facebooklogocolour

Di setiap akhir tahun kita kaum buruh selalu dihadapkan dengan masalah upah dan bagaimana Pemerintah setiap tahunnya menetapkan Upah Minimum. Namun, apa itu upah? Dan apa kaitannya dengan harga? Mari kita menelisik lebih jauh masalah ini.

Membahas tentang upah selalu berkaitan dengan pengerahan tenaga kerja untuk berproduksi. Di sini upah adalah hasil dari kaum buruh yang menjual tenaga kerjanya, dan kerja di sini bukan lagi milik kaum buruh tetapi milik si kapitalis. Lantas bagaimana kaum kapitalis menentukan harga tenaga kerja buruh?

Upah adalah bagian dari penyusun sebuah harga barang yang dimasukkan ke dalam biaya produksi. Jadi disini upah adalah biaya untuk memproduksi buruh itu sendiri. Buruh menempati posisi dimana dia sama seperti bahan mentah untuk produksi. Dia adalah seperti mesin yang mana si kapitalis harus memperhitungkan masa keausan dari mesin dan menetapkan sekian rupiah untuk menjaga supaya mesin dapat diperbaiki dan diganti jika mesin itu sudah rusak dan sebagainya. Begitupula dengan buruh, si kapitalis harus menetapkan sekian rupiah agar menjaga supaya buruh tetap dapat kembali berproduksi dan kapan harus diganti.  Biaya produksi buruh – atau upah buruh – terdiri dari jumlah bahan-bahan keperluan hidup yang diperlukan untuk membuat dia sanggup bekerja, menjaga dia tetap sanggup bekerja, dan menggantinya dengan buruh baru setelah dia pergi karena usia tua, sakit, atau mati. Dalam kata lain, untuk mengembangbiakan klas buruh dalam jumlah-jumlah yang diperlukan.

Lalu, bila begitu rupanya upah. Maka, pertanyaan kedua: apa kaitan upah dengan harga barang?

Setiap kali kita menuntut kenaikan upah, kita selalu menemui pernyataan dari pemerintah bahwa kenaikan upah akan berakibat pada kenaikan harga barang atau inflasi. Namun pernyataan ini adalah sebuah dusta untuk menipu rakyat supaya mereka tidak menuntut kenaikan upah. Kita bisa lihat dan  juga alami sendiri bahwa bahkan tanpa kenaikan upah, inflasi sudah terjadi. Jadi tidak ada hubungan langsung antara tuntutan kenaikan gaji buruh dengan inflasi. Justru buruh harus menuntut kenaikan gaji, kalau tidak inflasi akan menggerogoti penghasilannya.

Pemerintah kita yang baik hati mengatakan kepada kita kalau biaya tenaga kerja naik si bos serta merta akan meningkatkan harga barang. Tetapi harga barang tidaklah didikte oleh kehendak si bos. Kalau mereka menaikkan harga barang, akan ada kompetisi dari saingannya yang lalu memaksa harga barang untuk kembali normal.

Bayangkan, bukankah di negara-negara maju yang buruhnya bergaji  tinggi dan bertaraf kehidupan mapan (karena selalu berjuang menuntut upah lebih baik) mereka tidak serta merta menderita inflasi besar-besaran?

Jadi dengan perjuangan, buruh bisa meningkatkan upahnya dan menetapkan standar kehidupan layak yang baru. Kalau sebelumnya buruh harus kerja 12 jam sehari, dan ini dianggap sesuatu yang lazim, dengan perjuangan gigih buruh memenangkan kerja 8 jam sehari (dengan gaji yang sama) dan lalu ini menjadi hal lazim yang baru. Kalau kapitalis menetapkan seminim-minimnya biaya produksi buruh (upah) untuk hanya cukup makan dan tidur, buruh menuntut kalau biaya produksi buruh harus disertai kesehatan, pendidikan, hari libur, dll. Setiap rupiah yang buruh raih untuk gaji mereka berarti laba kapitalis menjadi kurang satu rupiah. Sang kapitalis tidak bisa serta merta menaikkan harga barang seenaknya. Karena itulah mereka menentang kenaikan gaji mati-matian. Kalau memang mereka bisa seenaknya menaikkan harga barang untuk merespon kenaikan gaji buruh, kenapa mereka tidak membiarkan buruh naik gaji?

Demikianlah hubungan antara upah dan harga barang. Buruh jangan mau dibohongi oleh pemerintah. Teruskan perjuangan kita untuk memperbaiki taraf kehidupan kita.