|
Ditulis oleh Jesus S. Anam
|
|
Selasa, 31 Januari 2012 09:32 |
|
Bagi seorang Marxis sejati, Marxisme bukan sekedar teori atau knowledge, tetapi petunjuk teoritis dan praksis revolusioner yang akan membawa perubahan sejarah; yang akan membawa kelas pekerja ke tampuk kekuasaan; yang akan mewujudkan cita-cita sosialis dan membawa arah baru yang menggembirakan bagi masa depan umat manusia. Jika kita menjadikan Marxisme hanya sekedar teori, bahan diskusi filsafat yang prestisius, inspirasi, atau sekedar wacana yang menggairahkan, maka kita samasekali tidak melakukan apa-apa bagi kesejarahan manusia. Kita hanya akan menjadi seorang atau sekelompok perenung yang absurd. “Para filsuf hanya menginterpretasi dunia, dengan berbagai cara; yang terpenting adalah bagaimana mengubahnya.” Demikian tulis Marx dalam Theses On Feuerbach, yang merupakan kritik terhadap para filsuf pasif di jamannya.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Jesus S. Anam
|
|
Kamis, 12 Januari 2012 08:35 |
|
Tak ada kebebasan dalam kehidupan kaum buruh. Mereka harus tepat waktu; harus berada di ruang produksi sebelum mesin-mesin pemintal bergerak dengan suara garang. Jika tak ada lemburan, mereka pulang sekitar jam lima sore. Jika harus lembur, mereka pulang ke rumah masing-masing sekitar jam tujuh malam. Rasa capek dan penatnya tidak memberinya waktu untuk bercengkerama dengan anggota keluarga. Mereka harus tidur cepat, agar pagi-pagi tenaganya pulih kembali; agar bisa bekerja lagi; agar tetap bisa menghasilkan uang yang hanya cukup untuk membayar beberapa poin kebutuhan saja.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Alan Woods
|
|
Selasa, 13 Desember 2011 00:00 |
|
Bahkan bagi mereka yang cukup beruntung untuk memiliki pekerjaan, sembilan dari sepuluh kasus, kerja adalah satu rutinitas yang tak bermakna. Berjam-jam kerja tidaklah dilihat sebagai bagian dari kehidupan seseorang. Kerja tidak memiliki hubungan dengan hakikat kita sebagai manusia.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Semaoen (1920)
|
|
Jumat, 01 Juli 2011 17:14 |
|
Awal abad ke-20, Indonesia (Hindia Belanda saat itu) menyaksikan lahirnya kelas proletar: pekerja rel kereta api, pegawai kantor pegadaian, buruh perkebunan dan pabrik gula, dan banyak lagi. Semua ini diciptakan oleh kapitalisme Belanda yang membutuhkan tenaga kerja lokal yang trampil untuk bisa lebih menjarah bumi Indonesia. Namun dengan ini, Belanda menciptakan penggali liang kuburnya sendiri. Serikat-serikat buruhpun tumbuh seperti jamur. Buruh mulai berorganisasi. Semaoen lalu menulis apa yang menjadi buku panduan serikat buruh pertama di Indonesia, yang isinya sampai sekarang masihlah relevan. Rejim Soeharto telah menghancurkan tradisi Serikat Buruh di negeri kita, dan LSM-LSM perburuhan pun telah menelikung tradisi ini. Kita harus mengembalikan semangat dan tradisi serikat buruh yang sejati. Kami harap buku ini dapat menjadi titik tolak dalam usaha ini.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Ted Sprague
|
|
Sabtu, 25 Juni 2011 17:07 |
|
Secara historis, filsafat marxisme adalah filsafat perjuangan kelas buruh untuk menumbangkan kapitalisme dan membawa sosialisme. Sejak filsafat ini dirumuskan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels semenjak tahun 1840an dan terus berkembang, filsafat ini telah mendominasi perjuangan buruh secara langsung maupun tidak langsung. Kendati usaha-usaha para akademisi borjuis untuk menghapus ataupun menelikung Marxisme, filsafat ini terus hadir di dalam sendi-sendi perjuangan kelas buruh.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh V.I. Lenin (1916)
|
|
Minggu, 15 Mei 2011 23:56 |
|
Bila kita harus memberikan imperialisme sebuah definisi yang paling singkat, kita dapat mengatakan bahwa imperialisme adalah tahapan monopoli dari kapitalisme. Definisi semacam ini akan mengikutsertakan hal-hal yang paling penting; di satu pihak, kapital finansial adalah kapital dari beberapa bank monopoli yang sangat besar, yang merger dengan kapital dari asosiasi-asosiasi monopoli industrialis; dan di pihak yang lain, pembagian dunia adalah transisi dari sebuah kebijakan kolonial yang telah meluas tanpa halangan ke daerah-daerah yang belum direbut oleh kekuatan kapitalis, ke sebuah kebijakan kolonial kepemilikan monopoli atas daerah-daerah dunia, yang telah dibagi-bagi sepenuhnya.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Jesus S. Anam
|
|
Senin, 16 Agustus 2010 04:02 |
|
Dua dekade telah berlalu sejak runtuhnya Uni Soviet. Riuh sorak kaum borjuis seluruh dunia semakin menggema. Dalam seminar-seminar, mereka antusias berbicara tentang akhir sosialisme, komunisme, dan Marxisme. Bahkan tesis buruk Francis Fukuyama mengenai ‘akhir sejarah’ masih menjadi bahan diskusi penting di kampus-kampus untuk menghujat sosialisme. |
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Friedrich Engels
|
|
Kamis, 12 Agustus 2010 23:33 |
|
Bakunin menginginkan Internasionale menjadi, bukan sebuah organisasi untuk perjuangan politik melainkan sebuah kopi dari masyarakat ideal masa depan, tanpa pemimpin dan tanpa otoritas, karena otoritas = negara = sebuah kejahatan yang absolut. Otoritas mayoritas atas minoritas juga berhenti. Setiap individu dan setiap komunitas adalah otonom. Tapi bagaimanakah sebuah masyarakat berfungsi kecuali tiap-tiap individu menyerahkan sebagian dari otonominya?
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Friedrich Engels (1873)
|
|
Kamis, 25 Februari 2010 12:27 |
|
Apa itu otoritas? Apa basis material dari otoritas? Disini Engels menjawab kaum Anarkis mengenai prinsip otoritas. Mereka yang tidak percaya otoritas maka tidak percaya akan revolusi proletar, karena revolusi proletar adalah hal yang paling otoriter dimana kelas buruh memaksakan kehendaknya kepada kelas kapitalis untuk menyerahkan kendali dan kepemilikan pabrik and ekonomi. Kelas buruh pun harus menggunakan otoritasnya untuk melawan perlawanan kelas kapitalis yang ingin melaksanakan konter-revolusi karena tidak ada kelas penguasa yang akan begitu saja menyerahkan kekuasaannya.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Leon Trotsky (1910)
|
|
Otak kaum buruh dari sudut pandang fisik lebih bebas. Penulis tidak harus bangun tidur ketika ayam berkokok, di belakang punggung dokter tidak ada mandor, kantong pengacara tidak diperiksa ketika dia meninggalkan pengadilan. Tetapi sebagai gantinya, kaum intelektual bukan hanya harus menjual tenaga-kerjanya, bukan hanya ototnya, tetapi seluruh kepribadiannya sebagai seorang manusia. |
|
Selanjutnya...
|
|
|