facebooklogocolour

Drama Politik Polri-KPK Belum Usai: Apa Yang Harus Kita Lakukan?

KPKHari ini, melihat drama politik Polri-KPK, saya seperti sedang menonton pementasan drama-drama tragedi karya Shakespeare. Drama politik yang sedang dimainkan oleh para aktor bayaran berpengalaman ini sangat menegangkan, bahkan, lebih jauh, mirip sekali dengan pertunjukan tarian striptis, di mana para penari akan melepas lapisan persembunyiannya satu per satu.

Para Penjahat Saling Menangkap: Ironi Negara Demokrasi

Penjahat KorupsiPertarungan hukum-politik antara Budi Gunawan (BG), calon Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri) pilihan Presiden Jokowi, dan Bambang Widjojanto, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sedang dijadikan tontonan oleh rakyat—tidak hanya oleh warga kota terpelajar saja, tetapi juga warga kampung yang cenderung buta politik.

Bagaimana “Menyelamatkan” KPK

KorupsiKPK kembali menjadi ajang tarik menarik antara berbagai kepentingan. Kali ini usahanya untuk menjerat kandidat utama posisi Kapolri Budi Gunawan dibalas dengan kriminalisasi para petinggi KPK: ditangkapnya Bambang Widjojanto dan dilaporkannya Annan Pandu Praja, yang mana keduanya adalah Wakil Ketua KPK. Suasana tampak begitu tegang dan bahkan mencekam. Sampai-sampai Abraham Samad memohon pada Panglima TNI Jendral Moeldoko untuk mengirim Kopassus guna melindungi gedung KPK.

Marxisme Mereka dan Marxisme Kami (Penutup Kritik Masalah Pemilu 2014)

marx engelsKetika ketidakstabilan dan kebimbangan ideologi adalah fitur utama dalam gerakan, maka perjuangan ideologi ini harus dilakukan dengan tanpa belas kasihan. Semua harus dilucuti dengan tegas. Garis demarkasi yang jelas harus ditarik antara Marxisme kami dan Marxisme mereka, yang tidak lain adalah liberalisme (serta semua turunan mereka).

Melayangkan Pandangan Kita Ke Depan, Menuju Pemenuhan Tugas Historis Kelas Buruh (Catatan Politik Akhir Tahun 2014)

ferguson riotSeratus lima puluh tahun yang lalu, seorang teoretikus politik, ekonomi dan sosial ternama pernah mengatakan bahwa perkembangan kapitalisme akan menghasilkan “akumulasi kekayaan di satu kutub, dan pada saat yang sama akumulasi kesengsaraan, penderitaan kerja, perbudakan, kebodohan, brutalitas, degradasi mental, di kutub yang lainnya.” Kutub yang pertama adalah kutub kaum kapitalis, sementara kutub yang kedua adalah kutub rakyat pekerja – buruh, tani, dan kaum miskin.

Memahami Film Senyap dari Sudut Pandang Perjuangan Kelas (Sebuah Catatan)

senyapSejarah mengenal berbagai peristiwa kekejaman, kekerasan, dan berbagai bentuk pembunuhan-pembunuhan massal. Pembantaian Nankin di China, Peristiwa Holocaust di Jerman serta pembantaian suku Indian di Amerika, dll,. Bila kita tidak memahami dimana latar belakang sejarah bergerak, kita akan dibingungkan dengan berbagai peristiwa-peristiwa yang terjadi, seakan-akan semua ini bergerak secara kebetulan. Sejarah akan tampak hanya seperti serangkaian peristiwa-peristiwa penuh darah.

Kaum Muda dan Marxisme

kaum mudaKapitalisme yang dalam tahapan tertingginya yakni Imperialisme  telah menghancurkan seluruh pengharapan tidak hanya bagi rakyat pekerja secara umum, namun juga lapisan-lapisan rakyat lain termasuk juga kaum muda. Pengangguran, kemiskinan, kelaparan adalah hasil dari tak terelakkan dari sistem ini. Kita dapat menjumpai di sekeliling kita, bahwa kemajuan teknologi, pembangunan infrastruktur-infrastruktur yang megah dan mewah, serta kemajuan di bidang-bidang yang lain bersanding bersama kemiskinan dari mayoritas luas rakyat pekerja.

Masa Depan Kita Setelah Pemilu

pilpres2014Namun, di tengah krisis kapitalis hari ini, reforma sudah tidak memungkinkan lagi, dan kalaupun mungkin diraih ini harus dimenangkan dengan metode-metode perjuangan yang semakin hari semakin militan. Kenyataan inilah yang akan mendikte perspektif ke depan bagi rejim yang berkuasa, entah itu Prabowo ataupun Jokowi. Mereka tidak akan punya ruang yang banyak untuk melakukan manuver ekonomi.

Apa ada Bahaya Fasisme di Indonesia?

prabowo kudaBerdasarkan pemaparan teoritik di atas mengenai bagaimana fasisme muncul dan berkembang, Militan dengan tegas akan mengatakan bahwa pada periode ke depan ini tidak ada bahaya fasisme di Indonesia ataupun bahaya kembalinya Orde Baru (rejim kediktatoran militer, periode reaksi gelap). Analisa ini keliru, dan justru kebijakan yang dicapai dari kekeliruan ini – yakni mendukung Jokowi dan “status quo demokrasi” – akan membuka jalan ke fasisme.

Pilpres 2014 dan Urgensi Pembentukan Partai Buruh

jokowi prabowoPemilu presiden yang akan digelar kembali menjadi ajang politik “dagang sapi”. Politik “dagang sapi” sudah menjadi style perpolitikan di Indonesia sejak runtuhnya Orde Baru karena memang sudah tidak ada lagi imajinasi lainnya yang bisa diperdagangkan oleh borjuasi kita.