facebooklogocolour

buruh kompasMay Day sebentar lagi datang. Secara tak terpisahkan, May Day terikat erat dengan asal-usulnya, yakni perjuangan untuk jam kerja yang lebih pendek. Kala itu menjelang 1 Mei 1886 dan beberapa hari setelahnya, demonstrasi dan pemogokan terus berlangsung. Hari itu adalah titik didih dari tahun-tahun sebelumnya, dimana para pekerja Amerika mempertanyakan sistem kerja yang berlaku. Jam kerja yang panjang nan melelahkan, upah yang tidak sebanding dengan kerja yang dilakukan, dan hak berorganisasi yang dibatasi.

Tuntutan agar 8 jam kerja segera direalisasikan, menarik banyak kaum buruh untuk bergabung dan berjuang. Saat ratusan ribu kaum buruh di Chicago mulai meringsek mendekat ke Hay Market, peluru-peluru mulai ditembakkan ke arah mereka oleh para polisi. Seketika, pakaian dan bendera-bendera yang mereka kibarkan berubah warna menjadi merah kental akibat genangan darah dari para martir buruh kita. Hal ini membuat kaum buruh mendidik darahnya, dan hari hari-hari berikutnya pemogokan terus berlangsung dengan lebih banyak massa.

Tiga tahun sesudahnya, pada saat Kongres pembentukan Internasionale Kedua tahun 1889, Guru Besar Marxis kita, Frederick Engels, menetapkan 1 Mei sebagai hari buruh. Hari dimana para martir buruh yang mati di medan juang diperingati oleh kaum buruh sedunia. Slogan “Kaum buruh sedunia bersatulah!”, dari cuplikan Manifesto Komunis, menemukan gaungnya pada pada deklarasi May Day kala itu. Disinilah Internasionalisme dimulai. Ini berarti, semangat Internasionalisme ditanamkan begitu erat seperti akar yang menempel kuat dan menjadi pondasi pada sebuah pohon. Dengan demikian, May Day adalah simbol dari Internasionalisme proletarian yang melampaui perbedaan agama, ras, kebangsaan, dan kepercayaan lainnya diantara kaum buruh.

Namun, dalam konteks pergerakan Indonesia, kita dapati bahwa May Day yang berlangsung dalam tahun-tahun terakhir ini jauh dari semangat Internasionalisme proletarian, apalagi kesadaran akan perlunya Internasionale. Jikalau harus di pertanyakan kembali, apakah kita (masih) membutuhkan Internasionale? Jawabnya adalah iya, kita membutuhkan Internasionale. Kapitalisme saja sudah begitu mendarah daging menjadi sistem dunia dan meluas hingga ke penjuru dunia. Maka yang kita butuhkan adalah perlawanan dan penumbangan terhadap kapitalisme yang (telah) mendunia. Dengan kata lain, kita harus mewujudkan sosialisme yang mendunia (pula). Seiring mengglobalnya kapitalisme, baik secara ekonomi maupun politik, semakin menegaskan bahwa sosialisme tidak cukup hanya dibangun pada batasan nasional, melainkan harus skala internasional. 

Proyeksi sosialisme yang mendunia ini mensyaratkan kita untuk membangun partai. Tanpa partai, mustahil untuk sekedar membayangkan sosialisme bisa terwujud. Polemik-polemik tentang masalah membangun partai – bentuknya, programnya, tujuannya, dsb. – bukan baru saja dimulai, justru ia punya kesejarahannya sendiri lebih dari 100 tahun lalu. Serangkaian artikel polemik, perdebatan-perdebatan, diskusi-diskusi, komentar-komentar terbatas di sosial media, bahkan celetukan-cetelukan pendek tentang Partai sudah banyak bermunculan.

May Day tahun lalu, GBI pun mendeklarasikan niatnya untuk membentuk partai buruh. Dan rencananya pada May Day tahun ini, langkah awal pembentukan partai buruh akan diserukan pada saat 1 Mei mendatang. Kita dapat menduga bahwa partai yang dibentuk ini adalah partai buruh massa, dimana serikat-serikat buruh besar menggabungkan diri, beraliansi membentuk partai. Lalu, bagaimana kaum Marxis menyikapi ini? Tentu, sebagai kaum Marxis kita mendukung kaum buruh membentuk partainya sendiri dan menegaskan kemandirian kelasnya serta meninggalkan sikap membonceng partai-partai borjuasi.

Namun, tidak cukup berhenti disini. Kaum Marxis juga harus membentuk partainya sendiri. Partai Marxis, atau Partai Kader, atau Partai Revolusioner, kita cukup punya banyak istilah untuk merujuk pada sebuah partai dengan disiplin ketat. Tetapi, partai yang punya ciri dan watak disiplin-ketat tersebut hanya Bolshevik. Partai seperti inilah yang akan kita bangun.

KPO-PRP, salah satu organisasi Kiri revolusioner baru-baru ini menginisiasi sebuah acara diskusi dengan tema, “May Day: Bangkitkan Internasionalisme dan Persatuan Nasional”. Dalam kata pengantar acara tersebut dikatakan bahwa kita membutuhkan partai revolusioner seperti Bolshevik sebagai senjata serang dan mengakhiri biang kerok dari penindasan ini yakni kapitalisme. Sebuah persatuan revolusioner dibutuhkan, dimana bukan sekedar persatuan antara para kiri atau organisasinya, melainkan persatuan yang didasarkan pada persamaan prinsip ideologis, tidak kolaboratif, dan terpenting berdiri di atas prinsip Bolshevik-Leninis.

Dalam hal ini kami setuju. Kami percaya dan yakin bahwa persatuan tanpa prinsip antara dua kelompok akan memecahnya menjadi lima atau lebih kelompok baru. Dengan persatuan prinsip yang tegas, kita berupaya menarik garis demarkasi yang jelas antara Marxisme revolusioner dengan Reformisme.

International Marxist Tendency, merupakan perwujudan organisasi internasional yang berdiri di atas garis Bolshevik yang ketat. Dengan berbekal ide dan gagasan Bolshevik, IMT telah berkembang di lebih 30 negara dan menghimpun elemen-elemen proletar termaju di seluruh dunia. Dengan ketekunan dan metode yang tepat tanpa mencari jalan pintas, IMT sedang membangun embrio partai massa buruh sedunia.

Bertepatan dengan hari besar kaum buruh sedunia, May Day yang sebentar lagi tiba, kami, Militan Indonesia yang merupakan seksi Indonesia dari Internasional Marxist Tendency, menawarkan sebuah persatuan kepada kaum kiri revolusioner yang percaya bahwa hanya dengan pembangunan partai dengan ide-ide Bolshevisme yang berwatak internasionalis dan tidak kolaboratif, maka kapitalisme dapat ditumbangkan.

Persatuan ini adalah persatuan revolusioner, dimana prinsip-prinsip utama dari Marxisme dan Bolshevisme menjadi benang merah dari persatuan ini. Dengan kerendahan hati dan sikap optimis, kami membuka ruang diskusi akan penyatuan ini. Kami percaya bahwa, kita dapat membawa obor perjuangan ini secara bersama, yang diberikan oleh pejuang-pejuang revolusioner kita sebelumnya. Secara bersama kita akan membangkitkan kembali Internasionalisme yang telah lama redup dan terlupakan.