facebooklogocolour

Marx dalam pembukaan manifesto komunis mengatakan: Sejarah dari semua masyarakat yang ada hingga saat ini adalah adalah sejarah perjuangan klas.

Kini kita hidup dimana segelintir manusia memiliki alat produksi dan membiarkan jutaan manusia lain terjurumus dalam kemiskinan yang sangat parah. Yah, kini kita berada dalam masyarakat yang terbagi dalam klas-klas, sebuah masyarakat klas yang menempatkan segelintir manusia yang kaya di satu sisi dan miskin di sisi lain. Masyarakat klas ini tidak bagitu saja lahir. Pada awalnya, selama puluhan ribu tahun, masyarakat manusia belum terbagi menjadi klas-klas. Namun, semenjak manusia mampu menghasilkan surplus di situ pula memungkinkan manusia terbagi menjadi klas-klas.

Mari kita kembali pada zaman peradaban manusia yang dimana mereka masih berburu dan meramu, yang biasa disebut masyarakat komunisme primitif. Masyarakat ini bertahan hidup tanpa bisa menghasilkan surplus. Mereka hidup dari hari-ke-hari saja tanpa bisa menimbun persediaan makanan yang besar. Di masyarakat pada tahap ini niscaya tidak akan terbentuk masyarakat yang terbagi menjadi klas-klas.

Karena dorongan alam, dan juga karena kekreatifan manusia, maka manusia pun mengembangkan metode cocok-tanam yang lebih produktif daripada berburu dan meramu. Dengan pertanian, manusia dapat memproduksi makanan lebih, menimbun persediaan, dan hidup menetap.

Pada masa kejayaan pertanian atau yang biasa kita sebut revolusi neolitik, manusia sudah menciptakan surplus yang bisa memberi makanan kepada Kepala Suku, Pemangku Adat, Pemuka Agama, dan sebagainya. Mereka adalah lapisan masyarakat yang tidak perlu bersusah payah bekerja mencari makan. Di sinilah awal dari terbentuknya masyarakat kelas, dimana ada segelintir manusia menikmati surplus yang dihasilkan oleh masyarakat luas.

Semakin produksi berkembang, hasil surplus semakin jatuh ke tangan minoritas ini dan sebuah jurang kelas terbentuk. Sumber kekuasaan dari kelas atas adalah kepemilikan mereka atas nilai lebih produksi masyarakat. Oleh karenanya sarana-sarana pendukung kepemilikan pribadi mulai diciptakan, yakni hukum-hukum, norma masyarakat, tentara, polisi dan sebagainya, guna melanggengkan kekuasaan dari minoritas ini. Inilah awal dari terbentuknya Negara.

Segelintir minoritas yang berprivilese mulai menggunakan alat pemaksa kekerasan untuk meningkatkan surplus yang dihasilkan dari mayoritas yang ditaklukannya. Inipun menghasilkan perlawanan. Masyarakat kelas menghasilan perjuangan kelas. Masyarakat kelas yang berbeda menghasilkan perjuangan kelas yang berbeda pula.

Seperti perbudakan Romawi Kuno, budak-budak adalah properti pribadi klas penguasa. Pemilik budak mempunyai barang-barang yang diproduksi oleh budak karena ia memiliki budak itu. Dalam tahap ini segelintir minoritas memiliki surplus dari punggung budak. Sampai pada akhirnya ada Perang Budak Ketiga melawan Republik Romawi yang dipimpin oleh Spartacus. Namun di sini perlawanan kaum budak tidak menghasilkan kemenangan. Akhirnya sistem perbudakan runtuh dengan sendirinya karena kontradiksinya dan membawa Peradaban Gelap.

Feodalisme Abad Pertengahan pun lahir. Masyarakat feodal ini berbeda dengan tahap masyarakat perbudakan ini. Para hamba sahaja – yakni kaum tani - memiliki apa yang diproduksinya dari tanah milik tuan bangsawan, tetapi sebagai imbalan mereka harus menyediakan sejumlah hari dalam setiap tahun untuk bekerja di tanah yang dimiliki oleh tuan-tuan feodal. Waktu mereka dibagi, barangkali separuh dari waktu mereka akan digunakan untuk bekerja bagi sang tuan, separuhnya lagi bagi mereka sendiri. Bila mereka menolak untuk bekerja kepada sang tuan, ia berwenang untuk menghukum mereka.

Sampai pada akhirnya industrialisasi menggantikan sistem pertanian, dan lahirlah kapitalisme. Surplus produksi menjadi lebih besar dan memaksa jutaan laki-laki, perempuan, muda-mudi masuk dalam pabrik-pabrik. Dalam masyarakat industrialisasi atau yang biasa kita sebut kapitalisme, segelintir minoritas tidak secara fisik memiliki sang pekerja, tidak juga berwenang menghukum secara fisik seorang pekerja yang menolak untuk melakukan kerja yang tak dibayar untuknya. Tapi segelintir minoritas ini memiliki pabrik-pabrik di mana sang pekerja harus mendapatkan suatu pekerjaan bila ia ingin tetap hidup. Jadi mudah saja bagi klas minoritas untuk memaksa sang pekerja untuk bekerja dengan upah yang jauh lebih sedikit daripada nilai barang-barang yang diproduksinya.

Setiap perubahan tahapan dalam sejarah tidak begitu saja berubah tanpa ada perlawanan dari kelas yang terhisap, kita menyaksikan Pemberontakan Budak Ketiga di Romawi, Revolusi Borjuis di Inggris, Komune Paris, sampai pada Revolusi Oktober di Rusia.

Bahwa setiap pertumbuhan tenaga-tenaga  produksi yang baru – yakni cara-cara baru memproduksi kekayaan – berbenturan dengan kepentingan-kepentingan klas penguasa yang lama. Suatu perjuangan berkembang, yang hasilnya menentukan seluruh masa depan masyarakat.

Kita hidup pada periode dimana tenaga-tenaga produktif telah melampaui negara dan bangsa, apa yang kerap disebut globalisasi. Ini membuat perjuangan kelas di dalam kapitalisme menjadi sebuah perjuangan yang mendunia, yang internasionalis. Selain itu, tugas perjuangan kelas buruh juga tidak terbatas pada merubah tatanan masyarakat kelas, tetapi justru kembali ke masyarakat tanpa kelas. Akhir kata, perjuangan kelas yang sedang kita kobarkan adalah sebuah keniscayaan sejarah. Mereka yang menolaknya, terutama kaum borjuis dengan akademisi mereka, sedang mencoba membutakan kaum buruh dari tugas sejarahnya.

___________________________________

Sony Prasetyo adalah anggota Militan Indonesia Sel Surabaya