facebooklogocolour

 

Bicara soal aliansi di tataran strategi dan taktik dalam gerakan buruh apakah cukup relevan dibicarakan hari ini? Mengingat gerakan buruh di hari ini begitu bangganya dengan bendera organisasi mereka masing-masing. Tiap momen penting, satu teriakannya “Buruh bersatu tak bisa dikalahkan”.

Namun sampai hari ini kita tidak melihat “bersatunya kaum buruh”. Bahkan kita melihat perpecahan di sana-sini dalam tubuh serikat buruh baik antar anggota, pengurus serikat dan pimpinan dalam satu tubuh. Belum lagi jika kita bicara soal perbedaan pandangan antar serikat buruh. Perpecahan adalah salah satu aspek yang membuat buruh tak pernah menjadi kuat.

Ada rasa malu jika kita menanyakan pertanyaan berikutnya dari pertanyaan di atas: cukup relevan-kah kita bicara aliansi lintas sektor -- gerakan buruh, tani, nelayan dan kaum miskin kota -- di hari ini? Untuk sebagian orang mengatakan, sektor buruh saja kita sudah sulit untuk menjawabnya, bagaimana dengan lintas sektor?

Secara pribadi saya masih meyakini bahwa aliansi masih relevan untuk kita munculkan di saat ini. Tidak hanya berhenti di tataran ide atau diskusi semata. Kita masih bisa mendorong aliansi buruh bahkan aliansi lintas sektor.

Permasalahan yang ada dalam serikat buruh hari ini tidak akan jauh dari tradisi, program dan garis politik serikat buruh yang salah. Apakah serikat telah memenuhi tugas historis gerakan kelas buruh di hari ini? Faktor subjektif, mengutip Trotsky: tradisi, inisiatif, dan kesiapan kaum pekerja untuk berjuang, menjadi salah satu faktor penting kemenangan kelas pekerja. Kesalahan fatalnya adalah keliru dalam menentukan garis politik serikat. Wajar jika kemandulan gerakan terjadi. Friksi dalam ketidak jelasan faksi dan akhirnya berujung pada perpecahan yang tak terelakkan.

Hari ini segala elemen masyarakat merindukan perubahan. Perubahan menyeluruh secara total pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Kapitalisme terus berkonsolidasi menghadapi kaum buruh dengan upayanya melakukan fleksibilitas pasar tenaga kerja, pemberangusan serikat buruh (Union Busting), privatisasi dengan rasionalisasi jumlah pekerja, melakukan upaya relokasi modal, serta outsorcing dan pekerja kontrak. Hantaman-hantaman ini membuat lemah gerakan buruh.

Begitu juga dengan yang mereka lakukan kepada petani dan nelayan. Penguasaan atas lahan petani miskin, meningkatnya harga benih dan pupuk, murahnya harga jual hasil pertanian yang dibeli oleh industri-industri besar melalui kulak. Yang nelayan hadapi tak kalah menyedihkan, karena ketidakmampuan nelayan bersaing dengan kapal-kapal motor besar, harga solar yang melambung tinggi membuat nelayan terpaksa melipat layar.

Mengutip buku Revolusi Permenen, Trotsky menyatakan bahwa “Kaum proletar tumbuh dan menjadi lebih kuat seiring dengan berkembangnya kapitalisme. Dalam pengertian ini, perkembangan kapitalisme adalah juga perkembangan kaum proletar menuju kediktatoran. Tetapi kapan kekuasaan akan beralih ke tangan kelas pekerja tergantung bukan secara langsung pada level kekuatan produksi, tetapi tergantung pada relasi kekuatan-kekuatan sosial di dalam perjuangan kelas, pada situasi internasional, dan pada akhirnya, tergantung pada beberapa faktor subjektif: tradisi, inisiatif, dan kesiapan kaum pekerja untuk berjuang.”

Relasi kekuatan-kekuatan sosial di dalam perjuangan kelas adalah salah satu titik tekan yang dinyatakan Trotsky di atas menurut saya inilah letak relevansinya sebuah aliansi lintas sektor.

Aliansi lintas sektor hari ini merupakan satu kebutuhan yang tak terelakkan untuk menyatukan gerakan buruh, petani dan nelayan juga kaum miskin kota. Aliansi yang didasari pada perubahan sejati yaitu tumbangnya rezim Borjuis dan digantikan dengan berkuasanya rezim proletariat. Membangun aliansi dengan membangun perspektif yang sama dimana selama ini kaum buruh tani dan nelayan serta kaum miskin kota memiliki musuh bersama yaitu keserakahan kaum borjuis.

Selama kaum borjuis berkuasa tidak pernah akan ada keadilan yang sesungguhnya di bumi ini. Mereka hanya berganti topeng, berganti peran dalam strategi mereke melanggengkan kekuasaan. Lewat Pemilu mereka menawarkan program-program yang mengilusi rakyat. Terlihat pro terhadap buruh. Menampilkan diri dengan mengatakan peduli terhadap kaum tani dan nelayan. Memberikan bantuan kepada nelayan. Menyatakan diri sebagai Partai Wong Cilik. Merestorasi Indonesia. Semuanya kamuflase belaka.

Tugas Aliansi

Mengkampanyekan musuh bersama adalah tugas awal dari aliansi. Selanjutnya mensinergikan semua kerja-kerja aliansi. Yang harus diingat baik-baik adalah aliansi ini tidak berhenti di tataran slogan, tapi benar-benar diaplikasikan dalam kerja-kerja nyatanya. Harus ada kerjasama yang baik antara gerakan hilir dan gerakan hulu.

Sebagai contoh yang bisa dilakukan: sebuah serikat buruh pelabuhan akan memblokir import barang-barang pertanian dari luar negeri jika terjadi ketimpangan pasar bagi barang-barang pertanian dalam negeri disebabkan oleh aturan perundangan yang merugikan petani miskin. Buruh pelabuhan tidak akan membongkar dan memuat barang-barang import tersebut, begitupun dengan serikat buruh transportasi akan melakukan back-up kerja-kerja aliansi ini dengan strategi dan taktik yang disepakati dalam aliansi.

Semua ini tentunya harus dibangun dalam mainframe yang sama. Tentu tidak mudah untuk membangun aliansi. Butuh beberapa tahun dalam menyamakan frekwensi gerakan. Tapi dalam dunia gerakan tidak ada yang tidak mungkin. Banyak hal yang dimana kita bisa bekerjasama untuk sesuatu yang bisa kita sepakati dan saling bertoleransi buat beberapa hal yang belum kita sepakati. Ini kuncinya.

Kepemimpinan di dalam aliansi

Gerakan buruh seharusnya bisa mengambil kepemimpinan dalam menginisiasi terjadinya aliansi lintas sektor ini. Buruh bisa memimpin ini dengan segala kekurangannya. Sembari berjalannya aliansi lintas sektor gerakan, buruh, tani , nelayan juga kaum miskin kota akan lebih mengokohkan dirinya masing untuk bekerja lebih baik dalam kesehariannya dan juga dalam aliansi.

Saling belajar dan saling membantu satu dengan yang lain ini akan menambah kekokohan gerakan. Suplai kebutuhan juga bisa dibagi satu dengan yang lain. Segala kekuarangan bisa ditutupi. Orientasi dan garis politik yang benar tentu tidak akan membuka jurang perbedaan yang prinsip dalam gerakan. Aliansi yang menanggalkan birokratisasi menara gading serta perjuangan artifisial tentu akan lebih memfokuskan perjuangan pada kemenangan kaum proletar.

Bagaimana buruh bisa mengambil kepemimpinan di dalam pembentukan aliansi ini, dan bahkan memimpin aliansi ini? Tentu bukan dengan serta merta menyatakan diri sebagai pemimpin. Dalam perjuangan kesehari-hariannya, buruh harus juga mengedepankan program-program yang menyentuh masalah-masalah yang dihadapi oleh kaum tertindas lainnya. Kaum buruh harus merangkul kaum tani, nelayan, dan KMK dengan menunjukkan bahwa dialah satu-satunya kelas yang serius dan konsisten dalam menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi di dalam masyarakat Indonesia.  Dengan ini, kelas buruh juga menunjukkan dengan jelas kepada kelas-kelas lain bahwa ia membentuk aliansi tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri tetapi untuk menumbangkan kapitalisme.

Ayo kita bangun Aliansi lintas sektor demi kemenangan Sosialisme !!