|
Gerak revolusi adalah satu gerak yang penuh dengan pasang naik dan turun. Ia adalah sebuah proses yang tidak bergerak lurus tetapi penuh dengan ledakan-ledakan. Revolusi Bolivarian di Venezuela sudah berlangsung lebih dari 12 tahun semenjak terpilihnya Hugo Chavez sebagai Presiden pada tahun 1998. Berbagai proses telah berlangsung, dengan langkah maju dan langkah mundur. Namun Revolusi ini belumlah selesai. Rakyat pekerja belum merebut kekuasaan sepenuhnya. Sosialisme belum tercapai.
Pada tanggal 26 September nanti akan ada pemilu majelis nasional di Venezuela. Satu peristiwa penting untuk proses Revolusi Venezuela. Kaum oligarki kapitalis dan imperialisme telah meningkatkan serangan mereka, dari arah ekonomi, politik, dan bahkan militer. Baru-baru saja pemerintahan AS membangun tujuh pangkalan militer di Kolombia, negara yang berbatasan dengan Venezuela, dengan tujuan melawan ancaman dari negara anti-Amerika di daerah tersebut. Imperialisme dunia bersiap-siap untuk memadamkan api revolusi Venezuela.
Dari Militerisme ke Neoliberalisme
Venezuela, adalah negeri yang memiliki kandungan minyak bumi sangat besar dan menjadi pengekspor minyak terbesar di Amerika Selatan. Bahkan diprediksi cadangan minyak yang terdapat di perut Venezuela adalah cadangan minyak terbesar di dunia yang belum diekplorasi. Hampir 90% pendapatan pemerintah berasal dari penjualan minyak.
Memasuki abad ke-19, Venezuela berada di bawah kepemimpinan pemerintahan diktator militer. Barulah di abad ke-20 Venezuela memasuki ranah demokrasi borjuis dan pergerakan demokratik mulai memuncak di sekitar tahun 1950-an. Semangat demokrasi borjuis sudah menjalar di Venezuela ketika itu, namun tetap saja korupsi, birokratisasi, pelanggaran HAM tetap mewabah dan sulit untuk dilenyapkan. Hal ini tentu saja berimbas buruk terhadap massa rakyat Venezuela. Mereka hidup dalam kondisi yang memprihatinkan.
Pukulan yang lebih telak bagi massa rakyat terjadi pada tahun 1989 ketika presiden Venezuela, Carlos Andres Perez menjalin kerjasama dengan International Monetary Fund (IMF). Kerjasama itu dilakukan dengan dalih memajukan perekonomian Venezuela yang tidak stabil akibat korupsi dan birokratisasi. Sejak itu reformasi ekonomi neoliberal mulai dijalankan. Semua sektor-sektor perekonomian yang tadinya dikendalikan oleh negara mulai diserahkan kepada swasta. Hasilnya, harga-harga naik tak terkendali, sistem kerja kontrak mulai diterapkan, perusahaan-perusahaan asing dibebaskan untuk membawa 100% keuntungan mereka ke negara asalnya, pengangguran mencapai 14%, inflasi mencapai 80,7%, dan lebih dari 80% massa rakyat Venezuela hidup dalam kemiskinan.
Massa rakyat semakin sadar bahwa ada yang salah dengan sistem di Venezuela. Namun karena tidak adanya organisasi yang mampu membawa massa rakyat menuju jalan alternatif atas masalah-masalah tersebut, maka energi besar itu meledak menjadi kerusuhan terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah Venezuela. Merespon kebijakan pemerintah yang menaikkan tarif bus 30% dan harga BBM naik 100%, amarah rakyat meluap menjadi satu kerusuhan. Peristiwa ini dikenal dengan kerusuhan Caracazo (El Caracazo). Presiden Carlos Andres Perez memerintahkan polisi dan tentara untuk menembaki rakyat dengan peluru tajam. Jumlah korban yang berjatuhan diprediksi mencapai 3.000 jiwa. Ini adalah bab gelap dalam sejarah Venezuela dan menjadi awal dari Revolusi Bolivarian.
Kudeta Miliiter Chavez
Peristiwa Caracazo sungguh merobek-robek kesatuan di dalam angkatan bersenjata. Para tentara yang diperintahkan untuk menembaki rakyat jelata mulai mempertanyakan pemerintahan mereka. Inilah yang menjadi alasan dari kudeta militer yang dilakukan oleh Chavez dan kawan-kawannya di dalam angkatan bersenjata 3 tahun kemudian setelah kerusuhan 1989.
Terinspirasi oleh Simon Bolivar, seorang tokoh pembebasan yang memperjuangkan kemerdekaan Venezuela dari penjajahan Spanyol dan menyatukan Amerika Latin, sebuah kelompok perwira junior yang berpangkat Kapten membentuk Pergerakan Revolusioner Bolivarian 200, atau MBR-200. Kelompok ini terdiri dari Felipe Acosta Carlos, Jesus Urdaneta Hernandez, Rafael Baduel dan Hugo Chavez Frias. Mereka berkomitmen membentuk gerakan revolusioner untuk membebaskan Venezuela dari belenggu penindasan. Gerakan MBR-200 dimulai dalam bentuk kelompok diskusi, namun kemudian mereka berinisiatif merancang sebuah kudeta.
Pada tanggal 27 November, MBR-200 meluncurkan pemberontakan militer mereka. Namun percobaan kudeta mereka mampu dipatahkan. Pada saat percobaan kudeta militer tersebut, tidak ada dukungan dari rakyat pekerja sama sekali. Rakyat pekerja tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka tidak dimobilisasi sama sekali. Karena mereka tidak tahu apakah kudeta ini adalah progresif atau reaksioner, maka mereka pasif saja.
Ketika kudeta MBR-200 dipatahkan dan terungkap bahwa kudeta ini punya maksud progresif, Hugo Chavez lalu dilihat sebagai simbol perjuangan oleh rakyat miskin. Ia dianggap sebagai pahlawan anti korupsi karena berani melawan pemerintahan yang korup.
Namun percobaan kudeta militer yang dilakukan oleh MBR-200 bukanlah jalan terbaik untuk menjawab kegelisahan-kegelisahan massa rakyat. Kudeta militer yang dilakukan Chavez lewat MBR-200 bukanlah sebuah langkah revolusioner. Hal itu lebih cenderung kepada petualangan politik sekelompok perwira militer daripada revolusi. Dalam terminologi Marxisme, apa yang disebut dengan proses revolusi adalah perebutan kekuasaan yang dilakukan massa rakyat pekerja terhadap kaum kapitalis-borjuis, dimana kaum proletariat atau massa rakyat kelas bawah menjadi motor penggerak dari revolusi dan terjun aktif dalam politik. Chavez mengakui kesalahannya ini dan menyadari bahwa revolusi tidak ada artinya tanpa gerakan massa rakyat.
Absennya sebuah organisasi yang bisa menggalang aksi massa memang sering menimbulkan petualangan-petualangan politik dan militer dari mereka yang jujur ingin membebaskan rakyat. Dan karena keabsenan inilah maka Chavez terdorong ke depan menjadi simbol perjuangan.
Menjelang pemilu tahun 1993 di Venezuela, para politisi menggunakan isu-isu populis untuk meraih dukungan rakyat. Bahkan kudeta militer yang terjadi di tahun 1992 menjadi isu yang diangkat ke permukaan untuk mendongkrak perolehan suara. Pemilu 1993 mengantarkan Rafael Caldera meraih kursi kepresidenan. Ia mendapat dukungan dari partai-partai kiri, sosial demokrat dan kelompok sayap kanan-tengah.
Di tahun 1994, Caldera membebaskan mereka yang terlibat dalam percobaan kudeta tahun 1992, termasuk Hugo Chavez. Caldera diwarisi pemerintahan yang bobrok dari masa kepemimpinan sebelumnya. Kondisi perekonomian Venezuela semakin tidak stabil akibat krisis di tahun 1994 yang membuat gejolak di massa rakyat. Krisis kapitalisme di Venezuela semakin dalam dan memaksa Bank Sentral Venezuela menyelamatkan sedikitnya 14 bank yang bangkrut. Di sisi lain, pemasukan keuangan pemerintah semakin menurun drastis karena harga minyak yang terjun bebas. Walau pemilu telah menghasilkan kepemimpinan baru, namun rezim belum berubah. Caldera, beserta kelompok-kelompok kiri yang mendukung pemerintahannya, tidak memiliki alternatif untuk membebaskan massa rakyat dari krisis. Untuk menutupi defisit yang dialami, maka pemerintahan Venezuela, di bawah kepemimpinan Rafael Caldera melanjutkan kebijakan-kebijakan seperti yang diarahkan oleh IMF. Perusahaan-perusahaan milik negara diprivatisasi dalam jumlah yang lebih besar, salah satunya yaitu perusahaan besi dan baja SIDOR (Orinoco Steel).
Mulai menghimpun gerakan massa rakyat
Sejak dibebaskan dari tahanan, Chavez bersama MBR-200 mulai bergerak ke pelosok-pelosok negeri untuk menghimpun kekuatan rakyat dengan membentuk komite-komite Bolivarian dan menyerukan pembentukan Majelis Konstituante. Bersama gerakannya, Chavez melakukan program-program yang tersusun secara sistematis untuk mengetahui harapan dan keinginan massa rakyat, serta melakukan kerja-kerja nyata untuk mengubah kondisi massa rakyat.
Pada tahun 1996-1997 sebuah survey dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kepopuleran Chavez di mata massa rakyat. Dan ternyata 70% dari hasil survey menunjukan bahwa massa rakyat menginginkan Chavez maju menjadi kandidat presiden. Keyakinan Chavez semakin besar untuk maju menjadi kandidat presiden. Ia menginginkan agar massa rakyat benar-benar berdaulat dan memiliki kekuasaan.
Di tahun 1997, MBR-200 memutuskan untuk maju dalam Pemilu 1998. Sebagai kendaraan politik di tahun yang sama mereka membentuk partai baru yang dinamakan Pergerakan Republik Kelima (Movimiento V [Quinta] República, MVR). Partai ini mengusung ideologi Bolivarianisme, sebuah ide populis pro-rakyat miskin dengan figur Simon Bolivar, sang pembebas Amerika Latin. Dengan mengangkat isu anti kemiskinan dan anti korupsi, Chavez mampu meraih 56% suara dan memenangkan Pemilu 1998. Kemenangan ini disambut dengan suka cita oleh rakyat miskin Venezuela.
Perubahan Konstitusi
Tugas-tugas berat sudah menanti Chavez dan kekuatan-kekuatan politik yang mendukungnya. Hal pertama yang dilakukan oleh pemerintahan Chavez adalah perubahan konstitusi yang lama, yang merupakan warisan dari pemerintahan oligarki lama dan hanya menguntungkan kaum kapitalis dan pemilik tanah besar di Venezuela. Dibutuhkan sebuah konstitusi yang perancangannya dan penyetujuannya dilakukan oleh seluruh rakyat Venezuela, sebuah konstitusi yang berpihak pada rakyat miskin.
Untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan legitimasi dari massa rakyat melalui proses referendum yang dilaksanakan pada tanggal 19 April 1999. Referendum pertama adalah untuk memutuskan perlu atau tidaknya melangsungkan sidang Majelis Konstituante untuk merancang konstitusi yang baru. 92% memiluh “ya”. Dua bulan kemudian pada tanggal 25 Juli, diadakan pemilihan untuk memilih anggota-anggota Majelis Konstituante. Untuk memenangkan pemilihan anggota-anggota Majelis Konstituante, dibentuklah aliansi yang terdiri dari MVR, PCV (Partai Komunis Venezuela), PPT, dan MAS. Aliansi ini dinamakan Polo Patriotico. Dari 131 kursi yang diperebutkan, Polo Patriotico meraih 120 kursi.
Chavez menargetkan Majelis Konstituante akan menyelesaikan rancangan konstitusi baru dalam jangka waktu enam bulan. Di bulan Desember 1999, rancangan konstitusi baru telah selesai dan dilakukan pemungutan suara untuk menyetujui konstitusi itu. Untuk pertama kalinya rakyat miskin Venezuela dapat menentukan konstitusi mereka sendiri. Sebanyak 71,8% suara menyetujui konstitusi tersebut, dengan abstensi 55,6% suara.
Konstitusi baru atau lebih popular dengan nama Konstitusi 1999, terdiri 350 artikel dan menjadi konstitusi terpanjang di dunia. Banyak perubahan-perubahan signifikan dalam konstitusi baru. Antara lain, perubahan nama negara, dari "Republik Venezuela" menjadi “Republik Bolivarian Venezuela”. Selain itu juga terdapat perubahan struktur negara, dan salah satunya adalah bahwa presiden dapat direcall (diberhentikan) melalui referendum, satu pasal yang benar-benar demokratis. Kalau rakyat sudah tidak puas dengan kinerja presiden, mereka tidak perlu menunggu sampai masa jabatan sang presiden berakhir. Presiden tersebut dapat langsung diberhentikan oleh rakyat sendiri melalui referendum popular. Dan ini bukan hanya sebatas formalitas. Pada tahun 2004 pemerintahan Chavez memperbolehkan referendum ini setelah pihak oposisi berhasil mengumpulkan 20% tandatangan. Namun Chavez memenangkan referendum tersebut, dengan 59% suara mendukungnya.
Akan tetapi perubahan yang benar-benar menyentuh rakyat miskin adalah bahwa konstitusi baru ini menjamin pelayanan kesehatan gratis bagi massa rakyat. Selain itu, isu gender juga menjadi bagian yang penting dalam perubahan ini, dimana konstitusi baru, menjamin kesetaraan antara pria dan wanita. Lebih dari itu, konstitusi baru, menjamin hak-hak ibu rumahtangga dan memberikan jaminan keamanan sosial, karena pekerjaan rumah tangga merupakan bagian dari nilai-nilai sosial yang mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran.
Itulah beberapa perubahan penting yang termaktub dalam konstitusi baru. Massa rakyat, kini lebih dilibatkan dalam menjalankan roda pemerintahan. Mereka dapat berpartisipasi langsung dalam mengawasi, mencegah peyelewengan kekuasaan yang dilakukan lembaga-lembaga negara. Bahkan massa rakyat juga mampu menjatuhkan sanksi. Konstitusi baru, merupakan jembatan dari tatanan kekuasaan lama menuju revolusi Bolivarian.
Kontradiksi Kelas
Konstitusi baru, menjanjikan harapan besar bagi massa rakyat. Demokrasi partisipatoris menjadi wacana baru yang berkembang di seantero Venezuela. Massa rakyat mulai bergeliat untuk turut aktif dalam membangun negeri menuju sistem alternatif. Namun perekonomian Venezuela masih terjebak dalam bayang-bayang kapitalisme. Hal inilah yang menjadi penyebab utama belum pulihnya perekonomian Venezuela.
Selain itu, Chavez juga pada saat itu masih mengandalkan kolaborasi kelas. Kaum borjuis masih diberi ruang untuk turut berpartisipasi dalam membangun revolusi Bolivarian. Chavez pada awalnya tidaklah mengusung sosialisme. Dia mengatakan dengan sendirinya bahwa dia dulunya mempercayai “jalan ketiga”, yakni sebuah jalan tengah antara kapitalisme dan sosialisme, sebuah proposal yang diusung oleh Tony Blair, politisi dari Inggris. Namun kita akan melihat bagaimana reforma-reforma kecil yang ingin dilakukan oleh Chavez pun ditentang keras oleh kaum kapitalis Venezuela.
Di pertengahan tahun 2000, Chavez mengeluarkan dekrit untuk menaikkan upah minimum menjadi 144.000 Bolivar. Tidak lama setelah itu, diadakan Pemilu yang merupakan Pemilu pertama dari hasil perubahan konstitusi. Pemilu ini memilih anggota-anggota dewan yang akan menempati posisi lembaga-lembaga negara yang baru. Koalisi yang mendukung pemerintahan Chavez di Majelis Nasional yang baru terpilih, mencapai 2/3 anggota majelis. Selain itu, dilangsungkan juga pemilihan presiden. Chavez menjadi presiden pertama di Venezuela yang berdasarkan konstitusi baru, menjalankan kekuasaannya secara sah dalam satu periode, selama 6 tahun. Chavez memenangkan 59.76% suara. Jika dibandingkan dengan Pemilu 1998, perolehan suara Chavez mengalami kenaikan. Ini adalah gambaran dimana massa rakyat menginginkan perubahan yang jelas dan tegas. Mereka menganggap bahwa Chavez dapat melakukan hal itu. Kini harapan massa rakyat diletakkan dengan porsi yang lebih besar lagi di pundak Chavez.
November 2000, lewat Majelis Nasional, Chavez menerbitkan undang-undang Ley Habilitante. Undang-undang ini memberikan kebebasan kepada presiden untuk mengeluarkan dekrit dalam jangka waktu satu tahun. Sampai di tahun 2001, melalui dekrit itu, Chavez menerbitkan 49 undang-undang yang berpihak pada buruh, tani, nelayan, dan kaum miskin tanah.
Dari 49 UU tersebut itu, ada tiga undang-undang yang benar-benar membuat gusar kaum oligarki Venezuela dan imperialis asing. Yang pertama adalah undang-undang pertanahan, termasuk reformasi agraria. Undang-undang itu bermaksud menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh petani miskin. Pemerintah akan membatasi kepemilikan tanah perusahaan-perusahaan swasta dan tuan tanah besar. Selain itu, pemerintah juga akan mendayagunakan tanah-tanah lebih dan tanah-tanah yang tidak berpenghuni, bahkan ekspropriasi tanah untuk kebutuhan massa rakyat yang tidak memiliki tanah. Dekrit tanah ini langsung menyerang basis dari oligarki Venezuela.
Lalu, undang-undang yang kedua adalah undang-undang minyak yang meningkatkan pajak terhadap investor asing yang beroperasi di sektor minyak bumi dan gas dari 16,6% ke 30%. Sektor minyak dan gas mencakup 80% ekspor Venezuela dan 50% pendapatan negara. Undang-undang ini juga menetapkan bahwa negara harus memiliki minimum 51% saham dari perusahaan-perusahaan minyak dan gas, dan negara harus memperoleh royalti 30% dari semua gas dan minyak yang diekstrak dari Venezuela.
Yang ketiga adalah undang-undang perikanan yang melarang penggunakan kapal trawl besar dalam area 500 meter dari pesisir pantai. UU ini jelas melindungi nelayan kecil yang kerap tidak mampu bersaing dengan kapal-kapal penangkap ikan besar yang meraup semua ikan dan menghancurkan ekosistem laut.
Tidak mengejutkan kalau kelas kapitalis Venezuela segera merasa terancam oleh undang-undang ini, secara ekonomi dan secara politik. Secara ekonomi karena selama berpuluh-puluh tahun kelas kapitalis Venezuela telah mengantongi milyaran dolar dari kepemilikan tanah mereka, dari kendali mereka atas minyak dan gas, dan dari penangkapan ikan. Secara politik karena undang-undang ini menguatkan rakyat miskin dan membuat Chavez semakin popular di mata kaum buruh, tani, nelayan, dan miskin kota. Kontradiksi kelas semakin menajam walaupun Chavez terus menyerukan kolaborasi antar kelas.
Puncak reaksi kaum borjuis terjadi di tahun 2001-2002. Mereka mulai mencari celah untuk menjatuhkan kekuasaan demokratik Chavez. Dimulai sejak Desember 2001, asosiasi bisnis terbesar di Venezuela, Fedecamaras, dan serikat buruh korup yang dipimpin oleh partai-partai politik oposisi, CTV (Federasi Buruh Venezuela), menyerukan untuk melakukan pemogokan umum dan lockout. Mereka memprotes 49 undang-undaang yang telah dikeluarkan Cavez dan menuntut agar pemerintah segera melakukan amandemen. Kelompok oposisi ini dipimpin oleh presiden Fedecamaras, Pedro Carmona Estanga.
Di bulan yang sama, Chavez membentuk Lingkaran Bolivarian. Ini dilakukan untuk memperkuat kesadaran massa rakyat dalam mempelajari proses dan tujuan revolusi Bolivarian. Jutaan rakyat yang dulu tidak pernah menyentuh politik untuk pertama kalinya terbuka mata mereka. Inilah esensi dari revolusi, yakni terjunnya lapisan besar masyarakat dalam kehidupan politik.
Di awal tahun 2002, Chavez mengeluarkan kebijakan untuk “menasionalisasi kembali” perusahaan minyak negara Venezuela (PDVSA) yang sebelumnya dijalankan oleh pejabat-pejabat negara korup dimana laba minyak disalurkan ke kapitalis lokal dan asing. Kebijakan ini berarti pembersihan PDVSA dari elemen-elemen korup dan meletakkannya kembali sebagai perusahaan milik rakyat dan untuk rakyat. Kebijakan ini ditentang keras oleh pihak manajemen PDVSA dan kelompok oposisi. Pada bulan Februari dan April 2002 Chavez memberhentikan sejumlah pejabat tinggi PDVSA yang korup dan digantikan dengan elemen-elemen yang lebih bersih untuk mulai menata ulang PDVSA sehingga laba minyak negara dapat digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Habis sudah kesabaran kelas kapitalis Venezuela. Chavez harus disingkirkan.
Kudeta April 2002
9 April 2002, CTV dan Fedecamaras menyerukan kepada para pendukungnya untuk melakukan aksi mogok selama 2 hari. Fedecamaras menyerukan kepada kaum borjuis untuk melakukan lockout. 11 April, ratusan ribu orang yang dimobilisasi oleh kaum kapitalis Venezuela, bergerak menuju kantor pusat PDVSA di kota Caracas dan aksi dilanjutkan menuju istana presiden di Milaflores. Ratusan ribu peserta yang mengikuti aksi itu bertujuan untuk menggulingkan kekuasaan Chavez. Terlihat jelas sekali komposisi dalam demonstrasi oposisi tersebut, mereka semua memakai baju yang bagus-bagus dan berdandan rapi, gemuk dan sehat. Sedangkan ratusan ribu massa rakyat pendukung Chavez yang juga berkumpul di depan istana presiden berpakaian lusuh dan kotor.
Di Kuba, Fidel Castro, melihat tanda-tanda terjadinya kudeta yang akan dilakukan kelompok oposisi. Dengan segera ia menelpon Chavez dan mengatakan agar Chavez jangan mau untuk mundur (resign) dari posisinya sebagai presiden. Tepat di depan istana presiden Milaflores, ratusan ribu massa berkumpul mengililingi istana, mereka ada disana sejak tanggal 9 April. Mereka adalah massa yang mendukung Chavez.
Menjelang sore hari terjadi kerusuhan ketika empat orang pendukung Chavez ditembak oleh penembak jitu dari atap gedung. Di sisi lain, ada beberapa orang yang diklaim sebagai pendukung Chavez, membawa pistol dan menembaki massa kelompok oposisi dari atas jembatan. Dalam film dokumenter Revolution will not be televised terungkap bahwa mereka sebenarnya sedang menembaki penembak jitu yang sedang menyerang barisan pendukung Chavez. Namun media kapitalis memelintir ini dan menyiarkannya sebagai kelompok Chavez yang menembaki kelompok oposisi. Belasan orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat tembakan-tembakan ini, yang lalu diketahui adalah rancangan dari kelompok reaksioner untuk menggulingkan Chavez.
Di sore hari, Chavez mengeluarkan himbauan agar seluruh massa aksi kembali ke rumah dengan tenang. Namun ketika rekaman itu ingin disiarkan lewat televisi, terjadi sabotase yang dilakukan oleh kelompok oposisi. Media-media elektronik dikendalikan oleh kelompok oposisi. Mereka menyebarkan kebohongan-kebohongan untuk menyerang dan menyudutkan posisi Chavez, serta membingungkan massa rakyat. Terjadi sebuah kudeta media, dimana media kapitalis dimobilisasi untuk menggulingkan pemerintahan Chavez.
Menjelang malam hari, istana Milaflores dikepung tentara anti-pemerintah dengan bersenjatakan artileri berat. Mereka masuk ke istana dan meminta Chavez untuk mundur dari jabatannya. Jika tidak, mereka mengancam akan mengebom istana. Dan pada tanggal 12 April, dini hari, melalui media televisi, Jenderal Lucas Rincon mengumumkan bahwa Chavez telah mengundurkan diri.
Namun pada kenyataannya, Chavez tidak pernah menyatakan mundur. Chavez diculik dan dibawa menuju Fort Tiuna. Setibanya di sana, Chavez sempat dibantu oleh pekerja di Milaflores yang masih loyal padanya untuk melakukan komunikasi lewat telepon. Kemudian ia menghubungi anak perempuannya, María Gabriela, dan menjelaskan kalau dirinya tidak pernah menyatakan mundur dari jabatan kepresidenan. María Gabriela kemudian menghubungi Fidel Castro dan menceritakan apa yang dikatakan oleh ayahnya lewat telepon. Fidel kemudian menyiarkan rekaman percakapan itu lewat televisi nasional Kuba.
Pada tanggal 12 April, kelompok oposisi segera mengukuhkan Pedro Carmona menjadi presiden Venezuela ad interim. Kemudian ia mengeluarkan dekrit untuk membubarkan Majelis Nasional dan Mahkamah Agung, membatalkan konstitusi 1999. Carmona juga membubarkan lembaga-lembaga negara lainnya, memecat semua gubernur-gubernur dan walikota di negara bagian.
Segera pemerintahan baru ini melakukan represi terhadap kaum Kiri. Para menteri Venezuela segera diburu. Para pemimpin Kiri ditahan dan banyak yang harus bersembunyi. Polisi dikerahkan untuk menjaga ketertiban dan menghentikan segala bentuk demonstrasi. Sungguh suatu pemerintah yang demokratis. Tetapi rakyat miskin Venezuela, yang untuk pertama kalinya menemukan satu harapan di dalam kehidupan mereka yang penuh sengsara, tidak mempercayai media kapitalis. Mereka tidak percaya kalau Chavez mengundurkan diri. Lewat media-media bawah tanah, media-media komunitas, dari mulut ke mulut, berita bahwa Chavez tidak mengundurkan diri menyebar seperti api. Ratusan ribu sampai jutaan rakyat mulai turun dari perkampungan (barrio) Caracas dan berduyun-duyun bergerak ke istana presiden.
13 April, istana Milaflores telah dipenuhi oleh massa rakyat yang mendukung Chavez. Mereka menuntut kembalinya Chavez. Berita perlawanan ini meyakinkan para tentara bahwa Chavez masih didukung oleh rakyat. Sebelumnya mereka ragu akan apa yang sedang terjadi. Tetapi setelah menyaksikan keteguhan hati dari perlawanan rakyat, maka tentara pun dengan tegas mendukung Chavez.
Para tentara yang pro-Chavez segera mengambil alih istana Milaflores dari kelompok oposisi. Kelompok oposisi yang sebelumnya berpesta pora dan mabuk kekuasaan segera dibangunkan dari kemabukan mereka oleh amarah jutaan rakyat dan bayonet tentara. Mereka segera ditahan. Pada malam hari tentara menjemput Chavez dari lokasi penahanan ke istana Milaflores dengan menggunakan helikopter. Jutaan rakyat bersorak sorai, dengan air mata kebahagiaan, menyambut kembalinya Presiden mereka. Untuk pertama kalinya mereka membuat sejarah, yakni menggagalkan kudeta yang sudah begitu sering terjadi di Amerika Latin. Tidak bisa dilukiskan situasi yang begitu revolusioner di antara massa rakyat pada saat itu.
Paska peristiwa itu, di bulan yang sama Chavez membentuk tim investigasi untuk menelusuri dan mengusut masalah itu. Beberapa hasil investigasi menyebutkan keterlibatan pemerintah Amerika Serikat (AS) dan CIA dalam kudeta itu. Diperkirakan sebanyak $700,000 uang yang diterima kelompok oposisi dari AS. Uang itu diberikan sebelum kudeta terjadi pada bulan April 2002. Selain itu, pemerintahan Spanyol diindikasikan ikut terlibat dalam menyokong kudeta itu.
Kaum borjuasi tidaklah segan-segan membubarkan semua institusi demokrasi ketika mereka merebut kekuasaan. Namun Chavez justru setelah diselamatkan oleh massa rakyat mengambil kebijakan yang lunak terhadap kaum oposisi. Dia tidak mengadili para pelaku kudeta, bahkan dalam kerangka demokrasi borjuasi. Alih alih dia justru menyerukan rekonsiliasi. Ini membuat kecewa cukup banyak rakyat yang mengharapkan satu tindakan tegas dari pemerintahan mereka. Namun peristiwa kudeta April 2002 ini menjadi satu momen yang menggoncang kesadaran rakyat pekerja Venezuela dan membuat mereka percaya diri. Laju Revolusi Venezuela semakin kuat. Massa semakin teradikalisasi, dan ini membuat Chavez juga semakin radikal, hingga pada tahun 2005 dia dengan tegas menyatakan bahwa tujuan Revolusi Bolivarian adalah sosialisme. [Bersambung ke bagian dua] |