facebooklogocolour

 

Wahai, alangkah gembiranya temanku, Si Godam. Ia baru saja menerima gaji pertamanya. Disebutkannya sejumlah angka. Beberapa ratus ribu rupiah. Habis mandi lekas-lekas ia menemuiku dan mengajakku jajan mie ayam di warung Somad. Aku berjingkat senang, namun tak ayal tercenung pula. Gaji, atau upah. Tiada beda. Itu adalah sejumlah uang yang dibayarkan oleh si kapitalis kepada buruhnya untuk waktu kerja tertentu. Dengan jalan itu si kapitalis telah membeli tenaga-kerja sang buruh. Termasuk Si Godam, temanku itu.

Sembari menyantap mie ayam di warung Somad, Si Godam yang murah hati dan ceria itu berkata bahwa ia digaji Rp 780 ribu untuk bekerja 8 jam sehari, 56 jam seminggu, 26 hari sebulan. Kembali aku tercenung.

“Dam,” kataku, “tenaga-kerja sang buruh adalah komoditas, barang dagangan.” Entah mengapa tiba-tiba kata-kata itu meluncur dari mulutku. Godam mengernyitkan dahi. Seperti biasa, bila ia terkejut sekaligus merasa tertarik. “Selaku komoditas, nilai tenaga-kerja ditentukan oleh jumlah kebutuhan sosial untuk memproduksinya. Pemenuhan jumlah kebutuhan sosial itu memungkinkan sang buruh bisa bertahan hidup, terus bekerja, dan membesarkan anak-anak yang kelak akan meneruskan pekerjaannya sebagai buruh.”

Dengan cerdas Godam menarik kesimpulan dari perkataanku. Sambil kembali mengernyitkan alis ia berkata, “Maksudmu … gaji atau upah yang dibayarkan oleh si kapitalis tidak didasarkan pada berapa besar jumlah barang yang diproduksi sang buruh dan profit (keuntungan, laba) yang diperoleh si kapitalis?”

Aku mengangguk. Mengiyakan, meski berat rasanya. Sebab ada ketidakadilan di dalam unit yang bernama upah atau gaji.

“Dam, perusahaanmu ‘kan sering mengumumkan profit perusahaan dalam setahun. Biasanya ratusan milyar rupiah. Menurut pendapatmu, dari mana perusahaan memperoleh profit tersebut?” begitu tanyaku. Godam tampak berpikir keras. Dahinya berkerut. Ia berhenti mengunyah mie ayam yang masih menjejali mulutnya. Sejurus waktu kemudian ia menjawab, “Tentu perusahaan memperoleh profit dari hasil kegiatan produksinya, Sur.”

“Kau benar, Dam,” kataku. “Lantas siapa yang berkegiatan produksi, atau, siapa yang mengerjakan produksi? Si kapitalis?” tanyaku, melanjutkan.

Kali ini Godam langsung menjawab, “Tentu saja bukan, Sur! Yang berkegiatan produksi, yang mengerjakan produksi, yang menghasilkan komoditas adalah para buruh yang bekerja di perusahaan tersebut!” Begitu berapi-api ia mengatakannya. “Yang mengubah kapas menjadi benang, yang mengubah benang menjadi kain, yang mengubah kain menjadi pakaian, bahkan yang melakukan semua aktivitas jasa … adalah kaum buruh, Kamerad!” begitu kata Somad. Amboi, penjual mie ayam yang bekas aktivis serikat buruh yang dipecat boss karena terlalu “merah” itu angkat bicara!

“Betul, Mad!” kataku sambil mengacungkan dua jempolku, “kerja kaum buruhlah yang menciptakan nilai baru dari barang-barang sebelumnya.” Kini giliran Godam yang tampak tercenung. Aku dan Somad jadi diam seribu bahasa. Kukunyah mie ayam di mangkuk gambar ayam itu. Somad duduk di sebelah kananku, dan … wah, mereguk es teh di gelasku. Haus dia. Tiba-tiba kami, ya, aku dan Somad, terbelalak demi melihat Godam berdiri di hadapan kami. Ia berkata:

“Umpamakan saja aku, yang memang seorang buruh di pabrik garmen. Aku dibayar Rp 30 ribu untuk bekerja selama 8 jam sehari. Dalam 8 jam kerja aku bisa menghasilkan 8 potong pakaian dari satu gulung kain. Harga kain sebelum menjadi pakaian Rp 120 ribu per gulung Untuk harga benang dan beaya-beaya produksi lainnya (listrik, keausan mesin dan alat-alat kerja lain), si kapitalis memperhitungkan sebesar Rp 40.000 sehari. Jadi, total biaya produksi perhari adalah:

Rp 30 ribu (gaji) + Rp 120 ribu (bahan mentah) + Rp 40 ribu (listrik, dll.) = Rp 190.000.

Tetapi si kapitalis dapat menjual sebesar Rp 50 ribu untuk satu potong pakaian, atau Rp 400 ribu untuk 8 potong pakaian. Karena itu ia memperoleh profit sebesar:

Rp 400 ribu – Rp 190 ribu = Rp 210 ribu

Padahal, dengan 8 jam kerja sebagai seorang buruh garmen aku telah menciptakan nilai baru sebesar:

Rp 400 ribu – Rp 160 ribu (bahan mentah dan listrik, dll.) = Rp 240 ribu

Tapi aku hanya dibayar sebesar Rp 30 ribu. Yang Rp 210 ribu masuk ke dalam pundi-pundi si kapitalis.”

“Brilian!” aku berseru spontan. “Edan!” kata Somad, nyaris serempak. “Kau sudah mengerti kebenaran yang pahit sekaligus dahsyat, Kamerad!” seru Somad sembari mengacungkan kedua jempolnya. “Karena itu, hari ini, kau tidak usah bayar mie ayamku. Gratis, Brader!”

“Inilah yang disebut nilai lebih, hasil kerja yang buruh yang tidak dibayarkan kepadanya, hasil kerja yang diambil sebagai profit oleh si kapitalis,” kataku.

“Dam,” kata Somad, “bila kau dibayar Rp 30 ribu, seharusnya kau cukup bekerja 1 jam lalu bisa pulang ke tempat kos. Tetapi tidak, bukan? Kau tetap harus bekerja selama 8 jam. Mengapa? Karena kau telah ‘dibeli’ oleh si kapitalis untuk bekerja selama 8 jam!”

“Jadi…,” kembali si cerdas Godam mengernyitkan alis dan mengerutkan dahi, “ dalam 8 jam aku menghasilkan nilai lebih Rp 240 ribu, atau Rp 30 ribu/jam. Ini berarti sebagai buruh pabrik garmen sebenarnya aku bekerja satu jam untuk diriku sendiri, yakni untuk menghasilkan nilai Rp 30 ribu, dan selebihnya aku bekerja selama 7 jam untuk si kapitalis dan menghasilkan nilai lebih Rp 210 ribu untuknya!”

Kawan, itulah eksploitasi. Penghisapan! Dengan jalan itulah kaum burjuis alias si kapitalis memperoleh dan memupuk kekayaannya.  Exploitation de l’homme par l’homme; penghisapan manusia oleh manusia. Sang buruh, yang dengan menjalankan alat-alat produksi menghasilkan suatu nilai baru berwujud komoditas, tidak menerima sepenuhnya hasil jerih payah mereka. Dari hasil jerih payah kaum buruh, si kapitalis akan mengambil nilai lebih, surplus value. Itulah profit atau labanya.

Kawan, bicara tentang upah atau gaji, sesungguhnya kaum buruh hanya memperoleh sebagian (bahkan sebagian sangat kecil) dari hasil jerih payah mereka. Selebihnya, yakni sebagian terbesar, diambil oleh si kapitalis untuk memupuk modal, membayar sewa, menyogok birokrat, membeayai aparat keamanan, menggelar CSR (corporate social responsiblity), atau menyeponsori konser-konser dan pertandingan-pertandingan olahraga yang ujung-ujungnya tak lain dan tak bukan memperbesar profit bagi mereka juga.

Kawan, bila kita menghendaki agar kita tidak dihisap lagi, maka berteguhlah hati untuk bersatu dan berorganisasi guna mendidik diri, beragitasi, dan berlawan, yang bermuara pada pendemokratisankepemilikan, akses, dan kontrol terhadap alat-alat produksi, berikut proses produksi dan distribusi komoditas yang dihasilkannya. Sungguh, kita tidak akan kehilangan apapun kecuali rantai yang selama ini membelenggu kita!