facebooklogocolour

Krisis Ekonomi“Kaum borjuis sendiri melihat bahwa tidak ada jalan keluar ... mereka sekarang meluncur dengan mata tertutup menuju bencana ekonomi dan militer.”

Begitulah tulis Leon Trotsky di dalam baris-baris Program Transisional yang menggambarkan dengan sangat baiknya periode krisis dunia pada tahun 1930-an. Secara fundamental tidak ada yang perlu diubah. Cukup dengan mengganti suku kata yakni kata tertutup menjadi kata terbuka maka pernyataan Leon Trotsky tersebut menjadi lebih relevan hari ini. Kita melihat bencana yang digambarkan oleh Leon Trotsky tersebut sebagai kelanjutan dari krisis ekonomi 1929, yang tidak hanya selesai pada proyek New Deal, namun berlanjut, bahkan dengan sangat mengerikan sampai pada Perang Dunia Kedua sebagai ekspresi terakhirnya.

Bila kita kembali pada krisis 2008 sebagai sebuah periode pengulangan dari krisis 1929, maka kita akan menemui hal-hal yang mirip. Saat itu kapitalis yang berjudi di pasar bursa menikmati segala keuntungan. Harga-harga saham mereka melejit. Sambil mengangkat sampanye, serta sambil mengucapkan selamat di antara mereka sendiri, mereka berbahagia seakan-akan kebahagiaan ini bisa bertahan selamanya. Namun, tiba-tiba bencana itu datang. Wajah kebahagiaan mereka sontak berubah menjadi pucat. Sejak saat itu mereka tidak lagi menikmati saat-saat indah. Meskipun kebijakan moneter dalam waktu singkat mampu merangsang pertumbuhan, namun hal itu tidak mampu mengembalikan pertumbuhan ekonomi sebelum depresi, bahkan angka pertumbuhan melejit turun ke bawah. Tidak ada konsumsi; tidak ada daya beli. Seakan-akan manusia ditenggelamkan kembali ke peradaban miskin papa yang telah lalu, dimana kelaparan, gizi buruk, pengangguran, kemiskinan, mewabah seperti wabah pes yang menjangkiti dunia.

Begitu pula pada krisis 2008. Krisis ini tidak hanya menyeret perekonomian Amerika ke dalam jurang krisis melainkan juga menyeret Inggris dan Jepang. Sejumlah langkah intervensi moneter yang sebelumnya sudah dilakukan pada tahun 1929 diulangi kembali. Pihak otoritas keuangan memberikan program uang murah untuk mem-bailout para kapitalis yang sedang jatuh ini, berharap dengan membeli saham-saham yang sebelumnya sudah terjual mereka mampu mendongkrak perekonomian mereka kembali. Seperti Hegel yang sering berkelakar, bahwa sejarah mengulangi dirinya, pertama sebagai tragedi, kedua sebagai lelucon. Yah, ini adalah lelucon. Melainkan lelucon ini sering diulang-ulang bahkan pada periode yang sama tahun 1789, 1917, 1929 dan diulangi lagi pada 2008 maka lelucon ini sudah tidak bisa dianggap lagi sebagai lelucon, namun lebih tepat pada sebuah kekonyolan.

Kemarin, pada hari Selasa (16/9) di Paris, OECD, sebuah organisasi kerja sama ekonomi dan pembangunan, memberikan sinyal buruk kepada zona euro. Mereka mengatakan bahwa terjadi penurunan aktivitas di semua sektor. “Pertumbuhan tetap lemah, zona euro terancam dalam stagnasi yang lama bila langkah penting tak dilakukan.”  Ini persis seperti yang dikatakan oleh Paul Krugman beberapa bulan yang lalu:  “Tetapi, bagaimana jika kondisi 5 tahun terakhir adalah normalitas yang baru? Bagaimana jika kondisi-kondisi yang menyerupai depresi akan tetap tinggal, tidak untuk satu atau dua tahun, tapi selama berpuluh-puluh tahun ... sekali lagi, bukti telah mengindikasikan bahwa kita telah menjadi sebuah ekonomi di mana kondisi yang normal adalah kondisi depresi ringan, di mana kemakmuran adalah episode singkat yang terjadi karena gelembung dan kredit yang tidak dapat berkelanjutan.”

Tapi kebijakan apa yang diambil oleh kelas kapitalis Eropa untuk menanggulangi stagnasi ini? Sekali lagi mereka mengambil jalan yang sama. Mario Draghi, Presiden Bank Sentral Eropa, mengumumkan penurunan suku bunga acuan untuk mendorong pertumbuhan uang beredar seperti yang dilakukan Amerika Serikat, Inggris dan Jepang. Apa jadinya bila kebijakan ini diambil? Biarlah Jens Weidmann, Presiden Bank Sentral Jerman, mengatakannya. Ia mengatakan bahwa Bank Sentral Eropa telah mencapai batasan kebijakan. “Kini ada risiko bagi para pembayar pajak,” ini dikarenakan Draghi berencana membeli aset bank yang berisiko, “ aset berisiko inilah yang kemudian menjadi penyebab krisis ekonomi global 2008.” Intervensi moneter dengan mendorong pertumbuhan uang beredar adalah langkah yang justru mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi dan memperdalam jurang krisis.

Sekarang kelas kapitalis tidak menemui jalan keluar. Mereka tahu bahwa setiap kali mereka melangkah hanyalah berujung pada kekacauan. Di Amerika Serikat krisis ini terekspresikan di dalam Gerakan Okupasi, di Timur Tengah membawa guncangan bagi rezim serta membawa pada penumbangannya, di Eropa mengakibatkan pergeseran politik. Selanjutnya, krisis yang sangat jauh dari terselesaikan ini membawa kemerosotan ekonomi dimana-mana tidak hanya di zona euro, tetapi juga di Amerika Serikat dan Jepang. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat turun menjadi 2,1 persen dari perkiraan awal 2,6 persen. Jepang turun menjadi 0,9 persen dari perkiraan sebelumnya 1,2 persen. Pengangguran pun meningkat. Di Yunani, seperti yang dilaporkan oleh Eurostat, memegang rekor tertinggi angka pengangguran sebesar 27,9 persen, diikuti oleh Spanyol sebesar 26,2, Cyprus 16,9, Kroasia 16,9, Portugal 16,5, serta di Irlandia 13,6 persen. Hampir sebagian besar  pengangguran ini adalah  mereka-mereka yang berusia muda. Tak pelak lagi bahwa krisis ini menghantam sampai ke dasar masyarakat. Ia mencoba menghancurkan dirinya sendiri. Seluruh capaian peradaban yang telah dicapai oleh manusia selama berabad-abad sedang dihancurkan oleh sistem kapitalisme ini. Kenyataannya, capaian teknologi masyarakat hari ini telah melampaui segala apa yang dibutuhkan manusia. Persoalan kemudian adalah kepemilikan pribadilah yang menjadi belenggu bagi kemajuan masyarakat.

Meskipun demikian, situasi seperti ini adalah khas di dalam masyarakat kapitalisme. Tidak pernah di zaman-zaman peradaban sebelumnya masyarakat dimiskinkan di tengah melimpahnya barang-barang kebutuhan. Pada masyarakat perbudakan, dimana kekuatan produksi masyarakat hanya mampu memelihara kelas pemilik dalam lingkup negara kota klasik, kepemilikan hasil kerja masyarakat oleh kaum minoritas adalah hal yang sangat lazim diketahui. Kemiskinan dari masyarakat tidaklah terlepas dari kepemilikan hasil kerja oleh minoritas kecil tersebut. Ini adalah ciri dari masyarakat kelas. Sepanjang sejarah masyarakat kelas, ia selalu menciptakan kebiadaban yang khas sesuai dengan hubungan-hubungan produksi  yang dilalui masyarakat. Bila dalam masyarakat perbudakan si pemilik budak menguasai tubuh dan kerja si budak sebagai sebuah kebiadaban umum, maka sekarang di zaman perbudakan modern atau di zaman kapitalisme, si budak tidak harus menyerahkan tubuhnya, ia cukup menyerahkan tenaga kerjanya kepada si kapitalis. Karena si kapitalis telah memusatkan alat-alat produksi pada dirinya sendiri, maka mau tidak mau si budak modern harus bekerja kepada si pemilik alat tersebut. Lebih dari pada itu, yang paling mengerikan dalam sistem masyarakat kelas modern adalah semakin terpusatnya kekayaan masyarakat di tangan segelintir orang. Semakin terpusatnya kekayaan ini, semakin bertambah pula penderitaan bagi barisan yang bekerja untuk memproduksi kekayaan tersebut. Oleh karena semakin bertambah kekayaan ini semakin mustahil pula ia diperintahkan dengan cara-cara lama. Mau tidak mau kekuatan inilah yang akhirnya menjadi daya dorong bagi munculnya masyarakat selanjutnya.

Apakah ada kestabilan ekonomi Indonesia?

Kendati akhir-akhir ini Asia termasuk dari negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi (emerging market), hal ini tidak dapat dipisahkan dari perkembangan dunia. Tiongkok, India, Argentina, Indonesia, Brasil, dsb., yang menikmati pertumbuhan relatif tinggi di saat perekonomian di belahan dunia lain sedang lesu tentulah bukan sebuah keajaiban. Program QE (Quantitative Easing) adalah sebab dari pertumbuhan ini, dimana negeri-negeri emerging market menikmati sejumlah dana-dana investasi dari program tersebut. Meskipun demikian, program ini akan diakhiri dalam hitungan bulan-bulan ke depan dan berimplikasi serius terhadap perekonomian Asia. Segala keuntungan yang dinikmati selama ini terpaksa harus mereka hilangkan dari pikiran mereka. Pencabutan program QE akan berimbas naiknya suku bunga sehingga akan berujung pada lemahnya investasi di negeri-negeri emerging market. Merespons hal ini, harga saham dalam waktu sekejap melejit turun. Argentina menghadapi masalah fiskal dan jurang inflasi yang sangat tinggi. Tiongkok mengalami penurunan ekonomi dari sebelumnya. Di Indonesia para kapitalis ini mencoba menyalahkan para politisi bayarannya yang meributkan Pilkada langsung dan tidak langsung sebagai sebab dari turunnya harga saham mereka.

Kolom-kolom berita dipenuhi dengan baris-baris kekhawatiran bahwa kondisi-kondisi yang menguntungkan ini akan berakhir pada 2015. Seperti yang sangat jujur diakui oleh para ekonom borjuis kita. “Ada kesan selama ini kondisi yang terjadi seperti ilusi bahwa segalanya baik-baik saja. Bisa saja itu karena kondisi yang tercipta selama ini seperti likuiditas mudah, bunga yang rendah dan harga komoditas yang tinggi.” Kata Sri Mulyani,dalam acara The New Indonesia, Jum’at  kemarin (9/9) di Singapura. Hal ini pernah kita katakan di dalam dokumen Perspektif Dunia 2014 bahwa: “Kaum borjuasi telah menjadi tergantung pada QE dan kredit murah seperti pengguna narkoba yang ketagihan dan butuh dosis rutin heroin untuk terus hidup.”

Kondisi perekonomian Indonesia juga diperparah tingginya tingkat ketimpangan yang tumbuh semakin cepat. Koefisien Gini, yang mengukur ketimpangan konsumsi telah meningkat dari 0,30 pada tahun 2000 menjadi sekitar 0,41 pada 2014. Sementara itu tingkat penurunan kemiskinan terus melambat, yakni 0,7 persen pada 2012-2013 atau terendah dalam 10 tahun terakhir. Berbagai pemberitaan ini cukup memberitahu kita bahwa selama ini si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin. Ini menunjukkan bahwa kendati Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menikmati pertumbuhan namun di sisi lain menyimpan sebuah permasalahan yang kapan saja bisa meledak.

Sekali lagi kita mengatakan di dalam Perspektif Dunia 2014 bahwa, “Para pakar ekonomi borjuis mengakui bahwa perspektif ke depan bagi kapitalisme adalah dua puluh tahun pengetatan anggaran. Ini berarti dua dekade perjuangan kelas yang terus meningkat, dengan pasang naik dan pasang surut yang tak terhindarkan. Momen-momen kebangkitan besar akan diikuti dengan periode-periode kelelahan, kekecewaan, disorientasi, kekalahan, bahkan reaksi. Namun dalam iklim saat ini, setiap keredaan hanya akan menjadi pengantar bagi perjuangan-perjuangan baru yang lebih meledak-ledak. Cepat atau lambat, di satu negeri atau yang lainnya, masalah kekuasaan akan dikedepankan.” Kaum borjuis melangkah dengan penuh keraguan karena yang nampak di hadapannya adalah jalan yang penuh dengan duri. Setiap kali mereka melangkah hanyalah menyakiti dirinya sendiri bahkan sesekali mengancam keberadaan dirinya. Ini adalah konsekuensi yang harus dihadapi oleh kelas borjuasi.

Kendati para ekonom borjuis Indonesia dibayang-bayangi ketakutan akan situasi dunia yang tidak menguntungkannya, ini berbeda dengan para politisi borjuisnya yang dungu. Mereka bertengkar di antara mereka sendiri seakan-akan jatah roti di lemari mereka masih penuh. Mereka tidak menghiraukan apa yang para spekulan saham memperingatkan dirinya – meskipun itu secara tidak sadar – bahwa polemik di pemerintahan membawa penurunan harga saham mereka. Entah karena tidak tahu atau terlalu dungu untuk mengetahui bahwa situasi demikian hanya akan membawa pembusukan lebih cepat di dalam sistem yang mereka ciptakan itu. 

Tidak ada yang bisa lepas dari jerat kapitalisme dunia, tidak di Eropa, tidak pula di Indonesia. Sekarang kita melihat kejatuhan ekonomi di mana-mana. Kapitalisme telah mengikat seluruh dunia di dalam fenomena globalisasi. Kejatuhan ekonomi di belahan dunia lain akan mendorong  kejatuhan di negeri-negeri lain. Semua ini mempersiapkan sebuah panggung bagi perjuangan kelas skala dunia yang cakupannya jauh lebih luas dan dalam.

Situasi dunia telah menunjukkan bahwa kapitalisme menciptakan horor tanpa akhir bagi peradaban manusia, ia telah menunjukkan batas-batas ketidakmampuan dirinya membawa maju masyarakat. Sistem ini harus segera diakhiri bila peradaban manusia tidak ingin jatuh ke dalam barbarisme yang paling mengerikan. Untuk mengakhiri ini,  bukanlah mengelu-elukan hadirnya situasi obyektif seperti yang dielu-elukan oleh kalangan Kiri kebanyakan. Situasi  dunia telah menghadirkan segala yang dibutuhkan bagi sebuah revolusi sosialis. Yang dibutuhkan sekarang adalah faktor subyektif, yakni kepemimpinan proletariat, sebagai faktor yang sadar untuk mendorong sistem yang sedang sakit ini ke dalam tong sampah sejarah serta menggantikannya dengan sistem perencanaan ekonomi secara sadar yang dikontrol oleh rakyat pekerja. Sistem ini adalah sosialisme.

29 September 2014