facebooklogocolour

Perspektif Dialektis-Kritis Kristen: Pemilu dan Formasi Ekonomi Politik Indonesia

Berikut ini adalah makalah diskusi yang disampaikan oleh Pendeta Rudolfus Antonius dalam diskusi mengenai pemilu yang diadakan di Semarang pada akhir Maret lalu. Di dalam makalah ini, Pendeta Rudolfus memberikan perspektif dialektis mengenai pemilu dan menyampaikan apa tugas yang harus diemban oleh kaum muda Kristen dalam melawan kapitalisme. Militan terbitkan makalah ini sebagai bahan refleksi yang menurut kami cukup menarik untuk para pembaca.

Perspektif Marxis untuk Pemilu 2014: Kritik, Analisa, dan Tugas Kita

Berikut adalah perspektif Marxis mengenai pemilu kali ini, dengan kritik dan analisa terhadap berbagai masalah teoritik yang terdorong ke depan oleh momen pemilu ini, dari masalah populisme, masalah Negara, masalah fasisme, sampai ke masalah pembentukan partai buruh. 

Pemilu 2014: Batasan Popularisme

Yang dibutuhkan sekarang bukan popularisme dalam komik-komik dan bacaan-bacaan lucu yang mampu menghibur dalam waktu sekejap dan lalu menghilang; yang dibutuhkan di sini adalah sebuah kepopuleran yang bersandar pada penumbangan masyarakat kapitalis, dalam konteks yang sama ini berarti kepopuleran kelas buruh sebagai kelas yang mampu menumbangkan kapitalis dan membawa tugas-tugas sosialis.

Sedikit Evaluasi dari Kegagalan Kita (dalam Aksi Menentang Kenaikan Harga BBM)

Setelah debu pertempuran reda, saatnya kita mencoba melihat ke belakang untuk mengevaluasi perlawanan rakyat pekerja dalam menentang kenaikan BBM beberapa minggu yang lalu. Perasaan emosional, apalagi perasaan kekecewaan dan demoralisasi karena gagal menghentikan kenaikan harga BBM ini, tidak boleh menjadi halangan untuk dapat melihat dengan jernih apa saja yang dapat kita pelajari dari perjuangan ini.

Berlomba-lomba Memenangkan Jokowi ke Pemilu 2014

Sistem politik hari ini sudah begitu bangkrut dan legitimasinya di mata rakyat sudah begitu tipis dan tampak bisa roboh kapan saja. Satu-satunya hal yang mencegah sistem ini dari kerobohan adalah lemahnya kepemimpinan revolusioner dari rakyat pekerja. Inilah mengapa banyak partai politik borjuasi yang sedang berlomba-lomba untuk memenangkan Jokowi ke sisinya.

Buruh dan Tugas Historisnya Hari Ini

Gelombang buruh pada 2 tahun belakangan ini harus membuat kita semua semakin sadar akan tugas historis kelas buruh: berkuasa! Semua perjuangan kita, semua kegiatan kita, dari yang kecil dan tampak membosankan sampai yang besar, semua kemenangan dan bahkan kekalahan kita dan pelajaran yang kita dapati darinya, semua ini harus mempersiapkan kita untuk tugas historis ini.

Internasionalisme yang Terlupakan dalam Hari Buruh Internasional

Mari kita jadikan Hari Buruh Internasional ini sebagai pengingat akan pentingnya semangat dan ideologi internasionalisme dalam perjuangan buruh, dan hidupkan slogan “Buruh Sedunia Bersatulah” sebagai slogan yang riil dan nyata dalam perjuangan buruh.

Migas Indonesia dan Imperialisme

daerah penghasil minyak bumiHari ini hampir 85% migas Indonesia ada di tangan asing. Kendati kekayaan migas yang besar, negeri kita tetap tidak mampu mensejahterakan rakyatnya. Banyak pihak, dari berbagai spektrum politik, yang hari ini mengutuk dominasi modal asing di sektor migas dan kebijakan migas pemerintahan Indonesia yang memungkinkan semakin kuatnya dominasi asing ini.

Korupsi dan Krisis Partai Borjuis

Tugas-tugas mengakhiri semua permasalahan negeri ini terletak di punggung kelas buruh sebagai garda depan bangsa. Mengganti semua institusi borjuis dengan institusi kelas buruh. Tidak ada ilusi bagi rakyat untuk perjuangan kembali pada demokrasi borjuis.

Nasionalisasi sebagai Solusi Banjir

Artikel berita dan opini mengenai banjir di Jakarta sudah menumpuk, dengan berbagai statistik, keluhan, dan himbauan. Akan menjadi pemborosan kertas – dan lebih penting lagi, waktu para pembaca – kalau kita lantas tenggelam pada pengulangan yang sama.