facebooklogocolour

Menangani Korupsi Lewat Pemerintahan Buruh

 

Kegagalan rejim SBY dalam menangani korupsi harus membuat kita mempertanyakan kemampuan sistem pemerintahan kapitalis ini untuk memberantas penyakit akut ini Bahkan kita harus mulai berpikir bahwa sebenarnya korupsi adalah metode utama dari rejim penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Tidak bisa tidak, karena satu-satunya cara segelintir orang bisa berkuasa atas banyak orang adalah lewat penipuan.

Korupsi Politik: Dampak Logis dari Demokrasi Borjuis

Sifat korupsi tidak lepas dari sifat ekonomi-politik borjuis-kapitalis. Konsep demokrasi borjuis adalah jalan lebar yang dibuat untuk memuluskan gerak roda ekonomi-politiknya yang eksploitatif dan koruptif.  Di dalam negara monarki atau totaliter, korupsi memang menjadi tradisi. Tetapi di dalam negara “demokrasi’ borjuis, praktek korupsi memiliki warna lebih buruk lagi.

FPI Sebagai Gejala Kebangkrutan Borjuis Nasional Indonesia

 

Front Pembela Islam (FPI), yang dibentuk oleh para perwira tinggi dan para eks perwira tinggi polisi yang sudah kadung bejat dalam jejaring struktural kapitalisme birokrat dan kapitalisme kroni, dengan diberi pakaian Islam konservatif di bawah kharisma feodal seorang habib, para preman dan pengangguran itu benar-benar menjadi alat pemerasan dan penghajar siapa saja yang dipandang tidak seiring sejalan dengan kepentingan setan-setan birokratik dan kroni. Tak ayal lagi, para preman berseragam dan para preman bersorban bahu-membahu menjelma menjadi seekor monster reaksioner berkepala tujuh yang durjana bukan alang-kepalang.

Kaum Buruh Menghadapi Kapitalisme atau Imperialisme?

Menjelang May Day, gerakan buruh dihadapkan lagi untuk merefleksi dirinya sendiri. Sudah sampai mana pencapaian yang telah diraih sejak May Day tahun lalu? Kemana kita akan melangkah? Artikel-artikel pun bermunculan untuk memeriahkan May Day tahun ini: ada yang hanya bersifat seremonial, yakni sebatas mengutuk kapitalisme dan mengobarkan rasa juang, dan ada juga yang bersifat reflektif, menganalisa situasi ekonomi dan politik sekarang dan mencoba memberikan perspektif ke depan.

Jangan Menunggu “Godot”: Sebuah Dekonstruksi Paradigma

waiting for godotSifat buruk dan destruktif dari demokrasi ala Amerika sedang terkuak lebar hari ini. Intervensi Amerika dan sekutunya terhadap perjuangan rakyat Libia dengan dalih kemanusiaan bukanlah pembenaran yang cerdas. Karena hampir seluruh publik dunia – dari kuli bangunan hingga direktur bank; dari anak baru gede hingga orang kurang waras – tahu bahwa tujuan utama Amerika dan sekutunya atas Lybia adalah untuk kepentingan imperialis. Ungkapan-ungkapan filosofis dari mulut Obama, Sarkozy dan yang lainnya adalah omong kosong “demokrasi”.

Mesir bergejolak, lantas kapan Indonesia?

“Saya senang, saya bersyukur. Sejak 2004, tidak ada pelanggaran HAM,” ujar SBY saat menyampaikan pidato resmi penutupan Rapat Pimpinan TNI dan Polri 2011 hari Jumat (21/1) lalu. Pada saat yang sama, Mubarak mungkin juga berilusi sama. “Tidak ada pelanggaran HAM di Mesir,” pikirnya, seperti mencoba meyakinkan dirinya bahwa dia tidak akan bernasib sama seperti Ben Ali tetangganya. Empat hari kemudian (25/1) negaranya sendiri diguncang oleh demo-demo yang menuntut pengunduran dirinya.`

Wikileaks: Intrik-intrik rahasia imperialis terbongkar

Pada hari Minggu, 28 November, situs pembongkar rahasia (whistle-blower) Wikileaks melepaskan 219 dari 251287 kabel-kabel rahasia yang ingin mereka buat publik dari kedutaan-kedutaan besar Amerika di seluruh dunia. Dalam bagian pertama ini, Isa al-Jaza'iri mengupas diplomasi-diplomasi rahasia antara negara imperialis dalam upaya mereka untuk mempertahankan kekuasaan mereka.

Kontrak Politik Enam Partai Untuk Menjual Rakyat

Kemarin malam (15/10), para petinggi dari enam partai menandatangi kontrak politik untuk mendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Mereka adalah Partai Demokrat, PKB, PPP, PAN, PKS, dan Golkar. Koalisi ini memberi mereka total 421 kursi, sebuah mayoritas yang absolut. Bila pada jaman Orde Baru kita memiliki satu partai, yakni Golkar, yang biasanya menguasai 60-70% parlemen, sekarang kita hanya berganti kulit dengan koalisi yang menguasai 75% parlemen.

Venezuela, Indonesia, dan Perjuangan Untuk Kedaulatan Nasional

revolucion venezolanaSatu pelajaran penting dari Venezuela adalah bahwa kedaulatan nasional tidak akan dapat tercapai di bawah kapitalisme. Di Indonesia, perjuangan untuk pembebasan nasional tidak bisa terpisahkan dari perjuangan melawan kapitalisme. Satu-satunya kekuatan yang mampu membawa pembebasan nasional adalah kelas buruh dengan bantuan kelas tani dan kaum miskin kota. Inilah satu-satunya kekuatan yang harus diandalkan.