facebooklogocolour

 

Perekonomian Indonesia secara mengejutkan mampu melewati krisis ekonomi dunia dengan cukup baik. Pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) mengalami peningkatan sebesar 4.2% pada paruh pertama tahun 2009. Pertumbuhan ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara. Di lain pihak, Singapura mengalami pemerosotan GDP sebesar -3.5% pada periode yang sama, Thailand -4.9%, dan Malaysia -5.1%.

Jakarta pulih dari resesi hebat ini dengan cukup cepat. Pada 6 bulan pertama dari Oktober 2008, indeks Bursa Efek Jakarta jatuh paling besar setelah Vietnam. Namun kali ini badai ekonomi lewat dengan cepat. Pada paruh tahun 2009 bursa saham Jakarta melejit dengan pesat, menempati posisi ketiga tercepat setelah Shanghai dan Mumbai.

Perekonomian Indonesia tidak terpukul terlalu berat oleh resesi hebat ini karena pertumbuhannya lebih berdasarkan konsumsi domestik daripada perdagangan ekspor. Nilai ekspor hanyalah sebesar sekitar 25% dari GDP, dibandingkan dengan Malaysia yang nilai ekspornya lebih dari 100% GDP pada tahun 2008. Terlebih lagi, ekspor dari Indonesia didominasi oleh minyak bumi, gas, batubara, dan bahan mentah secara umum, dan oleh karena itu anjloknya permintaan barang-barang manufaktur akibat resesi tidak memukul Indonesia secara langsung. Selain itu, paket stimulus dari pemerintah sebesar Rp. 71,3 trilyun (7,1 milyar dolar AS) untuk tahun 2009, juga telah mendorong konsumsi domestik.

Kesuksesan ini telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memproyeksikan pertumbuhan ekonomi yang sangat optimis untuk 5 tahun ke depan. Seusai National Summit selama 2 hari (29/10-30/10) yang dihadiri lebih dari 1300 pejabat pemerintah, kamar dagang negara-negara asing, asosiasi pengusaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi rata-rata yang lebih tinggi: 5,5-5,6 persen pada tahun 2010, 6-6,3 persen pada tahun 2011. Sementara tahun 2012 dan 2013 sebesar 6,4-6,9 persen dan 6,7-7,4 persen. Pertumbuhan ekonomi pada akhir 2014 ditargetkan 7 persen.

Akan tetapi, proyeksi optimis ini hanyalah sebuah harapan kosong bila kita melihat kenyataan ekonomi dunia. Walaupun secara formal resesi hebat ini telah berakhir, akibat dari resesi ini akan berkepanjangan dan pemulihan ekonomi dunia akan berjalan terlunta-lunta. Pertama, resesi hebat ini dilewati oleh negara-negara maju dengan menghamburkan uang negara sebesar US$11 trilyun, atau 1/5 dari output global, guna membantu sektor finansial yang ambruk. Defisit terbesar di dalam sejarah kapitalis ini harus dibayar dengan memotong anggaran-anggaran sosial, yang berarti penurunan konsumsi domestik di negara-negara kapitalis maju tersebut dalam tahun-tahun ke depan. Kedua, krisis over-production di negara-negara kapitalis maju juga sangat besar, dengan kapasitas produksi 30% lebih besar dari permintaan (daya beli konsumen). Ini berarti pemulihan ekonomi di negara-negara maju akan berjalan tanpa adanya penciptaan lapangan kerja. Selain menghambat permintaan impor dari negara-negara Asia, ini juga akan menghambat investasi asing. Hampir 50% investasi perusahaan-perusahaan non-finansial di Indonesia datang dari luar negeri. Sebagai akibatnya kita sudah mulai melihat rencana-rencana investasi di Indonesia yang ditunda atau dibatalkan. Dengan anjloknya investasi asing dan permintaan luarnegeri, kita akan melihat merosotnya tingkat produksi Indonesia dan meningkatnya tingkat pengangguran.

Jadi pemulihan ekonomi Indonesia berdiri di atas sebuah pondasi yang rapuh. Bila proyeksi pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh pemerintah Indonesia tidak tercapai, maka bahaya krisis sosial dan politik akan mengancam rejim ini dengan sangat nyata.