facebooklogocolour

Apa ada Bahaya Fasisme di Indonesia?

prabowo kudaBerdasarkan pemaparan teoritik di atas mengenai bagaimana fasisme muncul dan berkembang, Militan dengan tegas akan mengatakan bahwa pada periode ke depan ini tidak ada bahaya fasisme di Indonesia ataupun bahaya kembalinya Orde Baru (rejim kediktatoran militer, periode reaksi gelap). Analisa ini keliru, dan justru kebijakan yang dicapai dari kekeliruan ini – yakni mendukung Jokowi dan “status quo demokrasi” – akan membuka jalan ke fasisme.

Pilpres 2014 dan Urgensi Pembentukan Partai Buruh

jokowi prabowoPemilu presiden yang akan digelar kembali menjadi ajang politik “dagang sapi”. Politik “dagang sapi” sudah menjadi style perpolitikan di Indonesia sejak runtuhnya Orde Baru karena memang sudah tidak ada lagi imajinasi lainnya yang bisa diperdagangkan oleh borjuasi kita.

Lawan Pemilu 2014, Bangun Partai Buruh!

buruh-kompasBerikut adalah pernyataan politik dari Militan mengenai pemilu 2014 hari ini. Kawan-kawan buruh dan muda revolusioner yang setuju dengan pernyataan ini, kami dorong untuk membawanya ke serikat-serikat buruh, organisasi-organisasi perjuangan, lingkaran-lingkaran diskusi, dan kelas-kelas politik dimana kalian berada untuk didiskusikan dan dijadikan langkah awal untuk membangun kekuatan buruh sebagai jalan keluar revolusioner dari kebuntuan yang ada.

Dua Kamp Borjuasi, Kebingungan Partai-partai Borjuasi dan Kebingungan Kiri Kita

Prabowo JokowiPemilu Presiden 2014 semakin dekat, dengan dua calon yang sudah dipastikan akan melenggang di kursi kepresidenan untuk lima tahun mendatang, yakni Jokowi bersanding dengan Jusuf Kalla, serta rivalnya Prabowo dan Hatta Rajasa. Mungkin ini adalah salah satu di antara Pilpres yang paling mendapatkan sorotan paling banyak di antara berbagai kalangan.

Awal dari Kandasnya Harapan Populisme Jokowi dan Prabowo

jokowi-prabowoKetika hiruk pikuk pemilu sudah selesai dan kabut populisme sudah menghilang, rakyat pekerja akan menuntut perubahan-perubahan yang riil: pekerjaan, upah yang lebih tinggi, jaminan sosial. Semua ini tidak akan bisa dipenuhi oleh kapitalisme pada periode sekarang ini, dan rakyat pekerja pun akan dengan cepat mempelajari batas-batas kapitalisme.

Perspektif Dialektis-Kritis Kristen: Pemilu dan Formasi Ekonomi Politik Indonesia

Berikut ini adalah makalah diskusi yang disampaikan oleh Pendeta Rudolfus Antonius dalam diskusi mengenai pemilu yang diadakan di Semarang pada akhir Maret lalu. Di dalam makalah ini, Pendeta Rudolfus memberikan perspektif dialektis mengenai pemilu dan menyampaikan apa tugas yang harus diemban oleh kaum muda Kristen dalam melawan kapitalisme. Militan terbitkan makalah ini sebagai bahan refleksi yang menurut kami cukup menarik untuk para pembaca.

Negara Liberal dan Pemilu 2014

Sebelum menyaksikan pemutaran film di Panggung Philosophia Seminari Abdiel, film yang menyajikan kisah heroik dari seorang pastor Elsavador, Uskup Agung Oscar Romero, saya berdiskusi dengan beberapa pendeta berhaluan Marxis mengenai negara liberal – yakni konsep negara dalam pemikiran liberalisme – dan pemilu 2014.

Perspektif Marxis untuk Pemilu 2014: Kritik, Analisa, dan Tugas Kita

Berikut adalah perspektif Marxis mengenai pemilu kali ini, dengan kritik dan analisa terhadap berbagai masalah teoritik yang terdorong ke depan oleh momen pemilu ini, dari masalah populisme, masalah Negara, masalah fasisme, sampai ke masalah pembentukan partai buruh. 

Pemilu 2014: Batasan Popularisme

Yang dibutuhkan sekarang bukan popularisme dalam komik-komik dan bacaan-bacaan lucu yang mampu menghibur dalam waktu sekejap dan lalu menghilang; yang dibutuhkan di sini adalah sebuah kepopuleran yang bersandar pada penumbangan masyarakat kapitalis, dalam konteks yang sama ini berarti kepopuleran kelas buruh sebagai kelas yang mampu menumbangkan kapitalis dan membawa tugas-tugas sosialis.

Perlambatan Ekonomi dan Perjuangan Buruh Indonesia

Perlambatan ekonomi Indonesia menghadirkan sekelumit pertanyaan yang harus bisa dijawab oleh gerakan buruh. Setelah mengalami pertumbuhan pesat beberapa tahun terakhir, sejumlah indikator telah menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia sedang memasuki fase perlambatan. Lantas, bagaimana imbas perlambatan ekonomi ini pada perjuangan buruh Indonesia yang dalam dua tahun terakhir telah tumbuh dalam lompatan-lompatan?