facebooklogocolour

Setelah Getok Monas, Lalu Kemana?

Setelah eforia dari Getok Monas ini sedikit berlalu, dan debu yang dilontarkan oleh derap langkah buruh sudah sedikit mereda, saatnya kita melihat ke sekeliling kita untuk sejenak, untuk melihat apa-apa yang dapat kita panen dan apa yang harus kita tuai untuk ke depan. Dengan bekal ini, kita bawa tatapan kita ke depan, menyongsong gebrakan buruh yang tak ayal pasti akan lebih besar lagi.

Jokowi dan Pertanda Politik yang Sesungguhnya

Terhentak oleh fenomena Jokowi-Ahok, para pengamat politik segera mencari-cari penjelasan yang bisa membuat dunia mereka “bulat” dan “rasional”. Mereka mencari pertanda-pertanda yang dapat membuat tidur mereka nyenyak, setidaknya untuk malam ini sebelum fenomena politik lainnya mengusik ketenangan mereka.

Bergerak Getok Monas: Buruh Butuh Partai Politik

Tidak ada jalan lain untuk memperkuat posisi politik kelas buruh dalam percaturan politik di negeri ini selain segera mendirikan partai buruh. Kaum buruh harus tidak boleh lagi dijadikan komoditas politik bagi partai-partai borjuis. Buruh akan terus menjadi obyek tipu-tipu jika wacana pembentukan partai politik ini tidak segera dipropagandakan secara luas dan sistematis.

Mogok Umum Nasional Pertama dalam 50 Tahun: Apa artinya?

Tiga Oktober akan kita saksikan sebuah peristiwa penting di dalam gerakan buruh Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam 50 tahun, buruh akan melakukan mogok umum nasional yang diperkirakan akan melibatkan 2 juta buruh. Ini akan membuka sebuah babak baru di dalam perjuangan kelas di Indonesia

Benang kusut keagrariaan, kapan terurai?

Menyikapi Hari Tani Nasional belum lama ini, sejumlah pengamat politik dan penggiat masalah agraria berlomba-lomba menggambarkan betapa kusutnya keagrarian kita. Dengan semangat yang menggebu-gebu, mereka pun menuntut pemerintah untuk menyelesaikan masalah agraria dengan berbagai skema dan program. Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria, Idham Arsyad, berkeluh kesah bahwa “meski sudah berganti abad, masalah-masalah agraria tak kunjung teratasi. Kemiskinan, pengangguran, konflik, dan proletarisasi petani masih terus mewarnai wajah pedesaan kita sampai hari ini.” (Kusutnya Keagrarian Kita, Kompas, 25 September 2012) Yah, sebatas itulah perspektif dari penggiat agraria kita. Arsyad hanya mendiskripsikan ketimpangan-ketimpangan yang terkait dengan persoalan kepertanahan. Sementara solusi fundamental untuk masalah keagrariaan dan analisis mengenai sebab-sebab kekusutan keagrariaan tersebut tidak dimunculkan—atau tidak menjadi poin penting dalam tulisannya.

Masalah Kebangsaan dan Peran Kaum Buruh Indonesia

Setelah dipersatukan lewat revolusi kemerdekaan, mengapa di Indonesia sekarang muncul berbagai perjuangan kemerdekaan dari minoritas-minoritas seperti di Aceh dan Papua? Apa yang menyebabkan munculnya perjuangan ini?

Merdeka 100%

Enam puluh tujuh tahun sudah kita merdeka, tetapi ternyata kita masihlah berada di bawah penjajahan. Buruh, tani, dan segenap rakyat pekerja lainnya masih terjajah oleh modal kapital, baik domestik maupun asing. Merdeka 100% masih menjadi slogan perjuangan kita.

Melihat May Day 2012 dan Makna Majelis Pekerja Buruh Indonesia

Kapitalisme sedang memasuki krisis yang akut. Indonesia tidak imun dari ini. Tuntutan-tuntutan reforma atau normatif semata bahkan sudah tidak cukup lagi sebenarnya. Ini karena kapitalisme sudah tidak bisa lagi memberikan reforma kepada buruh.  Manifesto MPBI mengandung tuntutan-tuntutan yang memang dikehendaki oleh buruh dan rakyat tertindas lainnya. Namun ia kurang satu hal: yakni bagaimana memenuhi tuntutan-tuntutan reforma tersebut di saat kapitalisme sedang sakit keras.

Sejarah Singkat May Day

Sejarah May Day tidak terlepas dari perjuangan klas buruh dalam menuntut 8 jam kerja. Abad ke-19 adalah periode di mana klas buruh diperhadapkan pada kenyataan bahwa dari 24 jam sehari, mereka rata-rata bekerja 18 sampai 20 jam. Tak pelak lagi bahwa tuntutan yang diajukan adalah memperpendek jam kerja. Perjuangan menuntut 8 jam kerja ini diawali oleh kaum buruh di Amerika Serikat  pada tahun 1884, yang berbuntut pada penyerangan yang dilakukan oleh negara dan alat kekerasannya.