facebooklogocolour

perjuangan UMKSetiap tahun kaum buruh dihadapkan dengan perjuangan meningkatkan upah. Dalam sejarah gerakan buruh, kemenangan perjuangan meningkatkan upah sering kali dicuri oleh kelas kapitalis lewat satu lain cara. Pertama-tama lewat inflasi, dimana seringkali inflasi ini melebihi nominal kenaikan upah. Kedua, lewat regulasi yang membatasi kenaikan upah. Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, menyebutkan bahwa upah yang diterima buruh mengalami penurunan akibat tergerus tingginya inflasi Mei 2017 yang mencapai 0,39 persen. Selain itu, keberhasilan pemerintah menetapkan PP 78 tahun 2015 juga menambah buruk masa depan perjuangan upah ini.

Sejarah perjuangan upah setua dengan kelas buruh itu sendiri, bahkan perjuangan ini seringkali dihadapkan represi Negara. Kita perlu ingat apa yang diperjuangkan oleh Marsinah 23 tahun yang lalu, saat bersama kawan-kawannya menuntut upah, yang berakhir dengan kematian. Bagi kelas kapitalis, masalah upah adalah masalah hidup dan mati. Laba bagi mereka adalah hal suci dari yang tersuci. Laba hanya bisa didapatkan dari kerja kaum buruh. Tanpa kerja, laba tidak mungkin bisa tercipta. Seberapapun kemajuan teknik dan permesinan, ia tetap membutuhkan kerja kaum buruh. Sebagai contoh, tidak ada emas muncul ke permukaan bumi begitu saja tanpa kerja manusia. Dengan kata lain, kerja adalah sumber dari segala sumber kekayaan di dunia ini.

Bila kelas kapitalis mengancam akan menggunakan robot dan mengganti buruh dengan mesin, ini merupakan ancaman tanpa dasar sama sekali. Kenyataannya mesin dan teknologi membutuhkan kerja kaum buruh. Seberapapun modern teknik dan permesinan, mesin mempunyai tingkat keausan. Nilai yang dihasilkan oleh mesin ini hanya nilai untuk mengganti keausan dirinya sendiri. Karenanya mesin tidak dapat menciptakan nilai lebih atau laba. Ini tepat seperti dikatakan oleh Marx, bahwa mesin, tanah, dan sarana penunjang kerja adalah kapital konstan.

Berbeda dengan kerja kaum buruh. Kerja ini mempunyai sifat rangkap. Pertama, kerja kaum buruh ini menciptakan nilai pengganti bagi dirinya sendiri (kerja perlu). Kedua, kerja lebih, dimana kerja ini menciptakan laba bagi kelas kapitalis. Dalam sehari, dalam 8 jam kerja, kelas buruh memproduksi kedua nilai ini. Bila dalam kondisi tertentu, dalam 4 jam kerja, kaum buruh mampu menciptakan nilai bagi dirinya sendiri, maka sisa jam kerja selanjutnya adalah kerja lebih. Kerja lebih ini akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknik dan permesinan sehingga meminimalisir kerja perlu. Inilah asal usul perbudakan upah yang dijelaskan oleh Marx.

Bila kerja perlu ini bisa ditekan oleh kelas kapitalis dengan kemajuan teknik dan permesinan, maka di sisi lain, kerja kaum buruh yang menghasilkan laba akan meningkat. Oleh karenanya kemajuan teknik bagi kapitalis adalah untuk meningkatkan laba, di sisi lain melemparkan kaum buruh ke dalam ancaman pengangguran. Semakin modern teknik dan permesinan, semakin pula ia meminimalisir penggunaan manusia, semakin minim penggunaan manusia, semakin intensif pula penindasan yang dilakukan oleh kelas kapitalis terhadap buruh. 

Kelas kapitalis tidak bisa sewenang-wenang menaikkan barang yang mereka jual akibat kenaikan upah karena mereka terikat hukum kompetisi di antara kelas mereka. Akibatnya, kenaikan upah akan berimbas pada turunnya laba kapitalis. Inilah mengapa kelas kapitalis tidak segan-segan menggunakan mesin, aparatus, militer, serta wakil-wakilnya yang ada di parlemen untuk  menindas perjuangan upah ini.

Akhir kata, perjuangan upah sangat terikat dengan sistem ekonomi dan politik kelas kapitalis. Kaum buruh tidak boleh barang sekejap pun berilusi bahwa Negara adalah sarana yang netral. Negara dan alat represinya, merupakan mesin penindas kelas kapitalis terhadap buruh. Mereka setiap saat, dengan regulasi dan perundang-undangannya, membatasi kenaikan upah. Perjuangan upah akan selalu ada, selama sistem kapitalisme masih bertahan. Sebab itu, perjuangan kaum buruh harus menghapuskan perbudakan upah ini, yaitu menghancurkan kapitalisme serta aparatus  mesin Negaranya.perjuangan UMK