioner tidak dapat-dan tidak boleh-mengabaikan sektor-sektor rakyat
pekerja yang manapun. Kaum revolusioner tidak boleh memvonis satu sektor
sebagai "terbelakang" dan kemudian meninggalkannya sama sekali. Semua sektor
rakyat pekerja harus diberi perhatian yang sama-walau mungkin untuk
penanganannya memang harus menuruti sebuah skala prioritas yang disesuaikan
dengan sumberdaya yang dipunyai organisasi.
Revolusi
Februari 1917 di Rusia merupakan pembuktian bahwa sektor perempuan bukan saja
berpotensi revolusioner, melainkan berpotensi untuk memimpin sebuah revolusi.
Di saat kaum laki-laki meragu, kaum perempuanlah yang tampil ke depan memicu
revolusi berlangsung. Kalau ada yang kita bisa teladani, pengorganisiran spesial
di sektor perempuan, penggemblengan kader-kader perempuan revolusioner menjadi
pemimpin-pemimpin, harus dimulai dari sekarang. Sehingga, ketika peluang untuk
perluasan propaganda, rekrutmen dan pendidikan di kalangan perempuan kelas
pekerja terbuka lebih lebar, kitalah yang akan menjadi organisasi yang paling
siap untuk mengambil peluang itu.
Jakarta, 7 April 2008
*Penulis
adalah Ketua Divisi Pendidikan Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja. Artikel
ini disadur dari website PRP
|